You are on page 1of 13

REFERAT

Pembimbing :

dr. Alinda Rubiati Wibowo, Sp.A


Penyusun:

Sarah Prima Ayu


030.01.230

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak


Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati
Periode 11 September 18 November 2006
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jakarta

Pendahuluan
Dalam upaya peningkatan kualitas calon sumber daya manusia, bayi dan
anak, upaya preventif dan promotif perlu mendapat perhatian yang lebih besar
disamping tetap diperlukan peningktan upaya pelayanan medis untuk kelangsungan
hidup yaitu kuratif dan rehabilitatif. Dalam melakukan supervisi kesehatan dan
tumbuh kembang anak, khususnya upaya promotif dan preventif, sangat diperlukan
penilaian pertumbuhan anak yang lebih cermat. 1
Pertumbuhan seorang anak dapat dibandingkan dengan kawan sebayanya,
dengan mengacu pada nilai normal grafik pertumbuhan yang akurat. Pengukuran
longitudinal pertumbuhan anak merupakan status dinamik dari kondisi umum atau
kesehatannya.2 Laju pertumbuhan anak juga mencerminkan status nutrisi dan
intake energi. 3 Dengan pengukuran pertumbuhan maka dapat diidentifikasi ada
tidaknya penyakit yang menyebabkan gangguan pertumbuhan atau respon anak
yang sakit terhadap terapi. 2
Penilaian pertumbuhan merupakan komponen kesehatan anak yang sangat
penting karena berbagai permasalahan yang mencakup domain fisiologi,
interpersonal dan sosial dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Perhatian utama
dalam kaitannya dengan pertumbuhan anak ditujukan pada pengelolaan gizi buruk
dan failure to thrive, walaupun demikian obesitas kini juga makin epidemik. 4

Definisi
Pertumbuhan fisis adalah proses metabolisme yang memerlukan masukan
oksigen dan zat gizi. Proses pertumbuhan fisis ini berlangsung terus menerus serta
bersifat kompleks, unik dan mengikuti pola tertentu
- dari satu sel ovum yang dibuahi menjadi banyak sel yang berlainan
- dari kecil menjadi besar
- dari pendek menjadi panjang/tinggi
- berlangsung pada tingkat: sel, misalnya sel otak, sel lemak jaringan, rambut,
kulit, otot, darah alat/organ/bagian tubuh, gigi, kepala seluruh tubuh (fisik).
- dengan pola pertumbuhan jaringan dan organ yang berbeda, maka proporsi
bagian tubuh berlainan untuk setiap tahap pertumbuhan 0-18 tahun, yaitu
bayi baru lahir, bayi, anak balita, anak sekolah dan remaja
- dipengaruhi berbagai faktor intrinsik (genetik termasuk rasial) dan berbagai
faktor lingkungan. 1
2

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan


interseluler berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti
sebagian atau keseluruhan. Jadi bersifat kuantitatif sehingga dengan demikian dapat
kita ukur dengan mempergunakan satuan panjang atau berat. 5

Ciri-ciri pertumbuhan
Secara garis besar terdapat 4 kategori perubahan sebagai ciri pertumbuhan yaitu:
1. Perubahan ukuran
Perubahan ini terlihat secara jelas pada pertumbuhan fisik yang dengan
bertambahnya umur anak terjadi pula penambahan berat badan, tinggi
badan, lingkar kepala dan lain-lain. Organ tubuh seperti jantung, paru-paru
dan usus akan bertambah besar sesuai dengan peningkatan. 5
2. Perubahan proporsi
Selain pertambahan ukuran, tubuh juga memperlihatkan perubahan proporsi.
Anak bukanlah dewasa kecil, tubuh anak memperlihatkan perbedaan
proporsi bila dibandingkan dengan tubuh orang dewasa. Proporsi tubuh
neonatus yang baru lahir berbeda bila dibandingkan tubuh anak maupun
orang dewasa. Pada bayi baru lahir, kepala mempunyai proporsi yang lebih
besar dibandingkan umur-umur lainnya. Titik pusat bayi baru lahir kurang
lebih setinggi umbilikus sedangkan pada orang dewasa, titik pusat tubuh
terdapat kurang lebih setinggi simfisis pubis.5

Gambar 1. Proporsi tubuh dari janin sampai dewasa


(dikutip dari kepustakaan no 4,5 )

3. Hilangnya ciri-ciri lama. Selama proses pertumbuhan terdapat hal-hal yang


terjadi perlahan-lahan, seperti menghilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi
susu dan menghilangnya refleks-refleks primitif 5
4. Timbulnya ciri-ciri baru. Timbulnya ciri-ciri baru ialah akibat pematangan
fungsi-fungsi organ. Perubahan fisik yang penting selama pertumbuhan
adalah munculnya gigi tetap yang menggantikan gigi susu yang telah lepas,
dan munculnya tanda-tanda seks sekunder seperti tumbuhnya rambut pubis
dan aksila, tumbuhnya buah dada pada wanita dan lain lain 5
Ciri-ciri pertumbuhan ini mempunyai keunikan, yaitu :
1. Kecepatan pertumbuhan yang tidak teratur. Kecepatan pertumbuhan mulai
konsepsi sampai akhir masa remaja tidaklah tetap, ada masa-masa dimana
pertumbuhan sangat pesat, yaitu masa pranatal, bayi dan adolesensi, diluar
masa itu pertumbuhan berlangsung lambat. Kecepatan pertumbuhan
menurut Montbeillard seperti terlihat pada grafik berikut ini :

Gambar 2. Kurva Tinggi badan anak laki laki dan kurva laju kenaikan tinggi
badan anak laki-laki de Montbeillard (dikutip dari kepustakaan no 5 )

2. Masing-masing organ memiliki pola pertumbuhan yang berbeda. Pada


umumnya pertumbuhan bagian-bagian tubuh mengikuti pola pertumbuhan
tinggi badan terutama tulang dan otot. Beberapa organ tubuh tertentu tidak
mengikuti pola pertumbuhan umum, tetapi mempunyai pola tersendiri.
Organ-organ tubuh dimaksud ialah otak dan tulang tengkorak, organ
reproduksi dan jaringan limfoid. Secara umum terdapat 4 pola kurva
pertumbuhan, yaitu: 5
a. Pola pertumbuhan umum.
b. Pola pertumbuhan organ limfoid.
c. Pola pertumbuhan otak dan kepala , dan
d. Pola pertumbuhan organ reproduksi

Pemeriksaan dan Pengukuran Pertumbuhan


Proses dan hasil pertumbuhan sebagai dampak daripada masukan makanan
(zat gizi) dan berbagai proses metabolisme (anabolisme dan katabolisme) dapat
diperiksa atau diukur untuk selanjutnya dibuat analisis dan penilaian. 1
Pelaksanaan pemeriksaan / pengukuran dapat dibedakan 2 macam:
1. Dilakukan satu kali pada waktu tertentu (moment opname atau crosssectional).
2. Dilakukan beberapa kali pada waktu-waktu yang berlainan atau secara
berkala longitudinal). Hasil pemeriksaan sekali (cross-sectional)
dipergunakan untuk membuat penilaian sewaktu-waktu, tentang: 1
a. keadaan gizi (status gizi), tergantung daripada klasifikasi tentang
status gizi yang dipergunakan
b. keadaan hasil pertumbuhan, tentang corak tumbuh dan hasil tumbuh.
Hasil pemeriksaan beberapa kali (longitudinal) merupakan pemantauan tentang
status gizi dan pertumbuhan, untuk tujuan berikut: 1
- mendeteksi perubahan status gizi, misalnya dari gizi baik menjadi kurang
- mengevaluasi proses pertumbuhan, yaitu: perubahan corak tumbuh,
misalnya dari normal menjadi abnormal (aneh) sifat laju pertumbuhan,
memuaskan (optimal/normal), terlambat, terhenti, gagal (FTT) atau
berlebih. 1

Pemeriksaan Fisik Rutin


1. Tinggi badan
Sedikit ketidakakuratan dalam pengukuran panjang tubuh bayi dapat
mempengaruhi persentil anak dalam kurva pertumbuhan. Pada pengukuran panjang
tubuh bayi, bayi diletakkan dengan bagian kepala terfiksasi pada headboard alat
pengukuran dan lutut bayi harus dalam keadaan lurus.2

Gambar 3. Pengukuran panjang tubuh bayi


(dikutip dari kepustakaan no 2)

Pada anak berusia diatas 2 tahun, pengukuran tinggi badan dilakukan pada
anak dengan cara berdiri. Pada saat pengukuran, anak tidak diperbolehkan
mengenakan sepatu. Tumit, bokong, punggung dan bahu anak harus menempel
pada dinding pengukuran. Salah satu parameter pertumbuhan ialah kecepatan
pertambahan tinggi yang diperoleh dari pengukuran panjang/tinggi badan yang
dilakukan setiap 3-4 bulan sekali pada bayi dan 6 bulan pada anak yang lebih besar.
Di negara-negara Barat, ternyata musim cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan
anak. Pertumbuhan linear cenderung lebih tinggi pada musim semi dibandingkan
dengan musim gugur sedangkan pertambahan berat badan lebih banyak dijumpai
pada musim gugur.2
Pada waktu lahir, panjang badan ratarata ialah 50 cm. Tinggi 75 cm dicapai dalam
usia 1 tahun. 85 cm pada usia 2 tahun dan
100 cm pada usia 4 tahun dan pada usia 6
tahun tinggi badan mencapai 130 cm.7

Gambar 4. Pengukuran tinggi


badan anak
(dikutip dari kepustakaan no 2)

Tinggi badan dapat digunakan untuk


mendeteksi gangguan pertumbuhan, yaitu
dengan mengukur panjang (tinggi) badan
secara periodik, kemudian dihubungkan
menjadi
sebuah
garis
pada
kurva
pertumbuhan tertentu. Pada umumnya
digunakan
kurva
pertumbuhan
yang
dipublikasi oleh United Stated National
Center for Health Statistic (NCHS) pada
tahun 1979 berdasarkan data yang
dikumpulkan pada tahun 1963 - 1975. Sejak
taken 1983 oleh WHO kurva tersebut
dianjurkan digunakan untuk menilai status
gizi dan pertumbuhan anak 6

Walaupun sejak tahun 2000 oleh US Centre for Disease Control (CDC)
telah dipublikasikan kurva pertumbuhan baru berdasarkan data National Health
and Nutrition Examination Survey tahun 1988-1994, namun di Indonesia umumnya
masih menggunakan kurva tinggi badan NCHS 1979. Ada juga yang menggunakan
kurva Jumadias atau Yayah-Husaini. 6
Seorang anak dicurigai mengalami gangguan pertumbuhan jika panjang
(tinggi hadan) selama beberapa periode selalu dibawah persentil 3 (- 2 SD) kurva
6

pertumbuhan tinggi badan rata-rata anak pada usia tersebut sesuai dengan jenis
kelaminnya Namun keadaan tersebut belum tentu patologis, karena dapat
disebabkan oleh faktor genetik / familial, atau lambat tumbuh konstistusional akibat
keterlambatan maturasi (usia) tulang lebih dari 2 tahun yang pada akhir masa
remaja dapat mencapai pertumbuhan normal. 6
Oleh karena itu dengan satu atau dua kali pengukuran, kita hanya dapat
menyebutkan bahwa ia berperawakan pendek atau normal, namun belum dapat
menyimpulkan status pertumbuhannya. 6
Untuk menyimpulkan status pertumbuhan seorang anak harus dibandingkan
prakiraan tinggi akhir anak tersebut dengan potensi tinggi akhir genetiknya.
Prakiraan tinggi akhir anak dilakukan dengan melanjutkan kurva pertumbuhan anak
tersebut dengan menarik garis lengkung sampai memotong garis umur 19 - 20
tahun sejajar dengan kurva terdekat. 6
Potensi tinggi akhir genetiknya dihitung dari rata-rata tinggi badan kedua
orangtuanya) dengan rumus dibawah ini :
Tabel 1. Potensi tinggi genetik pada masa remaja akhir

Dengan perhitungan diatas maka dapat ditentukan rentang potensi tinggi


genetik pada akhir masa remaja / dewasa muda. Kalau prakiraan tinggi akhir
ternyata masih masuk didalam batas potensi genetik, maka pertumbuhan anak
umumnya dalam Batas normal. Jika prakiraan tinggi akhir diluar batas potensi
tinggi genetik maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor
penyebabnya 6
Penyebab gangguan pertumbuhan tinggi badan
Gangguan pertumbuhan dapat diakibatkan oleh penyebab primer dan
sekunder.

Penyebab

primer

antara

lain

kelainan

pertumbuhan

tulang

(osteokondroplasia, osteogenesis imperfekta), kelainan kromosom (sindroma


Turner, Down,dll.) kelainan metabolik (mukopolisakaridosis, mukolipidosis), dan
faktor keturunan (genetik, familial). Gangguan pertumbuhan akibat penyebab
primer umumnya sulit diperbaiki.6

Penyebab sekunder antara lain : retardasi pertumbuhan intra uterin,


malnutrisi kronik, penyakit-penyakit kronik (infeksi, kelainan jantung, paru, saluran
cerna, hati, ginjal, darah dll), kelainan endokrin (defisiensi GH, IGF- l,
hipotiroidism, kelebihan glukokortikoid, diabetes melitus, diabetes insipidus,
Rickets hipopostamemia) dan kelainan psikososial (sindrom deprivasi emosional).
Ada perawakan pendek pada anak yang akhirnya pada masa dewasa dapat
mencapai tinggi normal (dalam rentang Midparenteral height), disebut lambat
tumbuh konstistusional akibat keterlambatan maturasi (usia) tulang lebih dari 2
tahun. 6
Gangguan pertumbuhan dapat berupa perawakan jangkung, antara !ain
disebabkan oleh: kelainan endokrin (pituitary gigantism, sexual precocity,
thyrotoxicosis, sindrom Beckwith-Wiedeman), kelainan kromosom, dan variasi
normal (genetik, konstitusional). 6
Berat badan
Anak yang lahir dari ibu yang sehat setelah suatu kehamilan normal
memiliki berat rata-rata 3000-3500 gram. Beratr badan waktu lahir ini penting
karena dapat dipergunakan untuk menilai apakah pertumbuhan dan perkembangan
sewaktu dalam kandungan cukup baik atau tidak. 7 Bayi mulai mendapatkan
pertambahan berat badan pada usia 2 minggu dan berat ini menjadi dua kali lipat
dari berat badan lahir pada usia 5 bulan. 8 Pada usia 1 tahun dicapai 3 kali berat
badan lahir dan pada usia 2 tahun dicapai 4 kali berat badan lahir. Setelah 2 tahun
pertambahan berat badan umumnya berkisar 2000 gram dalam 1 tahun. Pada usia 6
tahun berat rata-rata sekitar 20 kg dan pada usia ini anak laki-laki umumnya lebih
berat. 7
Berat badan dapat membantu mendeteksi gangguan pertumbuhan, yaitu
dengan menimbang berat badan secara periodik, kemudian dihubungkan menjadi
sebuah garis pada kurva berat badan yang dipublikasi oleh United Stated National
Center for Health Statistic (NCHS) pada tahun 1979. Umumnya balita normal berat
badannya selalu diatas persentil 5 kurva NCHS, namun bisa naik atau turun
memotong 1 - 2 kurva persentil berat badan. 6
Jika kurva berat badan anak mendatar atau menurun hingga memotong lebih
dari 2 kurva persentil, disebut failure to thrive (gagal tumbuh), bisa disebabkan oleh
faktor medik (organik, penyakit) atau non medik (psikososial). Berat badan
berkaitan erat dengan masalah nutrisi (termasuk cairan, dehidrasi, retensi cairan). 6

Obesitas dapat dijumpai dengan retardasi mental (sindroma Prader-Willi dan


Beckwith-Wiedeman) 6

Kepala
Perhatikan ukuran, bentuk dan simetri kepala. Mikrosefali (lingkar kepala
lebih kecil dari persentil 3) mempunyai korelasi kuat dengan gangguan
perkembangan kognitif sedangkan mikrosefali progresif berkaitan dengan
degenerasi SSP. Makrosefali (lingkar kepala lebih besar dan persentil 97) dapat
disebabkan oleh hidrosefalus, neurofibromatosis dll 6 Makrosefali ini banyak
berhubungan dengan defisit kognitif. 8
Berat otak waktu lahir ialah 350 gram dan menjadi 925 gram pada usia 1
tahun (hampir 3 kali lipat) dan mencapai 90% pada usia sekitar 6 tahun. Jadi
pengukuran lingkar kepala memiliki arti penting terutama sampai usia 2 tahun
karena dalam waktu tersebut terjadi pertumbuhan yang sangat cepat. Waktu lahir
lingkar kepala 37 cm dan pada usia 1 thaun berukuran 47 cm. Pada tahun kedua
bertambah 2-3 cm dan mempunyai ukuran 54-55 cm pada usia 6 tahun. 7
Pertumbuhan kepala selama 5-6 bulan pertama disebabkan oleh pembelahan
sel neuronal yang berkesinambungan. Kemudian, peningkatan ukuran kepala ini
disebabkan oleh karena pertumbuhan sel neuronal dan proliferasi jaringan
penyokongnya. 8
Bentuk kepala yang 'aneh' sering berkaitan dengan sindrom dengan
gangguan tumbuh kembang. Ubun-ubun besar biasanya menutup sebelum 18 bulan
(selambat lambatnya 29 bulan)
Keterlambatan menutup dapat disebabkan
hipotiroidi dan peningkatan tekanan intrakranial (hidrosefalus, perdarahan subdural
atau pseudotumor serebri). 6
Kelainan bagian dan organ tubuh lainnya
Kelainan yang dijumpai pada bagian-bagian tubuh dan atau organ tubuh (terutama
kelainan mayor) harus diwaspadai kemungkinannya disertai sindroma yang
berkaitan dengan gangguan tumbuh kembang anak 6

Monitoring Pertumbuhan
Tanda-tanda tumbuh kembang fisik dapat diamati dengan pertambahan
besar ukuran antropometrik dan gejala/tanda lain pada rambut, gigi geligi, otot kulit
serta jaringan lemaknya, darah dan lain sebagainya.
Ukuran Antropometrik
Dalam prakteknya, ukuran antropometrik yang bermanfaat dan banyak
dipakai ialah berat bada, tinggi/ panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas
dan tebal lipatan kulit. Disamping itu masih ada ukuran antropometrik lain tetapi

10

hanya dipakai untuk keperluan khusus misalnya kelainan bawaan atau menentukan
jenis perawakan (somatotipe). Ukuran khusus tersebut ialah :
- Lingkaran dada, lingkaran perut dan lingkaran leher
- Panjang jarak antara 2 titik tubuh seperti bioakromial untuk leher bahu,
bitrokanterik untuk lebar pinggul, bitemporal untuk lebar kepala
1.

2.

3.

4.

Berat Badan.
Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting,
dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada setiap
kelompok umur. Merupakan hasil keseluruhan peningkatan jaringanjaringan tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lainnya. Merupakan indikator
tunggal yang terbaik pada waktu ini untuk keadaan gizi dan keadaan tumbuh
kembang. Di Indonesia pengukuran berat badan telah memasyarakat dengan
digunakannya kartu menuju sehat (KMS) untuk monitoring pertumbuhan.7
Tinggi Badan.
Tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua yang penting,
keistimewaan adalah nilai tinggi badan meningkat terns, walaupun laju
tumbuh berubah dari pesat pada masa bayi muda kemudian melambat dan
menjadi pesat lagi (growth spurt) pada masa remaja. Selanjutnya melambat
lagi dengan cepatnya kemudian berhenti denagn nilai tinggi maksimal pada
usia 18 - 20 tahun. Tinggi badan hanya menyusut pada usia lanjut. Oleh
karma itu nilai tinggi dipakai untuk dasar perbandingan terhadap perubahanperubahan relatif seperti nilai berat dan lingkaran lengan atas. Peningkatan
nilai rata-rata tinggi orang dewasa suatu bangsa merupakan salah satu
indikator peningkatan kesejahteraan/kemakmuran, jika potensi genetik
belum mencapai secara maksimal.7
Lingkaran Kepala.
Lingkaran kepala mencerminkan volume intrakranial. Dipakai untuk
menaksir pertumbuhan otak. Laju tumbuh pesat pada enam bulan pertama
bayi, dari 35 cm saat lahir menjadi 43 cm pada 6 bulan. Laju tumbuh
kemudian berkurang, hanya 46,5 cm pada usia 1 tahun dan 49 cm pada usia
2 tahun. Selanjutnya berkurang menjadi drastis hanya bertambah 1 cm
sampai usia 3 tahun dan bertambah lagi kira-kira 5 cm sampai usia
remaja/dewasa. Oleh karma itu manfaat pengukuran lingkaran kepala
terbatas sampai usia 3 tahun, kecuali bila diperlukan seperti pada kasus
hidrosefalus.7
Lingkaran Lengan Atas.
Lingkaran lengan atas mencerminkan tumbuh kembang jaringan
lemak dan otot yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh
11

5.

dibandingkan dengan berat badan. Dapat dipakai untuk menilai keadaan


gizi/keadaan tumbuh kembang pada kelompok usia prasekolah. Laju
tumbuh lambat, dari 11 cm pada saat lahir menjadi 16 cm pada usia 1 tahun.
Selanjutnya tidak banyak berubah selama 1- 3 tahun.7
Lipatan kulit.
Tebalnya Lipatan kulit pada daerah triceps dan subskapuler
merupakan refleksi tumbuh kembang jaringan lemak bawah kulit, yang
mencerminkan kecukupan energi. Dalam keadaan defisiensi lipatan kulit
menipis dan sebaliknya menebal jika masukan energi berlebihan.
Dimanfaatkan untuk menilai terdapatnya keadaan gizi lebih, khususnya
pada kasus obesitas.7

Selain pengukuran antropometrik untuk menilai tumbuh kembang diperlukan


pemeriksaan tubuh yang lain yang terlihat pada tanda-tanda fisik lainnya yaitu :
1.
Keseluruhan fisik : dilihat bentuk tubuh, perbandingan bagian kepala,
tubuh, anggota.
2.
Jaringan otot : tumbuh kembang otot diperiksa pada lengan atas, pantat
dan paha dengan cara cubitan tebal.
3.
Jaringan lemak : diperiksa pada kulit di bawah triceps dan subskapuler
dengan cubitan tipis.
4.
Rambut : diperiksa perlumbuhannya, wama, diameter (tebal atau
tipis),sifat (lures atau keriting) dan akar rambut (mudah dicabut atau
tidak).
5.
Gigi-geligi : jadwal pertumbuhan gigi-geligi susu (saat erupsi), saat
tanggal dan pergantian/rupsi gigi-geligi permanen.

Kesimpulan
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan
interseluler berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti
sebagian atau keseluruhan. Penilaian pertumbuhan merupakan komponen kesehatan
anak yang sangat penting karena berbagai permasalahan yang mencakup domain
fisiologi, interpersonal dan sosial dapat mempengaruhi pertumbuhan anak
Penilaian pertumbuhan anak dapat dilakukan dengan tata cara klinis dan
antropometri. Penilaian pertumbuhan juga merupakan prasarana pendukung dalam
menegakkan diagnosis, penentuan dosis obat dan prognosis perjalanan penyakit
pada anak. Keterbatasan antropometri ialah tidak adanya baku antropometri lengkap
mencakup rentang usia 0-18 tahun.

12

Daftar Pustaka
1. Samsudin, Soedibjo S. Penilaian Keadaan Gizi dan Pertumbuhan : Cara,
Kegunaan dan Keterbatasan. Dalam : Samsudin, Nasar SS, Sjarif DR,
penyunting. Naskah lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu
Kesehatan Anak XXXV. Jakarta 11-12 Agustus 1995.h.149-58
2. Rogol AD, Clark PA, Roemmich JN. Growth and Pubertal Development in
Children and Adolescents : Effects of Diet and Physical Activity. Am J Clin
Nutr 2000;72(Suppl 1):521S-8S
3. Garza C, De Onis M. A New International Growth Reference for Young
Children. Am J Clin Nutr 1999;70(Suppl 1):169S71S
4. Needlman RD. Growth and Development. Dalam : Behrman RE, Kliegman
RM, Jenson HB, penyunting. Nelsons Textbook of Pediatric. Edisi ke 14.
Philadelphia : WB Saunders.2004.h.58-62
5. Tanuwidjaya S. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Dalam : Narendra
MB, Sularyo TS, Soetjiningsih,Suyitno H, Ranuh IGNG, penyunting.
Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Edisi pertama. Jakarta: Sagung Seto
2002.h.1-12
6. Soedjatmiko. Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita. Sari
Pediatri 2001;3(3):175-88
7. Suyitno H, Narendra MB. Petumbuhan Fisik Anak. Dalam : Narendra MB,
Sularyo TS, Soetjiningsih,Suyitno H, Ranuh IGNG, penyunting. Tumbuh
Kembang Anak dan Remaja. Edisi pertama. Jakarta: Sagung Seto
2002.h.51-62
8. Johnson CP, Blasco PA. Infanth Growth and Development. Pediatrics in
Review 1997;18(7):224-42

13