You are on page 1of 2

Misunderstanding(kesalahpahaman) merupakan salah satu kendala

komunikasi efektif dan sangat berpeluang menciptakan konflik. Suatu kondisi


salah paham biasa dimunculkan ketika suatu informsi yang diterima oleh
seseorang memiliki makna atau esensi yang berbeda dari yang dimaksudkan
oleh si pemberi atau penyampai informasi. Kesalahpahaman ini banyak
sekali bentuknya, mulai dari hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari,
sampai kesalahpahaman oleh kalangan elit politik yang menentukan
kehidupan orang banyak.
Salah satu bentuk kesalahpahaman yang cukup parah adalahcultural
misunderstanding, atau kesalahpahaman kultural. Dalam hal ini,
budaya dan kebiasaan yang melekat menjadi penghalang terjalinnya
komunikasi yang efektif. Misalnya, seorang lelaki Sunda memiliki menantu
pemuda Jawa. Saat si menantu akan makan, demi kesopanan dan etika, dia
menawari mertuanya. Di Jawa, untuk menawari makan orang yg lebih tua,
digunakan kata dhahar yang artinya sudah sangat halus. Padahal, jika kata
dhahar ini digunakan untuk orang Sunda, artinya menjadi sangat kasar,
karena orang Sunda menggunakan kata tuang untuk kata makan yg paling
halus.
Rata-rata kesalahpahaman memang terjadi pada komunikasi yang masih
dasar, yakni tahapan komunikasi yang menyenangkan. Dalam tahapan ini,
komunikator dan komunikan merasa masih belum perlu membahas masalah
secara detail, sehingga kadang terselip beberapa poin yang menjadi sumber
kesalahpahaman. Berbeda dengan tahapan lain, misalnya komunikasi untuk
hubungan yg lebih baik, yang walaupun kadang tetap ada yg namanya salah
paham, namun sudah dalam jumlah yang minimal.
Kondisi kesalahpahaman semacam ini umumnya disebabkan karena tingkat
kemampuan berkomunikasi yang kurang baik, entah itu dalam hal
menyampaikan informasi maupun dalam hal menerima
informasi. Disini kemampuan berkomunikasi memegang peranan yang
sangat penting. Bagaimanapun juga, kemampuan berkomunikasi seseorang
turut menentukan efektif tidaknya hubungan yang dibangun dengan orang
lain.
Ada beberapa cara untuk menghindari kesalahpahaman. Yang paling penting
adalah meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Kemampuan ini bisa kita
tingkatkan dengan, misalnya, banyak membaca koran atau tulisan lain yang

memakai tata bahasa efektif dan sistematis. Dengan rutin membaca,


kosakata kita akan semakin kaya dan mempermudah untuk menjalin
komunikasi. Selain itu, jangan lupa tanyakan kepada lawan bicara hal-hal
yang kita belum jelas maksudnya. Cara ini membantu untuk menghindari
salah paham akibat salah persepsi.
Cara yang lain, tingkatkan sensitivitas kita pada lawan bicara dan kurangi
sensitivitas dari lawan bicara. Dengan kata lain, tingkatkan kepekaan kita
untuk merasakan perasaan lawan bicara, agar kita lebih berhati-hati dalam
memilih dan menyampaikan kata. Sebaliknya, kurangi kepekaan kita dari
kata-kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Jangan sampai kita tersinggung
oleh hal-hal sepele, hanya karena kita terlalu sensitif dalam menanggapi
orang lain.