You are on page 1of 17

CASE REPORT

CA TIROID

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Bedah

Pembimbing: dr. Bakri H Sp.B

Disusun Oleh :
Eka Puji Ayuningtyas, S.Ked
J500070016
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

BAB I
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny. S

Umur

: 66 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

:-

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Teken

Tanggal MRS

: 4 Maret 2015

No. RM

: 308xxx

ANAMNESIS

Didapatkan dari autoanamnesis dari anak pasien pada tanggal 5 Maret 2015
-

Keluhan utama : Sesak


Keluhan tambahan : Lemas, tidak mau makan

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang ke IGD RSUD Karanganyar dengan keluhan sesak. Pasien juga terlihat
lemas dan tidak mau makan. Anak pasien mengatakan pasien memiliki benjolan dileher,
benjolan awalnya dirasakan 5 tahun yang lalu dan sudah dioperasi pada tahun 2011.
Kemudian benjolan tumbuh lagi dan kembali dioperasi pada tahun 2013, saat terakhir
dioperasi benjolan diperiksakan ke laboratorium dan dinyatakan keganasaan. Tidak lama
benjolan kembali muncul dan bertambah banyak (3 benjolan), benjolan kadang terasa
nyeri, suara pasien semakin serak, saat menelan terasa sakit, dan badan pasien semakin
kurus. Pusing (-), mual (-), muntah (-), BAB dan BAK dalam batas normal.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat Penyakit Serupa

: diakui (5 tahun yang lalu) benjolan dileher

Riwayat Trauma pada daerah dada

: disangkal

Riwayat Alergi obat/makanan

: disangkal

Riwayat mondok

: diakui 2x operasi benjolan di leher

Riwayat Penyakit asma

: disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Riwayat Penyakit Serupa

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

RIWAYAT PRIBADI DAN SOSIAL


Pasien tinggal bersama anak. Keluarga tidak ada yang mengalami penyakit serupa.
KELUHAN SISTEMIK
Sistem Cerebrospinal

Gelisah (-), lemah (-), demam (-)

Sistem Cardiovaskular

Sianosis (-), anemis (+), akral hangat (+)

Sistem Respiratorius

Batuk (-), sesak Napas (+)

Sistem Genitourinarius

BAK sulit (-), sedikit (-)

Sistem Gastrointestinal

muntah (-), BAB sulit (-)

Sist Musculosceletal

Atrofi otot (-)

Sistem Integumentum

Kemerahan pada kulit (-), sikatriks (-), bula (-)

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis

Keadaan Umum

: Lemas

Kesadaran

: Compos Mentis

VITAL SIGN

Nadi

: 100 x/menit

Tekanan Darah

Suhu

RR

: 140/90 mmHg

: 36oc
: 28 x/menit

PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER

KEPALA

Normocephal

Pupil isokhor

Konjungtiva anemis (+/+)

Sklera ikhterik (-/-)

LEHER

KGB : PKGB (+/-)

JVP

Terdapat 3 benjolan pada leher sebelah kanan

: tidak ada peningkatan

PEMERIKSAAN THORAX

Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak, tidak tampak massa

Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat di SIC V LMC sinistra

Perkusi
-

Kanan atas SIC II parasternalis dextra


Kanan bawah SIC IV parasternalis dextra
Kiri atas SIC II parasternalis sinistra
Kiri bawah SIC V linea midclavikula sinistra

Auskultasi: Bunyi jantung I-II murni, reguler,bising jantung (-)

PEMERIKSAAN THORAX

PARU

Inspeksi : simetris

Palpasi : fremitus kanan = kiri

Perkusi : Sonor

Auskultasi : SDV (+), Wheezing (-), Rhonki (-)

PEMERIKSAAN ABDOMEN

Inspeksi

: Permukaan perut rata,warna kulit kemerahan,perut distended (-), massa

(-), bekas luka operasi (-),

Auskultasi

: Peristaltik (+) normal

Perkusi

: Suara tympani

Palpasi

: Nyeri tekan (+), defans muskuler (-)

PEMERIKSAAN EKSTREMITAS

Superior

: Tidak ada kelainan

Inferior

: tidak ada kelainan

Akral

: Hangat

STATUS LOKALIS
1. Pemeriksaan Regio Colli
a. Lokasi
: Colli anterior dekstra
b. Inspeksi : tampak 3 benjolan, warna tampak kemerahan, terdapat pus (+),

permukaan benjolan ada yang tidak rata.


c. Palpasi
:
Pemukaan
: teraba 3 buah massa ukuran 4x2x2cm, 8x6x6cm, 2x1x1cm. Permukaan

tidak rata.
Konsistensi : lunak
Pergerakan
: sukar digerakkan, ikut bergerak saat menelan.
Massa tumor : nyeri tekan, benjolan tidak rata, batas tegas, tidak mobile.
Pembesaran kelenjar getah bening : (+/-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Lekosit
Trombosit
Eritrosit
MPV
PDW
INDEX
MCV
MCH
MCHC
HITUNG JENIS
Limfosit %
Monosit %
Eosinofil %
Basofil %
Gran%
CT
BT
KIMIA
GDS
Ureum
Creatinin
HbsAg

DIAGNOSIS

DIAGNOSIS KERJA
Ca Tiroid

PENATALAKSAAN
1. Transfusi darah 2 kolf
2. O2 2-3 Lpm
3. Infus RL 20tpm

Angka

Satuan

Nilai Normal

5.5
18.1
24.53
592 (H)
2.64
6.8
15.3

gr/dl
%
103 ul
103ul
106 ul
fL

12,0 16,0
37,00-47,00
5-10
150-300
4,00-5,00
6,5-12,00
9,0-17,0

68.4
20.8
30.5

fL
Pg
g/dl

82,0-92,0
27,0 -31,0
32,0-37,0

3.5
4.8
4.5
0,2
87,6
3,00
1.00

%
%
%
%
%
Menit
Menit

25,0-40,0
3,0-9,0
0,5-5,0
0,0-1,0
50,00-70,00
2-8
1-3

102
25.1
1.06
Non Reaktif

Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl

70-150
10-50
0,5-0,9
Non Reaktif

4. Obat
-

Injeksi Progesol 1amp/8 jam

Injeksi Ranitidin 1amp/12 jam

Injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam

Drip sohobion 1amp/8 jam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Anatomi
Kelenjar thyroid berkembang dari endoderm yang berasal dari sulkus pharyngeus
pertama dan kedua pada garis tengah. Tempat pembentukan kelenjar thyroid menjadi
foramen sekum di pangkal lidah. Jaringan endodermal ini turun ke leher sampai setinggi
cincin trakea kedua dan ketiga yang kemudian membentuk kedua lobi. Kelenjar thyroid
janin secara fungsional mulai mandiri pada minggu ke 12 masa kehidupan intrauterine.

Permukaan medial tiap lobus dibentuk di atas larynx dan trakea. Secara superficial,
kelenjar ini ditutupi oleh muskulus sternokleidomastoideus, muskulus sternohyoideus, dan
di bawah oleh batas anterior muskulus sternokleidomastoideus. Di superior kelenjar ini
dalam hubungan dengan muskulus cricothyroideus.
Thyroidea (dari Yunani thyreos, pelindung) merupakan suatu kelanjar endokrin sangat
vascular, merah kecoklatan yang terdiri dari lobus dexter dan sinister yang berhubungan
melintasi garis tengah oleh istmus. Tiap lobus mencapai superior sejauh linea oblique
sejauh cartilago thyroidea; istmus terletak di atas cincin iga kedua dan ketiga. Ujung
terbawah lobus biasanya di atas cincin trakea keempat atau kelima. Kelenjar ini tertanam
dalam lapisan pretrachealis fascia cervicalis profunda. Biasanya beratnya sekitar 25 gram
pada dewasa, sedikit lebih berat pada wanita dan membesar secara fisiologis pada
pubertas serta selama menstruasi dan kehamilan.
Kelenjar thyroid terletak di leher, antara fascia koli media dan fasia prevertebralis. Di
dalam ruang yang sama antara trakhea, esofagus, pembuluh darah besar, dan saraf.
Kelenjar thyroid melekat pada trakea dan fascia pretrakhealis, dan melingkari trakea dua
pertiga bahkan sampai tiga perempat lingkaran.
Kelenjar thyroid kaya vaskularisasi, yaitu yang berasal dari empat sumber, yaitu a.
karotis superior kanan dan kiri, cabang a. karotis eksterna kanan dan kiri, dan kedua a.
thyroidea inferior kanan dan kiri, cabang a. brakhialis. Sistem venanya terdiri atas v.
Thyroidea superior berjalan bersama arterinya; v. Thyroidea media berada di lateral,
berdekatan dengan a. thyroidea inferior, dan v. thyroidea inferior.
Vena thyroidea mulai dibentuk pada permukaan kelenjar dan dapat mudah dirusak
pada eksplorasi. Vena thyroidea superior berjalan bersama arteria thyroidea superior dan
berdrainase langsung ke dalam vena jugularis interna. Vena thyroidea media terpisah dan
berdrainase langsung ke dalam vena jugularis interna. Vena thyroidea inferior
mendrainase darah dari kutub bawah tiap lobus dan berjalan ke vena brachicephalica
dextra.
Kanker tiroid seringkali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi
kemampuan menghasilkan hormon tiroid; tetapi kadang kanker menghasilkan cukup
banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme.

2. Fisiologi
Sintesis Hormon tiroid :
Disintesis dari iodine dan asam amino tirosin. Sebagian besar iodine masuk melalui
traktus digestivus sebagai iodid, tapi juga melalui paru dan kulit. Iodine yg masuk tubuh
1/3 bagian masuk tiroid dan 2/3 bagian sisa-nya meninggalkan tubuh melalui urine.
Metabolisme hormon tiroid :
Ensim mengoksidase iodid iodine orga-nik, diikat ke dalam monoiodotirosin dan
diio-dotirosin. Senyawa ini mengandung hormon tiroid aktive tiroksin (T4) yang
mempunyai 4 molekul iodine, dan triiodotironin (T3) yang punya 3 molekul iodine. Dlm
serum T4>T3, tapi T3 fisiologik lebih bermakna.
3. Definisi
Kanker tiroid adalah suatu keganasan pada tiroid yang timbul dari sel folikel.
Kebanyakan keganasan dikelompokkan sebagai jenis karsinoma tiroid terdifferensiasi,
yang manifest sebagai bentuk papiler, follikuler, atau campuran.

Kanker jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan


pertumbuhan kecil (nodul) di dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak
dan biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan.
4. Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab kanker tiroid sampai saat ini masih belum jelas. Beberapa faktor resiko
yang telah diidentifikasi meliputi :
Radiasi eksternal pada leher atau kepala khususnya selama masa kanak- kanak.
Predisposisi genetik (melibatkan faktor herediter), khususnya pada kanker tiroid type
medullar.
Jenis kelamin (laki-laki lebih sering terkena kanker tiroid dibandingkan wanita).
5. Klasifikasi
o Benigna
Penampilan sebagai nodule soliter dari thyroid dengan sisa jaringan palpabel.
Secara Teoritis ada adenoma papiller tetapi kebanyakan adenoma follikuler.
Sangat sukar dibedakan dengan karsinoma. Oleh karena itu tindakan selalu
pembedahan karena berdasar morphologi sendiri.
Adenoma selalu tidak dapat dibedakan dengan karsinoma, diagnosis hanya
dikonformasikan histologi yang dapat menunjukkan invasi ke kapsula atau ke
pembuluh darah.
o Karsinoma Thyroidea :
Karsinoma Thyroid sering hormone dependent misalnya pada TSH dimana
mengatur sekresi normal dari thyroid. Hormone dependens maximal pada Ca
Papiller dan praktis nol pada type anaplastik dan Follikuler bervariasi
responsinya.
Terdapat 5 jenis type karsinoma thyroid yang diketahui, yaitu :
1. Carcinoma Papiller.
Biasanya penderita terbanyak umur muda, Kira kira 1/3 penderita
menunjukkan metastase intraglandule lymphatik (yang sebelumnya dikira
multicentrik). Terutama metastasis ke lnn. Cervical dan relative kurang
ganas sel-sel lapisan banyak dan irregular, type collumner atau cuboid,
Sering menonjol ke dalam permukaan.

Histologi - pertumbuhan hanya papiller sedikit dan kebanyakan


gambaran bercampur elemen papiller dan follikuler (type mixed). Secara
histologis harus dilaporkan adanya elemen follikuler dalam type mixed
karena ini penting / relevant lebih jauh iodine up take menunjukkan tiap I
123 up take, sedang type mixed take up.Dengan semua tujuan type mixed
lain dari pertumbuhan papiller.
2. Carcinoma Folliculer.
Biasa penderita lebih tua dan tumor lebih ganas dari pada type
papiller

sering

komplikasi

dari

adenoma

benigna

soliter

atau

struma multinoduler.
Metastasis terutama dengan hematogen melalui venulae setelah
cel tumor melalui capsule. Histologi - Cel ukuran medium teratur dalam
berkas atau trabeculae dengan daerah daerah folliculer teratur. Karena
mikroskopik cel teratur dalam bentuk aciner (cel columner rendah atau
cuboid) sewaktu waktu digambarkan sebagai juga Carcinoma alveolar.
Biasa komplikasi dari struma multinoduler.
3. Carcinoma Anaplastik.
a. Biasanya penderita sudah tua
b. Timbul dari kelenjar normal
c. Penyebaran baik daengan lymphgen ataupun hematogen relative
pada stadium awal.
d. Histologi ada 2 type - type small cell dan giant cell. Kedua type
menunjukkan gambaran pleomorphi tetapi type giant cell lebih
ganas.
4. Carcinoma Meduller.
Ini berasal dari cel parafolliculer C (derivat dari corpus ultim
obranchial). dan beberapa ragu ragu bahwa ini berasal dari jar. thyroid.
Ada 2 type - familial dan sporadis. Type familial sering melibatkan dua
lobs dan dapat berasal multifocal sebagai cel parafoliculer pada jar
interstitiale dari kelenjar thyroid.
Metastasis dengan lymphonodi dalam stage tinggi penderita dan
prognosis jelek. Type Sporadis biasanya unilobar dan kurang malignant.

Histologi - menunjukkan karakter undiferentiated terdiri berkas berkas


cel

bulat

dan

digestivus).
Karakteristik

dapat

menyerupai

adanya

amyloid

tumor
baik

carcinoid
makro

dan

(dalam

tract.

mikroskopik.

Tumor juga menyebabkan kelainan biokhemis karena kenaikan sekresi dari :


- Calcitonine (hypocalcaemia, osteoporosis , pembesaran parathyroid,
dan sakit tulang).
- 5-hydroxytryptamine seperti pada carcinoid (dengan manifestasi
diarrhoea).
ACTH (nampak Cushingoid).
Tindakan :
Type sporadis - total lobectomi ipsilateral lobus dan subtotal
lobectomy dari kontralteral lobus.
Type familial - Total thyroidectomy dan ipsilateral radical neck
dissection dari lymphonodi. Prognosis terletak antara carcinoma
folliculer dan anaplastik.
5. Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien dengan nodul tiroid nontoksik baik jinak maupun ganas,
biasanya datang dengan keluhan kosmetik atau takut timbulnya keganasan.
Sebagian besar keganasan tiroid tidak menimbulkan keluhan, kecuali jenis
anaplastik yang sangat cepat membesar dalam beberapa minggu saja. Pasien
biasanya mengeluh adanya gejala penekanan pada jalan napas (sesak) atau
pada jalan makanan (sulit menelan). Pada nodul dengan adanya perdarahan
atau disertai infeksi, bisa menimbul keluhan nyeri. Keluhan lain pada
keganasan tiroid yang mungkin timbul adalah suara serak.
b. Pemeriksaan fisik
Perlu dibedakan antara nodul tiroid jinak dan ganas. Yang jinak, dari
riwayat keluarga: nodul jinak, strumadifus, multinoduler. Pertumbuhannya
relatif besarnya tetap. Konsistensinya lunak, rata dan tidak terfiksir. Gejala
penekanan dan penyebarannya tidak ada. Sedangkan yang ganas, dari riwayat
keluarga: karsinoma medulare, nodul soliter, Usia kurang dari 20 tahun atau di
atas 60 tahun. Pria berisiko dua kali daripada wanita dan riwayat terekspos
radiasi leher. Pertumbuhannya cepat membesar. Konsistensi, padat, keras,

tidak rata dan terfiksir. Gejala penekanan, ada gangguan menelan dan suara
serak. Penyebarannya terjadi pembesaran kelenjar limfe leher.
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang diagnostik untuk mengevaluasi nodul tiroid
dapat berupa pemeriksaan laboratorium untuk penentuan status fungsi dengan
memeriksa kadar TSHs dan hormon tiroid, pemeriksaan Ultrasonografi, sidik
tiroid, CT scan atau MRI, serta biopsi aspirasi jarum halus dan terapi supresi
Tiroksin untuk diagnostik.
Pemeriksaan laboratorium dimaksudkan untuk memperoleh hasil
pemeriksaan fungsi tiroid baik hipertiroid maupun hipotiroid tidak
menyingkirkan kemungkinan keganasan. Pemeriksaan TSH yang meningkat
berguna untuk tiroiditis. Pemeriksaan kadar antibodi antitiroid peroksidase
dan antibodi antitiroglobulin penting untuk diagnosis tiroiditis kronik
Hashimoto yang sering timbul nodul uni/bilateral. Sehingga masih mungkin
terdapat keganasan.
Pemeriksaan calcitonin merupakan pertanda untuk kanker tiroid jenis
medulare, sedangkan pemeriksaan kadar tiroglobulin cukup sensitif untuk
keganasan tiroid tetapi tidak spesifik. Karena bisa ditemukan pada keadaan
lain seperti tiroiditis dan adenoma tiroid.
1. Pemeriksaan Ultrasonografi.
Pemeriksaan dengan menggunakan USG merupakan pemeriksaan
noninvasif dan ideal. Khususnya dengan menggunakan ''high frequency
real-time'' (generasi baru USG). Dengan alat ini akan diperoleh gambaran
anatomik secara detail dari nodul tiroid, baik volume (isi), perdarahan
intra-noduler, serta membedakan nodul solid/kistik/campuran solid-kistik.
Gambaran yang mengarah keganasan seperti massa solid yang hiperkoik,
irregularitas, sementara gambaran neovaskularisasi dapat dijumpai pada
pemeriksaan dengan USG.
Dari satu penelitian USG nodul tiroid didapatkan 69% solid, 12%
campuran dan 19% kista. Dari kista tersebut hanya 7% yang ganas,
sedangkan dari nodul yang solid atau campuran berkisar 20%.
2. Pemeriksaan dengan foto Rontgen

Pemeriksaan dengan foto rontgen berguna untuk melihat dorongan


dan tekanan pada trakhea serta klasifikasi didalam jaringan thiroid dan
foto

thorax

dibuat

untuk

melihat

kemungkinan

penyebaran

ke

mediastinum bagian atas atau paru


3. Pemeriksaan sidik tiroid.
Pemeriksaan tersebut dapat memberikan gambaran morfologi
fugsional, berarti hasil pencitraan merupakan refleksi dari fungsi jaringan
tiroid. Bahan radioaktif yang digunakan I-131 dan Tc-99m. Pada sidik
tiroid 80-85% nodul tiroid memberikan hasil dingin (cold), sedangkan 1015% mempunyai risiko ganas. Nodul panas (hot) dijumpai sekitar 5%
dengan risiko ganas paling rendah, sedang nodul hangat (warm) 10-15%
dari seluruh nodul dengan risiko ganas kurang dari 10%.
4. Pemeriksaan CT scan dan MRI.
Pemeriksaan CT scan (Computed Tomographic scanning) dan MRI
(Magnetic Resonance Imaging) tidak direkomendasikan untuk evaluasi
keganasan tiroid. Karena disamping tidak memberikan keterangan berarti
untuk diagnosis, juga sangat mahal. CT scan atau MRI baru diperlukan
bila ingin mengetahui adanya perluasan struma substernal atau terdapat
kompresi/penekanan pada jalan nafas.
5. Pemeriksaan Biopsi Aspirasi Jarum Halus.
Pemeriksaan ini dianggap sebagai metode yang efektif untuk
membedakan nodul jinak atau ganas pada nodul tiroid yang soliter
maupun pada yang multinoduler. Dilaporkan pemeriksaan biopsi aspirasi
jarum halus ini mempunyai sensitivitas sebesar 83% dan spesifisitas 92%.
Angka negatif palsu sekitar 1-6% dan positif palsu sekitar 1%. Ini bisa
karena kesalahan pengambilan sampel (nodul kurang 1 cm atau lebih 4
cm). Hasil biopsi aspirasi jarum halus dapat digolongkan dalam 4 kategori,
yakni jinak, mencurigakan, ganas dan tidak adekuat.
6. Terapi supresi Tiroksin (untuk diagnostik).

Rasionalisasi dari tindakan ini adalah bahwa TSH merupakan


stimulator kuat untuk fungsi kelenjar tiroid dan pertumbuhannya. Tes ini
akan meminimalisasi hasil negatif palsu pada biopsi aspirasi jarum halus.
Dengan cara ini diharapkan dapat memilah nodul yang memberi respon
dan tidak. Kelompok terakhir ini lebih besar kemungkinan ganasnya.
Tetapi dengan adanya reseptor TSH di sel kanker tiroid, terapi tersebut
akan memberikan pengecilan nodul pada 13-15% kasus.
6. Penatalaksanaan
a. Operasi
Pada Kanker Tiroid yang masih berdeferensiasi baik, tindakan tiroidektomi
(operasi pengambilan tiroid) total merupakan pilihan untuk mengangkat sebanyak
mungkin jaringan tumor. Pertimbangan dari tindakan ini antara lain 60-85% pasien
dengan kanker jenis papilare ditemukan di kedua lobus. 5-10% kekambuhan terjadi pada
lobus kontralateral, sesudah operasi unilateral. Terapi ablasi iodium radioaktif menjadi
lebih efektif.
Terapi Ablasi Iodium Radioaktif.
Terapi ini diberikan pada pasien yang sudah menjalani tiroidektomi total
dengan maksud mematikan sisa sel kanker post operasi dan meningkatkan
spesifisitas sidik tiroid untuk deteksi kekambuhan atau penyebaran kanker. Terapi
ablasi tidak dianjurkan pada pasien dengan tumor soliter berdiameter kurang
1mm, kecuali ditemukan adanya penyebaran.
Terapi Supresi L-Tiroksin.
Supresi terhadap TSH pada kanker tiroid pascaoperasi dipertimbangkan.
Karena adanya reseptor TSH di sel kanker tiroid bila tidak ditekan akan
merangsang

pertumbuhan

sel-sel

ganas

yang

tertinggal.

Harus

juga

dipertimbangkan segi untung ruginya dengan terapi ini. Karena pada jangka
panjang (7-15 tahun) bisa menyebabkan gangguan metabolisme tulang dan bisa
meningkatkan risiko patah tulang.
b. Evaluasi.
Keberhasilan terapi yang dilakukan memerlukan evaluasi secara berkala, agar
dapat segera diketahui adanya kekambuhan atau penyebaran. Monitor standar untuk hal

ini adalah sintigrafi seluruh tubuh dan pemeriksaan tiroglobulin serum. Pemeriksaan
USG dan pencitraan lain seperti CT scan, rontgen dada dan MRI tidak secara rutin
diindikasikan.
Sintigrafi seluruh tubuh dilakukan 6-12 bulan setelah terapi ablasi pertama. Bila
tidak ditemukan abnormalitas, angka bebas kekambuhan dalam 10 tahun sebesar 90%.
Sensitifitas pemeriksaan tiroglobulin untuk mendeteksi kekambuhan atau penyebaran
sebesar 85-95%

DAFTAR PUSTAKA
1.SABISTON, David C, Buku ajar bedah EGC, 1995.
2.WIM DE JONG, Buku ajar Ilmu bedah EGC 1997, R. Sjamsuhidayat, Wim De Jong.
3.American
Association
of
Clinical
Endocrinologists
T h y r o i d C a r c i n o m a, www.powerofprevention.com.

2005

(AACE),

4.American Cancer Association 2002. do we know about thiroid cancer ? [on-Line].


Avaible :// www.cancer.org/docroot/cri/content/asp.

5.Committee on Hormonally Active Agents in the Environment, National Research


Council. Hormonally active agents in the environment. Washington: National
Academy Press; 1999. www.ec.gc.ca/eds/fact/index.htm.
6.Haines
A,
McMichael
AJ,
health:
2.
Global
climate
2000;163(6):729-34. www.epa.gov/endocrine

Epstein
change

PR.
and

Environment
health.

and
CMAJ

7.Mayo Clinic (2002a). Graves disease [on-line]. Available: http://www.mayoclinic.com/


invoke.cfm?objectid=61F402CE-55BE-4D8A-8467053CAD40B475.
8.American
Foundation
of
Thyroid
www.thyroidfoundation.org/thyroidsymp.htm.

Patients

(1994).

Thyroid

9.American Academy of Otolaryngology - Head and Neck Surgery (2002). Your thyroid gland
[on-line].
Available:
http://www.entnet.org/healthinfo/thyroid/thyroid_gland.cfm.
10.Thyroid Summary Sheet, Endocrine Module, Spring 2004, Jack DeRuiter, Marine D: Etiology
and
prevention
of
simple
goiter.
Medicine
3:453,1924.
http://www.aace.com/pub/tam2003/index.php
11.American Association of Clinical Endocrinologists (2003). Thyroid undercover [on-line].
Available: http://