You are on page 1of 21

BAB 10

ATOM BERELEKTRON BANYAK


A. SPIN ELEKTRON
Pada materi Struktur Atom Hidrogen sudah kita pelajari tentang Teori
Atom Bohr tentang atom berelektron tunggal (sederhana), dimana lintasan
elektron pada atom Hidrogen berbentuk lingkaran. Namun ternyata Teori Atom
bohr ini tidak dapat menjelaskan untuk atom yang memiliki elektron lebih dari
satu ( atom berelektron banyak ) disebabkan oleh :
1

Struktur atom kompleks

Struktur halus dari tingkat tingkat energi atom komplek

Perbedaan intensitas spektrum atom berelektron banyak

Adanya Efek Zeeman, yaitu terpecahnya garis spektrum jika atom berada
dalam medan magnetik.
Kebenaran Kuantisasi Momentum Sudut oleh Bohr. Hal ini dijelaskan oleh

De Broglie melalui konsep Gelombang Partikel , yaitu Jika Cahaya (Gelombang)


dapat menunjukkan gejala partikel (Effek Foto listrik, Efek

Compton), maka

partikel (elektron), juga dapat menunjukkan gejala gelombang.


Gelombang yang dihasilkan dari partikel memenuhi persamaan :

dengan p = m.v (momentum) sehingga


Kebenaran Hipotesa De Broglie diuji oleh Davisson Germer dan G.P
Thomson dengan cara :
1.

Menembakkan elektron (partikel) pada pelat sangat tipis dari nikel,


ternyata di belakang pelat yang dipasang layar menunjukkan adanya gejala
gelombang yaitu terjadi pola difraksi

2.

Ini membuktikan bahwa partikel (elektron) dapat menunjukkan sifat


gelombang, dengan panjang gelombang sesuai dengan perkiraan de Broglie.
Uji coba yang sama di lakukan oleh Ilmuwan lain seperti G.P Thomson

dengan menembakkan elektron pada foil foil emas sangat tipis.

Uji coba berikutnya dilakukan dengan menembakkan atom helium, hidrogen


dan netron, dengan hasil yang sangat meyakinkan dengan menembakkan sinar X
pada pelat tipis
Keadaan Stasioner elektron di dalam atom diidentikkan dengan :
1. Gelombang Stasinoer ujung terikat yang hanya memiliki keadaan resonansi
tertentu (Lihat Dawai sebagai sumber bunyi).
2. Gelombang elektron diidentikkan dawai yang dibengkokkan membentuk
lingkaran mengelilingi inti atom.
3. Keadaan stasioner elektron dengan panjang gelombang dan momentum
sudut tertentu, identik dengan keadaan resonansi dari gelombang pada
dawai.

2.L = n.

Dalam gelombang stasioner berlaku :


Dengan : L = panjang dawai
n = bilangan bulat positif

4. Orbit Stasioner Bohr harus memenuhi nilai

n.

sama dengan keliling

lingkaran orbit stasioner, sehingga :

n. = 2..r
Heisenberg menyatakan bahwa Tidak mungkin kita mengetahui posisi
partikel secara teliti dan momentum partikel secara teliti pada waktu yang
bersamaan.
Karena

elektron

didalam

atom

selalu

bergerak,

sesuai

dengan

Ketidakpastian Heisenberg, maka posisi dan momentum elektron tidak dapat


ditentukan secara teliti bersamaan, yang dapat ditentukan adalah Orbital dari
elektron, yaitu daerah kebolehjadian terbesar untuk menemukan elektron.
Dengan ide de Broglie bahwa partikel kecil dapat dijelaskan secara
gelombang, Schrodinger mengaplikasikan ide tersebut untuk menjelaskan sifat
elektron

dalam

menyimpulkan :

atom

Hidrogen,

dengan

persamaan

Schrodinger, yang

Gelombang elektron dapat dijelaskan oleh suatu fungsi matematik yang


memberikan amplitudo gelombang pada titik apa saja dalam ruang yang
dikenal dengan Fungsi Gelombang Schodinger () (Psi).

Kuadrat fungsi gelombang 2 memberikan peluang menyatakan secara tepat


di mana lokasi elektron jika elektron dipandang sebagai gelombang.

Ada banyak fungsi gelombang yang deskripsi gelombang elektronnya dalam


atom dapat diterima. Setiap fungsi gelombang ini dikarakteristikkan oleh
sekumpulan bilangan bilangan kuantum.
Untuk menjelaskan Atom berelektron banyak kita gunakan suatu bilangan

yang disebut Bilangan Kuantum, yang terdiri dari 4 Bilangan kuantum yaitu :
a

Bilangan Kuantum Utama :


Bilangan ini berfungsi :

Menentukan letak elektron di dalam kulit atom, dimana :

Bil. Kuantum ( n ) 1
2
3
4
5
6
Kulit
K
L
M
N
O
P
Menentukan tingkat energi elektron dalam kulit atom, dimana :

Untuk ion ion yang memiliki satu elektron seperti He +, Li2+, dan Be3+,
persamaannya diubah menjadi :

dengan Z = nomor atom


3

Menentukan jumlah elektron dalam kulit atom, dimana :


dengan n = bil. Kuantum utama

b Bilangan Kuantum Orbital ( Azimut ) ( l )


Bilangan ini bernilai l = 0,1,2,3, ( n 1 ) dengan : n = bilangan
kuantum utama. Bilangan ini berfungsi, diantaranya :
1

Menentukan besar momentum sudut elektron, dengan rumus :

dengan

h = konstanta planck
l = bilangan kuantum azimut
L = Momentum sudut elektron
c

Bilangan Kuantum Magnetik ( ml ) :


Bilangan ini memiliki nilai :

ml = - l, , 0 , , + l dengan l = bil. kuantum orbital


contoh :
untuk l = 2, maka : ml = -2 , -1 , 0 , 1 , 2
Bilangan Kuantum ini berfungsi diantaranya :
1

Menentukan jumlah orbital dalam sub kulit dengan rumus yaitu


orbital = ( 2.l + 1 )

Contoh : untuk l = 2 diatas terdiri dari 5 orbital. Jadi, nilai 5 tersebut sama dengan
jumlah bilangan kuantum magnetic.
2

Menentukan Komponen Momentum sudut elektron


Menurut Schrodinger, Komponen momentum sudut elektron pada sumbu x

dan y besarnya bebas, tetapi komponen momentum sudut pada sumbu z


memiliki nilai tertentu yang terkuantisasi dengan persamaan :
Lz = ml. h
Dengan

Lz = Komponen momentum sudut pada sumbu z


ml = bil. Kuantum magnetic.

Contoh Visualisasi Momentum sudut elektron :


Misal elektron berada pada n = 3
Maka kemungkinan nilai l = 0, 1 , 2 ,
Untuk l = 2, maka diperoleh :
ml = -2, -1 ,0 , 1 , 2
sehingga :

Hubungan ini dilukiskan :

L = 6. h

Lz
+2. h

Dan :
ml = 2

+1. h

berlaku
Lz = 2.h

L = 6
L=

ml = 1

berlaku
berlaku

-1. h

L=

Lz = 0
ml = -1

L=

Lz = 1.h
ml = 0

berlaku
-2. h

Lz = -.h
ml = - 2

L = 6

berlaku

Lz=- 2.h
Dengan tertentunya nilai Lz maka orbit elektron pun akan memiliki
kemiringan tertentu yang selalu tegak lurus dengan arah momentum sudutnya
( lihat aturan di atas ).
Sebagai contoh untuk nilai

, dari kulit n = 3 dan l = 2 diperoleh :

Besarnya sudut dicari dengan menggunakan Fun


Cosinus, dimana :
L = 6.h

atau
Sudut dihitung dari nilai Lz (+) searah jarum jam.
Lintasan electron

d Bilangan Kuantum Spin ( ms)


Bilangan kuantum spin berhubungan dengan arah rotasi elektron di dalam
lintasannya, yang disebabkan oleh momentum sudut intrinsic, yaitu momentum
sudut akibat rotasi elektron itu sendiri, ada dua arah rotasi elektron yaitu searah
jarum jam atau berlawanan arah jarum jam, sehingga ada dua nilai yang
menyatakan arah rotasi elektron yaitu :
ms =
dimana :
ms =
Spin +

Spin

+ , jika arah spin elektron ke atas

( rotasi elektron berlawanan jarum jam )


ms = - , jika arah spin elektron kebawah
( rotasi elektron searah jarum jam )

B. PRINSIP EKSKLUSI
Pada tahun 1925, Wolfgang Pauli menemukan prinsip pokok yang mengatur
konfigurasi elektron atom yang memiliki lebih dari satu elektron. Prinsip
eksklusinya menyatakan bahwa tidak terdapat dua elektron dalam satu atom yang
dapat berada dalam keaadaan kuantum yang sama.
Pauli menemukan prinsip eksklusi ketika mempelajari spektrum atomik.
Kita dapat menentukan keadaan sebuah atom dari spektrumnya. Dalam spektrum
setiap unsur selain hidrogen, tidak terdapat sejumlah garis. Garis ini bersesuaian
dengan transisi dari dan ke keadaan yang memiliki kombinasi keadaan kuantum
tertentu. Jadi, dalam Helium tidak teramati transisi dari dan ke konfigurasi
keadaan dasar dengan kedua spin berarah sama, walaupun transisi dari dan ke
konfigurasi keadaan dasar dengan spin elektron berlawanan sehingga spin totalnya
nol.
C. FUNGSI GELOMBANG SIMETRIK DAN ANTISIMETRIK
Kita lihat bahwa fungsi gelombang lengkap dari atom hidrogen dapat
dinyatakan sebagai
(1)
Kita akan menggunakan rumusan ini untuk memeriksa jenis fungsi
gelombang yang dapat dipakai untuk memerikan sebuah sistem yang terdiri dari
dua partikel identik.
Kita menganggap salah satu parikel itu dalam keadaan kuantum adan yang
lainnnya dalam keadaan b. Karena partikel identik, maka tidak ada perbedaan

dalam kerapatan peluang

dari sistem itu jika partikel itu dipertukarkan,

partikel dalam keadaan a menggantikan yang dalam keadaan b dan sebaliknnya.


Secara simbolik kita syaratkan
(2)
Jadi fungsi gelombang
dapat diberikan oleh salah satu

menyatakan partikel yang dipertukarkan

(simetri)

(3)

(anti simetri)

(4)

Dan tetap memenuhi persamaan (2). Fungsi gelombang sendiri bukanlah kuantitas
yang dapat diukur,sehingga dapat diubah tandanya oleh pertukaran partikel.
Fungsi gelombang yang tidak dipengaruhi oleh pertukaran partikel disebut
simetrik, sedangkan yang tandanya menjadi berlawanansetelah pertukaran disebut
asimetrik
Jika partikel 1 dalam keadaan a dan partikel 2 dalam keadaan b, menurut
persamaan (1) fungsi gelombang sistem menjadi
(5)
Sedangkan jika partikel 2 berada dalam keadaan a dan partikel 1 dalam keadaan b,
fungi gelombangnya ialah

Kombinasi linier antara

dan

merupakan pemerian yang tepat untuk

menyatakan keadaan sistem. Terdapat dua kombinasi yang mungkin, yang


simetrik

Dan yang asimetrik

a. Penempatan elektron: Larangan Pauli


Berapa banyak elektron dapat terikat, atau menempati suatu orbital?

Prinsip Larangan Pauli menyatakan: tidak ada 2 elektron dalam suatu


atom dapat memiliki ke-4 bilangan kuantum sama.

Helium pada keadaan dasar memiliki 2 elektron dalam orbital 1s, tetapi
dengan spin yang berlawanan

ml

ms

elektron

elektron

b. Penempatan elektron: Prinsip Aufbau

Untuk setiap atom netral, jumlah elektron sama dengan nomor atomnya

Prinsip Aufbau : untuk menyusun atom dan menggambarkan konfigurasi


elektronnya

Pengisian dimulai dari orbital dengan tingkat energi terendah ke tertinggi

Konfigurasi elektron hanya memperlihatkan jumlah elektron yang menempati


tiap subkulit
c. Penempatan elektron: Aturan Hund

Aturan Hund: Keadaan energi terendah adalah yang memiliki elektron tak
berpasangan yang paling banyak.

Dari konfigurasi elektron suatu atom dapat diperkirakan letak unsur dalam Tabel
Periodik.
d. Momentum Sudut Total

Persamaan ini identik dengan persamaan Legendre terasosiasi dengan:

yang biasa disebut fungsi harmonik bola (spherical harmonics).

Tiga sifat penting dari fungsi ini adalah

Beberapa contoh fungsi harmonik bola adalah

Persamaan di atas menunjukan kuantisasi momentum sudut

Dalam pembentukan molekul dari beberapa atom, ikatan antar atom berlangsung
melalui orbital-orbital tersebut di bawah.

e. Kopling LS
Momentum L dan S berinteraksi magnetis melalui efek spin orbit untuk
membentuk momentum-momentum sudut total J. Skema inilah yang disebut
dengan kopling LS.

Jika L < S, J dapat mengambil harga 2S+1


Jika L > S, J dapat mengambil harga 2L+1

f. Kopling JJ

Gaya listrik yang terkopel dalam Li menjadi vector tunggal

vector

dan Si menjadi

, ini lebih kuat dari gaya spin orbit magnetic yang mengkopel

membentuk

dan

dalam atom ringan. Gaya listrik yang mengkopel Li menjadi

mendominasi, walaupun terdapat medan magnet eksternal yang agak besar.

Dalam kasus ini presesi

dan

dalam mengelilingi B lebih lambat dari pada presesi

yang mengelilingi

Namun, dalam atom berat muatan inti cukup besar untuk menghasilkan interaksi
spin-orbit yang orde besarnya sama dengan interaksi listrik antara Li dan Si,
dan skema kopling LS mulai tidak berlaku. Ketakberlakuan serupa juga terjadi
dalam medan magnetic eksternal kuat (> 1T), yang menimbulkan efek PaschenBack dalam spectrum atomic.
Dalam batas kegagalan kopling

, momentum sudut total Ji dari electron

masing-masing dapat dijumlahkan langsung membentuk momentum sudut J dari


keseluruhan atom itu, situasi ini dikenal sebagai kopling j-j (sambatan j-j) karena
masing-masing Ji diperikan dengan bilangan kuantum j. maka:

g. Spektrum Satu Elektron


Sekarang kita telah sampai pada posisi untuk mengerti keistimewaan
utama spektrum berbagai unsur. Sebelum kita memeriksa contoh-contoh yang
dapat mewakili berbagai kelompok unsur, harus dikemukakan bahwa komplikasi
selanjutnya yang belum dibahas sebelumnya dapat timbul, misalnya yang timbul
dari efek relativistik dan kopling antara elektron dengan fluktuasi vakum dalam
medan elektromagnetik. Faktor-faktor tambahan ini memecah keadaan energi
tertentu menjadi sub-keadaan garis spectral. Gambar di bawah ini menunjukkan

berbagai keadaan atom hidrogen yang diklasifikasikan menurut bilangankuantum total n dan bilangan kuantum momentum sudut orbital l.

Kaidah seleksi untuk transisi yang diizinkan di sini ialah l = 1 seperti


yang terlihat pada gambar. Untuk menunjukkan beberapa perincian yang
dihilangkan dalam diagram sederhana sejenis ini, strukur terperinci dari tingkat n
= 2 dan n = 3 digambarkan, bukan saja semua sub-keadaan dengan n dan j
berbeda terpisah energinya, tetapi juga berlaku untuk keadaan n dan j sama
tetapi l berbeda.
Efek yang kedua ini jelas terlihat untuk keadaan dengan n dan I kecil, dan
pertama kaliu di temukan dalam tahun 1947 dalam pergeseran Lamb dari
keadaan 22 S . Berbagai pemisdahan yang memecahkan garis spectral H
(n =3 ke n =2) menjadi tujuh komponen yang berjarak berdekatan.
Atom natrium memiliki elektron 3s tunggal di luar kulit dalam tertutup,
sehingga jika kita anggap terdapat 10 elektron pada teras dalam secara sempurna
memerisai +10e muatan inti, elektron terluar terkena aksi muatan-inti efektif +e,
serupa dengan dalam atom hidrogen. Jadi dalam aproksimasi (hampiran)

pertama kita harapkan, tingkat energi natrium akan sama dengan tingkat energi
hydrogen, kecuali tingkat yang terendah yang bersesuaian dengan n = 3 alih-alih
n = 1 karena prinsip ekslusi.

Gambar di atas ialah diagram tingkat energi untuk natrium, dan sebagai
pembandingnya tingkat energi juga diperlihatkan. Jelas terlihat kesesuaian
untuk keadaan dengan l tertinggi, ini berarti untuk keadaan dengan momentum
sudut tertinggi.
h. Spektrum Dua Elektron
Elektron tunggal merupakan penyebab timbulnya tingkat energi dari
keduanya, hidrogen dan natrium.

Namun terdapat dua electron 1s dalam

keadaan dasar helium dan sangat menarik untuk membahas efek kopling LS
dalam sifat dan kelakuan atom helium. Untuk melakukan hal itu, mula-mula
kita perhatikan kaidah seleksi untuk transisi terizinkan di bawah kopling LS:
L = 0, 1
J = 0, 1

(kaidah seleksi LS)

S = 0
Bila hanya satu electron yang terkait, L = 0 dilarang dan L = I merupakan
satu-satunya kemungkinan. Selanjutnya, J harus berubah jika keadaan awal
memiliki J,

sehingga J = 0

J = 0 terlarang. Diagram tingkat enegi

helium ditunjukkan oleh gambar berikut.

Berbagai tingkat menyatakan konfigurasi dengan satu elektron dalam


keadaan dasar dan elektron yang lain dalam keadaan eksitasi, tetapi karena
momentum sudut kedua elektron itu terkopel, dibenarkan untuk memandang
tingkat itu sebagai karakteristik keseluruhan atom. Terdapat tiga perbedaan yang
menonjol antara diagram ini dengan diagram yang bersesuaian untuk hidrogen
dan natrium.
Pertama, terdapat pembagian menjadi keadaan tunggal dan keadaan
trikembar yang berurutan berarti keadaan dengan spin kedua elektron anti-sejajar
(menghasilkan S = 0 ) dan sejajar (menghasilkan S = 1). Karena kaidah seleksi
S=0

, tidak ada transisi dapat terjadi antara keadaan tunggal dan keadaan

trikembar, dan spektrum helium timbul dari transisi dalam satu set atau set yang
lain. Atom helium dalam keadaan tunggal (spin anti-sejajar) terdiri dari
parahelium dan dalam keadaan trikembar (spin sejajar) terdiri dari ortohelium.
Atom ortohelium dapat kehilangan energi eksitasinya dalam suatu tumbukan dan
menjadi parahelium, sedangkan atom parahelium , sedangkan atom parahelum

bisa mendapatkan energi eksitasi dalam suatu tumbukan dan menjadi


ortohelium, zat cair biasa atau helium berbentuk gas merupakan campuran dari
keduanya. Keadaan trikembar yang terendah disebut metamantap (metastabil)
karena tumbukan, sebuah atom dalam keadaan itu mempertahankan energi
eksitasinya untuk waktu yang relatif panjang (satu detik atau lebih) sebelum
memancarkan radiasi.
Hal kedua yang jelas terlihat dalam gambar tersebut ialah tidak
terdapatnya keadaan 13S. Keadaan terendah trikembarnya ialah 23S, walaupun
keadaan tunggal terendah adalah 11S . Keadaan 13S hilang sebagai akibat prinsip
eksklusi, karena dalam keadaan ini kedua elektron harus memiliki spin sejajar
jadi memiliki bilangan kuantum yang identik. Ketiga, perbedaan energi antara
keadaan dasar dan keadaan eksitasi terendah relatif sangat besar yang
mencerminkan ikatan kuat dari elektron kulit tertutup. Energi ionisasi helium
kerja yang diperlukan untuk memindahkan elektron keluar dari atom helium
ialah 24,6 Ev , tertinggi dibanding unsur lainnya.
i. Spektrum Sinar X
Sewaktu mempelajari pemijaran gas bertekanan rendah W.C. Roentgen
pada tahun 1895 melihat terjadinya fluoresensi atau penasilkan s=0 daran pada
kertas yang dilapisi bahan pendar barium platino cyanida yang di tempatkan
menghadap tabung gas pijar, meskipun permukaan kertas yang menghadap
tabung adalah yang tidak berlapiskan bahan pendar, dan bahkan pada jarak
sejauh 2 meter. Lebih lanjut Roentgen berkesimpulan bahwa: radiasi yang
menghasilkan pendaran itu berasal dari bagian tabung yang ditumbuk sinar
katoda. Beberapa kesimpulan hasil penelitian Roentgen tentang radiasi sinar
Roentgen atau sinar X adalah sebagai berikut:

Hampir semua bahan dapat ditembus sinar X. Sinar itu dapat


menembus balok kayu setebal 3 cm, tetapi menjadi cukup lemah setelah
menembus alumunium setebal 1,5 cm. dengan menempatkan tangan di antara
tabung sinar X dan tabir berlapiskan bahan pendar, akan terlihat bayangan tulang
tangan di tabir flouresensi itu.

Sinar X dapat menghitamkan kertas potret.

Sinar X tidak dapat dikumpulkan oleh lensa.

Sinar X ini didapatkan menjalar menurut garis lurus walaupun


melalui medan listrik dan magnetik, tetap dapat menembus bahan

dengan

mudah, menyebabkan bahan fosforesen berkilau dan terjadi perubahan flat


fotografik.

Sinar x dapat menetralkan muatan pada benda bermuatan listrik


positif maupun negative. Ini berarti sinar X dapat menghasilkan muatan listrik
sewaktu melintasi medium.

Sinar X terjadi apabila sinar katode membentur bahan padat


terutama logam.
Spectrum sinar X yang malar, merupakan hasil dari kebalikan efek foto
listrik, dengan energi kinetic electron transformasi menjadi foton berenergi hv.
Spectrum diskritnya, dipihak lain penyebabnya ialah transisi elektronik dalam
atom yang telah diganggu oleh electron yang datang.
Transisi yang menyangkut elektron terluar dari sebuah atom biasanya
hanya menyangkut energi beberapa elektron volt, bahkan melepaskan elektron
terluar hanya memerlukan paling besar 24.6 eV (untuk helium). Transisi ini akan
berhubungan dengan foton yang panjang gelombangnya terletak pada bagian
spektrum elektromagnetik yang terdapat dalam daerah cahaya tampak atau di
dekatnya.
Elektron-elektron dari unsur berat merupakan hal yang berbeda, karena
elektron ini tidak terperisai secara baik dari dari muatan inti penuh dengan kulit
elektron yang terdapat di antaranya, sehingga elektron itu terikat sangat kuat.
Dalam atom natrium, sebagai contoh hanya 5,13 Ev diperlukan untuk
melepaskan elektron 3s yang terluar sedangkan kuantitas yang serupa untuk
elektron dalam ialah 31 Ev untuk masing-masing elektron 2p, 63 Ev untuk
elektron 2s, dan 1.041 Ev untuk elektron 1s. Transisi yang menyangkut elektronelektron pada sebuah atom menimbulkan spektrum sinar x diskrit, karena di sini
tersangkut foton berenergi tinggi.
Gambar di bawah ini menunjukkan tingkat energi dari atom berat yang
diklasifikasikan menurut bilangan kuantum n, perbedaan energi antara keadaan
momentum sudut di dalam kulit kecil dibandingkan dengan antara kulit.

Jika electron berenergi tinggi menumbuk atom dan melepaskan sebuah elektron
kulit K (electron K juga dapat dinaikkan kekeadaan kuantum yang lebih atas
yang tak terisi, tetapi perbedaan energi yang diperlukan untuk hal itu dan
perbedaan energi untuk melepaskan elektron tidak penting, hanya 0,2 persen
untuk natrium dan lebih kecil lagi untuk atom yang lebih berat).
Sebuah atom yang kehilangan elektron K menyerahkan sebagian besar dari
energi eksitasinya dalam bentuk foton sinar x jika sebuah elektron pada kulit
luar jatuh ke dalam lubang dalam kulit K. Seperti ditunjukkan gambar, deret K
dari garis spektrum sinar x dari sebuah unsur ditimbulkan oleh transisi dari
tingkat L, M, N ... ke tingkat K. Demikian juga panjang gelombang besar dari
deret L timbul jika elektron L terlepas dari atom, deret M jika sebuah elektron
M terlepas, dan sebagainya.
Kita mudah mendapatkan hubungan aproksimasi antara frekuensi garis
sinar X K dari suatu unsure dan nomor atomiknya Z. Foton K (x dipancarkan
jika electron L (n = 2) melakukan transisi ke keadaan K yang kosong (n = 1).

Untuk mendapatkan frekuensi foton K dengan mengambil ni = 2 dan nf = 1,


dan mengganti e4 dengan (Z 1)2 e4 , sehingga:

dengan R =
foton sinar X

= 1,097 x 107 m-1 menyatakan konstanta Rydberg. Energi


K diberikan dalam elektron-volt bergantung dari (Z - 1),

menurut rumus E (K) = 10.2 eV x (Z 1)2.

TAMBAHAN

Pada materi ini belum membahas tentang komplektivitas atom dan efek
Shielding. Teori Atom bohr

tidak dapat menjelaskan untuk atom yang

memiliki elektron lebih dari satu (atom berelektron banyak) disebabkan oleh :
a. Struktur atom kompleks
Dikatakan kompleks akibat adanya gaya antara elektron dengan elektron yang
mengitari inti,serta gaya antara elektron dengan inti atom.
b. Adanya Efek Perisai (Shielding)
Elektron orbit luar akan mengalami efek perisai oleh gaya inti dengan elektron
yang ada didalamnya sehingga jumlah muatan inti Ze terkurangi menjadi Ze
akibat interaksi yang melemah. Ze dinamakan Z efektif ( Z eff

yang

besarnya lebih kecil dari Ze awal ( Z eff < Ze . Sehingga perlu pemecahan

Schrodinger.
Untuk kasus Helium (2 elektron dan 1 nukleus Z) aka nada tarik menarik
antara elektron satu dengan inti, elektron kedua dengan inti, serta interaksi
elektron satu dengan elektron kedua. Total Hamiltonian electron adalah
H=ho 1+ ho2 + Ep
Dimana
e2
Ep=
4 0 r 12 yang merupakan gaya tolak antar 2 elektron
2 2
Ze2
ho1=

2 me 1 4 0 r 1

untuk elektron , begitu juga untuk elektron 2

Sedangkan untuk kasus multielektron


n
n
n
2 2
Ze2
ee
H=
1
+
4 0 r1
i=1 2 me
j i> j 4 0 r ij

i=1

i> j

H= h( z , i)+

ee
4 0 r ij

2 2
Ze 2
h
(
z
,
i
)
=

Dimana
2 me 1 4 0 r 1

Sehingga Hamilton total diaproksimasikan menjadi

h' ( z ,i )=

Ze
12
+Vi (ri)
2me
4 0 r1

dengan

i=1,2,4.n

dan

Vi ( ri ) merupakan kontribusielektron lain


Lalu

H ' = h' ( z , i )

H =E

2 2
Ze2
' ( z ,i )
h
=

+Vi ( ri ) maka solusi schrodinger


Untuk
2me 1 4 0 r 1

tiap electron untuk tiap i=1,2,3..n adalah


h1 ( r 1 ) 1 ( r 1 ) =1 1( r 1)
Hamilton total untuk Helium (n=2)
H ' (1,2)= h ' ( z , i )
i

'

H ( 1,2 )=(1 +2 ) 1 2
r
(
i)=Y
(
limi
i i) Rnili (r i )
Solusi akhir
i