You are on page 1of 20

askep hisprung

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan bawaan yang menyebabkan gangguan pergerakan
usus yang dimulai dari spingter ani internal ke arah proksimal dengan panjang yang bervariasi
dan termasuk anus sampai rektum. Penyakit hisprung adalah penyebab obstruksi usus bagian
bawah yang dapat muncul pada semua usia akan tetapi yang paling sering pada neonatus.
Penyakit hisprung juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana tidak terdapatnya sel
ganglion parasimpatis dari pleksus auerbach di kolon, keadaan abnormal tersebutlah yang dapat
menimbulkan tidak adanya peristaltik dan evakuasi usus secara spontan, spingter rektum tidak
dapat berelaksasi, tidak mampu mencegah keluarnya feses secara spontan, kemudian dapat
menyebabkan isi usus terdorong ke bagian segmen yang tidak adalion dan akhirnya feses dapat
terkumpul pada bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal.
Pasien dengan penyakit hisprung pertama kali dilaporkan oleh Frederick Ruysch pada tahun
1691, tetapi yang baru mempublikasikan adalah Harald Hirschsprung yang mendeskripsikan
megakolon kongenital pada tahun 1863.Namun patofisiologi terjadinya penyakit ini tidak
diketahui secara jelas.Hingga tahun 1938, dimana Robertson dan Kernohan menyatakan bahwa
megakolon yang dijumpai pada kelainan ini disebabkan oleh gangguan peristaltik dibagian distal
usus defisiensi ganglion.
2.
1.
2.
3.

Tujuan
Tujuan umum : untuk meningkatkan pengetahuan dan sumber daya manusia (SDM)
Tujuan khusus :
Untuk meningkatkan keterampilan/kemampuan dalam mengerjakan tugas
pengalaman belajar dan mengerjakan tugas atau melalui prilaku pembelajaran yang diikuti.
Manfaat

Kita dapat mengetahui tentang penyakit hisprung dan cara penanganan, gejala, komplikasi dan
sebagainya yang mengenai penyakit tersebut, dan cara atau apa saja yang akan kita lakukan ke
pada pasien dengan menggunakan asuhan keperawatan
BAB II
PEMBAHASAN
1. Konsep dasar penyakit
1.1.Pengertian
Penyakit hisprung atau megakolon aganglionik bawaan disebabkan oleh kelainan inervasi usus,
di mulai dari sfingter ani interna dan meluas ke proximal, melibatkan panjang usus yang
bervariasi.Hisprung adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang paling sering terjadi
pada neonatus, dengan insiden 1:1500 kelahiran hidup.Laki-laki lebih banyak daripada
perempuan 4:1 dan ada insiden keluarga pada penyakit segmen panjang. Hisprung dengan
bawaan lain termasuk sindrom down, sindrom laurance moon-barderbield dan sindrom
wardenburg serta kelainan kardiovaskuler. (Behrman, 1996)
Penyakit hisprung disebabkan oleh tak adanya sel ganglion kongenital dalam pleksus
intramuscural usus besar.Segmen yang terkena bisa sangat pendek. Tampil pada usia muda
dengan konstipasi parah. Enema barium bisa menunjukkan penyempitan segmen dengan dilatasi
colon di proksimal.Biopsi rectum bisa mengkonfirmasi diagnosis, jika jaringan submukosa di
cakup. Terapi simtomatik bisa bermanfaat, tetapi kebanyakan pasien memerlukan pembedahan
(G. Holdstock, 1991)
Penyakit hirschsprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion parasimpatis pada usus,
dapat dari kolon sampai pada usus halus. (Ngastiyah, 1997 : 138).
Penyakit hirschsprung adalah anomali kongenital yang mengakibatkan obstruksi mekanik karena
ketidak adekuatan motilitas sebagian dari usus. (Donna L. Wong, 2003 : 507).
PenyakitHisprung (Hirschprung) adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus (Ariff
Mansjoer, dkk. 2000). Dikenalkan pertama kali oleh Hirschprung tahun 1886. Zuelser dan

Wilson , 1948 mengemukakan bahwa pada dinding usus yang menyempit tidak ditemukan
ganglion

parasimpatis

1.2.Etiologi
a. Mungkin karena adanya kegagalan sel-sel Neural Crest ambrional yang berimigrasi ke dalam
dinding usus atau kegagalan pleksus mencenterikus dan submukoisa untuk berkembang ke arah
kranio kaudal di dalam dinding usus. Disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion para simpatis
dari pleksus Auerbach di kolon. Sebagian besar segmen yang aganglionik mengenai rectum dan
bagian bawah kolon sigmoid dan terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan pada kolon.
(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985 : 1134)
b. Sering terjadi pada anak dengan Down Syndrome.
c. Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi kraniokaudal pada
nyenterik dan submukosa dinding pleksus. (Suriadi, 2001 : 242).
1.3.Manifestasi klinis
a) Kegagalan lewatnya mekonium dalam 24 jam pertama kehidupan.
b) Konstipasi kronik mulai dari bulan pertama kehidupan dengan terlihat tinja seperti pita.
c) Obstruksi usus dalam periode neonatal.
d) Nyeri abdomen dan distensi.
e) Gangguan pertumbuhan.
(Suriadi, 2001 : 242)
a. Obstruk total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evaluai mekonium.
b. Keterlambatan evaluasi mekonium diikuti obstruksi periodic yang membaik secara spontan
c.

maupun dengan edema.


Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan

obstruksi usus akut.


d. Konstruksi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Diare berbau busuk
dapat menjadi satu-satunya gejala.
e. Gejala hanya konstipasi ringan.
(Mansjoer, 2000 : 380)
a. Masa Neonatal :
1. Gagal mengeluarkan mekonium dalam 48 jam setelah lahir.
2. Muntah berisi empedu.

3.
4.
b.
1.
2.
3.
4.
5.

Enggan minum.
Distensi abdomen
Masa bayi dan anak-anak :
Konstipasi
Diare berulang
Tinja seperti pita, berbau busuk
Distensi abdomen
Gagal tumbuh
(Betz, 2002 : 197)

1.4.Klasifikasi
Dua kelompok besar, yaitu :
a. Tipe kolon spastik
Biasanya dipicu oleh makanan, menyebabkan konstipasi berkala (konstipasi periodik) atau diare
disertai nyeri.Kadang konstipasi silih berganti dengan diare.Sering tampak lendir pada
tinjanya.Nyeri bisa berupa serangan nyeri tumpul atau kram, biasanya di perut sebelah
bawah.Perut terasa kembung, mual, sakit kepala, lemas, depresi, kecemasan dan sulit untuk
berkonsentrasi.Buang air besar sering meringankan gejala-gejalanya.
b. Tipe yang kedua menyebabkan diare tanpa rasa nyeri dan konstipasi yang relatif tanpa rasa
nyeri. Diare mulai secara tiba-tiba dan tidak dapat ditahan. Yang khas adalah diare timbul segera
setelah makan. Beberapa penderita mengalami perut kembung dan konstipasi dengan disertai
sedikit nyeri.
Menurut letak segmen aganglionik maka penyakit ini dibagi dalam :
1. Megakolon kongenital segmen pendek
Bila segmen aganglionik meliputi rektum sampai sigmoid (70-80%)
2. Megakolon kongenital segmen panjang
Bila segmen aganglionik lebih tinggi dari sigmoid (20%)
3. Kolon aganglionik total
Bila segmen aganglionik mengenai seluruh kolon (5-11%)
4. Kolon aganglionik universal
Bila segmen aganglionik meliputi seluruh usus sampai pylorus (5%) Colon-rectum
1.5.Patofiologi
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan
tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir

selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan
keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya
evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah
keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada
saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily
& Sowden, 2002:197).
Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan
relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses
terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap
daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S
& Wilson, 1995 : 141 ).
Penyakit Hirschsprung adalah akibat tidak adanya sel ganglion pada dinding usus, meluas ke
proksimal dan berlanjut mulai dari anus sampai panjang yang bervariasi.Tidak adanya inervasi
saraf adalah akibat dari kegagalan perpindahan neuroblast dari usus proksimal ke distal.Segmen
yang agangloinik terbatas pada rektosigmoid pada 75 % penderita, 10% seluruh kolonnya tanpa
sel-sel ganglion. Bertambah banyaknya ujung-ujung saraf pada usus yang aganglionik
menyebabkan kadar asetilkolinesterase tinggi. Secara histologi, tidak di dapatkan pleksus
Meissner dan Auerbach dan ditemukan berkas-berkas saraf yang hipertrofi dengan konsentrasi
asetikolinesterase yang tinggi di antara lapisan-lapisan otot dan pada submukosa.
Pada penyakit ini, bagian kolon dari yang paling distal sampai pada bagian usus yang berbeda
ukuran penampangnya, tidak mempunyai ganglion parasimpatik intramural.Bagian kolon
aganglionik itu tidak dapat mengembang sehingga tetap sempit dan defekasi terganggu. Akibat
gangguan defekasi ini kolon proksimal yang normal akan melebar oleh tinja yang tertimbun,
membentuk megakolon. Pada Morbus Hirschsprung segemen pendek, daerah aganglionik
meliputi rectum sampai sigmoid, ini disebut penyakit Hirschsprung klasik.Penyakit ini terbanyak

(80%) ditemukan pada anak laki-laki, yaitu 5 kali lebih sering daripada anak perempuan.Bila
daerah aganglionik meluas lebih tinggi dari sigmoid disebut Hirschsprung segmen panjang.Bila
aganglionosis mengenai seluruh kolon disebut kolon aganglionik total, dan bila mengenai kolon
dan hamper seluruh usus halus, disebut aganglionosis universal.
1.6.Pathway

MRS

hospitalisasi

Masalah keluarga

tind

infasif

perpisahan

lingkungan baru

kurang informasi

cemas

nyeri dan injuri cemas


cema
s
kurang
pengetahuan
- gangguan
sumber: modifikasi patofisiologi ( Betz,
Cecily&Sowden, 2002 : 196 )
Fungsional

1.7.Tanda dan gejala


setelah bayi lahir
a. Tidak ada pengeluaran mekonium (keterlambatan > 24 jam)
b. Muntah berwarna hijau
c. Distensi abdomen, konstipasi.
d. Diare yang berlebihan yang paling menonjol dengan pengeluaran tinja / pengeluaran gas yang
banyak.
Gejala pada anak yang lebih besar karena gejala tidak jelas pada waktu lahir.
a. Riwayat adanya obstipasi pada waktu lahir
b. Distensi abdomen bertambah
c. Serangan konstipasi dan diare terjadi selang-seling
d. Terganggu tumbang karena sering diare.
e. Feses bentuk cair, butir-butir dan seperti pita.
f. Perut besar dan membuncit
1.8.Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Radiologi
Merupakan pemeriksaan yang penting pada penyakit Hirschsprung.Pada foto polos abdomen
dapat dijumpai gambaran obstruksi usus letak rendah, meski pada bayi sulit untuk membedakan
usus halus dan usus besar. Pemeriksaan yang merupakan standard dalam menegakkan diagnosa
Hirschsprung adalah barium enema, dimana akan dijumpai 3 tanda khas:
a) Tampak daerah penyempitan di bagian rektum ke proksimal yang panjangnya bervariasi.
b) Terdapat daerah transisi, terlihat di proksimal daerah penyempitan ke arah daerah dilatasi.
c) Terdapat daerah pelebaran lumen di proksimal daerah transisi.
Apabila dari foto barium enema tidak terlihat tanda-tanda khas penyakit Hirschsprung, maka
dapat dilanjutkan dengan foto retensi barium, yakni foto setelah 24-48 jam barium dibiarkan
membaur dengan feces. Gambaran khasnya adalah terlihatnya barium yang membaur dengan
feces kearah proksimal kolon.Sedangkan pada penderita yang bukan Hirschsprung namun
disertai dengan obstipasi kronis, maka barium terlihat menggumpal di daerah rektum dan
sigmoid.
b. Manometri anus yaitu pengukuran tekanan sfingter anus dengan cara mengembangkan balon di
dalam rektum

Sebuah balon kecil ditiupkan pada rektum.Ano-rektal manometri mengukur tekanan dari otot
spinchter anal dan seberapa baik seorang dapat merasakan perbedaan sensasi dari rektum yang
penuh. Pada anak-anak yang memiliki penyakit Hirschsprung otot pada rektum tidak relaksasi
secara normal.Selama tes, pasien diminta untuk memeras, santai, dan mendorong. Tekanan otot
spinchter anal diukur selama aktivitas.Saat memeras, seseorang mengencangkan otot spinchter
seperti mencegah sesuatu keluar.Saat mendorong seseorang seolah mencoba seperti pergerakan
usus.Tes ini biasanya berhasil pada anak-anak yang kooperatif dan dewasa.
c. Biopsi rektum menunjukkan tidak adanya ganglion sel-sel saraf.
d. Periksaan aktivitas enzim asetil kolin esterase dari hasil biobsi isap pada penyakit ini khas
e.

terdapat peningkatan, aktifitas enzimasetil kolin esterase ( Darmawan K, 2004 : 17 )


Biopsi isap Yaitu mengambil mukosa dan sub mukosa dengan alat penghisap dan mencari sel

f.

ganglion pada daerah sub mukosa ( Mansjoer,dkk 2000 hal 380 )


Pemeriksaan colok anus, Pada pemeriksaan ini jari akan merasakan jepitan dan kadang disertai
tinja yang menyemprot. Pemeriksaan ini untuk mengetahui bau dari tinja, kotoran yang

menumpuk dan menyumbat pada usus di bagian bawah dan akan terjadi pembusukan.
1.9.Penatalaksanaan
a. Pembedahan
Penatalaksanaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di usus besar untuk
membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal dan juga
fungsi spinkter ani internal.
Ada dua tahapan dalam penatalaksanaan medis yaitu :
a) Temporari ostomy dibuat proksimal terhadap segmen aganglionik untuk melepaskan obstruksi
dan secara normal melemah dan terdilatasinya usus besar untuk mengembalikan ukuran
normalnya.
b) Pembedahan koreksi diselesaikan atau dilakukan lagi biasanya saat berat anak mencapai sekitar
9 Kg (20 pounds) atau sekitar 3 bulan setelah operasi pertama (Betz Cecily & Sowden 2002 : 98)
Ada beberapa prosedur pembedahan yang dilakukan seperti Swenson, Duhamel, Boley & Soave.
Prosedur Soave adalah salah satu prosedur yang paling sering dilakukan terdiri dari penarikan

usus besar yang normal bagian akhir dimana mukosa aganglionik telah diubah (Darmawan K
2004 : 37)
b.

c.

Konservatif
Pada neonatus dengan obstruksi usus dilakukan terapi konservatif melalui pemasangan sonde
lambung serta pipa rektal untuk mengeluarkan mekonium dan udara.
Tindakan bedah sementara
Kolostomi dikerjakan pada pasien neonatus, pasien anak dan dewasa yang terlambat
didiagnosis

dan

pasien

dengan

enterokolitis

berat

dan

keadaan

umum

m e m buruk. Kolostomi dibuat di kolon berganglion normal yang paling distal.


d. Terapi farmakologi
a) Pada kasus stabil, penggunaan laksatif sebagian besar dan juga modifikasi diet dan wujud feses
b)

adalah efektif
Obat kortikosteroid dan obat anti-inflamatori digunakan dalam megakolon toksik. Tidak
memadatkan dan tidak menekan feses menggunakan tuba

1.10. Komplikasi
a. Kebocoran Anastomose
Kebocoran anastomose pasca operasi dapat disebabkan oleh ketegangan yang berlebihan pada
garis anastomose, vaskularisasi yang tidak adekuat pada kedua tepi sayatan ujung usus, infeksi
dan abses sekitar anastomose serta trauma colok dubur atau businasi pasca operasi yang
dikerjakan terlalu dini dan tidak hati-hati.
Manifestasi klinis yang terjadi akibat kebocoran anastomose ini beragam. Kebocoran
anastomosis ringan menimbulkan gejala peningkatan suhu tubuh, terdapat infiltrat atau abses
rongga pelvik, kebocoran berat dapat terjadi demam tinggi, pelvioperitonitis atau peritonitis
umum , sepsis dan kematian. Apabila dijumpai tanda-tanda dini kebocoran, segera dibuat
kolostomi di segmen proksimal.
b. Stenosis
Stenosis yang terjadi pasca operasi dapat disebabkan oleh gangguan penyembuhan luka di daerah
anastomose, infeksi yang menyebabkan terbentuknya jaringan fibrosis, serta prosedur bedah
yang dipergunakan. Stenosis sirkuler biasanya disebabkan komplikasi prosedur Swenson atau

Rehbein, stenosis posterior berbentuk oval akibat prosedur Duhamel sedangkan bila stenosis
memanjang biasanya akibat prosedur Soave.
Manifestasi yang terjadi dapat berupa gangguan defekasi yaitu kecipirit, distensi abdomen,
enterokolitis hingga fistula perianal.Tindakan yang dapat dilakukan bervariasi, tergantung
penyebab stenosis, mulai dari businasi hingga sfinkterektomi posterior.
c. Enterokolitis
Enterocolitis terjadi karena proses peradangan mukosa kolon dan usus halus. Semakin
berkembang penyakit hirschprung maka lumen usus halus makin dipenuhi eksudat fibrin yang
dapat meningkatkan resiko perforasi. Proses ini dapat terjadi pada usus yang aganglionik
maupun ganglionik. Enterokolitis terjadi pada 10-30% pasien penyakit Hirschprung terutama

a)
b)
c)
d)

jika segmen usus yang terkena panjang


Tindakan yang dapat dilakukan pada penderita dengan tanda-tanda enterokolitis adalah :
Segera melakukan resusitasi cairan dan elektrolit.
Pemasangan pipa rektal untuk dekompresi.
Melakukan wash out dengan cairan fisiologis 2-3 kali perhari.
Pemberian antibiotika yang tepat.
Enterokolitis dapat terjadi pada semua prosedur tetapi lebih kecil pada pasien dengan endorektal
pullthrough.Enterokolitis merupakan penyebab kecacatan dan kematian pada megakolon
kongenital, mekanisme timbulnya enterokolitis menurut Swenson adalah karena obtruksi
parsial.Obtruksi usus pasca bedah disebabkan oleh stenosis anastomosis, sfingter ani dan kolon
aganlionik yang tersisa masih spastik.Manifestasi klinis enterokolitis berupa distensi abdomen
diikuti tanda obtruksi seperti muntah hijau atau fekal dan feses keluar eksplosif cair dan berbau
busuk.Enetrokolitis nekrotikan merupakan komplikasi paling parah dapat terjadi nekrosis, infeksi
dan perforasi.Hal yang sulit pada megakolon kongenital adalah terdapatnya gangguan defekasi
pasca pullthrough, kadang ahli bedah dihadapkan pada konstipasi persisten dan enterokolitis
berulang pasca bedah.

d. Gangguan Fungsi Sfinkter

Hingga saat ini, belum ada suatu parameter atau skala yang diterima universal untuk menilai
fungsi anorektal ini.Fecal soiling atau kecipirit merupakan parameter yang sering dipakai
peneliti terdahulu untuk menilai fungsi anorektal pasca operasi, meskipun secara teoritis hal
tersebut tidaklah sama. Kecipirit adalah suatu keadaan keluarnya feces lewat anus tanpa dapat
dikendalikan oleh penderita, keluarnya sedikit-sedikit dan sering.
e. Inkontensitas (jangka panjang).
2. Konsep dasar asuhan keperawatan
2.1 Pengkajian
2.1.1 biodata
Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan tunggal.
Jarang pada bayi prematur atau bersamaan dengan kelainan bawaan lain. Pada segmen
aganglionosis dari anus sampai sigmoid lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan
anak perempuan. Sedangkan kelainan yang melebihi sigmoid bahkan seluruh kolon atau usus
halus ditemukan sama banyak pada anak laki-laki dan perempuan (Ngastiyah, 1997).
2.1.2 Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama.
Obstipasi merupakan tanda utama dan pada bayi baru lahir.Trias yang sering ditemukan adalah
mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam setelah lahir), perut kembung dan muntah
berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan diare.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Merupakan kelainan bawaan yaitu obstruksi usus fungsional. Obstruksi total saat lahir dengan
muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evakuasi mekonium. Bayi sering mengalami konstipasi,
muntah dan dehidrasi.Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang
diikuti dengan obstruksi usus akut. Namun ada juga yang konstipasi ringan, enterokolitis dengan
diare, distensi abdomen, dan demam.Diare berbau busuk dapat terjadi.
c. Riwayat penyakit dahulu.
Apakah sebelumnya klien pernah melakukan operasi, riwayat kehamilan, persalinan dan
kelahiran, riwayat alergi, imunisasi.
Tidak ada penyakit terdahulu yang mempengaruhi terjadinya penyakit Hirschsprung.
d. Riwayat kesehatan keluarga.

Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain yang menderita Hirschsprung.
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada anaknya.
2.1.3 Pemeriksaan fisik.
a. Sistem integument
Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat dilihat capilary refil, warna
kulit, edema kulit.
b. Sistem respirasi
Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan
c. Sistem kardiovaskuler
Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut nadi apikal, frekuensi
denyut nadi / apikal.
d. Sistem penglihatan
Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata
e. Sistem Gastrointestinal
Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising usus, adanya kembung pada
abdomen, adanya distensi abdomen, muntah (frekuensi dan karakteristik muntah) adanya keram,
tendernes.
2.1.4 Pemeriksaan diagnostik dan hasil.
a. Foto polos abdomen tegak akan terlihat usus-usus melebar atau terdapat gambaran obstruksi
b.

usus rendah.
Pemeriksaan dengan barium enema ditemukan daerah transisi, gambaran kontraksi usus yang
tidak teratur di bagian menyempit, enterokolitis pada segmen yang melebar dan terdapat retensi

barium setelah 24-48 jam.


c. Biopsi isap, mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa.
d. Biopsi otot rektum, yaitu pengambilan lapisan otot rektum.
e. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin esterase dimana terdapat peningkatan aktivitas enzim
2.1.5
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

asetilkolin eseterase.
Analisa data
DS :
Biasanya ibu klien mengatakan anaknya dengan Perut kembung
Ibu klien biasanya mengatakan Muntah berwarna hijau
Ortu klien biasanya mengatakan Diare
Ibu klien biasanya mengeluh anaknya Demam
Ibu klien biasanya mengeluh anaknya Sesak nafas
Ibu klien biasanya mengeluh anaknya Tidak nyaman
Ortu klien biasanya mengeluh anaknya Nyeri saat di pegang

DO :
a. Klien biasanya tampak Obstipasi
b. Biasanya Tampak Mekonium yang lambat keluar
c. Biasanya ada Obstruksi usus yang fungsional
d. Biasanya tampak Distensi abdomen
e. Biasanya klien Konstipasi selama beberapa minggu/ bulan
f. Biasanya tampak Obstruksi usus akut
g. Klien biasanya tampak Distress pernafasan
h. Biasanya Akral hangat
2.2 Diagnose keperawatan
Pre operasi
no
symtom
1 DS :
Biasanya ibu klien
mengatakan anaknya
dengan Perut kembung
Ortu klien biasanya
mengeluh
anaknya
Nyeri saat di pegang
DO :
Klien
biasanya
tampak Obstipasi
Biasanya Tampak
Mekonium
yang
lambat keluar
Biasanya tampak ada
Distensi abdomen
Biasanya
klien
Konstipasi
selama
beberapa
minggu/
bulan

DS :
Ibu klien biasanya
mengatakan Muntah
berwarna hijau
Ortu klien biasanya
mengatakan Diare
DO :
Klien
biasanya

etiologi
Spinter rectum tdk
dpt relaksasi

problem
Konstipasi

Feses tdk mampu


melewati spinkter ani

Akumuulasi benda
padat, gas, cair

Obstruksi di kolon

Pelebaran kolon
Peristaltic abnormal

Peristaltic tdk
sempurna

Gangguan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

tampak Obstipasi
Biasanya
ada
Obstruksi usus yang
fungsional
Biasanya tampak
Obstruksi usus akut

Obstruksi parsial

Refluk peristaltic

DS :
Ibu klien biasanya
mengeluh
anaknya
Demam
Ibu klien biasanya
mengeluh
anaknya
Sesak nafas
Ibu klien biasanya
mengeluh
anaknya
Tidak nyaman
Ortu klien biasanya
mengeluh
anaknya
Nyeri saat di pegang
DO :
Klien
biasanya
tampak
Distress
pernafasan
Biasanya
Akral
hangat

Perasaan penuh
Usus spasis dan daya
dorong tdk ada

Gangguan rasa
nyaman

Obstipasi

Distensi abdomen

Post operasi
no

Symptom
DS :
Biasanya ibu klien
mengatakan anaknya
dengan Perut kembung
Ortu klien biasanya
mengeluh anaknya
Nyeri saat di pegang
DO :
Biasanya tampak

Etiologi
Usus spastic dan daya
dorong tidak ada

Obstipasi, tidak ada


meconium

Problem
Nyeri

Distensi abdomen
Biasanya tampak
Obstruksi usus akut

DS :
Biasanya ortu klien
mengatakan
bahwa
mereka tidak tau apaapa tentang penyakit
anaknya
DO :
Ortu klien tampak
bertanya tentang apa
yang
petugas
kesehatan lakukan

Distensi abdomen
hebat
Mual, muntah

Kurang
pengetahuan

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Pembedahan

1.

Rumusan diagnose :
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Peristaltic abnormal, Peristaltic tdk
sempurna, Obstruksi parsial, Refluk peristaltic, Perasaan penuh d.d Muntah berwarna hijau,

2.

Diare, Obstruksi usus akut, Obstipasi, Obstruksi usus yang fungsional


Konstipasi b.d Spinter rectum tdk dpt relaksasi, Feses tdk mampu melewati spinkter ani,
Akumuulasi benda padat, gas, cair, Obstruksi di kolon, Pelebaran kolon d.d Perut kembung,
Nyeri, Obstipasi, Mekonium yang lambat keluar, Distensi abdomen, Konstipasi selama beberapa

minggu/ bulan
3. Gangguan rasa nyaman b.d usus spasis dan daya dorong tdk ada, obstipasi, distensi abdomen,
d.d Sesak nafas, Tidak nyaman, Nyeri, Demam, Distress pernafasan, Akral hangat
4. Nyeri b.d usus spastic dan daya dorong tidak ada, obstipasi, tidak ada meconium, distensi
abdomen hebat d.d Biasanya ibu klien mengatakan anaknya dengan Perut kembung, Ortu klien
biasanya mengeluh anaknya Nyeri saat di pegang, Biasanya tampak Distensi abdomen, Biasanya
tampak Obstruksi usus akut

5. Kurang pengetahuan b.d mual, muntah, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, pembedahan, d.d
Biasanya ortu klien mengatakan bahwa mereka tidak tau apa-apa tentang penyakit anaknya, Ortu
klien tampak bertanya tentang apa yang petugas kesehatan lakukan
2.3 Intervensi keperawatan
Pre operasi
1. Konstipasi b.d Spinter rectum tdk dpt relaksasi, Feses tdk mampu melewati spinkter ani,
Akumuulasi benda padat, gas, cair, Obstruksi di kolon, Pelebaran kolon d.d Perut kembung,
Nyeri, Obstipasi, Mekonium yang lambat keluar, Distensi abdomen, Konstipasi selama beberapa
minggu/ bulan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3X24 jam anak dapat melakukan
eliminasi dengan beberapa adaptasi sampai fungsi eliminasi secara normal dan bisa dilakukan
Keiteria Hasil
a) Mual dan muntah berkurang
b) Defekasi lancer
c) Tidak memuntahkan ASI dan formula yg diberikan
Intervensi
Berikan bantuan enema dengan cairan
fisiologis NaCl 0,9%
Observasi tanda-tanda vital dan bising
usus setiap 2jam sekali
Observasi pengeluaran feces perrectal-bentuk, konsistensi, jumlah
Observasi intake yang mempengaruhi
pola dan konsistensi feses

2.

Rasional
Untuk mengosongkan usus
Untuk mengetahui adanya
tanda-tanda syok
Untuk mengetahui pengeluaran
feses dari bentuk, konsistensi,
dan jumlah
Untuk mengetahui intake yang
mempengaruhi
pola
dan
konsistensi feses
Respon pengobatan

Anjurkan untuk menjalani diet yang


telah dianjurkan
Kolaborasi dengan dokter tentang
Untuk melanjutkan pengobatan
rencanan pembedahan
selanjutnya
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Peristaltic abnormal, Peristaltic tdk
sempurna, Obstruksi parsial, Refluk peristaltic, Perasaan penuh d.d Muntah berwarna hijau,
Diare, Obstruksi usus akut, Obstipasi, Obstruksi usus yang fungsional
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3X24 jam diharapkan pasien menerima
asupan nutrisi yang cukup
Kriterian Hasil

a) BB seimbang 3,25
b) Tidak memuntahkan ASI dan formula yang diberikan
Intervensi
Rasional
berikan asupan nutrisi yang Untuk meningkatkan asupan makanan
cukup sesuai dengan diet yang
dianjurkan
ukur BB anak tiap hari
Untuk mengetahui peningkatan dan
penurunan BB
gunakan sute alternatif (NGT Nutrisi parenteral dibutuhkan jika
dan parenteral)
kebutuhan per oral yang sangat kurang
dan untuk mengantisipasi pasien yang
sudah mulai merasa mual dan muntah
3. Gangguan rasa nyaman b.d usus spasis dan daya dorong tdk ada, obstipasi, distensi abdomen,
d.d Sesak nafas, Tidak nyaman, Nyeri, Demam, Distress pernafasan, Akral hangat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3X24 jam diharapkan kebutuhan rasa
nyaman terpenuhi
Kriteria Hasil
Tenang, tidak menangis, tidak mengalami gangguan pola tidur
Intervensi
sarankan orang tua hadir
selama prosedur
berikan tindakan kenyamanan
sesuai usia
kaji terhadap tanda nyeri
ciptakan lingkungan yang
mendukung dan penuh kasih
berikan analgesik sesuai

Rasional
Untuk kenyamanan anak
Untuk menyediakan manajemen nyeri
nonpharmacological
untuk mrngetahui tingkat nyeri dan
menentukan langkah selanjutnya
Terapi menggabungkan budaya klien
dan usia dan faktor perkembangan
Mengurangi nyeri

Post operasi
1. Nyeri b/d insisi pembedahan
Tujuan :Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria tenang, tidak menangis, tidak
mengalami gangguan pola tidur
intervensi
Observasi dan monitoring
tanda skala nyeri
Lakukan teknik pengurangan
nyeri seperti teknik pijat
punggung dansentuhan
Kolaborasi dalam pemberian

Rasional
Mengetahui
tingkat
nyeri
dan
menentukan langkah selanjutnya
Upaya
dengan
distraksi
dapat
mengurangi rasa nyeri
Mengurangi persepsi terhadap nyeri

analgetik
dimungkinkan

apabila yamg kerjanya pada sistem saraf pusat

2. Kurang pengetahuan (ibu) b.d kurangnya informasi yang didapat


Tujuan Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 124 jam diharapkan pengetahuan ibu
tentang penyakit anaknya bertambah
Kriteria Hasil
1. ibu mengungkapkan suatu pemahaman yang baik tentang proses penyakit ananknya
2. ibu memahami terapi yang diprogramkan tim dokter
Intervensi
1. jelaskan pada ibu tantang
penyakit yang di derita
anaknya
2.
berikan
ibu
jadwal
pemeriksaan diagnostik
3. berikan informasi tentang
rencana operasi
4. berikan penjelasan pada ibu
tentang perawatan setelah
operasi

Untuk
anaknya

Rasional
mengetahui perkembangan

Mengurangi kecemasan
Mengurangi resiko terjadinya infeksi
Untuk meningkatkan pengetahuan ibu

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dalam makalah ini, kami dapat menyimpulkan bahwa Penyakit hisprung merupakan penyakit
yang sering menimbulkan masalah.Baik masalah fisik, psikologis maupun psikososial.Masalah
pertumbuhan dan perkembangan anak dengan penyakit hisprung yaitu terletak pada kebiasaan
buang air besar. Orang tua yang mengusahakan agar anaknya bisa buang air besar dengan cara
yang awam akan menimbulkan masalah baru bagi bayi/anak. Penatalaksanaan yang benar
mengenai penyakit hisprung harus difahami dengan benar oleh seluruh pihak.Baik tenaga medis
maupun keluarga. Untuk tecapainya tujuan yang diharapkan perlu terjalin hubungan kerja sama
yang baik antara pasien, keluarga, dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya dalam
mengantisipasi kemungkinan yang terjadi

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Sowden, 2002, Keperawatan Pediatric Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa : Brahm U Pendit. Jakarta : EGC.
Hidayat, A A. (2008), pengantar konsep dasar keperawatan. Edisi ke-2, salemba medika: Jakarta
Mansjoer , Arif . 2000 .Kapita Selekta Kedokteran .Edisi Ke-3 .Jakarta : Media Aesulapius FKUI
Marliyn E. Doengoes, Dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3
Nanda, 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classification 2012-2014
Ngastiyah.

(2005).

Perawatan

anak

sakit

edisi

ke-2

EGC:

Jakarta