You are on page 1of 4

ANAK PERDAMAIAN

( Don Richardson )

Laporan Bacaan
Diajukan Kepada
..
Untuk Memenuhi Standar Kelulusan Dalam Mata Kuliah
..

Oleh
Haurim Haubenu
Nim:

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI LINTAS BUDAYA BAHTERA MISI


BATAM

Didalam buku yang saya baca ini saya melihat ada keyakinan atau iman yang
begitu besar dari si penulis bahwa penginjilan yang mereka lakukan, bahwa Yesus akan
senantiasa menyertai mereka dan Tuhan tidak akan meninggalkan mereka (Matius 18-20)
dan hal ini juga yang menjadi spirit mereka untuk tetap teguh dan setia melaksanakan
penginjilan meskipun sekalipun bahaya-bahaya akan datang kapan saja untuk menghambat
pekerjaan Tuhan yang mereka lakukan dan membahayakan keselamatan mereka.
Namun semangat perjuangan yang dilakukan oleh Don & Carol Richardson dalam
melakukan penginjilan yang mereka lakukan sampai memenangkan jiwa-jiwa orang sawi
sepenuhnya untuk Kristus, menjadi inspirasi dan semangat bagi saya untuk turut serta juga
melakukan penginjilan bagi suku-suku yang terasingkan khususnya di Indonesia yang
belum mengenal kabar keselamatan dari Yesus Kristus supaya tiap-tiap orang dari
mereka juga mengenal Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dan Tuhan mereka
juga. Suku Sawi adalah salah satu suku yang tertinggal di pulau Papua. Suku Sawi terbagi
menjadi dua bagian yaitu: bagian utara dan bagian selatan.
Don Richardson melakukan pelayanannya pada suku Sawi bagian Selatan. Sebelum
Don Richardson masuk ke suku Sawi, mereka memelihara budaya secara turun temurun.
Kehidupan Suku Sawi sangat dipengaruhi oleh budaya nenek moyang mereka, hal ini
Nampak dalam budaya mereka antara lain: budaya Pangayauan dan Kanibalisme, budaya
Penghianatan, budaya Aumaway. Dengan demikian Suku Sawi, salah satu suku yang
memiliki budaya yang merupakan gabungan antara kanibalisme dan pengayauan. Itu
Sangatlah berbahaya Tidak hanya penduduknya yang menakutkan akan tetapi termasuk
juga wilayah yang didiami suku Sawi juga merupakan tempat yang menakutkan. Budaya
Pangayau sering kali dihubungkan dengan simbol keberanian dan kejantanan. Kepala-

kepala yang telah dipenggal direbus dan dikeringkan, seringkali bergantungan di rumah
dan sering dipakai sebagai bantal kepala.
Dan ada pula Budaya pemujaan penghianatan, ini berujung pada maut dan yang lebih
mengerikan lagi mereka juga memakan daging musuh mereka yang dikalahkan. Dampak
nya dari budaya penghianatan ini telah menyebabkan suku Sawi menjadi kanibal. Menurut
kepercayaan mereka yang telah diwarisi secara turun temurun, makan daging manusia
(kanibal) merupakan salah satu ambang pintu utama yang harus mereka lewati untuk
mengenal hakekat tertinggi dari kehidupan Sawi. Mereka memiliki pemahaman bahwa
ketika seseorang makan daging manusia, tampaknya seolah-olah matanya terbuka untuk
mengerti kebaikan dan kejahatan.
Budaya ini tidak akan pernah habis karena disebabkan oleh rasa dendam yang terus
membara untuk membalas kematian anggota kelompoknya. Dan dendam itu tidak pernah
mereka lupakan, bagi mereka membalas dendam itu pasti terlaksana, hanya menunggu
waktu saja. Dan lebih tidak masuk akal lagi adalah strategi yang mereka gunakan adalah
jebakan musuh dalam selimut, seperti teman tetapi teman yang akan membawa maut.
Di dalam menyusun strategi penghianatan itu tidak pandang bulu sanak keluarga pun dapat
dimanfaatkan untuk melakukan penghianatan itu. Hal ini membuat kehidupan suku sawi
tidak pernah tenang dan selalu was-was karena ancaman dari kelompok lain akan muncul
setiap saat

Dalam pembacaan ini ada banyak hal yang dapat dipelajari mengenai bagaimana
mendekati orang-orang yang ada disuku Sawi dengan demikian strategi yang digunakan
Don Richarson dalam menjangkau suku Sawi yang masih hidup terisolasi dan menganut
budaya nenek moyang mereka tidak terlepas dari peran Allah. Allah telah merancang

analogi anak perdamaian sebagai jembatan supaya orang-orang Sawi dapat memahami
kasih-Nya. Terlepas dari itu, faktor bahasa dan budaya juga memegang peran penting. Don
Richardson dapat menjangkau suku Sawi tidak terlepas dari usahanya untuk memahami
bahasa suku Sawi, supaya dapat berkomunikasi dengan mereka. Dengan menguasai bahasa
mereka akan memudahkan untuk mengenal budaya mereka. Dengan memahami bahasa
dan budaya mereka itu dapat memudahkan Don untuk mengabarkan Injil bagi mereka.