You are on page 1of 22

http://arifalmaydhani.blogspot.com/2012/12/ayat-ayat-tentang-zakat-dan-infaq.

html
Rabu, 19 Desember 2012

AYAT AYAT TENTANG ZAKAT DAN INFAQ


Pendahuluan :
Zakat merupakan salah satu sendi pokok ajaran Islam. Bahkan Al-Qur'an menjadikan zakat
dan shalat sebagai lambing dari keseluruhan ajaran Islam : Apabila mereka, kaum musyrik,
bertobat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara seagama
(QS 9:11)
Zakat merupakan salah satu ketetapan Tuhan yang menyangkut harta, bahkan shadaqah
dan infaq pun demikian. Karena Allah menjadikan harta benda sebagai sarana kehidupan untuk
umat manusia seluruhnya, maka ia harus diarahkan guna kepentingan bersama. Manausia yang
notabene berasal dari satu keturunan yaitu bapa Adam dan Ibu Hawa, memiliki pertalian darah
antara satu dengan yang lainnya, dekat maupun jauh. [1]
Perlu kita sadari bahwa hubungan persaudaraan tak hanya menuntut sekedar take
and give (mengambil dan menerima) atau useful change (pertukaran manfaat), akan tetapi lebih dari
itu yaitu memberi tanpa menanti sebuah imbalan, atau membantu tanpa dimintai bantuan. Apalagi
jika mereka bersama hidup dalam satu lokasi.
Islam menyeru manusia untuk menginfaqkan sebagian harta dan bermurah hati serta
dermawan. Sejatinya harta yang ada di tangan mukmin merupakan sarana untuk mendapatkan ridla
Allah, bukan merupakan life's goal (tujuan hidup), sehingga dia bersemangat mencari dan
menumpuknya, lalu dia gunakan untuk mengumbar kesenangan dan kepuasan syahwat.
Dalam makalah ini, saya ingin mengupas ayat-ayat tentang zakat dan infaq yakni: alTaubah: 60 dan 103; al-An'am: 141 dan al-Baqarah: 267 dan 271.
Pengertian Zakat dan Infaq
Zakat adalah salah satu ibadah pokok dan termasuk salah satu rukun Islam. Secara arti
kata zakat yang berasal dari bahasa Arab dari akar kata zaka mengandung beberapa arti seperti
membersihkan, bertumbuh dan berkah. Yang sering terjadi dan banyak ditemukan dalam al-Qur'an
dengan arti membersihkan. Seperti dalam surat al-Nur: 21 : "dan tetapi Allah membersihkan siapa
yang dikehendakinya, dan Allah Maha Mendengar dan Mengetahui."
Digunakan kata zaka dengan arti "membersihkan" itu untuk ibadah pokok yang rukun Islam itu,
karena memang zakat itu di antara hikmahnya adalah untuk membersihkan jiwa dan harta orang
yang berzakat. Dalam terminology hokum syara', zakat diartikan : "pemberian tertentu dari harta
tertentu kepada orang tertentu menurut syarat-syarat yang ditentukan."
Zakat itu ada dua macam. Pertama zakat mal (zakat harta) dan kedua zakat diri yang
dikeluarkan setiap akhir Ramadlan yang disebut juga zakat fitrah.[2]

Infaq : kata infaq berasala dari akar kata nafaqa-yanfuqu-nafaqan-nifaqan, yang artinya
"berlalu", "habis", "laris", "ramai". Kalimat nafaqa asy-syai'u artinya sesuatu itu habis, baik habis
karena dijual, mati, atau karena dibelanjakan. Kalimat nafaqa al-bai'u nafaqanartinya dagangan itu
habis karena laris terjual. Infaq yang berarti "menghabiskan" atau "membelanjakan" dapat
berkenaan dengan harta atau lainnya, dan status hukumnya bisa wajib dan bisa sunat. [3]
Hukum dan Dasar Hukum Zakat
Hokum zakat adalah wajib 'aini dalam arti kewajiban yang ditetapkan untuk diri pribadi dan
tidak mungkin dibebankan kepada orang lain. Juga disebutkan dalam kitab fiqih madzahibul arba'ah
yaitu zakat merupakan salah satu rukun Islam dan hukumnya fardlu 'ain bagi orang yang sudah
sempurna syarat-syaratnya. Hokum wajib ini ditetapkan sejak tahun kedua dari hijrahnya Nabi
Muhammad saw.[4] Kewajiban zakat itu dapat dilihat dari beberapa segi :
Pertama : banayak sekali perintah Alah untuk membayarkan zakat dan hamper keseluruhan
perintah berzakat itu dirangkaikan dengan perintah mendirikan shalat seperti firman Allah
dalam surat al-Baqarah: 43
"Dan dirikanlah shalat dan bayarkanlah zakat dan ruku'lah kamu beserta orang-orang yang
ruku'."(QS. Al-Baqarah: 43).
Perintah Allah untuk berzakat itu disamping menggunakan lafadz zaka juga menggunakan kata lain,
yaitu :
a.

lafadz anfaqa seperti dalam sural al-Baqarah: 267

b.

lafadz shadaqa seperti dalam surat al-Taubah: 60

c.

lafadz atu haqqahu seperti dalam surat al-An'am: 141


ketiga lafadz tersebut di atas mengandung arti zakat.
Kedua : dari segi banyak pujian dan janji baik yang diberikan Allah kepada orang yang berzakat, di
antaranya seeperti dalam surat al-Mukminun ayat 1 -4 :
"sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman; (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam
shalatnya; dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak
berguna; dan orang-orang yang menunaikan zakat."
Ketiga : dari segi banyaknya ancaman dan celaan Allah kepada orang yang tidak mau membayar
zakat di antaranya seperti dalam surat Fussilat ayat 6-7:[5]
"celakalah orang-orang yangmusyrik; yaitu orang-orang yang tidak mau membayar zakat." (QS.
Fussilat: 6-7).
QS. At-Taubah: 60
Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orag fakir, orang-orang miskin, para pengurus
zakat, paramu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang
berhutang, untuk jalan Allah orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan
yang diwajibkan Allah; dan Allahmaha mengetahui lagi maha bijaksana. [6](QS. Al-Taubah: 60)
Penafsiran Kata :
As-Sadaqah : ialah zakat yang diwajibkan atas uang, binatang ternak, tanaman, dan perniagaan.

Al-Faqir : orang yang mempunyai harta sedikit, tidak mencapai nishab (kurang dari 12 pound).
Al-Miskin : orang tidak punya, sehingga dia perlu meminta-minta sandang dan pangannya.
Al-Amil 'alaiha : orang yang diserahi tugas oleh sultan atau wakilnya untuk mengumpulkan zakat dari
orang-orang kaya.
Al-Mu'allafatu qulubuhum : orang-orang yang dikehendaki agar hatinya cenderung atau tetap
kepada Islam.
Fir-Riqab : untuk berinfaq dalam menolong budak-bidak, guna membebaskan mereka dari
perbudakan.
Al-Gharimin : orang-orang yang mempunyai hutang dan tidak sanggup membayarnya.
Fi Sabilillah : di jalan untuk mencapai keridaan dan pahala Allah. Yang dimaksud ialah: setiap orang
yang berjalan di dalam ketaatan kepada Allah dan di jalan kebaikan, seperti orang-orang yang
berperang, jama'ah haji yang terputus perjalanannya, dan mereka tidak mempunyai sumber harta
lagi, dan para penuntut ilmu yang faqir.
Ibnus-Sabil : musafir yang jauh dari negerinya dan sulit baginya untuk mendatangkan sebagian dari
hartanya, sedangkan dia kaya di negerinya tetapi faqir di dalam perjalanan.
Faridlatun minallah : Allah mewajibkan hal itu secara mutlaq, tanpa seorang pun yang ikut serta
dalam mewajibkannya.
Penjelasan :
Penggunaan Zakat
Ada delapan macam orang yang berhak diberi zakat, yaitu :
1.

Faqir

2.

Miskin : keadaan mereka lebih buruk daripada orang-orang faqir, sebagaimana firman Allah : "Atau
orang miskin yang sangat fakir." (Al-Balad, 90: 60). Yakni, orang meletakan kulitnya ke tanah dalam
sebuah lubang untuk menutupi tubuhnya sebagai penganti kain, dan perutnya diganjalkan ke tanah
pula karena sangat laparnya. Keadaan ini merupakan puncak bahaya dan kesusahan.

3.

Amil : mereka adalah orang-orang yang diutus oleh sultan untuk memungut dan memelihara zakat.

4.

Mu'allaf : mereka adalah kaum yang dikehendaki, agar hatinya cenderung atau tetap kepada Islam,
menghentikan kejahatannya terhadap kaum muslimin, atau diharapkan memberi manfaat dalam
melindungi kaum muslimin atau menolong mereka terhadap musuh. Mereka terbagi ke dalam tiga
golongan (lihat tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Mustofa Al-Maraghi, h. 243).

5.

Hamba sahaya : Ahmad dan Bukhari meriwayatkan dari Barra' bin 'Azib : telah seorang lelaki
kepada Rasulullah saw. Dia berkata, "Tunjukkan kepada saya, perbuatan apakah yang dapat
mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan saya dari neraka." Beliau bersabda, "Merdekakan
('itqun) budak dan bebaskan (fakkun) budak." Dia bertanya, "Bukankah keduanya sama?" Beliau
menjawab, "Tidak : memerdekakan budak berarti kamu sendiri memerdekakannya, sedangkan
membebaskan budak berarti kamu membantu harganya untuk dia memerdekakan dirinya."

6.

Gharim : orang-orang yang mempunyai hutang yang menjerat lehernya, dan tidak mampu
membayarnya.

7.

Sabilillah : Jalan Allah adalah jalan yang menuju keridlaan dan pahala-Nya. Yang dimaksud ialah
orang-orang yang berperang dan mempersapkan dirinya untuk berjihad. Diriwayatkan dari Imam
Ahmad, bahwa dia menjadikan perjalanan ibadah haji termasuk jalan allah. Termasuk dalam hal ini
ialah seluruh kebaikan, seperti mengkafani orang mati, membangun jembatan dan benteng,
memakmurkan masjid dan lain sebagainya.

8.

Ibnus Sabil : orang yang jauh dari negerinya dalam suatu perjalanan, dan sulit baginya untuk
memperoleh sebagian hartanya jika dia mempunyai harta. Dia kaya di negerinya, tetapi faqir di
perjalanannya. Maka, karena kekafirannya yang baru muncul itu, dia diberi sedekah sekedar dapat
menolong dia untuk kembali kenegerinya.[7]

Sabab Nuzul :
QS. At-Taubah: 103
"Ambillah zakat dari sebagiam harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka, dan mendoakan untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi
ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."(QS. Al-Taubah:
103)
Penafsiran kata :
As-Sadaqah : apa yang dinafkahkan oleh orang mukmin dengan maksudmendekatkan diri kepada
Allah.
At-Tazkiyah : adalah dari kata rajulun zakiy, artinya orang yang kebaikan dan keutamaannya lebih.
Kata-kata ini terdapat dalam Al-Asas.
As-Sakan : sesuatu yang jiwa merasa tenteram dan sengan kepadanya. Yaitu, keluarga, harta,
kesenangan, doa dan pujian.
As-Shalah : Do'a.[8]
Penjelasan :
Ambillah Sedekah Untuk Mensucikan dan Membersihkan Mereka.
Ambillah hai Rasul dari harta yang diserahkan oleh orang-orang yang tidak ikut perang itu. Juga dari
harta orang mukmin lainnya, dari berbagai jenis harta, berupa emas, perak, binatang ternak atau
harta dagangan, sebagai sedekah dengan ukuran tertentu dalam zakat fardlu, atau ukuran tidak
tertentu dalam zakat sunnah, yang dengan sedekah itu kamu membersihkan mereka dari kotoran
kebakhilan, tamak, dan sifat yang kasar terhadap orang-orang kafir yang sengsara. Dengan
sedekah itu pula, kamu mensucikan jiwa mereka dan mengangkat jiwa mereka ke derajat orangorang yang baik dengan melakukan kebajikan, sehinga mereka patut mendapatkan kebahagiaan
dunia dan akhirat.

Di dalam firman Allah, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka." (al-Taubah: 103). Setiap orang merdeka yang memiliki
harta dengan sepenuhnya, ada zakat di dalamnya. [9]
Sabab nuzul :
Ibnu Jarir meriwayatkan, bahwa Abu Lubabah dan kawan-kawannya yang tidak ikut
berperang, lalu bertaubat, mereka dating kepada Rasulullah saw. Ketika dibebaskan, lalu berkata :
"Ya Rasulullah, inilah harta kami, sedekahkanlah dari kami dan mohonkanlah ampun untuk kami".
Maka Rasul menjawab : "Saya tidak diperintah untuk mengambil sedikit pun dari harta kalian." Oleh
karena itu Allah menurunkan ayat di atas. Maka, setelah turun ayat ini, Rasulullah mengambil
sepertiga dari harta mereka, lalu beliau sedekahkan dari mereaka.
Sekalipun sebab turunnya ayat ini bersifat khusus, namun nash tentang pengambilan harta
pada ayat ini bersifat umum, mencakup para khalifah rasul setelah wafat Beliau, dan para pemimpin
kaum muslimin setelah wafatnya para khalifah. Juga mencakup secara umum tentang orang-orang
yang diambil hartanya, yaitu kaum muslimin yang kaya.[10]

Faidah Sedekah Dalam Membangun Masyarakat Islam


Sedekah dapat mengikis sifat-sifat kikir, kotoran-kotoran kebatilan, egois, tamak, dan rakus
dalam jiwa seseorang, bahkan dapat menghindarkan mereka dari memakan harta orang lain secara
batil baik lewat pengkhianatan, pencurian, perampasan, korupsi, riba atau cara lainnya yang tidak
dibenarkan oleh syara'. Dan apabila masyarakat telah bersih dan suci berkat ilmu dan taqwa yang
merupakan buah keimanan, maka akan bersih pula jama'ah kaum muslimin dari kotoran-kotoran
kerendahan social yaitu kotoran yang bisa mengundang kedengkian, pelanggaran hak-hak orang
lain, penganiayaan, permusuhan, fitnah, serta peperangan. Oleh karena harta telah menjadi life's
balance (keseimbangan kehidupan), baik indifidu maupun masyarakat, maka harta pun bisa memicu
perebutan dan pertengkaran. Dan itulah sebabnya agama mewajibkan kepada para pemilik harta
supaya menafkahkan dan mengeluarkan sedekah sehingga kekayaan mampu menjadi medium of
peace (sarana perdamaian), bukan lagi menjadi ajang pertengkaran.
QS. Al-An'am: 141
Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan tidak berjunjung, pohon korma,
tanaman-tanaman yang bermacam-macam, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya)
dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah,
dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada faqir miskin), dan
janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan. (QS.
Al-An'am: 141).[11]
Penafsiran kata :

Al-Insya' : mengadakan makhluk hidup dan mengasuhnya. Juga mengadakan segala sesuatu yang
menjadi sempurna secara berangsur-angsur. Seperti mengadakan awan, perkampungan, dan
rambut.
Al-Jannat : taman-taman dan kebun anggur yang lebat pohonnya, karena kebun seperti itu menutupi
tanah di bawahnya dan membuatnya tidak kelihatan.
Al-Ma'rusyat : tanaman-tanaman yang dicagak pada tiang-tiang penyangga. Yaitu junjunganunjungan yang dibuat dari kayu dan bambu, yang di atasnya diletakkan batang tanaman-tanaman
itu hingga seperti atap rumah.
Gairul Ma'rusyat : tanaman yang batangnya tidak diletakkkan di atas junjungan. Maksudnya, bahwa
kebun itu ada dua macam. Yaitu kebun-kebun yang memakai junjungan-junjungan, seperti pohon
anggur dan kebun yang tidak memakai junjungan, kebun-kebun yang berisi bermacam-macam
pohon yang batangnya tumbuh lurus, tidak merambat ke pohion lainnya.
Al-Ukul : (huruf hamzah dan memakai dhammah): sesuatu yang dimakan.
Mutasyabihan : serupa warna, bentuk, dan rasanya jika dilihatdengan mata.
Gaira Mutasyabih : tidak sama rasanya.[12]
Penjelasan :
Pohon kurma sekalipun sebagian dari kebun yang tidakl berjunjung, namun di sini
disebutkan secara tersendiri, karena mempunyai multi fungsi, terutama bagi bangsa Arab. Kurma
mempunyai keistimewaan yang melebihi anggur dan merupakan pohon yang paling mirip
dengannya.
Sedang Az-Zara ialah tanaman yang tumbuh ditanam manusia, mencakup segala tumbuhan
yang ditanam, khususnya yang menajdi makanan pokok. Serperti gandum dan kedelai. Jenis-jenis
tumbuhan ini telah disebutkan secara berturut-turut, dari yang paling rendah kedudukannya sebagai
makanan biasa dan makanan pokokmanusia, sampai kepada yang paling tinggi dan umum, karena
biji-bijian merupakan tumbuhan yang menjadi bahan pokok, sebagai makanan yang menyenangkan.
Sabab nuzul :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa orang-orang yang menghambur-hamburkan hasil
panen serta hidup berfoya-foya, tetapi tidak mengeluarkan zakatnya. Maka turunlah ayat ini (QS. 6
al-An'am: 141) sebagai perintah untuk mengeluarkan zakat pada hari panennya (diriwayatkan oleh
Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul 'Aliyah).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (QS. 6 al-An'am: 141) turun berkenaan
dengan Tsabit bin Qais bin Syammas yang menuai buah kurma, kemudian berpesta pora, sehingga
pada petang harinya tak sebiji pun buah kurma tersisa di rumahnya (diriwayatkan oleh Ibnu Jarir
yang bersumber dari Ibnu Juraij).[13]

QS. Al-Baqarah: 267

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang keluarkan dari bumi untuk kalian, dan janganlah kalian
memilih yang buruk-buruk lalu kalian nafkahkan daripadanya, padahal kalian sendiri tidak mau
mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Maha
Kaya, Maha terpuji." {QS. Al-Baqarah: 267).
Penafsiran kata :
Anfiqu : kata infaq berasala dari akar kata nafaqa-yanfuqu-nafaqan-nifaqan, yang artinya "berlalu",
"habis", "laris", "ramai". Kalimat nafaqa asy-syai'u artinya sesuatu itu habis, baik habis karena dijual,
mati, atau karena dibelanjakan. Kalimat nafaqa al-bai'u nafaqan artinya dagangan itu habis karena
laris terjual. Infaq yang berarti "menghabiskan" atau "membelanjakan" dapat berkenaan dengan
harta atau lainnya, dan status hukumnya bisa wajib dan bisa sunat.
Thayyibat : terambil dari kata thayyib yang artinya baik dan disenangi (disukai); lawannya adalah
khabis yang berarti buruk dan dibenci.
Wa la tayammamu : artinya, janganlah kamu bermaksud, menuju, menghendaki.
Taghmidlu : artinya meremehkan, memicingkan mata. Perkataan Aghmidl (remehkan, picingkan
matamu) kepada si penjual, artinya "janganlah kamu selidiki/teliti seakan-akan kamu tidak
melihat."[14]
Makna Global
Pada ayat (QS. Al-Baqarah: 267) ini Allah menjelaskan pedoman yang harus diperhatikan
berkaitan dengan kualitas harta yang akan diinfakkan, yaitu bahwa harta tersebut hendaknya
merupakan harta terbaik dan paling dicintai, sehingga dengan demikian pedoman tentang infak dan
penggunaan kekayaan pada jalan Allah menjadi lengkap dan sempurna. [15]
Penjelasan
Allah mengaitkan hasil usaha kepada mereka, meskipun dia yang menciptakan perbuatan mereka,
karena hasil itu merupakan perbuatan mereka. Sedangkann yang mengeluarkan hasil bumi
disandarkan kepada Allah, karena hal itu bukan perbuatanmereka dan juga di luar kesanggupan
mereka.
Kemudian Allah berfirman, "Janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kaliannafkahkan
daripadanya". Allah melarang menafkahkan hasil usaha yang buruk-buruk secara sengaja.
Kemudian firmannya, "Padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan
memicingkan mata terhadapnya". Artinya , sekiranya mempunyai hak untuk menerima hasil yang
buruk itu, lalu ia diberikan kepada kalian, tentulah kalian tidak mau menerimanya meskipun ada hak
terhadapnya, kecuali kalian harus mempertimbangkan tenggang rasa untuk mengambilnya dan
meminta keringanan dalam masalah ini.[16]
Sabab nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut di atas (QS. Al-Baqarah:
267) berkenaan dengan kaum Anshar yang mempunyai kebun kurma. Ada yang mengeluarkan
zakatnya sesuai dengan penghasilannya, tetapi ada juga yang tidak suka berbuat baik. Mereka

(yang tidak suka berbuat baik) ini menyerahkan kurma yang berkualitas rendah dan busuk. Ayat
tersebut di atas sebagai teguran atas perbuatan mereka. (diriwayatkan oleh al-Hakim, at-Tirmidzy,
Ibnu Majah, dan lain-lain yang bersumber dari al-Barra'.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ada orang-orang yang memilih kurma yang jelek
untuk dizakatkan. Maka turunlah ayat tersebut di atas (QS. Al-Baqarah: 267) sebagai teguran atas
perbuatan mereka. (diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa'I, dan al-Hakim, yang bersumber dari
Sahl bin Hanif).[17]
QS. Al-Baqarah: 271
"Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adal;ah baik sekali. Dan jika kamu
menyembunyikannya dan kamu berikankepada orang-orang fakir, maka menyembuhnyikan itu lebih
baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Baqarah: 271).
Makna Global
Di dalam ayat yang lalu, Allah mengemukakan bahwa Dia Maha Mengetahui terhadap apa
yang kalian infaqkan. Allah kelak akan membalasnya. Apabila baik, maka balasannya adalah baik;
dan jika jelek, maka balasannya pun jelek.
Kemudian, di dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang cara memberikan sedekah tersebut, yang
tentu saja ada yang diberikan secara sembunyi, dan ada yang diberikan secara terang-terangan,
dan mana yang paling utama dari keduanya.
Penjelasan :
Allah menggambarkan bahwa memberikan infaq kepada fakir miskin secara sembunyisembunyi, lebih baik bagi pelakunya daripada menampakkannya. Pembatasan yang ditetapkan
Allah untuk merahasiakan pemberian kepada fakir miskin secara khusus, dan Allah tidak
mengatakan, "jika kalian menyembunyikannya, maka hal itu lebih baik bagi kalian". Sebab di antara
shadaqah ada yang tak mungikin disembunyikan, seperti menyediakan perlengkapan pasukan
perang, membangun jembatan, dan lain sebagainya. Tapi ketika memberikannya kepada fakir
miskin, maka ada beberapa manfaatnya untuk menyembnyikannya, seperti menutupi aibnya, tidak
membuatnya malu di hadapan manusia, dan sebagainya. [18]
Dan apabila kalian menampakkan sedekah secara terang-terangan, maka sebaik-baiknya
amal itu adalah yang terang-terangan. Sebab, hal ini merupakan panutan yang baik bagi lainnya.
Di samping itu, sedekah merupakan salah satu syi'ar agama Islam. Seandainya disembunyikan,
maka ada sebagian orang yang menduga, bahwa mengeluarkan sedekah secara terang-terangan
adalah dilarang di dalam Islam.
Sedekah secara sembunyi lebih utama
Apabila kita memberikan sedekah tersebut kepada kaum fakir miskin secara sembunyi,
maka hal itu akan lebih utama, karena terjauh dari perasan riya'. Dalam hal ini, banyak sekali hadis
dan asar yang mendukung amal seperti ini.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Umamah, bahwa Abu Zar pernah menanyakan kepada
Nabi saw. "Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang lebih utama?" jawab Nabi, "sedekah siri
(sembunyi) kepada kaum fakir, atau sedekah yang dihasilkan dengan susah payah, oleh orang yang
hidupnya kekurangan". Selanjutnya, Nabi membacakan ayat ini.
Jumhur ulama' mengatakan, "bahwa letak keutamaan menginfakkan harta secara sirri
disbanding terang-terangan, hanyalah pada sedekah sunnah, bukan pada sedekah wajib (zakat).
Menampakkkan sedekah wajib itu lebih utama, karena dengan demikian, tampaklah syi'ar-syi'ar
agama. Mereka juga menambahkan, "sesungguhnya menampakkan amal itu lebih baik bagi orang
yang berniat agar ditiru oleh orang banyak, meski yang dilakukan adalah sedekah sunnah." [19]
Sabab Nuzul
Ayat ini diturunkan sehubungan dengan Abi baker dan Umar bin Khathab. Pada suatu ketika
Umar bin Khathab menyedekahkan separuh dari harta kekayaannya kepada Rasulullah saw untuk
kepentingan agama. Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah engkau memikirkan anak turun dan
keluarga yang ada di belakangmu, wahai Umar". Jawab Umar, "aku sediakan buat mereka separuh
dari harta kekayaanku". Sedangkan Abu Bakar Shiddiq secara diam-diam telah menyerahkan
seluruh harta kekayaannya kepada Rasulullah saw untuk kepentingan agama. Rasulullah saw
bersabda kepadanya: "Wahai Abu Bakar, tidakkah kamu memikirkan keluarga dan anak turun yang
di belakangmu". Jawab Abu Bakar: "Yang akan mencukupi keluargaku adalah Allah dan Rasulullah".
Mendengar jawaban yang seperti itu Umar bin Khathab menagis seraya berkata: "Demi Allah
tebusanmu adalah ayah adan ibuku setiap aku berniat membuat kebajikan selalu saja kamu
tandingi, wahai Abu Bakar". Ayat ini pada dasarnya memuji sikap Umar bin Khathab yang
menyedekahkan harta kekayaannya dengan terang-terangan dengan maksud agar dicontoh orang
lain, dan kepada Abu Bakar yang menyedekahkan hartanya secara rahasia. Kedua perbuatan ini
adalah sangat baik, yang patut diikuti oleh setiap muslim. (HR. Ibnu Hatim dari ayahnya dari Husain
bin Ziyad al-Muharibi dari Musa bin Umair dari Amir asy-Sya'bi).[20]
Munasabah ayat
Di dalam surat al-Taubah: 60, Allah menjelaskan tentang orang-orang yang berhak
menerima zakat yakni ada delapan asnaf. Agar kenikmatan dan kekayaan duniawi ini juga bisa
dirasakan oleh faqir miskin, maka Allah memrintahkan untuk mengambil zakat dari sebagian harta
untuk diberikan kepada yang berhak, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Taubah: 103. Karena
dengan zakat itu bisa mengikis sifat-sifat kotor seperti; bakhil, tamak, berlaku tak senonoh terhadap
orang-orang faqir, dan juga perintah mendoakan kepada orang yang mengeluarkan zakat.
Allah menjadikan kebun-kebun, di situ tumbuh tanaman-tanaman yang bermacam-macam.
Dari tanaman-tanaman itu agar kita bisa menikmati buahnya, dan menunaikan haknya ketika sudah
panen kepada orang-orang yang berhak menerima zakat. Kita tidak boleh berlebih-lebihan
meskipun kaya, mempunyai kebun yang luas, sawah, ladang yang ditanamai berbagai macam
tanaman, karena di situ terdapat hak bagi faqir miskin. Dan sesunguhnya Allah tidak menyukai yang
berlebih-lebihan, sebagaimana dijelaskan dalamsurat al-An'am: 141.

Ketika kita bersedekah dari hasil-hasil usaha, agar tidak memilih yang buruk-buruk untuk
dinfkakkan, padahal kita sendiri tidak mau mengambilnya. Maka Allah menegaskan kembali seperti
dalam sural al-Baqarah ayat 267, agar kita menginfakkan yang baik-bak sehingga yang menerima
bisa senang hati. Masalah menampakkan atau menyembunyikan sedekah, itu bukan menjadi
permasalahan karena keduanya itu sama-sama baik, ini disinggung dalam surat al-Baqarah ayat:
271, meskipun itu sedekah sunnat dengan niatan agar bisa dibudayakan. Tidak hanya itu, dengan
sedekah Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahan kita.
Kesimpulan :
Zakat adalah salah satu ibadah pokok dan termasuk salah satu rukun Islam dan hukumnya fardlu
'ain dalam arti kewajiban yang ditetapkan untuk diri pribadi dan tidak mungkin dibebankan kepada
orang lain.
Zakat itu ada dua macam. Pertama zakat mal (zakat harta) dan kedua zakat diri yang dikeluarkan
setiap akhir Ramadlan yang disebut juga zakat fitrah.
Perintah Allah untuk berzakat itu disamping menggunakan lafadz zaka juga menggunakan kata lain,
yaitu : anfaqa (al-Baqarah: 267), shadaqa (al-Taubah: 60), dan atu haqqahu (al-An'am: 141), ketiga
lafadz tersebut mengandung arti zakat.
Ada delapan macam orang yang berhak menerima zakat, yaitu : fakir, miskin, amil, mu'allaf,
hamba sahaya, gharim, sabilillah, dan ibu sabil (musafir).
Faidah Sedekah Dalam Membangun Masyarakat Islam
Sedekah dapat mengikis sifat-sifat kikir, kotoran-kotoran kebatilan, egois, tamak, dan rakus
dalam jiwa seseorang, bahkan dapat menghindarkan mereka dari memakan harta orang lain secara
batil baik lewat pengkhianatan, pencurian, perampasan, korupsi, riba atau cara lainnya yang tidak
dibenarkan oleh syara'. Oleh karena harta telah menjadi life's balance (keseimbangan kehidupan),
baik indifidu maupun masyarakat, maka harta pun bisa memicu perebutan dan pertengkaran. Dan
itulah sebabnya agama mewajibkan kepada para pemilik harta supaya menafkahkan dan
mengeluarkan sedekah sehingga kekayaan mampu menjadi medium of peace (sarana perdamaian),
bukan lagi menjadi ajang pertengkaran.
Daftar Pustaka :

Al-Jaziri, Abdurrahman. Fiqih Madzahibul Arba'ah. Kairo: Darul Hadis, 1994


Al-Maraghi, Mustofa Ahmad. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV. Toha Putra, 1992.
Amin Suma, Muhammad. Tafsir Ahkam: Tafsir Ayat-Ayat Pilihan. Ciputat: Logos
Wacana Ilmu, 1997.
Dahlan, H.A.A dkk. Asbabun Nuzul: Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat AlQur'an. Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2006..
Depag. Al-Qur'an dan Tafsir. YPPA, 1979.
Mujib Mahali, A.Mujib. Asbabun Nuzul: Studi Pendalaman al-Qur'an. Jakarta: CV.
Rajawali, 1989.

Shihab, Quraisy. "Membumikan "Al-Qur'an: Fungsi dan peran wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat. Bandung: Mizan, 1993.

Suhardi, Kathur. Tafrir Ibnu Qayyim. Darul Falah: Jatim: Darul Falah, 2000.

Syarifuddin, Amir. Garis-Garis Besar Fiqih. Jakarta: Prenada Media, 2003.


Syafi'I, Imam. Hukum al-Qur'an: Asy-Syafi'I dan Ijtihadnya. Surabaya: PT. Bengkulu
Indah, 1994. 121.

http://muzir.wordpress.com/2011/04/05/perkara-asas-tentang-zakat-yang-mesti-kita-tahu/

Pengertian Zakat

Dari Segi Bahasa


o

Zakat dari segi bahasa bererti BERSIH, SUCI, SUBUR, BERKAT dan
BERKEMBANG. Pengertian BERSIH dan SUCI dalam istilah zakat ialah
membersihkan harta dan membersihkan diri orang kaya daripada bersifat kedekut
dan bakhil. Dalam erti yang lain ialah membersihkan diri daripada sifat dengki dan
dendam terhadap orang kaya.

Dari Segi Syara`


o

Zakat dari segi syarak pula ialah mengeluarkan sebahagian harta tertentu diberikan
kepada asnaf-asnaf yang berhak menerimanya setelah memenuhi syarat-syarat yang
ditetapkan oleh syarak

Siapa Yang Wajib Bayar Zakat?

Beragama Islam

Merdeka

Sempurna Milik
o

Harta yang hendak dizakat hendaklah dimiliki dan dikawal sepenuhnya oleh orang
Islam yang merdeka. Bagi harta yang berkongsi antara orang Islam dengan orang
bukan Islam, hanya bahagian orang Islam sahaja yang diambil kira di dalam
pengiraan zakat.

Harta Usaha Yang Baik Sebagai Sumber Zakat

Para Fuqaha merangkumi semua pendapatan dan penggajian sebagai Mal


Mustafad iaitu perolehan baru yang termasuk dalam taksiran sumber harta yang
dikenakan zakat.

Cukup Nisab
o

Nisab adalah paras minimum yang menentukan sesuatu harta itu wajib dikeluarkan
atau tidak. Nisab menggunakan nilai emas harga semasa iaitu 20 misqal emas
bersamaan 85 gram emas atau 196 gram perak.

Cukup Haul
o

Bermaksud genap setahun iaitu selama 354 hari mengikut tahun Hijrah atau 365
hari mengikut tahun Masihi. Dalam zakat pendapatan, jangkamasa setahun
merupakan jangkamasa mempersatukan hasil-hasil pendapatan untuk pengiraan
zakat pendapatan.

Harta Yang Wajib Dizakatkan


Ada 2 jenis, iaitu:

Zakat Fitrah
o

Zakat Fitrah ialah zakat diri yang difardhukan ke atas setiap individu lelaki dan
perempuan muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan.

Zakat Harta
o

Zakat Pendapatan

Zakat Perniagaan

Zakat Binatang Ternakan

Zakat Pertanian

Zakat Wang Simpanan

Zakat Emas dan Perak

Zakat Saham

Zakat Maadin, Kunuz dan Rikaz *

Maadin ialah segala galian yang diperolehi dari perut bumi sama ada beku
atau cair di darat atau di laut.

Kunuz ialah harta yang tersimpan di dalam bumi (harta karun).

Rikaz ialah harta benda yang tersimpan di dalam bumi dan terdapat tandatanda yang menunjukkan ia tersimpan sebelum kedatangan Islam. (Jumhur
ulama mengatakan semua jenis simpanan jahiliah)

Siapa Yang Layak Menerima Zakat


Terdapat 8 golongan (asnaf) yang layak menerima zakat sebagaimana diberitahu ALLAH `Azza wa
Jalla di dalam Surah At-Taubah, ayat ke 60, iaitu:

Asnaf Fakir
o

Fakir ialah orang Islam yang tidak mempunyai harta hasil usaha (pekerjaan) yang
halal dan layak dengannya untuk memenuhi keperluan dirinya dan tanggungannya
termasuklah makanan, pakaian, tempat tinggal dan keperluan-keperluan lain.

Asnaf Miskin
o

Miskin ialah orang Islam yang mempunyai harta dan hasil usaha (pekerjaan) yang
halal dan layak dengannya tetapi masih tidak mencukupi untuk menanggung
keperluan dirinya dan tanggungannya.

Asnaf Amil
o

Orang yang dilantik / ditauliahkan oleh Sultan atau Naibnya untuk penyelenggaraan
hal-hal zakat.

Asnaf Muallaf
o

Orang yang baru memeluk Islam iaitu orang yang dijinakkan hatinya dengan diberi
bantuan supaya mereka teguh mencintai Islam.

Asnaf Riqab
o

Iaitu hamba mukatab yang ingin memerdekakan dirinya.

Asnaf Gharimin
o

Orang Islam yang berhutang untuk memenuhi keperluan asasi bagi permasalahan
diri atau keluarga tanggungannya atau orang yang berhutang untuk menyelesaikan
masalah masyarakat dan memerlukan:

Orang yang berhutang itu tidak mampu menjelaskan hutangnya.

Hutang itu hendaklah dalam perkara taat yang diharuskan syarak.

Hutang telah sampai tempoh untuk dijelaskan.

Asnaf Fisabilillah
o

Fisabililah ialah tiap-tiap perbuatan / perkara yang menjurus kepada keperluan dan
masalah untuk menegakkan syiar Islam.

Asnaf Ibnu Sabil


o

Orang Islam yang kehabisan perbelanjaan dalam perjalanan atau orang yang hendak
memulakan perjalanan sedangkan ia tidak mempunyai belanja dengan syarat:

Ia mengembara dari negeri tempat tinggalnya

Pengembaraan diharuskan oleh syarak.

Hikmah Disyariatkan Zakat


Zakat adalah salah satu daripada rukun Islam yang kelima. Antara hikmah dan tujuan ALLAH SWT
mensyariatkan zakat ialah:

Mengagihkan sebahagian kecil kekayaan daripada golongan yang berada kepada golongan
yang kurang berada.

Membersihkan diri pembayar zakat.

Membersihkan dan menyuburkan harta pembayar zakat.

Mewujudkan sifat bersyukur terhadap nikmat yang dikurniakan oleh ALLAH SWT di
kalangan golongan yang berada.

Mengurangkan perasaan irihati di kalangan yang kurang bernasib baik.

Mewujudkan perhubungan antara hamba dengan ALLAH SWT di samping perhubungan


antara manusia dengan manusia.

Memberi peluang kepada golongan hartawan untuk beribadat dalam bentuk mengeluarkan
zakat daripada harta mereka.

Mewujudkan kesatuan di kalangan masyarakat Islam dalam urusan ekonomi dan kewangan.

Memberi masyarakat satu cara mengurus ekonomi dan kewangan yang diredhai oleh ALLAH
SWT.

Melahirkan rasa tenang dan tenteram dalam hati dan jiwa pembayar zakat.

Maklumat di atas telah saya susun berdasarkan maklumat dari laman web rasmi Lembaga Zakat
Selangor. Banyak lagi maklumat berguna yang boleh didapati dari laman web tersebut bagi
menambah lagi kefahaman kita berkaitan zakat dan hukum-hakam bersangkutan dengannya.
Tuan/puan boleh melawat laman web Lembaga Zakat Selangor di http://www.ezakat.com.my/.
Semoga maklumat di atas memberi manfaat buat Tuan/Puan. Dan semoga ALLAH `Azza wa Jalla
memelihara kita semua dengan hidayah dan taufiqNYA, amin.
- www.muzir.wordpress.com
Rate this:

http://www.e-zakat.com.my/wpcontent/files_flutter/1294602735PengurusanZakatDiNegeriSelangorIsuDanCabaran.pdf

7. ISU DAN CABARAN DARI ASPEK PUNGUTAN ZAKAT


Prosiding Konvensyen Kebangsaan Perancangan & Pengurusan Harta dalam Islam
2010
PENGURUSAN ZAKAT DI NEGERI SELANGOR: ISU DAN CABARAN1

Tuan Haji Ahmad Shahir bin Makhtar


Puan Hajjah Adibah bt. Abdul Wahab
Lembaga Zakat Selangor (MAIS)

7.1 Fahaman Tradisional Masyarakat Tentang Pembayaran Zakat


Zakat merupakan ibadah yang telah disyariatkan sejak awal Islam iaitu sejak 1400
tahun
dahulu. Ibadah zakat ini telah melalui proses evolusi yang bermula daripada zaman
Rasulullah, para sahabat, tabiin, tabi tabiin hinggalah Islam sampai ke Nusantara
di zaman
kesultanan Melaka. Pelbagai generasi ulama telah menyesuaikan ibadah zakat
dengan
zaman masing-masing dan proses ini berterusan sehingga kini. Sehubungan itu, di
sebalik
usaha institusi zakat memperkenalkan pelbagai pembaharuan dalam komteks
pengurusan
zakat, ia tidak boleh lari daripada fahaman tradisional umat Islam yang kerap
berpegang
kepada amalan lama yang menyukarkan pendekatan baru terhadap pembayaran
zakat.

Fahaman tradisional ini terbahagi kepada dua iaitu dari aspek pengiraan zakat dan
kedua dari aspek kaedah pembayaran zakat. Cabaran fahaman tradisional umat
Islam di
Malaysia dari aspek pengiraan zakat adalah mereka sukar menerima harta-harta
baru yang
Prosiding Konvensyen Kebangsaan Perancangan & Pengurusan Harta dalam Islam
2010

dikenakan zakat seperti zakat pendapatan atai zakat mal-mustafad. Apabila mereka
merujuk
kepada kitab-kitab lama, zakat pendapatan ini tidak dinyatakan oleh kebanyakan
kitab yang
muktabar dan ulama-ulama terdahulu. Pendapatan yang dikenakan zakat ini
termasuklah
gaji, bonus, pendapatan bebas, komisen, royalti dan lain-lain hasil daripada usaha
yang baik.
Institusi zakat perlu bijak menangani isu ini bagi memastikan potensi kutipan zakat
dapat
dioptimumkan dan golongan yang layak menunaikan zakat akan menunaikan
kewajipan
mereka.

Fahaman tradisional umat Islam yang memberikan cabaran kepada institusi zakat
adalah dari aspek kaedah bayaran. LZS memperkenalkan pelbagai kaedah bayaran
zakat
selain kaedah tradisional iaitu pembayaran melalui potongan gaji dan pembayaran
melalui

elektronik seperti internet, mesin ATM, kad kredit dan sebagainya. Sebahagian
masyarakat
masih tidak boleh menerima kaedah ini kerana mereka rasa seolah-olah
pembayaran zakat
mereka tidak sah jika tiada keadaan ijab dan qabul sebagaimana pembayaran zakat
yang
dilaksanakan di kaunter-kaunter. Bagi menangani fahaman tradisional ini, LZS
meneruskan
usaha dakwah dan penerangan yang dibuat agar akhirnya keseluruhan umat Islam
akan
dapat menerima perubahan yang ada.

7.2 Wujud Jurang di antara Fatwa Sedia Ada dengan Permasalahan Ummah
untuk Membayar Zakat

Dr. Yusuf Qaradawi mengupas dengan jelas tentang keperluan fatwa zakat yang
kontemporari dengan meletakkan peluasan sumber zakat sebagai syarat pertama
yang boleh
menjamin kejayaan zakat dalam aplikasi semasa adalah dengan memperluaskan
ruang
kewajipan berzakat. Beliau berpendapat setiap harta yang berkembang boleh
dikenakan
zakat meskipun Nabi Muhammad s.a.w tidak pernah menyebutnya dengan
terperinci.
Pendapat ini tentunya berbeza dengan pendapat para ulama yang mengambil
pendekatan
mengambil ayat al-Quran mahupun hadis tanpa tawil dan menggunakan qiyas
dalam
menyatakan pendapat mereka dalam isu kewajipan berzakat seperti Ibn Hazm dan
yang

sependapat dengannya yang berpandangan bahawa zakat hanya diwajibkan ke atas


lapan
jenis harta yang pernah dikutip zakatnya oleh Rasulullah s.a.w. Dalam kitab alMuhalla,
beliau menyebut bahawa jenis harta tersebut adalah unta, lembu, kambing,
gandum, biji
gandum, kurma, perak dan emas. Bahkan Ibn Hazm berpendapat anggur kering pun
tidak
diwajibkan zakat kerana hadisnya tidak sahih.

Tetapi dari segi realitinya kini bentuk kekayaan manusia telah berubah. Ekonomi
manusia kini telah berubah daripada berasaskan pertanian kepada perkhidmatan
dan
perindustrian. Perubahan ini menjadikan golongan yang kaya bukan lagi para
petani,
Prosiding Konvensyen Kebangsaan Perancangan & Pengurusan Harta dalam Islam
2010

penternak tetapi konglomerat yang memegang pelbagai jawatan tinggi sebagai ahli
lembaga
pengarah syarikat, ketua operasi eksekutif, pengurus besar, presiden syarikat
hinggalah
kepada golongan eksekutif dan pegawai. Malah bentuk kekayaan manusia juga
telah berubah
daripada berasaskan emas dan perak kepada pelaburan-pelaburan yang kompleks.

Banyak persoalan hukum yang perlu dijawab dan ia memerlukan komitmen para

cendekiawan menjalankan kajian agar fatwa zakat adalah lebih kontemporari dan
mampu
mengejar segala permasalahan ummah yang semakin kompleks

Jadi, benarkah asnaf fakir dan miskin sukar mendapatkan bantuan? Ini kerana,
ramai dalam kalangan mereka yang diberikan bantuan modal perniagaan.
Bukan sedikit yang menceburinya, membuka restoran, membuka kedai runcit,
membuka perusahaan membuat kuih tradisional, membuka bengkel membaiki
kenderaan, mengecat kereta, membuka pusat kecantikan, urutan dan SPA,
kedai dobi, membuka taska, menjalankan projek ternakan ikan, menternak
ayam, lembu, kambing, menanam sayur dan sebagainya lagi.
Sekali lagi, benarkah asnaf fakir dan miskin diabaikan? Ini kerana, keperluan
mereka dijaga penuh perhatian. Keperluan pendidikan misalnya, anak-anak
mereka dibiayai dari sekolah rendah hingga ke universiti, bahkan hingga ke luar
negeri. Anak-anak asnaf yang cemerlang, diberikan insentif tambahan,
biasiswa, wang saku, komputer riba dan ganjaran akademik yang relevan
dengan pencapaian. Maka, ramai anak asnaf yang berjaya dan ini membuktikan
keberkesanan agihan zakat.
Akhirnya, benarkah susah mendapatkan bantuan zakat? Ini kerana, ribuan
pesakit menerima habuan. Misalnya pesakit buah pinggang yang mesti melalui
proses dialisis tiga kali seminggu, institusi zakat tampil membantu. Anak yang
perlu dirawat, isteri yang terlantar di hospital, suami yang uzur dan sebagainya,
diberikan bantuan zakat untuk menerima rawatan. Bukan kecil jumlahnya
bahkan mencecah puluhan ribu seorang dan jutaan ringgit setiap tahun.
Hakikatnya, terlalu banyak jika mahu disenaraikan di sini. Namun, jika kita
mahu menelitinya dengan hati yang tenang dan kepala yang tenteram, tidak
sekadar mahu mencari kesalahan orang, maka kita pasti mengakui bahawa
institusi zakat telah banyak meringankan bebanan ummah.

http://zahrihamat.blogspot.com/2009/05/harta-dan-asnaf-zakat-perlukantafsiran.html

HARTA DAN ASNAF ZAKAT PERLUKAN TAFSIRAN SEMASA?


Dua isu tentang zakat yang sering menjadi topik perbincangan dalam kalangan cendekiawan Islam. Pertama
ialah tentang jenis-jenis harta yang diwajibkan zakat dan keduanya ialah asnaf-asnaf yang layak menerima
zakat.
Antara isu tentang jenis-jenis harta yang diwajibkan zakat ialah apakah zakat hanya dikenakan ke atas
harta-harta yang disebut dengan khusus di dalam al-Quran dan al-Sunnah? Bagaimana pula dengan hartaharta yang baru muncul dalam konteks masakini? apakah ia juga diwajibkan zakat? Jika harta-harta
tersebut diwajibkan zakat, apakah kaedah yang boleh dipakai dalam menentukan perakaunan zakatnya?
Isu tentang tafsiran asnaf zakat antara lain ialah apakah tafsiran asnaf perlu mematuhi tafsiran yang telah
dibuat oleh fuqaha-fuqaha klasik? Bagaimana pula tafsiran fuqaha-fuqaha klasik ini boleh dijadikan panduan
dalam membuat tafsiran apabila mengambilkira faktor keperluan semasa dan keadaan setempat? Atau
apakah tafsiran asnaf yang telah dibuat terdahulu tidak boleh ditafsir semula?
Perluasan harta ini boleh dilakukan dengan berpandukan al-Quran dan Hadis serta amalan para Khalifah alRasyidin. Dalam al-Quran dan Hadis harta-harta yang diwajibkan zakat disebut dalam dua bentuk, iaitu
dalam bentuk umum dan dalam bentuk khusus.
Di dalam bentuk umum al-Qur'an ada menyebut perkataan sebahagian harta (Surah al-Taubah, ayat 103)
atau harta-harta (Surah al-Dhariyat, ayat 19). Dalam bentuk khusus al-Qur'an menyebut harta-harta seperti
emas dan perak (Surah al-Taubah, ayat 34), hasil pertanian (Surah Anam, ayat 141), perniagaan dan hasil
galian (Surah al-Baqarah, ayat 267).
Di dalam bentuk umum Hadis juga hanya menyebut perkataan harta-harta seperti tunaikan zakat ke atas
harta-harta kamu. (Hadis riwayat al-Tirmizi) Dalam bentuk khusus, Rasulullah s.a.w. menyebut jenis-jenis
harta iaitu emas dan perak, barangan perniagaan, hasil pertanian seperti gandum, barli dan anggur,
ternakan seperti kambing, lembu dan unta serta hasil galian.
Menurut Prof. Dato Mahmood Zuhdi Abd. Majid (2003) misalnya, meskipun al-Quran menyebut harta-harta
dikenakan zakat seperti emas dan perak, hasil pertanian, perniagaan dan hasil galian tetapi tidak ada apaapa kenyataan atau isyarat yang secara bersama menghadkan pengertian umum harta wajib zakat.
Contohnya ayat tentang ambillah zakat dari sebahagian harta mereka. (Surah al-Taubah, ayat 103) Menurut
beliau, ketiga-tiga ayat tersebut hanya menerangkan beberapa jenis harta yang diwajibkan zakat tetapi ia
tidak bermakna harta-harta lain tidak diwajibkan zakat.
Malah di Malaysia sendiri lahirnya harta-harta dalam bentuk baru yang boleh dikenakan zakat. Harta-harta
tersebut boleh dibahagikan kepada empat kategori (Sanep Ahmad dan Hairunnizam Wahid, 2004). Pertama
ialah pendapatan daripada pelaburan seperti bon, saham dan perundingan. Kedua ialah pendapatan
daripada pertanian seperti kelapa sawit dan getah. Ketiga ialah pendapatan daripada ternakan seperti ayam,
itik dan ikan. Keempat ialah pendapatan daripada galian seperti permata dan minyak.
Perbincangan tentang perubahan kepada tafsiran asnaf zakat antaranya dibincangkan oleh Prof. Madya Dr.
Mujaini Tarimin (2005). Menurut beliau antara isu-isu pengagihan zakat kontemporari termasuklah
mengenai pelaburan daripada dana zakat. Pelaburan yang dimaksudkan ialah usaha untuk mengembangkan

harta zakat pada masa tertentu dengan berbagai kaedah pelaburan demi untuk menjamin pulangan kepada
asnaf.
Beliau berpandangan, walaupun dasar agihan zakat kepada asnaf telah ditentukan di dalam al-Quran tetapi
ia tidak bermakna menyekat kebebasan pengurus zakat untuk berijtihad dalam pengagihan yang lebih
berkesan sesuai dengan perkembangan dan keperluan semasa. Malah menurut beliau lagi, betapa perlunya
anjakan pradigma dalam pengagihan zakat bukan hanya setakat memenuhi had al-kifayah (satu amaun
yang diperlukan bagi seseorang individu atau bagi sesebuah keluarga) tetapi juga kepada meningkatkan
pendapatan asnaf sehingga menjadikan mereka kaya.
Menurut Dr. Hasanah Abd. Khafidz (2006), antara pentafsiran asnaf yang boleh dilakukan adalah
berdasarkan tafsiran fuqaha klasik dengan mengambilkira realiti keperluan semasa dan keadaan setempat.
Pemakaian mazhab tertentu harus dihormati namun pada masa yang sama pendapat daripada fuqaha
mazhab lain hendaklah sentiasa dikaji untuk mendapat pendapat yang lebih sesuai dengan kehendak
semasa. Beliau selanjutnya menyarankan untuk mendapat tafsiran yang lebih realistik, maka kajian semula
perlu dilakukan setiap lima hingga sepuluh tahun.
Semua ini mempamerkan betapa lestari fiqh Islam. Bagaimanapun ia memerlukan kefahaman yang
mendalam untuk merealisasikannya, apatah lagi dengan keperluan semasa dan setempat yang pelbagai
pada masa ini.