You are on page 1of 3

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Reformasi birokrasi: Meningkatkan daya saing bangsa


9 program percepatan birokrasi reformasi.
1. Penataan Struktur Organisasi Pemerintah
Penataan struktur organisasi dilaksanakan untuk menjadikan organisasi dapat
bekerja secara efektif dan efisien dengan postur organisasi yang tidak terlalu gemuk
namun kaya fungsi. Beberapa peraturan yang telah ditetapkan dalam penataan struktur
organisasi ini dari pusat sampai ke daerah diantaranya adalah Undang-undang Nomor 39
Tahun 2008 tentang Kementrian Negara dan Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu I
yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara. Sejalan dengan itu ditetapkan pula
Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi
Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian
Negara Negara. Dalam rangka penataan organisasi di daerah telah ditetapkan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan
penyempurnaan terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. Sebagai tindak lanjut
dari undang-undang ini juga telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun
2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Disamping Peraturan Pemerintah Nomor 41
Tahun 2007 juga diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota. Kedua paket peraturan ini berjalan secara simultan dalam
rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam PP Nomor 41 Tahun 2007
diatur tentang batasan dan kriteria SKPD (badan, dinas, kantor, asisten, dan bagian) yang
dapat dibentuk disuatu daerah. Sedangkan alam PP Nomor 38 Tahun 2007 diatur urusan
apa saya yang menjadi kewenangan suatu daerah.
2. Penataan Jumlah Dan Distriusi PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Penataan jumlah dan distribusi PNS dilakukan guna mengembangkan dan
melaksanakan sistem manajemen kepegawaian yang berbasis kinerja atau berorientasi
kepada sistem merit yang mencakup seluruh aspek pembinaan mulai dari penetapan
formasi, rekruitmen/seleksi, diklat, promosi, remunerasi, penegakan disiplin serta
peraturan termasuk peningkatan tertib administrasi kepegawaian. Penataan SDM ini
meliputi berbagai aspek diantaranya penyempurnaan berbagai kebijakan berupa peraturan
perundang-undangan, pengendalian jumlah, distribusi dan komposisi PNS melalui
pengendalian formasi PNS, penyempurnaan sistem rekruitmen dan sistem seleksi,
menjamin jumlah dan kualifikasi PNS di masing-masing unit kerja, sesuai kebutuhan
untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif, efisien dan produktif.
Pembangunan dan penerapan sistem manajemen kepegawaian yang berorientasi kepada
prestasi kerja (kinerja) dalam rangka mendorong peningkatan profesionalisme,
pengembangan sistem dilat yang berbasis kompetensi dan pengembangan sistem
informasi PNS. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang
Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil dan ditindaklanjuti dengan Peraturan

Kepala Badan Kepegawian Negara Nomor 1 Tahun 2013, setiap pegawai negeri sipil
diwajibkan menyusun Sasaran Kerja Pegawai Negeri Sipil (SKP). SKP ini merupakan
bentuk baru dari sistem penilaian terhadap PNS yang sebelumnya disebut dengan Daftar
Penilaian (DP3). Dibandingkan dengan DP3 SKP lebih mencerminkan pencapaian hasil
kerja PNS selama 1 tahun.

3. Pengembangan sistem seleksi dan promosi terbuka (seleksi CPNS sistem C.A.T)
4. Peningkatan profesionalisme PNS
5. Pengembangan Sistem Pemerintahan Elektronik (E-Government)
Sistem E-Government dimaksudkan untuk menggunakan teknologi informasi
dalam penyelenggaraan pemerintahan. Teknologi informasi akan menjawab tuntutan
terhadap perubahan secara lebih efektif. Penggunaan e-government oleh pemerintah
untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya. Ada dua hal utama dalam
pengertian e-government yaitu penggunaan teknologi informasi sebagai alat bantu dan
penyediaan informasi untuk disampaikan kepada publik. Penyelenggaran e-government
melahirkan empat hubungan yaitu government to citizeb/government to costumer,
government to business, government to government dan government to employess. Setiap
model hubungan tersebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, kenyamanan serta
aksebilitas yang lebih baik yang diberikan oleh pemerintah kepada setiap elemen
masyarakat.
Peningkatan capaian reformasi birokrasi (gambar).
6. Peningkatan Pelayanan Publik
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, telah ditetapkan
beberapa undang-undang, diantaranya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik dan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2007 tentang Ombudsman.
Permasalahan utama dalam pelayanan publik seperti juga telah disinggung diatas adalah
banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi, panjangnya prosedur dalam menerbitkan
suatu perizinan, lamanya proses, besarnya biaya yang dikeluarkan, dan adanya biaya
siluman dalam penerbitan suatu perizinan. Sering suatu urusan menjadi lebih lama dan
rumit bila mana pejabat yang berwenang tidak berada ditempat, dan pelimpahan
wewenang kepada pejabat lainnya tidak ada, sehingga masyarakat menjadi kecewa,
namun karena dibutuhkan terpaksa harus menahan perasaan. Dengan adanya undangundang tentang pelayanan publik maka pemerintah mau tak mau harus memperbaiki
sistem pelayanan. Bila masyarakat tidak merasa terlayani dengan baik dapat mengadukan
pelayanan pemerintah ini ke Ombudsman. Dalam rangka perbaikan sistem pelayanan
publik ini Kementrian Dalam Negeri telah menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Pelayanan terpadu
satu pintu atau juga sering disebut one stop service wajib dilaksanakan oleh pemerintah
daerah. Setiap daerah diwajibkan membentuk suatu Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) yang mengurus masalah perizinan. Berkaitan dengan hal tersebut kepala daerah
juga harus melimpahkan kewenangan untuk menandatangani perizinan ke SKPD

tersebut. Pada beberapa daerah disamping menangani perizinan juga menambahkan


kewenangan dalam pengelolaan penanaman modal (investasi). Ada beberapa item
peningkatan pelayanan publik yang penting dibenahi, diantaranya adalah kejelasan biaya
dan persyaratan perizinan, penyederhanaan prosedur dan waktu, penetapan standar
pelayanan, pemberian maklumat/informasi secara terbuka, pengelolaan pengaduan
masyarakat dan survey kepuasan masyarakat.
7. Peningkatan Integritas Dan Akuntabilitas Kinerja Aparatur
Menurut Aryo Sudiarto, akuntabilitas merupakan unsur pokok perwujudan good
governance, pemerintah diminta untuk melaporkan hasil yang telah dilaksanakan,
sehingga masyarakat dapat menilai apakah pemerintah telah bekerja dengan ekonomis,
efektif dan efisien. Selanjutnya dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang
Sistem Akuntabilitas Kerja Instansi Pemerintah dijelaskan bahwa sistem akuntabilitas
kinerja instansi pemerintah yang disingkat dengan SAKIP adalah rangkaian sistematik
dari berbagai aktivitas alat dan prosedur yang dirancang untuk penetapan dan
pengukuran, pengumpulan data, pengklasifikasian, pengikhtisaran dan pelaporan kinerja
pada instansi pemerintah dalam rangka pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja
instansi pemerintah. Sedangkan kinerja sendiri adalah keluaran/hasil dari
kegiatan/program yang telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan
kualitas dan kuantitas terukur. Peraturan Presiden ini merupakan peraturan terbaru dalam
sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang sebelumnya diatur dalam Intruksi
Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Penyelenggaraan SAKIP meliputi penetapan rencana strategis (Renstra), perjanjian kerja,
pengukuran kinerja, pelaporan kinerja dan review dan evaluasi kinerja. Penetapan
rencana strategis dilaksanakan setiap 5 tahun, bagi SKPD didaerah mengacu kepada
rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) yang merupakan program kerja kepala
daerah selama 5 tahun. Rencana Strategis memuat target yang akan dicapai selama 5
tahun yang dibagi dalam kegiatan tahunan yang disebut rencana kerja (Renja) SKPD.
Renstra memuat sasaran dan target yang parameter tertentu disebut dengan indikator
kinerja. Rencana kerja tahunan yang telah dituangkan dalam APBD, sebelum
dilaksanakan oleh SKPD, diawal tahun anggaran dibuat kontrak kerja antara kepala
daerah dengan kepala SKPD. Kontrak kerja yang disebut dengan penetapan target kinerja
(TARKIN), merupaakan dasar penilaian bagi kepala daerah terhadap kepala dinas. Setiap
akhir tahun anggaran masing-masing SKPD melakukan pengukuran terhadap kinerja.
Pengukuran dilakukan dengan membandingkan antara targer kinerja dengan
capaian/realisasi kegiatan dengan menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan
sebelumnya. Pengukuran ini selanjutnya dituangkan dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja
(LAKIP) yang nantinya akan disampaikan kepada kepala daerah untuk dilakukan
evaluasi. Selanjutnya kepala daerah menyusun LAKIP yang akan disampaikan kepada
pemerintah pusat.
8. Peningkatan kesejahteraan pegawai negeri (sesuai dengan porsi)
9. Peningkatan efisiensi belanja aparatur
3 aktor yang saling bekerjasama dalam bersaing dengan ASEAN Community