You are on page 1of 8

8

Farmakognosi Flos
Bunga (Flos)
Bunga atau kembang (bahasa Latin: flos) adalah alat reproduksi seksual pada tumbuhan
berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, "tumbuhan berbiji tertutup"). Pada bunga
terdapat organ reproduksi, yaitu benang sari dan putik.
Bunga dapat muncul secara tunggal maupun bersama-sama dalam satu rangkaian. Bunga yang
muncul secara bersama-sama disebut sebagai bunga majemuk atau inflorescence. Pada beberapa
spesies, bunga majemuk dapat dianggap awam sebagai bunga (tunggal), misalnya
pada Anthurium dan bunga matahari. Satuan bunga yang menyusun bunga majemuk
disebut floret.
Secara botani,
bunga
adalah
bagian
tanaman
untuk
menghasilkan biji. Penyerbukan dan pembuahan berlangsung pada bunga. Setelah pembuahan,
bunga akan berkembang lebih lanjut membentuk buah. Pada tumbuhan berbunga, buah adalah
struktur yang membawa dan melindungi biji.

Fungsi bunga
Fungsi biologi bunga adalah organ seksual, sebagai wadah menyatunya gamet jantan
(mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Bahwa bunga adalah analog
dengan organ seksual pada hewan baru disadari secara ilmiah pada abad ke-17 di Eropa.
Beberapa bunga memiliki warna yang cerah berfungsi sebagai pemikat hewan pembantu
penyerbukan. Beberapa bunga yang lain menghasilkan panas atau aroma yang khas, juga
bertujuan memikat hewan untuk membantu penyerbukan.
Bunga juga dapat dianggap sebagai organ untuk bertahan pada kondisi kurang menguntungkan
bagi pertumbuhan. Sejumlah tumbuhan akan segera membentuk bunga apabila mengalami
kekurangan air atau suhu rendah. Contoh yang paling dikenal adalah bunga kertas Bougainvillea.
Bunga mengurangi metabolisme dan apabila tumbuhan mati, biji diharapkan telah terbentuk
sebagai usaha sintasan (survival).
Manusia sejak lama terpikat oleh bunga, khususnya yang berwarna-warni sehingga memiliki
arti kultural. Bunga menjadi salah satu penentu nilai suatu tumbuhan sebagai tanaman hias.

Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah


Banjarmasin

Farmakognosi Flos
Morfologi bunga

Bagian-bagian bunga sempurna. 1. Bunga sempurna, 2. Kepala putik (stigma), 3. Tangkai putik
(stilus), 4. Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari), 5. Sumbu bunga (axis), 6. artikulasi,
7. Tangkai bunga (pedicel), 8.Kelenjar nektar, 9.Benang sari (stamen), 10. Bakal buah(ovum),
11. Bakal biji (ovulum), 12. , 13.Serbuk sari (pollen), 14. Kepala sari (anther), 15. Perhiasan
bunga (periantheum), 16. Mahkota bunga (corolla), 17. Kelopak bunga (calyx).
Bunga adalah daun dan batang di sekitarnya yang termodifikasi. Modifikasi ini disebabkan oleh
dihasilkannya sejumlahenzim yang dirangsang oleh sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan
bunga dengan ketat dikendalikan secaragenetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan
lingkungan tertentu, seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air (lihat
bagian Bunga:Pembentukan bunga).
Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai penciri
suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya: aktinomorf ("berbentuk
bintang", simetri radial) dan zigomorf (simetri cermin). Bentuk aktinomorf lebih banyak
dijumpai.

Tumbuhan Crateva religiosaberbunga sempurna: memiliki stamendan pistillum.


Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik)
secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga banci atau
Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah
Banjarmasin

Farmakognosi Flos
hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkapapabila memiliki semua bagian utama bunga.
Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:
Kelopak bunga atau calyx;
Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat
serangga yang membantu proses penyerbukan;
Alat kelamin jantan
berupa benang sari;

atau androecium (dari bahasa

Yunani andros

oikia: rumah

pria)

Alat kelamin betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: "rumah wanita")
berupa putik.
Organ reproduksi betina adalah daun buah atau carpellum yang pada pangkalnya terdapat bakal
buah (ovarium) dengan satu atau sejumlah bakal biji (ovulum, jamak ovula) yang membawa
gamet betina) di dalam kantung embrio. Pada ujung putik terdapat kepala
putik atau stigma untuk menerima serbuk sari atau pollen. Tangkai putik atau stylus berperan
sebagai jalan bagi pollen menuju bakal bakal buah.
Walaupun struktur bunga yang dideskripsikan di atas dikatakan sebagai struktur [[tumbuhan
yang "umum", spesies tumbuhan menunjukkan modifikasi yang sangat bervariasi. Modifikasi ini
digunakan botanis untuk membuat hubungan antara tumbuhan yang satu dengan yang lain.
Sebagai contoh, dua subkelas dari tanaman berbunga dibedakan dari jumlah organ bunganya:
tumbuhan dikotil umumnya mempunyai 4 atau 5 organ (atau kelipatan 4 atau 5) sedangkan
tumbuhan monokotilmemiliki tiga organ atau kelipatannya.

Bunga Anggrek / Orchid ( Orchidaceae )

Bunga Merak ( caesalpinia pulcherrima )

Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah


Banjarmasin

Farmakognosi Flos
Pembentukan bunga
Terbentuknya bunga sejak lama menjadi perhatian orang, karena banyak nilai ekonomi tanaman
budidaya bergantung pada pembentukan bunga. Bunga tidak akan terbentuk
sebelum jaringan tempat ia akan muncul telah mencapai tahap kematangan (maturity) tetapi
belum terlalu tua (senile).
Pada tumbuhan berbentuk pohon, jaringan yang baru terbentuk atau masih berkembang
(juvenile) akan sangat sulit membentuk bunga. Jaringan yang mencapai tahap kematangan sering
kali ditandai dengan nisbah karbon-nitrogen (nisbah C-N) yang tinggi. Kandungan karbon tinggi
karena telah banyak metabolit tertimbun dalam bentuk polisakarida dalam jaringan tersebut.
Pembentukan bunga memerlukan energi yang besar.
Nisbah C-N yang tinggi biasanya cukup sebagai pendorong terbentuknya bunga. Namun, banyak
ditemukan jenis-jenis tumbuhan yang memerlukan pemicu agar bunga muncul. Pemicu ini dapat
berupa suhu rendah selama beberapa waktu (vernalisasi), panjang (durasi) penyinaran
(fotoperiodisme), dan kekurangan air (kekeringan). Gandum roti tipe winter (musim dingin,
karena ditanam menjelang musim dingin) tidak akan berbunga jika tidak mengalami musim
dingin dalam tahappertumbuhan dan perkembangannya. Anggrek merpati memunculkan bunga
apabila mengalami malam yang dingin. Berbagai kultivar yute bersifat fotoperiodik sehingga
waktu tanam sangat vital dalam menentukan hasil panen. Tanaman kopi dikenal memerlukan
periode kering sekitar dua bulan dan diikuti oleh hujan secukupnya untuk memicu terbentuknya
bunga.
Kajian yang dilakukan pada Arabidopsis thaliana, suatu tumbuhan model, menunjukkan
bekerjanya Teori ABC dalam pembentukan bunga. Substansi A diperlukan untuk membentuk
daun kelopak (sepal) dan daun mahkota (petal). Substansi B diperlukan dalam pembentukan
daun mahkota dan benang sari (stamen). Substansi C diperlukan untuk terbentuknya benang sari
dan daun buah (carpellum, sebagai penyusun putik).

Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah


Banjarmasin

Farmakognosi Flos
Proses Pembuatan Simplisia
Waktu Panen
Panen merupakan salah satu rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. Waktu,
cara pemanenan dan penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat
menen-tukan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan
penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu kua-litas dan kuantitas.
Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan cara panen yang berbeda. Tanaman yang dipanen
buahnya memiliki waktu dan cara panen yang berbeda dengan tanaman yang dipanen berupa biji,
rimpang, daun, kulit dan batang. Begitu juga tanaman yang mengalami stres lingkungan akan
memiliki waktu panen yang ber-beda meskipun jenis tanamannya sama. Berikut ini diuraikan
saat panen yang tepat untuk beberapa jenis tanaman obat.
Bunga digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik dalam bentuk segar maupun kering.
Bunga yang digunakan dalam bentuk segar, pemanenan dilakukan pada saat bunga kuncup atau
setelah per-tumbuhannya maksimal. Berbeda dengan bunga yang digunakan dalam bentuk
kering, pemanenan dilakukan pada saat bunga sedang mekar. Seperti bunga piretrum, bunga
yang dipanen dalam keadaan masih kuncup menghasilkan kadar piretrin yang lebih tinggi
dibandingkan dengan bunga yang sudah mekar.

Alamanda

Teratai (Nelumbo Nucifera)

Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah


Banjarmasin

Farmakognosi Flos
Secara umum cara membuatnya sebagai berikut:
Tumbuhan/tanaman (atau bagiannya, misal daun, batang, bunga, kelopak bunga, dll.) yang telah
masuk usia panen dikumpulkan dengan cara dipetik atau dengan menggunakan gunting tanaman.
Pengumpulan bahan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08-12 (siang).
Bahan yang telah dikumpulkan kemudian dicuci dengan air bersih yang mengalir untuk
membersihkan tanah atau pengotor lainnya, kemudian ditiriskan.
Siapkan kertas koran bekas secukupnya sesuai banyaknya bahan yang dikumpulkan dan
hamparkan di tempat terbuka. Hindari paparan sinar matahari secara langsung, kecuali untuk
pengeringan bahan yang keras seperti kayu. Kertas koran yang digunakan cukup 1 (satu) lapisan
saja.
Untuk bahan rimpang, batang, akar, kayu (rhizome, cauli, radix, lignum) perlu dilakukan
perajangan untuk mempercepat proses pengeringan. Untuk bahan yang mengandung minyak
atsiri, perajangan tidak boleh terlalu tipis.
Bahan dihamparkan di atas kertas koran yang telah disiapkan sebelumnya. Usahakan agar
hamparan bahan tersebut tidak tebal supaya mudah kering.
Proses pengeringan dapat berlangsung sekitar 3-4 hari bila cuaca cerah, namun dapat
berlangsung hingga 7-10 hari bila cuaca agak mendung. Lamanya proses pengeringan juga
tergantung dari bahan yang dikeringkan. Misal, pengeringan bahan daun (folium) akan lebih
cepat dibanding bahan rimpang (rhizome).
Proses pengeringan bahan telah cukup bila kadar air dari bahan sudah mencapai sekitar 10%.
Setelah kering, bahan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam plastik yang kedap udara.
Penyimpanan simplisia dengan cara seperti ini dapat menjaga kualitas simplisia hingga 1 tahun
atau lebih.

DASAR PEMBUATAN SIMPLISIA


a. Simplisia dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini dilakukan dengan pengeringan cepat, tetapi dengan suhu
yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang terlalu lama akan mengakibatkan simplisia yang
diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan dengan suhu yang tinggi akan mengakibatkan
perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut, untuk
simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur panjang perajangannya, sehingga diperoleh
tebal irisan yang pada pengeringan tidak mengalami kerusakan.
Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah
Banjarmasin

Farmakognosi Flos
b. Simplisia dibuat dengan fermentasi.
Proses fermentasi dilakukan dengan seksama, agar proses tersebut tidak berkelanjutan kearah
yang tidak diinginkan.
c.

Simplisia dibuat dengan proses khusus.

Pembuatan simplisia dengan penyulingan, pengentalan eksudat nabati, penyaringan sari air dan
proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa pada simplisia yang
dihasilkan harus memiliki mutu sesuai dengan persyaratan.
d. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air.
Pati, talk dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang digunakan harus
terbebas dari pencemaran serangga, kuman patogen, logam berat dan lain-lain.

Cara-cara menanam bunga di lahan terbuka dan dalam pot tidak jauh berbeda, yang perlu
diperhatikan adalah untuk penanaman dalam pot, dasar pot perlu dimasukkan pecahan batu bata
atau genteng merah, atau ijuk sebagai pengikat air dan memberikan rongga udara bagi
pernapasan akar.
Dengan pemilihan media tanam yang baik, lalu gali lubang pada media tanam dan masukkan
tanaman serta padatkan batang dengan tanah di sekelilingnya. Untuk media pot, usahakan agar
tanah tidak sampai pada bibir pot, atau sisakan 2 cm.
Lakukan penyiraman yang baik yaitu pada pagi dan sore hari. Penyiraman lebih baik
menggunakan semprotan sehingga tanaman dapat tersiram secara merata. Yang disiram adalah
akar atau media tanam, dan jangan terkena daun dan bunga agar tidak mudah layu.
Pastikan tanaman bunga mendapat cahaya matahari yang cukup, dan bagi bunga dalam pot
dalam ruangan sebaiknya dikeluarkan selama 2-3 jam untuk menyerap sinar matahari dan
kemudian masukkan kembali.
Agar tidak mudah layu, tanaman bunga juga perlu diberi semprotan pestisida atau suntikan anti
hama sehingga tidak diganggu hama atau lainnya.
Lakukan pemangkasan menggunakan gunting pada daun tua dan batang kering agar tanaman
dapat terus tumbuh subur.
Jika anda ingin memetik bunga, maka gunakan gunting sehingga bunga tidak mudah layu.

Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah


Banjarmasin

Farmakognosi Flos

Bunga Sakura/Cherry Blossom ( Rosaceae ) Bunga Matahari / Sunflower( Helianthus annus )

Kembang sepatu ( Hibiscus rosa-sinensis)

Bunga Kertas (Bougainvillea spectabilis)

Kelompok 12 Semester III A D3 Farmasi Stikes Muhammadiyah


Banjarmasin