You are on page 1of 18

Overhaul Hydraulic circuit Excavator

I.TECHNICAL TERMINOLOGI
1.Circuit Open Centre
Flow dicharge pump akan dikembalikan ke tank pada saat control valve posisi netral, sehingga
pressure pump cenderung kecil (pada unit yang menggunakan type variable piston pump, sudut
pump akan dperkecil sehingga flow discharge pump juga kecil.)
2.Circuit Close Centre
Flow dicharge pump tidak dikembalikan ke tank pada saat control valve posisi netral, sehingga
selalu standby pressure, besar pressure dibatasi dengan suatu relief valve (pilot circuit) atau
unloader valve (main circuit), sehingga pergerakan attachment responsive sesuai gerakan PPC
valve.
3.Stand by Pressure
Karena flow dicharge pump tidak dikembalikan ke tank pada saat control valve posisi netral,
sehingga pressure akan terjadi, untuk mengatur besar pressure dibatasi oleh relief valve (pilot
circuit) atau unloader valve (main circuit)
4.Pressurized Tank
Hydraulic tank yang breathernya menggunakan pressure valve (+ vaccum vaccum), sehingga
pressure dalam tank dipertahankan pada cracking pressure (nilai tension spring pressure valve),
dengan tujuan membantu kerja pump untuk mencegah terjadinya cavitasi
5.Hydraulic Lock
Suatu valve (spool) tidak bisa bergerak (jammed) karena adanya pressure yang bekerja atau
menekan valve secara tidak merata, sehingga terjadi kecenderungan valve ditekan hanya pada
satu sisi. Untuk mencegah terjadinya hydraulic lock, maka pada spool atau valve dibuatkan alur
melingkar (groove).
6.Hydraulic Relief Losses
Kehilangan tenaga engine pada saat relief pressure tercapai, sedangkan flow discharge pump
masih besar. Untuk mencegah hal tsb maka sudut pump diperkecil (CUT-OFF).
7.Setting Pressure of Relief Valve
Hasil pembacaan pressure gauge pada saat control valve (PPC valve) digerakkan, sedangkan
actuator (hydraulic cylinder atau motor) tidak bergerak. Setting pressure besarnya bervariasi
sesuai dengan Flow discharge pump (setting pressure saat low idle akan lebih kecil dibanding
saat high idle atau adanya perbedaan sudut pump)
8.Cracking Pressure of Relief Valve
Besarnya pressure pada saat awal valve mulai terbuka, yang nilai pressurenya diatas nilai tension
springnya. Cracking pressure akan berubah hanya pada saat dilakukan adjustment.
9.Pick Up Pressure
Plug atau coupler untuk memasang pressure gauge (hose adapter) saat measurement.
10.Flow Rate
Besar max flow discharge pump dalam satuan liter per menit.
11.Back Pressure
Pressure dalam system yang terjadi karena adanya resistance atau orifice

12.Fixed Displacement Pump


Type pump yang flow dischargenya selalu konstan atau tetap (pada putaran pump yang tetap)
13.Variable Displacement Pump
Type pump yang flow dischargenya dapat berubah sesuai sudut pump (pada putaran pump yang
tetap)
14.Axial Piston Pump
Piston pump yang pergerakan pistonnya searah dengan sumbu
15.Swash Plate
Suatu mekanisme yang digunakan untuk mengatur dan merubah sudut piston pump
16.Axial pistol Pump.bend axis
Type piston pump yang sudut pumpnya terbentuk karena drive shaft dengan cylinder barrel shaft
tidak segaris, hal ini dapat dilihat dari bentuk housingnya yang bengkok.
17.5/4 Spool Control Valve
Suatu system spool control valve yang mempunyai 5 port dengan 4 posisi pergerakan spool.
18.Groove
Untuk mencegah terjadinya hydraulic lock, maka pada spool dibuatkan alur melingkar (groove).
Agar valve (spool) bisa bergerak karena pressure akan bekerja atau menekan sekeliling spool
dan memposisikan spool ditengah (segaris dengan sumbu).
19.Directional Control Valve
Suatu valve yang berfungsi untuk mengarahkan aliran oli ke actuator, sehingga attachment dapat
bergerak sesuai yang diinginkan.
20.Flow Control Valve
Suatu valve yang berfungsi untuk mengatur jumlah (quantity) aliran yang diperlukan oleh suatu
system.
21. Pressure Control Valve
Suatu valve yang berfungsi untuk membatasi pressure maksimal dalam suatu system.
22.Free Length of spring
Ukuran panjang spring pada kondisi bebas, tidak terpasang.
23.Installed Length of Spring
Ukuran panjang spring pada kondisi terpasang atau saat dibebani dengan beban tertentu.
24.Installed Load of spring
Besar beban tertentu yang diberikan pada spring, yang besar bebannya sebanding dengan beban
saat pemasangan spring.
25.Main Spool Valve
Spool yang dipasang dalam housing control valve dan berfungsi sebagai directional valve. Main
spool digerakkan oleh pilot pressure pada kedua sisinya.
26.Aeration
Masuknya udara kedalam system saat melakukan pekerjaan repair, assembling atau mounting
komponen hydraulic, sehingga dapat menimbulkan cavitasi, untuk mencegahnya harus dilakukan
Air bleeding.
27.Hydraulic Cushion Cylinder

Suatu mekanisme valve yang dipasang pada sisi head dan atau sisi bottom cylinder hydraulic,
yang berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan antara rod atau piston dengan cylinder
housing, pada saat rod atau piston mendekati akhir langkah.
28.Hydraulic Circuit parallel
Control valve dengan sistem pembagian flow oli yang merata, sehingga beberapa actuator dapat
digerakkan secara bersamaan.
30.Hydraulic Circuit Tandem
Control valve dengan sistem pembagian flow oli lebih prioritas pada spool (actuator) pertama,
sehingga untuk dapat menggerakkan actuator kedua, spool pertama harus diposisikan netral.
31.Coating material
Bahan yang dioleskan ke komponen sebagai pelapis untuk mencegah kebocoran, perekat, anti
karat, dsb, (Adhessive, gasket sealant, lubricant, grease) contoh : Loctite, dsb.
32.Press fit
Suaian sesak
33.Bending
Kebengkokan rod cylinder yang biasanya disebabkan accident, benturan atau beban dari luar.
Sedangkan untuk yang double cylinder, faktor bending cenderung lebih besar, terutama yang
menggunakan independent link (link terpisah antar cylinder), karena saat salah satu cylinder
bekerja tidak normal, maka akan menimbulkan torsional force. (Komatsu Excavator series).
34. Piting
Kerusakan pada permukaan komponen berupa bopeng, yang disebabkan cavitasi (udara terjebak
dalam fluida)
35.Shringking fit
Metode yang digunakan untuk memasang komponen press fit.
36.Flatness
Kerataan permukaan suatu komponen
37.Roudness
Kebulatan suatu shaft yang ditentukan oleh pengukuran X Y pada penampang melintang.
38.Scratch
Kerusakan pada permukaan komponen berupa baret atau goresan yang biasanya memanjang
yang disebabkan gesekan yang berlebihan atau ada material asing yang terjepit diantara dua
komponen yang bergerak.
39.Chipping
Kerusakan pada permukaan komponen yang disebabkan benturan yang keras sehingga rompal.
40.Marking
Pemberian tanda pada komponen untuk mempermudah pemasangan kembali sehingga mencegah
salah pemasangan serta menghindarkan pekerjaan berulang.
41.Crack
Kerusakan pada komponen berupa keretakan yang disebabkan material fatique, overload,
overheat, benturan, dsb.
42.Standard size

Ukuran akhir dari suatu komponen yang masih baru atau yang sudah direpair
43.Repair limit
Batas ukuran dari suatu komponen yang mengalami perubahan ukuran karena keausan, jika telah
mencapai repair limit, maka komponen harus diganti agar komponen masih dapat direpair.
44.Tolerance
Batas penyimpangan atau perbedaan ukuran yang diijinkan dari ukuran yang direncanakan, dan
tolerance dituliskan berupa angka kecil dibelakang angka Nominal
45.Standard clearance (standard range)
Celah bebas atau kerenggangan antara dua komponen, sesuai dengan besar tolerancenya, sehinga
nilai standard clearance bervariasi dalam range minimal dan maksimal.
46.Flushing
Membersihkan kandungan material asing atau kontaminan di dalam sistem (fluida)
47.Air Bleeding
Melakukan pembuangan angin yang terjebak dalam cylinder, motor, pump dan komponen
lainnya setelah penggantian ataupun pelepasan, sehingga tidak terjadi cavitasi pada komponen
dan pergerakan work equipment tidak tersendat sendat.
II.STRUCTURE & FUNCTION
1.PPC Valve
Suatu komponen atau valve yang terletak dikabin dan bekerja secara manual dengan
mengoperasikan joystick atau pedal. Untuk Attachment PPC valve terdiri dari 4 independent set
valve dan 6 port, sedangkan Clamp & Travel PPC valve terdiri dari 2 independent set valve dan 4
port. Saat joystick dioperasikan, pressure dari servo pump [40 bar] akan dialirkan sebagai pilot
pressure penggerak spool control valve, besarnya pressure output sesuai dengan sudut
pergerakan joystick, sehingga actuator dapat digerakkan sesuai keinginan operator.
2.Retarder travel valve
Retarder travel valve dipasang menjadi satu dengan travel control valve (RH&LH), dan didalam
circuit terpasang diantara travel control valve dan travel motor. Valve ini bekerja berdasarkan
perbedaan pressure antara port MA dan MB sehingga motor dapat berputar sesuai dengan
quantity oli suplaynya, dan juga berfungsi sebagai brake valve saat unit travel pada jalan
menurun, kecepatan motor menjadi lebih cepat karena factor percepatan berat unit, sehingga
terjadi penurunan pressure pada sisi suplaynya yang justru menyebabkan travel retarder valve
kembali ke posisi netral untuk memperkecil jalur yang kembali ke tank, akibatnya timbul back
pressure yang akan menahan putaran motor, dengan demikian kecepatan travel secara otomatis
dikurangi dan mencegah terjadinya kevakuman pada motor.
3.Rotary joint
Suatu komponen yang dipasang pada upper structure yang terdiri housing cylinder dan shaft,
yang mempunyai 7 port. Housing diikat dengan upper structure dan shaft diikat pada lower
structure, sehingga flow oli dari upper structure dapat menuju ke lower structure dan sebaliknya.
4.Anti cavitations valve
Check valve yang dipasang circuit cylinder yang berfungsi untuk mencegah terjadinya
kevakuman pada saat terjadi beban dari luar sedangkan control valve posisi netral dan secondary
valve bekerja maka cylinder akan bergerak,
5.Primary Valve

Suatu valve type pilot poppet yang dipasang HPF block yang berfungsi untuk membatasi
pressure maksimum dalam circuit system pada saat control valve digerakkan sedangkan actuator
tidak bergerak.
6.Secondary Valve
Suatu valve type pilot poppet yang dipasang control valve block dan dalam circuit dipasang
diantara spool control valve dan actuator, dan berfungsi untuk membatasi pressure maksimum
dalam circuit actuator saat mendapat beban dari luar.
7.Load holding valve
Check valve yang dipasang dalam circuit antara pump dan spool CV (actuator), dan berfungsi
untuk mencegah terjadinya hydraulic drift, sesaat control valve digerakkan kembali sedangkan
pada circuit actuator terjadi holding pressure (pressure yang terjadi karena berat attachment).
8.Shuttle Valve
Suatu component yang mempunyai 2 port input dengan 1 port output, perbedaan pressure pada
kedua sisi input akan menggerakkan valve dan menutup port pressure yang lebih rendah dan
membuka port pressure yang lebih tinggi menuju port outputnya.Jika pressure port input sama ,
maka valve berada pada posisi ditengah dan dapat mengalirkan kedua pressure input menuju ke
port output.
9.Boom Float valve
Suatu komponen yang dipasang pada circuit Boom cylinder diantara sisi bottom dan sisi head
yang berfungsi untuk mengalirkan oli dari sisi bottom ke sisi head pada saat boom Lower,
sehingga pada dasarnya attachment bergerak turun berdasarkan beratnya sendiri dan flow oli dari
pump tidak digunakan, kondisi tersebut saat switch boom float posisi OFF.
10.Arm / Stick Float
Suatu komponen yang dipasang pada circuit Arm cylinder diantara sisi bottom dan sisi head yang
berfungsi untuk mengalirkan oli dari sisi bottom ke sisi head pada saat Stick IN, sehingga pada
dasarnya rod cylinder bergerak masuk berdasarkan beratnya sendiri dan flow oli dari pump tidak
digunakan, kondisi tersebut saat switch Stick float posisi OFF.
11.Accumulator
Sebuah tabung yang berisi gas nitrogen dalam bladder dengan pressure + 24 bar, dipasang dalam
circuit antara servo pump dan PPC valve. Sifat gas nitrogen yang mampu menerima dan
menyimpan pressure dengan perubahan volumenya tanpa terjadi kenaikan temperature, sehingga
saat servo pump tidak bekerja (engine mati), pressure 40 bar masih terjaga dan dapat digunakan
untuk menggerakkan spool control valve, untuk menurunkan attachment berdasarkan beratnya
sendiri.
12.Thermo pressure valve
Suatu valve yang bekerja berdasarkan perubahan temperature, dan dipasang dalam circuit
hydraulic dan radiator diantara cooling pump dan cooling fan motor, yang berfungsi untuk
mengatur flow oli yang menuju ke motor untuk mengatur kecepatan putar motor. Dengan
demikian temperature oli dapat dipertahankan pada range 55o-70oC dan temperature air
radiator : 87o-97oC.
13.Blocking valve
Dua buah valve yang dipasang dalam circuit swing diantara swing pump dan swing motor, yang
akan menutup jalur ke swing pump saat hanya satu engine yang hidu


Tagged as: hydraulic Comments Off
21Jul/101

HYDRAULIC CYLINDER

Overhaul Hydraulic Cylinder


I.TECHNICAL TERMINOLOGI
1. Cylinder data marking
Tanda yang ditempel atau distempel pada cylinder oleh factory yang menunjukkan data
spesifikasi atau serial number.
2.Bending
Kebengkokan rod cylinder yang biasanya disebabkan accident, benturan atau beban dari luar.
Sedangkan untuk yang double cylinder, faktor bending cenderung lebih besar, terutama yang
menggunakan independent link (link terpisah antar cylinder), karena saat salah satu cylinder
bekerja tidak normal, maka akan menimbulkan torsional force. (Komats Excavator series).
3.Scratch
Kerusakan berupa goresan atau baret yang biasanya memanjang yang terjadi pada permukaan
rod atau housing cylinder akibat adanya benda asing (gram logam) yang terjepit diantara kontak
piston dan housing cylinder, atau rod cylinder dengan cylinder head.
4.Pitting
Kerusakan berupa bopeng yang biasanya terjadi pada permukaan housing cylinder yang terjadi
karena cavitasi (ada udara yang terjebak didalam sistem) akibat air bleeding kurang sempurna.
II.STRUCTURE & FUNCTION
1. Piston rod
Rod terletak didalam cylinder housing dan sebagai dudukan piston, saat pressure oli bekerja pada
salah satu sisinya (head atau bottom), maka akan timbul gaya untuk menggerakkan rod keluar
atau masuk ke housing cylinder.
2.Rod eye bushing
Berbentuk spherical bearing (120 C) atau bushing (120 E), pada spherical bearing, outer racenya
duduk di yoke (ujung rod), sedangkan inner racenya sebagai dudukan pin, sehingga pergerakan
rod bisa lebih fleksibel untuk mengurangi torsional force.
3. Piston
Dipasang pada rod dan sebagai dudukan seal piston, sehingga kontak terhadap cylinder bisa lebih
rapat untuk mengurangi kebocoran. Piston mempunyai luas bidang penerimaan pressure oli
(pressure recieving area), dimana pada sisi bottom, luas penampangnya lebih besar daripada sisi
head. Saat pressure oli bekerja pada salah satu sisinya (head atau bottom), maka akan timbul
gaya untuk menggerakkan rod keluar atau masuk ke housing cylinder.
4.Hydraulic tube (piping)
Berbentuk pipa besi sebagai pengubung saluran aliran oli, dan dipasang pada lokasi yang tidak
terjadi gerakan.
5.Foot eye bushing

Berbentuk spherical bearing (120 C) atau bushing (120 E), pada spherical bearing, outer racenya
duduk di housing cylinder (sisi bottom), sedangkan inner racenya sebagai dudukan pin, sehingga
pergerakan housing bisa lebih fleksibel untuk mengurangi torsional force.
6.Back-up ring
Biasanya berwarna putih dan terbuat dari plastik, dipasang disebelah O-ring pada sisi yang
berlawanan dengan arah pressure, yang berfungsi untuk mengurangi kebocoran oli.
7.Wear Ring
Dipasang pada diameter luar piston, sebagai bidang kontak terhadap cylinder, sehingga
pergerakan rod terhadap cylinder bisa lurus. Wear ring terbuat dari material semacam teflon dan
cast iron, sehingga saat bergesekan dengan cylinder, wear ring yang akan mengalami keausan
(sesuai dengan namanya).
iii.TROUBLESHOOTING
1.Hydraulic drift out of standart
Testing : lihat s/m dengan standartnya.
Caused : Seal piston & Spool Control valve aus berlebihan (internal leakage terlalu besar)
2.Cylinder oil leakage
Caused :
1. Seal dust rusak, sehingga kotoran dapat masuk dan merusak seal cylinder head.
2.Susunan pemasangan seal dan O-ring terbalik, atau seal terpasang terbalik, Lips seal
menghadap berlawanan arah pressure.
3.Clearance antara rod dengan bushing atau wear ring cylinder head terlalu besar, sehingga seal
menerima beban gesek akibatnya mudah aus atau robek.
3. Cylinder tersendat sendat
Caused :
Air bleeding tidak sempurna yang pada intinya ada udara terjebak didalam cylinder (sempat
terjadi kevakuman)

Tagged as: hydraulic 1 Comment


20Jul/100

HYDRAULIC EXCAVATOR

Overhaul Hydraulic System Excavator


I.TECHNICAL TERMINOLOGI
1.Circuit Open Centre (OLSS- Open center Load Sensing System)
Flow dicharge pump akan dikembalikan ke tank pada saat control valve posisi netral, sehingga
pressure pump cenderung kecil (pada unit yang menggunakan type variable piston pump, sudut
pump akan dperkecil sehingga flow discharge pump juga kecil.)
2.Circuit Close Centre
Flow dicharge pump tidak dikembalikan ke tank spool pada saat control valve posisi netral,
sehingga selalu terdapat standby pressure dan agar tidak terjadi kenaikan pressure yang
berlebihan maka oli akan dibebaskan melalui relief valve (pilot circuit) atau unloader valve

(main circuit) untuk membatasi besarnya pressure. Dengan adanya standby pressure maka
pergerakan attachment responsive sesuai gerakan PPC valve atau lever control.
3.Stand by Pressure
Karena flow dicharge pump tidak dikembalikan ke tank pada saat control valve posisi netral,
sehingga pressure akan terjadi, untuk mengatur besar pressure dibatasi oleh relief valve (pilot
circuit) atau unloader valve (main circuit). Dengan adanya standby pressure maka pergerakan
actuator responsive sesuai pergerakan lever control.
4.Pressurized Tank
Hydraulic tank yang breathernya menggunakan pressure valve (+ vaccum vaccum), sehingga
pressure dalam tank dipertahankan pada cracking pressure (nilai tension spring pressure valve),
dengan tujuan membantu kerja pump untuk mencegah terjadinya cavitasi.
5.Hydraulic Lock
Suatu valve (spool) tidak bisa bergerak (jammed) karena adanya pressure yang bekerja atau
menekan valve secara tidak merata, sehingga terjadi kecenderungan valve ditekan hanya pada
satu sisi. Untuk mencegah terjadinya hydraulic lock, maka pada spool atau valve dibuatkan alur
melingkar atau Groove.
6.Hydraulic Relief Losses
Kehilangan tenaga engine pada saat relief pressure tercapai, sedangkan flow discharge pump
masih besar. Saat relief pressure tercapai, attachment sudah tidak dapat bergerak, sehingga akan
terjadi kerugian, jika pump masih menghasilkan flow yang besar dan kelebihan flow oli akan
dibebaskan melalui relief valve, sehingga dapat menyebabkan overheat. Sehingga untuk
mencegah hal tersebut maka sudut pump diperkecil dengan fungsi CUT-OFF.
7.Setting Pressure of Relief Valve
Hasil pembacaan pressure gauge pada saat control valve (PPC valve) digerakkan, sedangkan
actuator (hydraulic cylinder atau motor) tidak bergerak. Besarnya Setting pressure bervariasi
sesuai dengan Flow discharge pump (setting pressure saat low idle akan lebih kecil dibanding
saat high idle atau adanya perbedaan sudut pump)
8.Cracking Pressure of Relief Valve
Besarnya pressure pada saat awal valve mulai terbuka, yang nilai pressurenya diatas nilai tension
springnya. Cracking pressure akan berubah hanya pada saat dilakukan adjustment.
9.Pick Up Pressure
Plug atau coupler untuk memasang pressure gauge (hose adapter) saat measurement.
10.Flow Rate
Besar max flow discharge pump dalam satuan liter per menit.
11.Back Pressure
Pressure dalam system yang terjadi karena adanya resistance atau orifice.
12.Fixed Displacement Pump
Type pump dimana satu putaran shaft pump menghasilkan flow discharge yang konstan atau
tidak dapat berubah.
13.Variable Displacement Pump
Type pump dimana satu putaran shaft pump menghasilkan flow discharge yang dapat berubah
sesuai sudut pump.

14.Axial Piston Pump


Piston pump yang pergerakan pistonnya searah dengan sumbu, Tipe ini banyak digunakan karena
selain mampu bekerja pada pressure tinggi, juga konstruksinya lebih sederhana dibandingkan
Radial piston pump yang memerlukan mekanisme inlet-outlet valve.
15.Swash Plate
Suatu mekanisme yang digunakan untuk mengatur dan merubah sudut piston pump, swash plate
digerakkan oleh servo piston yang diatur servo valve.
16.Axial pistol Pump.bend axis
Type piston pump yang sudut pumpnya terbentuk karena drive shaft dengan cylinder barrel shaft
tidak segaris, hal ini dapat dilihat dari bentuk housingnya yang bengkok. Karena torsional force
yang terjadi pada shaft pump relative besar sehingga bearing yang digunakan sebagai tumpuan
shaft, jumlahnya lebih banyak dan ukurannya besar, jika disbanding yang digunakan pada axial
piston pump swash plate.
17.5/4 Spool Control Valve
Suatu system spool control valve yang mempunyai 5 port yang terdiri : port Inlet Bypass, Inlet
standby, Outlet bypass (tank) dan 2 port Outlet-Inlet actuator, spool dapat digerakkan pada 4
posisi pergerakan spool, misal Raise, Hold, Float dan Lower.
18.Groove
Untuk mencegah terjadinya hydraulic lock, maka pada spool dibuatkan alur melingkar (groove).
Agar valve (spool) bisa bergerak karena pressure akan bekerja atau menekan sekeliling spool
sehingga memposisikan spool ditengah (segaris dengan sumbu).
19.Directional Control Valve
Suatu valve yang berfungsi untuk mengarahkan aliran oli ke actuator, sehingga attachment dapat
bergerak sesuai yang diinginkan.
20.Flow Control Valve
Suatu valve yang berfungsi untuk mengatur jumlah (quantity) aliran yang diperlukan oleh suatu
system (actuator- attachment)
21. Pressure Control Valve
Suatu valve yang berfungsi untuk membatasi pressure maksimal dalam suatu system.
22.Free Length of spring
Ukuran panjang spring pada kondisi bebas, tidak terpasang.
23.Installed Length of Spring
Ukuran panjang spring pada kondisi terpasang atau saat dibebani dengan beban tertentu.
24.Installed Load of spring
Besar beban tertentu yang diberikan pada spring, yang besar bebannya sebanding dengan beban
saat pemasangan spring.
25.Main Spool Valve
Spool yang dipasang dalam housing control valve dan berfungsi sebagai directional valve. Main
spool digerakkan oleh pilot pressure pada kedua sisinya. Pada spool terdapat Groove untuk
mencegah terjadinya hydraulic lock dan Notch (coakan pada bidang bukaan) yang berfungsi
untuk mendapatkan efek Fine Control saat pergerakan spool dan flow oli, sehingga actuator
(attachment) dapat digerakkan dengan smooth.

26.Aeration
Masuknya udara kedalam system saat melakukan pekerjaan repair, assembling atau mounting
komponen hydraulic, sehingga dapat menimbulkan cavitasi, untuk menghilangkan udara yang
terjebak harus dilakukan Air bleeding.
27.Hydraulic Cushion Cylinder
Suatu mekanisme cushion yang dipasang pada sisi head dan atau sisi bottom cylinder hydraulic,
yang berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan antara rod piston dengan cylinder housing,
pada saat rod piston mendekati akhir langkah (end stroke) dengan cara menjebak oli dan
membebaskannya secara bertahap.
28.Hydraulic Circuit parallel
Control valve dengan sistem pembagian flow oli yang merata, sehingga beberapa actuator dapat
digerakkan secara bersamaan. Sehingga diperlukan flow discharge yang relative besar untuk
dapat menggerakkan semua attachment secara bersamaan.
30.Hydraulic Circuit Tandem
Control valve dengan sistem pembagian flow oli lebih prioritas pada spool (actuator) pertama,
sehingga untuk dapat menggerakkan actuator kedua, spool pertama harus diposisikan netral.
Contoh : sirkuit hydraulic pada Wheel loader- 1st spool ; bucket, 2nd spool : lift
31.Coating material
Bahan yang dioleskan ke komponen sebagai pelapis untuk mencegah kebocoran, perekat, anti
karat, dsb, (Adhessive, gasket sealant, lubricant, grease) contoh : Loctite, dsb.
32.Press fit
Suaian sesak
33.Bending
Kebengkokan rod cylinder yang biasanya disebabkan accident, benturan atau beban dari luar.
Sedangkan untuk yang double cylinder, faktor bending cenderung lebih besar, terutama yang
menggunakan independent link (link terpisah antar cylinder), karena saat salah satu cylinder
bekerja tidak normal, maka akan menimbulkan torsional force.
34. Pitting
Kerusakan pada permukaan komponen berupa bopeng, yang disebabkan cavitasi (udara terjebak
dalam fluida)
35.Shringking fit
Metode yang digunakan untuk memasang komponen press fit, dengan cara menyusutkan atau
memuaikan komponen yang akan dipasang. Contoh: bushing disusutkan, bearing dimuaikan.
36.Flatness
Kerataan permukaan suatu komponen.
37.Roudness
Kebulatan suatu shaft yang ditentukan oleh pengukuran X Y pada penampang melintang.
38.Scratch
Kerusakan pada permukaan komponen berupa baret atau goresan yang biasanya memanjang
yang disebabkan gesekan yang berlebihan atau ada material asing yang terjepit diantara dua
komponen yang bergerak.
39.Chipping

Kerusakan pada permukaan komponen yang disebabkan benturan yang keras sehingga rompal.
40.Marking
Pemberian tanda pada komponen untuk mempermudah pemasangan kembali sehingga mencegah
salah pemasangan serta menghindarkan pekerjaan berulang.
41.Crack
Kerusakan pada komponen berupa keretakan yang disebabkan material fatique, overload,
overheat, benturan, dsb.
42.Standard size
Ukuran akhir dari suatu komponen yang masih baru atau yang sudah direpair
43.Repair limit
Batas ukuran dari suatu komponen yang mengalami perubahan ukuran karena keausan, jika telah
mencapai repair limit, komponen harus diganti agar komponen masih dapat direpair.
44.Tolerance
Batas penyimpangan atau perbedaan ukuran yang diijinkan dari ukuran yang direncanakan, dan
tolerance dituliskan berupa angka kecil dibelakang angka Nominal
45.Standard clearance (standard range)
Celah bebas atau kerenggangan antara dua komponen, sesuai dengan besar tolerancenya, sehinga
nilai standard clearance bervariasi dalam range minimal dan maksimal.
46.Flushing
Membersihkan kandungan material asing atau kontaminan di dalam sistem (fluida).
47.Air Bleeding
Melakukan pembuangan angin yang terjebak dalam cylinder, motor, pump dan komponen
lainnya setelah penggantian ataupun pelepasan, sehingga tidak terjadi cavitasi pada komponen
dan pergerakan work equipment tidak tersendat sendat.
48.EPC valve (Electronic Proportional Control)
Variable Solenoid yang bekerja berdasarkan arus perintah (listrik) untuk menggerakkan hydraulic
valve sehingga output pressurenya bervariasi sesuai (proportional) dengan besarnya arus perintah
yang mengalir menuju solenoid.
49.2 Stage relief valve
Relief valve yang mempunyai 2 tingkat setting pressure (1st = 320 kg/cm2, 2nd = 350kg/cm2),
yang bertujuan untuk meningkatkan tenaga (power) attachment. Prinsip kerja 2 stage relief valve
adalah memperkuat tension spring main relief dengan mekanisme piston yang digerakkan oleh
pilot pressure. Agar speed attachment tetap dapat dipertahankan maka sudut pump akan
dipertahankan dengan menCancel CO valve.
50.Cranking of screw piston cylinder
No reference
51.Backlash
Internal leakage pada gear pump yang terjadi pada bidang kontak teeth drive dan driven gear.
52.Top Clearance
Internal leakage pada gear pump yang disebabkan keausan yang terjadi pada bagian atas hosuing
sisi suction yang disebabkan adanya gaya tekan terhadap gear karena pressure pada sisi discharge
dan untuk mengurangi internal leakage tersebut, maka dipasang Side plate yang akan

memanfaatkan sebagian pressure discharge pump untuk dialirkan menuju sisi suction melalui Vgroove sebagai balancing pressure.
53.Side Clearence
Internal leakage pada gear pump yang disebabkan keausan yang terjadi pada sisi samping gear
dengan housing dan untuk mengurangi internal leakage tersebut, maka dipasang Side plate yang
akan menekan kontak permukaan dengan sisi gear, memanfaatkan pressure discharge pump.
54.Cylindricity
Perbedaan diameter inner atau outer suatu komponen yang diukur pada beberapa titik
pengukuran (minimal 3 titik), sehingga dapat diketahui ketirusan karena keausan tidak merata
searah axial.
55.Spring out of square
Ketegaklurusan spring terhadap bidang tumpuan.
56.Spring pitch
Lebar gang suatu spring.
57.Scuffing
Kerusakan pada permukaan komponen berupa goresan melingkar karena bidang kontaknya
bersinggungan dan berputar. (misal : antara bushing dengan shaft, pressure plate dengan cylinder
barrel)
II.STRUCTURE & FUNCTION
1.PPC Valve
Suatu valve yang terletak dikabin dan dioperasikan secara manual dengan menggerakkan
joystick (lever control) atau pedal.
Pada Unit RH120 untuk Attachment PPC valve terdiri dari 4 independent set valve dan 6 port,
sedangkan Clamp & Travel PPC valve terdiri dari 2 independent set valve dan 4 port.
Pada Unit PC1100 untuk Attachment PPC valve dan Travel PPC valve terdiri dari 4 independent
set valve dan 6 port.
Saat joystick dioperasikan, pressure dari Servo pump-40 bar RH120 (Charging pump -35 kg/cm2
PC1100) akan dialirkan sebagai pilot pressure penggerak spool control valve, besarnya pressure
output sesuai dan proportional dengan sudut pergerakan joystick, sehingga actuator dapat
digerakkan sesuai keinginan operator.
2.Swivel Joint PC1100
Suatu komponen yang dipasang pada upper structure yang terdiri housing cylinder dan shaft,
yang mempunyai 7 port. Housing diikat dengan upper structure dan shaft diikat pada lower
structure, sehingga flow oli untuk travel circuit dari upper structure dapat menuju ke lower
structure dan sebaliknya. Dengan demikian travel unit dapat dilakukan upper structure diputar.
4.Main Relief Valve
Suatu valve type pilot poppet yang dipasang pada Housing C/V yang berfungsi untuk membatasi
pressure maksimum dalam circuit system pada saat control valve digerakkan sedangkan actuator
tidak bergerak karena end stroke atau overload.
5.Safety Valve
Suatu valve type pilot poppet yang dipasang control valve block dan swing/ travel motor ,
didalam circuit valve ini dipasang diantara spool control valve dan actuator, yang berfungsi

untuk membatasi pressure maksimum dalam circuit actuator saat mendapat beban dari luar,
sehingga tidak terjadi kerusakan pada actuator.
6.Suction valve
Suatu valve yang dipasang pada circuit cylinder dan berfungsi untuk mencegah terjadinya
kevakuman pada satu salah satu cylinder saat terjadi beban dari luar dan terjadi keabnormalan
pressure, sehingga secondary valve akan bekerja untuk membebaskan pressure dengan
konsekwensi cylinder akan bergerak extend atau retract.
Pada beberapa circuit, suction valve menjadi satu kesatuan dengan safety valve, sehingga
namanya menjadi safety valve with suction
Pada circuit motor, suction (check) valve dipasang untuk mencegah terjadinya kevakuman yang
terjadi pada saat putaran motor dihentikan, akan terjadi abnormal pressure karena gaya inertia
yang terjadi, sehingga saat safety valve bekerja untuk membebaskan abnormal pressure, motor
dapat berputar, agar tidak terjadi kevakuman pada motor, maka suction valve akan terbuka.
7.Load holding valve
Check valve yang dipasang dalam circuit antara pump dengan sisi inlet spool control valve
(actuator), dan berfungsi untuk mencegah terjadinya hydraulic drift (penurunan atau pergerakan
attachment yang tidak diharapkan), sesaat control valve digerakkan kembali ke sedangkan pada
circuit actuator terjadi holding pressure (pressure yang terjadi karena berat attachment).
8.Shuttle Valve
Suatu component yang mempunyai 2 port input dengan 1 port output, perbedaan pressure pada
kedua sisi input akan menggerakkan valve dan menutup port pressure yang lebih rendah dan
membuka port pressure yang lebih tinggi menuju port outputnya.Jika pressure port input sama ,
maka valve berada pada posisi ditengah dan dapat mengalirkan kedua pressure input menuju ke
port output.
9.Accumulator (for PPC valve) PC1100
Sebuah tabung yang berisi gas nitrogen dalam bladder dengan pressure 14-24 bar , dipasang
dalam circuit antara servo / charge pump dan PPC valve. Sifat gas nitrogen yang mampu
menerima dan menyimpan pressure dengan perubahan volumenya tanpa terjadi kenaikan
temperature, sehingga saat servo pump tidak bekerja (engine mati), pressure 35-40 bar masih
terjaga dan dapat digunakan untuk menggerakkan spool control valve, untuk menurunkan
attachment berdasarkan beratnya sendiri.
10.Line Oil Filter PC1100
Filter yang terpasang diantara hydraulic pump dan control valve, yang berfungsi untuk
menyaring kotoran sehingga oli yang menuju ke dalam system menjadi bersih. Filter terbuat
serat baja yang tahan dengan pressure tinggi + 330 bar.
11.Swing priority solenoid valve PC1100
Solenoid valve yang bekerja berdasarkan arus perintah dari Pump controller saat swing priority
switch di-ON-kan, untuk mengalirkan pilot pressure dari control pump (+35 kg/cm2) menuju
boom spool pada Swing 4-spool C/V, sehingga saat Boom diposisikan Raise dan
dikombinasikan dengan Swing, maka spool boom tidak akan bisa bergerak, dengan demikian
Flow dari pump No.3 semuanya menuju ke Swing circuit, sedangkan Boom circuit disuplai oleh
RH-4 spool C/V dan LH- 5 spool C/V.
12.Hydraulic Pump

Pada unit PC1100, tipe pump yang digunakan untuk Main Pump adalah Variable displacement
Axial piston pump Swash plate dan dipasang pada PTO, sehingga saat engine hidup, pump dapat
berputar dan menghisap oli dari hydraulic tank dan menghasilkan flow oli untuk dialirkan
melalui High Pressure Filter menuju ke system hydraulic unit. Flow discharge pump dapat
bervariasi untuk menyesuaikan dengan beban yang terjadi, dengan mengatur sudut swash plate
sesuai dengan besarnya pressure pilot control (Pecn). Dalam Main system terdapat 3 buah main
pump : No.1 main pump HPV95, No.2 main pump HPV95 dan No.3 swing pump HPV160,
dimana setiap pump terdiri dari Rear Pump dan Front Pump.
Disamping itu juga terdapat fixed displacement gear pump (triple pump) yang dipasang pada
center drive PTO, yang terdiri Control pump SAR100 + Aftercooler fan drive pump SAR20 dan
PTO lubricating SAR10.
Pada unit RH120, tipe pump yang digunakan untuk Main Pump adalah Variable displacement
Bent-axis piston pump Swash plate type A4V SO 355 X 4, swing pump type A4V G 90 X 2.
Servo- and swing charge pump A 10 VO 60 X2, Hydraulic pump - fan drive oil-cooling A10 VO
45 X 2. Disamping itu juga terdapat fixed displacement gear pump W9A2-11-05-R X 2 untuk
PTO lubricating.
13.Hydraulic Cylinder
Suatu komponen yang terdiri dari rod, piston dan cylinder housing, didalam system hydraulic
dipasang setelah control valve sebagai actuator penggerak attachment. Hydraulic cylinder
mempunyai port bottom (piston side) dan port head, saat pressure oli masuk melalui port
bottom, maka rod akan bergerak keluar (extend), sebaliknya saat pressure oli masuk melalui port
head, maka rod akan bergerak masuk ke dalam cylinder (retract). Pergerakan retract dan extend
rod cylinder digunakan untuk menggerakkan attachment unit. Sehingga pada dasarnya hydraulic
cylinder berfungsi merubah tenaga hydraulis menjadi tenaga mekanis.
Pada beberapa type unit, cylinder dilengkapi dengan piston cushion pada kedua sisinya, atau
hanya pada satu sisi cylinder. Cushion berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan secara
langsung antara piston rod dengan cylinder housing pada saat mencapai akhir langkahnya (end
stroke) dengan cara menjebak oli dan membebaskannya secara bertahap.
14.Control Pump
Type fixed displacement gear pump SAR 100 (bagian depan Triple gear pump), dan dipasang
pada center drive PTO, sehingga saat engine hidup, pump akan menghisap oli dari hydraulic tank
dan menghasilkan flow oli yang dialirkan melewati pilot oil filter menuju pilot control circuit
unit yang meliputi : Pilot Control Pump, PPC valve, dan input pressure solenoid valve block.
Karena circuit control unit adalah Closed center, agar pressure tidak berlebihan dan dapat
dipertahankan dalam range kerja, maka maksimal pressurenya dibatasi oleh PPC charge valve
sebesar 35 kg/cm2 (high idle).
15.TVC Valve (Torque Variable Control) PC1100
Suatu valve yang dipasang pada Main pump (Rear Pump No.1) dan didalam OLSS hanya
terdapat satu TVC valve. Terdapat port Psv yang berasal dari Charging pump sebagai input
pressure, port PA1, PA2 dan PA3 yang berasal dari ketiga Main Pump Pressure (Front, Rear dan
No.3) sebagai signal pressure, port Pdr yang berhubungan dengan sirkuit drain, serta port Pe
sebagai output pressure yang menuju ke CO valve. Disamping itu juga terdapat proportional
solenoid valve.
TVC bekerja untuk mengatur sudut main pump (flow dicharge pump) agar tenaga yang diserap
oleh system hydraulic selalu sesuai dengan tenaga engine pada Rated speed (HP max),

berdasarkan arus perintah dari pump controller (Engine speed sensing). Pada saat Working mode
diposisikan G atau prolix switch diONkan, TVC valve bekerja berdasarkan signal pressure dari
ketiga main pressure PA1, PA2, PA3. (Constant Torque Control).
Jadi pada dasarnya TVC valve akan mengatur flow dicharge pump sesuai dengan beban kerja
(Load Pressure), saat load ringan atau pressure rendah, flow discharge diperbesar, sebaliknya
saat load membesar ( pressure semakin tinggi) flow discharge pump diperkecil.
HP max Engine / Rated Speed = HP hyd dipertahankan konstan,
HP hyd = P X Q, sehingga Q (flow discharge) berbanding terbalik dengan P (pressure system)
16.CO Valve (Cut-Off valve)
Suatu valve yang dipasang pada Main pump (Front & Rear Pump No.1 dan Rear pump No.3)
menempel pada servo valve dan menjadi satu block dengan NC valve. Terdapat port Pe output
pressure TVC valve sebagai input pressure CO valve, port PA dari pump pressure sebagai signal
pressure, port Pdr yang berhubungan dengan sirkuit drain, port Pec sebagai output pressure dan
port Pc yang berasal dari solenoid CO cancel.
CO valve bekerja untuk memperkecil sudut main pump (flow discharge) sesaat sebelum relief
pressure tercapai, sehingga akan menghilangkan relief loss, kerugian kehilangan tenaga engine
secara percuma saat relief pressure tercapai (attachment tidak bisa bergerak), sedangkan pump
masih mensuplai flow discharge yang besar. CO valve bekerja untuk memperkecil pressure Pec
berdasarkan signal pressure PA.
Saat pilot pressure Pc dari solenoid CO cancel mengalir, CO valve tidak bisa bekerja untuk
memperkecil sudut main pump, sehingga flow discharge dipertahankan untuk mendapatkan
tenaga hydraulic yang lebih besar (Heavy lift & Drawbar pull) dengan juga menaikkan setting
main relief valve menjadi 350 kg/cm2 (2nd stage) saat operasi pengangkatan berat atau unit
travel.
17.NC Valve PC1100
Neutral Control Valve dipasang menempel pada servo valve main pump dan menjadi satu block
valve dengan CO valve dan didalam system OLSS PC1100 terdapat 3 buah NC valve (Front,
Rear dan No.1 pump). Terdapat port Pec output pressure CO valve sebagai input pressure NC
valve, port Pdr yang berhubungan dengan sirkuit drain dan port Pt Pd sebagai signal pressure
dari Jet sensor. Perbedaan pressure Pt-Pd akan maksimal saat lever posisi netral dan semakin
mengecil sesuai (proportional) dengan semakin besarnya sudut pergerakan, sedangkan saat lever
PPC posisi full stroke, maka perbedaan pressure Pt-Pd menjadi hilang (maks.1 kg/cm2).
Perbedaan pressure Pt-Pd yang propotional dengan pergerakan spool C/V (sudut pergerakan
lever PPC valve) itulah yang digunakan untuk mengatur sudut main pump, sehingga flow
discharge pump sesuai pergerakan lever PPC
Dengan demikian, kecepatan gerak actuator dapat sesuai dengan sudut pergerakan lever PPC.
18.Cushion Cylinder
Pada unit PC1100, arm cylinder dan bucket cylinder mempunyai cushion pada kedua sisinya,
sedangkan pada boom cylinder hanya terdapat pada sisi headnya. Cushion berfungsi untuk
mencegah terjadinya benturan secara langsung antara piston rod dengan cylinder housing pada
saat mencapai akhir langkahnya (end stroke) dengan cara menjebak oli dan membebaskannya
secara bertahap.
19.Control valve

Pada unit PC1100, terdapat RH-4 spool C/V, LH-5 spool C/V dan Swing-4 spool C/V, yang
dioperasikan dengan pilot pressure yang berasal dari PPC valve, sesuai dengan pergerakan
attachment yang diinginkan.
Pada dasarnya spool control valve berfungsi untuk mengarahkan aliran flow oli yang dihasilkan
pump menuju ke masing masing cylinder hydraulic (sebagai directional valve), agar cylinder
dapat bergerak extend atau retract, sehingga attachment dapat bergerak sesuai yang diinginkan .
Pada control valve juga terdapat relief valve untuk membatasi maksimal pressure dalam system,
juga terdapat safety valve dan suction valve yang berfungsi sebagai pengaman actuator saat
attachment mendapat beban dari luar, dengan cara membebaskan pressure abnormal dan
mencegah terjadinya kevakuman.
20.Pressure compensation valve (CLSS small PC -6 & 7)
Suatu valve yang dipasang pada port outlet control valve untuk menyeimbangkan beban kerja
(Load). Pada saat dua atau lebih actuator digerakkan secara bersamaan, LS pressure yang
tertinggi digunakan untuk mengatur bidang bukaan pressure compensation valve, sehingga
perbedaan pressure (?P) antara upstream (port inlet) dengan downstream (port outlet) pada setiap
spool control valve menjadi sama tanpa memperhatikan besarnya pressure (load) yang terjadi.
Dengan demikian, flow discharge pump akan dibagi secara proportional dengan luas bidang
pembukaan masing masing spool valve, sehingga didapatkan cycle time (actuator speed) yang
cenderung konstan, tidak dipengaruhi oleh besarnya beban.
21.Variable pressure conpensation valve (CLSS small PC -6 & 7)
Valve ini dipasang jika service spool digunakan untuk actuator tambahan (misal breaker, stone
hammer), sehingga dapat dilakukan adjustment flow yang dialirkan menuju service spool, saat
dioperasikan bersamaan dengan main control valve (misal, boom Raise, arm In)
22.Unload valve (CLSS small PC -6 & 7, Auger System An Bin/ Anfo Mixer)
Suatu valve yang dipasang pada port inlet control valve, yang bekerja berdasarkan LS pressure
circuit. Pada saat control valve posisi netral, LS pressure circcuit = 0 kg/cm2, sehingga flow
discharge pump mampu mengalahkan cracking spring unload valve dan menghubungkan dengan
circuit drain, dengan demikian dalam CLSS terdapat standby pressure sebesar + 35 kg/cm2.
Sedangkan saat control valve digerakkan, pada LS pressure circuit akan terdapat pressure yang
sebanding dengan load, sehingga Unload valve menutup hubungan port Inlet dengan circuit
drain, maka flow discharge pump dialirkan ke circuit actuator.
Jadi pada dasarnya Unload valve berfungsi untuk membatasi maksimal pressure dalam system
saat control valve posisi netral dengan membebaskan flow discharge pump kembali ke hydraulic
tank.
23.Pump merger/devider valve (CLSS small PC -6 & 7)
Suatu valve yang dipasang pada control valve dan berfungsi untuk menggabungkan atau
memisahkan (mengalirkan ke masing masing ke control valve) flow discharge kedua pump
(Front & Rear). Dan pada saat yang bersamaan juga menggabungkan atau memisahkan LS
circuit pressure. Valve ini bekerja berdasarkan signal pressure dari pump merge/devider solenoid
valve yang mendapat arus perintah dari pump controller.
24.Self reducing valve (CLSS small PC -6 & 7, Auger System An Bin/ Anfo Mixer)
Suatu valve yang dipasang pada port inlet control valve, dan berfungsi untuk menurunkan main
pressure menjadi pilot pressure untuk digunakan sebagai control pressure solenoid valve, PPC
valve dsb. Sehingga pada system CLSS tidak perlu lagi menggunakan Charging pump.

25.Lift check valve


Suatu valve yang dipasang pada control valve dan bekerja dengan menimbulkan back pressure
pada circuit drain untuk mencegah terjadinya kevakuman atau negative pressure pada actuator
work equipment (cylinder dan motor).
26.Travel junction valve
Suatu valve yang dipasang pada control valve, dan didalam circuit hydraulic dipasang diantara
kedua control valve travel dan kedua travel motor. Saat travel dioperasikan bersama dengan
attachment, solenoid akan OFF untuk menghilangkan pilot pressure penggerak travel junction
valve, sehingga valve menghubungkan kedua circuit travel (kanan & kiri), akibatnya flow oli
dialirkan secara merata menuju kedua travel motor, sehingga unit dapat travel lurus tanpa terjadi
deviasi.
27.Ls shuttle valve (CLSS small PC -6 & 7, Auger System An Bin/ Anfo Mixer)
Shuttle valve yang dipasang pada circuit LS pada semua spool control valve, dan berfungsi
sebagai pemilih pressure yang lebih tinggi, sehingga pressure LS tertinggi yang mengalir sebagai
pilot pressure control pump.
28.Ls by pass valve
Suatu valve yang dipasang pada control valve, yang mempunyai orifice untuk membebaskan
pressure yang tersisa pada LS circuit, sehingga mengurangi kecepatan kenaikan pressure LS dan
mencegah terjadi perubahan pressure LS secara mendadak. Selanjutnya penurunan pressure akan
disebabkan oleh hambatan antara throttle main spool dan LS shuttle valve sesuai dengan besar
flow yang dibebaskan oleh LS bypass valve, akibatnya effektivitas ?LS berkurang dan
kestabilan pergerakan actuator semakin meningkat.
29.Boom regeneration valve PC1100
Valve yang dalam circuit dipasang antara spool Boom dan sisi bottom Boom cylinder, dan
bekerja berdasarkan pilot pressure dari PPC valve Boom Lower, sehingga saat posisi Boom
Lower akan membypasskan sebagian oli dari sisi bottom menuju sisi head Boom cylinder,
dengan demikian akan mempercepat kecepatan turun boom frame (attachment) dan mencegah
terjadinya kevakuman pada sisi head boom cylinder.
30.Boom & Arm holding valve (CLSS small PC -6 & 7)
Valve yang dalam circuit dipasang antara spool Boom dan sisi bottom Boom cylinder, dan antara
spool Arm dan sisi head Arm cylinder. Valve bekerja berdasarkan pilot pressure dari PPC valve
Boom Lower atau Arm Out, dan berfungsi untuk mencegah penurunan attachment secara tibatiba jika terjadi kebocoran piping atau hose diantara control valve dan cylinder saat unit operasi,
dengan menutup oli yang kembali dari sisi bottom cylinder sehingga meningkatkan factor
keamanan operasi.
31.Arm Regeneration circuit and check valve
Suatu check valve yang dalam circuit dipasang antara spool Arm dan sisi Head Arm cylinder,
dan bekerja berdasarkan perbedaan pressure pada kedua sisi cylinder, sehingga saat posisi Arm
In, check valve akan terbuka dan membypasskan sebagian oli dari sisi head menuju sisi bottom
Arm cylinder, dengan demikian akan mempercepat kecepatan gerak Arm In dan mencegah
terjadinya kevakuman pada sisi bottom Arm cylinder.
32.Hydraulic cylinder PC1100
Pada unit PC1100, arm cylinder dan bucket cylinder mempunyai cushion pada kedua sisinya,
sedangkan pada boom cylinder hanya terdapat pada sisi headnya. Cushion berfungsi untuk

mencegah terjadinya benturan secara langsung antara piston rod dengan cylinder housing pada
saat mencapai akhir langkahnya (end stroke) dengan cara menjebak oli dan membebaskannya
secara bertahap.

You might also like