You are on page 1of 10

1

RANCANG BANGUN ALAT UKUR SALINITAS BERBASIS TELEMETRI GSM SECARA


REALTIME MENGGUNAKAN MIKROKONTROL ATMega16
Zul Bahrum Caniago[1], Irkhos[2], Herdianto Pratama[3]
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu
Jl.WR.Supratman Kandang Limun Bengkulu 38371A
zulbahrum@yahoo.com[1]
irkhosazir@gmail.com[2]
herdiantopratama@hotmail.com[3]
Abstrak - Sungai adalah suatu aliran yang sangat panjang dan akhirnya bermuara ke laut. Sungai
memiliki bagian hulu, tengah dan hilir dengan salinitasnya yang berbeda pada setiap bagian.
Beberapa wilayah di Kota Bengkulu dialiri oleh aliran sungai yang cukup besar salah satunya adalah
Sungai Serut yang mengalir cukup deras. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola
perubahan salinitas air Sungai Serut ditiga titik pengukuran yang mewakili bagian hulu, tengah dan
hilir Sungai Serut secara real time serta mengetahui hubungan antara perubahan salinitas air Sungai
Serut terhadap pasang surut Sungai Serut. Perancangan instrument dilakukan dengan
menggunakan sensor Konduktivitas, perangkat pengambil waktu rill (realtime clock),
mikrokontroler ATMega16 serta modem GSM WaveCom. Instrument ini mengambil data tiap menit
ke-15 dan mengirimkan informasi kepada user melalui modem GSM WaveCom. Langkah yang
diambil adalah dengan mengukur salinitas air sungai secara realtime untuk mengetahui hubungan
antara perubahan salinitas air sungai terhadap pasang surut sungai selama 15 hari. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tiga alat yang didesain mampu mengukur perubahan salinitas air Sungai Serut
dengan besar nilai error masing-masing instrument yaitu instrument (I) 2%, instrument (II) 4% dan
instrument (III) 1% selain itu, penelitian ini juga menunjukkan hubungan antara perubahan
salinitas air Sungai Serut dan pasang surut Sungai Serut.
Kata Kunci - Salinitas Air Sungai, Aliran Sungai, Real Time, Kondutivitas, GSM, Refraktrometer,
Telemetri dan ATMega16.
Abstract - River is a very long water stream and end into the sea. Rivers have the upstream, middle
stream and downstream with different salinitas of water stream for each section. Some areas of the
city of Bengkulu fed by big river and one of them is Serut River flowing quite heavy. This study aims
to identify pattern of changes of river salinitas on 3 measurement point representing upstream,
middle stream and downstream in real time to identify the relationship between changes in river
salinitas of Serut River with the tidal of Serut River. The design of the instrument is using
conductivity sensor, device take real time clock (real time clock), ATMega16 microcontroller and
WaveCom GSM. These instruments take the data every 15 minutes and sent the data to the user via
WaveCom GSM Modem. Step taken is to measure the salinitas of the stream in realtime to the
determine the relationship between changes in the river salinitas with river tidal in 15 days. The
result show that the three tools designed are able to measure changes in the river salinitas of Serut
River with error value of each instrument is 2% (Instrument I), 4% (Instrument II), 1% (Instrument
III) in addition this study also shows the relationship between the change of river salinitas with the
tidal of Serut River.
Keywords - River Salinitas, River Flow, Real Time, Conductivity, GSM, Refractrometer, Telemetry
and ATMega16.

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sungai merupakan tempat aliran air
yang akhirnya bermuara ke laut. Sungai memiliki
beberapa bagian, diantaranya bagian hulu, tengah
dan hilir. Disetiap bagian memiliki salinitas yang
berbeda.
Pengukuran
selintas
sungai
memerlukan alat ukur yang memadai untuk
mendapatkan hasil pengukuran yang akurat
(Soewarno, 1995).
Pada
kondisi
tertentu,
tidak
memungkinkan untuk melakukan pengamatan
langsung terhadap salinitas sungai. Pada keadaan
misalnya satu lokasi jauh dari jangkauan
transportasi dan lokasi yang tertutup sering kali
tidak dapat dilakukan pengukuran secara
langsung (Arief, 2011).
Untuk mendapatkan besaran parameter
ini diperlukan suatu alat, baik secara elektronik
(digital) maupun analog. Instrumen pengukur
analog biasanya memiliki ketelitian yang kurang
baik, karena kesalahan pengukuran dapat sering
terjadi, baik dari kemampuan mengamati pada
pihak pengguna maupun kesalahan dari alat itu
sendiri. (Ahmad, 2003).
Beberapa wilayah di Kota Bengkulu
dialiri oleh aliran sungai yang cukup besar salah
satunya yaitu Sungai Serut. Aliran Sungai Serut
sering terjadi luapan yang disebabkan oleh curah
hujan yang begitu deras pada musim penghujan
dan adanya intrusi air laut sehingga berdampak
pada perubahan salinitas Sungai Serut
(Adriansyah, 2011).
Pengukuran salinitas air sungai pada
daerah yang sukar dijangkau serta pengukuran
dalam jangka waktu yang lama akan menemui
kesulitan dalam menggunakan alat ukur salinitas
sungai yang belum bekerja secara realtime.
Pengukuran salinitas di Sungai Serut kota
Bengkulu belum pernah dilakukan secara
realtime berbasis telemetri GSM. Untuk itu perlu
dilakukan pengukuran salinitas Sungai Serut
secara realtime dengan pengiriman data secara
kontinu, cepat dan akurat. Pengukuran salinitas
Sungai Serut menggunakan sensor konduktivitas
(Seperti: Septiana, 2009; Ahmad, 2003).
Penelitian
menggunakan
sensor
konduktivitas sudah sering dilakukan oleh
beberapa peneliti sebelumya diantaranya, alat
ukur kadar garam (salinitas) dalam air berbasis
mikrokontroler (Septiana, 2009), pemetaan
salinitas air laut akibat pasang surut di muara
saluran Jongaya (Aidil, 2014).

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

Pada penelitian ini berbeda dengan


penelitian sebelumnya, yaitu merancang alat
sistem pengukuran salinitas air sungai berbasis
telemetri GSM guna untuk pengukuran salinitas
Sungai Serut secara realtime.
B. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian tugas akhir ini adalah :
1. Modifikasi alat ukur salinitas sungai
dengan
menggunkan
sensor
konduktivitas berbasis telemetri.
2. Mengidentifikasi
pola
perubahan
salinitas air Sungai Serut secara real
time.
II TINJAUAN PUSTAKA
A. Salinitas
Salinitas merupakan tingkat keasinan
atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas
juga dapat mengacu pada kandungan garam
dalam tanah. Secara ilmiah, salinitas
didefinisikan dengan total padatan dalam air
setelah semua karbonat dan senyawa organik
dioksidasi dan bromide serta iodide dianggap
sebagai klorida (Amri, 2003).
Ciri paling khas pada air laut yang
diketahui oleh semua orang ialah rasanya yang
asin. Ini disebabkan karena didalam air laut
terlarut garam-garam yang paling utama adalah
natrum klorida (NaCl) yang sering disebut garam
dapur. Selain NaCl, di dalam air laut terdapat
pula MgCl2, kalium, kalsium dan sebagainya.
Salinitas adalah jumlah berat semua garam
(dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air,
biasanya dinyatakan dengan satuan 0/00 (permil,
gram per liter) (Irianto, 2003).
B. Pengertian Sungai
Sungai merupakan tempat atau wadah
aliran air terbentuk secara alami yang mengalir
karena adanya gravitasi, dimulai dari mata air
sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya
serta sepanjang pengalirannya oleh garis
sempadan sungai. Sungai yang juga merupakan
satu bagian dari siklus hidrologi, di mana air
yang mengalir di sungai berasal dari air hujan,
baik berupa aliran permukaan yang masuk ke
sungai, maupun yang masuk ke dalam tanah
terlebih dahulu mengisi tampungan air tanah dan
secara perlahan keluar lewat mata air masuk ke
sungai (Bambang, 2003).
C. Pengertian Muara Sungai
Muara Sungai (Estuaria) adalah
perairan yang semi tertutup yang berhubungan

bebas dengan laut, sehingga air laut dengan


salinitas tinggi dapat bercampur dengan air
tawar. Pencampuran kedua macam air tersebut
menghasilkan suatu sifat fisika dan kimia
lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat
air sungai maupun sifat air laut. Tempat
bertemunya arus sungai dengan arus pasang
surut, yang berlawanan menyebabkan suatu
pengaruh yang kuat pada sedimentasi,
pencampuran air, dan ciri-ciri fisika lainnya,
serta membawa pengaruh besar pada biotanya
(Bambang, 2003).
D. Sistem Telemetri dengan SMS
SMS merupakan layanan yang banyak
diaplikasikan pada layanan komunikasi nirkabel.
Data yang dikirimkan berbentuk alfanumerik
berupa kode karakter teks American Standard
Code for Information Interchange (ASCII) yang
dapat dibaca.
Ketika pengguna mengirim SMS, maka
pesan dikirim ke Mobile Switching Center
(MSC) melalui jaringan seluler yang tersedia
meliputi tower Base Transceiver Station (BTS)
yang
sedang
meng-handle
komunikasi
pengguna, lalu ke Base Station Controler (BSC),
kemudian sampai ke MSC. MSC kemudian
mem-forward lagi SMS ke SMSC untuk
disimpan. SMSC kemudian mengecek lewat
Home Location Register (HLR) untuk
mengetahui apakah handphone tujuan sedang
aktif dan dimanakah handphone tujuan tersebut
(Kristiyanto,2008).

Gambar 2.1 Alur Penerimaan SMS Pada


Standar Teknologi GSM
SMS pertama kali diperkenalkan di
Benua Eropa pada era tahun 1991 bersamaan
dengan teknologi informasi tanpa kabel yaitu
GSM. Pengiriman SMS pertama kali dilakukan
pada bulan Desember 1992 yang dilakukan dari
sebuah Personal Compute (PC) ke telepon
bergerak (mobile) dalam jaringan GSM milik
Vodafone,
Inggris,
dengan
segera,
perkembangannya merambah Benua Amerika
yang dipelopori oleh beberapa operator
komunikasi antara lain Bellsouth Moblility,
PrimeCO dan lain-lain. Kini cara mengirimkan

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

SMS bervariasi, ada yang menggunakan AMPS,


GSM dan Code Division Multiple Acces
(CDMA). Modul GSM (WaveCom GSM
Module) yang digunakan dalam tugas ini telah
mendukung pengiriman SMS melalui AT
Command dengan mode teks dan mode Protocol
Data Unit(PDU). Untuk kemudahan digunakan
mode teks (Achmadi, 2011).
E. Modul GSM WaveCom
GSM WaveCom berfungsi sebagai
bagian pengiriman data berupa pesan singkat.

Gambar 2.2 Modul GSM WaveCom


Modem GSM digunakan karena dapat
diakses menggunakan komunikasi data serial
dengan baudrate yang dapat disesuikan mulai
dari 9600 sampai 115200. Selain itu, modul GSM
ini menggunakan catu daya 7,5 VDC dan tidak
memerlukan tombol ON untuk mengaktifkannya,
sehingga sangat cocok untuk digunakan pada
sistem yang berjalan secara terus menerus
(Achmadi, 2011).
F. Komunikasi USB (Universal Serial Bus)
USB adalah host-centric bus di mana
host/terminal induk memulai semua transaksi.

Gambar 2.3 Konektor USB


Paket pertama/penanda (token) awal
dihasilkan oleh host untuk menjelaskan apakah
paket yang mengikutinya akan dibaca atau ditulis
dan apa tujuan dari perangkat dan titik akhir.
Paket berikutnya adalah data paket yang diikuti
oleh handshaking packet yang melaporkan
apakah data atau penanda sudah diterima dengan
baik atau pun titik akhir gagal menerima data
dengan baik. (Ahmad, 2010).
G. Sensor Konduktivitas
Konduktivitas polimer konduktif secara
intrinsik sebenarnya telah didahului oleh polimer
komposit dimana konduktivitasnya dipicu
dengan insersi bahan konduktif listrik ke dalam
matriks polimer insulator. Polimer komposit
yang tidak didoping tidak stabil dengan adanya
oksigen yang bertindak sebagai dopan dengan
terbentuknya anion superoksida karena merusak
konjugasi dan menyebabkan degradasi rantai
polimer, sehingga stabilitasnya menurun.
Polimer konduktif yang didasarkan pada

polianilin sangat stabil dibandingkan polipirol,


politiofena, dan turunannya (Jagur, 2002).
Polimer konduktif dikenal dapat
berubah konduktivitasnya secara reversibel
ketika dikenai berbagai macam uap senyawa
organik dan gas. Walaupun telah sukses
digunakan untuk mendeteksi gas dan uap
senyawa organik tetapi perlu pengembangan
sensor gas yang baru dengan sensitivitas tinggi,
stabilitas tinggi, dan selektivitas yang berbeda
terhadap uap senyawa organik (Guernion, 2004).
H. Mikrokontrol ATMega16
Mikrokontroler adalah sebuah sistem
komputer lengkap dalam satu serpih (chip).
Mikrokontroler lebih dari sekedar sebuah
mikroprosesor karena sudah terdapat atau
berisikan ROM (Read-Only Memory), RAM
(Read-Write Memory), beberapa bandar
masukan maupun keluaran, dan beberapa
peripheral seperti pencacah/pewaktu, ADC
(Analog to Digital converter), DAC (Digital to
Analogconverter) dan serial komunikasi (Heru,
2008).

Gambar 2.4 Skematik Rangkaian


Sistem
minimum
adalah
suatu
rangkaian minimal dimana mikrokontroler
terdapat Mikrokontroler ini dapat mengeksekusi
perintah dalam satu periode clock untuk setiap
instruksi.
III METODE PENELITIAN

terdapat beberapa komponen yang memiliki


fungsi yang penting dalam proses pengukuran,
komponen tersebut diantaranya:
a. User terminal, yang merupakan
perlatan mobile station yang berupa
telepon selular yang berfungsi untuk
menerima data pengukuran dalam
bentuk SMS.
b. GSM network, merupakan operator
penyedia
jaringan
GSM
yang
mendukung layanan pengiriman pesan
pendek SMS.
c. Base terminal, juga merupakan
peralatan mobile station yang berupa
telepon selular
yang mampu
melakukan fungsi pengiriman melalui
gerbang kabel data serial dengan
menggunakan mode Proticol data Unit
(PDU).
Dalam
penelitian
ini
menggunakan Modul GSM WaveCom
Fastrack 1306.
d. Microcontroller system, merupakan
perangkat keras yang terbuat dari
sebuah mikrokontroler yang dilengkapi
dengan perangkat lunak dan beberapa
komponen tambahan yang berfungsi
untuk melakukan pembacaan dan
pengolahan data PDU yang diterima
dari base terminal, serta melakukan
akuisisi data.
e. Controlled object, merupakan daerahdaerah yang akan dijadikan sampel oleh
sistem telemetri ini.
Setelah mengetahui cara kerja alat
menggunakan diagram blok, diperlukan suatu
skema alat yang akan di pasang di lapangan.
Skema alat identifikasi perubahan salinitas
sungai secara realtime dan pengiriman data
melalui SMS dapat dilihat pada gambar 3.3
berikut:

A. Perancangan Model Sistem

Gambar 3.1 Diagram Blok Kerja Alat Ukur


Salinitas Air Sungai
Gambar 3.1 menjelaskan tentang proses
kerja alat ukur yang digambarkan dalam diagram
blok. Dalam perancangan sistem telemetri ini,

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

Gambar 3.2 Desain Alat Pengukur Salinitas Air


Sungai
Keterangan gambar 3.2 desain alat pengukur
salinitas air sungai :
1. Mikrokontroler
berfungsi
untuk
mengontrol kerja sensor salinitas air
sungai serta pengontrol sistem yang

dihubungkan dengan transmitter agar


hasil pengukuran berbasis telemetri.
2. Sensor salinitas (Sensor Konduktivitas)
berfungsi untuk identifikasi salinitas
sungai berupa besaran fisis salinitas
sungai.
B. Perancangan Unit Sistem
a. Perancangan Alat Ukur Salinitas Sungai
Pemilihan sensor konduktivitas pada
sistem pengukuran salinitas air
sungai,
dikarenakan sensor konduktivitas memberikan
keakuratan dalam pengambilan data pengukuran
salinitas dibandingkan dengan sensor lainnya.
Bagian pusat pengontrolan terletak pada sistem
minimum mikrokontroler ATMega16, sistem
pengukuran terhubung dengan sebuah modul
WaveCom
yang
dikendalikan
oleh
mikrokontroler
dengan
AT-Command
menggunakan mode teks, sehingga dapat
digunakan untuk mengirimkan pesan berupa
SMS ke nomor handphone yang diinginkan.
Prinsip kerja alat ukur salinitas air sungai adalah
ketika sensor konduktivitas yang menghasilkan
output berupa pulsa yang akan diproses oleh
mikrokontroler dan diteruskan kepada Modul
GSM WaveCom sehingga dikirimkan dalam
SMS.
b. Rangkaian Sistem Minimum ATMega16
Sistem
minimum
adalah
suatu
rangkaian minimal dimana mikrokontroler dapat
bekerja. Sistem minimum dapat dihubungkan
dengan rangkaian lain untuk menjalankan fungsi
tertentu. Pada rancangan ini menggunakan
mikrokontroler ATMega16 dengan komponen
kristal 8000000 Hz serta kombinasi rangkaian
untuk mendukung rangkaian osilator internal.
Sistem minimum ini juga dilengkapi dengan
rangkaian
reset
sehingga
pada
saat
mikrokontroler diaktifkan akan terjadi reset.
Pemrograman mikrokontroler yang
memakai bahasa tingkat tinggi ada beberapa
metode, antara lain: kompilasi, kode sumber
yang dibuat langsung diterjemahkan ke dalam
bahasa rakitan mikrokontroler dan interpretasi.
Kode sumber diterjemahkan dahulu oleh
mikrokontroler sebelum dieksekusi. Gabungan
kedua metode dipilih untuk menyederhanakan
kerja interpreter proses kompilasi dipilih dan
karena proses.
Pembuatan program lebih mudah jika
dilakukan di pc. Tata bahasa BASIC merupakan
tata bahasa yang populer karena tergolong
mudah untuk dipelajari dan cocok untuk
diterapkan
karena
relatif
tidak
rumit

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

penerapannya jika dibandingkan dengan tata


bahasa tingkat tinggi lainnya, misalnya C dan
Pascal. Untuk menerapkan interpreter sistem
BASIC
(sisBASIC),
maka
digunakan
mikrokontroler
microchip
PIC16F84A.
Interpreter ini bekerja dengan membaca hasil
kompilasi yang disimpan pada EEPROM Atmel
AT24C64,
menerjemahkan
dan
mengeksekusinya. Kompailer dirancang untuk
digunakan pada pc, memiliki fasilitas editor teks,
jendela terminal port serial untuk sarana
menampilkan pesan dan transfer program ke
sistem interpreter (Santoso, 2013).
c. Perancangan Perangkat Lunak
Perangkat lunak merupakan salah satu
faktor yang membuat mikrokontroler dapat
bekerja sebagaimana mestinya. Perangkat lunak
ini yang mengendalikan tingkah laku dari
mikrokontroler dan menentukan pekerjaan apa
yang harus dilakukan oleh mikrokontroler.
Perangkat lunak dapat ditulis dalam bentuk
bahasa Assembly, pada perangkat lunak
mikrokontroler ini menggunakan bahasa Basic.
Keuntungan dalam menggunakan bahasa ini
adalah kecepatan menyeleseaikan program
dikarenakan tidak perlu memahami register yang
akan digunakan dalam perancangan sehingga
lebih mudah dipahami. Perangkat lunak yang
dibuat
menggunakan
bahasa
C
akan
menghasilkan file HEX adalah BASCOM AVR.
BASCOM AVR merupakan sebuah cross
compiler.
Mikrokontroler
akan
membaca
pengukuran sensor konduktivitas akan membaca
nilai pengukuran sensor koduktivitas terhadap
salinitas air sungai, kemudian akan mengirimkan
hasil pengukurannya ke suatu nomor yang
ditentukan pada saat penanaman program
dilakukan. Sistem komunikasi antara modul
dengan mikrokontrol terjadi satu arah, artinya
hanya modul yang bertugas sebagai server yang
melakukan pengiriman, sedangkan handphone
user hanya berfungsi sebagai menerima data
yang dikirim oleh modul server.
C. Kalibrasi Alat
Kalibrasi alat dilakukan dengan
membandingkan alat uji dengan alat standar.
Dengan cara mendampingkan alat standar
dengan alat uji pada tempat dan waktu yang
sama. Dari hasil pembacaan alat standar dan
pembacaan alat yang diuji, kemudian dihitung
konstanta
kesebandingannya.
Adapun
perhitungan untuk mendapatkan konstanta

menggunakan persamaan sebagai berikut (


Prajitno,1994 ).

(1)
=

Konstanta digunakan sebagai acuan
perbandingan pengukuran salinitas air sungai
standar yang umum digunakan seperti
refraktrometer dengan instrument rancangan.
Hasil uji perbandingan dengan menggunakan
refraktrometer laboratorium dan instrument
rancangan dapat dihitung untuk melihat
kesalahan (error) dari instrument yang dirancang
menggunakan persamaan (Ningsih, 2008).

=
100% . (2)

Dengan
Yn : Hasil instrument rancangan
Xn : Hasil refraktrometer laboratorium
D. Metode Pengujian
Pada penelitian ini menggunakan
metode pengujian yang dilakukan pada sistem
pengukuran salinitas air sungai ini bertujuan
untuk mengetahui kinerja dari perangkat keras
ataupun dari perangkat lunak yang digunakan,
apakah sudah bekerja sesuai dengan yang sudah
diinginkan atau belum. Tahapan pengujian dapat
dilakukan dengan pengujian sistem minimum
ATMega16, pengujian sensor konduktivitas,
pengujian modem WaveCom serta pengujian
sistem secara keseluruhan. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui apakah masing-masing
perangkat keras dan perangkat lunak telah
bekerja dengan baik.
E. Analisis Data
Analisa data diperoleh dengan mencari
nilai koefisien korelasi antara pasang surut dan
kecepatan arus air sungai, dimana korelasi yang
dimaksud adalah suatu teknik statistik yang
digunakan untuk mencari hubungan antara dua
variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif.
Secara matematis nilai koefisien korelasi dapat
dihitung sebagai berikut :
r=

( ) ( )

[( 2 ) ( )2 ][( 2 ) ( )2 ]

(3)

dengan
n = banyaknya pasangan data X dan Y
x = Total Jumlah dari variabel X
y = Total Jumlah dari variabel Y
x = Kuadrat dari Total Jumlah variabel X
y = Kuadrat dari Total Jumlah variabel Y
xy = Total Jumlah dari hasil perkalian variabel
X dan variabel Y
Koefisien korelasi yang diperoleh
bermanfaat untuk mengetahui hubungan antara

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

dua variabel (bisa lebih dari dua variabel) dengan


skala-skala tertentu. Korelasi mempunyai
kemungkinan pengujian hipotesis dua arah.
Korelasi searah jika nilai koefisien korelasi
diperoleh adalah positif , begitu juga dengan
sebaliknya jika koefisien korelasi negatif, maka
korelasi tersebut dikatakan tidak searah.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengujian Sistem Minimum ATMega16
Pengujian sistem minimum bertujuan
untuk mengetahui apakah sistem minimum dapat
melakukan proses pembacaan chip signature dan
download
program
dari
compiler
ke
mikrocontrol dengan baik.

Gambar 4.1 Hasil pembacaan Chip Signature


Jika proses chip signature sukses maka
akan tampil hasil pembacaan jenis chip Atmega
sesuai dengan jenis mikrokontroler pada sistem
minimum yaitu ATMega16. Kemudian, pada
saat proses download program akan tampil
pemberitahuan seperti gambar di bawah ini

Gambar 4.2 Proses download


Apabila proses download berhasil dan
tidak ada error pada program, maka pada
tampilan di pojok kiri bawah tidak akan
menampilkan peringatan error.
B. Pengujian Sensor Konduktivitas dan Kalibrasi
Pengujian sensor konduktivitas dapat
dilakukan dengan cara membandingkan hasil
pengukuran dari refraktrometer dengan sensor
konduktivitas yang telah dibuat. Pengujian
dilakukan pada saat posisi sensor tersebut normal
atau pada keadaan standby maka keluaran data
pada sensor adalah 0, karena tidak mendeteksi.
Namun apabila sensor dalam keadaan aktif atau
mendeteksi cairan atau air, maka sensor tersebut
akan mengirimkan sinyal listrik atau pulsa
berbentuk data tegangan listrik (volt). Pada saat
sensor mengirimkan tegangan inilah yang
menjadi masukan bagi mikrokontroler untuk

kemudian diolah sesuai dengan perintah program


yang telah dimaskkan pada mikrokontroler
ATMega16. Rangkaian sensor konduktivitas
dapat dilihat pada gambar di bawah ini

SMS menggunakan program hyperterminal,


yaitu dengan cara mengetikan perintah seperti
pada gambar di bawah ini

(a)
(b)
Gambar 4.3 (a) Sensor Konduktivitas, (b)
Rangkaian Sensor Konduktivitas

(a)
(b)
Gambar 4.4 (a) Pengujian Modem GSM
WaveCom, (b) Hasil Pengujian Modem
WaveCom

Pengujian kalibrasi yang digunakan


adalah refraktrometer laboraturium. Proses
kalibrasi dilakukan dengan memasukan alat
rancangan dengan refraktrometer ke dalam air
sungai secara berdampingan. Pengambilan data
dilakukan 6 kali pengulangan pada sampel yang
sama. Adapun hasil perbandingan pengukuran
salinitas air sungai dengan menggunakan
refraktrometer dan alat ukur yang telah
dirancang dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan hasil pengukuran 3
instrumen rancangan dengan refraktrometer

Dari tabel 2 hasil perbandingan


pengukran ditiga titik dapat dihitung pengujian
kesalahan (error) dari nilai instrumen rancangan
yang sudah dikalibrasi dengan refraktrometer
laboraturium menggunakan persamaan 2
perbandingan. Hasil pengujian dapat dilihat pada
tabel 2.
Tabel 2. Hasil pengujian Kesalahan (error)
Instrumen Rancangan

C. Pengujian Modem GSM WaveCom


Pengujian modul GSM WaveCom
dilakukan dengan menggunakan program
hyperterminal
yang ada pada computer.
Menghubungkan
modul dengan komputer
menggunakan USB. Pengujian yang dilakukan
pada modul ini yaitu pengujian pengiriman

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

Jika terdapat pernyataan seperti yang


terlihat pada gambar 4.4 (b) berarti bahwa modul
GSM WaveCom telah bekerja dengan baik.
D. Pengujian Sistem Secara Keseluruhan
Pengujian
rangkaian
secara
keseluruhan dilakukan dengan menggabungkan
semua bagian yang dibutuhkan sesuai dengan
rencana perancangan
yang sudah di buat
sebelumnya. Secara elektronis rangkaian secara
keseluruhan telah bekerja dengan baik, out put
dari mikrokontroler dapat mengirimkan data
kecepatan arus sungai
dari sensor secara
realtime melalui layanan pesan singkat SMS
sehingga penelitian dengan pengambilan data
setiap 15 menit selama 15 hari di tiga titik
pengukuran dapat
berjalan dengan baik.
Dokumentasi di lapangan dari alat dan
penempatan di atas aliran sungai dapat dilihat
pada gambar

(a)
(b)
(c)
Gambar 4.5 (a) Instrument pada titik
pengukuran I, (b) Instrument pada titik
pengukuran II, (c) Instrument pada titik
pengukuran III
Gambar 4.5 merupakan instrument
pengirim data kecepatan arus sungai berbasis
telemetri GSM. Instrument terdiri dari sistem
minimum ATMega16 sebagai pusat kontrol
seluruh sistem, sensor konduktivitas sebagai
instrument yang mengubah besaran fisis yaitu
tengangan listrik yang langsung dikonversikan
menjadi besaran digital, kemudian modul
GSM WaveCom sebagai media transmit data.
Sistem telemetri data waktu dan kecepatan
arus memanfaatkan jaringan GSM sebagai

medium transmitter menggunakan salah satu


provider layanan GSM yaitu Telkomsel. Proses
pengiriman data diambil tiap menit ke-15, 30, 45
dan 60 selama 24 jam dalam 15 hari, pengukuran
dimulai pada tanggal 19 Mei 2015 pukul 00.15
WIB sampai 02 Juni 2015 pukul 00.00 WIB
(Lampiran 1). Sistem pengukuran kecepatan arus
ini masih dalam tahap awal karena sistem
pengambilan data belum bisa memberikan
hasil selama satu musim penuh sehingga nilai
salinitas air Sungai Serut, belum dapat diketahui
secara keseluruhan.
Pengujian keakurasian instrument
menggunakan refraktrometer yang ada di
Laboratorium untuk mengetahui perbedaan nilai
salinitas air sungai dengan menggunakan sensor
konduktivitas. Dalam proses pengiriman data
selama kurun waktu 24 jam, handphone user
akan menerima data berupa SMS. SMS yang
diterima memberikan informasi berupa data
waktu pengiriman dan salinitas air sungai (0/ 00 ).
Terjadinya perbedaan waktu pada saat
pengiriman dan pada saat penerimaan data
dapat di tanggulangi karena instrument sudah
menggunakan RTC, sehingga walaupun ada
gangguan jaringan GSM yang menyebabkan
keterlambatan penerimaan SMS, waktu pada
saat data itu diambil dapat diketahui oleh user.
Penelitian selama 15 hari dibagi menjadi 45
grafik yaitu grafik tiap hari terhitung sejak 19
Mei sampai dengan 02 Juni 2015 di tiga titik
pengukuran aliran Sungai Serut Kota Bengkulu.
Hasil pengukuran dan grafik dapat dilihat pada
lampiran tabel dan lampiran gambar.
Perubahan salinitas terendah pada titik
pengukuran I terjadi pada hari ke 11 pada tanggal
29 Mei 2015, grafiknya bisa dilihat di bawah ini

perubahan salinitas tertinggi rata-rata mencapai


angka 90/ 00 pada tanggal 19, 20, 21 dan 26 Mei
2015.
Perubahan salinitas terendah pada titik
pengukuran II rata-rata mencapai angka 80/ 00
terjadi setiap hari. Grafik pengukuran dapat
dilihat pada lampiran grafik. Sedangkan
perubahan salinitas tertinggi terjadi pada tanggal
20 Mei s/d 2 Juni 2015 yaitu mencapai angka
100/ 00 .
Perubahan salinitas terendah pada titik
pengukuran III terjadi pada tanggal 30 Mei 2015
yaitu mencapai angka 100/ 00. Perubahan ini dapat
dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 4.7 Salinitas Terendah pada Titik III


Perubahan salinitas terendah ini terjadi
pada pukul 11.45 s/d 12.00 WIB. Perubahan ini
terjadi karena air sungai pada titik pengukuran III
sedang mengalami surut. Sehingga air sungai
mengalir ke muara sungai.
Sedangkan untuk perubahan salinitas
tertinggi terjadi pada tanggal 1 Juni 2015 yaitu
mencapai angka 150/ 00 . Grafik perubahannya
dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 4.8 Salinitas Tertinggi pada Titik III

Gambar 4.6 Salinitas Terendah pada Titik I


Perubahan salinitas terendah pada titik
pengukuran I mencapai angka 40/ 00 pada pukul
2.45 WIB. Hal ini terjadi karena keadaan sungai
sedang terjadi pasang akibat hujan dari hulu
sungai sehingga menyebabkan air yang
mengandung kadar garam ikut terbawa arus
sungai menuju muara sungai. Sedangkan untuk

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

Perubahan salinitas tertinggi ini terjadi


pada pukul 3.30 WIB karena kondisi air sungai
pada titik pengukuran III dalam keadaan pasang.
Kondisi ini terjadi karena itrusi air laut sehingga
salinitas meningkat.
Pada gambar lampiran 1.4 dan 1.5,
terlihat ada bagian grafik yang lurus, hal ini
disebabkan karena pada saat mendeteksi
salinitas, sensor terhalang oleh sampah, sehingga
sensor mengalami kesulitan dalam mendeteksi
salinitas air sungai. Pada gambar lampiran 1.8
tanggal 26 Mei 2015, terlihat grafik salinitasnya

terputus. Hal ini disebabkan karena listrik PLN


sedang mati, karena alat pengukuran ini
mendapat suplai listrik dari PLN.
E. Korelasi Pasang Surut dan Salinitas Air
Sungai
Untuk memperoleh korelasi antara
pasang surut dan salinitas air sungai dilakukan
dengan mengambil rata-rata data salinitas air
sungai harian selama 15 hari kemudian
dihubungkan dengan rata-rata data pasang surut
sungai harian yang diperoleh dari penelitian
Demi, R.,K., 2015 yang diukur ditiga titik
pengukuran yang sama dan interval waktu yang
bersamaan selama 15 hari (lampiran 2.2) dalam
suatu grafik. Grafik kolerasi antara pasang
surut sungai harian dan salinitas air sungai harian
dibagi atas 3 grafik, yaitu grafik korelasi di titik
pengukuran I, II dan III. Grafik korelasi pada tiga
titik pengukuran dapat dilihat pada gambar 4.9,
gambar 4.10 dan gambar 4.11 berikut.

Gambar 4.9 Grafik Korelasi Pasang Surut dan


Salinitas Air Sungai Serut dititik Pengukuran I

Gambar 4.10 Grafik Korelasi Pasang Surut dan


Salinitas Air Sungai Serut dititik Pengukuran II

Gambar 4.11 Grafik Korelasi Pasang Surut dan


Salinitas Air Sungai Serut dititik Pengukuran III
Setelah dilakukan perhitungan dengan
menggunakan persamaan korelasi (3) diperoleh

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

nilai koefisien korelasi dari rata-rata pasang surut


harian dan rata-rata kecepatan arus sungai harian
dititik pengukuran I sebesar 0,21, dititik
pengukuran II sebesar -0,52 dan titik pengukuran
III sebesar -0,10. Nilai korelasi yang diperoleh
pada titik pengukuran II adalah korelasi cukup
dan termasuk korelasi searah karena mempunyai
nilai positif, sedangkan nilai korelasi yang
diperoleh pada titik pengukuran I dan III adalah
korelasi lemah dan termasuk korelasi tebalik
karena mempunyai nilai negatif. Hal ini terjadi
karena posisi sensor konduktivitas dalam
melakukan pengukuran tidak mencapai dasar
sungai sehingga tidak cepat mendeteksi itrusi air
laut yang masuk ke dalam aliran Sungai Serut.
V KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa:
1. Telah terealisasi 3 instrument pengukur
salinitas air sungai secara real time
berbasis telemetri GSM dengan nilai
error
kalibrasi
masing-masing
instrument yaitu instrument (I) 2%,
instrument (II) 4% dan instrument (III)
1% diakibatkan karena resolusi pada
refraktrometer 0,1 0/ 00 sedangkan
resolusi instrument rancangan 0.1 0/ 00
dan Alat dapat bekerja optimal apabila
daerah penelitian terjangkau jaringan
GSM dan sumber daya listrik yang tetap
stabil.
2. Pola rata-rata perubahan salinitas
sungai harian dan rata-rata pasang surut
harian mempunyai perbedaan koefisien
korelasi ditiga titik pengukuran yaitu
dititik pengukuran I sebesar 0,21 dititik
pengukuran II sebesar -0,52 dan titik
pengukuran
III
sebesar
-0,10
diakibatkan karena letak kedalaman
sensor konduktivitas dalam pengukuran
salinitas mempengaruhi hasil yang
didapatkan.
B. Saran
Setelah dilakukan penelitian diperoleh
beberapa saran untuk penelitian selanjutnya
sebagai berikut:
1. Untuk pengukuran dalam jangka waktu
yang lama perlu dilakukan maintenance
sensor dari sampah-sampah yang
tersangkut dan posisi peletakan sensor
sebaiknya lebih dalam lagi mendekati

10

2.

3.

dasar sungai agar dapat mengurangi


hambatan dalam mendeteksi salinitas
dan mengurangi error.
Untuk
mengoptimalkan
kinerja
pengambilan data, disarankan agar
menggunakan catu daya dari baterai
untuk menggantikan sumber energi dari
PLN jika mengalami gangguan agar
data yang diperoleh lengkap.
Untuk memperhitungkan parameter
yang mempengaruhi salinitas air sungai
selain pasang surut sungai, perlu
diperhatikan kedalaman pengukuran
salinitas air sungai.
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi,S.2011.Penakar
Curah
Hujan
Otomatis dengan Data Logger SD/MMC
Berbasis SMS (Short Message Service).
Makalah Seminar Tugas Akhir, Hal 1-9.
Ahmad.2010.Aplikasi
Monitoring
Suhu
Ruangan Berbasis Komputer dan SMS
Gateway.
Jurnal
Informatika
Mulawarman, Hal 21.
Ahmad,Y.2003.Rancang
Bangun
Alat
Pengukur Suhu dan Salinitas Digital
Berbasis Mikrokontroler 89C51. Skripsi
Sarjana. Bogor. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Aidil,D.,A.2014.Pemetaan Salinitas Air Laut
Akibat
Pasang
Surut
di
Muara Saluran Jongaya.
Skripsi
Sarjana. Makasar. Fakultas Teknik.
Universitas Hasanuddin.
Amri,K.2003.Budi Daya Udang Windu Secara
Intensif. AgroMedia Pustaka:Jakarta.
Arief,N.,R.2011.Pemrograman Web Dinamis
menggunakan PHP dan MySQL. C.V
ANDI OFFSET. Yogyakarta.
Bambang.T.2008.Hidrologi
Terapan.Beta
ofset:Yogyakarta. Hal 195-273.
Guernion.2012.The Synthesis of 3-Octadecyland
3-Docosylpyrrole,
Their
Polymerization and Incorporation into
Novel
Composite
Gas
Sensitive

JURNAL FMIPA FISIKA-UNIVERSITAS BENGKULU

Resistors. Synthetic Metals, Hal 139147.


Irianto,A.2003.Probiotik
Yogjakarta:Gadjah
Press.

Mada

Akuakultur.
University

Jagur,J.2002.Polymers
for
Advanced
Technologies, Review Electronically
Conductive Polymer, Hal 615-125
Krisitiyanto,P.2011.Sistem Telemetri TInggi
Muka Air Sungai Menggunakan Modul
GSM Berbasis MIkrokontroler AVR
ATMega32. Makalah Seminar Tugas
Akhir, Hal 1-8.
Ningsih,N.,S.1990.Studi
Dinamika
PasangSurut (Komponen M2) Di Laut
Jawa dengan Menggunakan Metoda Beda
Hingga Eksplisit. Tesis Sarjana, Jur.
Geof. Dan Meteor., FMIPAITB,
Bandung.
Prajitno,S.1994.Digital current meter Alat
Pengukur Aliran Air Sungai.SerpongTangerang 15310.
Septiana,Q.,A.2009.Pembuatan Alat Ukur
Kadar Garam (Salinitas) dalam Air
Berbasis Mikrokontroler (Studi Kasus
Pada Tambak). Universitas Islam Negeri
Malang.
Soewarno.1995.Hidrologi Pengukuran dan
Pengelolaan
Data
Aliran
Sungai
(Hidrometri).Bandung:NOVA.