You are on page 1of 10

MODIFIKASI TEPUNG TALAS BOGOR (Colocasia esculenta L.

Schoot )
DENGAN METODE OKSIDASI NATRIUM HYPOCHLORITE (NaOCl) TANPA
MENGGUNAKAN KATALIS
Yohana Silaban*), Rista Amalia Septiani
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, 50275
Abstract
Taro is one of Indonesia local plant that can be found in almost all islands in Indonesia, both
wild and cultivated. One type of the most famous in Indonesia is Bogor Taro. High
carbohydrate content makes this plant has the potential to serve as an alternative food
substitute for wheat flour. The aim of this study was to obtain quality taro flour nearing flour
through modification by oxidation technique using sodium hypochlorite (NaOCl). The
variables studied were concentration of the suspension (10%, 20% and 30%), the
concentration of oxidizing agents (1%, 2% and 3%), the operating temperature (30 oC, 40oC
and 50oC), operating time (30, 60, 90 and 120 min). The result showed that the optimum
conditions of operation at the use concentration suspension of 30%, operating time 30
minutes, the concentration of oxidizing 2% and the operating temperature of 30 oC generate
rated swelling powder is 7.2 g/g to 11.8 g/ g and the value of water solubility is 2.0% to
5.71%. Bogor Taro starch modification provide considerable influence on the development of
the value of the flour but the value of solubility in water that is produced is still adrift quite
low when compared to wheat flour.
Key word : flour oxidation; sodium hypochlorite; swelling power; water solubility
Abstrak
Umbi talas bogor merupakan salah satu tanaman lokal Indonesia yang dapat dijumpai hampir
di seluruh kepulauan di Indonesia baik yang liar maupun yang dibudidayakan. Salah satu
jenis yang paling terkenal di Indonesia adalah Umbi Talas Bogor. Kandungan karbohidratnya
yang tinggi menjadikan tanaman ini sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai salah satu
alternatif bahan pangan pengganti tepung terigu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
memperoleh kualitas tepung umbi talas yang hampir mendekati tepung terigu melalui
modifikasi dengan teknik oksidasi menggunakan natrium hipoklorit (NaOCl). Variabel yang
dikaji adalah konsentrasi suspensi (10%, 20% dan 30%), konsentrasi oksidator (1%, 2% dan
3 %), suhu operasi (30oC, 40oC dan 50OC), waktu operasi (30, 60, 90 dan 120 menit). Dari
hasil penelitian diketahui bahwa kondisi optimum operasi pada penggunaan konsentrasi
suspensi 30 %, waktu operasi 30 menit, konsentrasi oksidator 2 % dan suhu operasi 30 oC
menghasilkan nilai daya kembang tepung dari 7.2 g/g menjadi 11.8 g/g dan nilai kelarutan di
dalam air dari 2.0% menjadi 5.71%. Modifikasi tepung umbi talas bogor memberikan
pengaruh yang besar terhadap nilai daya kembang tepung akan tetapi nilai kelarutan di dalam
air yang dihasilkan masih terpaut cukup rendah apabila dibandingkan dengan tepung terigu.
Kata kunci : Oksidasi tepung; natrium hipoklorit; daya kembang; kelarutan

PENDAHULUAN
Kebutuhan bahan
semakin

meningkat

memanfaatkan sumber bahan baku lokal


pangan

seiring

akan
dengan

bertambahnya laju pertumbuhan penduduk.


Indonesia merupakan salah satu Negara yang
memiliki tingkat permintaan tinggi terhadap
kebutuhan pangan. Salah satu bahan pangan
yang banyak diminati oleh masyarakat
Indonesia adalah tepung terigu. Berdasarkan
data dari Badan Pusat Statistik (BPS), setiap
tahunnya Indonesia mengimpor gandum
dalam jumlah yang sangat besar. Pada tahun
2011 Indonesia telah mengimpor gandum
sebanyak 5,4 juta metric ton (setara US$ 2,1
miliar)

gandum.

Dan

jumlah

tersebut

mengalami peningkatan pada tahun 2012


yang mencapai 6,2 juta metric ton atau
senilai dengan US$ 2,2 miliar. Pada periode
Januari April 2013, volume impor gandum
Indonesia mencapai 2 juta metric ton dengan
nilai impor mencapai US$ 771,4 juta. Pada
periode Januari-April 2013, volume impor
gandum Indonesia mencapai 2 juta metric ton
dengan nilai impor mencapai U$$ 771,4 juta.
Sepanjang Januari-Juli 2013, Indonesia telah
mengeluarkan dana sebesar U$$ 1,46 miliar
atau setara dengan Rp 16,5 triliun untuk
mengimpor gandum.
segera diantisipasi maka akan menyebabkan
ketahanan

ditempuh

adalah

melakukan

modifikasi

tepung dengan berbahan baku umbi


umbian. Umbi umbian merupakan salah
satu sumber bahan pangan lokal yang dapat
dijadikan

sebagai

alternatif

usaha

diversifikasi pangan.
Talas (Colocasia esculentum L Schott)
merupakan salah satu jenis umbi umbian
yang dapat dijadikan sebagai alternatif
sumber bahan pangan yang mengandung
karbohidrat dan juga tanaman ini memiliki
prospek

yang

sangat

baik

dalam

pemanfaatannya. Selain memiliki kandungan


karbohidrat yang tinggi, umbi talas juga
mengandung protein, vitamin C, tiamin,
riboflavin, niasin, dan mineral. Selain itu,
pati talas mengandung forfor dan kalsium
yang cukup tinggi, vitamin B-komplek dan
provitamin A. Pati talas juga sangat baik
orang-orang yang menderita radang usus,
dikarenakan

pati

umbi

talas

tidak

mengandung gluten (Onwueme,1987;Moy


and Nip. 1983). Kandungan-kandungan yang
tersebut diatas merupakan nilai lebih yang
dimiliki umbi talas apabila dibandingkan
dengan tepung terigu. Dengan kelebihan

Apabila permasalahan tersebut tidak


melemahnya

Indonesia. Salah satu langkah yang dapat

pangan

Negara

Indonesia. Oleh sebab itu perlu dilakukan

tersebut, talas direkomendasikan bagi orangorang yang menderita gangguan pencernaan


dan talas juga dapat dijadikan sebagai bahan
baku pembuatan makanan bagi bayi (ASI).

beberapa terobosan terobosan baru untuk


menghasilkan

tepung

terigu

dengan
2

Umbi talas juga dapat dijadikan sebagai


alternatif

bahan

baku

dalam

usaha

disaring dengan menggunakan kertas saring,


dikeringkan

denga

menggunakan

oven

diversifikasi pangan. Salah satu olahan

dengan suhu 50oC kemudian tepung digiling

berbahan baku umbi talas yang dapat

hingga halus 100 mesh. Kemudian sampel

dikembangkan adalah tepung talas. Dengan

disimpang di dalam plastic kedap udara

berbahan tepung talas, maka masyarakat

untuk keperluan selanjutnya dan dianalisa

dapat mengurangi penggunaan tepung terigu

saya kembang dan kelarutannya di dalam air.

dalam kehidapn sehari hari.

Variabel yang dikaji adalah konsentrasi


suspensi (10%, 20% dan 30%), konsentrasi

METODE PENELITIAN

oksidator (1%, 2% dan 3 %), suhu operasi

Bahan

(30oC, 40oC dan 50OC), waktu operasi (30,

Bahan baku yang digunakan dalam

60, 90 dan 120 menit).

penelitian ini adalah tepung umbi talas Bogor


dengan, ai mineral Aqua yang diperoleh dari

Analisa Sifat Fungsional Tepung Umbi

Depot Air Mineral Tembalang. Reagen kimia

Talas Modifikasi

dari Laboratorium Pelayanan Umu Teknik

Analisa water solubility dilakukan dengan

Kimia,

menimbang 0,5 g tepung lalu dimasukkan

Fakultas

Teknik,

Universitas

Diponegoro.

dalam 10 ml air suling dalam tabung reaksi.


Sampel kemudian dipanaskan dalam bak air

Prosedur Penelitian

pada suhu 60 C selama 30 menit. Pada akhir

tepung umbi talas Bogor dioksidasi did lam

pemanasan, sampel disentrifugasi pada 1600

lingkungan kamar. Dua puluh lima gram

xg selama 15 menit dan 5 ml supernatan

tepung

untuk

dialirkan dan dikeringkan sampai berat

memperoleh suspensi dngan konsentrasi

konstan. (Leach Methods).


Sampel ditimbang seberat 0,1 gram lalu

ditambahkan

dengan

air

sesuaid dengan variabel yang ditentukan.


Oksidasi dialkukan pda suhu sesuai dengan
varibel dengan pengadukan secara terus
menerus selama waktu yang ditentukan.
Setelah lima belas menit pengadukan larutan
NaOCl ditambahkan tetes demi tetes sesuai
dnegan konsentrasi yang ditentukan. Setelah
proses oksidasi selesai, tepung kmudia dicuci
sebanyak tiga kali pencucian, kemudian

dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambah


10 ml air suling dan dipanaskan pada suhu
60oC selama 30 menit, sambil terus diaduk
selama

pemanasan.

Sampel

kemudian

disentrifuge pada 1600xg selama 10 menit


untuk

dipisahkan

pasta

dengan

supernatannya.
Bagian pastanya diambil lalu timbang.
(Kainuma Methods)
3

karboksil),
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Konsentrasi Suspensi

sehingga

terbentuknya

memungkinkan

cross-linking

yang

dapat

menyebabkan penurunan nilai daya kembang


dan kelarutan pati ( Lin et al., 2003).

Gambar 1. Pengaruh Konsentrasi Suspensi


terhadap Swelling Power Tepung Talas
o
gambar
ditunjukkan
denganPada
Konsentrasi
NaOCl
2 %, Suhu 30bahwa
C
pada berbagai waktu

tepung

talas

cenderung

dengan

suspensi

mengalami

30

peningkatan

nilai

swelling power pada waktu operasi 30 menit


dan kemudian mengalami penurunan hingga
waktu operasi 120 menit. Hal yang sama juga
terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh
Shangseethong., dkk (2010) dengan bahan
tepung cassava, hasil optimum oksidasi
tepung cassava menggunakan NaOCl dicapai
pada waktu 30 menit pertama. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Keakpetoon
dan Wang (2006), dikatakan bahwa selama
proses oksidasi gugus hidroksil dari molekul
pati akan teroksidasi membentuk gugus
karbonil

dan

gugus

karboksil.

Proses

terbentuknya gugus karbonil dan gugus


karboksil

pada

oksidasi

NaOCl

berlangsung

menggunakan
sangat

cepat

(Shangseethong, 2010). Oleh sebab itu,


semakin lama waktu proses oksidasi dapat
menyebabkan

terjadinya

oksidasi

Gambar 2. Pengaruh Konsentrasi Suspensi


terhadap Water Solubility Tepung Talas
o
dengan
Konsentrasi
NaOCl
2 %, Suhu 30
C
Gambar
2 juga
menunjukkan
bahwa
pada berbagai waktu

konsentrasi suspensi mempengaruhi nilai


water solubility tepung talas bogor. Oksidasi
tepung talas bogor dengan konsentrasi 10%
dan 20 % memberikan pengaruh yang tidak
terlalu besar terhadap nilai water solubility
tepung. Pada konsentrasi suspensi 30 %
dicapai nilai water solubility yang optimum
yaitu 5,71 % pada 30 menit pertama.
Peningkatan kelarutan pada awal proses
diakibatkan

oleh

depolimerisasi

dan

penurunan kekuatan struktur butir pati yang


memicu terlepasnya amilosa. Fraksi amilosa
yang

terlepas

dari

rantai

pati

akan

mempengaruhi nilai kelarutan tepung di


dalam air (Matsugama, 2009). Fenomena ini
juga terjadi pada penelitian yang dilakukan
oleh

Matsugama.,

2009

pada

okisdasi

Peruvian carrot.

lanjut

(konversi gugus karbonil menjadi gugus

Pengaruh Konsentrasi Oksidator


4

Gambar 3. Pengaruh Konsentrasi Oksidator


terhadap swelling power Tepung Talas
dengan Konsentrasi Suspensi 30 %, Suhu 30
DarioCgambar
diketahui
pada berbagai
waktubahwa nilai

optimum swelling power tepung talas bogor


termodifikasi

adalah

11.98

g/g

pada

penggunaan 2 % konsentrasi NaOCl di menit


30. Hal ini dikarenakan terjadinya penurunan
kadar

amilosa

terjadinya

pada

pati

peningkatan

dikarenakan

derajad

oksidasi

akibat bertambahnya jumlah oksidator yang


digunakan

(Staff

Pengajar

FMIPA

Universitas Andalas.,1994). Apabila jumlah


amilosa pada granula pati semakin menurun
maka nilai daya kembang pati dan nilai
kelarutan pati

akan cenderung meningkat

(Chan., 2009).
Pada

Gambar 4. Pengaruh Konsentrasi Oksidator


terhadap swelling power Tepung Talas dengan
Konsentrasi Suspensi 30 %, Suhu 30 oC pada
berbagai waktu

Gambar

4.

menunjukkan

bahwa

konsentrasi oksidator NaOCl mempengaruhi


nilai kelarutan tepung (water solubility) di
dalam air. Pada waktu operasi yang sama
yaitu 30 menit, nilai kelarutan tepung di
dalam air pada penggunaan NaOCl 2 % lebih
optimum dibandingkan dengan penggunaan
NaOCl 1 % dan 3 %. Sedangkan penurunan
nilai

kelarutan

tepung

di

dalam

air

disebabkan karena terjadinya oksidasi lanjut


yang memungkinkan terbentuknya cross
linking

dan

dapat

mengakibatkan

terperangkapnya amilosa di dalam granul


pati, sehingga amilosa tidak dapat keluar dari

menit

60

120,

terjadi

rantai pati (Theetol, dkk., 2012).

penurunan nilai daya kembang tepung talas


bogor termodifikasi, hal ini dikarenakan

Pengaruh Suhu Operasi

semakin lama waktu proses oksidasi dapat


menyebabkan

terjadinya

oksidasi

lanjut

(konversi gugus karbonil menjadi gugus


karboksil),
terbentuknya

sehingga
cross-linking

memungkinkan
yang

dapat

menyebabkan penurunan nilai daya kembang


dan kelarutan pati.
5

Gambar 6. Pengaruh Suhu Operasi terhadap


Water Solubility Tepung Talas dengan
Konsentrasi Suspensi 30 %, Konsentrasi NaOCl
2 % pada berbagai waktu
Gambar 5. Pengaruh Suhu Operasi terhadap
Swelling Power Tepung Talas dengan
Konsentrasi Suspensi 30 %, Konsentrasi
NaOCl 2 % pada berbagai waktu

Gambar 6.

menunjukkan pengaruh

suhu operasi terhadap kelarutan tepung di


dalam air. Suhu optimum yang dicapai pada

Tepung yang dioksidasi pada suhu

penelitian ini adalah 30oC. Peningkatan nilai

30oC memiliki daya kembang yang lebih

kelarutan tepung di dalam air pada suhu

tinggi apabila dibandingkan dengan suhu

operasi 30oC diakibatkan oleh semakin

40oC dan 50oC pada waktu operasi yang

meningkatnya jumlah fraksi amilosa yang

sama yaitu 30 menit. Fenomena yang sama

terlepas dari rantai granula pati sehinga

juga dilaporkan oleh Alam and Hasnai.,

jumlah amilosa yang yang terdapat di dalam

2009,

nilai

granul granul pati semakin sedikit. Seperti

swelling power seiring dengan peningkatan

yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa

suhu operasi. Hal ini dikarenakan selama

fraksi amilosa yang terlepas dari rantai pati

pemanasan pada suhu operasi yang tinggi,

akan mempengaruhi nilai kelarutan tepung di

terjadi pemecahan struktur granul granul

dalam air (Matsugama, 2009).

pati sehingga komponen penyususun pati

jumlah amilosa pada granula pati semakin

seperti amilosa dan amilopektin keluar dari

menurun maka nilai kelarutan tepung di

granula pati mengakibatkan nilai swelling

dalam air akan senantiasa meningkat (Chan.,

power mengalami peningkatan (Alam and

2009).

bahwa

terjadi

peningkatan

Apabila

Hasnain., 2009).
KESIMPULAN
Modifikasi tepung umbi talas bogor dengam
teknik

oksidasi

hipoklorit

menggunakan

memperbaiki

sifat

natrium
fungsional

tepung yaitu nilai swelling power dan water


solubility. Hasil optimal tepung umbi talas
diperoleh dengan kondisi operasi rasio
suspensi 30 % ; konsentrasi oksidator 2 % ;
suhu operasi 30oC dan waktu operasi 30
menit. Nilai swelling power pada pati
6

termofikasi adalah 11.98 g/g dan nilai water


solubility adalah 5.71 %.

Ann-Charlott Eliasson., 2004, Starch in


Food.

Woodhead

Publishing

Limited

Cambridge England.

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih diberikan kepada Ir.

AOAC.,

Catarina

selaku

Analysis Association of Official Agricultural

pembimbing kami yang telah memberikan

Chemists. Washington DC. Journal of Food

banyak

Composition and Analysis., 20, 14715.

Sri

Budiyati,

bimbingan

dan

MT,
saran

sehingga

(1995),

Official

Methode

of

laporan penelitian ini dapat diselesaikan


Badan Pusat Statistik. 2012. Bahan Pangan

dengan baik

Impor.

[online].

Terhubung

di

DAFTAR PUSTAKA

http://www.asiabusinessinfo.com/bahan-

AACC, 2007, Pasting properties of oat-

pangan-yang-terus-di-impor/

rapid viscosity analysis. AACC Method


76-22, Page 1-3, October 10, 2007.

Chan, H.T., Bhat, R., Karim, A.A., (2009),


Physicochemical and Functional Properties

Adebowale, K. O., Afolabi, T.A., Lawal,

of

O.S.,

Agricultural and Food Chemistry., 57, 5965

(2002),

Isolation,

modification

and

characterization

of

chemical

physicochemical
Bambarra

groundnut

(Voandzeia subterranean) starch and flour.


Food Chem,. 78, 305-311.
Adebowale, K. O., Owolabi, B.I., Olayinka,
O.O., Lawal, O.S., (2005), Effects of heat
moisture

treatment

and

annealing

on

physicochemical p.roperties of red sorgum


starch. African J of Biotechnology 4 (9) :
928-933.
Alam, F., Hasnain, A., (2009), Studies on
Swelling and Solubility of Modified Starch
from Taro (Colocasiaesculenta): Effect of pH
and Temperature, Agriculturae Conspectus
Scientificus., 74 (1), 45- 50.

Ozone-Oxidized

Starch.

Journal

of

5970.
Chang Y. L., Shao Y. Y., Tseng K. H., (1995),
Gelation

mechanism

and

rheological

properties of rice starch. Cereal Chem.,


72(4), 339.
Daniel, R., Whistler., (1990),. Function of
polysaccharides. In: Food Additives, Marcel
Dekker, New York, 399-406.
Dessy Arianti., Catarina Sri Budiyati., Andri
Kahyo Kumoro., (2014), Modifikasi Tepung
Umbi Talas Bogor (Colocasia esculenta L.
Schott) dengan Teknik Oksidasi sebagai
Bahan Pangan Pengganti Tepung Terigu.
Reaktor., 15 (1), 1-9.

Direktorat
Kandungan

Gizi

Depkes

Karbohidrat

RI,

(1981),

Umbi

Talas.

Suismono. Jakarta.

Agricultural Chemistry and Biotechnology.,


39, 4953.
Kuakpetoon,

D.,

Y.

Wang,

(2001),

Food and Agriculture Organization (FAO).

Characterisation and analysis of starches, In:

(2001).FAO food and nutrition paper 52

R.L.,Whistler, E.F., Paschall. eds. Starch

Addendum

chemistry and Technology, Vol. II, Academic

9.Food

and

Agriculture

Oranization of the United Nations.

Press, New York, pp: 620-625.

Forssel P, Hamunen A, Autio K, Suortti T,

Kuakpetoon,

Poutanen K.., (1995), Hypochlorite oxidation

Structural

of Barley and Potato starch. Starch., 47,371-

physicochemical properties of oxidized corn

377.

starches

Hodge, J. E., & Osman, E. M., (1996),

D.,

Wang,

Y.J.,

(2006),

characteristics
varying

in

amylose

and
content.

Carbohydrate Research, 341, 1896-1915.

Carbohydrates. In O. R. Fennema (Ed.), Food

Koswara, 2006, Teknologi Modifikasi Pati.

chemistry (p.47). New York: Marcel Dekker

Ebook Pangan

Hoover, R., Sailaja, Y., & Sosulski, F. W.,

Lawal,

(1996), Characterisation of starches from

psycochemical properties and retrogradation

wild and long grain brown rice. Food

characteristics of native, oxidized, asetilated

Research International., 29, 99107.

acid-thinned new cocoyam (xanthosoma

Jane et al., (1999), Effect of amylopectin


brain chain length and amylose content on

O.S.,

(2004),

sagittifoltum) starch.

Composition,

food chemistry, 87,

206-218.

the gelatinization and pasting properties of

Leach, H.W., Mc Cowen, L.D., and Schoch,

starch. Cereal Chem., 76, 629 637.

T .J., (1959), Structure of the starch granules.

Jenkins, P. J., Donald, A. M., (1995), The


influence of amylose on starch granules

In: swelling and solubility patterns of various


starches, Cereal Chemistry., 36, 534 544.

structure. International Journal of Biological

Lister, M W., (1955), Decomposition of

Macromolecules, 17, 315321.

Sodium Hypochlorite : The Uncatalized

Kim, R. E., & Ahn, S. Y., (1996), Gelling


properties of acid-modified red starch gel.

Reaction. Canadian Journal of Chemistry.,


34, 465-478.

Matsuguma, L.S., Lacerda, L.G., Schnitzler,

Power.

E., da Silva Carvalho Filho, M.A., Franco,

Number 4 Pages 525-529.

C.M.L

and

Demiate,

I.M.,

(2009),

Characterization of Native and Oxidized


Starches of Two Varieties of Peruvian Carrot
(Arracacia xanthorrhiza, B.) from Two
Production Areas of Paran State, Brazil.
Brazilian

Archives

of

Biology

and

Cereal

Volume

75,

Staff Pengajar Jurusan Kimia FMIPA Unand.,


(1994), Modifikasi Pati Tapioka dengan
Metoda Oksidasi Menggunakan Natrium
Hipoklorit.

Jurnal

Matematikan

dan

Pengetahuan Alam. 3 (1).


Sutrisno,

Technolog.y, Vol.52(3), 701-713.

Chemistry.

Koswara.

Modul

Teknologi

Pengolahan Umbi Talas. 2013 [online].


Moy, J.H. and K.W. Nip., (1983), Processed
Food. In: K.K. Wang, editor.

Taro: A

Review of Colocasia esculenta and Its


Potentials.

University of Hawaii Press.

Terhubung

di

http://seafast.ipb.ac.id/tpc-/wpcontent/uploads/2013/10/1-pengolahantalas.pdf. Diakses tanggal 27 Maret 2014.

Honolulu., pp.261-268.
Syamsir,Elvira. 2012. Talas, Andalan Bogor.
Onwueme, I.C., (1978), The Tropical Tubers

http://ilmupangan.blogspot.com/2012/06/tal

Crops, Yams, Cassava, Sweet Potato, and

as-andalan-bogor_427.html.Diakses tanggal

Cooyams. John Willey dan Chisester, New

5 April 2014.

York.
Tethool, E.F., (2012), Pengaruh Konsentrasi
Parovouri, P., Hamunen, A., Forssel, P.,

Hidrogen Peroksida dan Irradiasi Ultraviolet

Autio,

K., (1995),

terhadap Sifat Fisikokimia dan Baking

Oxidation of potato starch by hidrogen

Expansion Pati Sagu, Prosiding InSINas,

peroxide. Starch 47,19 -23.

2012.

Sangseethong, K., Termvejsayanon, N., and

Whistler, R.L. and Schweiger, R., (1959),

Sriroth, K., (2010), Characterization of

Oxidation of amylopectin with hypochlorite

physicochemical properties of hypochlorite-

at different hydrogen ion concentrations. J.

and

Am. Chem. Soc.,, 81,3136-3139

K., and

Poutanen,

peroxide-oxidized

cassava

starches.

Carbohydrate Polymers, 82, 446-453.


Sasaki, Tomoko and Matsuki, J., (1998),
Effect of Wheat Starch Structure on Swelling

Zhang, Y.R., Wang, X.L., Zhao, G.M. and Wang,


Y.Z., (2012), Preparation and properties of
oxidized starch with high degree of oxidation,
Carbohydrate Polymers, 87, pp. 2554- 2562.

Zulaidah, Agustien (2014). Modifikasi Ubi Kayu


dengan Kombinasi Proses Penggaraman dan
Proses Biologi untuk Substitusi Terigu

10