You are on page 1of 16

ANALISA STRATEGI SITUASI DAN KONDISI PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN
BANGSA MELALUI PIKIRAN RAHMI RAHMA ANDINI
1. Judul kelompok analisa strtegi situasi dan kondisi pendidikan
kewarganegaraan di kota tapanuli selatan
Penjelasan :
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai bagian dari mata pelajaran yang diberikan di
sekolah ikut berperan besar dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. PKn merupakan
salah satu instrumen fundamental dalam bingkai pendidikan nasional sebagai media bagi
pembentukan karakter bangsa (nation and character building) di tengah heterogenitas atau
pluralisme yang menjadi karakteristik utama bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan
bertujuan untuk mendidik peserta didik agar menjadi warga negara yang baik (good citizen).
Warga negara yang baik memiliki tiga kemampuan kewarganegaraan meliputi: pengetahuan
kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan
karakter kewarganegaraan (civic disposition). Agar tujuan PKn dapat tercapai, perlu
dikembangkan strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan ketiga kemampuan
kewarganegaraan tersebut. Salah satu strategi yang dapat dipilih adalah dengan
mengembangkan strategi pembelajaran kewarganegaraan berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai
kearifan lokal memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter dan identitas bangsa.
Pendidikan kewarganegaraan yang dikembangkan dengan memanfaatkan kearifan lokal akan
bermuara pada munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif, dan kreatif.
2. A.individu :
Indonesia adalah sebuah negara dengan penduduk terbesar keempat dunia
setelah Cina, Amerika Serikat (AS) dan India. Besarnya jumlah penduduk tersebut
juga diikuti dengan bervariasinya suku dan etnis. Suku Jawa mencapai sekitar
42% dari keseluruhan suku di Indonesia; di luar itu ada Suku Sunda, Batak,
Maluku, Papua, dan sebagainya. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional
akan tetapi terdapat puluhan bahasa ibu di negeri ini; Bahasa Jawa, Bahasa
Sunda, Bahasa Minang, Bahasa Batak, Bahasa Aceh, Bahasa Papua Dalam, dan
sebagainya.
Kebiasaan dan budaya antarsuku di Indonesia juga saling berbeda; ambil contoh
upacara pemakaman di Jawa dilaksanakan sesegera mungkin setelah seseorang
meninggal dunia; namun upacara pemakaman di Tana Toraja Sulawesi
dilaksanakan ketika pihak keluarga musibah memiliki dana yang cukup untuk
melaksanakan upacara pemakaman. Kepemilikan dana ini bisa beberapa hari
setelah kematian atau beberapa bulan, bahkan ada yang beberapa tahun
kemudian. Di sisi lain orang meninggal di Pulau Jawa biasanya dikubur di dalam
tanah atau dikebumikan, orang mati di Tana Toraja digantung di pegunungan,
orang mati di Pulau Bali ada yang dibakar, dan orang mati di Daerah Trunyan
(Bali) ada yang diletakkan di tanah di tengah danau.
Perbedaan suku, bahasa, kebiasaan dan budaya tersebut merupakan realitas
yang tidak dapat dipungkiri. Hal itu disadari betul oleh bangsa Indonesia. Hal itu
tetap akan terjadi semenjak dulu, sekarang maupun pada masa-masa yang akan
datang.
Perbedaannya, dulu ketika bangsa ini menjelang dan pascakemerdekaan
dipraktekkan secara konkret oleh masyarakat Indonesia. Terjadinya aneka

perbedaan tersebut seolah justru menjadi lem perekat untuk membentuk


kesatuan bangsa dan negara. Terjadinya peristiwa Soempah Pemoeda tahun
1928 yang didalamnya terdapat persatuan pemuda dari Jawa (Jong Java),
persatuan pemuda dari Sumatra (Jong Sumatra), persatuan pemuda dari
Sulawesi (Jong Selebes), dsb, merupakan cermin bersatu padunya para pemuda
dari berbagai suku bangsa untuk mencapai cita-cita bersama.
b. keluarga
Pada sisi lain diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia oleh
Soekarno (Jawa) dan Bung Hatta (Sumatera) di samping secara konstitusional
merupakan wakil dari bangsa Indonesia akan tetapi secara kultural merupakan
simbol wakil dari suku-suku bangsa yang ada di negara kepulauan ini dalam
menyatakan kemerdekaannya. Hal ini merupakan praktek dari semangat bhinneka
tunggal ika yang diimplementasikan dalam berbangsa dan bernegara.
Di samping kemajemukan budaya, bangsa Indonesia memiliki jati diri yang bersifat
khas, yaitu sebagai bangsa yang ramah, murah senyum, santun, bertenggang rasa.
Keramahan kita, kemurah-senyuman kita, kesantunan kita, dan ketenggang-rasaan
kita sudah barang tentu menguntungkan diri sendiri di samping bangsa lain.
Kemajemukan budaya daerah bukan merupakan hambatan dan kendala untuk
membentuk bangsa yang kuat dan bersatu. Justru kemajemukan tersebut dapat
menjadi lem perekat untuk mempersatukan kekuatan kita.
Namun sekarang, dalam berbagai kasus, praktek dari semangat bhinneka tunggal
ika tersebut terasa mengendor. Terjadinya Peristiwa Sambas yang melibatkan
Suku Madura dan Suku Dayak dalam sebuah perang fisik serta terjadinya Peristiwa
Ambon yang melibatkan Kelompok Islam dengan Kelompok NonIslam merupakan
bukti mengendornya semangat bhineka tunggal ika dalam kehidupan sehari-hari,
dan tentu saja dalam praktek ber-bangsa dan bernegara. Meskipun kedua peristiwa
tersebut terjadinya sudah beberapa tahun silam akan tetapi bekas fisik dan bekas
psikologisnya masih sangat dirasakan sampai sekarang. Sebuah teori menyatakan
untuk dapat menghilangkan bekas tersebut paling tidak diperlukan satu generasi.
3. Lingkungan daerah kota
Pada sisi yang lain terjadinya peristiwa pembakaran tempat ibadah dan
penyerangan secara fisik antarkelompok agama di berbagai tempat beberapa waktu
yang lalu, terlepas dari kelompok mana yang benar, merupakan cerminan
mengendornya semangat kebhinekaan kita semua. Pada masa mendatang
terjadinya peristiwa seperti ini haruslah dicegah. Semangat bhineka tunggal ika
justru harus terus dikobarkan dan diimplementasikan secara konsisten di dalam
kehidupan sehari-hari maupun dalam praktek berbangsa dan bernegara.
Kita semua harus ingat bahwa semangat bhineka tunggal ika justru menjadi sebuah
pondasi bagi bangsa bukan saja untuk memproklamasikan kemerdekaan akan tetapi
lebih daripada itu untuk berbuat atau berkegiatan; artinya kegiatan apa pun yang
dijalankan oleh bangsa ini harus dijiwai oleh semangat bhineka tunggal ika.
Semangat ini tidak akan mengendorkan persatuan akan tetapi justru akan
memperkokoh persatuan bangsa ini.
C. Ketahanan Nasional
Ketahanan nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas
ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan

nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan,


hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara
langsung maupun yang tak langsung yang mengancam dan membahayakan
integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam
mewujudkan tujuan perjuangan nasional.
Kekuatan : Dari waktu ke waktu ketahanan nasional menghadapi tantangan dan
hambatan baik yang berasal dari dalam (internal) maupun yang berasal dari luar
(eksternal). Terdapatnya pemberontakan di dalam negeri, pendirian negara dalam
negara, dan perseteruan antaretnis merupakan contoh konkret adanya tantangan
dan hambatan dari dalam. Terjadinya penjajahan bangsa lain, infiltrasi budaya
manca, dan provokasi negatif bangsa lain merupakan contoh konkret terjadinya
tantangan dan hambatan dari luar.
Secara empiris kemajemukan budaya tidak menimbulkan tantangan dan hambatan
ketahanan nasional suatu bangsa akan tetapi kalau dikemas secara bagus justru
menjadi perekat untuk memperkuat ketahanan nasional itu sendiri. Dalam hal ini
bangsa Indonesia boleh belajar dari bangsa lain yang telah teruji. Kita tidak perlu
malu belajar dari bangsa lain yang lebih berhasil mengimplementasikan
ancaman : kemajemukan budaya dalam kehidupan sehari-hari serta dalam
berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini kita bisa belajar dari Singapura yang
selama ini mampu mengemas kemajemukan untuk memperkuat ketahanan
nasional.
Singapura adalah negara berpenduduk sekitar 3,5 juta jiwa, setara dengan jumlah
penduduk DIY. Di negara ini terdapat tiga etnis besar, yaitu Tionghoa (77%), Melayu
(14%), India (7,6%), dan etnis lainnya khususnya dari Eropa (1,4%). Hampir separo
atau tepatnya 42% penduduk Singapura merupakan orang asing yang bekerja di
Negeri Singa tersebut. Bahasa resmi Singapura adalah Inggris, Melayu, Mandarin
dan Tamil, di luar itu ada Bahasa Singlish yang dipakai untuk berkomunikasi seharihari. Agama di Singapura adalah Budha (42,5%), Islam (14,9%), Kristen (14,6%),
Taoisme (8,5%), Hindu (4%), dll. Sekitar 15% penduduk Singapura tidak beragama.
Singapura adalah negara dengan masyarakat majemuk sebagaimana dengan
masyarakat Indonesia.
Kelemahan : Meskipun aneka perbedaan terjadi pada masyarakat Singapura akan
tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup rukun, saling toleran, dan saling
membantu.
Ilustrasi riilnya dalam setiap perkantoran pemerintah hampir selalu melibatkan
karyawan dari berbagai etnis tersebut. Di Singapore General Hospital (negeri) dan
Mount Elizabeth Hospital (swasta) para dokter, perawat, petugas administratif dan
karyawan lainnya melibatkan berbagai etnis yang dapat bekerja secara rukun dan
professional.
peluang : Indonesia adalah negara yang secara resmi menjadikan Bhineka Tunggal
Ika sebagai motto atau semboyannya, bahkan secara eksplisit telah ditulis dalam
Garuda Pancasila sebagai lambang negara. Dengan demikian semangat bhineka
tunggal ika hendaknya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk
memperkuat ketahanan nasional.
3. Jelaskan arti dari Trigatra a. Geografi, b. Sumber daya (b1. Sumber daya alam dan b2. Sumber
daya buatan/pabrik/industri, b3. Sumber daya budaya dan b4. Sumber daya manusia), c.
penduduk, berikut contoh dalam kasus.

a1. Berapa luas wilayah (geografi)..km, Lintang utara, barat, timur, dan selatan
b1. Sumber daya alam apa yang mempunyai kekuatan (gunakan SWOT)
b2. Sumber daya buatan/industri apa yang utama didaerah tersebut (gunakan SWOT)
b3. Sumber daya budaya apa dari peninggalan masa lampau atau sumber daya apa yang anda
ketahui di daerah itu.
b4. Sumber daya manusia apa yang utama didaerah tersebut yang berasal dari pendidikan
formal (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan yang Informal dari pelatihan-pelatihan
tersebut) sebutkan dalam angka atau tabel pertahun.
c1. Berapa jumlah penduduk yang saudara ketahui didaerah tersebut baik wanita, pria, anak
dan berapa kepadatan perkilometer

jawab
A. Aspek Trigatra yang Merupakan Aspek Alamiah
1. Posisi dan lokasi geografi negara
2. Keadaan dan kekayaan alam
3. Keadaan dan kemampuan penduduk
a.1. Geografi
Secara geografis letak Kabupaten Solok berada antara 00 32 14 dan 01 4645 Lintang
Selatan dan 100 25 00 dan 101 41 41Bujur Timur. Topografi wilayahnya sangat
bervariasi antara dataran, lembah dan berbukit-bukit, dengan ketinggian antara 329 meter
1 458 meter di atas permuakaan laut.
Kabupaten Solok disamping punya banyak sungai juga memiliki banyak danau yang
terkenal dengan pesona keindahan alamnya. Diantara danau-danau tersebut, yang terluas
adalah Danau Singkarak, diikuti oleh Danau Kembar (Danau Diatas dan Danau Dibawah) ,
serta Danau Talang. Disamping itu Kabupaten Solok juga memiliki satu gunung berapi,
yaitu Gunung Talang. Dilihat dari letaknya, posisi Kabupaten Solok sangat strategis karena
disamping dilewati jalur Jalan Lintas Sumatera, daerahnya juga berbatasan langsung
dengan Kota Padang selaku ibukota Propinsi Sumatera Barat.
Ditinjau dari komposisi pemanfaatan lahan, pada tahun 2010 sebagian besar (38.88%)
wilayah Kabupaten Solok masih berstatus hutan negara dan 15.99% berstatus hutan
rakyat. Sedangkan yang diolah rakyat untuk ladang/kebun 10.37%, dan yang dikelola oleh
perusahaan perkebunan 2.18%. Pemanfaatan lahan untuk sawah lebih kurang 6.30% dan
merupakan areal sawah terbesar di Sumatera Barat.
Sebagai sentra produksi padi di Sumatera Barat, pada tahun 2010 areal sawah terluas di
Kabupaten Solok berada di Kecamatan Gunung Talang, kemudian diikuti oleh Kecamatan
Kubung, dan Kecamatan Bukit Sundi. Kecamatan-kecamatan lain luas areal sawahnya
masih di bawah angka 3000 Ha.

Semenjak pusat pemerintahan dialihkan ke Arosuka sebagai ibukota Kabupaten Solok,


jarak tempuh ke Kota Padang selaku ibukota Propinsi menjadi semakin pendek yaitu 40
km. Sedangkan jarak ke Kota Medan 825 km dan ke Banda Aceh 1.433 km. Disisi lain
terjadi sedikit penambahan jarak kalau bepergian dari ibu kota kabupaten ke ibu kota
propinsi lain seperti Pekanbaru (231 km), Jambi(495 km), Palembang via Muara Enim (993
km), Bengkulu via Muaro Bungo (736 km) dan Bandar Lampung (1 170 km).
Pemekaran wilayah Kabupaten Solok pada akhir tahun 2003 telah melahirkan satu
kabupaten baru yaitu Kabupaten Solok Selatan. Dengan tejadinya pemekaran ini berarti
luas wilayah Kabupaten Solok mengalami pengurangan secara signifikan dari semula
708.402 Ha (7.084.02 km) menjadi 373.800 Ha (3.738.00 km).

Kabupaten Solok sebagai sentra produksi padi di Sumatera Barat perlu terus melakukan
inovasi untuk meningkatkan produktifitas lahan. Hal ini berkaitan dengan ancaman mutasi
lahan sawah yang semakin besar di masa-masa mendatang. Kalau diamati untuk produksi
padi pada tahun 2010, terjadi peningkatan produksi sebesar 4.86 persen dari 304 124.4 ton
tahun 2009 menjadi 319 667.8 ton tahun 2010. Akan tetapi peningkatan ini perlu terus
didorong untuk mengimbangi peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan pangan
terutama beras dari waktu ke waktu.
Untuk tanaman palawija terjadi peningkatan produksi yang signifikan pada tahun 2010
terutama pada komoditi kedelai yaitu dari 108.3 pada Tahun 2009 naik menjadi 168.9 pada
Tahun 2010. Kenaikan juga terjadi pada komoditi jagung, kacang tanah dan kacang hijau
serta hampir semua komoditi palawija naik pada Tahun 2010.
Pada tahun 2010 terdapat sebanyak 321 pengusaha yang melakukan pendaftaran
perusahaan baru maupun memperpanjang status perusahaan. Dari jumlah tersebut, 262
diantaranya tercatat sebagai pendaftaran baru dan 59 lainnya pendaftaran perpanjangan.
Perusahaan yang paling banyak ada pada Kabupaten Solok yaitu perusahaan perorangan,
sebesar 72.58 persen.

B1. Sumber daya industry


Kabupaten Solok memiliki pesona alam yang tidak dimiliki daerah lain seperti pesona
danau Diatas dan danau Dibawah, danau Singkarak dan hamparan hijau kebun teh di
kawasan Kecamatan Gunung Talang serta banyak lainnya. Keunggulan komparatif di
bidang pariwisata ini harus mampu dikelola dengan sebaik-baiknya untuk mendatangkan
sebanyak mungkin wisatawan ke Kabupaten Solok. Pada gilirannya diharapkan dengan
peningkatan kunjungan wisatawan akan mampu menggerakkan perekonomian dan
meningkatkan pendapatan masyarakat.

S: Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah segala sesuatu yang muncul secara alami
yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia pada umumnya.[1] Yang tergolong di
dalamnya tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, tetapi
juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas alam, berbagai jenis logam, air, dan tanah.[1][2]
Inovasi teknologi, kemajuan peradaban dan populasi manusia, serta revolusi industri telah
membawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga persediaannya terus
berkurang secara signifikan, terutama pada satu abad belakangan ini.[2] Sumber daya alam mutlak
diperlukan untuk menunjang kebutuhan manusia, tetapi sayangnya keberadaannya tidak tersebar
merata dan beberapa negara seperti Indonesia, Brazil, Kongo, Sierra Leone, Maroko, dan
berbagai negara di Timur Tengah memiliki kekayaan alam hayati atau nonhayati yang sangat
berlimpah.
W : Pada umumnya, sumber daya alam berdasarkan sifatnya dapat digolongkan menjadi SDA
yang dapat diperbaharui dan SDA tak dapat diperbaharui. SDA yang dapat diperbaharui adalah
kekayaan alam yang dapat terus ada selama penggunaannya tidak dieksploitasi berlebihan.
Tumbuhan, hewan, mikroorganisme, sinar matahari, angin, dan air adalah beberapa contoh SDA
terbaharukan. Walaupun jumlahnya sangat berlimpah di alam, penggunannya harus tetap dibatasi
dan dijaga untuk dapat terus berkelanjutan. SDA tak dapat diperbaharui adalah SDA yang
jumlahnya terbatas karena penggunaanya lebih cepat daripada proses pembentukannya dan
apabila digunakan secara terus-menerus akan habis. Minyak bumi, emas, besi, dan berbagai
bahan tambang lainnya pada umumnya memerlukan waktu dan proses yang sangat panjang
untuk kembali terbentuk sehingga jumlahnya sangat terbatas.,
O : Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah
Brazil.[8] Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang
dimiliki Indonesia dan hal ini, berdasarkan Protokol Nagoya, akan menjadi tulang punggung
perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy).[8] Protokol Nagoya sendiri
merumuskan tentang pemberian akses dan pembagian keuntungan secara adil dan merata antara
pihak pengelola dengan negara pemilik sumber daya alam hayati, serta memuat penjelasan
mengenai mekanisme pemanfaatan kekayaan sumber daya alam tersebut
T : Tingginya tingkat biodiversitas Indonesia ditunjukkan dengan adanya 10% dari tanaman
berbunga yang dikenal di dunia dapat ditemukan di Indonesia, 12% dari mamalia, 16% dari
hewan reptil, 17% dari burung, 18% dari jenis terumbu karang, dan 25% dari hewan laut.[12] Di
bidang agrikultur, Indonesia juga terkenal atas kekayaan tanaman perkebunannya, seperti biji
coklat, karet, kelapa sawit, cengkeh, dan bahkan kayu yang banyak diantaranya menempati
urutan atas dari segi produksinya di dunia.[12][13]

Sumber daya alam di Indonesia tidak terbatas pada kekayaan hayatinya saja. Berbagai daerah di
Indonesia juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis bahan tambang, seperti petroleum,
timah, gas alam, nikel, tembaga, bauksit, timah, batu bara, emas, dan perak.[14] Di samping itu,
Indonesia juga memiliki tanah yang subur dan baik digunakan untuk berbagai jenis tanaman.[14]
Wilayah perairan yang mencapai 7,9 juta km2 juga menyediakan potensi alam yang sangat besar.
B2. Sumber daya buatan (industeri)
S : Pengembangan sumber daya manusia (SDM) adalah faktor yang menentukan bagi
keberhasilan pengembangan industri teknologi informasi (information technology, IT), termasuk
industri software, untuk menuju ekonomi digital. Bandung High Technology Valley (BHTV)

adalah sebuah program Departemen Perindustrian dan Perdagangan untuk meningkatkan ekspor
elektronikaIndonesia dari sekitar USD 4 milyar pertahun pada tahun
2000 ini menjadi USD 30 milyar pertahun di tahun 2010. Pengembangan industri IT menjadi
salah satu ujung tombak program BHTV, dengan target ekspor senilai USD 8.2 milyar. Untuk itu
dibutuhkan tenaga profesional IT lebih dari 350.000 orang, di luar tenaga IT yang dibutuhkan
industri penghasil produk non-IT.
W : Hubungan antara konsumen dan produk yang mereka beli, kini telah mengalami pergeseran
yang besar. Kini konsumen memberikan perhatian ekstra terhadap pelaksanaan tanggung jawab
sosial yang dilakukan oleh sebuah perusahaan. Perkembangan garmen industri di Indonesia juga
telah menarik begitu banyak perhatian dari konsumen. Oleh karena itu, para pembeli
internasional yang menempatkan pemesanan di pasokan global yang berada di Indonesia terus
berusaha untuk meningkatkan kepatuhan para pemasok mereka terhadap peraturan perundangan
ketenagakerjaan yang berlaku, dan juga membantu mempromosikan pelaksanaan tanggung
jawab sosial yang baik.
O : Ada sekitar 300 petugas compliance dan sumber daya manusia yang bekerja pada perusahaan
penghasil produk untuk pasar Amerika dan Eropa. Jumlah para praktisi di bidang ini ditambah
dengan auditor pihak ketiga serta petugas yang direkrut secara khusus oleh perusahaan merek
internasional untuk memonitor kepatuhan, bertambah secara signifikan. Namun, berbeda dengan
manajemen Sumber Daya Manusia pada umumnya, kesempatan untuk mengembangkan
kompetensi dan kemampuan diri bagi para petugas compliance yang ada di Industri garmen di
Indonesia sangat terbatas dan bahkan sering digabungkan dengan jaringan kerja sumber daya
manusia, tanpa menyadari kebutuhan khusus yang diperlukan oleh para petugas compliance
tersebut.
T : Petugas compliance tidak hanya harus memahami tren sumber daya manusia yang berlaku
serta peraturan perundangan ketenagakerjaan Indonesia yang ada, tetapi juga perlu memahami
kepatuhan terhadap lingkungan, kepatuhan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, hubungan
industrial serta kebutuhan dan ekspektasi yang berkembang dari pembeli dan pasar internasional.
Selain itu, mereka juga harus mampu untuk dapat meningkatkan dan memfasilitasi dialog antara
manajemen dan pekerja serta mendukung kondisi kerja yang baik di industri garmen.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja garmen di Indonesia dan meningkatkan kapasitas
dari perusahaan-perusahaan untuk lebih memiliki tanggung jawab sosial, ILO melalui Better
Work Indonesia program mengadakan sebuah Networking Event bagi para praktisi sumber daya
manusia dan compliance di industri garmen di Indonesia.

B.3. Sumber daya budaya dan sejarah


Dahulu wilayah Solok (termasuk kota Solok dan kabupaten Solok Selatan) merupakan
wilayah rantau dari Luhak Tanah Datar, yang kemudian terkenal sebagai Luhak Kubuang
Tigo Baleh. Disamping itu wilayah Solok juga merupakan daerah yang dilewati oleh nenek
moyang Alam Surambi Sungai Pagu yang berasal dari Tanah Datar yang disebut juga

sebagai nenek kurang aso enam puluh (artinya enam puluh orang leluhur alam surambi
Sungai Pagu). Perpindahan ini diperkirakan terjadi pada abad 13 sampai 14 Masehi.
Kabupaten Solok bukanlah daerah baru karena Solok telah ada jauh sebelum undangundang pembentukan wilayah ini dikeluarkan. Pada masa penjajahanBelanda dulu,
tepatnya pada tanggal 9 April 1913, nama Solok telah digunakan sebagai nama sebuah
unit administrasi setingkat kabupaten yaituAfdeeling Solok sebagaimana disebut di
dalam Besluit Gubernur Jenderal Belanda yang kemudian dimuat di dalamStaatsblad van
Nederlandsch-Indie. Sejak ditetapkannya nama Solok setingkat kabupaten pada tahun
1913 hingga saat ini Solok tetap digunakan sebagai nama wilayah administratif
pemerintahan setingkat kabupaten/kota.
Pada tahun 1970, ibukota Kabupaten Solok berkembang dan ditetapkan menjadi
sebuah kotamadya dengan nama Kota Solok. Berubah statusnya Ibukota Kabupaten Solok
menjadi sebuah wilayah pemerintahan baru tidak diiringi sekaligus dengan pemindahan ibu
kota ke lokasi baru. Pada tahun 1979 Kabupaten Solok baru melakukan pemindahan pusat
pelayanan pemerintahan dari Kota Solok ke Koto Baru, Kecamatan Kubung, namun secara
yuridis Ibukota Kabupaten Solok masih tetap Solok.
Dengan dikeluarkannya Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah, pemerintah kabupaten/kota diberikan kewenangan yang nyata dan luas serta
tanggung jawab penuh untuk mengatur daerahnya masing-masing. Kabupaten Solok yang
saat itu memiliki luas 7.084,2 Km memiliki kesempatan untuk melakukan penataan
terhadap wilayah administrasi pemerintahannya. Penataan pertama dilakukan pada tahun
1999 dengan menjadikan wilayah kecamatan yang pada tahun 1980 ditetapkan sebanyak
13 kecamatan induk ditingkatkan menjadi 14 sementara jumlah desa dan kelurahan masih
tetap sama.
Penataan wilayah administrasi pemerintahan berikutnya terjadi pada tahun 2001 sejalan
dengan semangat babaliak banagari di Kabupaten Solok. Pada penataan wilayah
administrasi kali ini terjadi perubahan yang cukup signifikan dimana wilayah pemerintahan
yang mulanya terdiri dari 14 kecamatan, 11 Kantor Perwakilan Kecamatan, 247 desa dan 6
kelurahan di tata ulang menjadi 19 kecamatan, 86 Nagari, dan 520 jorong. Wilayah
administrasi terakhir ini ditetapkan dengan Perda nomor 4 tahun 2001 tentang
pemerintahan Nagari dan Perda nomor 5 tahun 2001 tentang Pemetaan dan Pembentukan
Kecamatan.

Pada akhir tahun 2003, Kabupaten Solok kembali dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu
Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Pemekaran ini di lakukan berdasarkan
Undang-undang Nomor 38 tahun 2003 dan menjadikan luas wilayah Kabupaten Solok
berkurang menjadi 4.594,23 Km. Pemekaran inipun berdampak terhadap pengurangan
jumlah wilayah administrasi Kabupaten Solok menjadi 14 Kecamatan, 74 Nagari dan 403
Jorong.
Dengan berbagai pertimbangan dan telaahan yang mendalam atas berbagai momentum
lain yang sangat bersejarah bagi Solok secara umum, pemerintah daerah dan masyarakat
menyepakati peristiwa pencantuman nama Solok pada tanggal 9 April 1913 sebagai
sebuah nama unit administrasi setingkat kabupaten di zaman Belanda sebagai momentum
pijakan yang akan diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Solok. Kesepakatan inipun
dikukuhkan dengan Perda Nomor 2 tahun 2009 tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten
Solok. Pada tanggal 9 April 2010, merupakan kali pertama Kabupaten Solok memperingati
hari jadinya yang ke 97.

B.4. sumber daya manusia


Faktor sumber daya manusia merupakan salah satu modal dalam berusaha dan keberhasilan
usaha sangat tergantung kepada sumber daya manusia yang tersedia sebagai tenaga kerja yang
berkualitas. Ketersediaan sumber daya manusia di Kota Solok juga merupakan faktor penentu
untuk dapat mengelola sumber daya alam yang ada.
Dari piramida penduduk Kota Solok tahun 2004 terlihat bahwa jumlah penduduk usia produktif
(15 60 tahun) yang berjumlah 32.655 jiwa (69%) dibandingkan dengan jumlah penduduk usia
non produktif . Dari gambaran ini terlihat bahwa Kota Solok memiliki potensi SDM yang
memadai karena jumlah usia produktif yang ada cukup besar. Penduduk usia produktif sebagai
angkatan kerja merupakan salah satu modal dalam pelaksanaan pembangunan.

C.1. jumlah penduduk dan demografi


Hasil registrasi penduduk Kota Solok tahun 2008 tercatat sebanyak 59.172 jiwa, terdiri atas
28.989 laki-laki dan 30.173 perempuan, dengan sex ratio sebesar 0,96. Ini berarti setiap 1.000
perempuan berbanding 960 laki-laki.

Dengan luas wilayah 5.764 Km2, kepadatan penduduk Kota Solok adalah sebanyak 1.026
jiwa/km2. Kecamatan Tanjung Harapan adalah kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi
yaitu sebesar 1.223 jiwa/km2

Tabel
Kondisi Penduduk Kota Solok Tahun 2008

Kecamatan

Jumlah
Luas
Penduduk
(Km2)
(jiwa)

Kepadatan
(jiwa/km2)

35.00

31.466

899

22.64

27.696

1.223

57.64

59.162

1.026

Lubuk Sikarah

Tanjung
Harapan

Kota Solok

Sumber : Buku Kota Solok Dalam Angka Tahun 2008/2009

Dari komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kota Solok dapat dilihat bahwa
penduduk perempuan lebih dominan pada usia produktif dibandingkan dengan laki-laki.
Keadaan itu tentunya akan membentuk pola kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang banyak
memberikan peran lebih kepada kaum perempuan. Kenyataan itu merupakan konsekuensi logis
akibat besarnya kecenderungan penduduk laki-laki dewasa untuk merantau dalam mencari
pekerjaan yang lebih baik di daerah lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut
ini :

Kelompok LakiPerempuan
Umur (tahu laki (ji
(jiwa)
n)
wa)
04

3.537

3.404

Total
iwa)
6.941

(j

Sex Ratio

104

59

3.306

3.335

6.641

99

10 14

3.369

3.319

6.688

102

15 19

3.577

3.972

7.549

90

20 24

2.431

2.541

4.972

96

25 29

2.284

2.542

4.826

90

30 34

2.040

2.162

4.202

94

35 39

2.141

2.258

4.399

95

40 44

1.878

1.855

3.733

101

45 49

1.535

1.331

2.866

114

50 54

813

832

1.645

97

55 59

650

690

1.340

95

60 64

550

634

1.184

87

65 69

356

474

830

75

70 74

278

363

641

77

75 +

243

462

705

53

Total 2008

28.988

30.174

59.162

96,00

Sumber : Buku Kota Solok Dalam Angka Tahun 2008/2009

4.PENJELASAN IPOLESBUD HANKAM


a. ideology
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai bagian dari mata pelajaran yang diberikan di sekolah
ikut berperan besar dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. PKn merupakan salah satu

instrumen fundamental dalam bingkai pendidikan nasional sebagai media bagi pembentukan karakter
bangsa (nation and character building) di tengah heterogenitas atau pluralisme yang menjadi
karakteristik utama bangsa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk mendidik
peserta didik agar menjadi warga negara yang baik (good citizen). Warga negara yang baik memiliki
tiga kemampuan kewarganegaraan meliputi: pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge),
keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan karakter kewarganegaraan (civic disposition). Agar
tujuan PKn dapat tercapai, perlu dikembangkan strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan
ketiga kemampuan kewarganegaraan tersebut. Salah satu strategi yang dapat dipilih adalah dengan
mengembangkan strategi pembelajaran kewarganegaraan berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan
lokal memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter dan identitas bangsa. Pendidikan
kewarganegaraan yang dikembangkan dengan memanfaatkan kearifan lokal akan bermuara pada
munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif, dan kreatif.
a.1.
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara tegas menyatakan
bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pembentukan karakter atau akhlak peserta didik ditempatkan pada bagian awal tujuan pendidikan
nasional. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya pembentukan karakter atau akhlak peserta didik.
a.2
Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik (good citizen)
yang ditandai dengan dimilikinya tiga kemampuan kewarganegaraan meliputi: pengetahuan
kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan karakter
kewarganegaraan (civic disposition). Ketiga kemampuan kewarganegaraan ini dapat dimiliki oleh
peserta didik jika pembelajaran yang dikembangkan oleh para guru di sekolah memperhatikan
berbagai hal penting yang menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Salah satu hal penting yang
perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran kewarganegaraan adalah strategi pembelajaran yang
dikembangkan atau diterapkan oleh para guru di kelas. Melalui pemilihan strategi pembelajaran yang
sesuai dan tepat, pembelajaran kewarganegaraan akan menjadi pembelajaran yang menyenangkan
sehingga tujuan pembelajaran kewarganegaraan pun akan dapat tercapai.
a.3. Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah dengan mengembangkan strategi
pembelajaran berbasis kearifan lokal. Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal melalui
pembelajaran kewarganegaraan, dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya
daerahnya sendiri sebagai bagian dari upaya membangun identitas bangsa, dan sebagai penyeleksi
(filter) pengaruh budaya lain yang datang dari luar daerahnya. Untuk dapat mengembangkan
pembelajaran kewarganegaraan berbasis kearifan lokal tentunya diperlukan seorang guru yang bukan
sekedar memahami kearifan lokal secara tekstual, melainkan dapat memanfaatkan kearifan lokal
yang ada dalam proses pembelajaran di kelas
a.4. Pendidikan kewarganegaraan yang dikembangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan
adalah pendidikan kewaganegaraan dengan paradigma baru (new paradigm). Hal ini sejalan dengan
konsep pendidikan kewarganegaraan yang diajukan oleh Centre for Civic Education pada tahun 1999
dalam National Standard for Civics and Government. Ketiga komponen tersebut, yaitu civic
knowledge (pengetahuan kewarganegaraan), civic skills (keterampilan kewarganegaraan), dan civic
disposition (karakter kewarganegaraan) (Branson, 1999: 8-25). Dimensi pengetahuan
kewarganegaraan (civic knowledge) mencakup bidang politik, hukum, dan moral.

B. Politik
Secara lebih terperinci, materi pengetahuan kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang prinsipprinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintah dan non pemerintah, identitas nasional,
pemerintah berdasar hukum (rule of law) dan peradilan bebas yang tidak memihak, konstitusi,
sejarah nasional, hak dan tanggungjawab warganegara, hak asasi manusia, hak sipil, dan hak politik
(Depdiknas, 2002:10).
B.1. Dimensi keterampilan kewarganegaraan (civic skills) meliputi keterampilan partisipasi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya: berperan serta aktif mewujudkan masyarakat madani,
keterampilan mempengaruhi dan monitoring jalannya pemerintahan dan proses pengambilan
keputusan politik, keterampilan memecahkan masalah-masalah sosial keterampilan mengadakan
koalisi, kerjasama, dan mengelola konflik.
B.2. Sedangkan dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civic values) mencakup percaya diri,
komitmen, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur, nilai keadilan, demokratis,
toleransi, kebebasan individual, kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan berserikat dan
berkumpul, dan perlindungan terhadap minoritas
B.3. Visi pendidikan kewarganegaraan paradigma baru memberikan penekanan yang lebih kuat pada
nation and character, pemberdayaan warganegara (citizen empowerment), dan memperkuat
berkembangnya masyarakat kewargaan (civil society). Sedangkan misi pendidikan kewarganegaraan
paradigma baru adalah pembentukan warganegara yang baik (good citizen), yang memiliki ciri-ciri:
aktif 4 berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, berbudaya politik kewarganegaraan
(civil culture), dan berpikir kritis dan kreatif (Cholisin, 2003: 1).
B.4. Pendidikan kewarganegaraan sebagai bagian dari IPS (social studies) memiliki tujuan yang
berdekatan. Menurut The National Council for the Social Studies (Sunal, 1993: 5) tujuan social
studies adalah the purpose of social studies is to prepare young people to be humane, rational,
participating citizens in a world that is becoming increasingly interdependent. Tujuan ini
merupakan sudut pandang yang paling dominan dalam social studies
C. Ekonomi
Tujuan dan misi social studies tersebut juga merupakan tujuan dari PKn, yaitu membentuk
warganegara yang baik (good citizens). Chapin (1989: 126) menyatakan bahwa good citizens in our
local communities are those who perform acts of conserving public property, coming to the aid of
someone in distress, and so on. Lebih lanjut Chapin menyatakan bahwa pendidikan
kewarganegaraan bertujuan menyiapkan peserta didik untuk menjadi warganegara yang
partisipatorik, memahami tentang sistem pemerintahan dan cara kerjanya, peran warganegara,
memahami hak dan kewajiban, dan membiasakan untuk membuat pilihan dan keputusan dengan
pertimbangan yang baik.
C.1. Menurut Martorella (1994: 8) warga negara yang baik sebagai tujuan dari PKn adalah
warganegara yang efektif (effective citizen), yaitu warga negara bersifat reflektif, cakap, dan
memiliki kepedulian. Lebih lanjut Martorella (1994:10) menggambarkan warganegara yang efektif
sebagai berikut Reflective individuals are critical thinkers who make decisions and solve problems
on the basis of the best evidence available. Competent citizens posses a repertoire of skills to aid
them in decision making and problem solving. Concerned citizens investigate their social world,
address issues they identify as significant, exercise their rights, and carry out their responsibilities as
members
C.2. PKn pada dasarnya mengambil bagian dari isi ilmu politik yaitu bagian demokrasi politiknya.
Secara terperinci, demokrasi politik terdiri dari: konteks ide demokrasi, konstitusi negara, inputs
system politik, partai politik dan kelompok penekan (pressure group), pemilihan umum, lembagalembaga pengambil keputusan, presiden sebagai kepala negara/administrasi negara, lembaga

yudikatif, output dari sistem demokrasi politik, kesejahteraan umum dan pertahanan negara, dan
perubahan sosial dan demokrasi politik (M. Numan Somantri, 2001: 275-276).
C.3. PKn bukan semata-mata hanya mengajarkan pasal-pasal Undang-Undang Dasar (UUD). Tapi
lebih jauh PKn mengkaji perilaku warga negara dalam hubungannya dengan warga negara lain dan
alam sekitarnya. Objek studi PKn adalah warga negara dalam hubungannya dengan organisasi
kemasyarakatan, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan dan negara.
C.4. Menurut M. Numan Somantri (2001: 276) termasuk dalam objek studi civics ialah: tingkah laku,
tipe pertumbuhan pikir, potensi yang ada dalam setiap diri warga negara, hak dan kewajiban, cita-cita
dan aspirasi, kesadaran (patriotisme, nasionalisme, pengertian internasional, moral Pancasila), usaha
atau kegiatan dan partisipasi serta tanggungjawab.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan N
D.sosial budaya
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya
dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi
sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat
dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa
kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
D.1. Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan
pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru,
terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim,
peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
D.2. ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang
intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat;
sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan
kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi
kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau
kebiasaan.

D.3. Sosiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata socius dan logos, di
mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau
berbicara.
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang
artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita.
Menurut Bapak Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah
ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk
perubahan-perubahan sosial.
D.4. Menurut Pitirim Sorokin, Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial
(misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara
gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah
ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.

E. hankam
Menjelang akhir abad yang sangat berdarah dalam perjalanan sejarah manusia, komunitas
internasional bersama-sama mengadopsi sebuah treaty yang membentuk sebuah pengadilan
pertama dalam sejarah yang independen dan permanen. Pengadilan tersebut saat ini telah
menjadi kenyataan yang disebut sebagai International Criminal Court (ICC). Keberadaan
International Criminal Court (ICC) bermula pada 1937 yang dikhususkan untuk para teroris
international yang diprakarsai oleh Liga Bangsa Bangsa (League of Nations)
E.1 icC memiliki kemampuan untuk untuk melakukan investigasi dan menuntut setiap
individu yang dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity),
genosida (genocide), dan kejahatan perang (crime of war). ICC sifatnya melengkapi keberadaaan
sistem peradilan nasional sebuah negara dan akan melangkah hanya jika pengadilan nasional
sebuah negara tidak memiliki kemauan atau tidak mampu untuk menginvestigasi dan menuntut
kejahatan-kejahatan yang terjadi tersebut. Statuta yang menjadi dasar berdirinya ICC
E.2. Statuta Roma, diadopsi pada konferensi internasional yang disponsori oleh PBB di
Roma pada tanggal 17 Juli 1998. Setelah melangsungkan pembahasan mendalam selama 5
minggu, 120 negara menyatakan pendiriannya untuk mengadopsi statuta tersebut. Hanya 7
negara menolak untuk mengadopsi statuta tersebut. Mereka adalah Cina, Israel, Iraq, Yaman,
Qatar, Libya, dan Amerika Serikat (AS).
E.3.Sementara 21 negara abstain dalam pemungutan suara. Seratus tiga puluh sembilan negara
berikutnya menandatangani treaty tersebut pada tanggal 31 Desember 2000. Selanjutnya pada
tanggal 11 April 2002 sebanyak 66 negara meratifikasi treaty tentang Statuta Roma. Dengan
diratifikasinya treaty ini oleh 66 negara maka telah melewati batas minimal sebanyak 60 negara
yang menjadi syarat dapat berlakunya sebuah treaty. Pengadilan ini memulai bekerja sejak
tanggal 1 Juli 2002. Pada tanggal 19 September 2002 sebanyak 81 negara telah meratifikasi
treaty tentang Statuta Roma.

E.4.Sebagaimana didefinisikan oleh beberapa persetujuan internasional, terutama Rome Statute


of the International Criminal Court, ICC dirancang untuk membantu sistem yudisial nasional
yang telah ada, namun pengadilan ini dapat melaksanakan yurisdiksinya bila pengadilan negara
tidak mau atau tidak mampu untuk menginvestigasi atau menuntut kejahatan seperti di atas, dan
menjadi "pengadilan usaha terakhir", meninggalkan kewajiban utama untuk menjalankan
yurisdiksi terhadap kriminal tertuduh kepada negara individual.
Dalam hal ratifikasi, Amerika Serikat pada kenyataannya tidak meratifikasi Statuta ini, tapi
dalam perang Irak hingga pengadilan terhadap Saddam Husein Amerika Serikat menggunakan
kekuasaannya sendiri, dan sekalipun ICC tidak berperan sama sekali dalam hal ini. Ada satu hal
kontras yang menjadikan segala lembaga di dunia ini seakan-akan tunduk di bawah kekuasaan
Amerika Serikat.
5. Pada tahun 2010 terjadi kenaikan jumlah dokter umum dan dokter gigi masing-masing 44
orang dan 20 orang. Secara keseluruhan terjadi kenaikan jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten
Solok dari 823 orang tahun 2009 menjadi 829 orang tahun 2010.
6. pola piker