You are on page 1of 14

LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DAN NON

BANK
BAITUMAL WATTAMWIL

Disusun Oleh:
RIFKI FAJRI SANI ( 109046100037 )
MOHAMMAD IQBAL ( 109046100066 )
ARBI PUAB ( 109046100109 )

PS 4B
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011
KATA PENGANTAR
1

Segala puji bagi Allah SWT. Dzat yang telah menciptakan kita sebaikbaiknya mahkluk diberi akal berpotensi untuk berpikir secara mandalam. Dan
shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW. Allah telah memberikan
kami kekuatan untuk menyalesaikan tugas ini. Karena hanya seizin Allahlah kami
dapat melakukannya.
Kami selaku Tim Penyusun menyadari bahwa banyak kesalahan dan
kekurangan dalam penyajian makalah ini. Kami sengaja membuat makalah ini
dengan judul Distribusi dari materi Dasar-dasar Ekonomi Islam yang bertujuan
agar para pembaca dapat mengetahui pengertian Distribusi didalam materi
Dasar-dasar Ekonomi Islam ini.
Mungkin kami belum mampu menyusun makalah ini dengan sempurna,
kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya dan tanpa dukungan
orang-orang sekeliling kami, kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan
sekalian yang telah membantu kami.
Semoga makalah yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi para pambaca
sekalian. Serta kami mohon saran dan kritiknya, agar dapat memberikan
motivasi kepada kami agar dapat lebih baik lagi.

TIM PENYUSUN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1; Latar Belakang


Dalam materi pelajaran LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DAN NON BANK
didalamnya terdapat pembahasan tentang BAITULMAL WATTAMWIL atau hutang
piutang. BAITULMAL WATTAMWIL Adalah BMT adalah lembaga keuangan mikro
yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil (syariah), menumbuhkembangkan bisnis
usaha mikro dan kecil dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela
kepentingan kaum fakir miskin
1.2; Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah agar para pembaca mengetahui
tentang AL QARDH dalam marteri LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DAN NON
BANK.

1.3; Batasan Masalah


1; Apakah BAITULMAL WATTAMWIL itu?
2; Bagaimana BAITULMAL WATTAMWIL DI Indonesia ?
3; Apa Prospek BAITULMAL WATTAMWIL ?

1.4; Metode Penulisan


Data serta informasi yang kami dapatkan untuk menyusun karya tulis ini adalah
membaca buku dan mengambil bahan-bahan untuk karya tulis ini dari buku-buku yang
kami baca.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Baitul mal wattamwil (BMT)
BMT adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil
(syariah), menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dan kecil dalam rangka mengangkat
derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin. Secara konseptual, BMT
memiliki dua fungsi : Baitul Tamwil (Bait = Rumah, at Tamwil = Pengembangan Harta)
melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam
meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil terutama dengan mendorong
kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Baitul Maal
(Bait = Rumah, Maal = Harta) menerima titipan dana zakat, infak dan shadaqah serta
mengoptimalkan

distribusinya

sesuai

dengan

peraturan

dan

amanahnya.

Visi BMT mengarah pada upaya untuk mewujudkan BMT menjadi lembaga yang mampu
meningkatkan kualitas ibadah anggota (ibadah dalam arti yang luas), sehingga mampu
berperan sebagai wakil pengabdi Allah SWT, memakmurkan kehidupan anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya.. Titik tekan perumusan Visi BMT adalah
mewujudkan lembaga yang professional dan dapat meningkatkan kualitas ibadah. Misi BMT
adalah membangun dan mengembangkan tatanan perekonomian dan struktur masyarakat
madani yang adil berkemakmuran, serta berkeadilan berlandaskan syariah dan diridhoi Allah
SWT. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa misi BMT bukan semata-mata mencari
keuntungan dan penumpukan laba modal pada golongan orang kaya saja, tetapi lebih
berorientasi pada pendistribusian laba yang merata dan adil, sesuai dengan prinsip-prinsip
ekonomi Islam.
Secara konseptual BMT memiliki dua fungsi yaitu :

Baitul Maal (Bait = rumah, Mall = Harta) yang merupakan fungsi amal zakat
yang menerima dan menyalurkan ZIS
Baitul Tanwil (Bait = rumah, Tanwil = pengembangan Harta) merupakan
fungsi untuk melakukan pengembangan usaha- usaha prodiktif dan investasi
dalam rangka meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil
terutama dengan mendorang dan menunjang pembiayaan kegiatan
ekonominya.

Dasar Hukum dan Peraturan Hukum terkait dengan BMT


BMT berazaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta berlandaskan
syariah Islam, keimanan, keterpaduan (kaffah), kekeluargaan/koperasi, kebersamaan,
kemandirian, dan profesionalisme. Secara Hukum BMT berpayung pada koperasi tetapi
sistim operasionalnya tidak jauh berbeda dengan Bank Syariah sehingga produk-produk
yang berkembang dalam BMT seperti apa yang ada di Bank Syariah.
Oleh karena berbadan hukum koperasi, maka BMT harus tunduk pada Undangundang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian dan PP Nomor 9 tahun 1995 tentang
pelaksanaan usaha simpan pinjam oleh koperasi. Juga dipertegas oleh KEP.MEN Nomor 91
tahun 2004 tentang Koperasi Jasa keuangan syariah. Undang-undang tersebut sebagai
payung berdirinya BMT (Lembaga Keuangan Mikro Syariah). Meskipun sebenarnya tidak
terlalu sesuai karena simpan pinjam dalam koperasi khusus diperuntukkan bagi anggota
koperasi saja, sedangkan didalam BMT, pembiayaan yang diberikan tidak hanya kepada
anggota tetapi juga untuk diluar anggota atau tidak lagi anggota jika pembiayaannya telah
selesai.

Sejarah BMT
Masa Rasulullah SAW (1-11 H/622-632 M)
Pada masa Rasulullah SAW ini, Baitul Mal lebih mempunyai pengertian sebagai pihak (aljihat) yang menangani setiap harta benda kaum muslimin, baik berupa pendapatan maupun
pengeluaran. Saat itu Baitul Mal belum mempunyai tempat khusus untuk menyimpan harta,
karena saat itu harta yang diperoleh belum begitu banyak. Kalaupun ada, harta yang
diperoleh hampir selalu habis dibagi-bagikan kepada kaum muslimin serta dibelanjakan
untuk pemeliharaan urusan mereka. Rasulullah SAW senantiasa membagikan ghanimah dan
seperlima bagian darinya (al-akhmas) setelah usainya peperangan, tanpa menunda-nundanya
lagi. Dengan kata lain, beliau segera menginfakkannya sesuai peruntukannya masing-masing.
Masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq (11-13 H/632-634 M)
Abu Bakar dikenal sebagai Khalifah yang sangat wara (hati-hati) dalam masalah harta.
Bahkan pada hari kedua setelah beliau dibaiat sebagai Khalifah, beliau tetap berdagang dan
tidak mau mengambil harta umat dari Baitul Mal untuk keperluan diri dan keluarganya.
Diriwayatkan oleh lbnu Saad (w. 230 H/844 M), penulis biografi para tokoh muslim, bahwa
Abu Bakar yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang membawa barang-barang

dagangannya yang berupa bahan pakaian di pundaknya dan pergi ke pasar untuk menjualnya.
Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khaththab. Umar bertanya, Anda mau
kemana, hai Khalifah? Abu Bakar menjawab, Ke pasar. Umar berkata, Bagaimana
mungkin Anda melakukannya, padahal Anda telah memegang jabatan sebagai pemimpin
kaum muslimin? Abu Bakar menjawab, Lalu dari mana aku akan memberikan nafkah
untuk keluargaku? Umar berkata, Pergilah kepada Abu Ubaidah (pengelola Baitul Mal),
agar ia menetapkan sesuatu untukmu. Keduanya pun pergi menemui Abu Ubaidah, yang
segera menetapkan santunan (tawidh) yang cukup untuk Khalifah Abu Bakar, sesuai dengan
kebutuhan seseorang secara sederhana, yakni 4000 dirham setahun yang diambil dan Baitul
Mal.
Masa Khalifah Umar bin Khaththab (13-23 H/634-644 M)
Selama memerintah, Umar bin Khaththab tetap memelihara Baitul Mal secara hati-hati,
menerima pemasukan dan sesuatu yang halal sesuai dengan aturan syariat dan
mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya. Dalam salah satu pidatonya, yang
dicatat oleh lbnu Kasir (700-774 H/1300-1373 M), penulis sejarah dan mufasir, tentang hak
seorang Khalifah dalam Baitul Mal, Umar berkata, Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik
Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin
serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang-orang Quraisy
biasa, dan aku adalah seorang biasa seperti kebanyakan kaum muslimin. (Dahlan, 1999).
Masa Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)
Kondisi yang sama juga berlaku pada masa Utsman bin Affan. Namun, karena pengaruh yang
besar dan keluarganya, tindakan Usman banyak mendapatkan protes dari umat dalam
pengelolaan Baitul Mal. Dalam hal ini, lbnu Saad menukilkan ucapan Ibnu Syihab Az Zuhri
(51-123 H/670-742 M), seorang yang sangat besar jasanya dalam mengumpulkan hadis, yang
menyatakan, Usman telah mengangkat sanak kerabat dan keluarganya dalam jabatan-jabatan
tertentu pada enam tahun terakhir dari masa pemerintahannya. Ia memberikan khumus
(seperlima ghanimah) kepada Marwan yang kelak menjadi Khalifah ke-4 Bani Umayyah,
memerintah antara 684-685 M dari penghasilan Mesir serta memberikan harta yang banyak
sekali kepada kerabatnya dan ia (Usman) menafsirkan tindakannya itu sebagai suatu bentuk
silaturahmi yang diperintahkan oleh Allah SWT. Ia juga menggunakan harta dan
meminjamnya dari Baitul Mal sambil berkata, Abu Bakar dan Umar tidak mengambil hak

mereka dari Baitul Mal, sedangkan aku telah mengambilnya dan membagi-bagikannya
kepada sementara sanak kerabatku. Itulah sebab rakyat memprotesnya. (Dahlan, 1999).
Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H/656-661 M)
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Talib, kondisi Baitul Mal ditempatkan kembali pada
posisi yang sebelumnya. Ali, yang juga mendapat santunan dari Baitul Mal, seperti
disebutkan oleh lbnu Kasir, mendapatkan jatah pakaian yang hanya bisa menutupi tubuh
sampai separo kakinya, dan sering bajunya itu penuh dengan tambalan.
Masa Khalifah-Khalifah Sesudahnya
Ketika Dunia Islam berada di bawah kepemimpinan Khilafah Bani Umayyah, kondisi Baitul
Mal berubah. Al Maududi menyebutkan, jika pada masa sebelumnya Baitul Mal dikelola
dengan penuh kehati-hatian sebagai amanat Allah SWT dan amanat rakyat, maka pada masa
pemerintahan Bani Umayyah Baitul Mal berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Khalifah
tanpa dapat dipertanyakan atau dikritik oleh rakyat (Dahlan, 1999).
Sejarah BMT di Indonesia
Sejarah BMT ada di Indonesia, dimulai tahun 1984 dikembangkan mahasiswa ITB di Masjid
Salman yang mencoba menggulirkan lembaga pembiayaan berdasarkan syariah bagi usaha
kecil. Kemudian BMT lebih di berdayakan oleh ICMI sebagai sebuah gerakan yang secara
operasional ditindaklanjuti oleh Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK). BMT adalah
lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil (syariah),
menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dan kecil dalam rangka mengangkat derajat dan
martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin. Secara konseptual, BMT memiliki
dua fungsi : Baitul Tamwil (Bait = Rumah, at Tamwil = Pengembangan Harta) melakukan
kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas
ekonomi pengusaha mikro dan kecil terutama dengan mendorong kegiatan menabung dan
menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Baitul Maal (Bait = Rumah, Maal = Harta)
menerima titipan dana zakat, infak dan shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai
dengan pertaturan dan amanahnya.
Tujuan berdirinya BMT
BMT memiliki tujuan memberikan pelayanan dan pemberdayaan social ekonomi umat
melalui kegiatan-kegiatan kongkrit :
1; Pelaksanaan kegiatan usaha simpan berbasis syariah.

Penyediaan jasa pembiayaan, investasi dan konsumtif.


Sebagai Amal Zakat yang menerima dan menyalurkan ZIS
Membantu pengusaha kecil muslim dalam masalah permodalan.
Menggeser peranan rentenir yang sangat mencekik / menghisap darah
manusia.
6; Menyelamatkan tabungan umat Islam dari ancaman bunga (riba), dan
sekaligus menghindarkan mereka dari perbuatan maksia (kufur nikmat).
7; Tersedianya semacam koperasi syariah sebagai alternatif lembaga
keuangan ummat.
8; Mendirikan, membangun dan mengembangkan BMT merupakan wujud nyata
dari amal sholih dan merupakan pelaksanaan dakwah bil hal
2;
3;
4;
5;

Berbagai produk dan mekanisme operasional BMT


1. Beberapa pemrakarsa yang mengetahui mengenai BMT menyampaikan dan menjelaskan
ide atau gagasan itu kepada rekan-rekannya termasuk apa itu BMT, visi, misi tujuan dan
usaha-usahanya. Sehingga para pemrakarsa dapat bertambah.
2. Dengan berbekal modal awal, pengelola membuka kantor dan menjalankan BMT, dengan
giat menggalakkan simpanan masyarakat dan memberikan pembiayaan pada usaha mikro dan
kecil disekitarnya.
3. Pembiayaan dengan menggunakan bagi hasil sesuai dengan akad. Dari bagi hasil ini,
pengelola membayar honor semampunya (bertahap dan membesar), sewa kantor, listrik ATK,
dll.
4. Yang paling penting adalah bahwa, dari bagi hasil ini pengelola membayar pula bagi hasil
kepada penyimpan dana, diusahakan lebih besar sedikit dibandingan dengan bunga pada bank
konvensional.
5. Dengan memberikan bagi hasil kepada para penabung dan penjelasan yang tepat tentang
visi, misi, tujuan dan usaha-usaha BMT, kekayaan BMT akan semakin bertambah diimbangi
dengan pembiayaan pada usaha mikro dan kecil semakin banyak dan lancar. BMT akan
semakin maju dan berkembang
BMT mempunyai beberapa produk, namun biasanya nama produk dalam suatu BMT
terkadang berbeda beda namun tujauannya sama saja. yaitu antara lain adalah
Jenis-jenis usaha BMT sebenarnya dimodifikasi dari produk perbankan Islam. Oleh
karena itu, usaha BMT dapat dibagi kepada dua bagian utama, yaitu memobilisasi simpanan
dari anggota dan usaha pembiayaan. Bentuk dari usaha memobilisasi simpanan dari anggota
dan jamaah itu antara lain berupa:

1. Simpanan Mudharabah Biasa


2. Simpanan Mudharabah Pendidikan
3. Simpanan Mudharabah Haji
4. Simpanan Mudharabah Umrah
5. Simpanan Mudharabah Qurban
6. Simpanan Mudharabah Idul Fitri
7. Simpanan Mudharabah Walimah
8. Simpanan Mudharabah Akikah
9. Simpanan Mudharabah Perumahan
10. Simpanan Mudharabah Kunjungan Wisata
11. Titipan zakat, Infaq, shadaqah (ZIS)
12. Produk simpanan lainnya yang dikembangkan sesuai dengan lingkungan dimana BMT
itu berada.
Sedangkan jenis usaha pembiayaan BMT lebih diarahkan pada pembiayaan usaha
makro, kecil bawah dan baawah. Diantara usaha pembiayaan tersebut adalah:
1. Pembiayaan Mudharabah
2. Pembiayaan Musyarakah
3. Pembiayaan Murabahah
4. Pembiayaan Al Bai; Bithaman Ajil
5. Al-Qardhul Hasan
Usaha-usaha diatas merupakan kegiatan-kegiatan BMT yang berkaitan langsung
dengan masalah keuangan. Selain kegiatan-kegiatan keuangan tersebut, BMT juga
mengembangkan usaha dibidang sector ril, seperti kios telepon, kios benda pos,
memperkenalkan teknologi maju untuk peningkatan produktivitas hasil para nasabah,
mendorong tumbuhnya industri rumah tangga atau pengolahan hasil, mempersiapkan jaringan

perdagangan atau pemasaran masukan dan hasil produksi, serta usaha lainnya yang layak,
menguntungkan dalam jangka panjang dan tidak menganggu program jangka pendek.
Mekanisme Operasional Koperasi Syariah
Pada prinsipnya, operasional Koperasi Syariah tidak berbeda dengan BMT (Baitul
Maal Wattamwil), Bank Umum Syariah (BUS) atau Unit Usaha Syariah (UUS), dan BPR
Syariah, hanya sekalanya saja yang berbeda. Di Koperasi Syariah ini justru dapat lebih luas
lagi pengembangannya terutama dalam mempraktekan akad-akad muamalat yang sulit
dipraktekan di Perbankan Syariah karena adanya keterbatasan PBI (Peraturan Bank
Indonesia).
Opersional BMT
Operasional didalam BMT sama halnya seperti bank pada wajarnya namun Bmt
mempunyai asas koperasi. , BMT tidak diatur oleh Bank Indonesia, namun BMT disahkan
oleh Menteri Koperasi dan UMKM. Hal ini tidak membuat kinerja BMT kalah dengan bank
syariah atau pun Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). BMT tetap bekerja dengan
mengedepankan profesionalisme, menjaga amanah dan kejujuran, serta menjaga hubungan
baik nasabah atau pun karyawan layaknya sebuah keluarga sehingga rasa optimis menuju
kesuksesan perekonomian BMT, karyawan, dan nasabah akan terwujud serta memperoleh
keberkahan Allah SWT dengan ditambahnya nilai-nilai Islam yang kita tanamkan pada diri
kita pada saat menjalankan program BMT tersebut.
BMT sangatlah berbeda dengan BPRS karena legalitas BMT ada di bawah tanggung
jawab Departemen Koperasi dengan asas kekeluargaan dikelola secara bersama, sedangkan
BPRS di bawah tanggung jawab PT yang diakui atau direkomendasikan BI. BMT tidak
diaudit oleh BI, sedangkan BPRS diaudit oleh BI dan Menkeu. Dalam proses operasional,
BMT tidak terlalu bankable sedangkan BPRS, karena mengacu kepada BI, terlihat bankable.
Kondisi pendukung kerja BMT cukup sederhana walaupun banyak yang sudah layak seperti
BPRS, sedangkan BPRS, rata-rata pendukung kerja sudah layak dan memenuhi standardisasi.
Permodalan BMT berasal dari masyarakat umum, sedangkan modal BPRS berasal dari
pemegang saham tertentu (komisaris). Modal BMT rata-rata di bawah Rp100 juta (ketetapan
Menkop Rp15-20 juta untuk tingkat DKI, Rp50-100 juta untuk tingkat nasional), sedangkan
modal BPRS Rp2 miliar. Pendekatan BMT kepada nasabah lebih kekeluargaan karena lebih
kepada pola binaan dan keterbukaan, sedangkan BPRS masih bersifat prosedural.
Karena perbedaan tersebut, BMT belum mau dan belum bisa untuk menjadi BPRS karena
khawatir akan menjadi pola prosedur yang akan mengikat dalam aturan dan ketetapan
sehingga ruang gerak pemberdayaan usaha kecil semakin kecil. Walaupun begitu, BMT bisa
bekerja sama dengan BPRS, Karena yaitu
1;

pertama, ternyata market share usaha BPRS sama dengan BMT,

10

2; kedua, proses linkage program BPRS lebih mudah dan tidak begitu bankable, seperti

tidak perlu agunan (jaminan) dan prosesnya lebih cepat meskipun share nisbah masih
cukup besar dibandingkan bank syariah

Perkembangan dan pertumbuhan BMT dan koperasi syariah di Indonesia


Menurut Aries Mufti selaku ketua ABSINDO (Asosiasi BMT Seluruh Indonesia) dan
MES, DI Indonesia walaupun belum ada Undang-Undang tentang Lembaga Keuangan
Mikro, masyarakat telah mengembangkan sendiri lembaga keuangan mikro yang berbentuk
koperasi syariah, Baitul Maal Wa Tamwil (BMT), dan dalam bentuk yang lain. Kehadiran
BMT sebagai Lembaga Keuangan Mikro Syariah merupakan lembaga pelengkap dari
beroperasinya system perbankan syariah. Tumbuhnya BMT di Indonesia juga merupakan
tuntutan dari masyarakat muslim yang menginginkan bermuamalah secara syariah untuk
menghindari bermuamalah secara ribawi.
Dari seluruh fase-fase pengembangan, BMT sangat membutuhkan penguatan nilai-nilai
ruhiyah sumber daya insaninya. Sehingga BMT akan berkembang secara berkelanjutan dan
akan selalu berada dalam pengawasan malaikat yang tertanam dalam setiap hati pengelola
dan pengurusnya. Jika mungkin, bahkan dari dalam lubuk hati setiap anggotanya:
Dewasa ini telah tersebar lebih dari 3000 BMT diseluruh Nusantara, memiliki asset
lebih dari 1 triliun, dengan jumlah pengelola lebih dari 30.000 orang, hampir setengahnya S1
dan wanita. Melayani lebih dari 2 juta penabung dan memberi pinjaman lebih dari 1.5 juta
pengusaha mikro dan kecil. Terbukti bahwa BMT mampu berkembang berlandaskan pada
swadaya para pemerakarsa pendiri dan masyarakat itu lokal sendiri, dengan modal awal yang
tidak begitu besar ketimbang mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat).
Prospek, Kendala dan strategi pengembangan BMT
Koperasi syariah atau akrab dikenal dengan sebutan Baitulmal wattamwil (BMT)
mengalami perkembangan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, sebuah
lembaga inkubasi bisnis BMT mengestimasi saat ini terdapat sebanyak 3.200 BMT dengan
nilai aset mencapai Rp 3,2 triliun. Bisnis tersebut hingga akhir tahun ini diproyeksi mencapai
Rp 3,8 triliun. Meski demikian, Chief Secretary Organization (CSO) BMT Center, Noor Azis,
yakin bahwa BMT di Indonesia masih bisa terus dikembangkan. Syaratnya, adanya dukungan
dan komitmen pemerintah dalam mendorong perkembangan bisnis lembaga keuangan non
bunga tersebut. Salah satu bentuk dukungan itu adalah melahirkan berbagai regulasi yang
melindungi binsis keuangan mikro.
11

Searah dengan perubahan zaman, perubahan tata ekonomi dan perdagangan, konsep
baitul mal yang sederhana itu pun berubah, tidak sebatas menerima dan menyalurkan harta
tetapi juga mengelolanya secara lebih produktif untuk memberdayakan perekonomian
masyarakat. Penerimaannya juga tidak terbatas pada zakat, infak dan shodaqoh, juga tidak
mungkin lagi dari berbagai bentuk harta yang diperoleh dari peperangan. Lagi pula peran
pemberdayaan perekonomian tidak hanya dikerjakan oleh negara.
Selain itu, dengan kehadiran BMT di harapkan mampu menjadi sarana dalam
menyalurkan dana untuk usaha bisnis kecil dengan mudah dan bersih, karena didasarkan pada
kemudahan dan bebas riba/bunga, memperbaiki/meningkatkan taraf hidup masyarakat bawah,
Lembaga keuangan alternatif yang mudah diakses oleh masyarakat bawah dan bebas
riba/bunga,Lembaga

untuk

memberdayakan

ekonomi

ummat,mengentaskan

kemiskinan,meningkatkan produktivitas.
Prospek BMT cukup baik dari segi usaha maupun dari segi kerjasama dimana nasabah
yang bagian dari BMT memiliki kemudahan dalam perekonomian.dan prospeknyapun dalam
masyarakat disambut hanggat karena mempunyai tujuan yang baik dalam memajukan
perekonomian umat.

BMT juga memiliki kendala-kendala pula yaitu sebagai berikut:


1; BMT mempunyai kendala pada segi persaingan yang biasanya terjadi pada renternir

maupun bank keliling dimana masyarakat lebih mengenal mereka terlebih dahulu
daripada BMT yang baru saja melebarkan sayapnya di dunia perekonomian.
2; BMT mempunyai kendala pada bank maupun koperasi yang ada dalam hal bagi hasil
dan juga tingkat marjin.
3; Nasabah yang dalam keadaan kredit macet. Pada nasabah seperti ini BMT pun
mempunyai keringanan, pertama apabila nasabah dalam keadaan kredit macet maka
BMT mempunyai keringanan kepada nasabah untuk membayar semampunya, dengan
cara menambah jumlah angsuran agar nominalnya dapat diperkecil sesuai dengan
kemampuan nasabah. Kedua apabila nasabah dalam kredit macet lalu usahanyapun
gulung tikar maka BMT mempunyai keringanan yaitu nasabah hanya mengembalikan
harga pokoknya saja sedangkan denda maupun nisbah bagi hasilnya tidak, dan
pembayaran yang dilakukan nasabahnyapun semampunya.

12

Stategi pengembangan BMT adalah membantu pengusaha kecil maupun penambahan


modal kepada pengusaha untuk tujuan menunjang perekonomiannya secara garis besar.dan
juga menyelamatkan masyarakat dari transaksi yang mengandung riba serta mendirikan,
membangun dan mengembangkan BMT merupakan amal Sholih serta sekaligus
melaksanakan dakwah. Didalam BMT sendiri mempunyai dana ZIS yang berfungsi sebagai
berikut :
1; Pemberdayaan ZIS
2; Pemberdayaan ekonomi umat
3; Untuk social kemanusiaan
4; Untuk peduli pendidikan seperti, beasiswa untuk anak yatim
5; Kesejahteraan umat untuk melakukan usaha
6; Untuk dakwah.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
BMT merupakan badan atau lembaga yang dapat meningkatkan kinerja perekonomian dan
sekaligus dapat mengentaskan kemiskinan sehingga tercapai kesejahteraan ummat. Oleh
karena itu, untuk mewujudkan peran BMT dalam perekonomian tersebut diperlukan peranan
pemerintah yang intensif terhadap eksistensi BMT itu sendiri. Di samping itu, harus ada
dukungan dari masyarakat khususnya ummat Islam untuk lebih mengembangkannya baik dari
segi permodalan maupun peningkatan kualitas sumber daya manusianya (SDM).

13

DAFTAR PUSTAKA
M.Amin Suma,Menggali Akar Mengurai Serat ; Ekonomi dan Keuangan Islam, Jakarta;
Kholam Publising, 2008
M.A Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi, Yogyakarta; PT Dana Bakti Wakaf. 1993
http://dh-agus.blogspot.com/
http://www.tamzis.com/index.php?option=com_content&task=view&id=164&Itemid=9

14