You are on page 1of 10

STRATEGI PENGEMBANGAN APOTEK SEBAGAI INOVASI

PENINGKATAN PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

MAKALAH

DI SUSUN OLEH :
JERI ARIANDI SIREGAR
3351141464

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Persaingan dalam dunia bisnis di Indonesia semakin berkembang seiring
dengan kemajuan jaman. Para pelaku bisnis melakukan berbagai cara agar bisnis
mereka tetap berjalan dengan baik. Dunia bisnis tidak hanya berkaitan dengan
bidang ekonomi, namun juga dapat berkaitan dengan bidang lain seperti bidang
kesehatan. Salah satu dunia bisnis yang erat kaitannya dengan bidang kesehatan
adalah bisnis apotek. Semakin membaiknya pelayanan kesehatan di Indonesia
berbanding lurus dengan persiangan pelayanan yang dilakukan oleh apotek-apotek
di negara ini.
Manajemen apotek merupakan hal yang penting dalam menjalankan bisnis
apotek. Sistem manajemen yang baik akan mampu memberikan pelayanan yang
baik terhadap konsumen serta akan mendatangkan omset sesuai yang diharapkan.
Manajemen apotek dapat ditunjang dengan adanya sistem informasi yang semakin
berkembang. Sistem informasi dapat memberikan berbagai kemudahan dalam
manajemen apotek agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti
kesalahan dalam perencanaan penyediaan barang sehingga mengkibatkan
kerugian. Selain itu, dengan menggunakan sistem informasi dapat menghemat
waktu yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan di apotek.
Suatu sistem informasi manajemen apotek perlu didukung oleh ide kreatif
pemilik usaha. Ide kreatif dalam sistem informasi manajemen apotek akan
menjadi nilai tambah untuk suatu apotek. Oleh karena itu, makalah ini dibuat
untuk menyumbangkan ide kreatif mengenai pemanfaatan sistem informasi
manajemen apotek agar dapat meningkatkan pelayanan serta omset apotek.
1.2 Tujuan
a.

Untuk mengetahui peran sistem informasi dalam manajemen apotek

b.

Untuk mengembangkam inovasi peningkatan pelayanan kefarmasian di


apotek.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sistem
Istilah kata sistem berasal dari bahasa Yunani (sustema) yang memiliki arti
suatu perusahaan bermacam-macam hal menjadi suatu keseluruhan dengan
bagian-bagian yang tersusun dari dalam. Dalam suatu sistem, masing-masing unit
dan keseluruhannya sebagai kesatuan saling bergantung, saling menentukan, dan
membutuhkan,
Menurut para ahli Jogiyanto H.M (2006) adalah sebagai berikut Sistem
adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan,
berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk
menelesaikan suatu sasaran tertentu. Dan menurut (Djekky R. Djoht) Sistem
adalah agregasi atau pengelompokan objek-objek yang dipersatukan oleh
beberapa bentuk interaksi yang tetap atau saling tergantung, sekelompok unit yang
berbeda, yang dikombinasikan sedemikian rupa oleh alamat atau oleh seni
sehingga membentuk suatu keseluruhan yang integral dan berfungsi, beroperasi,
atau bergerak dalam satu kesatuan.
2.1.1 Elemen Sistem
Sistem informasi terdiri dari kompenen-komponen yang disebutnya
dengan istilah blok bangunan (building block), yaitu blok masukan (input blok),
block model (model block), block keluaran (output block), blok teknologi,
(tecnology block), blok basisdata (database block), dan blok kendali (controls
block).
1.

Blok masukan (input block)


Masukan (input) mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi, input
merupakan metode-metode dan media untuk menangkap data yang akan
dimasukkan, yang berupa dokumen-dokumen dasar.

2.

Blok model (model block)


Terdiri dari kombinasi prosedur, logika model matematika yang akan
memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara
yang sudah tertentu untuk menghasilkan keluaran yang di inginkan.

3.

Blok keluaran (output block)


Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang
berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen
serta semua pemakai sistem.

4.

Blok teknologi (tehnologi block)


Teknologi merupakan "kotak alat" (tool box), dalam sistem informasi,
Teknologi

digunakan

untuk

menerima

input,

menjalankan

model,

menyimpan, dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran


dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan. Teknologi terdiri
dari tiga bagian utama, yaitu teknisi (humanware atau brainware), perangkat
lunak (software) dan perangkat keras (hardware)
5.

Blok basis data (database block)


Merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang
lainnya, tersimpan dalam perangkat keras komputer dan digunakan perangkat
lunak untuk memanipulasinya dengan menggunakan perangkat lunak paket
yang disebut dengan DBMS (Data Base Management Sistem).

6.

Blok kendali (controls block)


Mengendalikan sistem agar terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan
(kesalahan-kesalahan, ketidakefesienan, dan lain sebagainya) dengan
merancang pengendalian untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat
merusak sistem dapat dicegah dan diatasi.

2.2 Pengertian Informasi


Informasi dalam sebuah perusahaan atau instansi merupakan sesuatu yang
sangat penting guna untuk mendukung kelangsungan perkembangannya. Akibat
kurang mendapatkan informasi, dalam waktu tertentu perusahaan atau instansi
tersebut akan mengalami ketidakmampuan mengontrol sumber daya yang pada

akhirnya akan mengalami kekalahan dalam bersaing dengan lingkungan


persaingannya.
Menurut Jogiyanto, HM (2005), pengertian dari informasi adalah data
yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang
menerima dan membutuhkannya.
Informasi yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.

Akurat (Acurate)
Informasi yang diperoleh harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak
boleh menyesatkan serta harus mencerminkan suatu maksud. Informasi
diharuskan akurat karena dari informasi yang tidak akurat akan banyak timbul
gangguan (noise) yang dapat merubah atau merusak informasi tersebut.

2.

Tepat Waktu (Time Lines)


Informasi yang sampai pada yang membutuhkan tidak boleh terlambat,
informasi yang telah usang tidak akan mempunyai nilai, hal ini disebabkan
karena informasi merupakan landasan dalam pengambilan keputusan, maka
akan berakibat fatal pada suatu organisasi, instansi maupun perusahaan.

3.

Sejalan (Relevan)
Informasi tersebut harus bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Relevansi
informasi untuk tiap-tiap orang adalah berbeda. Informasi yang baik hanya
akan dihasilkan oleh data yang baik dengan pemrosesan data yang tepat.

4.

Veribility
Adalah agar memberikan nilai tambah bagi pemakai informasi, maka
informasi yang disajikan harus dapat membandingkan suatu untuk memenuhi
prinsip ini penyajian yang dilakukan harus efektif, apakah itu dalam bentuk
format, desain dan sebagainya.

2.3 Pengertian Sistem Informasi


Telah diketahui bahwa informasi merupakan hal yang sangat penting bagi
manajemen di dalam pengambilan keputusan. Informasi dapat diperoleh dari
sistem informasi (information system) atau disebut juga dengan processing sistem
atau information processing system atau information-generating system.

Menurut Robert A. Leitch dan K. Roscoe Davis dalam Jogiyanto, HM


(2005), sistem informasi dapat didefenisikan sebagai berikut Sistem informasi
adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan
pengolahan transaksi, mendukung operasi, bersifat managerial dan kegiatan
strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporanlaporan yang diperlukan".
2.4 Pengertian Manajemen
Manajemen merupakan suatu proses dimana suatu perusahaan atau
organisasi dalam melakukan suatu usaha harus mempunyai prinsip-prinsip
manajemen dengan menggunakan semua sumber daya yang dimiliki oleh
perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Menurut Glover yang diartikan
oleh Alma dalam bukunya Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (2001)
"Manajemen sebagai suatu kepandaian manusia menganalisa, merencanakan,
memotivasi, menilai dan mengawasi penggunaan secara efektif sumber-sumber
manusia dan bahan yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu".
2.5 Pelayanan Kefarmasian di Apotek
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik
kefarmasian oleh Apoteker. Pelayanan farmasi klinik di Apotek merupakan bagian
dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien
berkaitan dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien.
Berdasarkan PerMenKes RI No 35 tahun 2014 mengenai standar
pelayanan kefarmasian di Apotek, pelayanan farmasi klinik di apotek meliputi:
1.

pengkajian Resep;

2.

dispensing;

3.

Pelayanan Informasi Obat (PIO);

4.

konseling;

5.

Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care);

6.

Pemantauan Terapi Obat (PTO); dan

7.

Monitoring Efek Samping Obat (MESO).

BAB III
PEMBAHASAN

Bisnis apotek merupakan suatu jenis bisnis retail yang harus dikelola
dengan baik agar memperoleh keuntungan yang berguna untuk menutup beban
biaya operasional dan menjaga kelanggengan berdirinya apotek tersebut, akan
tetapi bisnis apotek juga tidak boleh melupakan fungsi sosialnya dalam
mendistribusikan obat, sediaan-sediaan farmasi, alat medis habis pakai dan juga
alat kesehatan kepada masyarakat.

Sehigga keberadaan apotek sendiri turut

membantu pemerintah dalam memelihara dan menjaga kesehatan masyarakat.


Pada sisi lain apotek perlu mempunyai sistem informasi menejemen yang
dapat membantu dalam pengelolaan apotek. Sistem informasi farmasi adalah
sebuah sistem yang diorganisir untuk pengumpulan, pengolahan, pelaporan, dan
penggunaan informasi untuk pengambilan keputusan. Informasi diperoleh dari
pengumpulan dokumen atau catatan farmasi. Formulir pelaporan dan laporan
umpan balik atau laporan analisisa sistem informasi farmasi dapat merupakan alat
yang berguna untuk pengawasan, menyediakan data untuk memonitoring. Dalam
sistem informasi manajemen terdapat banyak bentuk pelaporan, namun di dalam
sistem informasi manajemen apotek perlu ditambahkan bentuk scan barcode.
Penggunaan barcode sebagai rancangan strategi pengembangan apotek
dalam

upaya

peningkatan

pelayanan

kefarmasian

ini

berfungsi

untuk

mempermudah dan mempersingkat waktu pelayanan. Dalam Hal ini penggunaan


barcode memiliki banyak keuntungan yaitu :
a. Input Data lebih Cepat, Tepat, dan Akurat

Cepat :

Barcode Scanner dapat membaca / merekam data lebih cepat


dibandingkan dengan melakukan proses input data secara manual.

Tepat :

Teknologi Barcode mempunyai ketepatan yang tinggi dalam pencarian


data.

Akurat : Teknologi Barcode mempunyai akurasi dan ketelitian yang sangat tinggi.
b. Mengurangi Biaya
Mengindari kerugian dari kesalahan pencatatan data, mengurangi pekerjaan yang
dilakukan secara manual secara berulang-ulang.
c. Peningkatan Kinerja Manajemen
Dengan data yang lebih cepat, tepat dan akurat maka pengambilan
keputusan oleh manajemen akan jauh lebih baik dan lebih tepat, yang nantinya
akan sangat berpengaruh dalam menentukan kebijakan perusahaan. Kemampuan
bersaing dengan perusahaan saingan / kompetitor akan lebih terjaga.
Pada inovasi ini diharapkan barcode ini dapat memunculkan data-data
yang berkaitan dengan informasi obat yang tepat, akurat, relevan, tepat waktu dan
Veribility sehingga dapat membantu seorang apoteker dalam pelayanan salah
satunya yaitu memberikan konseling, informasi dan edukasi pada pasien. Data
Yang dimunculkan bisa berupa informasi obat, interaksi obat, harga dan
sebagainya.
Pelayanan dengan waktu yang singkat merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan

kepuasan

pelanggan

sehingga

meningkatkan omset dari suatu apotek.

BAB IV
PENUTUP

diharapkan

hal

ini

dapat

4.1 Kesimpulan
a.

Sistem Informasi farmasi adalah sebuah sistem yang diorganisir untuk


pengumpulan,pengolahan, pelaporan dan penggunaan informasi untuk
pengambilan keputusan.

b.

Sistem informasi mampu memudahkan proses dalam manajeman apotek.

c.

Sistem informasi dapat menjadi alternatif upaya yang digunakan untuk


meningkatkan pelayanan dan omset apotek melalui ide-ide kreatif.

4.2 Saran
a.

Perlu ditetapkan adanya batasan antara informasi yang dapat diberikan


melalui sistem informasi kepada masyarakat dan informasi yang harus
diberikan langsung oleh apoteker.

b.

Sistem informasi yang baik juga harus ditunjang dengan SDM terlatih yang
bekerja di apotek tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari. 2001. Pengantar Bisnis. Alfabeta. Bandung.
Farmasi;http://anitaningsih.blogspot.com/2011/12/informatika-farmasi.html
Sistem Informasi Management Apotek. 2012.
http://ar.linux.it/pub/barcode. Aplikasi Produktivitas Barcode 26 maret 2015
Jogiyanto, HM. 2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi. ANDI. Yogyakarta.
Jogiyanto, HM. 2006. Analisis dan Desain Sistem Informasi : Pendekatan.
Terstuktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. ANDI. Yogyakarta.
Permenkes RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standart Pelayanan Kefarmasian di
Apotek