You are on page 1of 6

SISTEM SYARAF PADA LANSIA

A. Pengertian
Menua (= menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan
lahan

kemampuan

jaringan

untuk

memperbaiki

diri/mengganti

diri

dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan


terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita
(Darmodjo, 2011). Dapat pula di katakan bahwa menua adalah hilangnya daya tahan
tubuh manusia secara progresif terhadap faktor-faktor dari luar tubuh yang kemudian
akan menumpuk dan menjadi banyak distorsi metabolik dan structural atau disebut
sebagai penyakit degeneratif. Salah satu yang mengalami penurunan fungsi adalah
sistem syaraf atau neurologi.
B. Anatomi fisiologi sistem syaraf pada lansia
1. Otak
Pada Lansia, akibat penuaan, otak kehilangan 100.000 neuron/tahun. Neuron
dapat mengirimkan signal kepada beribu-ribu sel lain dengan kecepatan 200
mil/jam. Terjadi penebalan atropi cerebral (berat otak menurun 10%) antar usia
30-70 tahun. Secara berangsur angsur tonjolan dendrite dineuron hilang disusul
membengkaknya batang dendrit dan batang sel. Secara progresif terjadi
fragmentasi dan kematian sel. Pada semua sel terdapat deposit lipofusin (pigment
wear and tear) yang terbentuk di sitoplasma kemungkinan berasal dari lisosom
atau mitokondria. RNA, Mitokondria dan enzyme sitoplasma menghilang, inklusi
dialin eosinofil dan badan levy, neurofibriler menjadi kurus dan degenerasi
granulovakuole. Corpora amilasea terdapat dimana-mana dijaringan otak.
Berbagai perubahan degenerative ini meningkat pada individu lebih dari 60 tahun
dan menyebabkan gangguan persepsi, analisis dan integritas, input sensorik
menurun menyebabkan gangguan kesadaran sensorik (nyeri sentuh, panas, dingin,
posisi sendi). Tampilan sensori motorik untuk menghasilkan ketepatan melambat.
2. Saraf Otonom
Pusat pengendalian saraf otonom adalah hipotalamus. Beberapa hal yang
dikatakan sebagai penyebab terjadinya gangguan otonom pada usia lanjut adalah
penurunan asetolikolin, atekolamin, dopamine, noradrenalin.
Perubahan pada neurotransmisi pada ganglion otonom yang berupa penurunan
pembentukan asetil-kolin yang disebabkan terutama oleh penurunan enzim utama

kolin-asetilase. Terdapat perubahan morfologis yang mengakibatkan pengurangan


jumlah reseptor kolin. Hal ini menyebabkan predisposisi terjadinya hipotensi
postural, regulasi suhu sebagai tanggapan atas panas atau dingin terganggu,
otoregulasi disirkulasi serebral rusak sehingga mudah terjatuh.
3. Saraf Perifer
a. Saraf aferen
Lansia terjadi penurunan fungsi dari saraf aferen, sehingga terjadi penurunan
penyampaian informasi sensorik dari organ luar yang terkena ransangan.
b. Saraf eferen
Lansia sering mengalami gangguan persepsi sensorik, hal tersebut dikarenakan
terjadinya penurunan fungsi saraf eferen pada sistem saraf perifer
4. Medula spinalis
Medulla spinalis pada lansia terjadi penurunan fungsi, sehingga mempengaruhi
pergerakan otot dan sendi di mana lansia menjadi sulit untuk menggerakkan otot
dan sendinya secara maksimal.
5. Syaraf kranial
a. Nervus Olfactorius
1) Fungsinya sebagai penciuman
2) Sifatnya sensorik membawa rangsangan aroma dari hidung ke otak
b. N. Optikus
1) Fungsinya untuk menentukan ketajaman penglihatan dan lapangan
pandang mata.
2) Sifatnya sensoris, membawa rangsangan penglihatan ke otak.
c. N. Okulomotorius
1) Fungsinya kontraksi pupil, pergerakan bola mata.
2) Sifatnya motorik,mensarafi otot-otot orbital
d. N. Troklearis
1) Fungsinya sebagai saraf pemutar bola mata ke bawah dan dalam
2) Sifatnya motorik, mensarafi otot-otot orbital
e. N. Trigeminus
1) Fungsinya sebagai penggerak
2) Sifatnya majemuk (sensoris motoris)
N. Trigeminus mempunyai 3 cabang yaitu :
1) N. Optalmikus : Sifatnya sensorik, mensarafi kulit kepala bagian depan,
kelopak mata
2) N. Maksilaris : Sifatnya sensoris, mensarafi gigi atas, bibir atas, palatum,
hidung dan sinus maksilaris
3) N. Mandibularis : Sifatnya majemuk, mensarafi otot pengunyah, gigi
bawah, dagu dan serabut rongga mulut dan lidah, membawa rangsangan
citra rasa ke otak

f. N. Abdusen
1) Fungsinya pergerakan bola mata ke lateral
2) Sifatnya motoris, mensarafi otot orbital
g. N. Facialis
1) Fungsinya sebagai mimik wajah dan menghantarkan rasa pengecap
2) Sifatnya majemuk, mensarafi wajah, otot-otot lidah dan selaput lender
rongga mulut
h. N. Vestibulotroklearis
1) Fungsinya sebagai pendengaran dan keseimbangan (vestibulo)
2) Sifatnya sensoris, membawa rangsangan dari telinga ke otak
i. N. Glasofaringeus
1) Fungsinya menelan dan membawa rangsangan cita rasa ke otak
2) Sifatnya majemuk, mensarafi faring, tonsil, dan lidah
j. N. Vagus
1) Fungsinya sebagai perasa
2) Sifatnya majemuk, mensarafi faring, laring, esofagus, gaster, dan kelenjar
pencernaan
k. N. Assesorius
1) Fungsinya untuk mengkaji otot sternokleidomastoideus dan
muskulus trapezius
l. N. Hipoglosus
1) Fungsinya pergerakan lidah dalam berbicara dan menelan
2) Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot lidah
C. Penyakit yang berhubungan dengan gangguan sistem saraf pada lansia
1. Stroke atau cedera cerebrovaskuler
Penyakit ini menunjukkan adanya beberapa kelainan otak baik secara fungsional
maupun structural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari pembuluh darah
serebral atau dari selulruh system pembuluh darah otak. Patologis ini
menyebabkan perdarahan dari sebuah robekan yang terjadi pada dinding
pembuluh atau kerusakan sirkulasi serebral oleh oklusi parsial atau seluruh lumen
pembuluh darah dengan pengaruh yang bersifat sementara atau permanen.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral.
Perubahan Perfusi jaringan serebral adalah suatu keadaan dimana individu
mengalami penurunan dalam nutrisi dan oksigenasi pada tingkat seluler
sehubungan dengan kurangnya suplay darah kapiler. Perubahan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah: gangguan oklusi, hoemoragic,
vasospasme serebral dan oedema serebral.
3. Sakit Kepala
Merupakan suatu gejala dari penyakit dan dapat terjadi dengan atau tanpa adanya
gangguan organic. Beberapa jenis sakit kepala adalah sebagai berikut :
a. Migrain

Penyebab tidak diketahui. Diperkirakan akibat dari spasme pembuluh darah


intra cranial. Sering terjadi pada wanita remaja dan dewasa muda berhubungan
dengan riwayat asma atau alergi.
b. Cluster
Diperkirakan gangguan vaskuler. Histamine memegang peranan yang sangat
penting. Umumnya terjadi pada pria usia muda dan dewasa.
c. Ketegangan otot
Kontraksi otot yang sangat berlebihan di sekitar kulit kepala, wajah, leher, dan
tubuh bagian atas. Kemungkinan akibat vasodilatasi dari arteri cranial.
Kebanyakan pada usia dewasa terutama pada wanita.
d. Arthritis temporalis
Diperkirakan akibat dari mekanisme autoimun pada klien berusia diatas 50
tahun.
4. Alzheimer atau Demensia
Alzheimer adalah proses degenerative yang terjadi pertama-tama pada sel yang
terletak pada dasar otak depan yang mengirim informasi ke korteks serebral.
Perubahan proses pikir adalah suatu keadaan dimana individu mengalami
gangguan dalam pengoperasian dan aktifitas kognitif. Perubahan proses pikir
berhubungan dengan perubahan fisiologis, kehilangan memori, gangguan tidur.
Ditandai dengan :
a. Hilang kosentrasi
b. Hilang ingatan
c. Tidak mampu membuat keputusan
d. Tidak mampu menginterprestasikan stimulasi
e. Disorientasi waktu, tempat, orang, lingkunga dan peristiwa
f. Tingkah laku social yang tidak tepat
Kriteria hasil :
a.

Mampu memperlihatkan kemampuan kognitif untuk menjalani konsekuensi

kejadian yang menegangkan terhadap emosi.


b. Mampu mengembangkan strategi untuk mengatasi anggapan diri yang
negative.
c. Mampu mengenali perubahan dalam berfikir.
d. Mampu memperlihatkan penurunan tingkah laku yang tidak diinginkan,
ancaman dan kebingungan.
5. Masalah-masalah Akibat Perubahan Sistem Persarafan Pada Lansia
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan
kemampuan

jaringan

untuk

memperbaiki

dari

atau

mengganti

dan

mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi


dan memperbaiki kerusakan yang di derita.

Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara ilmiah.
Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup. Proses
menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Adakalanya
orang belum tergolong lanjut usia (masih muda) tetapi kekurangan
kekurangannya yang menyolok (deskripansi).
Adapun masalahmasalah perubahan sistem persarafan pada lansia adalah sebagai
berikut, yaitu:
a. Gangguan pola istirahat tidur
Seringkali lansia mengalami perubahan pola tidur atau perbandiangan bangun
dan pengaturan suhu pada lansia. Keluhan utama pada lansia sebenarnya
adalah lebih banyak terbangun pada dini hari dibandingkan dengan gangguan
dalam tidur. Gangguan pola tidur dan pengaturan suhu terjadi akibat adanya
b.

penurunan pada hypothalamus pada lansi.


Gangguan gerak langkah (GAIT)
Pada usia lanjut secara fisiologik terdapat perubahan gerak langkah menjadi
lebih pendek dengan jarak kedua kaki lebih lebar, rotasi pinggul menurun dan
gerak lebih lambat (Hadi Martono, 1992). Keadaan ini sering diperberat oleh
gangguan mekanik akibat penyakit yang menyertai, antara lain adanya
arthritis, deformasi sendi, kelemahan fokal atau menyeluruh, neuropati,
gangguan visual atau vestibuler atau gangguan integrasi di SSP (Friedman,

1995).
c. Gangguan persepsi sensori
Perubahan sensorik terjadi pada jalur sistem sensori dimulai dari reseptor
hingga ke korteks sensori, merubah transmisi atau informasi sensori. Pada
korteks lobus parietal sangat penting dalam interpretasi sensori dengan
pengendaian penglihatan, pendengaran, rasa dan regulasi suhu. Hilang atau
menurunnya sensori rasa nyeri, temperature dan rabaan dapat menimbulkan
masalah pada lansia.
d. Gangguan eliminasi BAB dan BAK
Perubahan sistem saraf pada lansia juga sering terjadi pada sistem pencernaan
maupun pada sistem urinari. Hal ini disebabkan karena pada lansia terjadi
penurunan sistem saraf perifer, dimana lansia menjadi tidak mampu untuk
mengontrol pengeluaran BAB maupun BAK, sehingga bisa menimbulkan
beberapa masalah, seperti konstipasi, obstipasi, inkontinensia urin, dll.
e. Kerusakan komunikasi verbal

Pada lansia sering terjadi kerusakan komunikasi verbal, hal ini disebabkan
karena terjadi penurunan atau ketidakmampuan untuk menerima, memproses,
mentransmisikan dan menggunakan sistem simbol.
Adapun yang menjadi penyebab lain masalah tersebut dikarenakan
terjadinya perubahan pada persarafan di sekitar wajah.