You are on page 1of 74

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

ANALISIS EFEKTIVITAS PELAKSANAAN INTENSIFIKASI DAN


EKSTENSIFIKASI PAJAK DI KECAMATAN KUTA
(METODE ASSESSMENT SALES RATIO DAN COVERAGE RATIO)

Diajukan oleh:
I Wayan Mardana
NPM 093030005095

Mahasiswa Program Diploma III Keuangan


Spesialisasi Pajak Bumi dan Bangunan

Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat


Dinyatakan Lulus Program Diploma III Keuangan
pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
2012

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

TANDA PERSETUJUAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA

: I WAYAN MARDANA

NOMOR POKOK MAHASISWA

: 093030005095

DIPLOMA III KEUANGAN


SPESIALISASI

: PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

BIDANG PKL

: PENDATAAN DAN PENILAIAN

JUDUL LAPORAN

: ANALISIS EFEKTIVITAS
PELAKSANAAN INTENSIFIKASI DAN
EKSTENSIFIKASI PAJAK DI
KECAMATAN KUTA (METODE
ASSESSMENT SALES RATIO DAN
COVERAGE RATIO)

Mengetahui

Tangerang Selatan,

Juli 2012

Kepala Bidang Akademis

Menyetujui

Pendidikan Pembantu Akuntan,

Dosen Pembimbing,

Kusmono, S.H., Sp.N., M.Hum.


NIP 196206281987031001

Drs. Darwin, MBP.


NIP 195308091978011001
ii

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI


LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA

: I WAYAN MARDANA

NOMOR POKOK MAHASISWA

: 093030005095

DIPLOMA III KEUANGAN


SPESIALISASI

: PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

BIDANG PKL

: PENDATAAN DAN PENILAIAN

JUDUL LAPORAN

: ANALISIS EFEKTIVITAS
PELAKSANAAN INTENSIFIKASI DAN
EKSTENSIFIKASI PAJAK DI
KECAMATAN KUTA (METODE
ASSESSMENT SALES RATIO DAN
COVERAGE RATIO)

Tangerang Selatan,

Agustus 2012

...............................
1. Drs. Darwin, MBP.
NIP 195308091978011001

Dosen Pembimbing/Penilai I

...............................
2. Andreas Hendro Puspita, S.E., M.T.
NIP 197505091995111002

Dosen Penilai II

iii

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
karena atas semua Asung Kerta Wara Nugraha yang telah diberikan kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan Laporan Praktik Kerja Lapangan yang berjudul
ANALISIS

EFEKTIVITAS

PELAKSANAAN

INTENSIFIKASI

DAN

EKSTENSIFIKASI PAJAK DI KECAMATAN KUTA (METODE ASSESSMENT


SALES RATIO DAN COVERAGE RATIO) ini secara tepat waktu.
Laporan Praktik Kerja Lapangan ini diselesaikan tepat waktu berkat dukungan,
bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Kedua orang tua penulis, I Made Pantriyasa (bapak) dan Ni Wayan Gerni (ibu)
yang telah membesarkan penulis dengan penuh kasih sayang.
2. Seluruh keluarga besar yang telah memberikan dukungan secara moril, spiritual
dan material.
3. Bapak Kusmanadji, Ak. MBA. selaku Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
4. Bapak Kusmono, S.H., Sp.N., M.Hum. selaku Kepala Bidang Akademis
Pembantu Ajun Akuntan.
5. Bapak Drs. Darwin, MBP. selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing
dan memberikan pengarahan dalam penyusunan laporan ini.
6. Bapak/Ibu Dosen yang telah membagikan ilmunya selama 3 tahun pendidikan di
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

iv

7. Kepala Kantor, Kepala Seksi, dan seluruh staf KPP Pratama Badung Selatan, atas
bantuan dan bimbingan dalam melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.
8. Rekan-rekan satu kantor PKL: Anggara, Tresna, Chandra, Erik, Nova, Gungde
dan Aldy atas kebersamaannya selama sebulan.
9. Rekan-rekan satu dosen pembimbing: Hamzah, Ririh, Veron, Nerva, Fery, dan
Andre atas bantuan dan dukungan sehingga laporan ini selesai tepat waktu.
10. Rekan-rekan Marzaners yang sudah seperti keluarga sendiri selama 3 tahun.
11. Nyama braya di KMHB STAN atas kebersamaannya dalam berbagai kegiatan.
12. Teman-teman kelas I-B, II-C dan III-A PBB atas kebersamaannya selama ini dan
semua pihak yang turut membantu penyelesaian laporan ini yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan
dalam laporan ini, baik dari segi teknis ataupun dari segi penyajian. Penulis memohon
kritik dan saran, guna memperbaiki penulisan di masa mendatang.
Sebagai akhir kata penulis berharap semoga Laporan Praktik Kerja Lapangan ini
bermanfaat, khusus untuk penulis pribadi dan semua pihak yang membutuhkannya
kelak.
Om Santhi, Santhi, Santhi, Om
Tangerang Selatan, Juli 2012
Penulis

I Wayan Mardana
NPM 093030005095
v

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa
Laporan Praktik Kerja Lapangan ini seluruhnya hasil kerja saya sendiri. Dalam hal
kutipan yang saya ambil dari buku majalah, peraturan-peraturan yang berlaku
dan/atau sumber-sumber lainnya, telah saya sebutkan dalam daftar pustaka dan
catatan kaki.
Apabila dalam laporan ini ditemui bahwa sebagian atau seluruh isinya merupakan
jiplakan atau bersifat plagiat sesuai BAB II A No.7 dan BAB II B No. 3 Keputusan
Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Nomor KEP-100/PP.7/2001, saya bersedia
untuk dinyatakan tidak lulus atau kelulusan dibatalkan dan dikeluarkan dari Program
Diploma III Keuangan Spesialisasi Pajak Bumi dan Bangunan.

Tangerang Selatan, Juli 2012


Yang Membuat Pernyataan

I Wayan Mardana
NPM 093030005095

vi

DAFTAR ISI

halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN RENCANA LAPORAN PKL .............................. ii
HALAMAN PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI ............................. iii
KATA PENGANTAR .........................................................................................iv
HALAMAN SURAT PERNYATAAN ............................................................... vi
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan.............................................................................. 1
B. Ruang Lingkup Permasalahan ....................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan ....................................... 3
D. Metode Pengumpulan Data ........................................................................... 4
E. Sistematika Penulisan ................................................................................... 5
BAB II DATA DAN FAKTA
A. Gambaran Umum KPP Pratama Badung Selatan ........................................... 7
B. Gambaran Umum Kecamatan Kuta ..............................................................11
C. Gambaran Umum Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Badung Selatan ..........14
D. Target dan Realisasi Penerimaan Pajak di KPP Pratama Badung Selatan .....15

vii

BAB III LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN


A. Landasan Teori ............................................................................................20
1. Dasar hukum ..........................................................................................20
2. Metode analisis .....................................................................................26
B. Pembahasan .................................................................................................27
1. Analisis Ketetapan PBB 2011-2012 .......................................................27
2. Analisis Assessment Sales Ratio .............................................................30
a. Perhitungan Assessment Sales Ratio .................................................30
b. Pengukuran Tendensi Sentral ...........................................................32
c. Pengukuran Variabilitas ...................................................................35
d. Interpretasi hasil perhitungan ............................................................38
3. Analisis Coverage Ratio ........................................................................39
4. Analisis Kepatuhan Pelunasan PBB .......................................................40
5. Pemanfaatan hasil analisis guna pengoptimalisasian potensi
perpajakan .............................................................................................43
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan .....................................................................................................46
B. Saran ...........................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................51
LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL

halaman
Tabel II.1 Luas Daerah dan Jumlah Penduduk tiap Kelurahan
di Kecamatan Kuta ...........................................................................11
Tabel II.2 Daftar Pegawai Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama
Badung Selatan.................................................................................14
Tabel II.3 Perbandingan Realisasi terhadap Target Penerimaan
PBB 2008-2011 ................................................................................16
Tabel II.4 Perbandingan Realisasi Penerimaan terhadap
Ketetapan PBB 2008-2012 ...............................................................17
Tabel II.5 Komposisi Penerimaan PBB terhadap Penerimaan Total ..................18
Tabel III.1 Peningkatan Jumlah SPPT 2011-2012 per Jenis Buku ......................27
Tabel III.2 Peningkatan Ketetapan PBB 2011-2012 per Jenis Buku....................28
Tabel III.3 Peningkatan Jumlah SPPT 2011-2012 per Kelurahan........................29
Tabel III.4 Peningkatan Ketetapan PBB 2011-2012 per Kelurahan.....................29
Tabel III.5 Perbandingan NJOP dengan Nilai Pasar per meter persegi ................31
Tabel III.6 Coverage Ratio Pengenaan PBB Wilayah Kerja
Kecamatan Kuta ...............................................................................39
Tabel III.7 Objek Pajak yang Telah SISMIOP tahun 2011 ..................................40
Tabel III.8 Tingkat Kepatuhan Pelunasan PBB Kecamatan Kuta
tahun 2008-2012 ..............................................................................41

ix

DAFTAR GAMBAR

halaman
Gambar II.1

Susunan Organisasi KPP Pratama Badung Selatan ........................ 8

Gambar II.2

Ketetapan, Target dan Realisasi Penerimaan PBB


2008-2011 ( Dalam Miliar Rupiah) ..............................................18

Gambar III.1 Tingkat Kepatuhan Pelunasan PBB tahun 2008-2012


per Kelurahan ..............................................................................42

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I

Kenaikan Jumlah SPPT dan Ketetapan PBB tahun 2011-2012


Di Kecamatan Kuta

Lampiran II

Perhitungan Assessment Sales Ratio

Lampiran III Perhitungan Rasio Kepatuhan Pelunasan 2008-2012


per kelurahan di Kecamatan Kuta
Lampiran IV Peta Wilayah Kerja KPP Pratama Badung Selatan

xi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan


Pajak merupakan sumber penerimaan utama negara Indonesia. 78% dari
penerimaan negara berasal dari pajak. Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Perubahan sendiri penerimaan dari pajak ditargetkan sebesar Rp. 1,012 Triliun, turun
2 % dari target awal. Namun tetap saja target ini menjadi tantangan bagi Direktorat
Jendral Pajak untuk dapat direalisasikan pada tahun ini.
Direktorat Jenderal Pajak menggunakan dua pendekatan dalam meningkatkan
penerimaan dari pepajakan yaitu melalui kegiatan intensifikasi perpajakan dan
kegiatan ekstensifikasi perpajakan.
Kegiatan intensifikasi pajak dilakukan dengan mengoptimalkan penerimaan pajak
dari Wajib Pajak yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak. Dalam intensifikasi pajak,
terdapat tiga istilah terkait intensifikasi ini yaitu mapping atau pemetaan, profilling
atau pembuatan profil dan benchmarking atau pembandingan. Ketiga kegiatan ini
didukung dengan kegiatan pengumpulan data baik dari internal DJP maupun dari
eksternal DJP. Kegiatan tersebut dilakukan secara terpadu untuk menemukan adanya
indikasi potensi pajak yang belum tergali oleh Account Representative.

2
Kegiatan ekstensifikasi pajak dimaksudkan untuk menambah jumlah Wajib Pajak
terdaftar, baik Wajib Pajak Orang Pribadi, Badan maupun Bendaharawan. Kegiatan
Sensus Pajak Nasional yang saat ini sedang dilaksanakan merupakan salah satu
contoh penerapan ekstensifikasi perpajakan. Pelaksanaan SPN diharapkan dapat
menjaring Wajib Pajak baru sekaligus memunculkan kesadaran masyarakat untuk
memenuhi kewajiban membayar pajak.
Oleh karena pembahasan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini mengkhusus pada
Pajak Bumi dan Bangunan, maka penulis membatasi pengertian intensifikasi dan
ekstensifikasi. Kegiatan intensifikasi pajak bumi dan bangunan terbatas pada potensi
pajak dari objek pajak akibat dari selisih antara nilai objek berdasarkan Nilai Jual
Objek Pajak dengan nilai objek berdasarkan nilai pasar wajar. Sementara kegiatan
ekstensifikasi yang ditinjau terbatas pada potensi pajak dari objek pajak yang belum
terdaftar ataupun yang belum dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan. Apabila
intensifikasi dan ekstensifikasi dalam hal tersebut dapat dilaksanakan dengan efektif,
maka diharapkan penerimaan pajak yang berasal dari PBB terutama sektor Pedesaan
dan Perkotaan dapat dioptimalkan.
Mengingat

pentingnya

dalam

melaksanakan

kegiatan

intensifikasi

dan

ekstensifikasi perpajakan agar dapat memaksimalkan potensi perpajakan khususnya


pada Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan, penulis tertarik untuk
menganalisis efektifitas pelaksanaan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak serta
kepatuhan masyarakat Kecamatan Kuta dalam memenuhi kewajiban membayar PBB.
Oleh karena itu, penulis akan membahas masalah ini di dalam Laporan Praktik Kerja
Lapangan

dengan

judul

ANALISIS

EFEKTIVITAS

PELAKSANAAN

3
INTENSIFIKASI DAN EKSTENSIFIKASI PAJAK DI KECAMATAN KUTA
(METODE ASSESSMENT SALES RATIO DAN COVERAGE RATIO).

B. Ruang Lingkup Permasalahan


Dalam pembuatan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini penulis akan memberikan
batasan-batasan agar pembahasan dapat terfokus dan tidak meluas. Penulis akan
menitikberatkan pembahasan mengenai efektivitas pelaksanaan intensifikasi Pajak
Bumi dan Bangunan dengan metode Assessment Sales Ratio dan efektivitas
pelaksanaan ekstensifikasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan metode Coverage
Ratio. Selain itu penulis juga membahas mengenai tingkat Kepatuhan Pelunasan PBB
dengan membandingkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) PBB yang
diterbitkan terhadap SPPT PBB yang dilunasi sebelum jatuh tempo. Wilayah
pembahasannya juga dibatasi pada Kecamatan Kuta.

C. Tujuan Penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan


1. Untuk memenuhi sebagian dari syarat dinyatakan lulus dari Program Diploma III
Keuangan Spesialisasi PBB/Penilai yang diselenggarakan Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara.
2. Menerapkan dan membandingkan teori telah dipelajari selama mengikuti
pendidikan di Program Diploma III Keuangan Spesialisasi PBB/Penilai dengan
praktik yang terjadi di lapangan.
3. Mengetahui tingkat efektivitas pelaksanaan intensifikasi potensi perpajakan di
Kecamatan Kuta dengan metode Assessment Sales Ratio.

4
4. Mengetahui tingkat efektivitas pelaksanaan ekstensifikasi potensi perpajakan di
Kecamatan Kuta dengan metode Coverage Ratio.
5. Mengetahui tingkat Kepatuhan Pelunasan PBB di Kecamatan Kuta.
6. Menentukan langkah yang diperlukan guna mengoptimalkan penerimaan PBB
dengan memanfaatkan hasil analisis Assessment Sales Ratio, Coverage Ratio dan
tingkat Kepatuhan Pelunasan PBB di Kecamatan Kuta.

D. Metode Pengumpulan Data


Dalam menyusun dan menyelesaikan tugas Laporan Praktik Kerja Lapangan ini,
penulis akan menggunakan beberapa metode pengumpulan data, antara lain :
1. Studi Kepustakaan
Penelitian dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari
berbagai sumber pustaka, seperti buku-buku ilmiah, undang-undang, petunjuk
pelaksanan undang-undang, dan peraturan terkait lainnya.
2. Penelitian Lapangan
Penelitian dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung di
lapangan selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Badung Selatan untuk memperoleh data dan fakta yang
diperlukan dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan
3. Statistik
Penelitian yang dilakukan dengan mengolah data dan perpajakan yang
diperoleh sehingga menghasilkan informasi yang berhubungan dengan pokok
pembahasan dan menyajikannya sesuai dengan kebutuhan pembahasan.

5
E. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini Penulis akan menguraikan gambaran umum tentang penyusunan
Laporan PKL yang meliputi latar belakang penulisan, ruang lingkup permasalahan,
tujuan penulisan, metode penelitian, dan sistematika dalam penyusunan Laporan PKL.
BAB II DATA DAN FAKTA
Dalam bab ini Penulis akan menguraikan gambaran umum tentang KPP Pratama
Badung Selatan, gambaran umum tentang Kecamatan Kuta, gambaran umum Seksi
Ekstensifikasi KPP Pratama Badung Selatan, target dan realisasi penerimaan pajak 5
tahun terakhir.
BAB III LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN
Dalam bab Penulis akan menyertakan Landasan Teori dan Pembahasan mengenai
analisis Assessment Sales Ratio dan Coverage Ratio. Pada Landasan Teori, Penulis
akan menguraikan dasar hukum yang terkait, pengertian istilah, penjelasan tentang
ekstensifikasi dan intensifikasi.
Pada Pembahasan, awalnya Penulis akan menyajikan perbandingan SPPT dan
ketetapan antara tahun 2011 dengan 2012. Kemudian Penulis akan menyajikan
perhitungan Assessment Sales Ratio mulai dari pengukuran tendensi sentral sampai
dengan pengukuran variabilitas. Penulis juga akan menyajikan perhitungan Coverage
Ratio sehingga akan menggambarkan seberapa besar efektivitas pelaksanaan kegiatan
ekstensifikasi. Selain itu Penulis juga akan menganalisis tingkat kepatuhan pelunasan
PBB di Kecamatan Kuta. Hasil analisis akan menjadi evaluasi dari pelaksanaan
intensifikasi dan ekstensifikasi.

6
BAB IV PENUTUP
Dalam bab ini Penulis akan menarik simpulan dari uraian-uraian data pada bab-bab
sebelumnya dan berusaha memberikan saran-saran yang dapat dijadikan sebagai
bahan

masukan

untuk

mencapai

target

penerimaan

PBB

yang

optimal.

BAB II
DATA DAN FAKTA

A. Gambaran Umum KPP Pratama Badung Selatan


KPP Pratama Badung Selatan adalah salah satu KPP yang berada di bawah Kantor
Wilayah DJP Bali. KPP Pratama Badung Selatan diresmikan pada tanggal 11
Desember 2007 dan mulai beroperasi secara aktif per 1 Januari 2008. KPP Pratama
Badung Selatan dibentuk guna menunjang reformasi perpajakan. KPP Pratama
Badung Selatan dibentuk menjadi kantor satu atap yang melayani semua jenis pajak.
Pembagian tugas yang awalnya berdasarkan jenis pajak menjadi berdasarkan fungsi.
KPP Pratama Badung Selatan berlokasi di Jalan Kapten Tantular No 4, Renon.
KPP Pratama Badung Selatan, KPP Pratama Denpasar Timur dan Kanwil DJP Bali
berada di satu areal kompleks Gedung Keuangan Negara (GKN) II Denpasar. Kantor
KPP Pratama Badung Selatan dan KPP Pratama Denpasar Timur sendiri berada di
dalam satu gedung. Setelah memasuki lobi, di sebelah kanan merupakan KPP Pratama
Badung Selatan, sedangkan sebelah kiri merupakan KPP Pratama Denpasar Timur.
Keadaan ini terkadang membingungkan wajib pajak, sehingga terkadang wajib pajak
dari KPP Pratama Denpasar Timur malah masuk ruangan KPP Pratama Badung
Selatan, begitu juga sebaliknya.

8
Gedung KPP Pratama Badung Selatan memiliki empat lantai. Lantai pertama
terdiri dari Tempat Pelayanan Terpadu, Ruang Seksi Pelayanan dan Seksi Pengolahan
dan Informasi. Lantai dua terdiri dari Ruang Seksi Ekstensifikasi, Ruang Kepala
Kantor, dan Bagian Umum. Lantai tiga terdiri dari Ruang Seksi Pengawasan dan
Konsultasi I,II,dan III. Kemudian lantai empat terdiri dari Ruang Seksi Pemeriksaan
beserta Fungsional Pemeriksa, serta Ruang Seksi Penagihan.
Wilayah kerja KPP Pratama Badung Selatan mencakup keseluruhan Kecamatan
Kuta dan Kuta Selatan. Wilayah kerja di Kecamatan Kuta meliputi Kelurahan Tuban,
Kedonganan, Kuta, Legian, dan Seminyak. Sedangkan wilayah kerja di Kecamatan
Kuta Selatan meliputi Kelurahan Pecatu, Ungasan, Benoa, Jimbaran, Tanjung Benoa,
dan Kutuh.
Jumlah Wajib Pajak yang terdaftar per Juni tahun 2012 sebanyak 45.130 Wajib
Pajak Orang Pribadi, 8.066 Wajib Pajak Badan dan 238 Wajib Pajak Bendaharawan .
Jumlah Kepala Keluarga berdasarkan publikasi BPS tahun 2011 sejumlah 27.310
Kepala Keluarga.
Gambar II.1 Susunan Organisasi KPP Pratama Badung Selatan
Kepala Kantor
Subandi

Kelompok Jabatan
Fungsional

Seksi Pelayanan
Ni Luh Putu Argiyanti

Subbagian Umum
Kemis Rianto

Seksi Ekstensifiasi
I Kadek Arya Suartana TK

Seksi PDI
Heru Tri Hantoro

Seksi Pemeriksaan
Hario Widodo Poncoseno

Seksi Penagihan
Ni Made Suarniti

Seksi Waskon II
Helmy Afrul

Seksi Waskon I
Yuaniarsyah Hakim

Seksi Waskon III


I Nyoman Alit Arsa Aryana

Sumber : Diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Badung Selatan

9
Pembagian wewenang organisasi di KPP Pratama Badung Selatan sesuai dengan
gambar II.1. Struktur organisasi terdiri atas Kepala Kantor yang membawahi 1 Sub
Bagian Umum, 8 Seksi serta 2 kelompok Fungsional Pemeriksa dan 1 orang
Fungsional Penilai PBB.
Rincian dari pembagian tugas pokok dan fungsi masing-masing seksi adalah sebagai
berikut:
1. Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai tugas melakukan pengumpulan,
pencarian, dan pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen
perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan, pengalokasian Pajak Bumi dan
Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, pelayanan dukungan
teknis komputer, pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing, pelaksanaan i-SISMIOP
dan SIG, serta penyiapan laporan kinerja.
2. Seksi Pelayanan
Seksi Pelayanan mempunyai tugas melakukan penetapan dan penerbitan produk
hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan
dan pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, penyuluhan
perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, serta melakukan kerjasama
perpajakan.
3. Seksi Penagihan
Seksi Penagihan mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan piutang
pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan
penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.

10
4. Seksi Pemeriksaan
Seksi

Pemeriksaan

pemeriksaan,

mempunyai

tugas

melakukan

penyusunan

pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan,

rencana

penerbitan dan

penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan


perpajakan lainnya.
5. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan
Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempunyai tugas melakukan pengamatan potensi
perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, pembentukan dan pemutakhiran basis
data nilai objek pajak dalam menunjang ekstensifikasi.
6. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, II, dan III
Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, serta
Seksi Pengawasan dan Konsultasi III, masing-masing mempunyai tugas melakukan
pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak, bimbingan/himbauan
kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan profil Wajib Pajak,
analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan
intensifikasi, usulan pembetulan ketetapan pajak, usulan pengurangan Pajak Bumi dan
Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta melakukan
evaluasi hasil banding. Berdasarkan wilayah kerja Seksi Waskon dibagi menjadi:

Seksi Pengawasan dan Konsultasi I:

Seksi Pengawasan dan Konsultasi II : Kelurahan Legian, Seminyak, Tuban

Kelurahan Kuta

dan Kedonganan

Seksi Pengawasan dan Konsultasi III : Kelurahan Pecatu, Ungasan, Benoa,


Jimbaran, Tanjung Benoa, dan Kutuh

11
B. Gambaran Umum Kecamatan Kuta
Kecamatan Kuta merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah
Kabupaten Badung. Kecamatan Kuta terletak 9,6 km dari Kota Denpasar. Kecamatan
Kuta memiliki wilayah seluas 17,52 Ha. Kecamatan Kuta berada pada 27 meter di
atas laut permukaan. Kecamatan Kuta termasuk daerah beriklim tropis dengan suhu
udara berkisar antara 28o C sampai dengan 34o C dan curah hujan rata-rata 2510
mm/tahun. Wilayah Kecamatan Kuta berada di wilayah pesisir pantai memanjang dari
utara ke selatan. Keberadaan pantai di sepanjang wilayah ini menjadikan Kuta
terkenal sebagai ikon pariwisata di Pulau Bali. Hal ini karena keindahan pantai dan
ombak di pesisir wilayah Kuta.
Batas-batas geografis Kecamatan Kuta adalah sebagai berikut:
Batas Utara

: Kecamatan Kuta Utara

Batas Timur

: Kota Denpasar

Batas Selatan

: Kecamatan Kuta Selatan

Batas Barat

: Samudera Indonesia

Tabel II.1 Luas Daerah dan Jumlah Penduduk tiap Kelurahan di Kecamatan Kuta
Kelurahan

Luas Wilayah
(Ha)

Lakilaki

Kedonganan

1,91

2.908

2.698

5.606

1.457

Tuban

2,68

7.506

6.777

14.283

3.307

Kuta

7,23

6.290

6.047

12.337

2.917

Legian

3,05

1.724

1.722

3.446

1.003

Seminyak
Kecamatan
Kuta

2,65

2.052

2.085

4.137

832

39.809

9.516

Perempuan

17,52
20.480
19329
Sumber : Badung Dalam Angka 2011

Jumlah

Jumlah
KK

12
Secara Administratif wilayah Kecamatan Kuta dibagi menjadi 5 Kelurahan yakni:
1. Kelurahan Tuban
Kelurahan Tuban bisa dibilang menjadi salah satu pintu gerbang pulau Bali. Di
sinilah lokasi Bandara Ngurah Rai. Dengan status sebagai Bandara Internasional,
menjadikan kawasan Kelurahan Tuban menjadi kawasan yang tak pernah sepi.
Dengan adanya proyek renovasi Bandara Internasional ke depannya dipastikan
kawasan ini akan bernilai makin tinggi. Belum lagi adanya rencana proyek pembuatan
jalan tol di atas air yang menghubungkan Pelabuhan Benoa, Tuban, dan Nusa Dua
yang pastinya menjadikan kawasan Tuban menjadi lebih strategis sebagai gerbang
Pulau Dewata.
2. Kelurahan Kedonganan
Kawasan Kedonganan berada di sebelah selatan dari Kelurahan Tuban. Memiliki
pantai yang tak kalah indah dengan pantai kuta, namun keadaannya belum seramai
Kuta. Mungkin karena lebih sepi dibandingkan pantai kuta sehingga lebih dapat
menikmati keindahan pantainya. Kafe dan restoran yang terdapat di sepanjang pantai
Kedonganan menjadi ciri khas dari Kelurahan Kedonganan.
3. Kelurahan Kuta
Kelurahan Kuta menjadi salah satu ikon pulau dewata. Pantai yang indah
sepanjang jalan ini dipastikan menjadi pilihan utama pelancong, baik wisatawan
mancanegara maupun domestik. Hal inilah yang menghidupi kawasan Kuta, kawasan
yang tak pernah tidur. Kuta seolah-olah menjadi jantung penggerak pariwisata di Bali.
Lokasi akomodasi untuk para pelancong menjamur di kawasan Kuta, mulai dari
hotel berbintang, penginapan melati ataupun home stay di rumah warga. Dengan

13
luasnya yang tidak terlalu besar kawasan kuta memiliki fasilitas yang lengkap. Mulai
dari daerah pariwisata, pusat belanja, dan akomodasi yang akan memanjakan para
wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Lokasinya yang berdekatan dengan Bandara Ngurah Rai juga membuat kawasan
Kuta mudah diakses. Namun hal ini juga mengakibatkan kemacetan jalan-jalan di
Kelurahan Kuta. Saat ini sedang dilaksanakan proyek pembangunan underpass Dewa
Ruci Simpang Siur. Diharapkan dengan adanya underpass ini dapat mengurangi
kemacetan di jalan Sunset Road dan By Pass Ngurah Rai.
4. Kelurahan Legian
Kelurahan Legian berapa di sebelah utara Kecamatan Kuta. Posisi yang berdekatan
menjadikan Kawasan Legian menjadi penyokong kegiatan di wilayah Kuta. Keadaan
di kawasan Legian sama halnya dengan kawasan kuta. Pantai Legian yang tidak kalah
indah menjadi serbuan bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Ombak pantai
Legian yang tinggi menjadikan pantai Legian digemari oleh para peselancar.
5. Kelurahan Seminyak
Kawasan seminyak berada di sebelah utara Kelurahan Legian. Sama halnya dengan
Kuta maupun Legian, Kelurahan Seminyak juga memiliki pantai yang indah, dan
akomodasi yang lengkap bagi para pelancong.
Kuta, Legian dan Seminyak menjadi kawasan segitiga emas di selatan pulau Bali.
Hal ini karena keindahan pantai dan ombaknya yang menantang para wisatawan.
Selain itu akomodasi yang lengkap, mulai dari hotel, pusat belanja dan sarana
pendukung lainnya. Lokasi yang mudah dijangkau menjadikan kawasan kuta sebagai
objek yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Bali. Tak heran jika ketiganya

14
menjadi pilihan utama bagi turis lokal dan asing. Kendati demikian, umumnya orangorang mengenal ketiganya sebagai Kuta, karena memang kenyataannya bahwa
ketiganya berada di Kecamatan Kuta. Dan sebelum tahun 1998 memang wilayah
Kecamatan Kuta saat ini masih setingkat kelurahan. Barulah pada tahun 1999 dengan
SK Gubernur Bali No 350/1999 wilayah kuta dimekarkan menjadi 5 kelurahan seperti
saat ini.

C. Gambaran Umum Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Badung Selatan


Seksi Ektensifikasi adalah salah satu seksi yang ada dibawah KPP Pratama Badung
Selatan. Tugas utama Seksi Ekstensifikasi adalah:
1. Pengamatan potensi perpajakan,
2. Pendataan objek dan subjek pajak,
3. Pembentukan, dan pemutakhiran basis data nilai objek pajak.
Tabel II.2 Daftar Pegawai Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Badung Selatan
Nama
I Kadek Arya
Suartana TK
IB Komang
Budiarsa
I Wayan
Sudiasa
Putu Arya
Marlon Saputra

NIP

Pendid
ikan

Golongan

Jabatan

Kepala Seksi
Ekstensifikasi
Pelaksana Seksi
197112271998031001
SMA
II/d
Ekstensifikasi
Pelaksana Seksi
198502222006021004
S1
II/b
Ekstensifikasi
Pelaksana Seksi
198603172006021002
S1
II/b
Ekstensifikasi
Pelaksana Seksi
Putu Widiada
196004071985031000
SMA
II/d
Ekstensifikasi
Ni Luh
Pelaksana Seksi
Honorer
S1
Manggreni
Ekstensifikasi
Fungsional
Sahroni
197007041991031004
DIII
III/a
Penilai
Sumber : Subbagian Umum KPP Pratama Badung Selatan
197505091995111001

S2

III/d

15
Walaupun saat ini pembagian seksi di KPP berdasarkan fungsi, namun seksi
ekstensifikasi terkesan lebih dekat dengan pengelolaan PBB. Hal ini dikarenakan
seksi ekstensifikasi yang melakukan pendataan objek pajak, melakukan penilaian
individu dan juga memelihara basis data objek pajak.
Kegiatan yang dilakukan Seksi Ektensifikasi meliputi:
1. Ekstensifikasi melalui pendataan dengan menyasar kantor-kantor perdagangan di
pelosok desa dan pinggiran kawasan Kuta melalui identifikasi awal menggunakan
peta citra.
2. Ektensifikasi melalui pendataan dengan menyasar pemukiman real estate.
3. Ekstensifikasi melalui pemberi kerja, yaitu Wajib Pajak badan yang karyawannya
belum terdaftar memiliki NPWP, namun beban gajinya besar.
Kendala yang dihadapi adalah sebagai berikut:
1. Sering dijumpai Wajib Pajak yang ber-NPWP di KPP lain, sehingga tidak
menambah potensi pajak.
2. Banyak Wajib Pajak yang pindah alamat dan tidak melapor.
3. Adanya resistensi dari para karyawan atau pengusaha untuk menyembunyikan
identitas.

D. Target dan Realisasi Penerimaan Pajak di KPP Pratama Badung Selatan


KPP Pratama Badung Selatan menjadi salah satu KPP yang berprestasi di bawah
Kanwil DJP Bali. Wilayah kerja KPP Pratama Badung Selatan meliputi Kecamatan
Kuta dan Kuta Selatan yang merupakan wilayah strategis, yang menjadi ikon
pariwisata pulau Bali. Potensi pajak yang tinggi di segala sektor, karena keberadaan

16
hotel, villa, restoran, sarana rekreasi dan lain sebagainya. Hal inilah yang menjadikan
KPP Pratama Selatan menjadi KPP Pratama dengan penerimaan terbesar di Kanwil
DJP Bali, setelah KPP Madya Denpasar.
Prestasi yang gemilang menyebabkan KPP Pratama Badung Selatan selalu dibekali
dengan target penerimaan pajak yang tinggi. Oleh karena itu diperlukan strategi yang
baik agar mampu mencapai target yang telah dipercayakan, salah satunya dengan
melaksanakan intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan. Dengan terlaksananya
kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi yang optimal, diharapkan penerimaan yang
diperoleh juga mencapai hasil yang maksimal.
Tabel II.3 Perbandingan Realisasi terhadap Target Penerimaan PBB 2008-2011

2008

Target Penerimaan
PBB
Rp 62.910.730.000,00

Realisasi Penerimaan
PBB
Rp 61.652.142.290,00

Realisasi/
Target
98,00%

2009

Rp 70.690.528.529,00

Rp 77.572.805.464,00

109,73%

2010

Rp 75.573.002.190,00

Rp 78.850.354.245,00

104,34%

Tahun

2011

Rp 73.868.578.876,00
Rp 81.751.021.275,00 110,67%
Sumber : Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Badung Selatan

Tabel II.3 memperlihatkan bahwa tiap tahun penerimaan pajak yang berasal dari
PBB selalu mengalami peningkatan. Tiap tahun KPP Pratama Badung Selatan selalu
melampaui target penerimaan yang telah ditetapkan, kecuali pada tahun 2008. KPP
Pratama Badung Selatan secara resmi mulai beroperasi pada tahun 2008, dan tahun
pertamanya KPP Pratama Badung Selatan berhasil mencapai 98% target penerimaan
PBB. Walaupun pada tahun 2008 belum mencapai target yang telah ditetapkan dalam
penerimaan PBB, namun penerimaan pajak secara keseluruhan pada saat tahun 2008
telah melampau target yang ditetapkan.

17
Di tahun-tahun berikutnya penerimaan PBB selalu mengalami peningkatan.
Penerimaan pada tahun 2009 mencapai 109,73% dari target yang telah ditetapkan.
Kemudian pada tahun 2010 penerimaan PBB mencapai 104,34% dari target yang
telah ditetapkan untuk tahun 2010. Puncaknya pada tahun 2011 realisasi penerimaan
PBB

KPP Pratama Badung Selatan mencapai 110,67% dari target yang telah

ditetapkan.
Tabel II.4 Perbandingan Realisasi Penerimaan terhadap Ketetapan PBB 2008-2012
Tahun
2008
2009
2010
2011
2012

Realisasi Penerimaan
Realisasi/
PBB
Ketetapan
Rp 64.903.256.724,00
Rp 61.652.142.290,00
94,50%
Rp 82.635.979.629,00
Rp 77.572.805.464,00
93,87%
Rp 89.546.410.161,00
Rp 78.850.354.245,00
88,06%
Rp 111.436.502058,00
Rp 81.751.021.275,00
73,36%
Rp156.189.525.161,00
Rp 19.241.839.469,00
12,32%
Sumber : Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Badung Selatan
Ketetapan PBB

Tabel II.4 menunjukkan perbandingan antara realisasi penerimaan PBB terhadap


ketetapan PBB tiap tahun selama tahun 2008 sampai dengan Juni 2012. Walaupun
pada tahun 2008 dan 2009 perbandingan realisasi penerimaan PBB terhadap ketetapan
PBB masih diatas 90%, namun di tahun-tahun berikutnya. Namun di tahun 2010
menurun menjadi 88,06% dan semakin menurun di tahun 201 menjadi 73,36%..
Sebenarnya realisasi penerimaan PBB sendiri sudah naik, namun tidak mampu
mengimbangi laju perkembangan ketetapan PBB. Realisasi penerimaan sendiri bukan
hanya berasal dari pencairan pokok pajak tahun bersangkutan namun juga pencairan
tunggakan PBB yang telah jatuh tempo.
Berdasarkan tabel II.4, sampai dengan bulan Juni perbandingan realisasi
penerimaan PBB dengan terhadap ketetapan PBB baru 12,32%. Hal ini berarti KPP

18
Pratama

Badung Selatan harus bekerja keras agar dapat meningkatkan realisasi

penerimaan sehingga pokok ketetapan PBB yang untuk tahun 2012 dapat dicairkan.
Gambar II.2 Ketetapan, Target dan Realisasi Penerimaan PBB 2008-2011
( Dalam Miliar Rupiah)
120
Target Penerimaan PBB

100
80

Realisasi Penerimaan
PBB

60
40

Ketetapan PBB

20
0
2008

2009

2010

2011

Sumber : Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Badung Selatan


Tabel II.5 Komposisi Penerimaan PBB terhadap Penerimaan Total
Tahun
2008
2009
2010
2011

Realisasi
Realisasi Penerimaan
Komposisi
Penerimaan PBB
Total
penerimaan PBB
61.652.142.290
334.805.182.198
18,41%
77.572.805.464
361.299.778.873
21,47%
78.850.354.245
450.082.472.558
17,52%
81.751.021.275
552.400.199.824
14,80%
Sumber : Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Badung Selatan

Jika dibandingkan dengan realisasi penerimaan keseluruhan, penerimaan PBB


KPP Pratama Selatan memiliki komposisi yang cukup besar. Dari tahun 2008 hingga
tahun 2011 penerimaan KPP Pratama Badung Selatan yang berasal dari PBB selalu
diatas 10% dari keseluruhan penerimaan pajak. Hal ini wajar mengingat wilayah
kerja dari KPP Pratama Badung Selatan yang cukup luas dan strategis karena
lokasinya yang mudah dijangkau dan dekat dengan objek wisata.

19
Kontribusi yang terbesar diberikan pada tahun 2009 yakni sebesar 21,47% dari
keseluruhan penerimaan. Namun di tahun berikutnya secara perlahan mengalami
penurunan, yakni 17,52% pada tahun 2010 dan 14,80% pada tahun 2011. Hal ini
dikarenakan pada tahun 2013 pengelolaan PBB sektor pedesaan perkotaan diserah
sepenuhnya kepada pemerintah daerah. KPP Pratama Badung Selatan mulai
berkonsentrasi untuk mengoptimalkan pajak selain PBB. Agar ketika PBB sudah di
daerahkan KPP Pratama Badung Selatan sudah siap dan tetap mampu mencapai target
yang telah ditetapkan.

BAB III
LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Landasan Teori
1. Dasar hukum
Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia saat ini bukan lagi negara agraris ataupun
negara maritim. Indonesia saat ini beralih menjadi negara pajak. Pajak menjadi
sumber pendanaan utama bagi kelangsungan negara Indonesia. Pemungutan pajak pun
dilindungi oleh konstitusi.
Pajak yang dikenakan di Indonesia bermacam-macam, mulai dari Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Barang Mewah, sampai
dengan Pajak Bumi dan Bangunan. Belum lagi Bea Cukai dan Pajak Daerah yang
dikelola oleh tiap-tiap daerah, seperti Pajak Restoran, Pajak Hotel, Pajak Reklame dan
lain-lain. Dengan begitu banyaknya jenis pajak dan pengenaannya wajar apabila
Negara Indonesia dikatakan sebagai negara pajak.
Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dipungut atas bumi dan/atau
bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih
baik bagi orang pribadi atau badan yang mempunyai hak, menguasai ataupun
memperoleh manfaat atas bumi dan/atau bangunan tersebut. Contohnya ladang,

20

21
sawah, danau, tambang dan lain-lain. Sedangkan bangunan adalah konstruksi teknik
yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan di wilayah
Republik Indonesia. Contohnya, rumah tinggal, toko, dermaga dan lain-lain.
Berdasarkan PP Nomor 16 Tahun 2000 tentang Pembagian Hasil Penerimaan
Bumi dan Bangunan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah diatur bahwa 10 % dari
penerimaan PBB diberikan kepada pemerintah pusat dan 90% dari penerimaan PBB
diberikan kepada pemerintah daerah. Jumlah 90% yang merupakan bagian pemerintah
daerah diperinci sebagai berikut:
a. 16,2% untuk daerah provinsi.
b. 64,8% untuk daerah kabupaten/kota.
c. 9 % untuk biaya pemungutan.
Jumlah 10% yang merupakan bagian pemerintah pusat kemudian dibagikan
kembali kepada pemerintah daerah dengan alokasi sebagai berikut:
a. 65% dibagikan secara merata ke seluruh daerah kabupaten/kota.
b. 35% dibagikan sebagai insentif kepada daerah kabupaten/kota yang realisasi
penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan pata tahun
sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, telah ditentukan jenis pajak dan restribusi yang dapat dipungut oleh
pemerintah daerah berupa Closed-List yang tidak dapat ditambah lagi oleh tiap-tiap
pemerintah daerah. Berdasarkan kewenangannya dibagi menjadi pajak provinsi dan
pajak kabupaten. Pajak propinsi meliputi Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bemotor, Pajak Air Permukaan,

22
dan Pajak Rokok. Pajak Kabupaten/Kota meliputi Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak
Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan
Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak sarang Burung Walet, Pajak Bumi dan
Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan, dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah
dan/atau Bangunan.
Dengan adanya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah ini, sudah dipastikan bahwa PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan
akan dialihkan pengelolaannya kepada pemerintah daerah. Sedangkan PBB sektor
Perkebunan, Pertambangan, dan Perhutanan masih berada dibawah pengelolaan
Pemerintah Pusat. BPHTB secara resmi telah dialihkan kepada pemerintah daerah
pada 1 Januari 2011, sedangkan untuk PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan paling
lambat dialihkan pada tahun 2014. Namun beberapa daerah telah mengelola PBB
sektor Pedesaan dan Perkotaan secara mandiri mulai tahun 2012.
PBB pada kenyataannya memang merupakan pajak yang berbasis lokasi, dengan
diberikannya wewenang kepada pemerintah daerah diharapkan biaya pemungutan
dapat menjadi lebih efisien. Tentunya pemerintah daerah juga lebih mudah memantau,
karena lebih mengenal wilayah kerja masing-masing. Hal ini juga akan mendorong
semangat dari tiap daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah masingmasing. Sampai saat ini memang pelaksanaan pemungutan PBB memang belum
maksimal dan kurang efisien, hal ini karena dalam memungut PBB diperlukan
koordinasi antara DJP, Badan Pertanahan Nasional dan pemerintah daerah. Dengan
menyerahkan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan kepada pemerintah daerah maka
diharapkan koordinasi dapat ditingkatkan.

23
Pemerintah daerah harus membentuk peraturan daerah mengenai PBB sektor
Pedesaan dan Perkotaan sebelum mulai memungut PBB. Sehingga ada baiknya dalam
penyusunannya dapat mengadopsi aturan-aturan PBB yang sebelumnya berlaku.
Terutama dalam hal mengoptimalkan penerimaan dari Pajak Bumi dan Bangunan
melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pajak.
Penulis berharap pemerintah daerah dapat mengadopsi sistem intensifikasi dan
ekstensifikasi yang saat ini telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Direktorat Jenderal Pajak juga diharapkan bersedia menularkan ilmunya dalam hal
memaksimalkan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan.
Kegiatan intensifikasi adalah mengoptimalkan penerimaan pajak dari objek pajak
yang telah terdaftar. Kegiatan intensifikasi berguna untuk menemukan indikasi
adanya potensi pajak yang belum tergali. Misalnya Nilai Jual Objek Pajak yang masih
dibawah nilai pasar wajar. Sedangkan Kegiatan ektensifikasi adalah menjaring objek
pajak yang belum terdaftar.
Sesuai dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak Nomor SE-01/PJ.6/2003
tentang Kebijakan Pengamanan Penerimaan PBB dan BPHTB peningkatan pokok
ketetapan PBB dapat dilaksanakan melalui:
a. peningkatan cakupan luas bumi dan bangunan kena pajak (coverage ratio)
dengan cara pendataan dan pemeliharaan basis data.
b. peningkatan kualitas NJOP bumi dan bangunan melalui analisis Assesment Sales
Ratio, penyesuaian DBKB sesuai harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja
yang berlaku.
c. peningkatan optimalisasi penerapan NJOPTKP.

24
Surat Edaran DJP Nomor 23/PJ.6/2001 juga menjelaskan bahwa dalam
optimalisasi ketetapan PBB langkah-langkah yang harus dilakukan diantaranya:
a. Meningkatkan cakupan luasan bumi dan bangunan kena pajak (coverage ratio),
dengan :
1) Melakukan pendataan khusus objek pajak bangunan, terutama di sektor
Pedesaan, mengingat sebagian objek pajak bangunan sektor Pedesaan belum
terdata melalui SPOP kolektif .
2) Melakukan pemeliharaan basis data yang sudah ada secara teratur untuk
memperoleh data tanah dan bangunan yang lebih akurat.
Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut Kepala KPP diminta menugaskan
stafnya (fungsional penilai) untuk secara berkala memantau perkembangan di
lapangan,

terutama

terhadap

munculnya

bangunan-bangunan

baru

seperti

pembangunan komplek perumahan, pertokoan (ruko), perkantoran, jaringan pipa,


jaringan transmisi listrik dan lain-lain.
b. Meningkatkan kualitas NJOP/m2 bumi dan bangunan, dengan :
1) Melakukan penilaian individual terhadap objek pajak potensial yang
diperkirakan NJOP-nya masih dibawah nilai pasar (under value).
2) Melakukan reklasifikasi NJOP bumi terhadap objek pajak yang basis datanya
masih non-sismiop (terutama sektor Pedesaan), karena terdapat indikasi
ketimpangan NJOP bumi antara wilayah yang belum dilakukan pendataan
dengan pola sismiop dan yang sudah.
3) Melakukan penyesuaian NJOP bumi terhadap objek pajak yang basis datanya
sudah berpola sismiop mengikuti perkembangan nilai pasar wajar.

25
4) Melakukan penyesuaian DBKB sesuai dengan harga bahan bangunan dan upah
tenaga kerja yang berlaku.
Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut Kepala KPP diminta menugaskan
stafnya (fungsional penilai) untuk secara berkala memantau perkembangan harga
bahan bangunan, upah tenaga kerja, dan data transaksi jual beli properti, sewa properti
dan lain-lain. Penyesuaian NJOP bumi dan DBKB harus didukung dengan data dan
analisis yang memadai.
c. Meningkatkan optimalisasi penerapan NJOPTKP, dengan melakukan kajian
bersama-sama

dengan pemerintah daerah kabupaten-kota terkait

untuk

mengusulkan NJOPTKP yang optimal ditinjau dari aspek sosial politis dan
kebutuhan dana Pemerintah daerah setempat.
Dengan melihat kedua surat edaran tersebut dapat simpulkan bahwa untuk
meningkatkan penerimaan PBB, maka variabel luas dan kualitas NJOP/m2 harus
dioptimalkan. Ditinjau dari variabel luas berarti harus dilaksanakan ekstensifikasi
pada Objek Pajak, sehingga keseluruhan luas tanah dan bangunan harus dapat didata,
dan sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Ditinjau dari variable kualitas
NJOP/m2 berarti harus dilaksanakan intensifikasi terhadap Objek Pajak yang telah
terdaftar sehingga NJOP dapat mendekati nilai pasar wajar dari objek pajak.
Untuk menguji keberhasilan dalam melaksanakan ekstensifikasi dan intensifikasi
PBB dapat digunakan perhitungan Coverage Ratio dan Assessment Sales Ratio.
Penulis akan menggunakan Assessment Sales Ratio sebagai tolak ukur keberhasilan
KPP Pratama Badung Selatan dalam mengoptimalkan kualitas NJOP/m2 dari bumi
dan bangunan di Kecamatan Kuta. Kemudian penulis akan menggunakan Coverage

26
Ratio sebagai tolak ukur cakupan luas tanah dan bangunan yang telah dikenakan PBB
di Kecamatan Kuta. Selain itu penulis akan menguji kepatuhan terhadap pelunasan
PBB untuk membandingkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang yang diterbitkan
dengan yang dilunasi.

2. Metode analisis
a. Coverage Ratio
Coverage Ratio adalah perbandingan luas bumi yang telah dikenakan pajak
dibandingkan dengan luas bumi yang seharusnya dikenakan pajak. Luas bumi yang
seharusnya dikenakan pajak adalah luas wilayah administratif dikurangi dengan
luasan bumi yang tidak bisa dikenakan pajak seperti fasilitas sosial dan fasilitas
umum, tanah milik negara dan milik pemerintah yang digunakan untuk pelayanan
umum dan tanah-tanah yang dikecualikan menurut Undang-Undang Pajak Bumi dan
Bangunan.
b. Assessment Sales Ratio
Assessment Sales Ratio adalah perbandingan rata-rata Nilai Jual Objek Pajak
(NJOP) PBB yang sudah ditetapkan dibandingkan dengan rata-rata harga pasar.
Dengan analisis Assessment Sales Ratio dapat digunakan sebagai analisis apakah nilai
NJOP suatu objek pajak berada dibawah harga pasar (under value) atau berada di atas
harga pasar (over value).
Apabila suatu objek pajak under value maka fiskus dapat melakukan intensifikasi
terhadap kualitas NJOP/m2 dari objek pajak tersebut, sehingga NJOP dari objek pajak
tersebut mendekati nilai pasar wajarnya. Sebaliknya apabila suatu objek pajak over

27
value, maka fiskus harus bersiap karena kemungkinan wajib pajak akan mengajukan
keberatan.
c. Rasio Kepatuhan Pelunasan PBB
Rasio Kepatuhan Pelunasan PBB adalah perbandingan Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang (SPPT) yang telah dilunasi dibandingkan dengan SPPT yang telah
diterbitkan. Hal ini untuk mengukur tingkat kepatuhan pelunasan SPPT berdasarkan
banyaknya SPPT yang telah dilunasi pada suatu tahun, bukan dari nilai rupiahnya.
Yang perlu diperhatikan bahwa data SPPT yang dilunasi adalah SPPT pada tahun
bersangkutan yang belum jatuh tempo.

B. Pembahasan
1. Analisis Ketetapan PBB 2011-2012
Sebagai salah satu KPP dengan prestasi yang baik di wilayah kerja Kanwil Pajak
Bali, KPP Pratama Badung Selatan selalu dituntut untuk mencapai target yang telah
ditentukan. Begitu juga untuk memenuhi target penerimaan PBB, sehingga tiap
tahunnya penerimaan PBB dapat meningkat.
Tabel III.1 Peningkatan Jumlah SPPT 2011-2012 per Jenis Buku
Berdasarkan Buku

SPPT 2011

SPPT 2012

Kenaikan Jumlah SPPT

Buku I
2.347
2.473
5,37%
Buku II
7.100
6.338
-10,73%
Buku III
3.121
3.228
3,43%
Buku IV
1.835
2.278
24,14%
Buku V
1.264
1.712
35,44%
Jumlah
15667
16029
2,31%
Sumber : Seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Badung Selatan

28
Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat perkembangan jumlah SPPT yang
diterbitkan dan juga besar ketetapan pajaknya antara tahun 2011 dan tahun 2012. Dari
tabel III.1 dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk tahun lalu secara umum SPPT yang
diterbitkan untuk wilayah Kecamatan Kuta meningkat 2,31% dibandingkan dengan
tahun lalu. Namun jika diperinci malah terjadi penurunan SPPT yang diterbitkan pada
golongan buku II sebesar 10,73%. Hal ini berarti terjadi peningkatan Nilai Jual Objek
Pajak pada tahun ini mengakibatkan besarnya PBB terutang semakin bertambah.
Sehingga beberapa objek pajak yang sebelumnya masuk golongan buku II naik
tingkat menjadi golongan buku III, IV dan V. Hal lain yang kemungkinan terjadi
adalah penggabungan beberapa objek pajak menjadi satu objek pajak yang lebih luas
sehingga Nilai Jual Objek Pajaknya semakin meningkat.
Peningkatan yang tertinggi terjadi pada objek pajak golongan buku V yakni
sebesar 35,44%. Peningkatan jumlah yang terjadi pada golongan buku V akan sangat
berpengaruh signifikan terhadap pada nilai ketetapan PBB di Kecamatan Kuta,
mengingat golongan buku V adalah kelompok objek pajak dengan PBB terutang di
atas lima juta rupiah.
Tabel III.2 Peningkatan Ketetapan PBB 2011-2012 per Jenis Buku
Berdasarkan
Buku

Ketetapan PBB 2011

Ketetapan PBB 2012

Kenaikan
Ketetapan

Buku I
Rp
123.166.457,00 Rp
112.344.456,00
-8,79%
Buku II
Rp 1.850.269.349,00 Rp 1.658.400.916,00
-10,37%
Buku III
Rp 2.244.576.667,00 Rp 2.371.393.228,00
5,65%
Buku IV
Rp 5.594.071.509,00 Rp 6.812.340.682,00
21,78%
Buku V
Rp 35.896.911.148,00 Rp 50.105.449.912,00
39,58%
Jumlah
Rp 45.708.995.130,00 Rp 61.059.929.194,00
33,58%
Sumber : Seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Badung Selatan

29
Walaupun SPPT pada buku I mengalami peningkatan, namun nilai ketetapan PBB
untuk tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 8,79%. Selain itu penurunan SPPT
golongan buku II juga mengakibatkan penurunan ketetapan PBB untuk buku II
sebesar 10,37%. Namun penurunan ini tidak berpengaruh terhadap ketetapan PBB
secara keseluruhan. Secara umum Ketetapan PBB untuk tahun 2012 meningkat
33,58%.
Tabel III.3 Peningkatan Jumlah SPPT 2011-2012 per Kelurahan
Berdasarkan Kelurahan

SPPT
2011

SPPT
2012

Kenaikan Jumlah SPPT

Tuban
2.656
2.583
-2,75%
Kedonganan
1.370
1.388
1,31%
Kuta
6.654
6.665
0,17%
Legian
2.267
2.658
17,25%
Seminyak
2.720
2.735
0,55%
Jumlah
15.667
16.029
2,31%
Sumber : Seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Badung Selatan
Apabila ditinjau dari tiap kelurahan, dapat disimpulkan secara umum SPPT tahun
2012 mengalami peningkatan terutama di daerah Legian, kecuali pada daerah Tuban
yang justru SPPT yang terbitkan tahun ini mengalami pengurangan sebesar 2,75%.
Tabel III.4 Peningkatan Ketetapan PBB 2011-2012 per Kelurahan
Berdasarkan
Kelurahan

Ketetapan PBB 2011

Ketetapan PBB 2012

Kenaikan
Ketetapan

Tuban

Rp 9.477.941.233,00

Rp 10.772.287.749,00

13,66%

Kedonganan

Rp 1.359.461.940,00

Rp 2.350.742.830,00

72,92%

Kuta

Rp 21.190.765.672,00

Rp 29.769.282.812,00

40,48%

Legian

Rp 5.957.757.744,00

Rp 8.376.084.562,00

40,59%

Seminyak

Rp 7.723.068.541,00

Rp 9.791.531.241,00

26,78%

Jumlah
Rp 45.708.995.130,00 Rp 61.059.929.194 ,00
33,58%
Sumber : Seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Badung Selatan

30
Namun walaupun SPPT tahun 2012 menurun dibandingkan dengan tahun lalu,
ketetapan PBB di kelurahan Tuban justru meningkat sebesar 72,92%. Hal ini
dikarenakan proyek renovasi Bandara Ngurah Rai agar memperoleh predikat sebagai
bandara internasional bintang lima, sehingga nilai tanah disekitarnya menjadi
meningkat. Pembangunan underpass di areal Simpang Siur yang saat ini dalam proses
pengerjaan nampak juga mempengaruhi nilai properti di Kecamatan Kuta. Hal inilah
yang mengakibatkan kenaikan ketetapan sebesar 33,58%.

2. Analisis Assessment Sales Ratio


a. Perhitungan Assessment Sales Ratio
Dalam laporan ini penulis akan melakukan analisis Assessment Sales Ratio untuk
menguji tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan intensifikasi dalam hal
meningkatkan kualitas Nilai Jual Objek Pajak. Penulis menggunakan data transaksi
yang terjadi di Kecamatan Kuta kemudian membandingkannya dengan Nilai Jual
Objek Pajak per tahun 2012.
Sebagian besar data transaksi masih berupa penawaran sehingga masih
memerlukan penyesuaian data. Data yang digunakan adalah berupa tanah kosong dan
apabila terdapat

bangunan di atasnya terlebih dahulu

nilai

bangunannya

diekstraksikan. Nilai pasar wajar yang ditentukan disini diasumsikan nilai pasar wajar
per tanggal 1 Januari 2012. Hal ini dikarenakan Nilai Jual Objek Pajak untuk tahun
pajak 2012 ditentukan berdasarkan keadaan per tanggal 1 Januari 2012.
Untuk mempermudah perbandingan maka penulis menggunakan nilai pasar/m2 dan
NJOP/m2. Sebab apabila tidak dijadikan nilai/m2, maka akan menimbulkan perbedaan

31
yang signifikan antara sampel satu dengan yang lainnya yang dikarenakan perbedaan
luas tanah.
Tabel III.5 Perbandingan NJOP dengan Nilai Pasar per meter persegi
Nilai
Nilai
A/S
No NJOP/m2
A/S
2
Pasar/m
Pasar/m2
1
5.095.000
8.910.560 57,18% 25 5.095.000 7.200.000 70,76%
2
5.095.000
8.910.569 57,18% 26 5.095.000 8.000.000 63,69%
3 10.445.000 24.107.143 43,33% 27 5.095.000 6.800.000 74,93%
4 10.445.000 39.800.000 26,24% 28 5.095.000 6.400.000 79,61%
5 10.445.000 25.156.250 41,52% 29 3.745.000 7.600.000 49,28%
6
3.745.000
8.750.000 42,80% 30 5.095.000 6.800.000 74,93%
7
3.745.000
5.639.098 66,41% 31 5.095.000 8.000.000 63,69%
8
3.745.000
5.015.625 47,67% 32 3.745.000 8.000.000 46,81%
9
3.745.000
6.168.269 60,71% 33 5.095.000 8.000.000 63,69%
10
3.745.000
6.273.256 59,70% 34 5.095.000 8.000.000 63,69%
11
4.155.000 11.222.222 37,02% 35 4.155.000 12.442.688 33,39%
12
4.155.000
6.397.590 64,95% 36 2.013.000 5.600.000 35,95%
13
4.155.000 14.549.296 28,56% 37 2.013.000 5.745.614 35,04%
14
5.095.000
8.939.024 57,00% 38 2.013.000 5.745.614 35,04%
15
3.745.000
4.804.688 77,94% 39 2.013.000 6.678.082 30,14%
16
2.013.000
6.640.000 30,32% 40 2013.000 6.200.000 32,47%
17
4.155.000 15.578.947 26,67% 41 4.155.000 8.495.575 48,91%
18
5.095.000
8.325.975 61,19% 42 2.013.000 7.916.667 25,43%
19
2.013.000
4.512.000 44,61% 43 3.745.000 11.394.779 32,87%
20
5.095.000 10.000.000 50,95% 44 2.013.000 4.005.333 50,56%
21
5.095.000 10.533.333 48,37% 45 3.745.000 12.400.000 30,20%
22
5.095.000 11.200.000 45,49% 46 3.100.000 8.000.000 38,75%
23
5.095.000 12.000.000 42,46% 47 3.100.000 8.000.000 38,75%
24
5.095.000
7.200.000 70,76% 48 3.100.000 8.000.000 38,75%
Sumber : Diolah dari Seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Badung Selatan
No

NJOP/m2

Apabila Nilai Jual Objek Pajak dari properti lebih kecil dibandingkan dengan nilai
pasar wajar, berarti hal ini menunjukkan adanya potensi pajak yang dapat
dioptimalkan. Sebaliknya apabila Nilai Jual Objek Pajak lebih besar dari nilai pasar
wajar hal ini berpotensi menimbulkan keberatan dari wajib pajak. Dengan melihat

32
hasil analisis Assessment Sales Ratio maka dapat diketahui kualitas dari Nilai Jual
Objek Pajak di Kecamatan Kuta ini.

b. Pengukuran Tendensi Sentral


Pengukuran tendensi sentral merupakan upaya mengetahui kondisi kelompok
subjek dengan mengetahui nilai sentral yang dimiliki. Nilai sentral suatu rangkaian
data adalah nilai dalam rangkaian data yang dapat mewakili data tersebut. Suatu
rangkaian data biasanya memiliki tendensi (kecenderungan) untuk memusat pada nilai
sentral ini. Tendensi sentral ini memberi informasi tentang kecenderungan data dari
kelompok sumber yang ada sebagai deskripsi dasar tentang kondisi kelompok sumber
(subjek observasi).
Pengujian tendensi sentral terdiri atas:
1) Median
Median menentukan letak tengah data setelah data disusun menurut urutan
nilainya atau nilai tengah dari data-data yang terurut. Dalam mencari median,
dibedakan untuk banyak data ganjil dan banyak data genap. Untuk banyak data
ganjil, setelah data disusun menurut nilainya, maka median adalah data yang terletak
tepat di tengah. Sedangkan untuk banyak data genap, setelah disusun menurut
nilainya, maka nilai median merupakan rata-rata dua nilai data yang di tengah.
Karena data yang penulis gunakan berjumlah genap maka median dihitung dengan
cara sebagai berikut:
=

46,81% + 48,37%
= 47,59%
2

33
2) Mean
Mean adalah nilai rata-rata dari beberapa buah data. Nilai mean dapat ditentukan
dengan membagi jumlah data dengan banyaknya data. Mean (rata-rata) merupakan
suatu ukuran pemusatan data. Mean suatu data juga merupakan statistik karena
mampu menggambarkan bahwa data tersebut berada pada kisaran mean data tersebut.
Mean tidak dapat digunakan sebagai ukuran pemusatan untuk jenis data nominal dan
ordinal.
Formula untuk menghitung Mean adalah sebagai berikut:

=
=1

= 48,72%

3) Weighted Mean
Weighted Mean adalah nilai rata-rata tertimbang dengan bobot yang sebanding dari
suatu observasi data . Weighted Mean bisa juga diartikan sebagai rasio antara nilai
rata-rata NJOP/m2 dengan nilai rata-rata nilai pasar /m2. Weighted Mean dihitung
dengan formula sebagai berikut:

207.747.000
=
= 45,55%
456.058197

4) Mean/Median
Perbandingan antara Mean dan Median dapat digunakan untuk mengukur dan
menginterpretasi rasio apabila jumlah sampel yang digunakan sekurang-kurangnya
tiga puluh data.

34
Hasil perbandingan Mean dengan Median Kecamatan Kuta dapat dihitung adalah:
/ =

48,72%
= 102,37%
47,59%

5) Price Related Differential (PRD)


Price Related Differential adalah perbandingan antara mean dengan weighted
mean. Price Related Differential berguna untuk mengukur ketidakwajaran dalam
penilaian yang berkaitan dengan nilai properti. Berdasarkan The International
Association of Assessing Officers, Price Related Differential yang baik berada pada
rentang 97% sampai dengan 103%.
Price Related Differential yang lebih besar dari 103%, menunjukkan adanya
regresifitas dalam penilaian. Artinya penilaian NJOP untuk properti dengan nilai
pasar tinggi relatif menghasilkan nilai yang lebih kecil terhadap nilai pasar wajarnya
sendiri dibandingkan dengan penilaian NJOP untuk properti dengan nilai pasar wajar
rendah.
Price Related Differential yang lebih kecil dari 97% menunjukkan adanya
progresifitas dalam penilaian. Artinya penilaian NJOP untuk properti dengan nilai
pasar tinggi relatif menghasilkan nilai yang lebih besar terhadap nilai pasar wajarnya
sendiri dibandingkan dengan penilaian NJOP untuk properti dengan nilai pasar wajar
rendah.
Price Related Differential untuk Kecamatan Kuta adalah:

48,72%
=
= 106,95%
45,55%

35
c. Pengukuran Variabilitas
Pengukuran Variabilitas berguna untuk mengukur tingkat penyebaran nilai variabel
dari suatu tendensi sentral dalam suatu distribusi. Dengan begitu maka dapat diketahui
keseragaman dalam perbandingan antara nilai berdasarkan pajak dan nilai
berdasarkan pasar. Semakin kecil derajat variabilitas menandakan semakin
seragamnya suatu distribusi.
Pengukuran Variabilitas dilakukan dengan pengujian:
1) Coeffisien of Dispersion (COD)
Coeffisien of Dispersion merupakan ukuran variabilitas yang paling sering
digunakan dalam studi rasio yang menggunakan median sebagai perhitungan dasar.
Coeffisien of Dispersion menghitung persentase deviasi rata-rata terhadap nilai
median. Kelebihan dari Coeffisien of Dispersion adalah interpretasi tidak bergantung
pada asumsi bahwa rasio terdistribusi normal.
Formula untuk menghitung Coeffisien of Dispersion adalah sebagai berikut:
=

100%

=1

/ /
1

Dimana:
A/Smd = Rasio Median
A/Si

= Rasio tiap sampel

= Jumlah Sampel

Perhitungan Coeffisien of Dispersion untuk wilayah Kuta adalah sebagai berikut:

100%
647,83%

= 28,96%
47,59%
48 1

36
2) Coeffisien of Variation (COV)
Coeffisien of Variation merupakan pengujian variasi kedua yang sering digunakan.
Hampir sama dengan Coeffisien of Dispersion, Coeffisien of Variation juga mengukur
tingkat variasi yang terjadi pada distribusi sampel. Namun Coeffisien of Variation
menghitung tingkat variasi terhadap mean distribusi. Mean bisa digunakan apabila
distribusi terjadi secara normal. Hal inilah yang menyebabkan Coeffisien of Variation
lebih jarang digunakan dalam pengujian keseragaman distribusi.
Formula untuk Coeffisien of Variation adalah sebagai berikut:

100%
=

=1 (

)2

Dimana:
A/Smn = Rasio Mean
A/Si

= Rasio tiap sampel

= Jumlah Sampel
Perhitungan Coeffisien of Variation untuk Kecamatan Kuta adalah sebagai berikut:
=

100%
108,70%

= 4,75%
48,72%
48 1

3) Median Absolute Deviation (MAD)


Pengujian keseragaman yang lain adalah Median Absolute Deviation. Sama halnya
dengan Coeffisien of Dispersion, Median Absolute Deviation juga menghitung tingkat
keseragaman distribusi dengan menggunakan perbandingan antara deviasi tiap-tiap
sampel terhadap median.

37
Namun apabila Coeffisien of Dispersion

menggunakan rata-rata dari deviasi,

Median Absolute Deviation menggunakan median dari deviasi.


Formulanya untuk MAD adalah sebagai berikut:
=

100%

/

Perhitungan Median Absolute Deviation untuk wilayah Kecamatan Kuta adalah:


=

100%
13,36% = 28,08%
47,59%

4) Coeffisient of Cencentration (COC)


Coeffisien of Concentration menghitung tingkat variasi dengan cara yang berbeda.
Coeffisien of Concentration mengukur persentase ratio pada range tertentu.
Umumnya Coeffisien of Concentration dihitung pada rentang 10% terhadap median.
Apabila sampel berkumpul pada rentang 10% dari median, maka konsentrasi dari
distribusi semakin tinggi. Namun apabila sampel tersebar secara acak di luar rentang
10% dari median, maka konsentrasi dari distribusi semakin rendah. Jadi semakin
tinggi nilai Coeffisien of Concentration, menandakan distribusi sampel semakin
seragam.
Karena median dari distribusi assessment sales ratio adalah 48,72%, maka harus
ditentukan batas atas dan batas bawah yang menjadi range untuk perhitungan
Coeffisien of Concentration:

= 48,72% 100% + 10% = 52,35%

= 48,72% 100% 10% = 42,83%

38
Langkah berikutnya adalah menghitung jumlah sampel yang berada pada rentang
42,83% sampai dengan 52,35%. Jumlah sampel yang berada pada rentang tersebut
sebanyak 9 maka perhitungan Coeffisien of Concentration untuk wilayah Kecamatan
Kuta adalah:

9
100% = 18,75%
48

d. Interpretasi Hasil Perhitungan


Dari hasil pengukuran tendensi sentral, dapat dilihat bahwa mean berada pada
tingkat 48,72% , median menunjukkan angka 47,59%, dan weighted mean
menunjukkan angka 45,55%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas NJOP untuk tahun
2012 belum memenuhi standar The International Association of Assessing Officers
(IAAO). Berdasarkan IAAO tingkat Assessment Sales Ratio yang baik berada pada
rentang 90%-110%.
Bisa ditarik kesimpulan bahwa kegiatan intensifikasi dalam hal meningkatkan
kualitas NJOP masih bisa dioptimalkan lagi, karena masih jauh dari nilai pasar
wajarnya. Kualitas NJOP harus dinaikkan secara bertahap sehingga diharapkan nilai
NJOP bisa mendekati nilai pasar wajar.
Dari hasil pengukuran Price Related Differential menunjukkan angka 106,95%.
Padahal menurut IAAO yang baik berada diantara 97% sampai dengan 103%. Hasil
perhitungan untuk Kecamatan Kuta berada di atas 103%, berarti terjadi regresifitas
dalam penilaian NJOP untuk Kecamatan Kuta. Berarti penilaian NJOP untuk properti
dengan nilai pasar tinggi relatif menghasilkan nilai yang lebih kecil terhadap nilai

39
pasar wajarnya sendiri dibandingkan dengan penilaian NJOP untuk properti dengan
nilai pasar wajar rendah.
Kemudian hasil perhitungan Coeffisien of Dispersion dan Median Absolute
Deviation menunjukkan tingkat variasi dari perbandingan antara nilai NJOP dengan
nilai pasar wajar terlalu tinggi. Standar yang baik Coeffisien of Dispersion yang baik
untuk lahan kosong yang berada di area residential menurut IAAO adalah antara 5%
sampai 25%. Berarti hasil penilaian NJOP terhadap nilai pasar belum seragam.
Hasil perhitungan Coeffisien of Variation tidak menggambarkan keadaaan karena
distribusi sampel bukan distribusi normal akibat beberapa sampel bersifat ekstrim.
Hasil perhitungan Coeffisien of Concentration juga menunjukkan indikasi
ketidakseragaman dari penentuan nilai NJOP. Tingkat keseragaman berdasarkan hasil
perhitungan Coeffisien of Concentration adalah 18,75%. Hal ini menunjukkan bahwa
NJOP terhadap nilai pasar untuk wilayah Kuta masih bervariasi.

3. Analisis Coverage Ratio


Dalam laporan ini penulis akan melakukan analisis Coverage Ratio untuk menguji
tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi dalam hal pendataan objek
pajak.
Tabel III.6 Coverage Ratio Pengenaan PBB Wilayah Kerja Kecamatan Kuta

Kecamatan

Luas
Wilayah
(Ha)

Luas wilayah yang


dapat dikenakan
(Ha)

Luas wilayah
yang telah
dikenakan (Ha)

Coverage
Ratio (%)

Kuta
17,52
16,23
16,23
100%
Sumber : Seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Badung Selatan

40
Dengan luas keseluruhan 17,52 Ha, 1,29 Ha diantaranya merupakan fasilitas umum
dan properti yang bukan merupakan objek pajak. Sehingga area yang dapat dikenakan
PBB seluas 16,23 Ha. Hasil analisis coverage ratio menunjukkan angka 100%, hal ini
menunjukkan bahwa keseluruhan luas wilayah Kecamatan Kuta yang dapat dikenakan
PBB telah dikenakan PBB. Namun dengan tercakupnya keseluruhan luas tanah di
Kecamatan Kuta bukan berarti keseluruhannya yang telah dikenakan PBB telah
memenuhi kewajibannya membayar PBB.
Tabel III.7 Objek Pajak yang Telah SISMIOP tahun 2011

Kecamatan

Jumlah
Objek Pajak

Objek Pajak yang sudah


terdata SISMIOP

Perbandingan OP
yang telah terdata
SISMIOP (%)

Kuta
16.795
15.657
93,22%
Sumber : Seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Badung Selatan
Sedangkan apabila ditinjau dari Objek Pajak yang telah terdaftar dalam SISMIOP
berdasarkan laporan basis data tahun 2011 sebesar 93,22%. Walaupun secara luas
telah tercakup 100% namun belum semua objek pajak terdaftar dalam SISMIOP.
Kegiatan ekstensifikasi dalam hal mendaftarkan Objek Pajak ke dalam SISMIOP
harus ditingkatkan agar Objek Pajak yang telah SISMIOP dapat ditingkatkan menjadi
100%. Sehingga tidak terdapat potensi pajak yang hilang karena perbedaan antara
data di kantor dengan fakta di lapangan.

4. Analisis Kepatuhan Pelunasan PBB


Dengan terlaksananya intensifikasi dan ekstensifikasi PBB yang optimal tidak serta
merta bisa meningkatkan penerimaan PBB. Hal ini dikarenakan diperlukan kesadaran

41
dari masing-masing wajib pajak untuk memenuhi kewajibannnya sebagai warga
negara indonesia. Pengelolaan PBB masih berupa official assessment, artinya fiskus
dahulu yang menerbitkan SPPT barulah wajib pajak melunasi PBB. Kendati demikian
apabila tidak ada kesadaran dari wajib pajak hal ini tentunya menjadi kendala untuk
mengoptimalkan penerimaan yang berasal dari PBB. Hal ini juga yang menjadi
masalah di KPP Pratama Badung Selatan.
Untuk menguji tingkat kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban
membayar PBB, penulis akan menggunakan Rasio Kepatuhan Pelunasan PBB.
Metode ini membandingkan antara SPPT yang telah dilunasi dengan SPPT yang
diterbitkan untuk masa pajak tertentu. Penulis akan menggunakan data jumlah SPPT
mulai dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012. Untuk tahun 2012 sendiri terbatas
sampai dengan bulan Juni.
Tabel III.8 Tingkat Kepatuhan Pelunasan PBB tahun 2008-2012 Kecamatan Kuta
Tahun

2008

2009

2010

2011

2012

14.526

15.218

15.443

15.673

16.055

9.703

9.846

9.662

3.500

529

Ratio Kepatuhan pelunasan 66,80% 64,70% 62,57% 22,33%


Sumber: Diolah dari SISMIOP KPP Pratama Badung Selatan

3,29%

SPPT yang diterbitkan


SPPT yang telah dilunasi

Dari Tabel III.8 bisa ditarik kesimpulan bahwa untuk tahun 2008 sampai dengan
2010 tingkat kepatuhan pelunasan PBB relatif berada di 66,80%. Namun pada tahun
2011 rasio kepatuhan pelunasan mengalami penurunan yang drastis. Hal ini
dikarenakan masyarakat semakin enggan dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
Ditengah isu korupsi yang sedang maraknya mengakibatkan masyarakat menjadi
tidak percaya pada institusi DJP . Kalau memang tidak terpaksa misalnya untuk

42
mutasi kepemilikan properti, ataupun untuk menjadi jaminan pinjaman, mungkin
masyarakat tidak akan melunasi PBB atas tanah dan bangunan mereka.
Munculnya UU PDRD yang menjadi dasar pemindahan pengelolaan PBB sektor
Pedesaan dan Perkotaan kepada pemerintah daerah juga berdampak pada kepatuhan
dari masyarakat membayar PBB. Pemindahan pengelolaan PBB kepada pemerintah
daerah juga mempengaruhi semangat pegawai pajak dalam mengurusi pengelolaan
PBB. Hal ini dikarenakan KPP Pratama Badung Selatan secara resmi akan
memberikan pengelolaan PBB kepada pemerintah daerah tahun 2013. Dengan begitu
KPP Pratama Badung Selatan lebih fokus pada pengelolaan pajak lainnya guna
mengejar target penerimaan pajak yang telah ditetapkan.
Gambar III.1 Tingkat Kepatuhan Pelunasan PBB tahun 2008-2012 per Kelurahan
80,00%
70,00%
60,00%

Tuban

50,00%

Kedonganan

40,00%

Kuta
30,00%

Legian

20,00%

Seminyak

10,00%
0,00%
2008

2009

2010

2011

2012

Sumber : Diolah dari SISMIOP KPP Pratama Badung Selatan


Gambar III.1 menunjukkan bahwa kepatuhan pelunasan PBB per Juni 2012 masih
sangat kecil. Hal ini merupakan tantangan bagi pegawai KPP Pratama Badung Selatan

43
untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat selama 3 bulan ke depan. Sebab
pembayaran PBB jatuh tempo 6 bulan setelah SPPT diterima diupayakan paling
lambat 30 September. Dengan tingkat kepatuhan pelunasan yang kecil maka
diperlukan kerja ekstra untuk menagih tunggakan PBB yang jatuh tempo.
Mengingat tahun depan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan resmi dikelola
Pemerintah daerah Kecamatan Kuta, maka tanggung jawab untuk melakukan
penagihan tunggakan PBB tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya berada ditangan
pemerintah daerah.

5. Pemanfaatan hasil analisis guna pengoptimalisasian potensi perpajakan


Hasil analisis terhadap efektifitas intensifikasi PBB menunjukkan bahwa tingkat
Assessment Sales Ratio untuk wilayah Kuta saat ini baru sebesar 48,72%. Berarti nilai
NJOP yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak masih jauh di bawah harga
pasar wajar. Memang pada dasarnya apabila penilaian memiliki tujuan yang berbeda,
maka opini nilai yang dihasilkan sudah pasti akan berbeda. Namun walaupun berbeda,
diharapkan selisih perbedaannya tidak terlalu jauh. Rentang perbedaan yang masih
dapat ditoleransi adalah 10%.
Dalam kasus perpajakan memang sangat sulit agar nilai properti untuk tujuan
perpajakan mendekati nilai pasar wajar. Hal ini dikarenakan kecenderungan dari
masyarakat untuk menghindari pajak, ataupun kalau bisa berusaha untuk mengurangi
beban pajak yang ditanggung. Hal yang paling mempengaruhi terjadinya ketimpangan
ini adalah dikarenakan laju kenaikan NJOP tidak dapat mengikuti laju kenaikan nilai
pasar wajar.

44
Sebagai contoh misalnya sebidang tanah di jalan Sunset Road, Kuta. Sebelumnya
sebidang tanah itu merupakan tanah pertanian, lokasinya tidak terjangkau, nilai NJOP
dan nilai pasar tanah tersebut kecil. Kemudian setelah proyek konsolidasi tanah, tanah
itu menjadi lebih dekat dengan jalan Sunset Road, lokasinya strategis, sehingga nilai
pasar tanah tersebut meningkat. Namun nilai NJOP dari tanah tersebut tidak dapat
naik begitu saja. Sebab pemiliknya pasti akan mengajukan keberatan. Pemiliknya
pasti akan melihat pajak terutang tahun sebelumnya sebagai pedoman. Padahal nilai
suatu properti tanah dan bangunan tiap tahun pasti akan meningkat.
Memang tidak mudah untuk meningkatkan kualitas dari NJOP agar mampu
mencapai nilai pasar wajar, sebab apabila dinaikkan secara mendadak wajib pajak
pasti akan mengajukan keberatan. Cara yang dapat ditempuh adalah secara bertahap
menaikkan NJOP agar mampu mengikuti laju nilai pasar wajar.
Hasil analisis terhadap efektifitas ekstensifikasi PBB menunjukkan bahwa tingkat
Coverage Ratio Kecamatan Kuta sudah tercapai 100%. Namun berdasarkan laporan
basis data Objek PBB, baru 93,22% objek pajak yang telah terdata di dalam aplikasi
SISMIOP. Jadi, meskipun seluruh luas wilayah yang dapat dikenakan pajak telah
dikenakan PBB, namun masih ada beberapa objek pajak yang harus dimasukkan ke
dalam aplikasi SISMIOP. Selain itu survei dan pendataan harus tetap dilakukan secara
rutin. Karena walaupun luasan tanah telah terdata keseluruhan namun ada
kemungkinan pada tanah yang sebelumnya masih kosong, didirikan bangunan baru.
Untuk

mencapai

penerimaan

PBB

yang

optimal

tidak

cukup

dengan

mengoptimalkan kualitas dari NJOP dan pendataan luas yang dilakukan dengan
teratur. Walaupun sistem perhitungannya menggunakan office assessment dan

45
diberitahukan lewat SPPT, namun tidak terdapat sanksi yang tegas bagi wajib pajak
yang tidak melunasi kewajibannya. Untuk itu harus dilakukan pengawasan terhadap
pembayarannya.
Dari hasil analisis kepatuhan pelunasan PBB, dapat dilihat bahwa keinginan wajib
pajak untuk memenuhi kewajiban PBB sangat minim. Hal ini berdampak pada
besarnya penerimaan PBB yang diterima KPP Pratama Badung Selatan. Dari tahun
2008 hingga tahun 2011 terjadi penurunan kepatuhan wajib pajak. KPP harus
berupaya agar masyarakat mau melunasi pajaknya. Cara terbaik yang bisa ditempuh
adalah melalui sosialisasi. Dengan begitu diharapkan instansi pajak dapat dipercaya
oleh kembali masyarakat.
Kalaupun nantinya tingkat kepatuhan pelunasan masih belum mencapai 100%,
maka diperlukan kegiatan-kegiatan penagihan. Apabila PBB sudah jatuh tempo maka
tunggakan-tunggakan PBB tersebut bisa dilakukan penagihan melalui SKP PBB.
Apabila pendekatan sosialisasi tidak memberikan dampak yang signifikan maka
diperlukan suatu sanksi yang tegas agar masyarakat tidak lalai dalam melunasi PBB.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Dari hasil analisis yang penulis bahas di dalam Laporan PKL ini dapat disimpulkan
bahwa:
1. Hasil analisis Assessment Sales Ratio

menunjukkan bahwa efektifitas

intensifikasi dalam hal ini peningkatan kualitas NJOP/m2 masih sekitar 48,72%.
Berarti rata-rata objek pajak di Kecamatan Kuta masih under value. Hal ini
dikarenakan laju kenaikan NJOP kalah cepat dengan laju kenaikan nilai pasar.
Selisih antara nilai pasar dengan nilai NJOP merupakan potensi PBB yang dapat
dioptimalkan. Sehingga potensi PBB untuk Kecamatan Kuta sendiri masih sangat
tinggi. Namun memang akan sangat memberatkan apabila NJOP dinaikkan secara
mendadak. Masyarakat yang awam tentang penilaian pasti akan mangajukan
keberatan.
2. Hasil analisis Coverage Ratio menunjukkan efektifitas pelaksanaan ekstensifikasi
dalam hal cakupan luas wilayah yang telah dikenakan sebesar 100%. Berarti luas
wilayah di kecamatan Kuta yang dapat dikenakan pajak, selain fasilitas umum
dan yang dikecualikan sebagai objek pajak, telah dikenakan pajak seluruhnya.

46

47
Walaupun luas tanah telah tercakup secara keseluruhan namun survei dan
pendataan harus tetap dilakukan. Karena ada kemungkinan munculnya bangunanbangunan baru yang belum terdata. Tentu saja bangunan yang baru tersebut
menjadi potensi yang dapat digali, guna meningkatkan penerimaan PBB.
3. Berdasarkan analisis kepatuhan pelunasan PBB kita dapat melihat bahwa
kepatuhan masyarakat makin menurun. Hasil analisis tahun 2011 menunjukkan
tingkat kepatuhan pelunasan hanya 22,33%. Dari 15.673 SPPT yang dicetak
hanya 3.500 SPPT yang dilunasi sebelum jatuh tempo. Sedangkan untuk tahun
2012 tingkat kepatuhan pelunasan baru 3,29%. Padahal jatuh tempo pembayaran
PBB 6 bulan setelah menerima SPPT, diupayakan paling lambat 30 September,
sehingga masih ada 3 bulan bagi wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya.

B. Saran
Pengelolaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan resmi dipegang oleh Pemerintah
Daerah Kuta pada tahun 2013, maka saran lebih tepat ditujukan kepada pemerintah
daerah. Namun KPP Pratama Badung Selatan dapat melakukan beberapa upaya lain
dalam menyiasati agar penerimaan PBB dapat berkontribusi besar dalam penerimaan
pajak keseluruhan dari KPP Pratama Badung Selatan yaitu:
1. Dalam hal intensifikasi, sebaiknya penilaian individu dilakukan pada objek pajak
yang berpotensi. Namun perlu diingat bahwa penentuan NJOP dilakukan
berdasarkan keadaan objek pajak per Januari 2012.
2. Dalam hal ekstensifikasi, perlu dilaksanakan survei dan pendataan, guna
melakukan pendataan terhadap munculnya bangunan-bangunan baru. Sebab

48
bangunan-bangunan tersebut merupakan potensi PBB yang dapat digali sehingga
penerimaan yang berasal dari PBB dapat dioptimalkan.
3. KPP Pratama Badung Selatan harus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
membayar pajak bisa melalui media massa ataupun sosialisasi secara langsung.
KPP Pratama Badung Selatan juga harus berusaha mencairkan tunggakan PBB
tahun-tahun sebelumnya, karena tahun menjadi tahun terakhir PBB dikelola oleh
KPP Pratama Badung Selatan. Apabila memang belum sadar juga KPP Pratama
Badung Selatan wajib mengeluarkan SKP PBB, atau bila perlu Surat Paksa,
terutama untuk tunggakan PBB tahun-tahun sebelumnya.
4. KPP Pratama Badung Selatan harus tetap melaksanakan intensifikasi dan
ekstensifikasi di bidang pajak lain. Hal ini dilakukan agar pada saat pengelolaan
PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan resmi dialihkan, KPP Pratama Badung
Selatan sudah siap tanpa kontribusi penerimaan dari PBB dan prestasi
penerimaan pajak tidak menurun.
Untuk pemerintah daerah mengingat tahun depan merupakan tahun pertama untuk
menangani PBB, maka pemerintah daerah harus mengadopsi sistem pengelolaan PBB
yang telah ada kemudian melakukan perbaikan apabila diperlukan. Saran untuk
pemerintah daerah adalah sebagai berikut:
1. Tarif PBB menurut UU PDRD paling tinggi sebesar 0,3% dari Nilai Jual Objek
Pajak. Ada baiknya pemerintah daerah tidak membebani rakyat dengan tarif
tertinggi yaitu 0,3%. Pada awalnya sebaiknya tarif dasar pajak sebesar 0,1%.
Perpindahan pengelolaan ini menjadi momen yang tepat agar dapat melakukan
peningkatan Nilai Jual Objek Pajak agar tidak terlalu timpang dengan nilai pasar

49
wajar. Jadi walaupun tarif semakin kecil, namun karena nilai jual objek pajak
ditingkatkan mendekati nilai pasar wajar maka penerimaan yang diterima dari
PBB tidak akan mengalami penurunan. Bahkan mungkin mengalami peningkatan
karena tidak ada potensi yang luput dari intensifikasi. Wajib Pajakpun tidak
terkejut sebab walaupun nilai jual objek pajak meningkat, pajak yang
dibayarkannya tidak meningkat secara drastis.
2. Setelah mampu mengoptimalkan kualitas dari NJOP, kegiatan intensifikasi dan
ekstensifikasi masih harus dijalankan. Kegiatan intensifikasi dapat dilakukan
dengan melaksanakan penilaian individu terhadap beberapa objek pajak yang
dianggap masih under value.
3. Kegiatan ekstensifikasi dapat dilakukan dengan survei dan pendataan secara
berkala. Sehingga tidak ada potensi pajak yang hilang akibat perbedaan data yang
terdapat di kantor dengan kenyataan di lapangan.
4. Kepatuhan dalam melunasi PBB juga harus dijadikan sorotan bagi pemerintah
daerah. Pemerintah harus mampu memberikan bukti kepada masyarakat bahwa
PBB yang dibayarkan masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.
Mengingat pengelolaannya tidak lagi melalui pusat maka pemerintah daerah bisa
langsung memanfaatkan penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan
sepenuhnya. Dengan begitu maka pemerintah harus bisa memberikan manfaat
kepada masyarakat, naik berupa pelayanan maupun fasilitas umum.
5. Tunggakan PBB untuk tahun sebelumnya kemungkinan akan sulit untuk ditagih
karena akan diperlukan koordinasi kembali dengan pihak KPP Pratama Badung
Selatan. Ada baiknya apabila tunggakan pada tahun sebelumnya dihapuskan

50
dengan harapan wajib pajak yang sebelumnya takut mengurus PBB karena
memiliki tunggakan mau mulai membayar PBB untuk objek pajak yang
dimilikinya.
6. Dengan dihapusnya tunggakan PBB tahun-tahun sebelumnya, harus diikuti
dengan pembentukan aturan mengenai sanksi yang tegas bagi para penunggak
pajak. Dengan begitu diharapkan tiap wajib pajak mampu melunasi kewajibannya
membayar PBB tepat waktu.

51

DAFTAR PUSTAKA

BPS Kabupaten Badung. 2011. Badung Dalam Angka. Denpasar: Arysta Jaya
International Association of Assessing Officers. 2010. Standard on Ratio Studies.
Kansas City: International Association of Assessing Officers
Illinois Department of Revenue. 2012. Introduction to Sales Ratio Studies. Illinois:
Illinois Department of Revenue
Supranto, J. 2000. Statistik Edisi Keenam : Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit
Erlangga
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan
------------. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
------------. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah
Direktorat Jenderal Pajak. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE23/PJ.6/2001 tentang Peningkatan Pokok Ketetapan Pajak Bumi dan Bangunan
------------. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-1/PJ.6/2003 tentang
Kebijakan Pengamanan Penerimaan PBB dan BPHTB
------------. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-1/PJ.6/2006 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Analisis Assessment Sales Ratio
------------. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-18/PJ./2006 tentang Key
Performance Indikator (KPI)

Lampiran I
Kenaikan Jumlah SPPT dan Ketetapan PBB 2011-2012 per Kelurahan di Kecamatan Kuta
Kelurahan Tuban
Kelompok Ketetapan PBB
0 s.d 100000
>100.000 s.d 500.000
>500.000 s.d 2.000.000
>2.000.000 s.d 5.000.000
>5.000.000 s.d 20.000.000
>20.000.000 s.d 500.000.000
>500.000.000
Jumlah

SPPT 2011 SPPT 2012


1.044
1.166
228
139
68
10
1
2.656

1.206
860
244
144
107
21
1
2.583

Ketetapan PBB
2011
50.364.169
258.899.178
160.440.778
423.536.868
552.447.084
542.502.436
7.489.750.720
9.477.941.233

Ketetapan PBB
2012
44.906.968
181.751.828
181.218.889
425.689.532
959.803.270
1.118.224.638
7.860.692.624
10.772.287.749

Kenaikan
Jumlah
SPPT
15,52%
-26,24%
7,02%
3,60%
57,35%
110,00%
0,00%
-2,75%

Kenaikan
Ketetapan
-10,84%
-29,80%
12,95%
0,51%
73,74%
106,12%
4,95%
13,66%

Kelurahan Kedonganan
Kelompok Ketetapan PBB
0 s.d 100000
>100.000 s.d 500.000
>500.000 s.d 2.000.000
>2.000.000 s.d 5.000.000
>5.000.000 s.d 20.000.000
>20.000.000 s.d 500.000.000
>500.000.000
Jumlah

SPPT 2011 SPPT 2012


449
678
146
41
46
10
1.370

433
607
178
92
57
21
1.388

Ketetapan PBB
2011
25.215.743
157.434.863
105.955.459
116.811.201
407.679.520
546.365.154
1.359.461.940

Ketetapan PBB
2012
23.583.452
136.569.460
127.310.626
264.220.832
658.210.502
1.140.847.958
2.350.742.830

Kenaikan
Jumlah
SPPT
-3,56%
-10,47%
21,92%
124,39%
23,91%
110,00%
1,31%

Kenaikan
Ketetapan
-6,47%
-13,25%
20,15%
126,19%
61,45%
108,81%
72,92%

Kelurahan Kuta
Kelompok Ketetapan PBB
0 s.d 100000
>100.000 s.d 500.000
>500.000 s.d 2.000.000
>2.000.000 s.d 5.000.000
>5.000.000 s.d 20.000.000
>20.000.000 s.d 500.000.000
>500.000.000
Jumlah

SPPT 2011 SPPT 2012


520
3.041
1.584
851
545
107
6
6.654

558
2.755
1.485
999
674
187
7
6.665

Ketetapan PBB
2011
28.557.961
809.928.522
1.152.879.110
2.597.598.470
4.953.043.339
7.456.223.900
4.192.534.370
21.190.765.672

Ketetapan PBB
2012
29.058.901
739.821.037
1.104.822.258
2.957.499.254
6.850.977.816
12.065.037.396
6.022.066.150
29.769.282.812

Kenaikan
Jumlah
SPPT
7,31%
-9,40%
-6,25%
17,39%
23,67%
74,77%
16,67%
0,17%

Kenaikan
Ketetapan
1,75%
-8,66%
-4,17%
13,86%
38,32%
61,81%
43,64%
40,48%

Kelurahan Legian
Kelompok Ketetapan PBB
0 s.d 100000
>100.000 s.d 500.000
>500.000 s.d 2.000.000
>2.000.000 s.d 5.000.000
>5.000.000 s.d 20.000.000
>20.000.000 s.d 500.000.000
>500.000.000
Jumlah

SPPT 2011 SPPT 2012


213
1.151
446
283
140
33
1
2.267

194
1.084
650
489
187
52
2
2.658

Ketetapan PBB
2011
10.427.590
322.182.296
307.216.602
868.464.528
1.221.100.904
2.648.044.324
580.321.500
5.957.757.744

Ketetapan PBB
2012
9.363.712
310.594.946
463.931.902
1.465.664.876
1.806.515.190
3.080.756.486
1.239.257.450
8.376.084.562

Kenaikan
Jumlah
SPPT
-8,92%
-5,82%
45,74%
72,79%
33,57%
57,58%
100,00%
17,25%

Kenaikan
Ketetapan
-10,20%
-3,60%
51,01%
68,77%
47,94%
16,34%
113,55%
40,59%

Kelurahan Seminyak
Kelompok Ketetapan PBB
0 s.d 100000
>100.000 s.d 500.000
>500.000 s.d 2.000.000
>2.000.000 s.d 5.000.000
>5.000.000 s.d 20.000.000
>20.000.000 s.d 500.000.000
>500.000.000
Jumlah

SPPT 2011 SPPT 2012


121
1.064
717
521
258
39
2.720

82
1.032
671
554
345
51
2.735

Ketetapan PBB
2011
8.600.994
301.824.490
518.084.718
1.587.660.442
2.133.620.291
3.173.277.606
7.723.068.541

Ketetapan PBB
2012
5.431.423
289.663.645
494.109.553
1.699.266.188
3.375.891.970
3.927.168.462
9.791.531.241

Kenaikan
Jumlah
SPPT
-32,23%
-3,01%
-6,42%
6,33%
33,72%
30,77%
0,55%

Kenaikan
Ketetapan
-36,85%
-4,03%
-4,63%
7,03%
58,22%
23,76%
26,78%

Kecamatan Kuta
Kelompok Ketetapan PBB
0 s.d 100000
>100.000 s.d 500.000
>500.000 s.d 2.000.000
>2.000.000 s.d 5.000.000
>5.000.000 s.d 20.000.000
>20.000.000 s.d 500.000.000
>500.000.000
Jumlah

SPPT 2011 SPPT 2012


2.347
7.100
3.121
1.835
1.057
199
8
15.667

2.473
6.338
3.228
2.278
1.370
332
10
16.029

Ketetapan PBB
2011
123.166.457
1.850.269.349
2.244.576.667
5.594.071.509
9.267.891.138
14.366.413.420
12.262.606.590
45.708.995.130

Ketetapan PBB
2012
112.344.456
1.658.400.916
2.371.393.228
6.812.340.682
13.651.398.748
21.332.034.940
15.122.016.224
61.059.929.194

Kenaikan
Jumlah
SPPT
5,37%
-10,73%
3,43%
24,14%
29,61%
66,83%
25,00%
2,31%

Kenaikan
Ketetapan
-8,79%
-10,37%
5,65%
21,78%
47,30%
48,49%
23,32%
33,58%

Lampiran II
Perhitungan Assessment Sales Ratio

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35

NJOP/m2
5095000
5095000
10445000
10445000
10445000
3745000
3745000
3745000
3745000
3745000
4155000
4155000
4155000
5095000
3745000
2013000
4155000
5095000
2013000
5095000
5095000
5095000
5095000
5095000
5095000
5095000
5095000
5095000
3745000
5095000
5095000
3745000
5095000
5095000
4155000

Nilai
Pasar/m2
8910560
8910569
24107143
39800000
25156250
8750000
5639098
5015625
6168269
6273256
11222222
6397590
14549296
8939024
4804688
6640000
15578947
8325975
4512000
10000000
10533333
11200000
12000000
7200000
7200000
8000000
6800000
6400000
7600000
6800000
8000000
8000000
8000000
8000000
12442688

ASR
57,18%
57,18%
43,33%
26,24%
41,52%
42,80%
66,41%
74,67%
60,71%
59,70%
37,02%
64,95%
28,56%
57,00%
77,94%
30,32%
26,67%
61,19%
44,61%
50,95%
48,37%
45,49%
42,46%
70,76%
70,76%
63,69%
74,93%
79,61%
49,28%
74,93%
63,69%
46,81%
63,69%
63,69%
33,39%

|Ai/SiA/Smd|
9,59%
9,59%
4,26%
21,35%
6,07%
4,79%
18,82%
27,08%
13,12%
12,11%
10,57%
17,35%
19,03%
9,41%
30,35%
17,28%
20,92%
13,60%
2,98%
3,36%
0,78%
2,10%
5,13%
23,17%
23,17%
16,10%
27,34%
32,02%
1,68%
27,34%
16,10%
0,78%
16,10%
16,10%
14,20%

(Ai/SiA/Smn)2
8,46%
0,72%
0,29%
5,05%
0,52%
0,35%
3,13%
6,73%
1,44%
1,21%
1,37%
2,63%
4,06%
0,69%
8,54%
3,39%
4,86%
1,56%
0,17%
0,05%
0,00%
0,10%
0,39%
4,86%
4,86%
2,24%
6,87%
9,54%
0,00%
6,87%
2,24%
0,04%
2,24%
2,24%
2,35%

36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
Jumlah

2013000
2013000
2013000
2013000
2013000
4155000
2013000
3745000
2013000
3745000
3100000
3100000
3100000
207747000

mean
median
weighted mean
mean/median
PRD
COD
COV
MAD
COC

5600000
5745614
5745614
6678082
6200000
8495575
7916667
11394779
4005333
12400000
8000000
8000000
8000000
456058197
48,72%
47,59%
45,55%
102,37%
106,95%
28,96%
4,90%
28,08%
18,75%

35,95%
35,04%
35,04%
30,14%
32,47%
48,91%
25,43%
32,87%
50,26%
30,20%
38,75%
38,75%
38,75%
2373,04%

11,64%
12,56%
12,56%
17,45%
15,12%
1,32%
22,16%
14,73%
2,67%
17,39%
8,84%
8,84%
8,84%
647,83%

1,63%
1,87%
1,87%
3,45%
2,64%
0,00%
5,43%
2,51%
0,02%
3,43%
0,99%
0,99%
0,99%
112,20%

Lampiran III
Perhitungan Rasio Kepatuhan Pelunasan 2008-2012
per kelurahan di Kecamatan Kuta
Kelurahan Tuban
Tahun
SPPT yang diterbitkan
SPPT yang telah dilunasi
Ratio Kepatuhan pelunasan

2008
2009
2010
2011
2012
2338
2568
2632
2656
2584
1372
1434
1375
690
297
58,68% 55,84% 52,24% 25,98% 11,49%

Kelurahan Kedonganan
Tahun
SPPT yang diterbitkan
SPPT yang telah dilunasi
Ratio Kepatuhan pelunasan

2008
2009
2010
2011
1317
1335
1344
1370
849
791
736
294
64,46% 59,25% 54,76% 21,46%

2012
1404
11
0,78%

Kelurahan Kuta
Tahun
SPPT yang diterbitkan
SPPT yang telah dilunasi
Ratio Kepatuhan pelunasan

2008
2009
2010
2011
6296
6530
6632
6657
4332
4353
4270
1480
68,81% 66,66% 64,38% 22,23%

2012
6669
130
1,95%

Kelurahan Legian
Tahun
SPPT yang diterbitkan
SPPT yang telah dilunasi
Ratio Kepatuhan pelunasan

2008
2009
2010
2011
2080
2116
2134
2267
1412
1456
1445
379
67,88% 68,81% 67,71% 16,72%

2012
2658
55
2,07%

Kelurahan Seminyak
Tahun
SPPT yang diterbitkan
SPPT yang telah dilunasi
Ratio Kepatuhan pelunasan

2008
2009
2010
2011
2495
2669
2701
2723
1738
1812
1836
657
69,66% 67,89% 67,97% 24,13%

2012
2740
36
1,31%

Lampiran IV
Peta Wilayah Kerja KPP Pratama Badung Selatan

Kecamatan Kuta

Kecamatan Kuta Selatan

Kelurahan Seminyak

Kelurahan Legian

Kelurahan Kuta

Kelurahan Tuban

Kelurahan Kedonganan

Daftar Riwayat Hidup

Nama Lengkap

: I Wayan Mardana

Nama Panggilan

: Mardana

Tempat/Tanggal Lahir

: Denpasar, 31 Mei 1991

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Hindu

Alamat

: Jl. Kendedes No 1 Denpasar

Motto Hidup

: Kesalahan yang sesungguhnya adalah ketika kita salah


dan tidak mau memperbaikinya

Nama Ayah

: I Made Pantriyasa

Nama Ibu

: Ni Wayan Gerni

Email

: marshavellar@gmail.com

Riwayat Pendidikan

1) 1996-1997

TK Widya Santhi 1 Ubung

2) 1997-2003

Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Ubung

3) 2003-2006

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Denpasar

4) 2006-2009

Sekolah Menengah Pertama (SMA) Negeri 4 Denpasar

5) 2009-2012

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta Spesialisasi


Penilai/PBB