You are on page 1of 11

Kuliah Wajib Ilmu Dasar

FARMAKOLOGI KLINIS ANTIBIOTIK MATA

Oleh: dr. Bonita Asyigah


Departemen: Ilmu Kesehatan Mata

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA


RSUP DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
TAHUN 2015

Antibiotik Pada Mata

1. TETRASIKLIN
1.1 Farmakodinamik
Golongan tetrasiklin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein
bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya
antibiotik ke dalam ribososm bakteri. Pertama secara difusi pasif melalui kanal
hidrofilik, kedua melalui sistem transpor aktif. Setelah masuk antibiotik berikatan
secara reversibel dengan ribosom 30S dan mencegah ikatan tRNA-aminoasil pada
kompleks mRNA-ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan rantai peptida
yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein. Tetrasiklin
termasuk antibiotika broad spektrum. Spektrum golongan tetrasiklin umumnya
sama, sebab mekanisme kerjanya sama, namun terdapat perbedaan kuantitatif dari
aktivitas masing-masing derivat terhadap kuman tertentu. Derivat dari tetrasiklin
yaitu: demeklosiklin, klortetrasiklin, doksisiklin, methasiklin, oksitetrasiklin, dan
minosiklin.
Mekanisme resistensi yang terpenting adalah diproduksinya pompa
protein yang akan mengeluarkan obat dari dalam sel bakteri. Protein ini dikode
dalam plasmid dan dipindahkan dari satu bakteri ke bakteri lain melalui proses
transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu jenis tetrasiklin biasanya
disertai resistensi terhadap semua jenis tetrasiklin lainnya.
1.2 Farmakokinetik
Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Absorpsi sebagian
besar berlangsung di lambung dan usus halus. Adanya makanan dalam lambung
menghambat penyerapan, kecuali minosiklin dan doksisiklin. Absorpsi dihambat
dalam derajat tertentu oleh pH tinggi dan pembentukan kelat yaitu kompleks
tetrasiklin dengan suatu zat lain yang sukar diserap seperti aluminium hidroksid,
2

garam kalsium dan magnesium yang biasanya terdapat dalam antasida, dan juga
ferum.
Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam
jumlah yang bervariasi. Dalam cairan cerebrospinal (CSS) kadar golongan
tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak
tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan
tubuh cukup baik. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat dalam
ASI dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya,
doksisiklin dan minosiklin daya penetrasinya ke jaringan lebih baik.
Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati, sehingga
kurang aman pada pasien gagal ginjal.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerolus
dan melalui empedu. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam
empedu mencapai kadar 10 kali kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang
diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik, maka obat
ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila
terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan
mengalami akumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui
tinja.
1.3 Penggunaan Klinik
Indikasi
Penggunaan topikal hanya dibatasi untuk infeksi mata dan kulit saja. Salep mata
golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata
oleh bakteri gram-positif dan gram negatif yang sensitif. Selain itu juga untuk
profilaksis

oftalmia

neonatorum

gonorrhoe atau Chlamydia trachomatis.

pada

neonatus

akibat Neisseria

Penyakit konjungtivitis inklusi dapat diobati dengan hasil baik selama 2-3
minggu, dengan memberikan salep mata atau obat tetes mata yang mengandung
golongan tetrasiklin. Pada trakoma pemberian salep mata golongan tetrasiklin
yang dikombinasi dengan doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari
memberikan hasil pengobatan yang baik.
Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap golongan antibiotik tetrasiklin.
Interaksi Obat
Bila tetrasiklin diberikan dengan metoksifluoran maka dapat menyebabkan
nefrotoksisk.

Bila

dikombinasikan

dengan

penisilin

maka

aktivitas

antimikrobanya dihambat.
Efek samping
Sensasi terbakar pada mata.
Sediaan
Suspensi 10mg/cc dan salep mata tetrasiklin hidroklorida 1% 10mg/g.
Dosis
Lapisan tipis salep mata tiap 2-4 jam atau 1 tetes suspensi tiap 6-12 jam (dapat
digunakan lebih sering); dosis tunggal digunakan untuk pencegahan oftalmia
neonatorum.
2. KLORAMFENIKOL
2.1. Farmakodinamik
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik yang memiliki mekanisme
kerja menghambat sisntesis protein bakteri pada tingkat ribosom. Obat ini terikat
pada

ribosom

subunit

50S.

Kloramfenikol

menyekatkan

ikatan

persenyawaan aminoacyl dari molekul tRNA yang bermuatan ke situs aseptor


kompleks mRNA ribosom. Kegagalan aminoacyl untuk menyatu dengan baik
pada situs aseptor menghambat reaksi transpeptidase yang dikatalisasi
olehpeptidyl transferase. Peptida yang ada pada situs donor pada kompleks

ribosom tidak ditransfer ke asam amino aseptornya, sehingga sintesis protein


terhenti.
Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi
kloramfenikol kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu.
Kloramfenikol emiliki spektrum luas. Spektrum antibakteri kloramfenikol
meliputi Salmonella spp, Clamydia, Haemophillus, D. pneumoniae, S. pyogens,
S. viridans, Neisseria, Bacillus spp, C. diphtheriae, Mycoplasma, Rickettsia,
Treponema dan kebanyakan kuman anaerob.
2.2.

Farmakokinetik
Setelah

pemberian

kloramfenikol

melalui

mata,

absorpsi

obat

melaluikornea dan konjunctiva, selanjutnya menuju humor aquos. Absorpsi terjadi


lebih cepat bila kornea mengalami infeksi atau trauma. Absorpsi sistemik dapat
terjadi melalui saluran nasolakrimal. Jalur ekskresi kloramfenikol utamanya
melalui urin. Obat ini mengalami inaktivasi di hati. Proses absorpsi, metabolisme
dan ekskresi dari obat untuk setiap pasien, sangat bervariasi, khususnya pada anak
dan bayi. Resorpsinya dari usus cepat. Difusi kedalam jaringan, rongga, dan
cairan tubuh baik sekali, kecuali ke dalam empedu. Plasma-t1/2-nya rata-rata 3
jam. Didalam hati, zat ini dirombak 90% menjadi glukoronida inaktif. Bayi yang
baru dilahirkan belum memiliki enzim perombakan secukupnya maka mudah
mengalami keracunan dengan akibat fatal. Ekskresinya melalui ginjal, terutama
sebagai metabolit inaktif dan lebih kurang 10% secara utuh.
2.3. Penggunaan Klinik
Indikasi
Untuk terapi infeksi superficial pada mata yang disebabkan oleh bakteri,
blepharitis, post operasi katarak, konjungtivitis bernanah, traumatik keratitis,
trakoma dan ulceratif keratitis.
Kontraindikasi
Pada pasien yang hipersensitif terhadap kloramfenikol. Pasien neonatus.
Interaksi Obat
5

Dapat menghambat respon terhadap terapi vitamin B12 atau asam folat.
Efek Samping
Rasa pedih dan terbakar mungkin terjadi saat aplikasi kloramfenikol pada
mata. Reaksi hipersensitivitas dan inflamasi termasuk mata merah, dan edema.
Neuritis optikus, penglihatan kabur selama beberapa menit setelah penggunaan.
Pada terapi jangka panjang ditemukan kasus anemia aplastik.
Sediaan
Tetes mata kloramfenikol 1 %; botol 5 mL.
Salep mata kloramfenikol 1 % (10mg/g); tube 5 g.
Dosis
Tetes mata 1-2 tetes atau sedikit salep mata setiap 3-6 jam.
3. GENTAMICIN
3.1. Farmakodinamik
Aktivitas antibakteri terutama tertuju pada basil gram Negatif yang aerobik.
Aktivitas terhadap mikroorganisme anaerobik atau bakteri fakultatif dalam kondisi
anaerobik rendah sekali. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan kenyataan bahwa
transpor gentamisin (golongan aminoglikosida) membutuhkan oksigen (trasnpor
aktif). Aktivitas terhadap bakteri Gram-positif sangat terbatas. Gentamisin aktif
terhadap enterokokus dan streptokokus lain tetapi efektivitas klinis hanya dicapai bila
digabung dengan penisilin. Walaupun in vitro 95% galur S. aureus sensitif terhadap
gentamisin tetapi manfaat klinik belum terbukti sehingga sebaiknya obat ini jangan
digunakan tersendiri untuk indikasi tersebut. Galur resisten gentamisin cepat timbul
selama pajanan tersebut.
Mekanisme kerja aminoglikosida berdifusi lewat kanal air yang dibentuk oleh
porin protein pada membran luar dari bakteri gram negatif masuk ke ruang
periplasmik. Sedangkan transpor melalui membran dalam sitoplasma membutuhkan
energi. Fase transpor yang tergantung energi ini bersifat rate limitting, dapat di blok
oleh Ca2+ dan Mg2+, hiperosmolaritas, penurunan pH dan anaerobik suatu abses
yang bersifat hiperosmolar. Setelah masuk sel, aminoglikosid terikat pada ribosom
6

30S dan menghambat sintesis protein. Terikatnya aminoglikosid pada ribosom ini
mempercepat transpor aminoglikosid ke dalam sel, diikuti dengan kerusakan
membran sitoplasma, dan disusul kematian sel. Yang diduga terjadi adalah miss
reading kode

genetik

yang

mengakibatkan

terganggunya

sintesis

protein.

Aminoglikosida bersifat bakterisidal cepat. Pengaruh aminoglikosida menghambat


sintesis protein dan menyebabkan miss reading dalam penerjemahan mRNA, tidak
menjelaskan efek letalnya yang cepat.
3.2. Farmakokinetik
Gentamisin sebagai polikation bersifat sangat polar, sehingga sangat sukar
diabsorpsi melalui saluran cerna. Gentamisin dalam bentuk garam sulfat yang
diberikan IM baik sekali absorpsinya. Kadar puncak dicapai dalam waktu sampai 2
jam. Sifat polarnya menyebabkan aminoglikosid sukar masuk sel. Kadar dalam sekret
dan jaringan rendah, kadar tinggi dalam korteks ginjal, endolimf dan perilimf telinga,
menerangkan toksisitasnya terhadap alat tersebut.
Ekskresi gentamisin berlangsung melalui ginjal terutama dengan filtrasi
glomerulus. Gentamisin diberikan dalam dosis tunggal menunjukkan jumlah ekskresi
renal yang kurang dari dosis yang diberikan. Karena ekskresi hampir seluruhnya
berlangsung melalui ginjal, maka keadaan ini menunjukkan adanya sekuestrasi ke
dalam jaringan. Walaupun demikian kadar dalam urin mencapai 50-200 g/mL,
sebagian besar ekskresi terjadi dalam 12 jam setelah obat diberikan.
Gangguan fungsi ginjal akan menghambat ekskresi gentamisin, menyebabkan
terjadinya akumulasi dan kadar dalam darah lebih cepat mencapai kadar toksik.
Keadaan ini tidak saja menimbulkan masalah pada penyakit ginjal, tetapi perlu
diperhatikan pula pada bayi terutama yang baru lahir atau prematur, pada pasien yang
usia lanjut dan pada berbagai keadaan, yang disertai dengan kurang sempurnanya
fungsi ginjal. Pada gangguan faal ginjal t gentamisin cepat meningkat. Karena
kekerapannya terjadi nefrotoksisitas dan ototoksitas akibat akumulasi gentamisin,
maka perlu penyesuaian dosis pada pasien gangguan ginjal.
3.3. Penggunaan Klinik
7

Indikasi
Konjungtivitis, Blefaritis, Keratitis, Keratokonjungtivitis, Dakriosistitis, Ulkus
Kornea, Meibomianitis akut, Episkleritis akut, Blefarokonjunctivitis.
10 mg dapat disuntikan secara subkonjungtiva untuk infeksi mata yang berat.
Kontra Indikasi
Alergi terhadap Gentamisina serta penderita yang hipersensitif terhadap salah
satu antibiotik golongan aminoglikosid.
Efek Samping
Hipersensitivitas dan alergi dapat terjadi meskipun jarang, iritasi.
Interaksi Obat
Gentamisin mengalami inaktivasi jika dicampur dengan karbenisilin.
Sediaan
Salep mata 0,3 % (3 mg/g) ; tube 3,5 g.
Tetes mata 0,1 %; botol 5 mL.
Tetes mata 0,3 % (3 mg/cc); botol 5 mL.
Larutan steril dalam vial atau ampul 60 mg/1.5 mL; 80 mg/2mL; 120 mg/3 mL; 280
mg / 2mL.
Dosis
Salep 2-3x/hari.
Tetes mata 1-2 tetes setiap 2-4 jam, dinaikkan 2 tetes setiap jam untuk infeksi
berat.
4. TOBRAMICIN
4.1.Farmakodinamik
Tobramisin tidak jauh berbeda sifatnya dengan gentamisin, termasuk
spektrum antimikrobanya. Karena itu, tobramisin digunakan sebagai pengganti
gentamisin. Aktivitas tobramisin yang superior terhadap P. aeruginosadibanding
gentamisin menyebabkan obat ini terpilih untuk mengatasi infeksi oleh kuman
tersebut. Obat ini tidak memperlihatkan sinergisme dengan penisilin terhadap
enterokok dan inaktif terhadap mycobacterium. Dibandingkan terhadap gentamisin,
8

terdapat petunjuk bahwa tobramisin bersifat kurang nefrotoksik, tetapi hal ini belum
terbukti secara klinis.
4.2.Farmakokinetik
Absorbsi
Diabsorpsi dengan baik setelah pemberian IM. Absorpsi minimal setelah
pemberian topikal.
Distribusi
Didistribusikan secara luas ke cairan ekstrasel setelah pemberian IM atau IV.
Menembus plasenta. Penetrasi buruk ke CSS.
Metabolisme dan Ekskresi
Ekskresi terutama melalui ginjal (>90%). Penyesuaian dosis diperlukan untuk
setiap penurunan fungsi ginjal. Dimetabolisme oleh hati dalam jumlah minimal.
4.3.Penggunaan Klinik
Indikasi
Pengobatan infeksi mata superficial, seperti konjungtivitis, Blefaritis,
Keratitis, Keratokonjungtivitis, Dakriosistitis, Ulkus Kornea, Meibomianitis akut,
Episkleritis akut, Blefarokonjunctivitis.
IM, IV : Pengobatan infeksi basiler gram negatif dan infeksi akibat
stafilokokus bila penisilin atau obat yang kurang toksik lainnya dikontraindikasikan
atau telah terjadi resistensi terhadap gentamisin.
Kontra Indikasi
Alergi terhadap Tobramisin serta penderita yang hipersensitif terhadap salah
satu antibiotik golongan aminoglikosid.
Efek Samping
Hipersensitivitas dan alergi dapat terjadi meskipun jarang, rasa terbakar atau
tersengat pada mata. Ginjal : Nefrotoksik.
Interaksi Obat
Diinaktivasi oleh penisilin bila diberikan bersamaan.
Sediaan
9

Tetes mata 3mg/cc; Salep 3mg/g.


Obat ini tersedia sebagai larutan 80mg/2ml untuk suntikan IM.
Untuk infus tobramisin dilarutkan dalam dekstrose 5% atau larutan NaCl
isotonis dan diberikan dalam 30-60 menit. Jangan diberikan lebih dari 10 hari.
Dosis
Semua dosis setelah dosis pembebanan awal harus ditentukan berdasar fungsi
ginjal/kadar dalam darah.
Dewasa dan anak-anak: 1 cm lapisan salep 2-3 kali sehari (tiap 3-4 jam untuk
infeksi berat) atau 1-2 tetes larutan tiap 4 jam (tiap 30-60 menit untuk infeksi berat).
IM, IV (Dewasa) : 0,75-1,25 mg/kg tiap 6 jam atau 1-1,7 mg/kg tiap 8 jam
(sampai 8 mg/kg/hari dalam dosis terbagi)
IM, IV (Bayi yang sudah besar dan anak-anak) : 1,5-1,9 mg/kg tiap 6 jam atau
2-2,5 mg/kg tiap 8-16 jam.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Deglin, J.H., dan Vallerand, A. H. 2005. Daviss Drug Guide For Nurses, Fourth
Edition. Philadelphia: F.A.Davis.
2. Duvall, B., dan Kershner R. 2006. Ophtalmic Medications And Pharmacology,
Second Edition. New Jersey: Slack Incorporated.
3. Katzung, Bertram G. 1997. Farmakologi dasar dan klinik. Ed.6. Jakarta: EGC.
4. Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2008. Obat-obat Penting, Edisi Keenam. Jakarta: Elex
Media Computindo.

11