You are on page 1of 31

BAGIAN ILMU RADIOLOGI

REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

SEPTEMBER 2015

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

PERDARAHAN INTRAKRANIAL

Oleh :
NIKMATUL HUSNA PAKAYA
10542 0306 11
Pembimbing :
dr. IRIANI BAHAR, M.Kes, Sp.Rad

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya serta segala kemudahan yang diberikan dalam setiap kesulitan
hamba-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan referat ini dengan judul Kolitis
Tuberkulosa. Tugas ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Radiologi.
Berbagai hambatan dialami dalam penyusunan tugas ini. Namun, berkat
bantuan, saran,kritik dan motivasi dari pembimbing serta teman-teman sehingga
tugas ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis sampaikan dengan hormat dan terima kasih kepada dr selaku
pembimbing telah banyak meluangkan waktu dengan tekun dan sabar dalam
membimbing, memberikan arahan dan koreksi selama proses penyusunan tugas
ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari apa yang diharapkan
oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis akan senang menerima kritik dan
saran demi perbaikan dan kesempurnaan tugas ini.
Semoga referat ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis secara
khusus.
Makassar, September 2015

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama

: Nikmatul Husna Pakaya

STB

: 10542 0306 11

Judul Referat : Perdarahan Intrakranial


Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, September 2015


Pembimbing

dr. Iriani Bahar, M.Kes, Sp.Rad

DAFTAR ISI

Halaman Sampul

Lembar Pengesahan

ii

Kata Pengantar

iii

Daftar Isi

iv

A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

1
2
3
4
4
4
5
5
9
15

PENDAHULUAN
ANATOMI DAN FISIOLOGI
DEFINISI
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI
PATOGENESIS
KLASIFIKASI
1. Perdaran Epidural
2. Perdarahan Subdural
3. Perdarahan Subarachnoid
4. Perdarahan Intraventrikuler

20
5. Perdarahan Intraserebri
H. KESIMPULAN
I. KAJIAN ISLAM
DAFTAR PUSTAKA

22
24
25
26

PERDARAHAN INTRAKRANIAL
(Nikmatul Husna Pakaya, Iriani Bahar)
A. PENDAHULUAN
Perdarahan intraserebral (ICH) terjadi ketika darah tiba-tiba menerobos ke
jaringan otak, menyebabkan kerusakan pada otak, yang dapat menimbulkan gejala
mirip dengan stroke. Perdarahan intraserebral Lobar terjadi pada lobus serebral
luar ganglia basal. Ganglia basal adalah struktur yang terletak di otak (bagian
terbesar dari otak) yang membantu dalam kontrol motor, gerakan mata, dan fungsi
kognitif.1
Gejala stroke-seperti biasanya muncul tiba-tiba selama ICH, menyebabkan gejalagejala yang seperti sakit kepala, kelemahan, kebingungan, dan kelumpuhan,
terutama pada satu sisi tubuh. Penumpukan darah menempatkan tekanan pada
otak dan mengganggu pasokan oksigen. Hal ini dapat dengan cepat menyebabkan
kerusakan otak dan saraf. 1
Ini adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera. ICH tidak
biasa seperti stroke iskemik (bila pembuluh darah tersumbat oleh bekuan), tetapi
lebih serius. 1
Pengobatan umumnya melibatkan operasi untuk memperbaiki pembuluh darah
yang rusak. Tergantung pada lokasi perdarahan dan jumlah kerusakan, pengobatan
jangka panjang dapat mencakup fisik, ucapan, dan terapi okupasi. Kebanyakan
orang memiliki beberapa tingkat cacat tetap.1
Perdarahan intracranial merupakan kasus gawat darurat dalam neuroimaging. CT
scan dan MRI wajib dilakukan untuk mengetahui munculnya perdarahan pada
kasus perdarahan inrakranial. perdarahan intracranial biasanya muncul sebagai
hyperdens pada CT-scan karena konsentrasi protein dan kepadatan massa yang
tinggi. namun kadang-kadang muncul sebagai lesi isodens maupun hipodens.
Perdarahan intracranial pada MRI sangat kompleks oleh karena itu, membutuhkan
pengetahuan tentang patofisiologi degradasi darah.

B. ANATOMI dan FISIOLOGI


Cerebrum dan medulla spinalis diliputi oleh tiga membran, atau meningen:
duramater, arachnoideamater, dan piamater.2
Duramater encephali secara konvesional duramater terdiri dari dua lapisan;
lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Kedua lapisan ini berhubungan erat,
kecuali sepanjang tempat-tempat tertentu dimana mereka terpisah dan
membentuk sinus venosus. Lapisan meningeal adalah duramater yang
sebenarnya. Merupakan membrane fibrosa padat dan kuat yang membungkus
otak dan melanjutkan diri setelah melalui foramen magnum sebagai duramater
medulla spinalis. Duramater meliputi Falx cerebri, Tentorium cerebelli, dan Falx
cerebelli. Banyak arteri yang mendarahi duramater, yaitu arteri carotis interna,
arteri maxillaries, arteri pharyngea ascendens, arteri occipitalis, dan arteri
vertebralis. Dari sudut klinis yang terpenting adalah arteri meningea media, yang
sering rusak pada cedera kepala. Vena-vena meningea terletak di dalam lapisan
endosteal duramater. Vena meningea media mengikuti cabang-cabang arteria
meningea media dan bermuara ke dalam plexus venosus pterygoideus atau sinus
sphenoparietalis. Vena-vena terletak lateral terhadap arterinya.2
Arachnoideamater adalah suatu membrane lembut yang tidak permeable yang
meliputi otak dan terletak diantara piamater disebelah dalam dan duramater
disebelah luar. Membrane ini dipisahkan dari durmater oleh ruang potensial,
disebut spatium subdurale, dan dari piamater oleh spatium subarachnoideum
yang terisi oleh cairan cerebrospinalis.2

Gambar 1: penampang koronal bagian atas kepala memperlihatkan lapisan kulit


kepala, lapisan meningea.2
Piamater adalah membran vascular yang dengan erat membungkus otak,
membungkus gyrus-gyrus dan masuk ke dalam sulcus-sulcus yang terdalam.2
Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis. Keempat
arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior dan membentuk circulus
willisi. Arteri carotis interna muncul dari sinus cavernosus pada sisi medial
processus clinoideus anterior. Kemudian arteri ini membelok ke belakang menuju
ke sulcus cerebri lateralis. Disini, arteri ini bercabang menjadi arteri cerebri
anterior dan arteri cerebri media.2
Arteri vertebralis, cabang dari arteri pertama A.Subclavia. Pada pinggir bawah
pons, arteri ini bergabung dengan arteri dari sisi lainnya membentuk arteri
basilaris.2
C. DEFINISI
Perdarahan intrakranial adalah istilah kolektif yang mencakup berbagai kondisi
yang berbeda ditandai dengan akumulasi ekstravaskuler darah dalam ruang
intrakranial yang berbeda.3
perdarahan intrakranial adalah keadaan kegawat daruratan medis yang ditandai
dengan kerusakan neurologis awal ataupun kematian. muntah, perubahan tingkat

kesadaran, dan peningkatan tekanan darah pada pasien stroke akut, dicurigai
perdarahan intracranial.4
D. EPIDEMIOLOGI
Negara-negara di Asia memiliki insiden yang tinggi terhadap kejadian
perdarahan intracerebral dari daerah atau negara lain yang ada di dunia.5
E. ETIOLOGI
Hipertensi : peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan arteri kecil

pecah di dalam otak.


Obat-obatan anti koagulan sperti coumadin, warfarin, dan heparin yang

digunakan untuk pengobatan stroke dan penyakitr jantung.


Arteri vena malformasi (avm)
Trauma kepala
Gangguan perdarahan
Tumor
Amyloid angiopati.
Perdarahan secara spontan6
F. PATOGENESIS
Nontraumatic perdarahan intraserebral paling sering hasil dari kerusakan
hipertensi ke dinding pembuluh darah (misalnya, hipertensi, eklampsia,
penyalahgunaan narkoba), tetapi juga mungkin karena autoregulatory disfungsi
dengan aliran darah otak yang berlebihan (misalnya, cedera reperfusi,
transformasi hemoragik, paparan dingin), pecahnya aneurysm atau arteriovenous
malformation (AVM), arteriopati (misalnya, amiloid serebral angiopathy,
Moyamoya), diubah hemostasis (misalnya, trombolisis, antikoagulan, perdarahan
diatesis), hemoragik nekrosis (misalnya, tumor, infeksi), atau vena obstruksi
outflow (misalnya, trombosis vena cerebral).5
Nonpenetrating dan trauma tembus kranial juga penyebab umum dari perdarahan.
Pasien yang mengalami trauma kepala tumpul dan kemudian menerima warfarin
atau clopidogrel dianggap berisiko untuk mengalami perdarahan intrakranial
traumatik. Menurut sebuah penelitian, pasien yang menerima clopidogrel
memiliki prevalensi lebih tinggi secara signifikan langsung perdarahan
intrakranial traumatik dibandingkan dengan pasien yang menerima warfarin.
Tertunda perdarahan intrakranial traumatik jarang dan hanya terjadi pada pasien
yang menerima warfarin.5

Hipertensi kronis menghasilkan vaskulopati pembuluh darah kecil yang ditandai


dengan lipohyalinosis, nekrosis fibrinoid, dan pengembangan Charcot-Bouchard
aneurisma, mempengaruhi penetrasi arteri seluruh otak meliputi lenticulostriates,
thalamoperforators, cabang paramedian dari arteri basilar, arteri cerebellar
superior, dan anterior arteri cerebellar inferior.5
G. KLASIFIKASI
Terdapat empat tipe perdarahan intrakranial yakni; perdarahan epidural,
perdarahan subdural, perdarahan subarachnoid, perdarahan intraserebral dan
perdarahan periventrikular-intraventrikular (PVH-IVH).
1. Perdarahan Epidural
a.

Definisi
Perdarahan ekstradural (EDH), juga dikenal sebagai hematoma epidural,
adalah kumpulan darah yang terbentuk antara permukaan dalam tengkorak
dan lapisan luar duramater. Umumnya terkait dengan riwayat trauma dan
terkait patah tulang tengkorak. Sumber perdarahan biasanya arteri
meningeal robek (paling sering, arteri meningeal media). EDH biasanya
bikonveks dalam bentuk dan dapat menyebabkan efek massa dengan
herniasi.7

b. Epidemiologi
Biasanya perdarahan epidural terlihat pada pasien muda yang telah
menderita trauma kepala, biasanya dengan patah tulang tengkorak
terkait.7
c. Etiologi
Trauma adalah penyebab khas perdarahan epidural. Trauma tumpul
memberikan dampak ke kepala dari serangan, jatuh, atau kecelakaan
lainnya. Distosia, persalinan forceps, dan molding tengkorak yang
berlebihan melalui jalan lahir telah terlibat dalam perdarahan epidural
pada bayi baru lahir.8
d. Patofisiologi
Perdarahan epidural terutama disebabkan oleh gangguan struktural dari
dural dan pembuluh darah pada cranial umumnya terkait dengan patah

tulang calvarial. Laserasi arteri meningeal media dan menyertai sinus


dural adalah etiologi yang paling umum. Sejumlah kecil epidural
hematoma telah dilaporkan dengan tidak adanya trauma. Etiologinya
termasuk infeksi pada tulang tengkorak, malformasi pembuluh darah dari
duramater, dan metastasis ke tengkorak. perdarahan epidural spontan juga
dapat berkembang pada pasien dengan koagulopati berhubungan dengan
masalah medis lain (penyakit hati misalnya, stadium akhir, alkoholisme
kronis, penyakit lainnya yang berhubungan dengan disfungsi trombosit).8
e. Gambaran klinis
Tidak seperti perdarahan subdural, perdarahan epidural biasanya dipicu
oleh trauma kepala yang jelas. sebuah tanda khas dari pasien muda
adalaha adanya cedera kepala (baik selama olahraga, atau akibat dari
kecelakaan kendaraan bermotor) yang mungkin tidak kehilangan
kesadaran secara sementara. setelah cedera kembali ke tingkat kesadaran
yang normal (lucid interval), tetapi biasanya mengalami sakit kepala yang
parah. secara bertahap setelah beberapa jam berikutnya mereka akan
kehilangan kesadaran. Perdarahan epidural terus berkembang sampai
menimbulkan peningkatan tekanan intracranial dan mungkin herniasi.7,8
pupil pada sisi perdarahan pertama-tama sempit, tetapi kemudian menjadi
lebar dan tidak bereaksi terhadap penyinaran cahaya. inilah tanda bahwa
herniasi tentoral menjadi kenyataan. pada tahap kesadaran sebelum stupor
atau koma, bisa dijumpai hemiparese atau serangan fokal.9
f. Gambaran radiologi
CT-scan tanpa kontras
Pada hamper setiap kasus perdarahan epidural terlihat pada CT-scan
kepala. Memberikan gambaran hematoma berbentuk bikonveks atau
menyerupai lensa cembung sering terletak di area temporal atau
temporoparietal, gambaran lain yang dapat ditemukan yaitu
pergeseran garis tengah.

Gambar-2 : gambaran bikonveks.7


MRI
MRI dapat jelas menunjukkan pergeseran duramater yang muncul
sebagai garis hypointense pada T1 dan T2 urutan yang membantu
dalam membedakannya dari hematoma subdural. Akut EDH muncul
isointense pada T1 dan menunjukkan intensitas variabel dari hipo ke
hyperintense pada urutan T2 . EDH subakut awal muncul hypointense
pada T2 saat akhir subakut dan EDH kronis hyperintense pada kedua
T1 dan T2.

Gambar-3: MRI epidural hematoma - meninggalkan proton daerah


kepadatan - hypersignal di daerah temporal kanan T2W - dura
dipandang sebagai garis hyposignal.22
Angiografi

Hal ini dapat digunakan untuk mengevaluasi penyebab nontraumatic


dari EDH (yaitu AVM). Jarang angiography dapat menunjukkan
laserasi arteri meningeal media dan kontras ekstravasasi dari arteri
meningea dipasangkan ke vena meningea dikenal sebagai "trem track
sign".7
g. Diagnosis banding
Hematoma subdural
terjadi akibat pengumpulan darah diantara duramater dan arachnoid.
gambaran CT-Scan hematoma subdural, tampak penumpukan cairan
ekstraaksial yang hiperdense berbentuk bulan sabit.7,10
meningioma
mungkin hyperdense, dengan meningkatkan kontras dan biasanya
jauh dari fraktur (misalnya parafalcine).7
h. Pengobatan
2 pilihan pengobatan untuk pasien tersebut adalah (1) segera intervensi
bedah dan (2) awal, konservatif, pengamatan klinis dekat dengan
kemungkinan evakuasi tertunda. Perhatikan bahwa EDH cenderung untuk
memperluas volume lebih cepat dari hematoma subdural, dan pasien
memerlukan pengamatan sangat dekat jika rute konservatif diambil.8
i. Prognosis
Bahkan dengan hematoma yang relatif besar, secara umum cukup baik,
asalkan gumpalan tersebut dievakuasi segera. Sebuah hematoma kecil
tanpa efek massa atau tanda swirl dapat diobati secara konservatif,
kadang-kadang menyebabkan kalsifikasi dari duramater.8

2. Perdarahan Subdural
a. Definisi
Sebuah hematoma subdural (SDH) adalah kumpulan darah di bawah
lapisan dalam dari duramater tetapi eksternal untuk otak dan membran

arachnoid. Subdural hematoma adalah jenis yang paling umum dari


trauma lesi massa intrakranial.11
b. Etiologi
Penyebab hematoma subdural akut meliputi berikut ini:

Trauma kepala
Penggunaan obat-obatan anti koagulan
Perdarahan

intrakranial nontraumatic karena aneurisma otak,

malformasi arteri, atau tumor (meningioma atau metastasis dural.

Pascaoperasi (kraniotomi, CSF shunting)


Hipotensi intrakranial (misalnya, setelah pungsi lumbal, lumbal CSF
kebocoran, shunt lumboperitoneal, anestesi epidural spinal.

Pelecehan anak atau sindrom bayi terguncang (pada kelompok usia


anak)

Spontan atau tidak diketahui (jarang)


Penyebab hematoma subdural kronis meliputi berikut ini:
Trauma kepala (mungkin relatif ringan, misalnya, pada orang yang
lebih tua dengan atrofi serebral).
Hematoma subdural akut, dengan atau tanpa intervensi bedah
Spontan atau idiopatik
Faktor risiko hematoma subdural kronis meliputi berikut ini:
Alkoholisme kronis
Epilepsi
Koagulopati
Kista arachnoid
Terapi antikoagulan (termasuk aspirin)
Penyakit kardiovaskular (misalnya, hipertensi, arteriosclerosis)
Trombositopenia
Diabetes mellitus

Pada pasien yang lebih muda, alkoholisme, trombositopenia, gangguan


koagulasi, dan terapi antikoagulan oral yang telah ditemukan untuk
menjadi lebih umum. Kista arachnoid lebih sering dikaitkan dengan
hematoma subdural kronis pada pasien yang lebih muda dari 40 tahun.
Pada pasien yang lebih tua, penyakit jantung dan hipertensi arteri yang
ditemukan lebih umum. Dalam sebuah penelitian, 16% pasien dengan
hematoma subdural kronis berada di terapi aspirin. Dehidrasi utama
adalah kondisi kurang umum terkait dan ditemukan secara bersamaan
hanya 2% dari pasien.11
c. Patofisiologi
Perdarahan terjadi diantara duramater dan araknoidea. Perdarahan dapat
berasal dari ruptur dari bridging vein, rupture granulasio pacchioni,
perluasan perdarahan dari fossa piamater, dan juga bisa dari perdarahan
kontusio serebri.12
d. Gambaran klinis
sakit kepala
kebingungan
Perubahan perilaku
pusing
Mual dan muntah
lesu atau mengantuk berlebihan
kelemahan
apati
kejang11,13
e. Gambaran Radiologis
CT-Scan

Hiperakut
Dalam kebanyakan kasus pasien tidak dicitrakan dalam fase
hiperakut (jam pertama atau lebih), tetapi pada kesempatan ketika
hal ini dilakukan maka tampil relatif isodense ke korteks yang

10

berdekatan, dengan penampilan berputar-putar karena campuran


bekuan, serum dan darah tidak membeku dan berkelanjutan.
sering ada derajat pembengkakan otak yang mendasari (terutama
pada pasien muda di mana trauma kepala sering lebih parah) yang
menonjolkan efek massa yang diciptakan oleh koleksi.14

Akut
Penampilan klasik dari hematoma subdural akut adalah homogen
hyperdense ekstra-aksial berbentuk bulan sabit yang menyebar
difus.

Gambar-4: Perdarahan subdural akut14

Subakut
Kepadatan akan turun ke~30HU dan menjadi isodense ke korteks
yang berdekatan, membuat identifikasi berpotensi rumit. Kunci
untuk identifikasi memvisualisasikan sebuah jumlah tanda-tanda
tidak langsung , termasuk :
CSF diisi sulci tidak mencapai tengkorak melainkan memudar
keluar ke subdural yang efek massa termasuk penipisan sulcal
(distorsi) dan pergeseran garis tengah, penebalan jelas korteks.

11

gambar-5: Darah abu-abu merupakan subakut perdarahan ,


sedangkan darah putih mewakili akut.11

Kronis
Akhirnya, subdural menjadi hipodens dan dapat mencapai ~ 0hu
dan akan isodense untuk csf, dan hygromas subdural.

Gambar-6: Non - kontras aksial CT scan menunjukkan berbentuk


bulan sabit, kronis CSF - isodense meninggalkan hematoma
subdural (panah). Ada penipisan ringan ventrikel lateral kiri.23
MRI
Penampilan

hematoma

bervariasi

dengan

keadaan

biokimia

hemoglobin yang bervariasi dengan usia hematoma. Urutan standar


yang paling sensitif adalah FLAIR .

12

hiperakut
T1 : isointense ke materi abu-abu
T2 : iso ke hyperintense
FLAIR : hyperintense ke CSF

akut
T1 : iso ke hypointense menjadi abu-abu peduli
T2 : hypointense menjadi abu-abu peduli
FLAIR : hyperintense ke CSF

Gambar-7: perdarahan subdural akut pada MRI.14

subakut
Mungkin muncul bikonveks berbentuk pada bidang koronal bukan
berbentuk sabit yang merupakan penampilan khas di pesawat
aksial
T1 : biasanya hyperintense karena adanya methaemoglobin
T2 : Penampilan variabel biasanya hyperintense
FLAIR : hyperintense

13

gambar-8: Aksial T1 magnetic resonance imaging menunjukkan


bilateral hematoma subdural subakut dengan intensitas sinyal
meningkat. Area intensitas menengah merupakan perdarahan lebih
akut ke dalam koleksi subakut.11

kronis
T1 : jika hematoma stabil tampaknya isointense untuk CSF, dapat
muncul hyperintense untuk CSF jika ada rebleed atau infeksi .
T2 : jika hematoma stabil tampaknya isointense untuk CSF, jika
ada rebleed hematoma appeaers hypointense
FLAIR : hyperintense ke CSF

14

Gambar-9: Aksial FLAIR MR menunjukkan hematoma subdural


kronis dengan sinyal hyperintense ( panah).23
f. Pengobatan
Seperti halnya pasien trauma, resusitasi dimulai dengan ABC (jalan
napas, pernapasan, sirkulasi). Semua pasien dengan Glasgow Coma Scale
(GCS) skor kurang dari 8 harus diintubasi untuk perlindungan jalan
napas. Pada pasien yang tidak memiliki efek massa yang signifikan pada
studi pencitraan dan tidak ada gejala atau tanda-tanda neurologis kecuali
sakit kepala ringan, hematoma subdural kronis telah diamati dengan scan
serial dan telah terlihat tetap stabil atau untuk menyelesaikan. Meskipun
resolusi hematoma telah dilaporkan, itu tidak dapat dipercaya diprediksi,
dan tidak ada terapi medis yang telah terbukti efektif dalam mempercepat
resolusi hematoma subdural akut atau kronis. Bedah untuk muncul
dekompresi telah dianjurkan jika hematoma subdural akut dikaitkan
dengan pergeseran garis tengah lebih besar dari atau sama dengan 5 mm.
Operasi juga telah direkomendasikan untuk hematoma subdural akut
melebihi 1 cm dengan ketebalan. Indikasi ini telah dimasukkan ke dalam
Pedoman Pengelolaan Bedah Akut Subdural hematoma yang diusulkan
oleh perusahaan patungan antara Brain Trauma Foundation dan Kongres
Ahli Bedah Neurologi, dirilis pada tahun 2006.11
g. Prognosis
Meskipun hematoma subdural sering dianggap sebagai entitas yang relatif
jinak perlu dicatat bahwa angka kematian di hematoma subdural akut
yang membutuhkan pembedahan sebenarnya sangat tinggi (50-90%),
terutama pada pasien yang antikoagulan, dan hanya 20% pulih
sepenuhnya.
3. Perdarahan Subarachnoid
a. Definisi
Perdarahan subarachnoid ( SAH ) adalah salah satu jenis perdarahan
intrakranial ekstra-aksial dan menunjukkan adanya darah dalam ruang
subarachnoid.15,16

15

b. Etiologi
Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan antara mater arachnoid dan
pia. Secara umum, trauma kepala adalah penyebab paling umum, tetapi
traumatis perdarahan subarachnoid biasanya dianggap sebagai gangguan
yang terpisah. Spontan (primer) perdarahan subarachnoid biasanya hasil
dari pecahnya aneurisma. Sebuah bawaan intrakranial saccular atau berry
aneurisma adalah penyebab di sekitar 85 % pasien. Perdarahan dapat
berhenti secara spontan. Aneurisma perdarahan dapat terjadi pada semua
usia, tetapi paling sering terjadi dari usia 40-65. Penyebab kurang umum
adalah aneurisma mikotik, malformasi arteri, dan gangguan perdarahan.17
c. Patofisiologi
Darah di ruang subarachnoid menyebabkan meningitis kimia yang umum
meningkatkan tekanan intrakranial untuk hari atau beberapa minggu.
Vasospasme sekunder dapat menyebabkan iskemia otak fokal; sekitar
25% dari pasien mengembangkan tanda-tanda serangan transient
ischemic (TIA) atau stroke iskemik. Edema otak maksimal dan risiko
vasospasme dan infark berikutnya (disebut otak marah) adalah tertinggi
di antara 72 jam dan 10 hari. Hidrosefalus akut sekunder juga umum.
Suatu perdarahan ulang kadang-kadang terjadi, paling sering dalam
waktu sekitar 7 hari.17
d. Gejala Klinis
Gejala utama adalah sakit kepala parah yang dimulai secara tiba-tiba
(sering disebut petir sakit kepala). Hal ini sering lebih sakit pada bagian
dekat belakang kepala. Banyak orang sering menggambarkannya sebagai
"sakit kepala terburuk yang pernah" dan tidak seperti jenis lain dari sakit
kepala. Sakit kepala mungkin mulai setelah perasaan muncul atau patah
di kepala.
Gejala lain :

Penurunan kesadaran dan kewaspadaan.

Ketidaknyamanan mata dalam cahaya terang ( fotofobia ).

16

Mood dan kepribadian perubahan, termasuk kebingungan dan mudah


tersinggung.

Nyeri otot ( terutama nyeri leher dan nyeri bahu).

Mual dan muntah.

Mati rasa di bagian tubuh.

Leher kaku.

Masalah penglihatan; termasuk penglihatan ganda, bintik-bintik buta,


atau kehilangan penglihatan sementara di satu mata.16

e. Gambaran Radiologis
CT-Scan
Sensitivitas CT adanya darah subarachnoid sangat dipengaruhi oleh
jumlah darah dan sejak perdarahan. Diagnosis dicurigai ketika bahan
hyperattenuating terlihat mengisi ruang subarachnoid. Paling umum
ini jelas di sekitar lingkaran Willis, karena sebagian besar aneurisma
berry terjadi di wilayah ini (~65%), atau dalam fissure Sylvian
(~30%) ref diperlukan. Sejumlah kecil darah kadang-kadang dapat
dilihat di fossa interpeduncular, muncul sebagai segitiga hyperdense
kecil, atau dalam tanduk oksipital dari ventrikel lateral. Pendarahan
subarachnoid dikelompokkan menjadi empat kategori menurut jumlah
darah dengan skala Fischer.15

17

Gambar-10: Ada tinggi-redaman darah di celah Sylvian (panah biru)


dan fisura interhemispheric (panah merah).24
MRI
MRI

sensitif

terhadap

darah

subarachnoid

dan

mampu

memvisualisasikan dengan baik dalam 12 jam pertama biasanya


sebagai hyperintensity dalam ruang subarachnoid pada FLAIR.

Gambar- 11: FLAIR-MRI menunjukkan hyperintense frontal bilateral


dan parietal sulci (panah), konsisten dengan perdarahan subarachnoid

18

akut. Kelainan MRI lebih mencolok dan lebih luas daripada yang
ditunjukkan oleh CT.25
DSA: Angiografi
Digital pengurangan kateter angiography tetap Gold Standard untuk
diagnosis dan karakterisasi kelainan pembuluh darah dan di banyak
pusat, bahkan jika lesi penyebab diidentifikasi pada MRA atau CTA
dan diperkirakan membutuhkan manajemen bedah, studi kateter
dilakukan. Manfaat dari DSA adalah dua kali lipat : resolusi spasial
yang lebih tinggi : lebih mampu untuk menggambarkan pembuluh
darah kecil dan ciri morfologi vaskular (misalnya aneurisma leher dan
penggabungan pembuluh yang berdekatan). resolusi temporal: kontras
dapat dilihat untuk mencuci masuk dan keluar dari malformasi
vaskular, memberikan informasi penting dalam hal (misalnya
malformasi arteriovenosa (AVM) atau fistula arteriovenosa dural
(DAVF))

Selain

itu,

tergantung

pada

penyebabnya,

terapi

endovaskular (misalnya aneurisma melingkar) mungkin tepat.15


f. Pengobatan
Relief vasospasme terkait (terjadi pada sebanyak 50 % pasien dengan
SAH) dapat dicapai secara medis dengan calcium channel blockers.
Operasi pengangkatan dapat diindikasikan.
Kliping bedah awal digunakan untuk mencegah perdarahan ulang.
Manajemen endovascular juga sekarang banyak digunakan.24
g. Prognosis
Sekitar 35% dari pasien meninggal setelah aneurisma pertama perdarahan
subarachnoid; lain 15% meninggal dalam beberapa minggu karena
pecahnya berikutnya. Setelah 6 bulan, pecah 2 terjadi pada tingkat sekitar
3% tiap tahun. Secara umum, prognosis adalah buruk dengan aneurisma,
baik dengan malformasi arteri, dan terbaik saat angiografi pembuluh
darah tidak mendeteksi lesi, mungkin karena sumber perdarahan kecil dan
telah tertutupi.17

19

4. Perdarahan Intraventricular
a. Definisi
Perdarahan intraventrikular ( IVH ) hanya menunjukkan adanya darah
dalam sistem ventrikel otak, dan bertanggung jawab untuk morbiditas
yang signifikan karena perkembangan hidrosefalus obstruktif pada banyak
pasien. Hal ini dapat dibagi menjadi, perdarahan primer atau sekunder.
perdarahan primer menjadi jauh lebih umum daripada sekunder:
primer : temuan yang dominan adalah bahwa darah dalam ventrikel,
dengan sedikit jika ada darah parenkim.
sekunder : komponen extraventricular besar hadir (misalnya parenkim atau
subarachnoid) dengan ekstensi sekunder ke dalam ventrikel.
Pada orang dewasa perdarahan intraventrikular sekunder biasanya hasil
dari perdarahan intraserebral (biasanya basal ganglia perdarahan
hipertensi) atau perdarahan subarachnoid dengan ventrikel refluks.
Perdarahan intraventrikular adalah entitas yang berbeda dalam pediatri dan
dianggap terpisah ; melihat perdarahan intraventrikular pada bayi baru
lahir.
b. Gejala Klinis
Presentasi klinis perdarahan intraventrikular (terlepas dari penyebab)
adalah mirip dengan perdarahan subarachnoid. Pasien mengalami tiba-tiba
mengalami sakit kepala berat. Tanda-tanda meningismus juga hadir (yaitu
fotofobia, mual dan muntah, dan leher kaku). Pendarahan yang lebih besar
dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran, kejang, dan kompresi batang
otak dengan kompromi kardiorespirasi.18,19
c. Gambaran Radiologis
CT-Scan
Sebaliknya CT non kontras adalah andalan evaluasi akut pasien yang
datang dengan onset sakit kepala mendadak atau gejala stroke-seperti;
Darah di ventrikel muncul sebagai bahan hyperdense, lebih berat dari
CSF dan dengan demikian cenderung pool ketergantungan, terbaik

20

dilihat pada tanduk oksipital. Akut, jika volume darah yang signifikan
dapat mengisi ventrikel, dan bekuan membentuk 'dilemparkan'.18

Gambar-12: Noncontrast CT scan menunjukkan AVM kalsifikasi dan


bergumpal IVH , setiap hyperdense.26
MRI
MRI lebih sensitif dibandingkan CT untuk jumlah yang sangat kecil
dari darah, terutama di fossa posterior, di mana CT tetap dirusak oleh
artefak.
Kedua FLAIR dan baru-baru SWI (terutama pada 3T) yang sensitif
terhadap sejumlah kecil darah. Terutama yang terakhir akan
menunjukkan sejumlah kecil pooling darah di tanduk oksipital, dan
mengakibatkan kerentanan yang disebabkan sinyal putus 3-4.
Pada FLAIR intensitas sinyal akan bervariasi tergantung pada waktu
scan. Dalam waktu 48 jam darah akan muncul sebagai hiper-intens
untuk CSF yang berdekatan dilemahkan. Kemudian sinyal lebih
bervariasi dan bisa sulit untuk membedakan dari aliran terkait artefak
(terutama di ventrikel ketiga dan keempat) kecuali urutan lainnya juga
digunakan.18

21

Gambar-13: IVH adalah nyata hyperintense dan mudah dilihat pada


T1.26
d. Pengobatan dan Prognosis
Pendekatan pengobatan utama perdarahan intraventrikular dapat dibagi
menjadi dua : pengobatan penyebab yang mendasari perdarahan (misalnya
aneurisma, AVM). pengobatan hidrosefalus obstruktif. Kemudian hanya
mungkin memerlukan pemantauan hati-hati klinis negara dan seri CT otak
untuk menilai ukuran ventrikel, atau mungkin memerlukan penempatan
saluran ventrikel. Sejumlah pasien akan pergi untuk meminta pengalihan
CSF permanen (VP shunt) .
5. Perdarahan Intracerebral
a. Definisi
Biasanya terjadi karena cedera kepala berat, cirri khasnya adalah
hilangnya kesadaran dan nyeri kepala setelah sadar kembali. perdarahan
intracerebral biasanya disebabkan oleh trauma terhadap pembuluh darah,
timbul hematoma intraparenkim dalam waktu 30 menit 6 jam setelah
terjadinya trauma. hematoma timbul pada daerah kontralateral trauma.3
b. Etiologi
Penyebab paling umum dari perdarahan intraserebral adalah tekanan darah
tinggi (hipertensi). Penyebab kurang umum dari perdarahan intraserebral

22

termasuk trauma, infeksi, tumor, kekurangan pembekuan darah, dan


kelainan pada pembuluh darah (misalnya malformasi arteri).
c. Gejala Klinis
Gejala biasanya datang tiba-tiba dan dapat bervariasi tergantung pada lokasi
perdarahan . Gejala umum termasuk :
- Sakit kepala, mual , dan muntah.
- Letargi atau kebingungan.
- Kelemahan mendadak atau mati rasa pada wajah , lengan atau kaki , biasanya
pada satu sisi.
- Penurunan kesadaran.
- Kerugian sementara visi.
- Kejang

d. Gambaran Radiologis
CT-Scan
CT-Scan adalah X - ray noninvasif untuk meninjau struktur anatomi
di dalam otak untuk melihat apakah ada darah di otak. Sebuah
teknologi baru yang disebut CT angiografi melibatkan injeksi kontras
ke dalam aliran darah untuk melihat arteri otak.6

Gambar-14: CT-Scan perdarahan intracerebral.3


MRI
MRI adalah tes non-invasif, yang menggunakan lapangan dan
frekuensi gelombang radio magnetik untuk memberikan tampilan
rinci dari jaringan lunak otak Anda. Sebuah MRA (Magnetic
Resonance Angiogram) adalah studi non-invasif yang sama, kecuali

23

itu juga merupakan angiogram, yang berarti meneliti pembuluh darah


serta struktur otak.6

Gambar-15: hipertensi intracerebral hematoma MRI.3


e. Penatalaksanaan
Setelah penyebab dan lokasi perdarahan diketahui, perawatan medis atau
bedah dilakukan untuk menghentikan pendarahan, menghilangkan bekuan,
dan meringankan tekanan pada otak. Jika dibiarkan sendiri otak akhirnya
akan menyerap gumpalan dalam beberapa minggu-namun kerusakan pada
otak yang disebabkan oleh ICP dan darah racun mungkin ireversibel.
Umumnya, pasien dengan perdarahan kecil (<10 cm3) dan defisit minimal
diperlakukan secara medis. Pasien dengan perdarahan cerebellar (> 3 cm 3)
yang memburuk atau yang memiliki kompresi batang otak dan
hidrosefalus diperlukan pembedahan untuk menghapus hematoma
sesegera mungkin. Pasien dengan perdarahan lobar besar (50 cm 3) yang
memburuk biasanya menjalani operasi pengangkatan hematoma.6
H. KESIMPULAN
Perdarahan intrakranial adalah perdarahan yang terjadi di dalam tulang tengkorak.
perdarahan bisa terjadi didalam otak maupun disekelilingnya.
Perdarahan Epidural adalah perdarahan yang terjadi diantara tulang tengkorak dan
lapisan duramater. Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi antara
duramater dan arachnoid. Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan yang
terjadi di rongga subarachnoid. Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang

24

terjadi di dalam otak. sedangkan perdarahan intraventrikular adalah perdarahan


yang terjadi didalam ventrikel.
penyebab perdarahan intracranial bisa karena cedera kepala maupun kelainan
pada pembuluh darah.
I. KAJIAN ISLAM
Pada dasarnya islam mengajarkan agar umat yang sakit untuk mencari
pengobatan dengan dasar itulah maka operasi pembedahan kepala untuk
menolong pasien dilakukan dan juga masih mempertimbangkan banyak ajaranajaran islam tentang kesehatan dan upaya penyembuhan penyakit.
Hal yang lain seyogyanya diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah
Allah SWT menciptakan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menciptakan
penawarnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:27


Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya
Dari riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah dia berkata bahwa Nabi
bersabda,



Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya
maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Taala. (HR. Muslim)

DAFTAR PUSTAKA
1. Pietrangelo ann. Intracerebral Hemorrhage. 2012. www.healthline.com
diakses pada 31 agustus 2015

25

2. Snell RS, Sugiharto L. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta; EGC.


2011.
3. Frank G, Goel A. Intracranial Haemorrhage. http://radiopedia.org/ diakses
pada 31 agustus 2015
4. Joseph PB, Harold PA, et.all. Guidelines for the Management of
Spontaneous Intracerebral Hemorrhage. AHA Scientific Statement.
https://stroke.ahajournals.org diakses pada 31 agustus 2015
5. Liebeskind

DS.

Lutsep,

HL.

Intracranial

Hemorrhage.

https://emedicine.medscape.com/ diakses pada 31 agustus 2015


6. Zuccarello Mario. Intracerebral Hemorrhage. Mayfield Clinic and Spine
Institute. https://mayfieldclinic.com. Diakses pada 31 agustus 2015
7. Frank G, Goel A. Extradural Haemorrhage. http://radiopedia.org/ diakses
pada 31 agustus 2015
8. Ullman JS. Epidural Hemorrhage. https://emedicine.medscape.com/
diakses pada 31 agustus 2015
9. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta; Dian Rakyat.
2010.
10. Markam S. Trauma Kapitis. Kapita Selekta Neurologi. Edisi kedua.
Gajahmada University Press. Yogyakarta: 2005.
11. Meagher RJ. Subdural Hematoma. https://emedicine.medscape.com/
diakses pada 31 agustus 2015.
12. Rusdy Ghazali Malueka. Radiologi Diagnostik. Pustaka Cendekia Press;
Yogyakarta. 2011
13. Senelick Richard. 2015. Subdural Hematoma. https://m.webmd.com
diakses pada 31 agustus 2015
14. Gaillard Frank. Subdural Haemorrhage. http://radiopedia.org/ diakses pada
31 agustus 2015
15. Gaillard Frank. Subarachnoid Haemorrhage. http://radiopedia.org/ diakses
pada 31 agustus 2015
16. Reinhardt MR. Subarachnoid hemorrhage. www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed
diakses pada 31 agustus 2015

26

17. Giraldo

EA.

Subarachnoid

Hemorrhage.

Merckmanual.

www.merckmanuals.com diakses 31 agustus 2015


18. Knipe Henry. Intraventricular hemorrhage. http://radiopedia.org/ diakses
pada 31 agustus 2015
19. Mercer JS. Intraventricular hemorrhage. www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed
diakses pada 31 agustus 2015.
20. Octaviani D, Estiasari R, Kurniawan M, Tandian D. Perdarahan
Intraventrikuler Primer. Jakarta; FKUI RSCM. J Indon Med Assoc, Volum:
61, Nomor: 5, Mei 2011
21. David

J.

Intracranial

Hemorrhage.

USA;

Medscape.

2011.

https://emedicine.medscape.com
22. Mogoseanu M, Pascut M, Barsasteanu F, et.all. Computed Tomography
(CT) Versus Magnetic Resonance Imaging (MRI) in Evaluation of Head
Injuries. Timisoara Medical Journal. www.tmj.ro diakses 17 september
2015
23. Kim MS, Lee DH, et.all. A Case of Subdural hematoma in patient with
chronic myeloid leukemia treated with high-dose imatinib mesylate.
www.openi.nlm.nih.gov diakses 17 september 2015
24. Gershon A, Feld R, Twohig M. Subarachnoid Hemorrhage. Learning
Radiology. www.learningradiology.com diakses 17 september 2015
25. Xavier AR, Quershi AI, Kirmani JF, Yahia AM, Bakshi R. Neuroimaging
of Stroke. Southern Medical Journal. www.medscape.com diakses 17
september 2015.
26. Bakshi R, Kamran S, Kinker PR, Bates VE, et.all. Fluid-Attenuated
Inversion-Recovery MRI in Acute and Subacute Cerebral Intraventricular
Hemorrhage. AJNR Am J Neuroradiology 20:629-636, April 1999.
www.ajnr.org diakses 17 september 2015.
27. Hidayat F. Dan JikaAku Sakit, Dialah yang Menyembuhkan ku.
Muslim.or.id. 2012 http://muslim.or.id

27