You are on page 1of 11

Kecelakaan Kerja pada Lingkungan Kerja serta Faktor-faktor

yang Mempengaruhi
Kiki Puspitasari
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 1151

Kikipus1994@gmail.com
Abstrak :

Kecelakaan kerja banyak kita jumpai dimana terjadi pada lapangan kerja

formal maupun non formal. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya pembahasan akan
kecelakaan kerja. kecelakaan disebabkan oleh banyak faktor yang mendukung untuk
terjadinya kecelakaan. Substandard Action adalah penyebab yang didasarkan pada perilaku
manusia yang tidak mengikuti peraturan keselamatan kerja dan bertindak tidak aman.
Substandard Condition adalah dimana lingkungan kerja, peralatan kerja yang mendukung
terjadinya kecelakaan kerja. Hal tersebut tentu menimbulkan angka kerugian baik pada pihak
pekerja, maupun perusahaan baik dalam hal kesehatan, materi maupun waktu pengerjaan
proyek yang memanjang.
Kata kunci : Kecelakaan kerja, linkungan kerja
Abstract :

Work accident many are find to employment opportunities formal and non-

formal. This indicates that the importance of discussions about work accident . Accident
caused by many factors that support to the accident. Substandard action is the cause based on
human behavior who did not attend safety regulations work and act not safe .Substandard
condition is where work environment , work equipment which supports work accident. They
are holding a good cause harm to the party workers , and companies in terms of health ,
wealth and the project implementation time that extends.
Keywords : Work accident, work environment
Pendahuluan
Kecelakaan adalah sebuah kejadian tak terduga yang menyebabkan cedera atau
kerusakan. Kecelakaan kerja juga tidak diharapkan mengakibatkan suatu kerugian harta
benda, korban jiwa, luka, cacat maupun pencemaran. Kecelakaan kerja banyak kita jumpai
dimana terjadi pada lapangan kerja formal maupun non formal. Hal ini menunjukkan bahwa
pentingnya pembahasan akan kecelakaan kerja, kategori serta faktor penyebab guna

mendalami berbagai penyebab dari kecelakaan kerja, yang diharapkan dapat mengurangi
angka kecelakaan kerja yang terjadi pada berbagai lingkup lapangan kerja.
Tinjauan Pustaka
A. Pengertian Kecelakaan Kerja.1
Pengertian kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi dan
menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda. Ada tiga jenis tingkat kecelakaan kerja
berdasar efek yang ditimbulkan :
a. Accident adalah kejadian yang tidak diinginkan yang diinginkan yang menimbulkan
kerugian baik bagi manusia maupun harta benda
b. Incident adalah kejadian yang tidak diinginkan yang belum menambah kerugian.
c. Near miss adalah kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian incident ataupun
accident.
Sedangkan berdasakan sumber UU No 1 Tahun 1970 kecelakaan kerja adalah suatu
kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang
telah diatur dari suatu aktifitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia atau
harta benda. Menurut UU No.3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja, kecelakaan
kerja adalah kecelakaan terjadi dalam perjaan sejak beragkat dari rumah menuju tempat kerja
dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. Berdasarkan McCormick Jr
kecelakaaan adalah suatu kejadian atau peristiwa tidak terduga atau bertentangan dengan
yang diharapkan pada suatu aktifitas proses produksi.
Dari ketiga pengertian kecelakaan kerja yang dijabarkan para ahli keselamatan kerja dan
berdasarkan undang-undang mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dapat terlihat ada
tiga aspek utama dalam kecelakaan :
a. Keadaan apapun yang membahayakan pada tempat kerja maupun dilingkungan kerja.
Hazard ini untuk manusia menimbulkan cedera (injury) dan sakit (ilness)
b. Cedera dan sakit adalah hasil dari kecelakaan akan tetapi kecelakaan tidak terbatas
pada cedera dan sakit saja.
c. Jika dalam suatu kejadian menyebabkan kerusakan dan kerugian (loss) tertapi tidak
ada cedera pada manusia, hal ini juga termasuk jga kecelakaan. Kecelakaan dapat
menyebabkan hazard pada orang, kerusakan pada peralatan atau barang dan
terhentinya proses pekerjaan.

B. Penyebab Kecelakaan Kerja.


Kecelakaan kerja adalah sesuatu hal yang harus dicegah sesegera mungkin ini
disebabkan oleh efek yang ditimbulkan dari kecelakaan tersebut. Untuk melakukan
pencegahan, maka harus diketauhi terlebih dahulu penyebab dari suatu kecelakaan sehingga
dapat dilakukan suatu perbaikan.2
Pada awalnya, pada teori domino Heinrich dikemukakan bahwa penyebab kecelakaan
didasarkan atas kesalahan manusia (Human Error) sebanyak 88% kasus kecelakaan
disebabkan oleh Unsafe Action, 10% disebabkan oleh Unsafe Condition dan 2% merupakan
takdir dari Tuhan. Namun teori tersebut dikembangkan oleh Frank Bird, bahwa kecelakaan
disebabkan oleh banyak faktor yang mendukung untuk terjadinya kecelakaan. Berdasarkan
teori dari Frank Bird Jr, menyebutkan bahwa kecelakaan disebabkan atas beberapa faktor
sebagai berikut 2 :
a. Lemahnya kontrol atau kurangya pengawasan dari pihak manajemen terhadap
berjalannya penerapan aspek-aspek keselamatan kerja di lapangan
b. Penyebab Dasar (Basic Causses) adalah faktor dasar yang menyebabkan kecelakaan
atau faktor utama dari terjadinya kecelakaan. Faktor dasar tersebut dibagi menjadi dua
faktor dasar (basic factor).
- Faktor manusia (Personal Factor/Human Factor) adalah faktor yang berasal dari
dalam diri setiap manusia sendiri, contohnya : Kemampuan yag manusia tersebut
yang kurang, stress, pengetahuan yang kurang dan motivasi yang buruk untuk
-

bekerja sesuai dengan peraturan.


Faktor dari pekerjaan (Job Factor) adalah faktor yang berasal dari pengawasan

pihak manajemen terhadap jalannya program keselamatan dan keselamatan kerja.


c. Penyebab Langsung (Immediate Causes) adalah faktor kecelakaan yang secara
langsung bersinggungan dengan manusia dan kondisi lingkungan kerja. Faktor
penyebab langsung tersebut dibagi menjadi dua faktor:
- Substandard Action (perilaku manusia yang tidak baik) adalah penyebab yang
didasarkan pada perilaku manusia yang tidak mengikuti peraturan keselamatan
kerja dan bertindak tidak aman, contohnya : tidak menggunakan APD,
-

menjalankan mesin tanpa ijin, bercanda dan melepas barrier pada mesin.
Substandard Condition (Kondisi lingkungan yang tidak aman) adalah dimana
lingkungan kerja, peralatan kerja kerja yang mendukung terjadianya kecelakaan
kerja. Contohnya : Lingkungan kerja dekat dengan sumber panas, adanya sumber
bising, tidak adanya tanda peringatan

d. Incident/Accident. Terjadianya kontak dengan suatu benda, energy dan atau bahan
berharzard sebagai efek dari ketiga penyebab diatas yang tidak dapat dikendalikan.
e. Threshold limit adalah nilai ambang batas dimana ketika seluruh penyebab tadi sudah
melebihi nilai yang sudah ditentukan.
f. Kerugian adalah konsekuensi dari terjadinya incident/accident baik terhadap manusia
sebagai pekerja dan tau kerugian terhadap peralata yang digunakan untuk menunjang
pekerjaan.
C. Unsafe Action (tindakan Tidak Aman)
Unsafe Action adalah suatu tindakan yang memicu terjadinya suatu kecelakaan kerja.
Contohnya adalah tidak mengenakan masker, merokok di tempat yang rawan terjadi
kebakaran, tidak mematuhi peraturan dan larangan K3, dan lain-lain. Tindakan inibisa
berbahaya dan Unsafe Condition (Kondisi Tidak Aman) menyebabkan terjadinya
kecelakaan.2
D. Unsafe Condition
Berkaitan erat dengan kondisi lingkungan kerja yang dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan. Banyak ditemui bahwa terciptanya kondisi yang tidak aman ini karena kurang
ergonomis. Unsafe condition ini contohnya adalah lantai yang licin, tangga rusak, udara yang
pengap,pencahayaan kurang, terlalu bising, dan lain-lain.2
Frank Bird menggolongkan penyebab terjadinya kecelakaan adalah sebab langsung
( Immediate Cause ) dan factor dasar ( Basic Cause ). Penyebab langsung kecelakaan adalah
pemicu yang langsung menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut, misalkan terpeleset,
kejatuhan suatu benda, dan lain-lain. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah merupakan
factor yang memicu atau memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan tersebut.
Misalnya tumpahan minyak yang menyebakan lantai licin, kondisi penerangan yang tidak
baik, terburu-buru atau kurang nya pengawasan, dan lain-lain.
Meskipun penyebab tidak langsung hanyalah sebagai penyebab atau pemicu yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan, namun sebenarnya hal tersebutlah yang harus dianalisa
secara detail mengapa faktor tersebut bisa dan dapat terjadi.
Di samping faktor-faktor yang disebutkan di atas, teori-teori modern memasukan faktor
sistem manajemen sebagai salah satu factor penyebab terjadinya kecelakaan. Ketimpangan
dan kurangnya perencanaan, pengawasan, pelaksanaan, pemantauan dan pembinaan
menyebabkan terjadinya multiple cause sehingga kecelakaan kerja dapat terjadi.

E.

Diagram Fishbone.2
Diagram Ishikawa (disebut juga diagram tulang ikan, atau cause-and-effect matrix)

adalah diagram yang menunjukkan penyebab-penyebab dari sebuah event yang spesifik.
Diagram ini pertama kali diperkenalkan oleh Kaoru Ishikawa (1968). Pemakaian diagram
Ishikawa yang paling umum adalah untuk mencegah defek serta mengembangkan kualitas
produk. Diagram Ishikawa dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang signifikan
memberi efek terhadap sebuah even.
Kepala ikan biasanya selalu terletak di sebelah kanan. Di bagian ini, ditulis event
yang dipengaruhi oleh penyebab-penyebab yang nantinya di tulis di bagian tulang ikan. Event
ini sering berupa masalah atau topik yang akan di cari tahu penyebabnya.
Pada bagian tulang ikan, ditulis kategori-kategori yang bisa berpengaruh terhadap
event tersebut.
Kategori yang paling umum digunakan:
a. Orang adalah semua orang yang terlibat dari sebuah proses.
b. Metode adalah bagaimana proses itu dilakukan, kebutuhan yang spesifik dari poses
itu, seperti prosedur, peraturan dll.
c. Material adalah semua material yang diperlukan untuk menjalankan proses seperti
bahan dasar, pena, kertas dll.
d. Mesin adalah semua mesin, peralatan, komputer dll yang diperlukan untuk melakukan
pekerjaan.
e. Pengukuran adalah cara pengambilan data dari proses yang dipakai untuk menentukan
kualitas proses.
f. Lingkungan adalah kondisi di sekitar tempat kerja, seperti suhu udara, tingkat
kebisingan, kelembaban udara, dll.
Dari masing-masing kategori tersebut, terus dikembangkan ke tahap yang lebih detail.
Tidak semua penyebab yang ada di bagian tulang ikan memiliki kontribusi yang sama
terhadap even atau permasalahan. Beberapa penyebab memiliki kontribusi yang sangat besar,
namun ada juga penyebab yang kontribusinya terlalu kecil, bahkan mungkin hampir tidak ada
kontribusi sama sekali. Hal yang perlu dilakukan setelah diagram ishikawa selesai dibuat
adalah memvalidasi masing-masing penyebab untuk mengetahui seberapa besar kontribusi
penyebab tersebut.
F. Faktor-faktor Kecelakaan.3

Kecelakaan kecelakaan akibat kerja yang sering terjadi banyak di sebabkan oleh
faktor manusia dan sedikit dipengaruhi oleh faktor alat. Adapun faktor manusia dapat
dipengaruhi oleh:
a. Latar belakang pendidikan
Latar belakang pendidikan seseorang dapat mempengaruhi tindakan seseorang dalam
bekerja. Orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi cenderung berfikir lebih
panjang atau dalam memandanag sesuatu pekerjaan akan melihat dari berbagai segi.
Misalnya dari segi keamanan alat atau dari segi keamanan diri. Lain halnya dengan orang
yang berpendidikan lebih rendah, cenderung akan berfikir lebih pendek atau bisa di
katakan ceroboh dalam bertindak. Misalnya ketika kita melakukan pekerjaan yang sangat
beresiko terhadap kecelakaan kerja tetapi kita tidak memakai peralatan safety dengan
benar. Hal ini yang tentunya akan menimbulkan kecelakaan.
b. Psikologis
Faktor psikolgi juga sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Psikologis
seseorang sangat berpengaruh pada konsentrasi dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Bila
konsesntrasi sudah terganggu maka akan mempengaruhi tindakan-tindakan yang akan
dilakukan ketika bekerja. Sehingga kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi. Contoh
faktor psikologis yang dapat mempengaruhi konsentrasi seperti masalah-masalah dirumah
yang terbawa ke tempat kerja, suasana kerja yang tidak kondusif, adanya pertengkaran
dengan teman sekerja.
c. Keterampilan
Keterampilan disini bisa diartikan pengalaman seseorang dalam melakukan suatu
pekerjaan. Misalnya melakukan start atau stop pada sebuah peralatan, memakai alat-alat
keselamatan, dan lain-lain. Pengalaman sangat dibutuhkan ketika melakukan pekerjaan
untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang berakibat timbulnya kecelakaan kerja.
d. Fisik
Lemahnya kondisi fisik sesorang berpengaruh pada menurunnya tingkat konsentrasi
dan motivasi dalam bekerja. Sedangkan kita tahu bahwa konsentrasi dan motivasi sangat
dibutuhkan ketika bekerja. Bila sudah terganggu, kecelakaan sangat mungkin terjadi.
Contoh factor fisik ini adalah kelelahan, dan menderita suatu penyakit.

Adapaun juga yang dipengaruhi oleh faktor mekanis, seperti kondisi suatu peralatan
baik itu umur maupun kualitas sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Alat-alat
yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Apabila alat itu sudah rusak, tentu saja dapat
mengakibatkan suatu kecelakaan. Contohnya adalah unit alat berat yang sudah tua, atau alatalat safety yang sudah rusak.
G. Manajemen Resiko
Manajemen Resiko adalah suatu kumpulan dari berbagai tahapan kegiatan yang
bertujuan untuk mengelola resiko-resiko keselamatan dan kesehatan dalam suatu aktifitas
kegiatan. Serangkaian aktifitas identifikasi, analisis, evaluasi, dan pengendalian resiko yang
bertujuan untuk meminimalkan kerugian atau kehilangan, serta memaksimalkan peluang.
Manfaat dilakukannya manajemen resiko adalah mengurangi kejadian tidak terduga,
mencari kesempatan atau peluang, meningkatkan perencanaan, kinerja, dan efektifitas;
meningkatkan keuntungan ekonomis dan efisiensi, meningkatkan informasi sebagai masukan
sebagai proses pengambil keputusan, meningkatkan reputasi organisasi atau perusahaan,
sebagai komitmen direksi untuk melindungi pekerja, sebagai salah satu cara untuk
meningkatkan akuntabilitas, kepercayaan, dan governance; dan meningkatkan kesejahteraan
kesehatan personal dan pekerja lainnya.
Tahapan proses manajemen resiko yaitu :
1. Penetapan ruang lingkup
Menetapkan tujuan, kebijakan, strategi penerapan, metode atau cara pelaksanaan
manajemen resiko, serta pencapaian yang ditargetkan oleh perusahaan.
2. Identifikasi resiko
Melakukan identifikasi terhadap resiko yang akan dikelola, mencari tahu jenis
resiko apa saja yang mungkin menimbulkan resiko, bagaimana dan mengapa
resiko itu muncul.
3. Analisis resiko
Melakukan estimasi resiko dengan mengkombinasikan faktor probabilitas dan
konsekuensi, dengan mempertimbangkan upaya pengendalian resiko yang telah
dilakukan.
4. Evaluasi resiko
Membandingkan tingkat resiko yang didapat dalam proses analisis resiko dengan
kriteria evaluasi yang digunakan, menentukan apakah suatu resiko dapat diteima
atau tidak.
5. Pengendalian resiko

Melakukan penanganan atau pengendalian terhadap resiko, terutama resiko


dengan tingkat tinggi dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi.
6. Monitoring dan review
Melakukan pemantauan dan pengkajian utama terhadap tingkat resiko, serta
efektiftas program, penanganan resiko yang telah dilakukan agar selanjutnya dapat
ditentukan tindakan koreksi dan perbaikan yang perlu dlakukan.
7. Komunikasi dan konsultasi
Melakukan komunikasi dua arah antara pihak manjemen dan pekerja untuk
mendapatkan masukan mengenai implementasi pengelolaan resiko di tempat kerja
guna perbaikan sistem pengelolaan resiko tersebut.

Pembahasan
Pada skenario, disebutkan terdapat perusahan yang bergerak di bidang konstruksi,
mempunyai proyek pembangunan mall dimana karyawan yang bekerja ada sekitar 500 orang
terdiri dari berbagai bidang pendidikan dan jabatan. Ada sekitar 200 orang sebagai tenaga
pelaksana kasar, yang pendidikannya hanya SD yang berasal dari desa. Dari laporan tenaga
kesehatan di perusahaan tersebut, telah terjadi beberapa kecelakaan kerja terutama yang
tersering adalah kaki tertusuk paku; padahal oleh perusahaan sudah ditetapkan setiap pekerja
yang masuk ke kompleks pembangunan diharuskan memakai helm dan memakai sepatu
khusus. Selain itu, sudah ada sekuriti yang mengawasi pekerja tersebut, tetapi sering kali para
karyawan tidak memenuhi aturan untuk memakai alat pelindung diri (APD) tersebut.
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi dan
menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda. Terlihat ada tiga aspek utama dalam
kecelakaan :
a. Keadaan apapun yang membahayakan pada tempat kerja maupun dilingkungan kerja.
Hazard ini untuk manusia menimbulkan cedera (injury) dan sakit (ilness)
b. Cedera dan sakit adalah hasil dari kecelakaan akan tetapi kecelakaan tidak terbatas
pada cedera dan sakit saja.
c. Jika dalam suatu kejadian menyebabkan kerusakan dan kerugian (loss) tertapi tidak
ada cedera pada manusia, hal ini juga termasuk jga kecelakaan. Kecelakaan dapat
menyebabkan hazard pada orang, kerusakan pada peralatan atau barang dan
terhentinya proses pekerjaan.

Untuk melakukan pencegahan, maka harus diketuhi terlebih dahulu penyebab dari
suatu kecelakaan sehingga dapat dilakukan suatu perbaikan. Berdasarkan teori dari Frank
Bird Jr, menyebutkan bahwa kecelakaan disebabkan atas beberapa faktor seperti lemahnya
kontrol atau kurangya pengawasan dari pihak manajemen terhadap berjalannya penerapan
aspek-aspek keselamatan kerja di lapangan.
Penyebab Dasar (Basic Causses) adalah faktor dasar yang menyebabkan kecelakaan
atau faktor utama dari terjadinya kecelakaan. Faktor dasar tersebut dibagi menjadi dua faktor
dasar (basic factor).
a. Faktor manusia (Personal Factor/Human Factor) adalah faktor yang berasal dari
dalam diri setiap manusia sendiri, contohnya : Kemampuan yang manusia tersebut
yang kurang, stress, pengetahuan yang kurang dan motivasi yang buruk untuk bekerja
sesuai dengan peraturan.
b. Faktor dari pekerjaan (Job Factor) adalah faktor yang berasal dari pengawasan pihak
manajemen terhadap jalannya program keselamatan dan keselamatan kerja.
Penyebab Langsung (Immediate Causes) adalah faktor kecelakaan yang secara langsung
bersinggungan dengan manusia dan kondisi lingkungan kerja. Faktor penyebab langsung
tersebut dibagi menjadi dua faktor:
a. Substandard Action (perilaku manusia yang tidak baik) adalah penyebab yang
didasarkan pada perilaku manusia yang tidak mengikuti peraturan keselamatan
kerja dan bertindak tidak aman.
b. Substandard Condition (Kondisi lingkungan yang tidak aman) adalah dimana
lingkungan kerja, peralatan kerja kerja yang mendukung terjadianya kecelakaan
kerja.
Meskipun penyebab tidak langsung hanyalah sebagai penyebab atau pemicu yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan, namun sebenarnya hal tersebutlah yang harus dianalisa
secara detail mengapa faktor tersebut bisa dan dapat terjadi.
Di samping faktor-faktor yang disebutkan di atas, teori-teori modern memasukan
faktor sistem manajemen sebagai salah satu factor penyebab terjadinya kecelakaan.
Ketimpangan dan kurangnya perencanaan, pengawasan, pelaksanaan, pemantauan dan
pembinaan menyebabkan terjadinya multiple cause sehingga kecelakaan kerja dapat terjadi.
Pada kasus disebutkan bahwa tenaga pelaksana sebagian besar yang mengalami
kecelakaan kerja memiliki riwayat pendidikan yang rendah serta ditemukan kurangnya

pengawasan dari perusahaan akan penggunaan APD masih kurang. Kondisi tempat kerja yang
tidak aman, serta human factor menjadi faktor meningkatnya angka kecelakaan kerja. Hal
tersebut tentu menimbulkan angka kerugian baik pada pihak pekerja, maupun perusahaan
baik dalam hal kesehatan, harta maupun waktu pengerjaan proyek yang memanjang.
Kesimpulan
Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi dan
menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda. Meskipun penyebab tidak langsung
hanyalah sebagai penyebab atau pemicu yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, namun
sebenarnya hal tersebutlah yang harus dianalisa secara detail mengapa faktor tersebut bisa
dan dapat terjadi. Kondisi tempat kerja yang tidak aman, serta human factor menjadi faktor
meningkatnya angka kecelakaan kerja. Hal tersebut tentu menimbulkan angka kerugian baik
pada pihak pekerja, maupun perusahaan baik dalam hal kesehatan, harta maupun waktu
pengerjaan proyek yang memanjang.

Daftar Pustaka
Frank Bird Jr and George L Germain, Practical Loss Control Leadership, Institute
Publishing, USA 1990
Hankins, Judy. Infusion Therapy in Clinical Practice. (2001) p. 42.
Malthis, Robert L. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:Salemba Empat. 2002.
Prabu Mangkunegara. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. 2001.
Lexy J. Moleong. Metodologi Penilitian Kualitatif. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. 2004
Putut Hargiyarto. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Pencegahan Kecelakaan
Kerja. http://www.eprints.uny.ac.id/1237/. Diakses 11 Oktober 2015