You are on page 1of 18

PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK USIA DINI

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Oleh:
Gde Parie Perdana
1529061037

PENDIDIKAN IPA
PROGAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2015

DAFTAR ISI

COVER
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .........................................................................................

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................

1.3 Tujuan ......................................................................................................

1.4 Manfaat ....................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Makna Pendidikan Karakter ....................................................................

2.2 Dasar Pendidikan Karakter ......................................................................

2.3 Proses Pembentukan Karakter .................................................................

2.4 Pengembangan Karakter pada Anak Usia Dini ........................................ 11


2.5 Peran Guru dalam Pendidikan Karakter ................................................... 13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 14
3.2 Saran ......................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan bangsa
dan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor
kehidupan, sebab kualitas kehidupan suatu bangsa sangat erat dengan tingkat
pendidikan yang dimilikinya. Pendidikan telah menjadi cara bertindak dari
masyarakat suatu bangsa. Manusia mewariskan nilai yang menjadi bagian penting
dari budaya masyarakat dimana tempat mereka hidup dan mewariskan nilai kepada
generasi selanjutnya. Pendidikan memiliki peran penting karena pendidikan tidak
hanya menentukan keberlangsungan masyarakat namun juga menguatkan identitas
individu dalam masyarakat.
Pembangunan karakter bangsa secaa filosofi merupakan kebutuhan asasi
dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri
yang kuat yang akan tetap eksis. Sayangnya, karakter serta moral bangsa saat ini
mulai merosot. Hal ini terlihat dari perilaku dan tindakan yang kurang bahkan tidak
berkarakte. Fenomena merosotnya karakter anak bangsa di tanah air khususnya,
disebabkan lemahnya pendidikan karakter dalam meneruskan nilai-nilai luhur
bangsa Indonesia. Disamping itu, masih lemahnya penerapan nilai-nilai karakter di
lembaga-lembaga pemerintahan dan kemasyarakatan serta makin berkembangnya
era globalisai yang mengikis kaidah moral budaya bangsa.
Kemerosotan moral bangsa sudah sangat memprihatinkan. Secara nyata di
kota-kota besar, para pelajar yang semestinya menuntut ilmu demi kemajuan
bangsa, melakukan tindakan yang tidak semestinya seperti tawuran dan
mengonsumsi obat-obatan terlarang. Selain itu, pelajar sering diberikan media cetak
maupun elektronik melakukan tindakan kekerasan dan pergaulan bebas. Tidak
hanya pelajar, kerusakan moral telah merambah ke pemerintahan dan lembaga
negara. Krisis moral telah merambah di berbagai bidang lapisan masyarakat,
termasuk institusi pendidikan.

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter


(character education) dalam konteks saat ini sangat relevan untuk mengatasi krisis
moral yang sedang melanda Indonesia. Pendidikan karakter merupakan aspek yang
penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal
pembelajaran dalam hal intelektual belaka tetapi juga harus diberi hal dalam segi
moral dan spiritualnya, seharusnya pendidikan karakter harus diberi seiring dengan
perkembangan intelektualnya yang dalam hal ini harus dimulai sejak dini
khususnya dilembaga pendidikan.
Pendidikan karakter sangat baik diterapkan pada anak usia dini karena pada
masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan
masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan
(Haryanto, 2011). Pada masa ini terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang
siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan
masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa,
sosio emosional, agama dan moral. Pendidikan karakter di sekolah dapat dimulai
dengan memberikan contoh yang dapat dijadikan teladan bagi murid dengan
diiringi pemberian pembelajaran seperti keagamaan dan kewarganegaraan sehingga
dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki dan
mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta adil
dalam segala hal.
Pendidikan karakter bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia.
Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal seperti Soekarno telah
mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk
kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang berkarakter. Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan
sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan spiritual yang ideal. Pendidikan
karakter pun dapat dijadikan sebagai strategi untuk membentuk identitas yang
kokoh dari setiap individu dan untuk membentuk sikap yang dapat menuju
kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku. Oleh karena itu
pendidikan karakter sangat penting untuk diterapkan sejak dini untuk memupuk
karakter yang dimiliki anak agar mampu mempertahankan jiwa bangsa Indonesia
dan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penyusun merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut.
1.2.1 Apa itu pendidikan karakter?
1.2.2 Apa dasar pendidikan karakter?
1.2.3 Bagaimana proses pembentukan karakter?
1.2.4 Bagaimana pengembangan karakter pada anak usia dini?
1.2.5 Apa peran guru dalam pendidikan karakter?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut.
1.3.1

Untuk memahami pendidikan karakter?

1.3.2

Untuk mengetahui dasar pendidikan karakter?

1.3.3

Untuk mengetahui proses pembentukan karakter?

1.3.4

Untuk memahami pengembangan karakter pada anak usia dini?

1.3.5

Untuk mengetahui peran guru dalam pendidikan karakter?

1.4 Manfaat
Penyusunan karya tulis ini diharapkan dapat membatu pembaca untuk
memahami pendidikan karakter, proses pembentukan karakter, dan cara untuk
mengembangkan karakter anak usia dini, serta peranan dari guru dalam
melaksanakan pendidikan karakter.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Makna Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter diambil dari dua suku kata yang berbeda, yaitu
pendidikan dan karakter. Pendidikan lebih merujuk pada kata kerja, sedangkan
karakter lebih pada bersifatnya. Artinya, melalui proses pendidikan tersebut,
nantinya dapat dihasilkan sebuah karakter yang baik.
Secara lebih mendalam pendidikan sendiri merupak terjemahan dari
education, yang kata dasarnya educate atau bahasa latinya educo. Educo berarti
mengembangkan dari dalam; mendidik; melaksanakan hukum kegunaan. Ada juga
yang mengatakan bahwa education berasal dari bahasa latin educare yang memiliki
konotasi melatih atau menjinakan. Berbeda dengan pengertian sebelumnya
pendidikan dalam bahasa pengertian sebelumnya dalam bahasa Yunani, pendidikan
merupakan terjemahan dari kata paedagigie yang berate pergaulan pada anak-anak.
Sementara

orang

yang

tugasnya

membimbing

atau

mendidik

dalam

pertumbuhannya agar dapat berdiri disebut paedagogos. Istilah ini diambil dai kata
paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Oleh karena itu, menurut
pendapat ini pendidikan diartikan sebagai suatu bimbingan yang diberikan dengan
sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam pertumbuhannya, baik jasmani
maupun rohani agar beguna bagi diri sendiri dan masyarakat.
Secara etimologi istilah karakter erasal dari bahasa Yunani, yaitu karasso
yang berarti cetak biru, format dasar, dan sidik seperti dalam sidik jari. Dalam hal
ini karakter diartikan sebagai suatu yang tidak dapat dikuasai oleh intervensi
manusia. Orang yang memiliki karakter kuat adalah mereka yang tidak mau
dikuasai oleh sekumpulan relitas yang telah ada. Sedangkan orang yang memiliki
karakter lemah akan mudah tunduk pada sekumpulan kondisi yang diberikan
padanya. Pendapat lain menyebutkan karakter bearti to mark atau menandai dan
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan
atau tingkah laku.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai watak, tabiat,


pembawaan, dan kebiasaan. Sejalan dengan uraian menurut Pusat Bahasa
Depdiknas bahwa karakter adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti,
perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak.
Menurut Lickona (dalam Haryanto, 2012), karakter berkaitan dengan konsep
moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral
behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang
baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik,
dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan
keterkaitan ketiga kerangka pikir ini.
Konsep
Moral

Sikap
Moral
Karakter

Prilaku
Moral

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter


kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan juga
dapat diartikan sebagai sebuah konsep dasar yang diterapkan ke dalam pemikiran
seseorang untuk menjadikan akhlak jasmani rohani maupun budi pekerti agar lebih
berarti dari sebelumnya sehingga dapat mengurangi krisis moral yang terjadi.
Dalam pendidikan karakter, anak didik sengaja dibangun karakternya agar
mempunyi nilai-nilai kebaikan sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupan
sehari-hari, baik itu kepada Tuhan, dirinya sendiri, sesama manusia, lingkungan
sekitar, bangsa, negara, maupun hubunan interasional sebagai penduduk dunia.
Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu, religius, jujur, toleransi,
disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, tanggung jawab.

Foerster mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk


membentuk karakter karena karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi atau
individu serta karakter pun dapat memberi kesatuan atas kekuatan dalam
mengambil sikap di setiap situasi (Kusuma, 2008).
Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan
pendidikan moral. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi
manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun warga
masyarakat atau warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara
umum adalah nilai-nilai sosialnya, yang banyak dipengaruhi oleh budaya
masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam
konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai
luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka
membina kepribadian generasi muda.
Pendidikan karakter dikatakan berhasil apabila memenuhi beberapa indikator
berikut (Muhamimin, 2014).
1. Mengamalkan ajaran agama yang diatut sesuai dengan tahap perkembangan
usianya
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri
3. Menunjukan sikap percaya diri
4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan
5. Menghargai keberagamaan agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial
ekonomi
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan dan sumber-sumber
lain secara logis, kritis dan kreatif.
7. Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, keatif dan inovatif.
8. Menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang
dimilikinya.
9. Menunjukan kemamampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial
11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab

12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,


berbangsa dan bernegara
13. Menghargai karya seni dan budaya nasional
14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu
luang dengan baik.
16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain
18. Menghargai adanya perbedaan pendapat
19. Menunjukan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana
20. Menunjukan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
Memiliki jiwa kewirausahaan

2.2 Dasar Pendidikan Karakter


2.2.1 Dasar Filosofi
Dasar filosofi akan adanya pendidikan karakter adalah Pancasila. Pancasila
menjadi dasar negara, pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, jiwa bangsa,
tujuan yang akan dicapai, perjanjian luhur bangsa, asas kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara, serta jati diri bangsa. Karakter yang berlandaskan
falsafah pancasila maknanya adalah setiap aspek karakter harus dijiwai oleh kelima
sila Pancasila secara utuh dan komprehensif.
a. Bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa
Bentuk kesadaran dan perilaku iman dan taqwa serta akhlak mulia sebagai
karakteristik pribadi bangsa Indonesia.
b. Bangsa yang menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Karakter kemanusiaan tercermin dalam pengakuan kesamaan derajat, hak dan
kewajiban, saling mengasihi, tenggang rasa, peduli, tidak semena-mena
terhadap orang lain, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, menjunjung
tinggi nilai kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan.
c. Bangsa yang mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa
Karakter kebangsaan seseorang tercermin dalam sikap persatuan, kesatuan,
kepentingan, dan keselamatan bangsa, bangga sebagai bangsa Indonesia yang

bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia, cinta tanah
air dan negara Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.
d. Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung tinggi hukum dan HAM
Karakter bangsa yang demokratis tercermin dari sikap dan perilakunya yang
senantiasa dilandasi nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, menghargai
pendapat oranglain.
e. Bangsa yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan
Karakter berkeadilan sosial tercermin dalam perbuatan yang menjaga
adanya kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan, menjaga
harmonisasi antara hak dan kewajiban.
2.2.2 Dasar Hukum
Dasar hukum karakter pendidikan adalah tujuan pendidikan yang telah
dirumuskan dalam pendidikan nasional yang telah tercantum dalam dasar negara
dan diatur dalam Undang-Undang sebagai berikut.
a. Undang Undang Dasar 1945
b. Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
c. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
d. Permendiknas No. 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan
e. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
f. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
g. Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional 2010-2014
h. Renstra Kemendiknas Tahun 2010-2014
2.2.3 Dasar Agama dan Budaya
Agama merupakan sumber kebaikan. Oleh karenanya, pendidikan karakter
harus dilakasanakan berdasarkan nilai-nilai ajaran agama. Pendidikan karakter
tidak boleh bertentangan dengan agama. Indonesia merupakan negara yang
meyoritas masyarakatnya beragama, yang mana mereka mengakui bahwa kebajikan
dan kebaikan agama. Selain itu Indonesia memiliki beragam budaya yang menjadi
identitar real dari karakter bangsa, yang membedakanya dengan negaa lain.

2.3 Proses Pembentukan Karakter


Pembentukan karakter merupakan usaha atau suatu proses yang dilakukan
untuk menanamkan hal positif pada anak yang bertujuan untuk membangun
karakter yang sesuai dengan norma, dan kaidah moral dalam bermasyarakat. Ada
tiga faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan karkter anak yaitu faktor
pendidikan (sekolah), lingkungan masyarakat, dan lingkungan keluarga. Stephen
Covey dalam bukunya Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif menyimpulkan
bahwa ada 3 teori utama yang mendasari pembentukan karakter sebagai berikut.
1. Determinisme Genetis
Teoi ini didasari dari pengauh DNA yang diturukan dari anggota
sebelumnya seperti kakek atau nenek yang bersangkutan. Sifat ini
diteruskan/diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
2. Determinisme Psikis
Teori ini mengatakan bahwa, pada dasarnya orangtua yang membentuk
karakter anak. Pola pengasuhan, pengalaman masa anak-anak pada
dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter.
3. Determinisme Lingkungan
Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa lingkunganlah yang membetu
kaakter

sesorang.

Seseorang

atau

sesuatu

di

lingkungan

akan

bertanggungjawab atas situasi yang terjadi.


Pembentukan karakter seseorang terjadi melalui enam proses yaitu
pengenalan, pemahaman, penerapan, pengulangan/pembiasaan, pembudayaan, dan
internalisasi.
1. Pengenalan
Maksud dari pengenalan ini adalah seorang anak diperkenalkan tentang halhal positif/hal-hal yang baik dari lingkungan, maupun keluarga. Contohnya
anak diajarkan tentang kejujuran, tenggang rasa, gotong royong,
bertanggung jawab dan sebagainya. Tahapan ini bertujuan untuk
menanamkan hal positif dalam memorinya.
2. Pemahaman
Selanjutnya adalah pemahaman, maksud dari pemahaman disini adalah kita
memberikan pengarahan atau pengertian tentang perbuatan baik yang sudah

kita kenalkan kepada si anak. Tujuannya agar dia tahu dan mau melakukan
hal tersebut dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
3. Penerapan
Setelah si anak telah paham tentang perbuatan baik yang telah kita ajarkan
langkah yang selanjutnya adalah penerapan. Maksud dari penerapan disini
adalah kita memberikan kesempatan pada anak untuk menerapkan
perbuatan baik yang telah kita ajarkan.
4. Pengulangan / Pembiasaan
Maksud dari pengulangan disini adalah setelah si anak telah paham dan
menerapkan perbuatan baik yang telah kita kenalkan kemudian kita lakukan
pembiasaan, dengan cara melakakuan hal baik tersebut secara berualang
ulang agar si anak terbiasa melakukan hal baik tersebut.
5. Pembudayaan
Pembudayaan disini harus diikuti dengan adanya peran serta masyarakat
untuk ikut melakukan dan medukung terciptanya pembentukan karakter
baik yang telah diterapkan dalam masyarakat maupun di dalam keluarga.
Adanya hukuman jika tidak ikut pembudayaan tersebut akan memunculkan
motivasi untuk ikut dan berperan serta dalam pembudayaan karakter yang
baik dan positif dalam masyarakat.
6. Internalisasi Menjadi Karakter
Karakter seseorang akan semakin kuat jika ikut didorong adanya suatu
ideologi atau believe. Jika semua sudah tercapai maka akan ada kesadaran
dalam diri seseorang untuk melakukan hal yang baik tersebut tanpa adanya
paksaan atau dorongan untuk melakukannya. Selain itu adanya faktor
internal dalam masyarakat atau keluarga akan mempengaruhi karakter
seseorang.
Karakter setiap manusia terbentuk melalui 5 tahap inti yang saling berkaitan.
(1) Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, seperti agama,
ideologi, pendidikan dll. (2) Nilai membentuk pola fikir seseorang yang secara
keseluruhan keluar dalam bentuk rumusan visi. (3) Visi turun ke wilayah hati
membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan membentuk mentalitas. (4)
Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara

10

keseluruhan disebut sikap. (5) Sikap-sikap dominan dalam diri seseorang yang
secara keseluruhan mencitrai dirinya adalah apa yang disebut sebagai karakter atau
kepribadian.
Proses pembentukan mental tersebut menunjukan keterkaitan antara fikiran,
perasaan dan tindakan. Dari akal terbentuk pola fikir, dari fisik terbentuk menjadi
perilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berprilaku
menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi sebuah
kebiasaan.

2.4 Pengembangan Karakter pada Anak Usia Dini


Pasal 28 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003
ayat 1, menyebutkan bahwa yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk
dalam rentang usia 0-6 tahun. Pada masa-masa usia 0 hingga 6 tahun, otak anak
berkembang sangat pesat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan
menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masamasa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai
terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa
emas anak (golden age). Maka dari itu, sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan
masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik. Sehingga anak
bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang
tanpa ada rasa ragu dalam mengambil keputusan.
Terkadang sebagian orang tua tidak sadar bahwa dengan memukul anak akan
memberikan pressure atau efek jera yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap
negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang
pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Hal ini
menyebabkan anak mudah minder dan takut dalam setiap mengambil keputusan
yang jelas-jelas merupakan suatu peluang untuk mereka.
Banyak orangtua beranggapan bahwa semakin anak jenius semakin ia akan
sukses. Semakin sering anak mendapatkan rangking di kelas semakin anak tersebut
akan berhasil. Persepsi ini tidak sepenuhnya benar karena sebenarnya karakter anak
tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter setiap anak bisa dibentuk sesuai apa

11

yang orangtua kehendaki, dan tentunya treatment orangtua terhadap anak akan
merefleksikan dan mempengaruhi perkembangan setiap anak.
Sebagai orang tua atau pendidik yang baik, sudah tentu haus mengerti dan
memahami berbagai karakter dasa anak usia dini. Karakter dasar dari seorang anak
usia dini adalah anak telah berbekal kebaikan, suka meniru, suka bermain, dan
memiliki rasa ingin tahung yang besar.
Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan
menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada
usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak
menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya,
dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan
yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses.
Terdapat 3 nilai yang banyak dikondisikan sebagai hal yang mempengaruhi
karakter pada anak sebagai berikut.
1. Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini
Salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk
mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan
potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan
sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan
seterusnya.
2. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan
sekitar
Pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter
anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut
wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah,
lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik,
begitu pula sebaliknya.
3. Biasakan membangun hubungan spiritual anak dengan Tuhan Yang
Maha Esa
Hubungan spiritual dengan Tuhan terbangun melalui pelaksanaan dan
penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

12

Membiasakan anak untuk doa sebelum makan dan beribadah sesuai


waktunya.
Pendidikan karakter pada anak usia dini dapat memberikan pengaruh pada
anak untuk menumbuh kembangkan rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama,
kemampuan bergaul, kemampuan berempati, dan kemampuan berkomunikasi.

2.5 Peran Guru dalam Pendidikan Karakter


Guru adalah pendidik professional yang mempunyai tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik atau siswa. Dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan karakter, Guru
menjadi ujung tombak keberhasilan tersebut.
Guru, sebagai sosok yang digugu dan ditiru, mempunyai peran penting dalam
aplikasi pendidikan karakter di sekolah maupun di luar sekolah. Sebagai seorang
pendidik, guru menjadi sosok figur dalam pandangan anak, guru akan menjadi
patokan bagi sikap anak didik. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
diamanatkan bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang
baik. Kompetensi kepribadian tersebut menggambarkan sifat pribadi dari seorang
guru. Satu yang penting dimiliki oleh seorang guru dalam rangka pengambangan
karakter anak didik adalah guru harus mempunyai kepribadian yang baik dan
terintegrasi dan mempunyai mental yang sehat.
Seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator, dan dinamisator.
Berikut uraian mengenai beberapa peran utama guru dalam pendidikan karakter.
a. Keteladanan
Keteladanan dibutuhkan oleh guru berupa konsistensi dalam menjalankan
perintah agama, mematuhi aturan yang berlaku, dan mampu menghadapi
tantangan. Anak membutuhkan seseorang yang dapat digugu dan ditiru oleh
kaena itu guru hau memiliki keteladanan.
b. Inspirator
Seorang guru harus menjadi inspirator untuk membangkitkan semangat
anak untuk menggali potensi yang dimilikinya. Secara tidak langsung
kesuksesan seseorang akan mengispirasi orang lain untuk meniru dan
mengembangembangkan potensinya.

13

c. Motivator
Motivator adalah kemampuan guru dalam membangkitkan spirit, etos kerja,
dan potensi yang luarbiasa dalam diri peserta.
d. Dinamisator
Selain membangkitkan semangat guru harus dapat mengarahkan siswa
untuk mencapai tujuannya.
e. Evaluator
Dalam peran ini guru harus selalu mengawasi pembelajaran yang selama ini
dipakai. Evaluasi merupakan wahanauntuk meninjau efektivitas.

14

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh melalui pembahasan yang telah
dilakukan sebelumnya adalah sebagai berikut.
1. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran
atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
2. Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu, religius, jujur, toleransi,
disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif,
cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, tanggung
jawab.
3. Dasar filosofi pendidikan karakter adalah Pancasila dan dasar hukumnya
adalah Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, Agama dan budaya
menjadi landasan identitas bangsa.
4. Pembentukan karakter seseorang terjadi melalui enam proses yaitu
pengenalan,

pemahaman,

penerapan,

pengulangan/pembiasaan,

pembudayaan, dan internalisasi.


5. Pendidikan karakter pada usia dini sangat baik diterapkan karena pada
masa tersebut, otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi,
tidak melihat baik dan buruk. Masa golden age ini adalah masa
perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk.
6. Peran guru dalam pendidikan karakter adalah sebagai teladan, inspirator,
motivator, dinamisator, dan evaluator.

3.2 Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan yaitu sebaiknya anak sejak
usia dini telah diberikan pendidikan karakter seiring dengan perkembangan
intelektualnya dan dalam pelaksanaan sebagai orang tua maupun guru harus peka
dan mampu mengembangkan karakter anak.

15

DAFTAR PUSTAKA

Azzet, A. M. 2014. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia: Revitalisasi


Pendidikan Karakter terhadap Keberhasilan Belajar dan Kemajuan Bangsa.
Jogjakata: Ar-Ruzz Media
Fadlillah, M. & Khorida, L. M. 2013. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:
Kosep dan Aplikasi dalam PAUD. Jogjakata: Ar-Ruzz Media
Haryanto. 2011. Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini.
Belajarpsikologi.com dapat diakses pada http://belajarpsikologi.com/aspekaspek-perkembangan-anak-usia-dini/
Kusuma A., D. 2007. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo
Slavin, R. E. 2011. Psikologi Penddikan: Teori dan Praktik. Jakarta: PT Indeks

16