You are on page 1of 8

KOMPONEN ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN DI IGD

RSUD BATANG
Pemasangan Kateter

Initial pasien : Tn. S


Tanggal

Jam

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Diagnos keperawatan
Dasar pemikiran
Tindakan keperawatan yang dilakukan
Prinsip-prinsip tindakan
Bahaya yang terjadi
Hasil yang didapat dan maknanya
Tindakan keperawaan yang lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi
diagnose keperawatan diatas
8. Evaluasi diri
9. Kepustakaan

Pembimbing klinik,

Batang, Mei 2015


mahasiswa

..

..

ANALISA TINDAKAN KEPERAWATAN PEMASANGAN KATETER

Nama Klien

: Tn. S

No register : 171004

Diagnose Medis

: CHF NYHA II-III

1. Diagnose keperawatan
Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
Data fokus
Ds :
-

etiologi
ketidakseimbangan

klien mengatakan tubuhnya


terasa lemas dan tidak kuat

antara

suplai

problem
Intoleransi aktivitas
dan

kebutuhan

saat ke berjalan kamar mandi


klien mengatakan ingin ke
kamar mandi terus

Do :
-

klien tampak lemas


klien diberikan obat deuretik
RR : 32x/menit
Klien terpasang kanul O2

2. Dasar pemikiran
Gagal jantung sering disebut gagal jantung kongesif adalah
ketidakmampuan jantung untuk tidak memompa darah yang adekuat untuk
memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi (Brunner dan
Sudarth, 2001 : 805). Menurut price (1995 : 585) patofisiologi gagal
jantung adalah kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium ciri khas
pada gagal jantung adalah akibat penyakit jantung iskemik yang
mengganggu

kemampuan

pengosongan

ventrikel

secara

efektif.

Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah yang


sekuncup,

dan

meningkatkan

volume

residu

ventrikel.

Dengan

meningkatnya EDV (volume akhir diastolik ventrikel), maka terjadi pula


peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri (LVEDP). Jika tekanan

hidrostatik dari anyaman kapiler paru melebihi tekanan onkotik vaskular,


maka akan terjadi transudasi cairan ke dalam intestisial. Jika kecepatan
transudasi cairan melebihi kecepatan drainase limfatik, maka akan terjadi
edema interstisial. Peningkatan tekanan lebih lanjut akan mengakibatkan
cairan merembes ke dalam alveoli dan terjadilah edema paru-paru.
Kegagalan ventrikel kiri memompakan darah yang mengandung
oksigen guna memenuhi kebutuhan tubuh berakibat pada penurunan
kardiak

output

akhirnya

peningkatan

pada

sirkulasi

paru-paru

menyebabkan cairan di dorong ke alveoli dan jaringan interstisium


menyebabkan dispnea, ortopnea, batuk yang terus menerus dan pada
auskultasi terdengar rales akibatnya klien akan mengalami kerusakan pada
gangguan atau pola napas tidak efektif (C. Long, 1996 : 581).
Klien dengan CHF pada umumnya mengalami kelemahan fisik
akibat tidak adekuatnya suplai oksigen. Sehingga aktivitas yang berlebihan
dapat memperberat kerja jantung dan memperburuk keadaan. Oleh karena
itu untuk membatu meringankan aktivitas klien dengan cara membatasi
aktivitas klien dengan dilakukan pemasangan kateter.
3. Tindakan keperawatan yang dilakukan
Pemasangan kateter
4. Prinsip-prinsip tindakan
a. Kegunaan :
1) Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih.
2) Untuk pengumpulan spesimen urine.
3) Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung
kemih.
4) Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama
pembedahan .
b. Perhatian :

1) Pelaksana harus memiliki pengetahuan dasar tentang anatomi dan


fisiologi dan sterilitas dalam rangka tindakan preventif memutus
rantai penyebaran infeksi nosokomial.
2) Cukup ketrampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan
dimaksud
3) Usahakan

jangan

sampai

menyinggung

perrasaan

pasien,

melakukan tindakan harus sopan, perlahan-lahan dan berhati-hati .


4) Diharapkan pasien telah menerima penjelasan yang cukup tentang
prosedur dan tujuan tindakan.
5) Pasien yang telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang
tindakan yang akan dilakukan pasien atau keluarga diharuskan
menandatangani informed consent
c. Persiapan Alat:
1) Tromol steril berisi
2) Gass steril
3) Deppers steril
4) Sarung tangan Steril
5) Kom
6) Neirbecken
7) Pinset anatomis
8) Doek.

9) Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan.


10) Tempat spesimen urine jika diperlukan .
11) Urobag
12) Perlak dan pengalasnya
13) Disposable spuit 10 cc
14) Selimut.
15) Aquadest 30 cc
16) Bethadine
17) Alkohol 70 %
d. Pelaksanaan :
1) Menyiapkan pasien : untuk pasien laki-laki dengan posisi
terlentang, sedang wanita dengan posisi litotomi.
2) Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan visualisasi yang baik.
3) Siapkan deppers dan kom, tuangkan bethadine secukupnya .
4) Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia
penderita.
5) Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupkan pada larutan
bethadine
6) Melakukan desinfeksi sebagai berikut :
7) Pada pasien laki-laki : Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau
hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang
panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan . desinfeksi
dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai
pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada
saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan
kanan memegang pinset dan dipertahankan tetap steril.

8) Pada pasien wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora,


desinfeksi dimulai dari atas ( clitoris ), meatus lalu kearah bawah
menuju rektum. Hal ini diulang 3 kali . deppers terakhir
ditinggalkan

diantara

labia

minora

dekat

clitoris

untuk

mempertahankan penampakan meatus urethra.


9) Pada pasien laki laki : masukan sebagian besar xylocain jelly ke
dalam uretra lalu tahan dengan tangan kiri
10) Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10
cm untuk penderita laki-laki dan 4 cm untuk penderita wanita.
11) Masukkan katether ke dalam meatus, bersamaan dengan itu
penderita diminta untuk menarik nafas dalam.
12) Untuk pasien laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi
tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra
externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya
secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas
dalam.Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan
berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan
kateterisasi dihentikan. Menaruh neirbecken di bawah pangkal
kateter

sebelum

urine

keluar.

Masukkan

kateter

sampai

pangkalnya.
13) Untuk pasien wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora
sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan
disertai penderita menarik nafas dalam . kaji kelancaran pemasukan
kateter, jika ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruh
nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar.
Masukkan kateter sampai pangkalnya.
14) Mengambil spesimen urine kalau perlu.
15) Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai
volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai.
16) Memfiksasi kateter : Pada penderita laki-laki kateter difiksasi
dengan plester pada abdomen.
17) Pada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal
paha.

18) Menempatkan urobag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah
dari kandung kemih.
19) Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita
yang meliputi : Hari tanggal dan jam pemasangan kateter, Tipe dan
ukuran kateter yang digunakan, Jumlah, warna, bau urine dan
kelainan-kelainan lain yang ditemukan, Nama terang dan tanda
tangan pemasang.
5. Analisa tindakan keperawatan
Menurut Arif Mansjoer (2000 : 435) penatalaksanaan gagal jantung
adalah

Meningkatkan

oksigenasi

dengan

pemberian

oksigen,

menurunkan O2 melalui istirahat atau pembatasan aktivitas dan Untuk


mengurangi oedema diberikan obat diuretik misalnya forosemid 40-80 mg.
Efek samping dari obat deuretik sendiri adalah sering kencing.
Oleh karena itu tindakan pemasangan kateter adalah tindakan yang sesuai
untung mengatasi pembatasan aktivitas klien.
6. Bahaya yang mungkin muncul
Bahaya yang mungkin muncul pada pemasangan kateter adalah terjadinya
rupture pada meatus uretra. Pemasangan kateter harus memasukan selang
kateter secara penuh kedalam penis sampai keluar urin dan yakin selang
sudang masuk sepenuhnya sebelum dilakukan penguncian untuk
menghindari terjadinya rupture.
7. Hasil yang didapat dan maknanya
Kateter berhasil dipasang dan keluar urin sedikit
8. Tindakan keperawatan yang lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi
diagnose keperawatan diatas
a. Observasi KU klien
b. Berikan tambahan O2 nasal kanul 3 liter permenit
c. Pertahankan tirah baring dan berikan posisi semi fowler

9. Evaluasi diri

Mahasiswa sudah memeperkenalkan diri, menyampaikan maksud dan


tujuan dilakukan pemasangan kateter dan mampu melakukan pemasangan
kateter sesuai denan prinsip-prinsip yang benar.
10. Kepustakaan
a. Brunner & Suddart. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
edisi 8. Jakarta : EGC
b. C. Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah, volume 2. Bandung :
Yayasan alumni pendidikan keperawatan
c. Doengoes E. Marlynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta :
EGC
d. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta
: FKUI
e. Price dan Wilson. 1995. Fisiologi Proses-proses Penyakit, Edisi 4,
Alih Bahasa Peter Anugrah. Jakarta : EGC