You are on page 1of 15

yuk membaca

macam-macam informasi yang ndak sengaja ditemukan


Thursday, February 16, 2012

Jenis dan Macam-macam Baterai


Hambatan terbesar pada teknologi gadget adalah batere. Ya, selama
50 tahun terakhir teknologi batere belum berubah banyak. Bayangkan
kenikmatan dan juga penghematan andaikata batere yang mendayai
iPhone 3G, notebook dan PDAphone kita mampu bekerja lebih dari satu
hari setelah diisi penuh satu kali saja. Baterai adalah salah satu dari
sumber energi dan sangat penting bagi penggunaan mobile Gadget.
Produsen Gadget mengunakan berbagai macam jenis baterai yang
berpengaruh terhadap harga, ukuran serta kemampuan gadget
tersebut.
Untuk jenis yang paling banyak digunakan saat ini, adalah baterai type
Lithium dan type AA. Untuk type AA biasanya digunakan baterai
Alkaline. Berbeda dengan baterai AA biasa, jenis Alkaline mempunyai
kapasitas lebih besar yang pada gadget digunakan untuk LCD dan
Flash. Namun, penggunaan baterai Alkaline sebenarnya lebih
disarankan untuk diganti dengan jenis NiMH yang mempunyai
kapasitas lebih besar lagi dibanding Alkaline dan mempunyai
kemampuan untuk di isi ulang. Sedangkan jenis baterai Lithium lebih
menguntungkan dari segi berat dan ukuran, karena gadget yang
menggunakan baterai type Lihtium biasanya didesign lebih compact
dan lebih ringan dibanding gadget dengan baterai type AA. Jika
diperhatikan pada baterai Alkaline kemungkinan tidak terlihat berapa
besar kapasitas yang tertulis pada baterai, sedangkan pada NiMH
terlihat jelas berapa besar kapasitas yang dapat disimpan oleh baterai
tersebut.
Ketika baterai memberikan power kepada peralatan elektronik yang
memerlukan energi yang besar seperti gadget digital, peralatan
komputer, portable music player sebuah baterai Alkaline hanya akan
memberikan sebagian dari kapasitasnya. Sedangkan pada baterai
NiMH atau NiCd, baterai tersebut memberikan lebih banyak
kapasitasnya dan besarnya mendekati kapasitas maksimum pada
peralatan elektronik yang rakus energi. Itu berarti pada gadget digital,

sebuah NiMH dengan kapasitas 1800 mAh dapat memberikan lebih


banyak foto dibanding sebuah baterai Alkaline yang mempunyai
kapasitas 2800 mAh.
Pada dasarnya semua batere bekerja dalam cara yang sama. Zat kimia
yang ada di dalam batere menghasilkan elektron-elektron, yang
berkumpul pada ujung negatif batere, dan mengubah energi kimia
menjadi energi listrik. Ketika kita memasang batere di dalam gadget,
electron-elektron mengalir ke seluruh gadget dan kembali ke ujung
positip batere, membuat sebuah siklus dan menyebabkan proses
kimiawi yang menghasilkan energi, yang membuat gadget Anda
bekerja. Kata mAh merupakan satuan kapasitas baterai isi ulang. 500
mAh berarti bila baterai dibebani 125 mA (mili amper), ia dapat
bertahan 4 jam. Atau 1 jam pada 500mA. Makin besar nilai mAh
sebuah baterai berarti ia akan dapat dipakai lebih lama sebelum perlu
di-charge ulang. Angka 1.2 V menyatakan besarnya voltase baterai.
Pastikan voltase baterai ini sama dengan spesifikasi Gadget Anda
Untuk battery baru, disarankan untuk melakukan proses charging (isi)
dan discharging (membuang) setrum 2 sampai 5 kali hingga battery
mencapai kapasitas maksimalnya.
Cara melakukan discharging dengan menggunakan baterai tersebut
sampai tidak bisa digunakan lagi di gadget. Pada alat charger tertentu,
disediakan fasilitas untuk discharge baterai. Biasanya fasilitas yang
disediakan pada alat ini cukup aman, karena proses pengosongan
hanya terjadi sampai batas yang aman.
Lalu mengapa ada berbagai jenis batere? Campuran kimia di dalam
batere-lah yang menyebabkan perbedaan tersebut. Berdasarkan
campuran itu pula, batere diklasifikasikan. Nah, kenalilah tipe batere
gadget Anda dan juga cara merawatnya agar dayanya awet.
1. Alkaline Adalah jenis batere yang paling umum ditemukan.
Batere yang harganya murah dan dayanya habis dalam sekali
pakai ini bisa mendayai Game Boy Anda selama 20 menit (atau
2,5 menit pada Sega Nomad). Kerapatan energi, jumlah daya
yang dikandung batere Alkaline tidak buruk, tetapi pada gadget
yang haus energi seperti MP3 player atau kamera digital, daya
batere ini cepat terkuras habis. Namun untuk gadget yang tidak
tinggi tuntutan dayanya, batere Alkaline bisa bertahan lama,

bahkan bisa bertahun-tahun. Sayangnya batere ini tidak bisa diisi


ulang.
2. Silver oxide atau batere silver-zinc menyediakan cukup banyak
daya dan tahan lama. Batere tipe ini dipakai dalam jam tangan
dan juga mainan anak-anak, maupun di torpedo dan kapal selam,
atau perangkat lain yang mementingkan kinerja, bukan harga.
Kelemahannya, perak yang digunakannya mahal jika ukuran
batere lebih besar daripada kancing yang dipakai pada gadget.
Selain itu, di akhir masa pakainya batere ini seringkali bocor dan
lelehan merkuri-nya berbahaya.
3. Batere Lead-acid terdiri dari dua tipe besar: batere pemicu
seperti yang ada di mobil Anda dan dirancang untuk lonjakan
daya singkat; dan batere bersiklus panjang yang memberikan
daya yang lebih rendah, lebih ajek dan digunakan di kapal, mobil
golf, dan sebagai daya cadangan di berbagai gadget.
4. Batere Alkaline Isi Ulang (rechargeable): Mirip batere
Alkaline biasa, tetapi dibuat agar bisa diisi ulang artinya
membuat elektron-elektron dipompa masuk kembali ke dalam
batere. Tidak sepeti batere Nickel metal hydride, batere ini tidak
habis dayanya bila tidak dipakai, tetapi kapasitasnya berkurang
setiap kali dhisi ulang dan tidak setinggi batere Alkaline biasa.
5. Nickel Cadmium, alias NiCad, Baterai ini merupakan jenis
tertua, paling tahan banting, namun berat dan volumenya paling
besar. Baterai jenis ini sudah tidak lagi banyak digunakan pada
gadget karena dianggap tidak praktis. Baterai NiCad sangat
rentan efek memori. Maksudnya, baterai hanya mengisi ke
tingkat dimana baterai terakhir di-discharge, akibat proses
akumulasi gas yang terperangkap dalam plat sel baterai. Jika
baterai di-discharge hingga 30 persen dan di recharge, maka
baterai hanya akan mengisi energi yang terpakai tadi (30 persen)
yang dilanjutkan dengan penyusutan volume "gas" yang
terperangkap. Cara terbaik untuk menghilangkan efek memori
dan membuang sisa gas terperangkap adalah dengan melakukan
"burping", atau mengkondisikannya. Maksudnya, menghabiskan
seluruh isi baterai pada gadget hingga benar-benar kamerea mati
dan melakukan re-charging. Selain itu kendati tidak dipakai,
batere akan kehabisan seluruh dayanya setelah sekitar 90 hari

6. Nickel metal hydride, alias NiMH, menggantikan kadmium


dalam NiCad dengan campuran yang membuatnya mampu
menahan lebih banyak energi (40%) pada ruang yang sama
dibandingkan NiCad. NiMH merupakan pengembangan dari NiCd,
dibanding NiCd dengan volume sama, kapasitasnya jauh lebih
besar. Namun, seperti halnya NiCd, NiMH juga rawan terhadap
memory effect meski tidak sebesar NiCd. Beberapa produsen
baterai bahkan menyatakan NiMH produknya bebas memory
effect. Seperti Sanyo eneloop, daya yang ada perlahan-lahan
akan habis walaupun batere tidak dipakai.Fenomena ini muncul
saat baterai yang belum habis dipakai sudah di-charge ulang. Bila
dilakukan berkali-kali baterai dapat kehilangan kapasitasnya dan
hanya mampu menampung sedikit daya saja sebelum dengan
cepat habis. Memory effect dapat dihilangkan dengan
mengosongkan baterai sampai habis sebelum mengisi ulang.
Setiap 10-15 kali siklus isi ulang baterai NiMH, kosongkanlah
baterai hingga habis sama sekali sebelum mengisi ulang. Hal ini
dilakukan untuk menghilangkan "bibit-bibit" memory effect yang
mungkin timbul. Jangan sekali-kali mengosongkan baterai dengan
bola lampu dan kabel hingga lampu mati. Ini akan dapat merusak
sel baterai yang paling lemah (reversal effect), dan pada
gilirannya merusak semua sel. Sisakan setidaknya 1V per sel
baterai, pantaulah terus-menerus karena voltase baterai akan
turun dengan tiba-tiba. Bila Anda tidak memiliki alat untuk itu,
lebih baik jangan lakukan. Mengosongkan dengan gadget adalah
cara terbaik, karena ambang batas aman pasti tidak kelebihan.
Beberapa produsen baterai NiMH menyatakan bahwa baterainya
bisa di recharge lebih dari 500 kali, namun bila baterai NiMH
telah mencapai 400 kali siklus isi ulang, perlu dipersiapkan untuk
penggantian baterai tersebut, karena walaupun masih bisa
digunakan, biasanya kapasitasnya sudah menurun dan berarti
masa pakai sebelum diisi ulang sudah berkurang.. Baterai Li-ion
dapat rusak dengan mendadak jika rangkaian di dalamnya rusak.
Untuk membuang baterai yang sudah tidak digunakan, sebaiknya
berhati-hati karena kandungan kadmiumnya bisa mencemari
tanah
7. Lithium ion alias Li-ion menjadi batere standar pada gadget
masa kini. Dibandingkan batere dengan bahan nikel, Li-Ion lebih
efisien energi dan tidak memiliki efek memori, tetapi juga lebih
mahal harganya. Namun batere tipe ini tidak boleh dibuang
sembarangan karena bisa meledak (walaupun hanya terjadi

beberapa kali per satu juta batere). Dibandingkan NiMH, siklus isi
ulang batere Li-ion lebih pendek setengahnya ( 1000 vs. 500
kali). Ada kelemahan lain. Jika daya batere benar-benar habis dan
voltase-nya turun di bawah ambang tertentu, kapasitas energi
batere Li-ion akan menciut secara permanen. Karena itulah
batere dirancang untuk mati jika dipasang setelah waktu
tertentu. Biasanya, jika Anda punya gadget dengan batere
bertipe isi ulang, tipe Li-Ion-lah yang dipakai. Jika tidak, mungkin
baterenya berjenis Li-Poly.
8. Lithium ion poly atau lithium poly atau li-poly (Li-Po),
berasal dari lithium ion tetapi menggunakan elektrolit berbasis
polimer gel. Karena itu namanya menjadi lithium ion poly. Batere
tipe ini lebih bandel (tidak mudah meledak) dibandingkan Li-ion
standar, lebih ringan dan bisa dibentuk sesuka hati. Anda akan
semakin sering menjumpainya sebagai pengganti lithium-ion di
laptop dan gadget lain. Kelemahannya, batere ini lebih cepat
habis dibandingkan Li-ion biasa.
9. Lithium iron phosphate (Li-Fe) merupakan perkembangan
dari lithium ion yang menggantikan campuran oksida kobalt
dalam li-ion. Tipe ini lebih kecil kemungkinannya meledak dan
dapat melepaskan kapasitas dan terisi ulang sangat cepat.
Namun sampai saat ini lithium iron phosphate masih mahal dan
rumit pembuatannya. Mau tahu di mana batere ini ada? Antara
lain di laptop OLPC XO dan mobil hibrida. Self Discharge Salah
satu yang perlu diperhatikan pada penggunaan baterai charge
NiCad dan NiMH adalah 'self discharge', yaitu berkurangnya
kapasitas yang terdapat pada battery walaupun tidak digunakan.
Jumlah/persentasi self discharge pada masing-masing baterai
berbeda-beda, tapi bisa diperkirakan sekitar beberapa persen (1
sampai 3%) perhari dari kapasitas maksimumnya dan pada suhu
70 derajat Fahrenheit. Penempatan baterai NiMH pada
temperator yang lebih rendah akan sedikit membantu
mengurangi efek self discharge. Ada yang menyebutkan apabila
baterai NiMH dibekukan (dingin) dalam 1 bulan sisa kapasitas
baterai masih ada 90% sejak terakhir di recharge. Tapi sebelum
digunakan, baterai NiMH yang dibekukan tersebut harus
dikembalikan dulu pada suhu ruangan yang normal. Jadi setelah
kita men-charge baterai NiMH, sebaiknya disimpan pada suhu
yang dingin untuk mengurangi efek self dischargenya.
Disarankan untuk me-recharge lagi baterai yang sudah disimpan

dalam jangka waktu yang lama sebelum di gunakan. Berbeda


dengan baterai Alkaline, jika baterai Alkaline disimpan pada suhu
ruang normal, efek self discharge yang terjadi kurang dari 2% per
tahun. Sehingga walaupun disimpan dalam jangka waktu yang
lama, kapasitas baterai Alkaline nyaris tidak akan berkurang dari
semula. Sebagai catatan, jika baterai Alkaline disimpan pada
suhu 85 derajat Fahrenheit, efek self discharge hanya sekitar 5%
pertahun, tapi pada 100 derajat Fahrenheit, efek self discharge
baterai Alkalin sekitar 25% pertahun. Jadi apabila kita tinggal
pada lokasi yang cuacanya sangat panas, disarankan untuk
menyimpan baterai Alkalin pada ruang pendingin untuk
menghindari efek selft discharge, walaupun persentasinya sangat
kecil sekali dibandingkan efek self discharge pada baterai NiMH
dalam kondisi suhu yang sama. Baterai Lithium juga hampir sama
dengan baterai Alkaline, efek self dischargenya sangat kecil
dibandingkan dengan baterai NiMH, sehingga jika kita charge
penuh dan disimpan pada suhu ruang normal pada waktu yang
lama, kapasitanya juga tidak akan banyak berkurang. Tapi sampai
saat ini untuk ketiga jenis baterai tersebut (Alkaline, NiMH, dan
Lithium) baterai NiMH harganya memang lebih murah dibanding
yang lainnya. Jadi dipertimbangkan saja menggunakan baterai
jenis yang mana dan disesuaikan dengan peralatan yang akan
digunakan. Charging Time Ada berbagai macam jenis alat charger
yang digunakan untuk mengisi ulang baterai NiMH atau NiCd
yang kapasitasnya habis. Alat-alat tersebut mempunyai berbagai
macam
sensor
untuk
membatasi
kelebihan
kapasitas
(overcharge) yang dapat mengakibatkan sel baterai tersebut
rusak dan kemampuan penyimpanannya berkurang. Sensor
dalam bentuk timer, biasanya ini sudah disesuaikan satu paket
dengan jenis baterainya, sehingga dari awal charging sampai
waktu tertentu, alat charger ini dapat menghentikan pengisian
sehingga menghindari overcharge. Ada juga dalam bentuk
microprocessor yang biasanya disebut oleh produsen sebagai
smart rapid charger, yaitu dapat menghitung dengan tepat
berapa sisa kapasitas baterai sebelum alat tersebut berhenti
men-charge baterai. Kadang alat ini juga dilengkapi dengan
detektor suhu baterai yang berfungsi juga untuk membantu
mengendalikan charging baterai. Trickle charge, adalah
kemampuan alat charger untuk memberikan ampere secara
sedikit-sedikit ke baterai NiMH akibat dari efek self discharge
(keterangan tentang self discharger diatas). Kemampuan ini
berguna untuk menjaga agar baterai selalu dalam kondisi penuh

dan siap pakai, walaupun dibiarkan dalam jangka waktu yang


lama di alat charger. Terdapat juga alat charge yang manual,
untuk alat ini sebenarnya hampir sama dengan alat charge yang
menggunakan sensor, tapi bedanya perlu diperhitungkan dengan
tepat sehingga tidak terjadi overcharge, karena alat ini akan
men-charge terus selama belum dimatikan, jadi tidak ada
indikator baterai sudah penuh. Namun apabila charging timenya
tepat dan tidak melebihi hitungan maksimum, maka penggunaan
alat ini cukup aman, tapi biasanya arus yang diberikan cukup
kecil (untuk menghindari overcharge) sehingga diperlukan waktu
lama agar baterai bisa terisi penuh.
Untuk charging Time pada masing-masing jenis alat charge
sebenarnya mempunyai perhitungan dasar yang dapat dihitung
dengan rumus ideal sebagai berikut :
mahB = Kapasitas Maksimum Baterai
mAhC = Bersarnya Amper perjam yang diberikan charger
th = Total Waktu dalam Jam
th = mAhB / mAhC
Jadi, jika baterai 1800 mAh dan Ampre Chargernya 100 mAh, berarti :
1800 / 100 = 18 jam Waktu yang diperlukan untuk chargingnya pada
kondisi ideal adalah 18 jam.
Penting ! Hindari untuk membawa baterai AA NiMH / NiCd dan
disimpan pada kantong baju atau celana (atau dibawa dengan
sembarangan), pada keadaan tertentu baterai tersebut dapat
berhubungan singkat satu dengan yang lain dan itu dapat
menyebabkan panas dan bahkan menyulut api didalam kantong. (Wib)
Sumber : http://wib1975.multiply.com/journal/item/1/Batteray

Perbedaan Antara Sensor Gambar CCD dan


CMOS di Kamera Digital
fotovideoAug 21, 2011
News0 Comments

Ada sebuah pertanyaan yang lumayan sering ditanyakan kepada saya: Apa sih bedanya
sensor CCD dan CMOS pada kamera digital? Kamera mana yang lebih bagus, yang memakai
sensor CCD atau sensor CMOS? Pihak produsen kamera memang kerap tidak
menjelaskan secara lengkap perbedaan dari kedua jenis sensor gambar tersebut. Sebelum
membahas lebih lanjut, terlebih dahulu saya sampaikan bahwa saat ini, baik sensor CCD
maupun CMOS mampu memberikan hasil foto yang sama baiknya. Perbedaan utama
keduanya hanyalah masalah teknologi.
Kamera digital sekarang ini sudah menjadi barang umum mengikuti penurunan harga jualnya.
Salah satu penggerak di belakang penurunan harga adalah dengan diperkenalkannya sensor
CMOS. Sensor CMOS sangat jauh lebih murah untuk dirakit dibandingkan sensor CCD.

Baik sensor CCD (Charge-Coupled Device) maupun CMOS (Complimentary Metal-Oxide


Semiconductor) berfungsi sama yaitu mengubah cahaya menjadi elektron. Untuk mengetahui
cara sensor bekerja kita harus mengetahui prinsip kerja sel surya. Anggap saja sensor yang
digunakan di kamera digital seperti memiliki ribuan bahkan jutaan sel surya yang kecil dalam
bentuk matrik dua dimensi. Masing-masing sel akan mentransform cahaya dari sebagian kecil
gambar yang ditangkap menjadi elektron. Kedua sensor tersebut melakukan pekerjaan tersebut
dengan berbagai macam teknologi yang ada.

Sensor CCD (Charge-Coupled Device)

Sensor CMOS (Complimentary Metal-Oxide Semiconductor)


Langkah berikut adalah membaca nilai dari setiap sel di dalam gambar. Dalam kamera bersensor
CCD, nilai tersebut dikirimkan ke dalam sebuah chip dan sebuah konverter analog ke digital
mengubah setiap nilai pixel menjadi nilai digital. Dalam kamera bersensor CMOS, ada beberapa
transistor dalam setiap pixel yang memperkuat dan memindahkan elektron dengan menggunakan
kabel. Sensor CMOS lebih fleksibel karena membaca setiap pixel secara individual.
Sensor CCD memerlukan proses pembuatan secara khusus untuk menciptakan kemampuan
memindahkan elektron ke chip tanpa distorsi. Dalam kata lain, sensor CCD menjadi lebih baik
kualitasnya dalam ketajaman dan sensitivitas cahaya. Lain halnya, chip sensor CMOS dibuat
dengan cara yang lebih tradisional dengan cara yang sama untuk membuat mikroprosesor.
Karena proses pembuatannya berbeda, ada beberapa perbedaan mendasar dari sensor CCD dan
CMOS:
Sensor CCD, seperti yang disebutkan di atas, kualitasnya tinggi, gambarnya low-noise. Sensor
CMOS lebih besar kemungkinan untuk noise.
Sensitivitas CMOS lebih rendah karena setiap pixel terdapat beberapa transistor yang saling
berdekatan. Banyak foton mengenai transistor dibandingkan dioda-foto.
Sensor CMOS menggunakan sumber daya listrik yang lebih kecil.
Sensor CCD menggunakan listrik yang lebih besar, kurang lebih 100 kali lebih besar

dibandingkan sensor CMOS.


Chip CMOS dapat difabrikasi dengan cara produksi mikroprosesor yang umum sehingga lebih
murah dibandingkan sensor CCD.
Sensor CCD telah diproduksi massal dalam jangka waktu yang lama sehingga lebih matang.
Kualitasnya lebih tinggi dan lebih banyak pixelnya.
Berdasarkan perbedaan tersebut, dapat lihat bahwa sensor CCD lebih banyak digunakan di
kamera yang fokus pada gambar yang high-quality dengan pixel yang besar dan sensitivitas
cahaya yang baik. Sensor CMOS lebih ke kualitas di bawahnya, resolusi dan sensitivitas cahaya
yang lebih rendah. Akan tetapi pada saat ini sensor CMOS telah berkembang hampir menyamai
kemampuan sensor CCD. Kamera yang menggunakan sensor CMOS biasanya lebih murah dan
umur baterainya lebih lama.
Saat ini banyak kamera digital murah yang menggunakan sensor CMOS daripada CCD. Apa
kelemahan dan kekurangan CMOS dibanding CCD? CMOS memiliki keunggulan dimana
ongkos produksi murah sehingga harga kamera lebih terjangkau. Sedangkan CCD memiliki
keunggulan dimana sensor lebih peka cahaya, jadi pada kondisi redup (sore/ malam) tanpa
bantuan lampu kilat masih bisa mengkap obyek dengan baik, sedangkan pada CMOS sangat
buram.

CCD dibuat dengan lebih sensitif dan dengan responsibility tinggi. itu menyebabkan ISO yang di
gunakan paling rendah 200. dengan kontras yang tinggi membuat sangat noise pada ISO tinggi.
Sedangkan CMOS, tidak sesensitif CCD, dengan power yang rendah menghasilkan gambar yang
lebih soft. Dengan kontras yang tidak begitu tinggi, membuat gambar masih terlihat baik di ISO
yang tinggi.
Lebih lanjut mengenai perbedaan keduanya, inilah plus minus sensor CCD dan CMOS saat ini :

Sensor CCD
Plus :
matang secara teknologi
desain sensor sederhana (lebih murah)
sensitivitas tinggi (termasuk dynamic range)
tiap piksel punya kinerja yang sama (uniform)
Minus :
desain sistem keseluruhan (CCD plus ADC) jadi lebih rumit dan boros daya
kecepatan proses keseluruhan lebih lambat dibanding CMOS
sensitif terhadap smearing atau blooming (kebocoran piksel) saat menangkap cahaya terang
Sensor CMOS
Plus :
praktis, keping sensor sudah termasuk rangkaian ADC (camera on a chip)
hemat daya berkat integrasi sistem
kecepatan proses responsif (berkat parralel readout structure)
tiap piksel punya transistor sendiri sehingga terhindar dari masalah smearing atau blooming
Minus :
proses pematangan teknologi (untuk menyamai kualitas CCD perlu biaya besar)
piksel dengan transistor didalamnya menurunkan sensitivitas piksel (area penerima cahaya
menjadi berkurang)
piksel yang mampu mengeluarkan tegangan sendiri kurang baik dalam hal keseragaman kinerja
(uniformity)
Kamera-kamera yang menggunakan sensor CCD: Nikon D60, Fujifilm FinePix S5 Pro, Nikon
D80, Nikon D40X, Canon PowerShot G9, Canon PowerShot Pro1, Ricoh GR Digital, dll
Kamera-kamera yang menggunakan sensor CMOS: Nikon D2Xs, Nikon D3, Nikon D300,
Canon EOS 450D, Canon EOS-1D Mark III, Canon EOS-1Ds Mark III, Canon EOS 5D, Pentax
K20D, Samsung GX-20, Sigma SD14, dll

Prinsip Kerja Sistem Sensor CCD

Prinsip Kerja Sistem Sensor CMOS


Pilih yang mana
Baik sensor CCD maupun CMOS memang berbeda total secara teknologi dan desain. CCD
punya keunggulan dalam hal sensitivitas meski berpotensi terganggu saat berhadapan dengan
cahaya terang. CMOS unggul dalam hal kecepatan hingga lebih cocok dipakai di kamera dengan
fps (burst) tinggi. Namun keduanya sudah didesain untuk sanggup memberikan hasil foto yang
berkualitas tinggi. Jadi fokuskan saja pilihan pada hal-hal lain seperti memilih aplikasi yang mau
digunakan, memilih lensa yang berkualitas dan melatih teknik memotret yang baik. In the end, it
will always be the image, content and the story it tells whatever camera you use Happy
Shooting!

Fitur dan Perbandingan Kinerja