You are on page 1of 16

LAPORAN KELOMPOK V

MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN HIDROTHORAX

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes HANG TUAH PEKANBARU
2013

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Ucapkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun Laporan Makalah
yang berjudul Asuhan Keperawatan Hidrothorax ini tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan laporan makalah ini, kami banyak mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh
sebab itu, kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Ns. Dewi Kurnia
Putri, S.Kep. yang telah memberikan kami binbingannya dan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, semoga
bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami
harapkan untuk penyempurnaan laporan selanjutnya.
Akhir kata semoga laporan ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Pekanbaru, 22 Desember 2013


Penyusun

(Kelompok V)

PENYUSUN :

1.
2.
3.
4.

DOLA ULTI SARI


VIVI NOVITA JUNIATI P
ANI SURYANI
TRISNA

BAB I

12031009
12031048
12031005
12031045

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Paru merupakan organ penting bagi tubuh yang mempunyai fungsi utama
sebagai alat pernafasan (respirasi). Proses pernafasan yaitu pengambilan oksigen
dari udara luar dan pengeluaran CO2 dari paru paru. Sistem pernafasan membawa
udara melalui hidung ke dalam alveoli dirongga hidung udara dibersihkan dari debu
ukuran 2 10 u, dipanaskan dan dilembabkan oleh bulu dan lendir hidung sebelum
masuk ke trakea. Debu yang lolos ditangkap oleh lendir dari sel-sel mukosa di
bronkus dan bronkioli, cilia set mukosa ini bergerak berirama mendorong kotoran
keluar dengan kecepatan 16 mm/menit. Proses ventilasi (keluar masuknya udara)
didukung oleh unsur-unsur jalan nafas, jaringan paru, rongga thorax, otot natas dan
saraf nafas. Proses ventilasi dapat terganggu jika ada sumbatan cairan di dalam
rongga paru. Efusi pleura merupakan suatu gejala yang serius dan dapat mengancam
jiwa penderita. Hidrothorax yaitu suatu keadaan terdapatnya cairan dengan jumlah
berlebihan dalam rongga pleura. Hidrothorax dapat di sebabkan antara lain karena
tuberkulosis, neo plasma atau karsinoma, gagal jantung, luka tusuk pnemonia,dan
infeksi virus maupun bakteri.
Berdasarkan catatan medik Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang jumlah
prevalansi penderita efusi plura jenis hidrothorax semakin bertambah setiap
tahunnya yaitu terdapat 133 penderita pada tahun 2001.Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui dan mencari gambaran lebih lanjut megenai karakteristik dan
faktor penyebab kejadian efusi pleura hidrothorax pada penderita yang di rawat di
Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang,meliputi umur,jenis kelamin tempat
tinggal,lama di rawat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
menggunakan pendekatan cross sectional,sedangkan metode yang di gunakan
adalah metode survei,sampel dalam penelitian ini adalah semua penderita yang
didiagnosa efusi pleura dan di rawat di Rumah Sakit Dokter Kariadi
Semarang.Teknik pengumpulan data di lakukan dengan wawancara menggunakan
kuisioner. Dalam penelitian ini di dapatkan 18 penderita efusi pleura,distribusi
jumlah

penderita

perempuan

12

orang(66,7)dan

penderita

laki-laki6

orang(33,3%).Sebagian besar penderita yaitu 13 orang(72,2%)berasal dari luar kota


Semarang,dan

orang

(27,8%)dari

kota

Semarang.Sebanyak

10

orang(55,6%)penderita efusi pleura memerlukan perawatan antara 1-10 hari.


Penyebab efusi pleura terbanyak dalam penelitian ini adalah karena neoplasma yaitu
di dapatkan 5 penderita(27,8%),kemudian DHF(Dengue Haemoragic Fever)4
penderita,TBC

penderita,gagal

ginjal

penderita,gagal

jantung

penderita,pnemonia 1 penderita dan SLE (Lupus eritematosus sistematik)1


penderita.Dan 18 penderita efusi pleura di temukan penyebab terbanyak adalah
neoplasma,yang terjadi pada usia dewasa (>14tahun)yang di sebabkan karena
mempunyai riwayat penyakit kronis
2. Tujuan
a. Tujuan umum
1. Mengetahui dan memahami efusi pleura (Hidrothorax)
2. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada pasien hydrothorax
b. Tujuan khusus
1. Mengetahui dan memahami pengertian hidrothorax
2. Mengetahui dan memahami penyebab hydrothorax
3. Mengetahui dan memahami intervensi hydrothorax
4. Mahasiswa mampu memanfaatkan makalah ini
3. Manfaat
a. Mahasiswa bisa mengetahui tentang hydrothorax
b. Mahasiswa bisa mengetahui fatofiologi hydrothorax
c. Mahasiswa dapat mengetahui intervensi hidrothorax
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Hydrothorax merupakan suatu keadaan dimana terdapat penumpukkan
cairan serusa yang ada di rongga pleura. (Baughman C Diane, 2000)

Paru berada dalam rongga pleura yang tekanannya selalu negatif selama siklus nafas
(tekanan udara di luar dianggap = 0) Paru mengembang sampai menempel pleura.
Bila tekanan rongga pleura jadi positif, paru-paru akan collaps. Hal ini terjadi pada :
a. Pneumothorax karena luka tusuk dari luar,
b. Pneumothorax karena pecahnya blebs, caverne TBC atau pecahnya bronkus
pada trauma,
c. Hidro/hemato-thoraks. pleural effusion
Cairan pleura berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler pleura, ruang
interstitial paru, kelenjar getah bening intratoraks, pembuluh darah intratoraks dan
rongga peritoneum. Jumlah cairan pleura dipengaruhi oleh perbedaan tekanan antara
pembuluh-pembuluh kapiler pleura dengan rongga pleura sesuai hukum Starling
serta kemampuan eliminasi cairan oleh system penyaliran limfatik pleura parietal.
Tekanan pleura merupakan cermin tekanan di dalam rongga torhaks. Perbedaan
tekanan yang ditimbulkan oleh pleura berperan penting dalam proses respirasi.
Karakteristik pleura seperti ketebalan, komponen selular serta faktor-faktor fisika
dan kimiawi penting diketahui sebagai dasar pemahaman patofisiologi kelainan
pleura dan gangguan proses respirasi. (Brunner & Suddarth, 2001)
2. Anatomi dan Fisiologi
a.

Anatomi
Paru-paru terletak pada rongga dada. Masing-masing paru berbentuk
kerucut. Paru kanan dibagi oleh dua buah fisura kedalam tiga lobus atas,
tengah dan bawah. Paru kiri dibagi oleh sebuah tisuda ke dalam dua lobus atas
dan bawah.
Permukaan datar paru menghadap ke tengah rongga dada atau kavum
mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hillus paruparu dibungkus oleh selaput yang tipis disebut Pleura.
Pleura merupakan membran tipis, transparan yang menutupi paru dalam
dua lapisan : Lapisan viseral, yang dekat dengan permukaan paru dan lapisan
parietal menutupi permukaan dalam dari dinding dada. Kedua lapisan tersebut

berlanjut pada radix paru. Rongga pleura adalah ruang diantara kedua lapisan
tersebut. (Sherwood, 2002)
b.

Fisiologi
Sistem pernafasan atau disebut juga sistem respirasi yang berarti
bernafas lagi mempunyai peran atau fungsi menyediakan oksigen (O 2) serta
mengeluarkan carbon dioksida (CO2) dari tubuh. Fungsi penyediaan O2 serta
pengeluaran CO2 merupakan fungsi yang vital bagi kehidupan. (Sherwood,
2002)
Proses respirasi berlangsung beberapa tahap antara lain :
1) Ventilasi
Adalah proses pengeluaran udara ke dan dari dalam paru. Proses ini terdiri
atas 2 tahap :
Inspirasi yaitu pergerakan udara dari luar ke dalam paru. Inspirasi terjadi
dengan adanya kontraksi otot diafragma dan interkostalis eksterna yang
menyebabkan volume thorax membesar sehingga tekanan intra alveolar
menurun dan udara masuk ke dalam paru.
Ekspirasi yaitu pergerakan udara dari dalam ke luar paru yang terjadi bila
otot-otot expirasi relaxasi sehingga volume thorax mengecil yang secara
otomatis menekan intra pleura dan volume paru mengecil dan tekanan intra
alveola menurun sehingga udara keluar dari paru.
2) Pertukaran gas di dalam alveol dan darah.
3) Transport gas
Yaitu perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru
dengan bantuan darah (aliran darah).
4) Pertukaran gas antara darah dengan sel-sel jaringan.Metabolisme
penggunaan O2 di dalam sel serta pembuatan CO2 yang juga disebut
pernafasan seluler.
Setiap saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari
cukup untuk memisahkan kedua pleura, maka kelebihan tersebut akan dipompa

keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga
pleura ke dalam mediastinum. Permukaan superior dari diafragma dan
permukaan lateral dari pleura parietis disamping adanya keseimbangan antara
produksi oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura viseralis . Oleh karena
itu ruang pleura disebut sebagai ruang potensial. Karena ruang ini normalnya
begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. (Sherwood,
2002)
c.

Etiologi
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi menjadi
transudat, eksudat dan hemoragis
1) Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal
jantung kiri), indroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis kepatis),
syndroma vena cava superior, tumor.
2) Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, preumonia dan sebagainya, tumor,
infarkparu, radiasi, penyakit kolagen.
3) Efusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark paru,
tuberkulosis. (Brunner & Suddarth, 2001)

d.

Patofisiologi
Hidrothorak berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam
kavum

pleura.

Kemungkinan

penyebab

hidrothorax

antara

lain

(1)

penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura, (2) gagal jantung yang
menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi
sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga
pleura (3) sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma, jadi juga
memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan (4) infeksi atau setiap
penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura, yang
memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma
dan cairan ke dalam rongga secara cepat. (Brunner & Suddarth, 2001)

e.

Manisfestasi klinis
Gejala yang paling sering ditemukan adalah sesak nafas dan nyeri dada
(biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau
bernafas dalam). Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama
sekali. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: batuk, cegukan, pernafasan
yang cepat, dan nyeri perut. Sekitar 25% penderita hydrothorax keganasan
tidak mengalami keluhan apapun pada saat diagnosis ditegakkan. Gejala
lainnya (4): Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena
pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak,
penderita akan sesak napas. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti
demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus),
subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak. (Brunner &
Suddarth, 2001)

B.

ASUHAN KEPERAWATAN
Pemberian Asuhan Keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan
hubungan kerjasama dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat
kesehatan yang optimal. (Canpernito, 2000:2).
Perawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik tersebut
yaitu proses keperawatan. Proses keperewatan dipakai untuk membantu perawat dalam
melakukan praktek keperawatan secara sistematis dalam mengatasi masalah
keperawatan yang ada, dimana keempat komponennya saling mempengaruhi satu sama

lain yaitu : pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi yang membentuk suatu
mata rantai.
1. Pengkajian
Pengumpulan Data
Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :
a.

Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin,
alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai,
status pendidikan dan pekerjaan pasien.

b.

Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari
pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada pasien dengan effusi
pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri
pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada
saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif.

c.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada dada, berat
badan menurun dan sebagainya. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu
muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau
menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut.

d.

Riwayat Penyakit Dahulu


Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC
paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan sebagainya. Hal ini
diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi.

e.

Riwayat Penyakit Keluarga


Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru, asma,
TB paru dan lain sebagainya.

f.

Riwayat Psikososial

Meliputi

perasaan

pasien

terhadap

penyakitnya,

bagaimana

cara

mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang


dilakukan terhadap dirinya.
g.

Pengkajian Pola-Pola Fungsi Kesehatan


1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
2) Pola nutrisi dan metabolisme
3) Pola eliminasi
4) Pola aktivitas dan latihan
5) Pola tidur dan istirahat
6) Pola hubungan dan peran
7) Pola persepsi dan konsep diri
8) Pola sensori dan kognitif
9) Pola reproduksi seksual
10) Pola penanggulangan stress
11) Pola tata nilai dan kepercayaan

h.

pemeriksaan fisik
1) Status Kesehatan Umum
Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien
secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap
dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien untuk
mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Perlu juga
dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien.
2) Sistem Respirasi
Inspeksi pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit
mencembung, iga mendatar, ruang antar iga melebar, pergerakan
pernafasan menurun. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra
lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. RR cenderung
meningkat dan Px biasanya dyspneu.

Fremitus tokal menurun terutama untuk hidrothorax yang jumlah cairannya


> 250 cc. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding
dada yang tertinggal pada dada yang sakit.
Suara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya. Bila
cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura, maka akan terdapat batas
atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical
penderita dalam posisi duduk. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux.
Garis ini paling jelas di bagian depan dada, kurang jelas di punggung.
Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Pada posisi duduk
cairan makin ke atas makin tipis, dan dibaliknya ada kompresi atelektasis
dari parenkian paru, mungkin saja akan ditemukan tanda-tanda auskultasi
dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Ditambah lagi dengan
tanda i e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka
akan terdengar suara e sengau, yang disebut egofoni.
3) Sistem Cardiovasculer
Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis, normal berada
pada ICS 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. Pemeriksaan
ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. Palpasi
untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan
kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung, perlu juga memeriksa
adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. Perkusi untuk menentukan batas
jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. Hal ini bertujuan untuk
menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. Auskultasi
untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah
bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah
murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah.
4) Sistem Neurologis
Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga
diperlukan pemeriksaan GCS. Adakah composmentis atau somnolen atau

comma. refleks patologis, dan bagaimana dengan refleks fisiologisnya.


Sistem Muskuloskeletal
Pada inspeksi perlu diperhatikan adakah edema peritibial, palpasi
pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta
dengan pemerikasaan capillary refil time. Dengan inspeksi dan palpasi
dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri
dan kanan.
5) Sistem Integumen
Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene, warna ada tidaknya
lesi pada kulit, pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis
akibat adanya kegagalan sistem transport O2. Pada palpasi perlu diperiksa
mengenai kehangatan kulit (dingin, hangat, demam). Kemudian texture
kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi
seseorang.
i.

Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan medis dan laboratorium
1. Pemeriksaan Radiologi
Pada fluoroskopi maupun foto thorax PA cairan yang kurang dari 300 cc
tidak bisa terlihat. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa
penumpukkan kostofrenikus. Pada effusi pleura sub pulmonal, meski
cairan pleura lebih dari 300 cc, frenicocostalis tampak tumpul, diafragma
kelihatan meninggi. Untuk memastikan dilakukan dengan foto thorax
lateral dari sisi yang sakit (lateral dekubitus) ini akan memberikan hasil
yang memuaskan bila cairan pleura sedikit
2. Biopsi Pleura
Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan
melalui biopsi jalur percutaneus. Biopsi ini digunakan untuk mengetahui
adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit (biasanya kasus pleurisy
tuberculosa dan tumor pleura)

j.

Pemeriksaan Laboratorium

a. Bakteriologis
Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah Ecoli, klebsiecla, pseudomonas, enterobacter. Pada pleuritis TB kultur cairan
terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai
20 %.
2. Diagnosa Keperawatan
Penentuan diagnosa keperawatan harus berdasarkan analisa data sari hasil
pengkajian, maka diagnosa keperawatan yang ditemukan di kelompokkan menjadi
diagnosa aktual, potensial dan kemungkinan.
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan effusi
pleura antara lain :
1.

Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi


paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura.

2.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.


sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, penurunan nafsu makan
akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen

3.

Nyeri berhubungan dengan proses tindakan drainase

4.

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak
nafas serta perubahan suasana lingkungan

5.

Resiko infeksi

6.

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai


oksigen dengan kebutuhan, dyspneu setelah beraktifitas

7.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan sehubungan dengan


kurang terpajang informasi
BAB III
PENUTUP

a.

Kesimpulan
Paru dapat kolaps sebagian/total sehubungan dengan pengumpulan udara
(pneumotorak), darah (hemotorak), atau cairan lain (efusi pleura) pada area
pleura/potensial. Perubahan tekanan intratorakal yang ditimbulkan oleh
peningkatan volume area pleural menurunkan kapasitas paru, menyebabkan
distress pernapasan dan masalah pertukaran gas, dan mengahsilkan tegangan
pada struktur mediastinal yang dapat mengganggu jantung dan siorkulasi
sistemik. Pneumotorak dapat terjadi karena traumati (terbuka atau tertutup)
atau spontan. Oleh karena itu penanganan pada pasien hidrotorak atau efusi
pleura harus ditangani dengan sebaiknya.

b.

Saran
1. Efusi pleura (hydrothorax) sebaiknya di tangani dengan cepat, karena akan
menyebabkan klien sesak nafas
2. Untuk para pembaca diharapkan untuk lebih menjaga organ-organ tubuh
yang penting, karena pleura tidak hanya disebabkan oleh factor internal
tetapi juga eksternal seperti cidera dada.
3. Untuk para pembaca diharapkan untuk lebih banyak membaca kata-kata
medis, supaya mempermudah pembaca untuk memahami makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah (Volume 2). Jakarta : EGC
Doenges, Marrilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosa Keperawatan Definisi dan klasifikasi. Jakarta : EGC

Moorhead, Sue. 2004. Nursing Outcomes Classification (NIC). United States of American :
Mosby Elsevier.
McCloskey, Joanne. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC). United Stated of
American : Mosby Elsevier.
Sherwood, L. (2002). Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem (Edisi II). Jakarta : EGC