You are on page 1of 82

PENGGUNAAN

ANTIBIOTIK DI BIDANG
ORTHOPAEDI DAN
TRAUMATOLOGI
Oleh :
Angga Fiandana, dr.
Erfan Nasrullah, dr.
Febrian Brahmana, dr.
Hudaya Nikmatullah, dr.

Pembimbing :
Prof. Dr. Paul Tahalele, dr., FCTS, FINACS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA


RSUD DR SUTOMO
2014

PENDAHULUAN
Secara umum, berdasarkan ditemukannya kuman

penyebab infeksi atau tidak, maka terapi antibiotik


dapat dibagi menjadi tiga, yakni :
-1 Terapi Empirik
-2 Terapi Definitif
-3 Terapi Profilaktif

Terapi Empirik
Yaitu

penggunaan antibiotik yang memiliki


spektrum luas pada keadaan infeksi yang belum
dapat dipastikan kuman.

(Yeap,2006)

Terapi Definitif
Yaitu

penggunaan antibiotik berdasarkan


hasil pemeriksaan mikrobiologis yang sudah
pasti, jenis kuman maupun spektrum
kepekaannya terhadap antibiotik.

(Yeap,2006)

Terapi Profilaktif
Antibiotik diberikan untuk penderita yang belum
terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang
besar untuk mendapat infeksi, atau apabila terkena
infeksi dapat menimbulkan dampak buruk untuk
penderita.

(Yeap,2006)

Pemilihan Antibiotik Rasional


Suatu pengobatan dikatakan rasional bila memenuhi

beberapa kriteria tertentu. Kriteria ini mungkin akan


bervariasi tergantung interpretasi masingmasing,
tetapi paling tidak akan mencakup :
a. Ketepatan indikasi
b. Ketepatan pemilihan obat
c. Ketepatan cara pakai dan dosis obat
d. Ketepatan penilaian terhadap kondisi pasien dan
atau tindak lanjut pengobatan

Jenis Luka Operasi


Kelas

I, luka bersih. Luka operasi yang tidak


terinfeksi, tanpa ada inflamasi. Organ pernafasan,
gastrointestinal, genital dan saluran kemih tidak
tersentuh.
Kelas II, luka bersih terkontaminasi. Luka di saluran
nafas, gastro intestinal, genital atau saluran kemih
yang masih terkontrol kondisinya tetapi tanpa
kontaminasi atau kebocoran organ.
Kelas III, luka terkontaminasi. Luka terbuka, luka
akibat kecelakaan atau operasi yang diakibatkan oleh
kebocoran gastrointestinal.
Kelas IV, luka kotor atau terinfeksi. Luka lama dengan
jaringan mati dan mengalami infeksi atau perforasi
usus yang diyakini kuman pathogen sudah ada
sebelum operasi dan dapat menyebabkan infeksi
paska operasi
(Mangram et al., 1999)

Peta kuman di rsud dr. soetomo

Golongan penicillin

Ampicillin
Rute

Oral, iv, im
Dosis
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 - 100
mg/kg BB sehari diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Pada
infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi.
Terapi parenteral pada dewasa dan anak-anak dengan berat
badan lebih dari 20 kg. Infeksi saluran pernafasan, kulit dan
jaringan kulit : 250 - 500 mg setiap 6 jam. Infeksi saluran
pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang. Infeksi
saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 - 50 mg/kg BB
sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.

Farmakokinetik
Ampicillin
menghentikan
perkembangbiakan
bakteri
dengan
menghalangi bakteri dari pembentukan dinding
yang mengelilingi mereka. Dinding dibutuhkan
untuk melindungi bakteri dari lingkungan dan
untuk menjaga isi sel. Bakteri tak dapat
bertahan tanpa dinding sel. Ampicillin afektif
melawan
banayak
bakteri
termasuk
H.Influenzae, N Gonorrhoea, E. Coli,
Salmonella, , Shigella, Streptococci. (Wheeles,
2013)

Farmakodinamik
Ampicillin
berikatan dengan enzim DD-transpeptidase
inhibitor kompetitif yang memperantarai dinding
peptidoglikan bakteri
ketidakseimbangan tekanan osmotis, serta
pengaktifan hidrolase dan autolysins yang
mencerna dinding peptidoglikan yang sudah
terbentuk sebelumnya
sitolisis

Farmakodinamik
Namun Beta-laktam (dan Penicillin) hanya

efektif terhadap bakteri gram positif, sebab


keberadaan
membran
terluar
(outer
membran) yang terdapat pada bakteri gram
negatif membuatnya tak mampu menembus
dinding peptidoglikan

Penggunaan dalam Orthopaedi


Ampicillin sering digunakan sebagai antibiotik
profylaxis pada operasi penggantian sendi.
Ampicillin sulbactam juga sering digunakan pada
kasus osteomielitis yang disebabkan gangren
diabeticum.
(Faggs, Jewes, 2005)

amoxicillin
Rute

Oral, iv
Dosis
Dewasa, remaja, dan anak-anak (berat> = 40 kg):
500 mg setiap 12 jam atau 250 mg setiap 8 jam.
Anak-anak dan bayi> 3 bulan (berat <40 kg): 20
mg / kg / hari, diberikan dalam dosis sama setiap
8 jam atau 25 mg / kg / hari diberikan dalam
dosis sama setiap 12 jam.
Neonatus dan bayi <= 3 bulan: dosis maksimum
yang disarankan adalah 30 mg / kg / hari,
diberikan dalam dosis sama setiap 12 jam.

Farmakokinetik
Amoxicillin diserap secara baik sekali oleh saluran
pencernaan.
Kadar bermakna didalam serum darah dicapai 1 jam
setelah pemberian per-oral. Kadar puncak didalam
serum darah 5,3 mg/ml dicapai 1,5-2 jam setelah
pemberian per-oral. Kurang lebih 60% pemberian
per-oral akan diekskresikan melalui urin dalam 6
jam.
(Health Central, 2014)

Farmakodinamik
Amoxicillin,
merupakan
antibiotika
berspektrum luas yang mempunyai daya kerja
bakterisida.
Amoxicillin,
aktif
terhadap
bakteri gram positif maupun bakteri gram
negatif.
Bakteri gram positif: Streptococcus pyogenes, Streptococcus viridan, Streptococcus

faecalis, Diplococcus pnemoniae, Corynebacterium sp,Staphylococcus aureus, Clostridium


sp, Bacillus anthracis.
Bakteri gram negatif: Neisseira gonorrhoeae, Neisseriameningitidis, Haemophillus
influenzae, Bordetella pertussis, Escherichia coli, Salmonella sp, Proteus mirabillis, Brucella
sp.
(Health Central, 2014)

Penggunaan dalam Orthopaedi


Amoxicillin sering dikombinasi bersama dengan
gentamicin dalam terapi post operative dalam
bidang Orthopaedi. Amoxiciliin juga beberapa kali
digunakan pada terapi oral pasien yang dipasang
External Fiksasi.
(Faggs, Jewes, 2005)

PENICILLIN G
Rute

Im,iv
Dosis
50.000-100.000 unit / kg / hari dalam dosis terbagi
setiap 8 jam
(Drugbank, 2013)

Farmakokinetik
Cepat diserap setelah kedua intramuskular dan

injeksi subkutan.
Tingkat darah awal setelah pemberian parenteral
tinggi tapi sementara. Penyerapan oral dalam
puasa, manusia sehat hanya sekitar 15-30% karena
sangat rentan terhadap hidrolisis asam-katalis.
(Drugbank, 2013)

Farmakodinamik
penisilin G mengikat penisilin binding protein
(PBP) terletak di dalam dinding sel bakteri,
menghambat tahap ketiga dan terakhir dari sintesis
dinding sel bakteri.
Sel lisis

Farmakodinamik
Penisilin

G memiliki aktivitas in vitro


terhadap bakteri aerob dan anaerob gram
positif dan gram negatif.
Aktivitas bakterisida penisilin G hasil dari
penghambatan sintesis dinding sel dan
dimediasi melalui penisilin G mengikat
protein yang mengikat penisilin (PBP).
Penisilin G adalah stabil terhadap hidrolisis
oleh berbagai beta-laktamase, termasuk
penicillinases, dan cephalosporinases dan
diperpanjang spektrum beta-laktamase.
(Drugbank, 2013)

Penggunaan dalam Orthopaedi


Penicillin G sering digunakan pada kasus
Osteomielitis terutama yang disebabkan oleh gram
positiv.
(Faggs, Jewes, 2005)

NAFCILIN
Rute

Im, iv
Dosis
Dosis Dewasa biasa untuk Osteomyelitis
2 g IV setiap 4 jam selama 4 sampai 6 minggu ,
tergantung pada sifat dan keparahan infeksi
Osteomyelitis kronis mungkin memerlukan terapi
antibiotik tambahan oral, mungkin sampai 6 bulan

Dosis Pediatric biasa untuk Infeksi Bakteri

0 sampai 4 minggu , berat lahir 1199 g atau kurang : 25


mg / kg IV atau IM setiap 12 jam
7 hari atau kurang :
berat lahir 1200-2000 g : 25 mg / kg IV atau IM setiap 12
jam
berat lahir 2001 g atau lebih : 25 mg / kg IV atau IM setiap
8 jam
8 hari sampai dengan 1 bulan :
berat lahir 1200-2000 g : 25 mg / kg IV atau IM setiap 8
jam
berat lahir 2001 g atau lebih : 25 sampai 35 mg / kg IV atau
IM setiap 6 jam
1 bulan sampai 18 tahun :
Ringan sampai sedang infeksi : 12,5-25 mg / kg IV atau IM
setiap 6 jam
Infeksi berat : 100 sampai 200 mg / kg / hari IV dalam
dosis terbagi setiap 4 sampai 6 jam
Dosis maksimum : 12 g / hari. (Katzung, Bertram, 2011)

Farmakokinetik
sekitar 30 % dari nafcillin diekskresikan sebagai obat

tidak berubah dalam urin normal , dan sebagian


besar dalam enam jam pertama .
Nafcillin terutama dihilangkan dengan rute nonrenal
, inaktivasi yaitu hati dan ekskresi dalam empedu .
Nafcillin mengikat protein serum , terutama albumin
.

(Katzung, Bertram, 2011)

Farmakodinamik
Diekskresikan

sebagian kecil melalui ginjal ->


Hemodialisis tidak mempercepat laju pembersihan
nafcillin dari darah .
Sebuah studi yang menilai efek dari sirosis dan obstruksi
bilier ekstrahepatik pada manusia menunjukkan bahwa
clearance plasma nafcillin secara signifikan menurun
pada pasien dengan disfungsi hati .
Pada pasien ini dengan sirosis dan obstruksi
ekstrahepatik , ekskresi nafcillin dalam urin secara
signifikan meningkat dari sekitar 30-50 % dari dosis yang
diberikan.
(Katzung, Bertram, 2011)

Penggunaan dalam Orthopaedi


Nafcillin

sering digunakan pada terapi septic


arthritis maupun penyakit infeksi pada sendi yang
lainnya karena konsentrasinya yang tinggi pada
cairan sinovial.

(Faggs, Jewes, 2005)

Cephalosporin Gen I

Sefazolin
Dosis

Dosis IV untuk pasien dewasa adalah 0,5 2 gram


setiap 8 jam. penyesuaian dosis harus
diberlakukan pada keadaan gangguan fungsi ginjal
( Katzung et al., 2009).

Farmakokinetik.
Sefazolin banyak digunakan secara parenteral. Setelah

pemberian melalui intravena sebanyak 1 gram, kadar


puncak sefazolin adalah 90-120 mcg/ml.
Sefazolin juga dapat diberikan secara intramuskular.
Sefazolin diekskresikan melalui ginjal
( Katzung et al., 2009).

Pada jalur intravena, sefazolin memiliki waktu paruh 1.5

jam, lebih pendek dibandingkan dengan jalur


intramuskular dan lebih lebih panjang bila dibandingkan
dengan generasi sefalosporin yang lain. Setidaknya 74%
-86% sefazolin terikat dengan protein serum
(Kusaba., 2009).

Farmakodinamik.
Kadar sefazolin dalam tulang mencapai 3.2 10.6

mcg/g yang diatas nilai ambang batas minimal untuk


melawan bakteri gram positif
(Veena et al., 2007).
Sefazolin menghambat sintesis dinding sel bakteri
(Kusaba., 2009).

Penggunaan Dalam Bidang Orthopedi.


Sefazolin 1 gram setiap 8 jam secara intravena

diberikan saat penderita datang ke Unit


Gawat Darurat sebagai terapi antibiotik untuk
fraktur terbuka derajat I dan II.
Untuk fraktur terbuka derajat III sefazolin
digunakan
bersama
dengan
golongan
aminoglikosida
(Bucholz et al., 2006).

Penggunaan Dalam Bidang Orthopedi.


Untuk penderita osteomielitis akut maupun kronik,

bakteri penyebab tersering adalah Stafilokokus


aureus dan streptokokus. Pada keadaan ini bisa
digunakan sefazolin sebagai terapi empiris.
Dosis yang digunakan 1 gram setiap 6-8 jam
(Chapman et al., 2001)

Penggunaan Dalam Bidang Orthopedi.


Pemberian sefazolin 1 gram dosis tunggal

secara pre-operatif direkomendasikan untuk


pasien yang akan menjalani prosedur bedah
tulang belakang bagian lumbar (Rubinstein et
al., 1994).
Pada prosedur fusi tulang belakang bagian
lumbal yang menggunakan instrumen,
sefazolin 1-2 gram, tergantung berat badan,
yang diberikan 30 menit sebelum insisi
menurunkan angka infeksi setelah operasi.
(Hellbusch et al., 2008).

Cephalosporin Gen II

sefuroksim
Rute Pemberian.

Sefuroksim bisa diberikan secara oral maupun


parenteral. Pemberian secara intramuskular sebaiknya
dihindari karena menimbulkan nyeri
(Katzung et al., 2009).

Dosis

Dosis oral sefuroksim untuk pasien dewasa adalah 1015 mg/kg/hari dalam 3-4 dosis terbagi. Untuk pasien
anak sebesar 20-40 mg/kgBB/hari sampai maksimal
1g/hari dalam 3-4 dosis terbagi.
(Katzung et al., 2009).

Farmakokinetik.
Kadar sefuroksim dalam serum sebesar 75-

125 mcg/ml Setelah pemberian 1 gram


sefuroksim secara intravena
(Katzung et al., 2009).

Waktu paruh berkisar 1,5 jam, kadar obat

yang berikatan dengan protein serum sekitar


33% dan diekskresikan melalui ginjal.
Pada sediaan oral, akan terjadi peningkatan
penyerapan sekitar 10% bila diminum setelah
makan
(Vree et al., 1990).

Farmakokinetik.
Sebanyak lebih dari 95% sefuroksim yang diberikan

melalui intravena akan dikeluarkan melalui filtrasi


glomerular dan sekresi tubulus pada 24 jam setelah
pemberian
(Grayson et al., 2010)

Farmakodinamik.
Sefuroksim memiliki kemampuan menembus sawar

darah otak
(Katzung et al., 2009).
Sefuroksim memberikan bioavailabilitas jaringan
dan serum yang tinggi setelah pemberian dosis
tunggal
(Purva et al., 2013).
Sefuroksim mencapai kadar efektif pada jaringan
lemak dan otot yang diambil pada daerah amputasi
ekstremitas.
Pada pasien dewasa, setelah pemberian 750 mg
dosis intravena, kadar di tulang mencapai 8 mcg/g.

Farmakodinamik.
pada penggunaan secara oral, kadar obat dalam

tulang mencapai 20-30% kadar obat dalam serum


(Grayson et al., 2010).

Tidak ada perbedaan bermakna antara kadar

sefuroksim dalam
hematoma dan otot

tulang,

jaringan

(Lovering et al., 1997).

lemak,

Penggunaan di Bidang Orthopedi


Sefuroksim 1.5 gram intravena setiap 8 jam selama

24 jam direkomendasikan sebagai antibiotik


profilaksis pada kasus fraktur terbuka derajat I dan
II.
(Thomas et al., 2000).

Pada prosedur fiksasi internal untuk patah tulang

tertutup, pemberian sefuroksim 1 gram intravena 1530 menit sebelum insisi dilanjutkan dengan 1 gram
intravena setiap 12 jam selama 24 jam setelah
operasi dapat memberikan hasil klinis yang bagus.
(Purva et al., 2013).

Penggunaan di Bidang Orthopedi


Sefuroksim dosis tunggal 1.5 gram intravena pre-

operatif dan 750 mg setiap 8 jam post operatif


menurunkan insidensi infeksi pasca operasi fiksasi
internal untuk fraktur dan penggantian sendi
(Yeap et al., 2006).

Sefuroksim 1.5 gram dosis tunggal yang diberikan

sebelum operasi secara signifikan menurunkan


risiko infeksi luka operasi setelah prosedur
laminotomi lumbar dan disectomi pada herniasi
diskus
(Petignat et al., 2008).

Penggunaan di Bidang Orthopedi


Pada kasus penggantian sendi total, sefuroksim

dicampurkan dengan semen tulang digunakan untuk


mencegah infeksi prostetik yang dalam. Sefuroksim
stabil saat proses polimerasi eksotermik yang
menghasilkan panas dari semen dan dikeluarkan
dengan konsentrasi yang cukup tinggi untuk
menghambat pertumbuhan kebanyakan organisme
penyebab infeksi setelah
(Suhail et al., 2008).

Cephalosporin Gen III

Seftazidim
Rute Pemberian

Penggunaan seftazidim melalui jalur parenteral


Dosis.
Pemakaian seftazidim pada pasien dewasa dosis
berkisar 1-2 gram setiap 8 jam sedangkan pada
pasien anak bekisar 75-150 mg/kg/hari dengan 2-3
dosis terbagi
(Katzung et al., 2009).

Farmakokinetik dan farmakodinamik.


Pemberian 1 gram secara intravena menghasilkan

kadar serum 60-140 mcg/ml dan memiliki waktu


paruh 1.7 jam.
Seftazidim memiliki penetrasi ke cairan tubuh,
jaringan dan tulang yang cukup baik.
Seftazidim diekskresi oleh ginjal sehingga pada
pasien
dengan
gangguan
fungsi
ginjal
membutuhkan penyesuaian dosis
(Katzung et al., 2009).

Penggunaan Dalam Bidang Orthopedi


Osteomielitis akut maupun kronik yang disebabkan

oleh kuman pseudomonas dapat dilawan dengan


menggunakan seftazidim secara intravena dengan
dosis 2 gram setiap 8 jam
(Chapman et al., 2001).

Seftriaxon
Rute Pemberian

Injeksi intravena lambat selama 2-4 menit. Melalui


infuse 30 menit, atau melalui injeksi intramuscular
dalam
Dosis
Dosis umum untuk dewasa adalah 1-2 g perhari dalam
satu dosis atau dibagi menjadi dua dosis. Pada infeksi
berat bisa diberikan sampai 4 g per hari. Dosis pada anak
adalah 20-50 mg/kg/hari. Untuk profilaksis bedah, 1 g
ceftriaxon bisa diberikan 0,5-2 jam sebelum operasi. 2 g
disarankan sebelum pembedahan colorectal.
(Sweetman, 2009)

Farmakokinetik
Ceftriaxone menunjukkan pola nonlinear dose-

dependent karena terikat pada protein sekitar 8595%.


Rata-rata konsentrasi puncak plasma sekitar 40-80
mcg/ml dilaporkan dicapai seteah pemberian 2 jam
secara intramuscular 0,5 dan 1 g.
Waktu paruh ceftriaxone tidak tergantung pada
dosis dan bervariasi antara 6-9 jam.
Waktu paruh tidak berubah signifikan pada
gangguan ginjal sedang namun dapat memanjang
pada gangguan ginjal berat terutama bila disertai
gangguan hepar.

Farmakodinamik
Ceftriaxone memiliki aktivitas bakterisidal yang

dihasilan dari hambatan pada pembentukan


dinding sel.
Ceftriaxone stabil terhadap kebanyakan spectrum
luas -lactamase.
(Sweetman, 2009)

Penggunaan Dalam bidang Orthopedi


Profilaksis bedah, Terapi empiris pada kasus infeksi

tulang
(Sweetman, 2009)

Aminoglikosida

Gentamisin
Rute Pemberian
Gentamisin
normalnya
diberikan
melalui
intramuscular namun dapat diberikan intravena bila
pemberian intramuscular tidak memungkinkan
misalnya pada pasien syok atau luka bakar.
Saat diberikan intravena harus diberikan lambat 23 menit karena pemberian yang cepat meningkatkan
resiko terjadinya konsentrasi neurotoxic.
(EMC, 2011)

Gentamicin
Dosis
Dosis terkait dengan berat penyakit, umur, dan
fungsi ginjal dari pasien.
Dosis harian pada anak, remaja dan dewasa dengan
fungsi ginjal normal adalah 3-6 mg/kg/ per hari
dalam 1 atau dua dosis pemberian.
Pada gangguan ginjal, dosis harian harus
diturunkan dan disesuiakn dengan hasil tes fungsi
ginjal.
(EMC, 2011)

Farmakokinetik
Volume distribusi Gentamisin equivalent dengan

komponen air ekstraseluler.


Komposisi air dalam tubuh bervariasi berdasarkan
umur, oleh karena itu volume distribusi gentamisin
per kg berbeda-beda sesuai usia.

Farmakodinamik
Gentamisin memiliki sifat bakterisidal.
Obat

ini bekerja dengan menghambat sintesis


protein bakteri melalui ikatan irreversible dengan
subunit 30s ribosom.
Secara umum gentamisin efektif digunakan pada
banyak bakteri aerob gram negative dan beberapa
aerob gram positif.
Gentamisin tidak efektif untuk jamur, virus,dan
kebanyakan bakteri anaerobic.

Penggunaan Dalam bidang Orthopedi


Gentamisin digunakan sebagai profilaksis bedah,

terapi empiris infeksi, dan bahan tambahan pada


implan
(Sweetman, 2009)

Amikasin
Rute Pemberian

Injeksi Amikasin Sulfat dapat diberikan intramuscular


maupun intravena
(Sweetman, 2009).

Dosis

Dewasa dan anak dapat diberikan 15 mg/kg/hari dalam


dosis terbagi tiap 8 atau 12 jam.
Pada kasus yang mengancam nyawa, dosis dapat
ditingkatkan menjadi maksimum 500 mg tiap 8 jam.
Terapi sebaiknya tidak lebih dari 7-10 hari dan
pemberian dosis total pada dewasa tidak lebih dari 15 g
(EMC, 2013).

Farmakodinamik
Amikacin adalah semi-synthetic aminoglikosida

turunan dari Kanamycin A. Obat ini efektif untuk


organism Gram-negative termasuk pseudomonas,
Escherichia coli dan beberapa organism Grampositive seperti Staphylococcus aureus.
Antibiotik
golongan
aminoglikosida
adalah
antibiotic bakterisidal. Amikasin bekerja dengan
berikatan secara irreversible dengan 30S subunits
ribosom
(EMC, 2013).

Penggunaan Dalam bidang Orthopedi


Amikasin digunakan sebagai profilaksis bedah,
terapi empiris infeksi
(Sweetman, 2009)

glikopeptida

vancomicin
Rute

Oral dan parenteral


Dosis
Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa
adalah 30mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3
dosis. Namun regimen yang biasa diberikan
pada pasien dewasa adalah 1 gram per 12 jam.
Pada penderita ganguan ginjal obat ini tetap
dapat diberikan dengan dosis 1 gram per
minggu.

Farmakodinamik
Vancomicin
kuat pada ujung terminal D-Ala-D-Ala pentapeptida peptidoglikan
penyusun komponen dinding bakteri.
hambat proses glikosilase
mencegah pembentukan,
peptidoglikan

pemanjangan,

dinding sel menjadi rapuh dan sel mudah lisis.

dan

penyilangan

Farmakodinamik
Vancomycin

tergolong bakterisida gram positif


terutama pada konsentrasi obat 0,5-10 g/mL dan
efektif untuk bakteri staphilococcus yang resisten
terhadap antibiotik golongan beta laktam, nafcilin,
maupun meticilin.
Vancomycin juga bekerja secara sinergis dengan
antibiotik golomgan aminoglikosida khususnya
gentamycin dan streptomycin.

Penggunaan dalam Bidang Orthopaedi


Indikasi utama penggunaan vancomycin adalah

kasus
infeksi
yang
disebabkan
bakteri
Staphylococus yang resisten terhadap metisilin
(MRSA).
Obat ini juga efektif diberikan pada infeksi akibat
pemakaian peralatan medis termasuk implant dan
prostesis.
Vancomycin
yang
dikombinasikan
dengan
ceftriaxon atau cefotaxime direkomendasikan
untuk penanganan meningitis yang dicurigai
disebabkan oleh pneumococcus yang resisten
terhadap penicilin.

Quinolon

Siprofloksasin
Rute

Intravena, oral, topikal (tetes mata, tetes telinga)


Dosis
Dosis ciprofloxacin pada orang dewasa adalah 250750 mg per 12 jam.
Ciprofloksasin tidak direkomendasikan untuk
penderita yang memiliki riwayat hipersensitivitas,
pada pasien anak karena dapat menggangu
pertumbuhan tulang dan kartilago, pada wanita
hamil dan menyusui, dan pada penderita epilepsi
atau riwayat kejang sebelumnya.

Farmakokinetik
Ciprofloksasin merupakan merupakan salah satu

antimikroba sintetik derivat quinolone. antimikroba


ini bersifat bakterisida berspektrum luas dan bekerja
dengan
menghambat aktifitas DNA gyrase
(topoisomerase II).
Ciprofloksasin efektif terhadap bakteri gram negatif
maupun gram positif.
Obat ini juga efektif terhadap bakteri yang resisten
terhadap antibiotika lain misalnya aminoglikosida,
penisilin, sefalosporin dan tetrasiklin.

Penggunaan di Bidang Orthopedi


Ciprofloksasin digunakan sebagai pilihan terapi

osteomielitis kronis yang memerlukan antimikroba


dalam jangka waktu panjang dengan agen infeksi
Staphylococcus aureus atau bakteri basil gram
negatif.
Dosis
yang
direkomendasikan
adalah
ciproflokasasin 500 mg setiap 12 jam atau 750 mg
per 12 jam pada kondisi yang lebih berat. Untuk
mendapatkan
kadar
yang
adekuat
pada
osteomielitis maka pemberian tidak boleh kurang
1500 mg sehari.

Penggunaan di Bidang Orthopedi


Ciprofloksasi juga diindikasikan pada infeksi tulang dan

sendi.
Kasus infeksi tulang dan sendi yang kronis biasanya
membutuhkan membutuhkan terapi 4-6 minggu atau
lebih. Dosis yang diberikan 500 mg per 12 jam untuk
kasus infeksi ringan sampai sedang dan ditingkatkan
menjadi 750 mg tiap 12 jam untuk infeksi berat.
Dosis harus dikurangi pada pasien yang mengalami
gangguan fungsi ginjal.
Lama pengobatan tergantung berat ringannya kasus.
Untuk infeksi akut ciproflokasasin dapat diberikan
selama 5-10 hari dan dilanjutkan hingga paling sedikit 3
hari sesudah gejala klinik hilang.

levofloxacin
Rute

Intravena, per oral


Dosis
500 mg perhari
Farmakokinetik
Mekanisme kerja levofloksasin yang utama adalah
melalui penghambatan DNA gyrase bakteri (DNA
topoisomerase II), sehingga terjadi penghambatan
replikasi dan transkripsi DNA bakteri. Namun obat
ini juga bekerja dengan menghambat enxim
topoisomerase IV.

Farmakodinamik
Setelah pemberian dosis 500 mg sekali sehari secara

kontinyu, konsentrasi plasma maksimum dan


minimum levofloksasin berturut-turut 6,4 g/mL
dan 0,6 g/mL.
Levofloksasin didistribusikan secara cepat dan luas
dalam blister fluid. Levofloksasin terikat pada
protein serum kira-kira 24-38%.

Farmakodinamik
Levofloksasin juga mempunyai penetrasi yang baik

ke dalam jaringan paru. Kadar levofloksasin di


dalam jaringan paru pada umumnya 2-5 kali lebih
tinggi dibandingkan dengan kadar dalam plasma
dan berkisar antara 2,4 sampai 11,3 g/g selama 24
jam setelah pemberian tunggal dosis oral 500 mg.
Levofloksasin memiliki waktu paruh yang lebih
panjang sehingga cukup diperlukan satu kali dosis
sehari

Daftar pustaka
Brinton, L.L. 2006. Goodman & Gilman's The Pharmacological Basis Of Therapeutics, Ed

11th. McGraw Hill. New York


Buchholz RW, Court-Brown CM., Heckman JD, Tornet P. Rockwood and Green's
Fractures in Adults. 7th ed. Volume 2. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins,
2010.
Chapman MW, Lane JM, Mann RA, et al. Chapmans Orthopaedic Surgery. 3rd edition.
2001. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia.
Drugbank, 2013. Penicillin G. Website: http://www.drugs.com/dosage/nafcillin.html.
Diakses pada 10 Januari 2014.
Faggs, Jewes, 2005. Protocol For Antibiotic Use In Orthopaedic Department. Website:
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&ved=0CDMQFjAB&url=http%3A
%2F%2Fwww.dbh.nhs.uk%2FLibrary%2FGeneral_Documents%2FProtocol%2520for
%2520Antibiotic%2520Use%2520in
%2520Orthopaedics.pdf&ei=Wx3TUrLJCoOHrgeZzYCgDQ&usg=AFQjCNFovf0c9KlX38
1cQ5EG7koOAQAvhg&sig2=DF7UrJ9bWNC3A0e3LY-5dA&bvm=bv.59026428,d.bmk.
Diakses pada 13 Januari 2014
Ganiswarna. 1981. Farmakologi dan Terapi, Ed 2. Fakultas Kedokteran-Universitas
Indonesia. Jakarta
Grayson ML, Crowe SM, McCarthy MS, Mills J, Mouton JW, Norrby SR, Paterson DL,
Pfaller MA. Kucers The Use Of Antibiotics vol 1. 2010. Taylor & Francis Group.
Health
Central,
2014.
Amoxicillin
Clinical
Pharmacology.
Website:
http://www.healthcentral.com/druglibrary/408/amoxil-clinical_pharmacology.html.
Diakses pada 12 Januari 2014

Hellbusch LC, Helzer-Julin M, Doran SE, et al. Single-dose vs. multiple

doses antibiotic prophylaxis in instrumented lumbar fusion. Surg Neurol.


Dec 2008;70(6): 622-627.
Katzung, B.G. 2006. Basic & Clinical Pharmacology, Ed10 th. McGraw
Hill. New York
Katzung, Bertram, 2011. Nafcillin. Basic And Clinical Pharmacology 12th
edition. Page 611-612
Kusaba T. Safety and Efficacy of Cefazolin Sodium in the Management of
Bacterial Infection and in surgical Prophylaxis. Clinical Medicine:
Therapeutics. 2009;1: 1607-1615.
Lovering AM, Perez J, Bowker KE, Reeves DS, MacGowan AP, Bannister
G. A Comparison of the penetration of cefuroxime and cephamandole
into bone, Fat and Haematoma fluid in patients undergoing total hip
replacement. Journal of Antimicrobial Chemotheraphy.1997;40(1):99104.
Mycek, M.J. 1990. Farmakologi Ulasan Bergambar. Widya Medika.
Jakarta.
Petignat C, Francioli P, Harbarth S, et al. Cefuroxime prophylaxis is
effective in noninstrumented sspine surgery: a double-blind, placebocontrolled study. Spine (Phila Pa 1976). 2008;33(18): 1919-1924.Suhail
A, Gunalan, Sabarul A, Shahril Y, Salasawati H, Masbah O. In Vitro
Analysis of Antimicrobial Properties of Cefuroxime Impregnated Bone
Cement. Malaysian Orthopaedic Journal. 2008;2(2): 1-5

Purva M, Vivek T, Kamran F, Vijay S, Neetu J, Nidhi B, Satyapriya S,

Misra MC. Implementation of a short course of prophylactic antibiotic


treatment for prevention of postoperative infection in clean orthopaedic
surgeries. Indian J Med Res. Jan 2013;137: 111-116.
Rubinstein E, Findler G, Amit P, Shaked I. Perioperative prophylactic
cephazolin in spinal surgery . A double-blind, placebo-controlled trial. J
Bone Joint Surg Br. Jan 1994;76B(1): 99-102.
Solomon L, Warwick D, Nayagam S. 2010. Apley's system of
orthopaedics & fractures. London: Hodder Arnold.
Thomas PR, Richard EB, Christopher GM. AO Principles of Fracture
Management. 2000. AO Publishing. Switzerland.
Tjay, Tan Hoan & Kirana Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting, Ed 5. PT.
Elex Media Komputindo. Jakarta.
Veena V, Kelly MS, Michael HY. Selecting Anti-infective Agents for the
Treatment of Bone Infections. Pharmacology Update 2007;30(9).
Vree T B, Hekster YA., 1990. Pharmacokinetics and tissue consentrations
of cefuroxime. Pharm Weekbl (sci) 1990;12(6A): 262-7.
Wheeles,
2013.
Ampicillin.
Website:
http://www.wheelessonline.com/ortho/ampicillin_amcil_omnipen.
Diakses pada 11 Januari 2014
Yeap JS, Lim JW, Vergis M, Au yeung PS, Chiu CK, singh H. Prophylactic
Antibiotics in orthopaedic Surgery: Guidelines and Practice. Med J
Malaysia. June 2006;61(2): 181-188.

Terima kasih