You are on page 1of 87

farmakognosi

Asal mula kata ini (C.A. Seydler maha


siswa kedokteran di Jerman 1815; Johan
Adam Smith dalam bukunya Lehrbuch
der Materia Medica terbit 1811 dua tahun
setelah ybs meninggal)
Bahasa Yunani: pharmakon (obat/racun)
dan gignosco (pengetahuan); gnosis
Pengetahuan mengenai obat
1

FARMAKOGNOSI-Pengertian luas
Ilmu yang mencangkup pengetahuan
mengenai sejarah, distribusi, budidaya,
pengumpulan, seleksi, penyiapan,
perdagangan (niaga), identifikasi,
evaluasi, pengawetan, dan penggunaan
obat serta senyawa ekonomi yang
mempengaruhi kesehatan manusia dan
hewan.
2

Obat Bahan Alam


(HERBAL MEDICINE)

BAHAN BAKU OBAT ASAL ALAM


TUMBUHAN
HEWAN
MINERAL
TITIK BERAT asal TUMBUHAN
3

TUMBUHAN UNTUK FARMASI

BAHAN OBAT (OBA, NUTRACEUTICAL)


SUMBER SENYAWA AKTIF BIOLOGIK
SUMBER BAHAN PEMBANTU
SUMBER PRAZAT/PRECURSOR
INSPIRATOR STRUKTUR KIMIA OBAT
BAHAN BAKU KOSMETIKA
BAHAN MAKANAN

OBAT BAHAN ALAM


SEMUA OBAT YANG DIBUAT DARI
BAHAN ALAM YANG DALAM PROSES
PEMBUATANNYA BELUM SAMPAI
PADA
ISOLAT ATAU SENYAWA MURNI
MAUPUN HASIL PENGEMBANGAN
DARI ISOLAT TERSEBUT.
5

KELOMPOK OBAT BAHAN ALAM


(herbal medicine)
JAMU/OBAT TRADISIONAL

(AMAN, KLAIM KHASIATNYA EMPIRIS (TURUN


TEMURUN, MEMENUHI SYARAT MUTU)

OBAT HERBAL TERSTANDAR

(AMAN, KLAIM KHASIAT UJI PRA KLINIK,


STANDARDISASI BAHAN BAKU)

FITOFARMAKA

(AMAN, KLAIM KHASIAT UJI pra KLINIK, dan UJI


KLINIK, STANDARDISASI BAHAN BAKU)
6

SEJARAH PENGGUNAAN
TUMBUHAN SEBAGAI OBAT
SEUMUR PERADABAN MANUSIA
LATAR BELAKANG:
1. COBA-COBA
2. LA THEORIE DES SIGNATURES

OBAT TRADISIONAL (BEBERAPA


ISTILAH)
a. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang
berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut,
yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. (menurut Permenkes
246/Menkes/Per/V/1990).
Obat tradisional berlisensi adalah obat tradisional asing
yang diproduksi oleh suatu industri obat tradisional (lOT)
atas persetujuan dari perusahaan yang bersangkutan
dengan memakai merek dan nama dagang perusahaan
tersebut.

c. lndustri Obat Tradisional (lOT) adalah perusahaan OT


dengan total aset di atas Rp 600 juta tidak termasuk harga
tanah dan bangunan.

d. Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) adalah


perusahaan OT dengan total aset di bawah Rp 600 juta tidak
termasuk harga tanah dan bangunan.
e. Jamu adalah nama asli Indonesia untuk obat tradisional. Ada
beberapa macam jenis usaha secara perorangan, misalnya Usaha
Jamu racikan, Usaha Jamu Gendong atau, Jamu Bagolan. Tulisan
JAMU di dalam lingkaran hitam digunakan sebagai penanda
produk obat tradisional pada umumnya.
f. Sediaan herbal adalah sediaan OT yang bahan dasarnya berupa
ekstrak. Merupakan jembatan antara jamu dengan fitofarmaka.
g. Fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia
atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang
berlaku. Fitofarmaka setaraf dengan obat modern. (Permenkes
nomor 76OIMenkesIPerIlXIl 992).

. Fitoterapi sama dengan fitofarmaka.


I. Herbal medicine merupakan istilah Anglo-Saxon untuk
obat tradisional.
j. Homoeopati adalah sistem pengobatan dengan
menggunakan bahan obat dalam bentuk pengenceran yang
besar, jadi kadar bahan obat sangat kecil.
k. Aromaterapi adalah pengobatan atau pemeliharaan
kesehatan dengan menggunakan minyak atsiri. Hal ini
sangat erat hubungannya dengan Spa (Sano par aqua),
yaitu pemeliharaan kesehatan atau kebuugaran dengan air
dan minyak atsiri.
I. Etnobotani adalah ilmu yang mengkaji tentang tanaman
yang terkait dengan kehidupan suku bangsa tertentu untuk
digunakan utamanya untuk pengobatan dan pemeliharaan
kesehatan atau keperluan lain. lImu ini sangat berguna
untuk mempelajari tanaman tertentu guna dikembangkan
menjadi komoditi yang berguna bagi orang.

10

m. Etnofarmakologi adalah ilmu yang mempelajari


tentang kegunaan tumbuhan yang memiliki efek
farmakologi dalam hubungannya dengan
pengobatan dan pemeliharaan kesehatan oleh
suatu suku bangsa.
n. Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari selukbeluk kandungan kimia dalam tumbuhan atau
bagiannya.
a. Sediaan galenik adalah bentuk penyarian
tumbuhan atau bagiannya yang berupa ekstrak
(infusa, ekstrak, dan tingtur).
p. Obat gubal atau simplisia adalah sama dengan
crude drugs.
q. Zoofarmaka adalah sama dengan fitofarmaka
tetapi bahan dasarnya berasal dari hewan.
11

PROSPEK OBAT BAHAN ALAM (1)


Menurut -WHO :
80 % Penduduk negara berkembang
85 % bahan yang digunakan asal
tumbuhan

12

PROSPEK OBAT BAHAN ALAM (2)


Tabel 1
Jumlah IKOT dan IOT

Tahun

IKOT

1990

259

1996
1997

IOT

Jumlah

61
458

1998

79

2000

853

87

940

2003

905

97

1002

2005

1037

129

1166

2008

1143

127

13

1270

PROSPEK OBAT BAHAN ALAM (3)


USA 1994 (US$ 1,6 M ); 1996 (3,24 M); 1997 (5,1
M); 2001 (40 M)

UNI EROPA 1986 (US$ 560 JUTA); 1996 (7 M).


JERMAN 3,5M; PERANCIS 1,8M; ITALI 0,7 M; UK
0,4M; SPANYOL 0,3M; BELANDA 0,1 M)

1978: COMMISSION E (MENILAI KEAMANAN DAN


MANFAAT TUMBUHAN OBAT)
1986: ESCOP; European Scientific Cooperative on
Phytotherapy (1997 menerbitkan monography)
1993, mahasiswa kedokteran di German harus lulus
Fitoterafi.

14

POTENSI HAYATI ALAM INDONESIA


Variasi geografi, topografi, dan
sejarah geologis yang dinamis
Variasi formasi hutan (hutan pantai,
mangrove, rawa, rawa gambut,
hujan dataran rendah, dll.)
keanekaraga man hayati
Potensi bahari Indonesia (62 %)

15

WHO dan OBAT BAHAN ALAM


WHO Guidelines for the assessment of the herbal medicine
WHO General guidelines for methodologies on research and
evaluation of traditional medicine
WHO Quality control methods for medicinal plant material
WHO Monographs on selected medicinal plants
WHO guidelines on good agricultural and collection practices
(GACP) for medicinal plants
WHO guidelines on manufacturing practises (GMP) for herbal
medicines BATAS 200808

16

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAMANAN,


MANFAAT, DAN KUALITAS OBAT BAHAN ALAM

BAHAN BAKU/ TUMBUHAN


KONTAMINASI &/ PEMALSUAN
PROSES

17

BAHAN BAKU
AKTIVITAS
VERSUS

KANDUNGAN KIMIA

18

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KANDUNGAN KIMIA TUMBUHAN
Keanekaragaman genetik
Lingkungan tempat tumbuh
Faktor biotik
Tanah dan nutrisi
Air
Temperatur
Cahaya (Kualitas, Intensitas, Lama)
Ketinggian tempat tumbuh

Panen dan pasca panen


19

Tabel 2
Kadar kapsaisin dan dihidrokapsaisin pada sepuluh
kultivar Capsicum annuum L. (Yamakawa, 2001)
Kapsaisin
(mg/gDW)

Dihidrokapsaisin
(mg/gDW)

Tumpang

3.7

1.6

LV1092

1.7

1.1

Cipanas

1.5

0.6

KA-2

3.8

1.4

Perennial
HDV

1.4

0.8

IR

0.7

0.5

Tit Paris

0.6

0.4

PBC 473 1-71

0.5

0.5

Paris Minya

3.0

1.5

Chilli

1.1

0.6

Kultivar

20

Tabel 3
Hubungan kadar alkaloid dengan lamanya pencahayaan
pada daun muda Datura tatula C. (mg/100 g daun) (Cosson,
1978)
Lama
Pencahayaan

16 jam

9 jam

Alkaloid

Skopolamin

3,0

13,5

11,0

12,0

Hiosiamin

0,5

3,0

8,5

17,0

Total

3,5

16,5

9,6

29,0

S/H

6,0

4,5

1,3

0,7

Skopolamin

2,0

4,0

9,0

7,0

Hiosiamin

0,5

3,0

5,0

9,0

Total

2,5

7,0

14,0

16,0

S/H

4,0

1,3

1,8

0,8

21
1 = saat muncul kuncup bunga pertama; 2 = pada saat bunga pertama
mekar;
3 = pada awal pematangan buah; 4 = umur tanaman 3-5 bulan

Tabel 4
Hubungan ketinggian tempat tumbuh dengan kadar
alkaloida Datura metel dalam berbagai organ (dalam %) (Karnick,
Saxena, 1970)

Altitude

Akar

Batang

Daun

Bunga

Biji

Sealevel

0,27

0,19

0,25

0,69

0,09

563 m

0,52

0,29

0.32

0.86

0,10

716 m

0,71

0,43

0,54

0,95

0,14

2166 m

0,89

0,46

0,58

0,99

0,19

22

Tabel 5
Kandungan andrografolid pada daun Andrographis paniculata Nees.
dari berbagai lokasi tumbuh (Sukrasno, 2007)

Lokasi
tumbuh

Ketinggian
(m dpl)

Kepahitan
ekstrak
(unit)

Andrografolid
mg/ g (%)

Cilacap

10

466,6

24,3 (2,43)

Jakarta

60

466,6

17,9 (1,79)

Nganjuk

210

2.666,6

31,6 (3,16)

Bogor

220

1.333,3

24,4 (2,44)

Sukabumi

350

1.866,7

25,1 (2,51)

Solo

490

2.333,3

27,2 (2,72)

Bandung

900

933,3

24,4 (2,44)

23

Tabel 6
Kadar kuersitrin pada daun benalu (Suganda, 2003)

No

Jenis Benalu

Tumbuhan Inang

mg/
g

1.

Macroselon avensis (Bl.) Dans.

Camelia sinensis (L.) O.K.

2,69

2.

Scurrula oortiana (Korth) Dans.

Camelia sinensis (L.) O.K.

9,56

3.

Scurrula parasitiaca L.

Nerium indicum Mill.

5,07

4.

Lepeostegeres gemmiflorus (Bl.) Bl

Nerium indicum Mill.

5.

Lepeostegeres gemmiflorus (Bl.) Bl

Macaranga tamarius (L.) MA

6.

Scurrula oortiana (Korth) Dans.

Vaccinium varingiaefolium Bl.

6,08

7.

Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.

Codiaeum variegatum (L.) Bl.

35,13

8.

Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.

24

Ceiba pentandra (L.) Gaertn.

39,78

NAMA DAERAH VS NAMA LATIN


Nama lokal suatu tumbuhan di dua daerah
belum tentu sama
Nama lokal yang sama belum tentu
tumbuhannya sama
Nama latin suatu tumbuhan yang komplit
(termasuk author) bersifat universal
Curcuma xanthorrhiza Roxb berbeda
dengan Curcuma xanthorrhiza Navez

25

STANDARDISASI HULU HILIR


BUDIDAYA/PENYEDIAAN BAHAN
BAKU
BAHAN BAKU (SIMPLISIA)
PROSES, METODE
PRODUK PERANTARA
PRODUK AKHIR (OT, OHT,
FITOFARMAKA)
MANAJEMEN
MANUSIANYA
26

KRITERIA YG HARUS DIPENUHI


JAMU/OBAT TRADISIONAL
AMAN SESUAI DENGAN PERSYARATAN
YANG DITETAPKAN
KLAIM KHASIAT DIBUKTIKAN
BERDASARKAN DATA EMPIRIS
MEMENUHI PERSYARATAN MUTU YANG
BERLAKU
KLAIM: SECARA TRADISIONAL
DIGUNAKAN UNTUK . ATAU SESUAI
DG YANG DISETUJUI PADA PENDAFTARAN
27

KRITERIA YG HARUS DIPENUHI


OBAT HERBAL TERSTANDAR
AMAN SESUAI DENGAN PERSYARATAN
YANG DITETAPKAN
KLAIM KHASIAT DIBUKTIKAN SECARA
ILMIAH/PRA KLINIK
TELAH DILAKUKAN STANDARDISASI
TERHADAP BAHAN BAKU YANG
DIGUNAKAN DALAM PRODUK JADI
MEMENUHI PERSYARATAN MUTU YANG
BERLAKU
JENIS KLAIM SESUAI DENGAN TINGKAT
PEMBUKTIAN
28

KRITERIA YG HARUS DIPENUHI


FITOFARMAKA
AMAN SESUAI DG PERSYARATAN YANG
DITETAPKAN
KLAI KHASIAT HARUS DIBUKTIKAN
BERDASARKAN UJI KLINIK
TELAH DILAKUKAN STANDARDISASI
TERHADAP BAHAN BAKU YANG
DIGUNAKAN DALAM PRODUK JADI
MEMENUHI PERSYARATAN MUTU YANG
BERLAKU
JENIS KLAIM SESUAI DENGAN TINGKAT
PEMBUKTIAN
29

BAHAN BAKU
SIMPLISIA
MUTU TERGANTUNG PADA;
Sumber tanaman.
Pengumpulan dan pemanenan.
(teknologi pasca panen)
Pembuatan simplisia.
30

SUMBER TANAMAN
Tumbuhan liar.
Persediaan terbatas.
Mutu tidak seragam
Permintaan banyak bisa tanaman mengalami
kepunahan

Tumbuhan budidaya.

Persediaan bisa tergantung kebutuhan.


Mutu bisa seragam .
Kandungan bioaktif bisa ditingkatkan.
Penyakit tanaman bisa diawasi.
Gen tanaman bisa dikontrol.
31

BUDIDAYA TANAMAN OBAT

Di masa mendatang untuk simplisia yang banyak diminta dan


alasan faktor lingkungan serta kualitas yang seragam
(terstandardisasi) maka langkah budidaya sangat diperlukan.
Obat akan dikumpulkan atau dibudidaya di seluruh dunia.
Kandungan bioaktif dipengaruhi oleh:

Faktor intrinsik (gen).

Gen atau sifat turunan bisa menaikkan atau menurunkan kandungan


bioaktif.
Gen dapat juga untuk memproduksi tanaman baru dengn
persilangan.

Ekstrinsik (Iklim, tanah, ph tanah, pemupukan, pengairan,


pemberantasan gulma, pemberantasan penyakit, bibit, )

a.

Iklim

Suhu
Curah hujan
Intensitas cahaya mata hari

32

b. Tanah
Campuran partikel mineral
Terbentuk dari kikisan batu.
Komponen organik;
Humus , terbentuk dari pembusukan
tumbuhan dan hewan.
tanah subur mengandung 1,5%-15%
humus.
Tanah kurus mengandung kurang dari 0,5%
humus.
Tanah liat/lempung (clay) terdiri dari
partikel halus 2-20m.
Tanah pasir (sand) 20m-2mm.
Tanah kenikil 2-20mm.
33

pH tanah
Sangat berpengaruh pada perkembangan
tumbuhan;
Tanah asam, mengandung alkali yang rendah.
Tanah basa, mengandung alkali tinggi.
Tanah netral.

Tanah yang baik,

Kaya humus,
netral.,
Partikel halus dan kasar yang seimbang.
Pengikat air yang baik.
34

Garam Nutritif
Tanaman menyerap unsur kimia makanan dari dalam tanah
dalam bentuk garam :
Unsur Makro;(dibutuhkan dalam jumlah banyak: Nitrogen
(N), Phosphat (P), Kalium (K).NPK.
Nitrogen untuk hijau daun.
P. untuk pertumbuhan dan buah.
K. untuk pertumbuhan dan bunga.
Unsur Mikro: (dibutuhkan dalam jumlah kecil): Ca, Co, Br,
Cl, .
Unsur mikro umumnya untuk metabolisme tumbuhan
seperti enzim, katalis dan hormon.
Untuk melengkapi semua itu dilakukanlah pemupukan dengan
kedua unsur tersebut sesuai kebutuhan.

35

Macam-macam pupuk;
Pupuk NPK, mengandung unsur NPK
dengan jumlah persentase tertentu.
Pupuk Urea, mengandung unsur N
dengan jumlah tertentu.
Pupuk KCl, mengandung unsur K dalam
jumlah tertentu.
Pupuk superpospat, mengandung unsur
P dalam jumlah tertentu.
Pemupukan sebaiknya dilakukan setelah
dilakukan analisa unsur tanah.
36

Pengairan, pemberantasan gulma dan


hama penyakit
Untuk tumbuh dengan baik tanaman memerlukan air yang
cukup, apabila curah hujan rendah perlu dilakukan
penyiraman atau mengairi melalui parit-parit yang dibuat.
Gulma(tumbuhan pengganggu) perlu dibrantas karena
akan merusak tanaman budidaya:
Penyiangan.
Memakai herbisida.
Herbisida sebelum tanam
Herbisida setelah tanam.

Pemberantasan hama; dengan pestisida


Serangga, dengan insektisida
Jamur, dengan fungisida.
Cacing dll, dengan insektisida.
Pemberantasan hama secara biologis (dengan predator)
37

Pembibitan tanaman
Pembibitan atau perbanyakan tanaman dapat
dilakukan dengan cara generatif (dengan biji),
vegetatif (dengan stek bahagian tanaman),
ubi ,kultur jaringan dll.
Generatif
dilakukan terhadap biji yang telah dikeringkan
dan dibiarkan dalam jangka tertentu setelah
dipetik.
Penanaman dapat dilakukan dipersemaian, setelah
mencapai umur tertentu dipindahkan ke lahan
budidaya
Penanaman langsung dilahan budidaya.
38

Vegetatif.
stek biasa dilakukan terhadap, batang,
ranting, daun, akar dan umbi.
Batang, ranting dan akar yang masih agak
muda dipotong sekitar 15-20 cm, kemudian
ditanam kedalam polibag atau langsung ke
lahan.
Daun utuh atau yang dipotong biasanya
ditanam dulu di polibeg, baru dipindah ke
lahan setelah ada pertumbuhan.
Umbi biasanya dibiarkan tumbuh sedikit di
gudang, baru dipindah ke lahan.
39

TANAMAN OBAT & BUDIDAYANYA


Sesuai dengan arahan dari badan POM
maka untuk beberpa tanaman obat telah
dikeluarkan petunjuk mengenai ;
Budidaya
Panen dan pascapanen
Standarisasi simplisia dan ekstrak

40

BUDI DAYA
Budidaya tanaman bahan jamu dapat dilakukan secara (1)
monokultur atau (2) tumpangsari.
Pola budidaya tumpangsari terutama apabila luas areal
lahan yang dimiliki terbatas. Tumpangsari yang dilakukan
bersama tanaman lain yang umur panennya lebih muda
akan memberikan penghasilan bagi petani selama
menunggu hasil tanaman bahan jamunya.
Beberapa keuntungan lain yang diperoleh dengan pola
tumpangsari adalah (a) mengurangi resiko kerugian pada
saat harga tanaman bahan jamu sedang murah, (2)
meningkatkan produktivitas lahan, dan memperbaiki sifat
fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya
pertumbuhan gulma. Tanaman yang bisa ditumpangsarikan
dengan tanaman bahan jamu adalah jagung, kacangkacangan, bawang merah, cabai rawit, buncis, ketela
pohon dan sebagainya.
41

Proses budidaya tanamanbahan jamu secara


garis besar meliputi pembibitan, pengolahan
mediatanam, penanaman, pemeliharaan
tanaman, pemanenan dan penanganan
pascapanen.
Pembibitan meliputi penyemaian bibit dan
penyiapan bibit sebelum ditanam.
Tergantung kepada kondisi lahan, maka
tahapan pada pengolahanmedia tanam dapat
meliputi kegiatan persiapan lahan, pembukaan
lahan,pembentukan bedengan dan pengapuran.
Pemeliharaan tanaman meliputikegiatan
penyulaman, penyiangan, pembubunan,
pemupukan, pengairan danpenyiraman, serta
pengendalian hama, penyakit dan gulma
42

JAHE
Species :Zingiber officinale. Rosc
Famili : Zingiberaceae
Diskripsi :
Di Indonesia mempunyai prospek ekonomi yang baik
didasarkan pada:
Iklim dan tanah yang sesuai
Terbukanya pasar dalam dan luar negri yang baik.
Banyak digunakan sebagai;

Penyedap masakan.
Obat tradisional.
Kosmetik
Makanan dan minuman.

Jahe mempunyai 47 genera, 1400 species


Mempunyai 3 varietas, yaitu jahe gajah, jahe emprit dan
jahe merah. Yang banyak ditanam jahe merah
Berasal dari India, mempunyai nama-nama yang berbeda
setiap negara dan daerah di Indonesia

43

Jahe yang nama ilmiahnya Zingiber officinale


sudah tak asing bagi kita, baik sebagai bumbu
dapur maupun obat-obatan.
Begitu akrabnya kita, sehingga tiap daerah di
Indonesia mempunyai sebutan sendiri-sendiri
bagi jahe.
Nama-nama daerah bagi jahe tersebut antara
lain halia (Aceh), bahing (Batak karo),
sipadeh atau sipodeh (Sumatera Barat), Jahi
(Lampung), jae (Jawa), Jahe (sunda), jhei
(Madura), pese (Bugis), dan lali (Irian

44

Ciri-ciri tanaman jahe


Jahe tergolong tanaman herba, tegak, dapat
mencapai ketinggian 40100 cm dan dapat berumur
tahunan.
Batangnya berupa batang semu yang tersusun dari
helaian daun yang pipih memanjang dengan ujung
lancip.
Bunganya terdiri dari tandan bunga yang berbentuk
kerucut dengan kelopak berwarna putih kekuningan.
Akarnya sering disebut rimpang jahe berbau harum
dan berasa pedas. Rimpang bercabang tak teratur,
berserat kasar, menjalar mendatar. Bagian dalam
berwarna kuning pucat.
Rimpang terdapat dibawah batang semu,
bergerombol, kuat dan bercabang, diameter 1,5-2,5
cm
45

Jahe telah lama dikenal dan tumbuh baik di negara kita.


Jahe merupakan salah satu rempah-rempah penting.
Rimpangnya sangat luas dipakai, antara lain sebagai
bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan
seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai
minuman.
Jahe juga digunakan dalam industri obat, minyak wangi
dan jamu tradisional. Jahe muda dimakan sebagai lalapan,
diolah menjadi asinan dan acar.
Disamping itu, karena dapat memberi efek rasa panas
dalam perut, maka jahe juga digunakan sebagai bahan
minuman seperti bandrek, sekoteng dan sirup.

46

47

KANDUNGAN KIMIA JAHE


Sifat khas jahe disebabkan adanya
minyak atsiri dan
oleoresin jahe.
Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri,
sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas.
Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi
uap dari rhizoma jahe kering.
Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna
kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak
memiliki komponen pembentuk rasa pedas.
Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 3
persen.
Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan
bau harum adalah
zingiberen dan
zingiberol.

48

KHASIAT JAHE

Jahe mengandung dua enzim pencernaan yang penting, yaitu


protease dan Lipase yang keduanya membantu tubuh mencerna
dan menyerap makanan.
Jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlancar
peredaran darah. Sehingga tubuh menjadi hangat, kerja jantung
jadi lebih ringan. Sudah ada pembuktian secara ilmiah.
Di Inggris, disarankan wanita hamil mengkomsumsi jahe untuk
mengatasai mualnya.
Penelitian di Denmark membuktikan bahwa pemberian jahe pada
pasien rhematik dan gangguan muskuloskleletal akan
menghilangkan rasa sakitnya serta menghilangkan peradangan
atau pembengkakan.
Pada percobaan di indonesia, ternyata jahe mengandung bahan
antirhinovirus yaitu beta-sesquiphelandrone.
Selain itu, jahe merupakan pereda rasa sakit secara alami pada
sakit kepala, bermanfaat untuk anti mual, anti mabuk, sakit
perut, batuk, masuk angin, rheumatik,penghangat tubuh,
mengeluarkan keringat dan terkilir.

49

Budidaya

Pembibitan

Rimpang yang digunakan untuk bibit adalah yang dipanen


minimal 10 bulan, dengan ciri antara lain kandungan serat tinggi
dan kasar, kulit licin, mengkilat dan keras serta tidak mudah
mengelupas.
Rimpang yang dipilih untuk benih adalah yang mempunyai 2-3
bakal mata tunas dengan bobot sekitar 25-60 gr untuk jahe
putih besar, 20-40 gr untuk jahe putih kecil dan jahe merah.
Untuk pertanaman seluas 1 ha dibutuhkan 2-3 ton untuk jahe
besar dan 1-1,5 ton untuk jahe emprit.
Sebelum ditanam rimpang bibit ditunaskan dengan cara
menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-alang tipis. Jerami
atau alang-alang dihamparkan di atas wadah berupa rak-rak
terbuat dari bambu atau kayu yang diletakkan di tempat yang
teduh.
Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari. Setelah
sekitar 15 hari atau apabila sudah tumbuh tunas dengan tinggi
1-2 cm, benih sudah siap ditanam.
Untuk mencegah infeksi bakteri, sebelum ditanam benih
direndam di dalam larutan bakterisida selama 10 jam, kemudian
dikering anginkan.
50

Penanaman

Persiapan lahan:
Dilakukan 15 - 30 hari sebelum benih ditanam, dicangkul
sedalam 30 cm agar gembur,
dibersihkan dari gulma dan diberikan pupuk kandang sebanyak
20 ton per ha.
Tanah diolah dan digemburkan,
Dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang miring), atau
dibuat guludan.
Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam,
dan benih jahe kemudian ditanam pada lubang tanam tersebut.
Penanaman:
Benih ditanam pada lubang tanam sedalam 5-7 cm dengan tunas
menghadap ke atas,
jarak tanam adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm untuk
jahe putih besar atau 60 cm x 40 cm untuk jahe emprit atau
jahe merah.
Untuk pola tumpang sari, tanaman yang ditumpangsarikan di
tanam di antara tanaman jahe.
Pada saat penanaman ini diberikan pupuk buatan SP-36 dan KCl
masing-masing sebanyak 300-400 kg/ha.
Penanaman benih sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan .

51

Panen

Pemanenan:
Dilakukan tanaman berumur 9 - 10 bulan.
Membongkar rimpang dengan menggunakan garpu atau cangkul.
Apabila bibit yang digunakan varietas unggul jahe putih besar
(Cimanggu-1) produktivitas tanaman adalah 27 ton rimpang
segar per hektar,
Jika yang digunakan bibit varietas unggul jahe putih kecil (JPK3;
JPK6) maka akan dihasilkan 16 ton rimpang segar per hektar.
Pola tumpang sari atau monokultur tidak terlalu berpengaruh
terhadap produktivitas tanaman jahe.
Pasca Panen:
Setelahpanen, rimpang harus segera dibersihkan untuk
menghindari mikroorganisme yang tidak diinginkan,dengan cara
disemprot airyang bertekanan tinggi atau dicuci dengan tangan.
Setelah pencucian,dianginkan utk mengeringkan air pencucian.
Untukpenjualan segar rimpang dapat langsung dikemas.
Apabila dijualdalam bentuk kering atau simplisia, maka rimpang
direbus beberapamenit, kemudian diiris setebal 1- 4 mm, dan
dikeringkan/dijemur sampai kadar air sekitar 8 10%,yaitu bila
rimpang bisa dipatahkan.
52

BROTOWALI
Species :Tinospora crispa (L)
Famili :Menispermaceae
Diskripsi
Tumbuhan liar di hutan, ladang atau ditanam dihalaman
dekat pagar.
Biasa ditanam sebagai tumbuhan obat.
Brotowali menyukai tempat panas, termasuk perdu,
memanjat, tinggi batang sampai 2,5 meter.
Batang sebesar jari kelingking, berbintil-bintil rapat
rasanya pahit. Daun tunggal, bertangkai, berbentuk
seperti jantung atau agak budar telur berujung lancip,
panjang 7 - 12 cm, lebar 5 - 10 cm.
Bunga kecil, warna hijau muda, berbentuk tandan semu.
nama lokal dari Brotowali antara lain:
Antawali, bratawali, putrawali, daun gadel (Jawa);
Andawali (Sunda), Antawali (Bali), Shen jin teng (China).

53

Kandungan kimia
Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia,
antara lain :
alkaloid, damar lunak, pati, glikosida
pikroretosid, zat pahit pikroretin, harsa,
berberin, palmatin, kolumbin (akar), kokulin
(pikrotoksin).
Akar mengandung alkaloid berberin dan
kolumbin.
alkaloid yang terdiri dari N-asetil-nornuciferin,
N-formil-annonain, dan N-formilnornuceferin.
Disamping itu ditemukan pula suatu glikosida
furanoditerpen yang berasa pahit.
54

Efek farmakologi/khasiat
Dalam farmakologi disebutkan bahwa
tanaman ini memiliki sifat :

Analgesik yaitu menghilangkan sakit.


Antipiretik yaitu penurun panas.
Melancarkan meridian.
Rhematik, demam, diabetes, luka, kudis dll.

55

Budidya
Syarat Tumbuh

Tanaman memanjat.
Karena umumnya tanaman liar, maka teknologi budidaya
yang tepat belum diketahui
Biasa tumbuh di hutan, ladang atau halaman dekat pagar
dengan penyinaran matahari penuh.
Dapat tumbuh pada ketinggian 0 1000 m diatas permukaan
air laut. Tanaman ini merupakan tumbuhan perdu memanjat
tinggi diatas tanah dan cenderung menjadi penutup tanah.

Penyapan lahan dan pembibitan

Dibuat lobang tanam 20x20x30 cm, tiap lobang diberi pupuk


kandang 0,5-1 kg tiap lobang yang dicampur tanah.
Disiapkan tiang-tiang panjat tanaman yang dapat berupa
tiang panjat pagar atupun tanaman hidup.
Bibit diambil dari stek batang sehat, cukup tua dan seragam
yang panjangnya 10 cm.
Stek lebih baik di dibibitkan dalam polibag sampai tumbuh 34minggu, kemudian baru dipindah ke lahan tanam.
56

Penanaman & Pemeliharaan

Pennaman dilakukan dengan jarak tanam 1x1meter dan diberi


pupuk kandang yang dicampur tanah 1 : 3.
Pemeliharaan tanaman meliputi;

penyangan, dilakukan setelah tanaman umur 1 bulan dan seterusnya


dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma.
pemangkasan, dilakukan pada cabang-cabang yang terlalu banyak
yang tidak baik bagi pertumbuhan tanaman.
pengaturan tiang panjat, dilakukan terhadap cabang yang letaknya
tidak beraturan.
pengendalian hama dan penyakit, yang biasa menyerang adalah
jamur, terlihat bercak kuning pada daun dan biasanya diberantas
dengan penyemprotan fungisida.
Juga sering diserang oleh insekta atau ulat pemakan daun dan
batang, ini dikendalikan dengan penyemprotan insektisida.

Panen dan Pasca panen.


Penen dapat dilakukan dengan memangkas batang, setelah
batang menunjukkan warna coklat kehitaman, kemudian
dikeringkan

57

MAHKOTA DEWA.
Species :Phaleria macrocarpa (scheff.) Boerl.
FamiliT: Hymelaecae.
Diskripsi:

Sebagian yang lain menamainya berdasarkan ukuran


buahnya yang besar-besar (makro), yaitu Phaleria
macrocarpa (Scheff.) Boerl.
Dikenal sebagai salah satu tanaman obat di Indonesia.
Asalnya dari Papua/Irian Jaya.
Sebutan atau nama lain untuk mahkota dewa cukup
banyak. Ada yang menyebutnya pusaka dewa, derajat,
mahkota ratu, mahkota raja, trimahkota.
Di Jawa Tengah, orang menyebutnya dengan nama
makuto mewo, makuto rojo, atau makuto ratu.
Orang Banten menyebutnya raja obat. Nama ini diberikan
karena pohon ini mampu mengobati aneka penyakit.
Sementara Cina lebih suka menyebutnya pau yang berarti
obat pusaka.
Tidaklah mengejutkan jika beberapa orang pun
menginggriskan namanya menjadi the crown of god.
Jawa Barat, nama lain simalakama.
58

Mahkota dewa merupakan tanaman jenis pohon yang


berkembang dan tumbuh sepanjang tahun,
mampu mencapai ketinggian 3-4m.Batang bergetah terdiri
dari kulit yang berwarna coklat kehijauan dan batang kayu
berwarna putih, ianya berakar tunjang.
Daun berbentuk lonjong , lansing, memanjang & hujungnya
runcing, tepi daun rata, permukaan daun licin dan tidak
berbulu.
Bunga mahkota dewa berwarna putih dan berbau harum.
Bunga tersebut berukuran kecil menyerupai bunga cengkih.
Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang & biji.
Buah berbentuk bulat, diameter 3-5cm, permukaan licin,
beralur, ketika muda warnanya hijau dan merah setelah
masak. Daging buah berwarna putih, berserat dan berair.
Cangkang buah merupakan kulit dari biji yang juga termasuk
bahagian yang sering di manfaatkan sebagai ubat, ianya perlu
di rebus terlebih dahulu.
Biji merupakan bahagian tanaman paling beracun. Bentuknya
bulat lonjong berdiameter sekitar 1cm & berwarna coklat,
bahagian dalam berwarna putih.

59

Kandungan Kimia/Kegunaan
Daun : mengandungi antihistamin,
alkaloid, saponin & polifenol (lignan)
Kulit Buah : mengandungi alkaloid,
saponin & flavonoid.
Buah : alkanoid, tanin, flavonoid, fenol,
saponin, lignan, minyak asiri & sterol.

60

Alkaloid, bersifat detoksifikasi yang dapat menetralisir racun di


dalam tubuh
Saponin, yang bermanfaat sebagai:

Flavonoid

sumber anti bakteri dan anti virus


meningkatkan sistem kekebalan tubuh
meningkatkan vitalitas
mengurangi kadar gula dalam darah
mengurangi penggumpalan darah

melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah


terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah
mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan
lemak pada dinding pembuluh darah
mengurangi kadar risiko penyakit jantung koroner
mengandung antiinflamasi (antiradang)
berfungsi sebagai anti-oksidan
membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau
pembengkakan

Polifenol

berfungsi sebagai anti histamin (antialergi)

61

Khasiat Empiris
Masalah yang mengganjal terhadap
pemakaian mahkota dewa sebagai
tanaman obat adalah terbatasnya
pembuktian-pembuktian ilmiah akan
kegunaan pohon ini.
Selama ini pembuktian yang ada
sebagian terbesar masih berupa
pembuktian empiris, pembuktian yang
hanya berdasarkan pada pengalaman
pengguna.
62

Khasiat empiris
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kanser & Tumor


Eksim (Penyakit Kulit)
Diabetis Melitus (Kencing Manis)
Hipertansi (Darah Tinggi)
Hepatitis (Radang Hati)
Reumatik (Sakit Sendi)
Asam Urat (Arthritis Gout)
Penyakit Jantung
Gangguan Ginjal

Catatan
Bahagian buah terutamanya bijinya beracun, ianya
perlu di rebus sebelum memakannya.
Ibu hamil dilarang meminum hasil pemprosesan
tumbuhan ini.

63

Sangat tidak dianjurkan untuk memakan buah


mahkota dewa mentah-mentah.
Akibat yang ditimbulkannya cukup serius. Di
Depok pernah ada yang mencoba memakan
buahnya begitu saja. Hasilnya, orang itu
langsung mabuk.
Di Yogyakarta juga pernah ada yang mencoba
menelan bijinya mentah-mentah. Hasilnya lebih
parah. Dia merasakan tubuhnya sangat panas,
seperti terbakar api, dan buang-buang air
terus-menerus. Namun, setelah tidur, keesokan
harinya, tubuhnya terasa sangat segar.
Memang, hanya orang-orang tertentu yang
merasa tidak bermasalah dalam mengonsumsi
mahkota dewa mentah-mentah.
64

Budi Daya
Tanaman ini hidup diberbagai jenis tanah, produksi
sepanjang tahun, sehingga sangat menguntungkan petani.
Syarat tumbuh:
Tanah gembur, dengan ketinggian 10-1200 m diatas
permukaan laut.
Terbaik pada 1000 m diatas permukaan laut.
Tidak menghendaki tanah khusus, tanah yang kurang
suburpun dapat tumbuh tetapi hasil kurang.

Lobang tanam 30x30x30 cm.


Pengadan bibit umumnya dapat dari biji atau cangkokan.
Biji diambil dari :

Pohon yang sehat dan kokoh.


Telah beberapa kali berbuah.
Umur tanaman minimal 8 tahun.
Buah yang yang diambil yang besar dan tidak berpenyakit.

65

Biji disemai dibedengan.


Umur 30 hari dipindahkan ke polibag.
Umur 2 bulan (tinggi 15-20 cm baru dipindah ke lahan.
Penanaman:
Jarak tanam 2x2 m (2500 pohon tiap hektar)
Lobang tanam diberi pupuk kandang.
Bibit yang baru ditanam sebaiknya diberi naungan.
Pemupukan susulan tiap 3-4 bulan sekali.
Penyiangan pertama dilakukan setelah 1 bulan, seterusnya
disiang secara berkala 3-4 kali setahun.
Penyulaman dilakukan setelah tanaman 1 bulan dilahan.
Sampai tanaman berumur 6 bulan kalau tanah terlalu
kering, perlu dilakukan penyiraman.
Hama tanaman ini umumnya adalah belalang, kutu putih
dan lalat buah.Juga ada serangan jamur.
Hama dikendalikan dengan insektisida dan fungisida
66

Panen dan Pascapanen


Mahkota dewa untuk obat bahagain yang
digunakan adalah buah, daun dan batang
Tetapi yang paling sering digunakan adalah biji
dan kulit buah.
Biji diambil yang telah matang.
Setelah panen perlu dilakukan penangan pasca
panen yaitu:

Penyortiran
Pencucian.
perajangan
Pengeringan
67

PANEN DAN PASCA PANEN.


Panen merupakan rangkaian tahapan dalam proses
budidaya tanaman obat.
Waktu, cara pemanenan dan penanganan bahan setelah
panen merupakan periode kritis yang sangat menen-tukan
kualitas dan kuantitas hasil tanaman.
Oleh karena itu waktu, cara panen dan penanganan
tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu
kualitas dan kuantitas.
Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan cara panen yang
berbeda.
Tanaman yang dipanen buahnya memiliki waktu dan cara
panen yang berbeda dengan tanaman yang dipanen
berupa biji, rim-pang, daun, kulit dan batang.
Begitu juga tanaman yang mengalami stres lingkungan
akan memiliki waktu panen yang ber-beda meskipun jenis
tanamannya sama.
Berikut ini diuraikan saat panen yang tepat untuk beberapa
jenis tanaman obat
68

Biji. Panen tidak bisa dilakukan secara serentak karena

perbedaan waktu pematangan dari buah atau polong yang


berbeda.
Pemanenan biji di-lakukan pada saat biji telah masak
fisiologis.
Fase ini ditandai dengan sudah maksimalnya pertumbuhan
buah atau polong dan biji yang di dalamnya telah
terbentuk dengan sempurna.
Kulit buah atau polong mengalami perubahan warna
misalnya kulit polong yang semula warna hijau kini
berubah menjadi agak kekuningan dan mulai mengering.
Pemanenan biji pada tanaman se-musim yang sifatnya
determinate dilakukan secara serentak pada suatu luasan
tertentu.
Pemanenan dilaku-kan setelah 60% kulit polong atau kulit
biji sudah mulai mongering. Hal ini berbeda dengan
tanaman se-musim indeterminate dan tahunan, yang
umumnya dipanen secara ber-kala berdasarkan
pemasakan dari biji/polong.

69

Buah.
Buah harus dipanen setelah masak fisiologis dengan
cara me-metik.
Pemanenan sebelum masak fisiologis akan
menghasilkan buah dengan kualitas yang rendah dan
kuantitasnya berkurang.
Buah yang dipanen pada saat masih muda, seperti
buah mengkudu, jeruk nipis, jambu biji dan buah
ceplukan akan memiliki rasa yang tidak enak dan
aromanya kurang sedap.
Begitu pula halnya dengan pemanenan yang
terlambat akan menyebabkan pe-nurunan kualitas
karena akan terjadi perombakan bahan aktif yang
ter-dapat di dalamnya menjadi zat lain. Selain itu
tekstur buah menjadi lembek dan buah menjadi lebih
cepat busuk.
70

Daun.
Pemanenan daun dilakukan pada saat tanaman telah
tumbuh maksimal dan sudah memasuki periode matang
fisiologis dan dilakukan dengan memangkas tanaman.
Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang
bersih atau gunting stek.
Pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan hasil
produksi yang diperoleh rendah dan kandungan bahan
bahan aktifnya juga rendah,
seperti tanaman jati belanda dapat dipanen pada umur 1 1,5 tahun,
jambu biji pada umur 6 - 7 bulan, cincau 3 - 4 bulan dan
lidah buaya pada umur 12 - 18 bulan setelah tanam.

Demikian juga dengan pe-manenan yang terlambat


menyebab-kan daun mengalami penuaan (se-nescence)
sehingga mutunya rendah karena bahan aktifnya sudah
ter-degradasi.
Pada beberapa tanaman pemanenan yang terlambat akan
mempersulit proses panen.

71

Rimpang.

Rimpang waktu pe-manenan bervariasi tergantung penggunaan.


Umumnya pe-manenan dilakukan saat tanam-an berumur 8
- 10 bulan.
Seperti rimpang jahe, untuk kebutuhan eks-por dalam
bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah
tanam, sedangkan untuk bibit 10 - 12 bulan.
Untuk keperluan pem-buatan jahe asinan, jahe awetan dan
permen dipanen umur 4 - 6 bulan karena pada umur
tersebut serat dan pati belum terlalu tinggi.
Sebagai bahan obat, rimpang di-panen setelah tua yaitu
umur 9 - 12 bulan setelah tanam. Untuk temu-lawak
pemanenan rimpang berumur 10 - 12 bulan.
Temulawak yang dipanen pada umur tersebut menghasilkan
kadar minyak atsiri dan kurkumin yang tinggi.
Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan
dan dipanen pada pertengahan musim kemarau.
Saat panen yang tepat ditandai dengan mulai mengeringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan
tanah (daun dan batang semu), misalnya kunyit,
temulawak, jahe, dan kencur.

72

Bunga.
Bunga digunakan dalam industri farmasi dan
kosmetik dalam bentuk segar maupun kering.
Bunga yang digunakan dalam bentuk segar,
pemanenan dilakukan pada saat bunga kuncup
atau setelah per-tumbuhannya maksimal.
Berbeda dengan bunga yang digunakan dalam
bentuk kering, pemanenan dilakukan pada saat
bunga sedang mekar.
Seperti bunga piretrum, bunga yang dipanen
dalam keadaan masih kuncup menghasilkan
kadar piretrin yang lebih tinggi dibandingkan
dengan bunga yang sudah mekar.

73

Kayu.
Pemanenan kayu dilakukan setelah pada
kayu terbentuk senyawa metabolit sekunder
secara maksimal.
Umur panen tanaman berbeda-beda
tergantung jenis tanaman dan ke-cepatan
pembentukan metabolit sekundernya.
Tanaman secang baru dapat dipanen setelah
berumur 4 sampai 5 tahun, karena apabila
dipanen terlalu muda kandungan zat aktifnya
seperti tanin dan sappan masih relatif
sedikit.

74

Herba.
Pada beberapa tanaman semusim, waktu panen yang
tepat adalah pada saat pertumbuhan vegetatif tanaman
sudah maksimal dan akan memasuki fase generatif atau
dengan kata lain pemanenan dilakukan sebelum ta-naman
berbunga.
Pemanenan yang dilakukan terlalu awal mengakibat-kan
produksi tanaman yang kita dapatkan rendah dan
kandungan bahan aktifnya juga rendah.
Sedang-kan jika pemanenan terlambat akan menghasilkan
mutu rendah karena jumlah daun berkurang, dan batang
tanaman sudah berkayu.
Contohnya tanaman sambiloto sebaiknya di-panen pada
umur 3 - 4 bulan, pegagan pada umur 2 - 3 bulan setelah
tanam,
meniran pada umur kurang lebih 3,5 bulan atau sebelum
berbunga dan tanaman ceplukan dipanen setelah umur 1 1,5 bulan atau segera setelah timbul kuncup bunga,
terbentuk

75

Cara Panen
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan
harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan
kering.
Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk
mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak
diperlukan.
Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan
garpu atau cangkul.
Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau
dipisahkan.
Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung
dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan
tidak menumpuk dan tidak rusak.
Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan
supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan,
karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/
busuk.
Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama
gudang, tikus dan binatang peliharaan).
76

Penanganan Pasca Panen


Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen
terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan
alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan
hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang
baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya.
Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan
cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman
yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman
tersebut.
Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan
keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga
bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan
seperti masker dan sarung tangan.
Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia
tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi
sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
Secara umum faktor-faktor dalam penanganan pasca
panen yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

77

Penyortiran (segar)
Penyortiran segar dilakukan setelah selesai
panen dengan tujuan untuk
memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan
asing, bahan yang tua dengan yang muda atau
bahan yang ukurannya lebih besar atau lebih kecil.
Bahan nabati yang baik memiliki kandungan
campuran bahan organik asing tidak lebih dari 2%.
Proses penyortiran pertama bertujuan untuk
memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang
muda dan yang tua serta untuk mengurangi jumlah
pengotor yang ikut terbawa dalam bahan.

78

Pencucian
Pencucian bertujuan menghilang-kan kotoran-kotoran dan
mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan.
Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen karena
dapat mempengaruhi mutu bahan. Pen-cucian
menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur
atau PAM.
Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah mikroba pada
bahan tidak akan berkurang bahkan akan bertambah.
Pada saat pencucian per-hatikan air cucian dan air
bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi
pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi.
Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan
dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari
larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan.
Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara
antara lain :

79

Perendaman bertingkat
Perendamana biasanya dilakukan pada bahan yang
tidak banyak mengandung kotoran seperti daun,
bunga, buah dll.
Proses perendaman dilakukan beberapa kali pada
wadah dan air yang berbeda, pada rendaman
pertama air cuciannya mengandung kotoran paling
banyak.
Saat perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat
pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan
tangan.
Metoda ini akan menghemat peng-gunaan air, namun
sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung
dalam bahan.

80

Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada
bahan yang kotorannya banyak melekat
pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan
lain-lain.
Proses penyemprotan dilakukan de-ngan
menggunakan air yang ber-tekanan tinggi.
Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan,
ko-toran yang melekat kuat pada bahan
dapat dihilangkan langsung dengan tangan.
Proses ini biasanya meng-gunakan air yang
cukup banyak, namun dapat mengurangi
resiko hilang/larutnya kandungan dalam
bahan.
81

Penyikatan (manual maupun oto-matis)


Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis
bahan yang keras/tidak lunak dan kotoran-nya melekat
sangat kuat.
Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan
bentuknya bisa bermacam-macam, dalam hal ini perlu
diper-hatikan kebersihan dari sikat yang digunakan.
Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan
teratur agar tidak merusak bahannya.
Pem-bilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat.
Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang
lebih bersih dibandingkan de-ngan metode pencucian
lainnya, namun meningkatkan resiko kerusa-kan bahan,
sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikroorganisme.

82

Penirisan/pengeringan

Setelah pencucian, bahan lang-sung ditiriskan di rak-rak


pengering.
Khusus untuk bahan rimpang pen-jemuran dilakukan selama 4 6 hari.
Selesai pengeringan dilakukan kem-bali penyortiran apabila
bahan lang-sung digunakan dalam bentuk segar sesuai dengan
permintaan.
Contoh-nya untuk rimpang jahe, perlu dilakukan penyortiran
sesuai standar perdagangan, karena mutu bahan menentukan
harga jual.
Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar
dikategorikan sebagai berikut :
Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan tidak berjamur.
Mutu II : bobot 150 - 249 g/rim-pang, kulit tidak terkelupas,
tidak
mengandung benda asing dan tidak berjamur.
Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas
maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang
mak-simum 10%.
83

Perajangan
Perajangan pada bahan untuk mempermudah proses
selanjutnya seperti
pengeringan, pengemasan, penyulingan minyak atsiri dan
penyimpanan.

Perajangan dilakukan pada bahan yang ukurannya agak


besar dan tidak lunak seperti
akar, rimpang, batang, buah dan lain-lain.
Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan
dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang
dihasilkan.
Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang
terkandung dalam bahan. Sedangkan jika terlalu tebal,
maka pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan
memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan
kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.

84

Pengeringan

Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan


pada bahan dengan cara mengurangi kadar air, sehingga proses
pem-busukan dapat terhambat. Dengan demikian dapat
dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan
disimpan dalam waktu yang lama
Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang
dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 40
- 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah
simplisia yang mengandung kadar air 10%.
Demikian pula dengan waktu pengeringan juga ber-variasi,
tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang,
daun, kayu ataupun bunga.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses pengeringan
adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan sinar
matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan
(tidak saling menumpuk).
Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan
menggunakan sinar matahari ataupun secara modern dengan
menggunakan alat pe-ngering seperti oven, rak pengering,
blower ataupun dengan fresh dryer.
85

Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang


sudah di-keringkan.
Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik,
kertas maupun karung goni.
Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin mutu
produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit
pena-nganan, dapat melindungi isi pada waktu
pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi
dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang
menarik.
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang
isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman
bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode
produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode
pe-nyimpanan.

86

Penyimpanan simplisia dapat di-lakukan di ruang biasa


(suhu kamar) ataupun di ruang ber AC.
Ruang tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup
kering dan ber-ventilasi. Ventilasi harus cukup baik karena
hama menyukai udara yang lembab dan panas.
Perlakuan sim-plisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10
kGy dapat menurunkan jumlah patogen yang dapat mengkontaminasi simplisia tanaman obat (Berlinda dkk, 1998).
Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri
simplisia selama penyimpanan 3 - 6 bulan.
Jadi sebelum disimpan pokok utama yang harus diperhatikan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes. Halhal yang perlu diperhatikan mengenai tempat
penyimpanan simplisia.

87