You are on page 1of 82

BAB I

PENDAHULUAN
Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) adalah salah satu bagian dari
bidang ilmu kedokteran hewan. Istilah Kesehatan Masyarakat Veteriner ini
diperkenalkan pertama kali oleh World Health Organization (WHO) dan Food
Agriculture Organization (FAO) pada laporannya The Joint WHO/FAO Expert
Group on Zoonoses pada tahun 1951. Dalam laporan tersebut, Kesmavet
didefinisikan sebagai seluruh usaha masyarakat yang mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh seni dan ilmu kedokteran hewan yang diterapkan untuk
mencegah penyakit, melindungi kehidupan, dan mempromosikan kesejahteraan
dan efisiensi manusia.
Selanjutnya definisi Kesmavet dimodifikasi oleh WHO/FAO pada tahun
1975. Kesmavet didefinisikan sebagai suatu komponen aktivitas kesehatan
masyarakat yang mengarah kepada penerapan keterampilan, pengetahuan dan
sumberdaya profesi kedokteran hewan untuk perlindungan dan perbaikan
kesehatan masyarakat.
Pada tahun 1999, WHO, FAO, OIE (Office Internationale Epizooticae) dan
WHO/FAO Coloborating for Research and Training in Veterinary Epidemiology and
Management mengusulkan definisi kesmavet dikaitkan dengan definisi sehat
menurut WHO. Menurut WHO, health is the state of complete physical, mental, and
social well-being and not merely the absence of disease or infirmity. Oleh sebab itu,
pada tahun 1999, Kesmavet didefinisikan sebagai kontribusi terhadap
kesejahteraan fisik, mental dan sosial melalui pemahaman dan penerapan ilmu
kedokteran hewan.
Indonesia memasukkan istilah Kesmavet pada Undang-Undang (UU)
Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan
Kesehatan Hewan. Definisi Kesmavet dalam UU tersebut adalah segala urusan
yang berhubungan dengan hewan dan bahan-bahan yang berasal dari hewan yang
secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Kesmavet
merupakan penghubung antara bidang pertanian/peternakan dan kesehatan.
Akibatnya peran Kesmavet sangatlah penting karena melaluinya dapat terjalin
komunikasi yang intens antara dua lingkup ilmu tersebut demi tercapainya
kesejahteraan dan keberlangsungan hidup yang diharapkan, baik oleh hewan
maupun oleh manusia.

Secara garis besar, tugas dan fungsi Kesmavet ada dua yaitu menjamin
keamanan dan kualitas produk-produk peternakan, serta mencegah terjadinya
resiko bahaya akibat penyakit hewan/zoonosis dalam rangka menjamin
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai perwujudan dari usaha
melaksanakan tugas dan fungsi Kesmavet maka ditetapkan beberapa hal yang
menjadi ruang lingkup dari tugas dan fungsi Kesmavet itu sendiri, yaitu
administrasi dan konsultasi, pencegahan penyakit zoonotik, higiene makanan,
riset dan penyidikan penyakit hewan dan zoonosis, serta pendidikan Kesmavet.
Tugas dan fungsi yang pertama diaplikasikan dengan cara pemeriksaan
kualitas produk asal hewan maupun hasil olahan produk asal hewan seperti
daging, ikan, susu dan telur di laboratorium. Pemeriksaan tersebut bertujuan agar
dapat mengetahui tingkat kelayakan dan keamanan sebuah produk asal hewan
ataupun olahannya untuk dikonsumsi oleh manusia. Sedangkan tugas dan fungsi
yang kedua diaplikasikan dengan cara membentuk instansi-instansi yang
berwenang dalam mengatur lalu-lintas hewan/ternak dan produk asal hewan
serta berperan melakukan pengawasan terhadap kesehatan hewan agar
mencegah terjadinya penularan penyakit baik itu antar hewan maupun penularan
ke manusia.
Instansi yang telah terbentuk oleh pemerintah yang memiliki tugas dalam
menangani masalah/isu Kesmavet beberapa diantaranya adalah Dinas
Peternakan, Rumah Potong Hewan (dibawahi oleh Dinas Peternakan), Karantina
Hewan dan Karantina Ikan. Tugas dari Dinas Peternakan adalah melakukan
pengawasan dan program penanggulangan penyakit hewan (termasuk zoonosis)
di daerah tempat Dinas itu berada, mengurusi rekomendasi/ijin hewan yang
masuk ataupun keluar melalui daerah kerjanya, serta mengurusi segala kegiatan
kemasyarakatan yang berkaitan dengan kesehatan hewan/ternak (depo obat
hewan dan praktik dokter hewan). Tugas dari Rumah Potong Hewan (RPH)
adalah mengawasi peredaran produk hewan berupa daging dengan cara
melakukan pemeriksaan sebelum dan sesudah hewan dipotong agar memastikan
daging yang diedarkan ke pasar adalah daging yang aman, sehat, utuh dan halal
(ASUH) untuk dikonsumsi manusia. Tugas dari Karantina secara umum
(Karantina Hewan maupun Karantina Ikan) yaitu mengawasi lalu-lintas
hewan/ternak dan ikan serta produk-produknya agar tidak terjadi penyebaran
penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya melalui hewan/ternak maupun ikan
dan produk-produknya tersebut. Khusus untuk Karantina Hewan, wilayah
kerjanya ada di setiap pelabuhan laut dan bandara di suatu pulau/daerah.

Atas dasar tugas dan fungsi Kesmavet tersebutlah maka penting untuk
dilakukan kegiatan koasistensi Kesehatan Masyarakat Veteriner ini. Seluruh
rangkaian kegiatan koasistensi Kesmavet secara umum berlangsung di dua
tempat yaitu laboratorium Kesmavet dan instansi-instansi terkait Kesmavet
(Dinas Peternakan, Rumah Potong Hewan, Karantina Hewan dan Karantina Ikan).
Selain itu juga dilakukan kegiatan penyuluhan mengenai isu Kesmavet kepada
masyarakat dalam kegiatan koasistensi ini demi mempraktikan salah satu ruang
lingkup tugas dan fungsi Kesmavet yaitu pendidikan Kesmavet.

BAB II
MATERI DAN METODE KEGIATAN
A. Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH Undana
1. Pemeriksaan Cemaran Mikroba pada Daging, Susu, Telur dan Produk
Olahannya.
1.1. Pengujian Total Plate Count (TPC)
Pembuatan media
i. Persiapan alat dan bahan (sterilisasi alat dan bahan,
pembuatan media Plate Count Agar/PCA dan larutan
Butterfields Phosphate buffered/BPw).
ii. Persiapan sampel (daging, ikan, telur dan susu).
iii. Sampel daging, ikan dan telur ditimbang sebanyak masingmasing 12,5 gram dan susu ditakar sebanyak 12,5 ml.
iv. Sampel yang sudah diukur dimasukkan ke dalam 112,5 ml
larutan BPw dan dihomogenkan.
Tahap analisis
i. Dilakukan pengenceran kelipatan 10 dengan cara ambil
masing-masing 1 ml larutan (daging, ikan, telur dan susu) dan
dimasukkan ke dalam tabung pertama lalu dihomogenkan
kemudian diambil lagi 1 ml dan dimasukkan ke tabung kedua
dan seterusnya diulang hingga tabung keempat sehingga
terbentuk suatu deret pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 dan 10-4.
ii. Satu ml larutan dari masing-masing tabung 1 sampai 4 diambil
dan dimasukkan ke cawan petri.
iii. Media PCA ditambahkan ke cawan tersebut sebanyak 15 20
ml kemudian dihomogenkan dengan cara menggerakkan
cawan membentuk angka delapan.
iv. Setelah membeku, media yang telah ditanam tersebut
diinkubasi pada suhu 36 C selama 24 jam.
v. Penghitungan dilakukan dengan memilih cawan petri yang
jumlah angka koloninya antara 25 250, kemudian ditentukan
rata-ratanya yang hasilnya merupakan jumlah kuman per 1
gram (CFU/gram).

2. Pemeriksaan Susu
2.1. Uji Alkohol
i. Sampel susu sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung.
ii. Ditambahkan 5 ml alkohol
iii. Campuran tersebut dikocok dan diamati ada/tidaknya presipitasi.
iv. Jika positif maka akan terbentuk presipitasi pada dinding tabung
reaksi.
2.2. Uji derajat keasaman (pH)
i. Sampel susu dimasukkan ke dalam gelas ukur.
ii. pH meter dikalibrasi lalu dicelupkan ke dalam sampel susu yang ada
digelas ukur.
iii. Angka yang tertera pada pH meter merupakan hasil dari
pengukuran.
2.3. Uji kekeruhan
i. Susu steril sebanyak 20 ml dimasukkan ke dalam Erlenmeyer.
ii. Ditambahkan H2SO4 sebanyak 4 ml.
iii. Campuran tersebut dihomogenkan dan dimasukkan ke dalam
penangas air mendidih selama 5 menit.
iv. Perubahan yang terjadi diamati, jika larutan hasil pemanasan jernih
berarti susu tersebut mengalami sterilisasi sempurna.
2.4. Uji penetapan berat jenis (BJ)
i. Susu dituangkan ke dalam tabung tanpa menimbulkan buih.
ii. Lactodensimeter dimasukkan dengan hati-hati dan dibiarkan timbul
sampai diam.
iii. Skala yang ditunjukkan dibaca (angka yang terbaca menunjukkan
angka ke-2 dan ke-3 di belakang koma).
iv. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali.
2.5. Uji kadar bahan kering (BK)
i. Cawan dikeringkan di oven pada suhu 100 C selama 10 menit.
ii. Setelah pengeringan, cawan didinginkan sampai mencapai suhu
ruangan.
iii. Cawan ditimbang (a gram).
iv. Contoh susu dimasukkan ke dalam cawan sebanyak 5 ml dan
ditimbang (b gram).
v. Cawan dipanaskan kembali di oven dengan suhu 100 C selama 1
jam, lalu didinginkan, ditimbang dan dicatat bobot cawan tersebut.

vi. Pemanasan berikutnya dilakukan dengan prosedur yang sama dan


seterusnya sampai berat cawan + contoh susu menjadi stabil (c
gram).
vii. Penghitungan kadar BK dilakukan dengan rumus:

()
()

100%

2.6.

Pengujian mastitis
Pembuatan preparat breed
i. Susu sebanyak 0,1 ml diambil dan diteteskan pada gelas objek
lalu diratakan segi empat.
ii. Preparat tersebut dikeringkan.
iii. Dilakukan pewarnaan dengan eter : alkohol = 1 : 1 selama 2
menit.
iv. Kemudian pewarnaan dengan metilen blue lofter selama 1
menit.
v. Preparat dicuci dengan air biasa.
vi. Selanjutnya, preparat direndam dengan alkohol 95% selama 3
menit.
vii. Preparat diamati di mikroskop dan dihitung jumlah sel somatik
sebanyak 20 kali pandang secara berurutan.
viii. Hasil perhitungan dikali dengan 400.000.
ix. Positif mastitis jika hasil akhir perhitungan di atas 3 juta sel.
Reagen IPB 1
i. Sampel susu dituangkan sebanyak 2 ml pada tiap paddle
(berjumlah 4).
ii. Reagen diteteskan secukupnya lalu dihomogenkan.
iii. Dilakukan pengamatan, jika positif maka akan terbentuk massa
berlendir.
2.7. Uji conradi
i. Resorcine sebanyak 0,1 gram dicampurkan dengan 25 ml susu dan
2,5 ml HCl pekat lalu dihomogenkan.
ii. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam penangas air hingga
campuran tersebut mendidih dan diamati setelah 5 menit
mendidih.
iii. Hasil positif jika terbentuk warna merah jambu di tepi/pinggiran
susu.

2.8.

Uji penambahan santan


i. Sebanyak satu tetes susu diteteskan ke gelas objek dan ditutup
dengan cover glass.
ii. Dilakukan pengamatan di mikroskop dengan perbesaran 100 dan
400.
iii. Jika ditemukan sel-sel yang heterogen maka hasil tersebut positif.
2.9. Uji penambahan tepung
Pemeriksaan mikroskopis
i. Sebanyak 1 tetes susu diteteskan ke gelas objek, kemudian
ditutup dengan cover glass.
ii. Dilakukan pengamatan di mikroskop dengan perbesaran 400.
iii. Hasil positif jika terdapat sel-sel asing selain butir-butir lemak
yang ukurannya tidak teratur dan berwarna kebiru-biruan.
Pengujian kimiawi
i. Susu sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
ii. Ditambahkan 0,5 ml HCl.
iii. Campuran tersebut dipanaskan di atas api hingga terjadi
penggumpalan.
iv. Sampel susu kemudian didinginkan, disaring dan
ditambahkan lugol.
v. Hasil reaksi yang terjadi diamati, jika terbentuk warna biru
berarti sampel susu positif mengandung tepung.
2.10. Pengujian residu antibiotik pada susu
Penggunaan biakan media
i. Persiapan alat dan bahan (sterilisasi alat dan bahan,
pembuatan media Nurient Agar/NA dan larutan Butterfields
Phosphate buffered/BPw).
ii. Pengujian dilakukan dengan 2 metode:
- Metode tuang
Sebanyak 1 ml bakteri (Bacillus cereus) dituangkan
ke cawan petri terlebih dahulu kemudian dituangkan
larutan NA sebanyak 15 ml dan dihomogenkan lalu
dibiarkan hingga media beku.
- Metode sebar
Larutan NA dituang sebanyak 15 ml pada cawan petri
terlebih dahulu dan dibiarkan hingga beku

selanjutnya dituang bakteri (Bacillus cereus)


sebanyak 1 ml dan diratakan dengan gelas bengkok.
iii. Blank cakram dicelupkan ke dalam sampel susu, kontrol
positif dan kontrol negatif, kemudian ditempelkan pada
permukaan media NA baik metode tuang maupun sebar.
iv. Media tersebut diinkubasi pada suhu 54 C selama 24 jam.
v. Setelah 24 jam, dilakukan pengamatan. Bila hasil positif maka
akan terbentuk zona jernih di sekitar blank cakram.
Uji yoghurt
i. Diambil 10 ml sampel susu dan dimasukkan ke dalam tabung
steril.
ii. Susu kontrol juga diambil 10 ml dan dimasukkan dalam
tabung steril lainnya.
iii. Kedua tabung tersebut dipanaskan pada suhu 80 C selama 5
menit.
iv. Setelah itu didinginkan sampai suhu 40 46 C.
v. Ditambahkan starter sebanyak 1 ml dan diinkubasi pada suhu
37 C selama semalam.
vi. Jika susu positif mengandung antibiotik maka konsistensi
susu akan tetap encer.
3. Pemeriksaan Daging
3.1. Pemeriksaan kesempurnaan pengeluaran darah
i. Daging ditimbang sebanyak 6 gram dan dimasukkan ke dalam
gelas ukur.
ii. Penambahan aquades sebanyak 14 ml dan didiamkan selama 15
menit.
iii. Disaring ekstrak dan diambil 0,7 ml filtrate untuk dimasukkan ke
tabung reaksi.
iv. Ke dalam tabung reaksi diteteskan 1 tetes malachite green 0,1%
dan 1 tetes H2o2 3%.
v. Didiamkan 20 menit dan dilakukan pengamatan pada perubahan
warna yang terbentuk, jika pengeluaran darah tidak sempurna
maka akan terbentuk warna hijau/keruh.

3.2.

Pengukuran nilai pH daging


i. Daging dipotong sebanyak 5 gram dan dimasukkan ke dalam gelas
ukur.
ii. Dicampurkan dengan aquades sebanyak 10 ml.
iii. Kertas lakmus dicelupkan ke dalam campuran tersebut dan
diamati perubahan yang terjadi.
3.3. Uji drip loss
i. Daging ditimbang sebanyak 5 gram.
ii. Daging tersebut diikat dengan benang dan dimasukkan ke dalam
plastik klip yang sudah penuh terisi udara. Diposisikan agar daging
tidak menyentuh dinding plastik.
iii. Disimpan di dalam kulkas selama 24 jam.
iv. Setelah 24 jam, daging tersebut ditimbang untuk diketahui
beratnya.
v. Perhitungan drip loss daging menggunakan rumus:
3.4.

()

100%

Uji kadar bahan kering (BK)


i. Cawan dikeringkan di oven pada suhu 110 C
ii. Setelah kering, cawan didinginkan dan ditimbang (a gram).
iii. Sampel (daging dan ikan) masing-masing ditimbang sebanyak 5
gram dan dimasukkan ke dalam cawan petri dengan keadaan telah
dicincang halus lalu ditimbang (b gram).
iv. Cawan yang telah berisi sampel dipanaskan di oven dengan suhu
110 C.
v. Setiap jam sampel dikeluarkan dan ditimbang, diulangi
seterusnya sampai didapat berat konstan (c gram).
()

vi. Perhitungan berat kering menggunakan rumus: () 100%


3.5.

Uji eber
i. Persiapan alat dan bahan (pembuatan reagen eber= HCl 1 : alkohol
3 : ether 1).
ii. Reagen eber sebanyak 2 ml dituang ke dalam tabung.
iii. Sampel daging dipotong sebesar biji kacang tanah lalu ditusukkan
pada lidi yang telah ditancapkan pada sumbat tabung.
iv. Daging yang telah ditusukkan pada lidi dimasukkan secara
perlahan ke dalam tabung yang berisi reagen (diposisikan agar
daging tidak menyentuh dinding tabung).

v. Pengamatan dilakukan sesegera mungkin terhadap reaksi yang


terjadi di sekitar daging.
vi. Hasil positif jika terbentuk awan putih di sekitar daging.
3.6. Uji residu formalin
i. Daging ditimbang sebanyak 10 gram.
ii. Ditambahkan 10 ml aquades dan dihomogenkan.
iii. Campuran tersebut disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm
selama 5 menit.
iv. Supernatannya diambil sebanyak 10 ml.
v. Ditambahkan pelarut berturut-turut:
- 3 tetes phenylhidrazine
- 2 tetes nitroprusside
- 3 tetes NaOH 0,4%
vi. Langsung dilakukan pengamatan, jika terbentuk warna hijau
emerald maka sampel tersebut positif mengandung formalin.
3.7. Pengujian residu antibiotika
i. Persiapan alat dan bahan (sterilisasi alat dan pembuatan media
Nurient Agar/NA).
ii. Daging ditimbang sebanyak 10 gram lalu dipotong kecil-kecil dan
ditambahkan pelarut dapar fosfat nomor 2 sebanyak 20 ml,
dihomogenkan kemudian disentrifuge 3000 rpm selama 10 menit.
iii. Supernatannya diambil dan digunakan sebagai larutan contoh uji.
iv. Bakteri (Bacillus cereus) sebanyak 2 ml diambil dan dimasukkan
ke dalam media NA yang sudah siap dituang ke cawan kemudian
dihomogenkan.
v. Penanaman bakteri dilakukan dengan metode tuang: media NA
yang telah dicampurkan bakteri dituang ke dalam cawan petri
sebanyak 15 ml tiap cawan.
vi. Media dibiarkan beku.
vii. Blank cakram dicelupkan pada larutan contoh uji (sampel daging)
selama beberapa detik kemudian diangkat dan ditempelkan pada
permukaan media NA yang telah ditanam bakteri, demikian juga
dilakukan pada kontrol positif dan negatif.
viii. Media tersebut diinkubasi pada suhu 36 1 C selama 16 18 jam.
ix. Setelah itu, dilakukan pengamatan. Positif mengandung antibiotik
jika terbentuk zona jernih di sekitar cakram.

10

4. Pemeriksaan Telur
4.1. Pengujian kualitas telur utuh
Pemeriksaan kerabang telur
i. Permukaan kerabang telur dilihat dan diraba mulai dari
ujung tumpul sampai lancip untuk mengamati keutuhan,
bentuk, warna, dan kebersihan serta kehalusan kerabang
telur.
ii. Hasil pengamatan dicatat.
Peneropongan telur
i. Telur diarahkan ke sinar candler dan diputar-putar
kemudian dilihat kelainan yang mungkin terlihat, seperti
tinggi kantung hawa, adanya bercak-bercak darah dan
pertumbuhan embrio.
ii. Hasil pengamatan dicatat.
Pengukuran tinggi kantung hawa
i. Telur diletakkan di depan candler dan diukur diameter dan
tinggi kantung hawa menggunakan jangka sorong.
ii. Berdasarkan tinggi kantung hawa, dapat dilakukan
pengelompokkan umur.
4.2. Pengujian kualitas di dalam telur
Pemeriksaan putih dan kuning telur
i. Kerabang telur dibersihkan lalu didesinfeksi dengan alkohol
70%.
ii. Kerabang telur dibuka tepat pada bagian tengah telur dan
dituangkan ke atas meja praktikum.
iii. Dilakukan pengamatan pada kebersihan dan kekentalan
putih telur serta bentuk, posisi, dan kebersihan kuning telur.
iv. Hasil pengamatan dicatat.
Indeks Kuning Telur
i. Tinggi dan diameter dari kuning telur diukur untuk
penentuan indeks kuning telur.
ii. Penentuan indeks kuning telur menggunakan rumus:
()
()

Indeks albumin
i. Tinggi dari albumin tebal diukur.

11

ii. Diameter diukur 2 kali dengan sisi yang berbeda untuk


dirata-ratakan.
iii. Indeks albumin diukur dengan menggunakan rumus:
()
(1+2):2 ()

4.3.

Perendaman di air
i. Air dimasukkan secukupnya ke dalam gelas piala.
ii. Telur dimasukkan dan hasil yang didapat dicatat.
iii. Kualitas telur dinilai berdasarkan keadaan telur dalam air
(terapung, melayang atau tenggelam).
4.4. Haugh unit
i. Telur ditimbang.
ii. Telur dibuka dan isinya (putih dan kuning) dituangkan ke atas
meja praktikum.
iii. Albumin tebal diukur tingginya.
iv. Haugh unit dihitung dengan menggunakan rumus: 100 log
(H+7.57-1.7W0.37).
v. Keterangan: H = tinggi albumin (mm) dan W = bobot telur (gram).
B. Karantina Hewan
1. Karantina Hewan Pelabuhan
Secara umum, di karantina pelabuhan dilakukan pengamatan
terhadap segala kegiatan administratif yang menyangkut urusan
perkarantinaan dan ditemukan tindakan-tindakan karantina. Tindakan
yang dilakukan oleh karantina hewan sebagaimana yang tertera di UndangUndang No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan,
yaitu pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan,
penolakan, pemusnahan dan pembebasan. Selain itu, didapat juga materi
berupa pengenalan terhadap karantina dan kegiatan pengawasan dan
penindakan (wasdak) di karantina. Ada beberapa kegiatan yang melibatkan
mahasiswa baik di Instalasi Karantina Hewan maupun di laboratorium,
yaitu:
1.1. Instalasi Karantina Hewan (Pengambilan darah)
i. Sapi diantar masuk ke Instalasi Karantina Hewan menggunakan
truk.

12

ii. Sapi dimasukkan ke kandang melalui jalur yang telah dibuat


khusus.
iii. Sapi diistirahatkan beberapa saat.
iv. Setelah cukup tenang, sapi dibawa masuk ke kandang jepit dan
dilakukan pengambilan darah.
v. Pengambilan darah menggunakan tabung vacutainer tanpa
antikoagulan agar mendapatkan serum untuk uji Rose Bengal
Test/RBT Brucellosis.
vi. Lokasi pengambilan darah adalah pada vena jugularis di leher,
namun dapat juga dilakukan pada vena dorsalis nasi di hidung dan
vena coccygea di ekor.
vii. Darah yang telah diambil kemudian diantar ke laboratorium untuk
dilakukan pemeriksaan.
1.2. Laboratorium (uji Rose Bengal Test/RBT)
i. Penerimaan sampel darah dari Instalasi Karantina Hewan.
ii. Sampel darah yang telah terbentuk serumnya langsung dipakai
untuk pemeriksaan, namun yang belum terbentuk serum
dilakukan sentrifuge dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit.
iii. Serum sampel diambil menggunakan mikropipet sebanyak 0,25 ml
dan diteteskan di atas cawan. Begitu juga dengan kontrol negatif
dan positif 1 hingga 3.
iv. Diteteskan antigen untuk uji RBT sebanyak 1 tetes di setiap serum.
v. Campuran serum dan antigen pada cawan kemudian ditapping
selama 4 menit pada kecepatan 200 400 rpm pada alat rotary
aglutinator.
vi. Reaksi yang terjadi dapat diamati dan disesuaikan hasilnya dengan
kontrol.
2. Karantina Hewan Bandara
Karantina bandara merupakan pengatur lalu-lintas hewan yang
keluar ataupun masuk melalui bandar udara El Tari kupang. Karantina
bandara ini merupakan salah satu wilayah kerja dari Balai Karantina
Pertanian Kelas 1 Kupang yang kantor pusatnya di pelabuhan Tenau.
Tindakan-tindakan yang dilakukan di karantina bandara secara umum
sama dengan karantina pelabuhan. Alur pelayanan yang ditetapkan pun
sama. Karantina bandara ini lebih banyak mengurusi lalu-lintas hewan
kesayangan dan ayam Day Old Chicks (DOC) dan hanya terbatas pada

13

pengecekan dokumen kesehatan hewan karena tidak memiliki


laboratorium yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan kesehatan
hewan.
C. Dinas Peternakan
1. Kantor Dinas Peternakan
Kantor dinas peternakan kota Kupang dalam tugasnya melayani
beberapa hal, diantaranya perijinan dan rekomendasi keluar masuk
ternak/hewan dan hasil ikutan peternakan, perijinan pemeliharaan ternak,
depo obat hewan dan depo daging, vaksinasi ternak besar dan kecil,
pengobatan ternak besar dan kecil, pemberian obat cacing dan vitamin, dan
Inseminasi Buatan (IB). Dalam pelaksanaan pelayanan tersebut, telah
dibuatkan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar memudahkan proses
pelayanan itu sendiri. Sebagai aplikasi dari pelayanan oleh dinas
peternakan, sering dilakukan kunjungan lapangan baik atas laporan
masyarakat ataupun oleh program dari dinas sendiri. Kunjungan lapangan
yang dilakukan biasanya untuk pengobatan ternak/hewan (atas laporan
masyarakat) dan vaksinasi, pemberian obat cacing atau vitamin dan
kepentingan surveillance penyakit hewan (program dinas).
Pada akhirnya, hasil dari kunjungan lapangan dan juga oleh laporan
masyarakat, dinas peternakan merangkum dan menyimpulkan data
mengenai sebaran dan kejadian penyakit hewan di kota Kupang untuk
kepentingan data epidemiologi penyakit hewan. Rekapan data mengenai
kejadian penyakit ini biasanya dilakukan/dikeluarkan setiap bulan.
2. Rumah Potong Hewan (RPH)
Rumah Potong Hewan (RPH) merupakan instansi yang ada di bawah
naungan Dinas Peternakan Kota Kupang, terletak di Oeba. Rumah Potong
Hewan Oeba terdiri dari 2 bagian yaitu RPH sapi dan RPH babi yang
bangunannya terpisah. Kegiatan yang wajib dilakukan di RPH yaitu
pemeriksaan antemortem dan postmortem. Pemeriksaan antemortem
biasanya dilakukan pada pukul 16.00 sore, namun di RPH sapi pada
beberapa hari tertentu ketika banyak sapi yang dimasukkan maka
pemeriksaan dapat dimulai sejak pukul 10.00. Sedangkan pemeriksaan
postmortem dilakukan dinihari ketika sapi maupun babi mulai dipotong.
Kegiatan antemortem yang dapat dilakukan di RPH adalah dengan
pengamatan kondisi sapi/babi secara umum kemudian langsung memberi

14

penilaian. Hal-hal yang dapat diamati seperti luka, fraktur kaki, buta,
edema, keluar leleran, infestasi parasit, hipersalivasi, dan lain-lain. Bagian
dari kegiatan antemortem yang juga penting adalah pemeriksaan
dokumen/surat jual beli hewan yang sah sebagai syarat hewan dapat
diterima untuk proses pemotongan di RPH. Sedangkan postmortem
dilakukan dengan pengamatan terhadap organ viseral (otak, jantung,
pulmo, limpa, hepar, lambung dan usus) yang telah dipisahkan. Organ
viseral tersebut juga dapat diinsisi untuk dilihat kelainannya, terlebih
ketika ditemukan nodul. Namun dengan kondisi tanpa pendampingan dari
petugas RPH maka hasil dari kegiatan pemeriksaan baik antemortem
maupun postmortem tidak dapat diambil keputusan apapun.
Dalam hal pengoperasian RPH, ada beberapa hal yang menjadi
faktor penunjang yang cukup berpengaruh dalam usaha RPH untuk
menghasilkan daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) demi
kepentingan konsumsi (kecuali untuk babi tidak diberi label Halal).
Beberapa hal di antaranya adalah penerapan prinsip kesejahteraan hewan,
kelayakan bangunan RPH dan kegiatan pengolahan limbah. Untuk itu, maka
dilakukan pengamatan dan penilaian terhadap keberhasilan penerapan
beberapa item tersebut di RPH Oeba. Penilaian dimaksudkan agar dapat
diketahui seberapa layak RPH Oeba mampu menjalankan fungsinya dalam
hal penyediaan daging yang ASUH bagi konsumsi masyarakat di kota
Kupang.
D. Karantina Ikan
Sebagaimana tugas karantina pada umumnya, karantina ikan adalah
instansi yang ditugaskan untuk menjamin keamanan produk perikanan
yang dilalu-lintaskan. Tindakan yang dilakukan oleh karantina ikan pun
sama seperti karantina hewan sebagaimana yang tertera di UndangUndang No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan,
yaitu pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan,
penolakan, pemusnahan dan pembebasan. Tindakan-tindakan tersebut
yang diamati selama berada di karantina ikan.
Selain pengamatan terhadap tindakan karantina, mahasiswa juga
ikut terlibat dalam tindakan karantina yaitu melakukan identifikasi
penyakit di laboratorium sebagai bagian dari tindakan pemeriksaan.

15

Identifikasi yang dilakukan adalah identifikasi parasit pada produk


perikanan. Prosedur identifikasi yang dikerjakan adalah sebagai berikut:
i. Sampel diterima di laboratorium melalui ruangan nekropsi.
ii. Sampel ikan, lobster atau kepiting dinekropsi dengan cara
menusukkan benda tajam ke kepala untuk mengenai otak.
iii. Tubuh sampel kemudian dibuka untuk diambil insangnya dan
ditaruh ke wadah bersih.
iv. Insang sampel dibawa ke laboratorium parasit.
v. Insang sampel ditetesi dengan aquades secukupnya agar
memudahkan proses identifikasi.
vi. Identifikasi dilakukan dengan menempatkan insang langsung di
bawah lensa objek mikroskop khusus yang dirancang untuk
mencari parasit pada insang ikan.
vii. Setelah ditemukan parasit, diambil menggunakan pinset dan
ditempatkan di gelas objek yang sebelumnya telah ditetesi
aquades.
viii. Preparat parasit tersebut kemudian diamati di mikroskop yang
telah terhubung dengan komputer sehingga gambaran di bawah
lensa objek dapat langsung teramati di layar komputer.
ix. Gambaran parasit yang jelas di layar komputer dapat membantu
dalam hal identifikasi.

16

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH Undana
1. Pemeriksaan Cemaran Mikroba pada Daging, Susu, Telur dan Produk
Olahannya.
1.1. Pengujian Total Plate Count (TPC)
Hasil pengujian TPC dari sampel daging, ikan, susu dan telur
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Jenis
sampel
Daging

Koloni bakteri

Hasil

Keterangan

4,22 x
106

Melebihi
batas
cemaran oleh
SNI (1 x 106)

Ikan

3,27 x
106

Melebihi
batas
cemaran oleh
SNI (1 x 106)

Susu

Tidak ada
cemaran
mikroba

17

Telur

6 x 104

Di bawah
batas
cemaran oleh
SNI (1 x 106)

Dari hasil yang tertera pada tabel di atas, dapat disimpulkan


bahwa tingkat cemaran mikroba pada telur dan susu masih berada
dalam kategori aman untuk dikonsumsi (bahkan untuk susu tidak ada
cemaran), sedangkan tingkat cemaran mikroba pada daging dan ikan
sudah melewati batas sehingga tidak layak untuk dikonsumsi lagi.
Sampel daging dan ikan yang digunakan pada praktikum ini
diambil dari pasar modern (supermarket) yang penyimpanannya
pada lemari pendingin, sedangkan sampel telur diambil dari telur
yang dijual tanpa perlakuan penyimpanan khusus. Untuk sampel susu
dipakai susu steril yang dijual dalam bentuk kaleng sehingga wajar
ketika pada pemeriksaan TPC tidak ditemukan adanya cemaran
mikroba. Proses sterilisasi dilakukan dengan teknik pemanasan
mencapai 155 C sehingga mengakibatkan semua bakteri pathogen
maupun non-pathogen mengalami kematian (Saleh, 2004).
Melihat hasil pemeriksaan TPC bahwa sampel daging dan ikan
memiliki jumlah cemaran mikroba yang melebihi batas maka
sebenarnya faktor penyimpanan bukan menjadi satu-satunya
penentu kualitas bahan pangan asal hewan, tetapi juga ada faktor lain
seperti perlakuan pada saat pemotongan dan lamanya masa
penyimpanan. Kemungkinan daging dan ikan tersebut telah disimpan
dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga mikroba mampu
tumbuh dalam jumlah yang banyak.
Telur dengan nilai cemaran mikroba yang minim atau di
bawah batas cemaran menunjukkan bahwa kemungkinan telur
tersebut masih baru sehingga mikroba belum banyak berkembang.
Ditambah lagi dengan pertahanan yang baik dari telur melalui

18

kerabangnya, membuat telur agak susah dicemari oleh mikroba


walaupun penyimpanannya tidak pada kondisi yang ideal.
2. Pemeriksaan Susu
2.1. Uji alkohol
Tujuan dari uji alkohol adalah untuk mengetahui kualitas susu
secara cepat. Kualitas susu yang baik dan yang asam dapat diketahui
melalui uji alkohol. Prinsipnya adalah dengan melihat ada/tidaknya
presipitasi yang terbentuk pada dinding tabung reaksi yang telah diisi
susu yang dicampur alkohol. Perubahan keasaman susu (pH)
disebabkan oleh terbentuknya asam laktat sebagai akibat daya kerja
bakteri asam laktat yang banyak ditemukan dalam susu yang
pemerahannya dilakukan secara tidak higienis (Sudarwanto, 1999).
Hasil dari uji alkohol yang dilakukan pada praktikum ini
adalah tidak terjadi presipitasi pada dinding tabung reaksi, sehingga
kesimpulannya adalah kualitas susu yang digunakan masih baik.
Presipitasi tidak terjadi karena pada susu yang baik kualitasnya,
partikel-partikel casein terikat dengan gara-garam Ca dan Mg
sehingga keadaannya stabil. Hal itu membuat alkohol tidak mampu
mendehidrasi micelle casein phosphate untuk membentuk presipitasi.
Presipitasi dapat terjadi karena ketika susu menjadi asam, keasaman
akan mempengaruhi kestabilan dari micelle sehingga garam-garam Ca
dan Mg akan melepaskan diri dari ikatannya secara perlahan dan
masuk ke dalam larutan. Pelepasan garam-garam ini menyebabkan
pengikatan air berkurang sehingga jika diberi alkohol akan
mendehidrasi micelle casein phosphate untuk mengakibatkan
terjadinya presipitasi.

19

Gambar. Hasil uji alkohol

2.2. Uji derajat keasaman (pH)


Tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui tingkat keasaman
susu, karena tingkat keasaman merupakan salah satu indikator
penting untuk mengetahui kualitas air susu. Susu segar mempunyai
pH 6,6 6,7. Bila terjadi fermentasi spontan akibat aktivitas bakteri,
pH susu dapat turun secara nyata sekitar 4 5. Sebaliknya pH susu
dapat naik diatas 6,7 bila sapi menderita penyakit mastitis
(Hadiwiyoto, 1994).
Pada praktikum ini dipakai susu steril untuk pengukuran pH
karena ketiadaan susu segar. Hasil yang didapat adalah nilai pH susu
yang diuji sebesar 7,0 baik pada pengkuran menggunakan pH meter
maupun kertas lakmus. Menurut Rahman, dkk. (1992), penyimpanan
susu pada suhu yang lebih tinggi akan mempercepat penurunan pH
susu. Pendapat tersebut berlawanan dengan hasil yang didapat pada
praktikum ini, kemungkinan akibat susu steril tersebut telah
terkontaminasi bakteri sebelum dilakukan pengukuran pH.

20

Gambar. Hasil uji pH susu dengan pH meter (kiri) dan kertas lakmus (kanan)

2.3. Uji kekeruhan


Tujuan dari uji kekeruhan adalah untuk mengetahui
kesempurnaan proses sterilisasi. Sesuai tujuannya, uji ini hanya
dilakukan pada susu steril (UHT) yang dijual di pasar. Prinsip uji ini
adalah mengamati hasil pemanasan susu yang telah dicampur
ammonium sulfat. Jika hasilnya jernih maka susu mengalami
sterilisasi sempurna. Seperti hasil uji yang dilakukan pada praktikum
ini, didapat cairan yang jernih sehingga kesimpulannya susu yang diuji
mengalami sterilisasi sempurna.

Gambar. Hasil uji kekeruhan

21

2.4. Uji penetapan berat jenis (BJ)


Prinsip dari BJ adalah bahwa benda padat yang dicelupkan ke
dalam suatu cairan akan mendapatkan tekanan ke atas seberat
volume cairan yang dipindahkan. Alat untuk mengukur BJ adalah
lactodensimeter. Pada praktikum ini tidak benar-benar dilakukan
pengukuran BJ karena tidak tersedianya lactodensimeter, namun
simulasi perhitungan BJ tetap dilakukan dengan permisalan skala
yang terbaca pada lactodensimeter adalah 28.
Melalui skala yang terbaca, secara otomatis bisa langsung
diketahui nilai BJ suatu larutan karena skala tersebut menunjukkan
angka ke-2 dan ke-3 di belakang koma dari nilai BJ. Artinya dengan
contoh skala 28 yang diberikan, BJ susu adalah 1,0280. Nilai itu dapat
dibuktikan dengan proses hitung seperti di bawah ini.
Diketahui:
Skala lactodensimeter
Suhu lingkungan
Suhu susu

= 28
= 24 C
= 22 C

Ditanya:
BJ setara 27,5 C (suhu lingkungan standar) = ?
Penyelesaian:

22 C

= 24 C = 1,0280

(Suhu Susu Suhu Lingkungan) x Tetapan BJ x Hasil oleh skala


= (22 24 C) x 0,0002 x 1,0280
= 1, 0276 (BJ sementara)

= 1,0276

0,99734
0,996480

= 1,0285
= 1,0280 (BJ akhir)

Susu mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada air,


karena pada susu selain ada kandungan air (87,90%) terkandung juga

22

bahan kering/padatan (protein, lemak, mineral, vitamin) yaitu antara


12,10% (Saleh, 2004). Menurut codex dan SNI, BJ air susu adalah
1,0280 sehingga hasil yang didapat sesuai dengan nilai standar BJ
yang ditetapkan. Nilai BJ air susu segar dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain makanan, perubahan kondisi dan kadar
lemak, adanya gas di dalam susu, protein, laktosa, jenis ternak, usia
ternak dan kondisi lingkungan. Berat jenis susu sangat tergantung
pada senyawa penyusunnya. Biasanya makin besar atau makin
banyak senyawa-senyawa yang terlarut dalam suatu larutan maka
semakin besar pula BJ-nya.
Dengan nilai BJ yang didapat, disimpulkan bahwa susu
tersebut tidak mengalami penambahan atau pengurangan bahan
apapun sehingga kualitasnya berdasarkan BJ masih baik.
2.5. Uji kadar bahan kering (BK)
Bahan kering adalah bahan padatan (non air) yang terkandung
dalam susu sebagai bagian dari komposisi susu, seperti lemak,
protein, laktosa, vitamin, dan lain-lain. Uji kadar BK ini dilakukan
karena kadar BK dapat menjadi gambaran kualitas dari susu. Kadar
BK susu segar menurut Saleh (2004) adalah 12,10% (lemak 3,45%,
protein 3,20%, laktosa 4,60%, vitamin dan lain-lain 0,85%). Kadar BK
yang lebih ataupun kurang dari kandungan normal dapat dicurigai
sebagai susu yang kualitasnya sudah tidak baik.
Berdasarkan hasil uji yang didapat, dilakukan perhitungan
kadar bahan kering sebagai berikut:
()

BK = () 100%
(53,1 52,6)

= (57,5 52,6) 100%


= 10,2%
Dari hasil yang didapat, ternyata kadar BK susu berada di
bawah kadar BK normal. Namun hal ini bukan karena sampel susu
tersebut sudah tidak baik kualitasnya, melainkan sampel susu
tersebut merupakan susu steril sehingga normal jika kadar BK-nya
hanya 10,2%. Pemanasan suhu tinggi yang merusak banyak

23

komponen padat dari susu mengakibatkan kadar BK susu pun ikut


menurun.

Gambar. Berat akhir susu yang telah dipanaskan berulang-ulang (c gram)

2.6. Pengujian mastitis


Pembuatan preparat breed
Tujuan dari pembuatan preparat breed adalah untuk dapat
melakukan pengamatan dan penghitungan terhadap jumlah sel
somatik (JSS) dalam air susu. Peradangan atau perlukaan pada
ambing menyebabkan pelepasan sel somatik dalam susu sehingga
perhitungan JSS merupakan alat diagnostik yang baik dalam
mendeteksi secara dini kejadian mastitis baik subklinis maupun
mastitis akut (Green et al., 2004; de Haas et al., 2004).
Sampel susu yang dipakai pada praktikum ini adalah susu
kambing. Hasil pengamatan dan penghitungan preparat breed
menunjukkan sampel susu tersebut negatif mastitis. Jumlah sel
somatik pada pengamatan 20 kali pandang adalah 10 sel sehingga
jumlah rata-ratanya dikali 400.000 adalah 200.000 sel somatik.
Ternak dapat dikategorikan mastitis hanya jika JSS-nya di atas 3
juta sel.

24

Gambar. Penampakan sel somatik pada preparat breed

Reagen IPB-1
Reagen IPB-1 adalah larutan uji cepat untuk mendeteksi
mastitis pada ternak. Sesuai dengan namanya, reagen ini
merupakan hasil penemuan dari fakultas kedokteran hewan IPB.
Prinsip dari uji ini adalah akan terbentuk massa berlendir pada
susu jika ditambahkan reagen IPB-1. Reaksi positif ditandai dengan
terbentuknya lendir pada dasar padlle. Lendir terbentuk akibat
koagulasi mikroba dalam susu dengan reagen IPB-1. Penilaian
reaksi dibagi dalam 4 kategori yaitu: negatif (tidak terjadi
perubahan konsistensi atau suspensi bersifat homogen positif),
positif 1 (suspensi sedikit kental atau tidak homogen), positif 2
(suspensi mengumpal) dan positif 3 (terjadi pengumpalan yang
membentuk lendir) (Sudarwanto dan Sudarnika, 2008).

Gambar. Hasil uji mastitis dengan reagen IPB-1

25

2.7. Uji conradi


Tujuan dari uji conradi adalah untuk mendeteksi adanya
pemalsuan susu dengan gula. Gula yang ada pada susu adalah laktosa
(galaktosa + glukosa) sehingga jika ditambahkan gula lain maka gula
tersebut akan bereaksi dengan resorcine dan membentuk warna
merah jambu setelah pemanasan pada pinggiran susu yang ada di
wadah.
Hasil uji menunjukkan tidak terbentuk warna merah jambu pada
susu. Hal ini bukan dikarenakan susu tersebut adalah susu murni
(tanpa pemalsuan dengan gula), namun kemungkinan akibat
resorcine yang digunakan telah rusak. Kesimpulan tersebut diambil
karena susu telah ditambahkan gula dengan sengaja sebelumnya.
Resorcine yang menjadi pereaksi kemungkinan telah kadaluarsa atau
mengalami kesalahan dalam penyimpanan sehingga kehilangan
fungsinya.

Gambar. Hasil uji conradi

2.8. Uji penambahan santan


Susu yang ditambahkan santan secara kasat mata agak susah
dibedakan dengan susu murni, namun melalu pemeriksaan
mikroskopik dapat diketahui dengan mudah. Hal yang membedakan
adalah bentuk butir-butir lemak yang berbeda antara susu dan santan.
Susu murni bentuk lemaknya homogen, kecil dan teratur, sedangkan
lemak santan bentuknya tidak homogen. Efek negatif dari
penambahan santan pada susu adalah memperpendek masa
penyimpanan susu karena mudah menjadi tengik dan tidak bisa

26

diperoleh hasil yang baik jika susu diolah menjadi yoghurt, kefir atau
keju.

Gambar. Butir-butir lemak susu yang ditambahkan santan. Perbesaran 100 (kiri);
Perbesaran 400 (kanan)

2.9. Uji penambahan tepung


Pemalsuan susu dengan tepung akan meningkatkan konsistensi
susu sehingga dapat diamati secara organoleptik. Selain itu, secara
kimiawi akan meningkatkan bahan kering tanpa lemak (BKTL) dan
juga berat jenis susu. Pengujian dilakukan dengan 2 metode yaitu
kimiawi dan mikroskopis. Kedua metode ini dapat saling mendukung
maupun saling menggantikan karena sama-sama dapat memberikan
hasil yang akurat. Prinsip pada pengujian kimiawi adalah susu
berubah warna menjadi biru dengan pereaksi lugol, dan pada
pemeriksaan mikroskopis dapat teramati sel-sel asing selain butir
lemak yang ukurannya tidak teratur dan berwarna kebiru-biruan.
Hasil uji dapat dilihat pada gambar di bawah. Pengujian kimiawi
yang menghasilkan warna biru dan pemeriksan mikroskopis terlihat
sel asing sehingga sampel susu dikatakan positif mengandung tepung.
Warna biru pada susu akibat ditetesi lugol karena reaksi antara ion
lugol iodine (I3- dan I5-) dengan struktur kompleks ikatan polisakarida
dari amilum (tepung) yang teramati sebagai sel asing pada
pemeriksaan mikroskopis. Mekanisme reaksinya belum diketahui
secara pasti, namun kekuatan warna biru yang dihasilkan tergantung
pada jumlah amilum yang ada sehingga jika hasil uji semakin

27

memperlihatkan warna biru yang pekat maka kandungan amilum


yang ditambahkan ke susu pun semakin banyak.

Gambar. Hasil uji penambahan tepung. Kimiawi (kiri); Mikroskopis (kanan)

2.10. Pengujian residu antibiotik pada susu


Penggunaan biakan media
Pengujian residu antibiotik dengan metode penggunaan
biakan media disebut metode bioassay. Prinsip dari pengujian ini
adalah menggunakan mikroorganisme untuk mendeteksi
senyawa antibiotika yang masih aktif. Antibiotik akan
menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.
Zona hambat akan terbentuk di sekitar kertas cakram yang telah
dicelupkan ke sampel. Besarnya diameter daerah hambatan
menunjukkan konsentrasi residu antibiotik. Menurut SNI No. 016366-2000 tentang batas maksimum cemaran mikroba dan
batas maksimum residu dalam bahan makanan asal hewan,
Batas Maksimum Residu untuk antibiotik pada produk pangan
adalah 0,1 ppm (diameter zona hambat 10 mm pada media agar).
Metode ini berlaku untuk antibiotika golongan penisilin,
tetrasiklin, aminoglikosida dan makrolida.
Pengujian yang menggunakan 2 metode penanaman, yaitu
tuang dan sebar memberikan hasil yang berbeda karena kontrol
positif pada metode tuang membentuk zona hambat namun
tidak pada metode sebar. Hal itu kemungkinan karena kesalahan
prosedur ketika penanaman sehingga kontrol positif pada
metode sebar tidak membentuk zona hambat. Antibiotik yang

28

digunakan adalah amoksisilin dari golongan penisilin. Hasil dari


sampel susu yang diuji pada kedua metode ini tidak membentuk
zona hambat, yang dapat disimpulkan bahwa sampel susu yang
diuji tidak mengandung antibiotik.

Gambar. Hasil uji residu antibitotika: metode tuang (kiri) dan metode sebar
(kanan) yang tampak tidak ada pertumbuhan bakteri

Uji yoghurt
Prinsip dari pembuatan yoghurt adalah dengan
menggunakan bakteri starter Streptococcus termophilus dan
Lactobacillus bulgaris untuk memfermentasi gula susu (laktosa)
menghasilkan asam laktat yang berperan dalam protein susu
untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan aroma unik pada
yoghurt (Saleh, 2004). Karena pembuatan yoghurt mutlak
membutuhkan bakteri maka ketika susu yang dipakai
mengandung antibiotik, bakteri akan mati sehingga tidak dapat
memfermentasi laktosa. Hal tersebutlah yang dijadikan dasar
untuk uji residu antibiotik menggunakan yoghurt.
Pada praktikum ini, sampel susu sengaja ditambahkan
antibiotik untuk membuktikan teori tentang uji yoghurt.
Antibiotik yang dipakai adalah amoksisilin. Hasil yang didapat
setelah melalui proses pembuatan yoghurt, sampel susu ternyata
tetap encer sehingga memberikan bukti bahwa uji ini efektif
untuk mendeteksi keberadaan antibiotik pada susu.

29

Gambar. Hasil uji yoghurt

3. Pemeriksaan Daging
3.1. Pemeriksaan kesempurnaan pengeluaran darah
Salah satu syarat pemotongan hewan yang baik adalah dengan
mengeluarkan darah hewan secara sempurna. Darah yang tidak
dikeluarkan dengan sempurna akan mengakibatkan cepat terjadi
pembusukan pada daging karena keberadaan darah di jaringan
menyebabkan tidak terjadinya proses glikolisis anaerob yang
merupakan syarat terentuknya asam laktat. Ketika tidak terbentuk
asam laktat di jaringan maka pH daging menjadi tinggi sehingga
mudah ditumbuhi bakteri pembusuk (Lawrie, 1995).
Oleh karena itu, untuk mendeteksi kesempurnaan
pengeluaran darah maka dilakukan uji yang menggunakan larutan
H2O2 3% dan malachite green 0,1%. Prinsip dari uji ini adalah ketika
ada hemoglobin (Hb) pada sampel daging akibat pengeluaran darah
tidak sempurna maka Hb akan diikat oleh O2 (H2O2) sehingga
malachite green tidak dioksidasi dan tetap berwarna hijau.
Sebaliknya, ketika tidak ada Hb maka malachite green akan dioksiasi
oleh O2 sehingga berubah warna menjadi biru.
Pengujian ini menggunakan 5 sampel daging yaitu 2 daging
sapi, 2 daging babi, dan 1 daging anjing serta 1 kontrol positif (daging
ayam. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa semua sampel negatif
(warna menjadi biru) sehingga disimpulkan bahwa kelima daging
tersebut sebelumnya disembelih dengan pengeluaran darah yang

30

sempurna. Sedangkan untuk kontrol positif, warna malachite green


tidak mengalami perubahan akibat tidak dioksidasi oleh O2.

Gambar. Hasil pengujian kesempurnaan pengeluaran darah. Tabung paling kiri


adalah kontrol positif, sedangkan sisanya adalah sampel daging yang diuji

3.2. Pengukuran nilai pH daging


Nilai pH merupakan salah satu kriteria dalam penentuan
kualitas daging. Otot daging hewan hidup mempunyai pH kira-kira
7,2. Penurunan pH setelah dipotong sebagai akibat dari akumulasi
asam laktat merupakan salah satu perubahan postmortem paling
signifikan yang terjadi di dalam otot selama perubahannya menjadi
daging. Asam laktat dihasilkan oleh proses glikolisis anaerob di
jaringan otot. Nilai pH ultimat normal daging postmortem adalah
sekitar 5,5 yang sesuai dengan titik isoelektrik sebagian besar
protein daging termasuk protein miofibril (Lawrie, 1995).
Pengukuran nilai pH daging dapat dilakukan dengan beberapa
metode, salah satunya dengan menggunakan pH meter. Penggunaan
pH meter dapat memberikan hasil yang akurat, namun sebelum
digunakan pH meter harus dikalibrasi ke pH standar terlebih dahulu
(7,0). Akibat tidak tersedianya larutan kalibrasi, maka uji ini
dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, yang juga
merupakan alat ukur pH. Penggunaan kertas lakmus cukup praktis
dan murah, tetapi lemah dalam hal akurasi sehingga tidak disarankan
untuk pengukuran nilai pH daging.

31

Pengujian ini menggunakan 6 sampel daging yaitu 2 daging


sapi, 2 daging babi, 1 daging ayam dan 1 daging sapi. Hasil uji yang
didapat, semua sampel daging sapi dan babi memiliki nilai pH 6,0 dan
daging ayam serta anjing memiliki pH 5,0. Hasil yang didapat
sebenarnya tidak memberikan satu kepastian mengenai nilai akhir
pH dari semua sampel daging tersebut karena skala pengukuran
kertas lakmus sangat besar. Jika dilakukan pengukuran dengan pH
meter, masih ada kemungkinan nilai pH semua sampel mencapai
angka normal karena kisarannya dari 5,0 ke 6,0 menempatkan nilai
pH normal berada di tengah-tengah. Untuk dapat menarik
kesimpulan mengenai pH akhir, harus dilakukan pengukuran
menggunakan pH meter.

Gambar. Hasil pengukuran nilai pH menggunakan kertas lakmus pada salah


satu sampel daging

3.3. Uji drip loss


Drip loss berasal dari dua kata yaitu drip dan loss. Drip yaitu
nutrien yang ikut bersama cairan daging keluar, sedangkan loss yaitu
kehilangan. Jadi, drip loss dapat diartikan sebagai hilangnya
beberapa komponen nutrien daging yang ikut bersama keluarnya
cairan daging. Ini biasanya terjadi setelah daging dibekukan dan
diletakkan bukan ditempat yang dingin. Sedangkan menurut
Soeparno (2005), drip yaitu cairan yang keluar dan tidak terserap
kembali oleh serabut otot selama penyegaran. Dua faktor yang
mempengaruhi jumlah drip yaitu besarnya cairan yang keluar dari

32

daging dan faktor yang berhubungan dengan daya ikat air oleh
protein daging.
Hasil perhitungan drip loss pada sampel daging yang dipakai
adalah sebesar 8%. Namun kemungkinan hasil ini belum akurat
karena penyimpanan di kulkas hanya dilakukan selama 24 jam. Pada
aturannya harus disimpan selama 48 jam.

Gambar. Sampel daging setelah 24 jam penyimpanan pada uji drip loss

3.4. Uji kadar bahan kering (BK)


Uji kadar bahan kering dilakukan agar dapat diketahui
kandungan komponen padat penyusun daging (protein, lemak,
vitamin dan mineral). Namun dalam uji ini tidak dapat diketahui
secara rinci kandungan setiap komponen, hanya untuk mengetahui
keberadaannya secara keseluruhan. Prinsip dari uji ini adalah
pemanasan daging pada suhu tinggi dalam jangka waktu tertentu
agar kandungan airnya menguap dan hanya komponen padat daging
yang tertinggal.
Hasil uji yang dilakukan pada sampel daging ayam dan ikan
tongkol, masing-masing kadar BK yang didapat adalah 30% dan 24%.
Kadar air daging ayam adalah 65 80% (Forest et al., 1975), sehingga
sisanya sekitar 20 35% adalah kadar BK. Sedangkan menurut
Nurwayuningsih (2010), kadar BK ikan tongkol adalah 29,6%. Hasil
yang didapat untuk kadar BK daging ayam sudah sama seperti teori.
Namun untuk ikan tongkol tidak persis sama dengan kadar BK
menurut teori, kemungkinan akibat pengukuran berat yang tidak

33

menggunakan timbangan analitik sehingga tidak didapat berat akhir


yang diharapkan. Penggunaan timbangan analitik penting karena
perubahan berat dapat terjadi sampai 4 angka di belakang koma.

Gambar. Pengukuran berat sampel daging ayam (kiri) dan ikan tongkol (kanan) sebelum
pemanasan (atas) dan setelah pemanasan (bawah)

3.5. Uji eber


Uji eber adalah salah satu jenis uji untuk mengetahui awal
pembusukan daging. Prinsipnya adalah dengan melihat ada atau
tidaknya pembentukan awan putih di sekitar daging yang
dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi reagen. Reagen dibuat
menggunakan larutan HCl, eter alkohol dan alkohol 96% dengan
komposisi 1:1:3.
Hasil uji menunjukkan bahwa ketiga sampel yang diuji yaitu
daging ayam, babi dan ikan sama-sama terjadi pembentukan awan
putih. Pembentukan awan putih tersebut terjadi akibat gas NH3 yang
keluar dari potongan daging akan berikatan dengan HCl dari reagen

34

eber dan akan membentuk kabut NH4Cl. Hasil positif (+) dinyatakan
dengan terbentuknya kabut NH4Cl, yang berarti terjadi awal
pembusukan. Sedangkan hasil negatif (-) dinyatakan dengan tidak
terbentuknya kabut NH4Cl (Prawesthrini dkk, 2009).

Gambar. Hasil uji eber pada sampel daging ayam (kiri), daging babi (tengah) dan
ikan (kanan)

3.6. Uji residu formalin


Praktikum uji residu formalin ini penting karena dewasa ini
banyak praktik penjualan bahan pangan di pasar yang menambahkan
bahan tambahan berupa formalin. Formalin adalah suatu larutan
yang mengandung sekitar 37% formaldehid dalam air, dan biasanya
ditambahkan metanol sampai 15% sebagai pengawet. Fungsi
formalin sebagai pengawet didapat dari aktivitas antimikroba-nya,
sehingga hal tersebutlah yang menjadi alasan penambahan formalin
pada bahan pangan. Bahaya dari formalin bila masuk melalui saluran
pencernaan dapat menyebabkan nyeri hebat disertai inflamasi,
ulserasi, dan nekrosis membran mukosa. Selain itu, dapat terjadi
muntah, hematemesis, diare, hematuria, anuria, vertigo, kejang, serta
kematian (Susilo S, 1979).
Praktikum ini menggunakan sampal daging ayam yang tebagi
dalam 4 kelompok, yaitu kontrol negatif, daging ayam ditambahkan
formalin 1%, daging ayam ditambahkan formalin 5% dan daging
ayam ditambahkan formalin 10%. Hasil untuk sampel yang
ditambahkan formalin semuanya adalah positif (terbentuk warna
biru setelah diteteskan larutan uji), namun perubahan warna tidak
berlangsung lama sehingga tidak dapat didokumentasikan. Hal

35

tersebut terjadi kemungkinan akibat konsentrasi larutan NaOH yang


digunakan hanya 0,4%. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa
metode uji ini efektif untuk mendeteksi keberadaan formalin
berapapun dalam bahan pangan, tetapi untuk mendapatkan hasil
yang maksimal harus menggunakan metode (kelengkapan larutan
uji) yang sesuai.

Gambar. Hasil uji residu formalin (warna biru yang terbentuk tidak
terdokumentasikan karena pembentukannya tidak lama)

3.7. Pengujian residu antibiotika


Residu antibiotika didefinisikan dengan adanya zat antibiotika
termasuk metabolitnya yang terkandung dalam daging sebagai
akibat langsung maupun tidak langsung dari penggunaan antibiotika.
Pengujian residu antibiotika yang tujuannya hanya untuk
mengetahui keberadaan antibiotika disebut metode bioassay. Metode
bioassay yang dipakai pada pengujian ini adalah dengan penggunaan
biakan media. Prinsip dari pengujian ini adalah menggunakan
mikroorganisme untuk mendeteksi senyawa antibiotika yang masih
aktif. Antibiotik akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme
pada media agar. Zona hambat akan terbentuk di sekitar kertas
cakram yang telah dicelupkan ke sampel. Besarnya diameter daerah
hambatan menunjukkan konsentrasi residu antibiotik. Menurut SNI
No. 01-6366-2000 tentang batas maksimum cemaran mikroba dan
batas maksimum residu dalam bahan makanan asal hewan, Batas
Maksimum Residu untuk antibiotik pada produk pangan adalah 0,1
ppm (diameter zona hambat 10 mm pada media agar). Metode ini

36

berlaku untuk antibiotika golongan penisilin, tetrasiklin,


aminoglikosida dan makrolida.
Praktikum ini menggunakan sampel daging dari ayam broiler
yang sehari sebelumnya telah diinjeksikan antibiotik oxytetrasiklin
(Medoxy) overdosis secara intramuskular di otot paha. Sampel
daging yang dipakai untuk pengujian diambil dari 3 bagian otot ayam,
yaitu paha, dada dan sayap. Hasil yang didapat menunjukkan terjadi
pembentukan zona pada sampel daging ayam dari otot dada dan
paha, sedangkan pada sampel daging dari otot sayap tidak terjadi
pembentukan zona. Pada kontrol positif, zona yang terbentuk
sebesar diameter 3 cm (30 mm), sedangkan diameter zona yang
terbentuk pada otot paha dan dada berturut-turut adalah 1 cm (10
mm) dan 1,4 cm (14 mm). Hasil tersebut menunjukkan bahwa residu
pada otot paha berada di atas BMR antibiotik yang disarankan yaitu
<10 mm.

4. Pemeriksaan Telur
4.1. Pengujian kualitas telur utuh
Pemeriksaan kerabang telur
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengamati
keutuhan, bentuk, warna, kelicinan dan kebersihan kerabang telur

37

secara organoleptik. Sampel yang digunakan adalah 2 butir telur


ayam ras yang diberi kode sampel D1 dan D2. Hasil pemeriksaan
dapat diamati pada tabel di bawah ini.
Jenis pemeriksaan
Keutuhan
Bentuk
Warna
Kelicinan
Kebersihan

Hasil
D1
Sangat utuh
Oval
Coklat muda
Ada bintik-bintik
Bersih

D2
Sangat utuh
Oval
Coklat tua
Licin
Bersih

Peneropongan telur
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengamati
bagian dalam telur seperti kantung hawa, kuning telur, keretakan
pada kutikula, adanya bercak-bercak darah dan pertumbuhan
embrio. Sampel yang dipakai sama dengan sampel pada
pemeriksaan kerabang telur yaitu sampel D1 dan D2. Hasil
pemeriksaan dijabarkan pada tabel di bawah.
Sampel
D1

D2

Hasil
Pori-pori kutikula
membesardan ada titik hitam
yang bergerak
Pori-pori kutikula membesar,
albumin berwarna lebih gelap,
kantung hawa menghitam dan
mencemari albumin.

Pengukuran tinggi kantung hawa


Prinsip pengukuran kantung hawa adalah bahwa semakin
tua umur telur semakin besar kantung hawa. Mutu telur jika diukur
dari tinggi kantung hawa adalah kelas AA (0,30 cm), kelas A (0,60
cm), kelas B (0,75 cm) dan kelas C (0,90 cm). Hasil pengukuran
sampel telur D1 berturut-turut untuk tinggi dan diameter kantung
hawa adalah 1,15 cm dan 3,7 cm. Sedangkan untuk telur D2, tinggi
dan diameter kantung hawa berturut-turut adalah 0,9 cm dan 3,3
cm.

38

4.2. Pengujian kualitas di dalam telur


Pemeriksaan putih dan kuning telur
Prinsip pengujian ini yaitu melihat kebersihan dan
kekentalan kuning telur dan putih telur sacara organoleptik. Uji
organoleptik merupakan cara pengujian dengan menggunakan
indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya
penerimaan terhadap produk. Prinsip uji organoleptik telur adalah
pengamatan terhadap kebersihan, kekentalan dan bau putih telur
seta kebersihan, bau, bentuk, dan posisi kuning telur dengan
pancaindra (Standar Nasional Indonesia, 2008). Hasil pengujian
tertera pada tabel di bawah ini.
Objek
pemeriksaan
Kuning telur

Albumin

Hasil
D1
Bentuk: bulat agak
pipih
Posisi: agak ke pinggir
Kebersihan: bersih
Bau: khas
Kebersihan: bersih
Kekentalan: semiencer
Bau: khas

D2
Bentuk: tidak teratur
Posisi: terintegrasi
Kebersihan: keruh
Bau: busuk
Kebersihan: keruh
Kekentalan: semiencer
Bau: busuk

Berdasarkan hasil uji yang didapat, maka dilakukan


pengkategorian kualitas telur berdasarkan Standar Nasional
Indonesia (SNI). Telur D2 tidak masuk dalam tingkatan mutu I, II
ataupun III sehingga dapat disimpulkan telur I sudah rusak/tidak
layak konsumsi lagi. Sedangkan telur D1 masuk dalam tingkatan
mutu II sehingga berdasarkan uji organoleptik terhadap kondisi
putih dan kuning telur, telur tersebut masih layak untuk
dikonsumsi.

39

Gambar. Keadaan putih dan kuning telur yang diperiksa

Indeks Kuning Telur (IKT)


Prinsip pemeriksaan ini adalah bahwa semakin tua telur,
semakin lebar kuning telur dan semakin kecil IKT. Telur yang baru
memiliki IKT antara 0,33 0,52 dengan rata-rata 0,42. Hasil
pemeriksaan pada telur D1 adalah 0,2 dan pada telur D2 sudah
tidak dapat dihitung lagi IKT-nya karena posisi kuning telur sudah
terintegrasi. Jika dikategorikan berdasarkan standar SNI, IKT telur
D1 tidak masuk dalam tingkatan mutu I, II ataupun III sehingga
kesimpulannya telur tersebut sudah lama/tua umurnya.
Indeks albumin
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah semakin tua telur maka
semakin lebar diameter putih telur sehingga makin kecil indeks
putih telur. Telur yang baru memiliki indeks albumin antara 0,050
0,174. Angka normalnya sebesar 0,090 0120. Hasil pemeriksaan
pada telur D1 dan D2 berturut-turut adalah 0,0086 dan 0,004.
Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa indeks albumin
kedua telur sampel berada jauh di bawah normal sehingga telur
tersebut sudah lama/tua umurnya.
4.3. Perendaman di air
Uji perendaman dalam air merupakan cara pengujian
kualitas telur dengan melakukan perendaman telur ke dalam air

40

pada sebuah wadah. Prinsip uji ini adalah dengan melihat keadaan
telur yang tenggelam, melayang ataupun mengapung di dalam air.
Berdasarkan hasil uji yang didapat, telur berada dalam
kondisi terapung. Hal ini mendukung pemeriksaan pengukuran
tinggi kantung hawa yang mengartikan bahwa kedua sampel telur
tersebut sudah lama/tua umurnya. Prinsipnya, telur yang baru
dikeluarkan mempunyai kantung hawa yang relatif kecil sehingga
telur akan tenggelam bila dimasukkan ke dalam larutan garam 10%
atau air biasa. Dengan bertambahnya umur telur, maka kantung
udara telur akan membesar dan telur akan melayang sampai
mengambang di permukaan larutan air garam 10% atau air biasa.

Gambar. Hasil uji perendaman di air pada telur D1 (kiri) dan D2 (kanan)

4.4. Haugh Unit


Haugh Unit merupakan perhitungan untuk mengetahui
korelasi antara bobot telur dengan tinggi albumin tebal. Telur yang
kualitasnya baik mempunyai bobot telur yang berat dan albumin tebal
yang tinggi. Kategori kualitas telur berdasarkan Haugh Unit adalah
kelas AA (>72), kelas A (61 72), kelas B (31 61) dan kelas C (<31).
Berdasarkan hasil yang didapat, nilai Haugh Unit dari telur D1
dan D2 berturut-turut adalah 25,863 dan -2. Kedua nilai Haugh Unit
tersebut ada pada kelas C sehingga dapat disimpulkan bahwa telur
tersebut sudah lama/tua umurnya. Hasil Haugh Unit ini menegaskan
hasil pengukuran tinggi kantung hawa, perendaman di air, IKT dan
indeks albumin. Menurut Yuwanta (2004), kualitas (kekentalan) putih
telur sangat dipengaruhi oleh salah satu protein telur yaitu lisosim.

41

Wahju (1988) juga mengatakan bahwa salah satu protein telur yang
lain, metionin merupakan asam amino pembatas pertama atau asam
amino kritis pertama yang sering mempengaruhi pembentukan
struktur albumin dan mempengaruhi pemantapan jala-jala ovomusin
sehingga semakin terpenuhinya metionin maka semakin mantap
pembentukan ovomusin. Ovomusin sangat berperan dalam
pengikatan air untuk membentuk struktur gel albumin, jika jala-jala
ovomusin banyak dan kuat maka albumin akan semakin kental yang
berarti viskositas albumen tinggi seperti yang diperlihatkan dari
indikator Haugh Unit. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai
Haugh Unit berarti semakin tebal albumin dan artinya kandungan
protein pun semakin tinggi sehingga fungsi telur sebagai penyedia
protein bagi manusia akan semakin terpenuhi.
B. Karantina Hewan
1. Karantina Hewan Pelabuhan
1.1. Instalasi Karantina Hewan (IKH)
Instalasi Karantina Hewan yang selanjutnya disebut
Instalasi Karantina adalah suatu bangunan berikut peralatan dan
lahan serta sarana pendukung yang diperlukan sebagai tempat
untuk melakukan tindakan karantina (Karantina Pertanian, 2014).
Tindakan karantina yang dimaksud adalah tindakan
perkarantinaan yang dilakukan oleh petugas karantina, terdiri
dari 8 jenis, yaitu: pemeriksaan, pengasingan, pengamatan,
perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan.
Kedelapan jenis tindakan karantina tersebut dilakukan secara
bertahap dalam rangka pengaturan lalu-lintas hewan/ternak yang
masuk maupun keluar.
Tindakan pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui
kelengkapan dan kebenaran isi dokumen serta mendeteksi hama
dan penyakit hewan karantina. Dalam rangka pemeriksaan, demi
keperluan mendeteksi lebih lanjut terhadap hama dan penyakit
hewan karantina (HPHK), maka terhadap media pembawa dapat
dilakukan pengasingan untuk diadakan pengamatan. Apabila
dalam masa pengasingan dan pengamatan media pembawa
tertular atau diduga tertular HPHK maka diberi perlakuan agar

42

menyucihamakan media pembawa tersebut. Sementara untuk 4


tindakan terakhir merupakan respon dari tindakan pemeriksaan.
Untuk tindakan penahanan, dilakukan apabila setelah
dilakukan pemeriksaan ternyata persyaratan karantina untuk
pemasukan ke dalam atau dari suatu area ke area lain belum
seluruhnya terpenuhi. Penolakan dilakukan apabila: 1) Setelah
pemeriksaan diketahui bahwa media pembawa tertular HPHK,
busuk/rusak, atau merupakan jenis-jenis yang dilarang
pemasukannya, 2) Persyaratan karantina tidak dipenuhi
seluruhnya, 3) Keseluruhan persyaratan tidak dilengkapi dalam
batas waktu yang ditentukan, dan 4) Setelah perlakuan, HPHK
tidak dapat disembuhkan, disucihamakan atau dibebaskan.
Pemusnahan dilakukan apabila: 1) Setelah pemeriksaan diketahui
bahwa media pembawa tertular HPHK, busuk/rusak, atau
merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya, 2) Setelah
dilakukan penolakan, media pembawa tidak segera dibawa keluar
dari tempat tersebut dalam batas waktu yang ditetapkan, 3)
Setelah dilakukan pengamatan dan pengasingan, media pembawa
tidak bebas dari HPHK yang ditetapkan pemerintah, dan 4) Setelah
perlakuan, HPHK tidak dapat disembuhkan, disucihamakan atau
dibebaskan. Tindakan pembebasan dilakukan apabila: 1) Setelah
pemeriksaan, media pembawa tidak tertular atau bebas HPHK, 2)
Setelah pengamatan dalam pengasingan, media pembawa tidak
tertular atau bebas HPHK, 3) Setelah perlakuan, media pembawa
dapat dibebaskan dari HPHK, dan 4) Setelah dilakukan penahanan,
seluruh persyaratan dapat dipenuhi.
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi bagi lalu-lintas
hewan/bahan asal hewan yang melalui karantina hewan adalah:
1) Dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh
pejabat berwenang dari tempat asal;
2) Dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya
bagi media pembawa yang tergolong benda lain;
3) Melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran
yang telah ditetapkan.

43

4) Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di


tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran untuk
keperluan tindakan karantina.
Dari keseluruhan tindakan karantina tersebut, ada 5 yang
teramati ketika mahasiswa melakukan kegiatan koasistensi di IKH,
yaitu pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, penolakan dan
pembebasan. Bagian dari tindakan pemeriksaan yang teramati
adalah
pemeriksaan
dokumen
sebagai
persyaratan
pengiriman/penerimaan hewan/bahan asal hewan dan
pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi HPHK. Tindakan
pengasingan dan pengamatan dilakukan selama beberapa hari
dalam rangka pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi HPHK
pada hewan/bahan asal hewan yang akan dikirim/diterima.
Ketika dilakukan pemeriksaan laboratorium dan ditemukan
adanya hewan/bahan asal hewan yang tertular HPHK maka
dilakukan penolakan, dan hewan/bahan asal hewan yang tidak
tertular HPHK dibebaskan.

Gambar. Rekomendasi pemasukan karkas ayam KFC (tindakan pemeriksaan)

44

Gambar. Sapi di tempatkan di kandang (tindakan pengasingan dan


pengamatan)

Gambar. Sapi yang positif brucellosis (tindakan penolakan)

Gambar. Sapi dipindahkan dari truk ke kapal (tindakan pembebasan)

45

1.2. Laboratorium
Sebagai bentuk aplikasi tindakan pemeriksaan, maka
diperlukan laboratorium untuk dijadikan tempat pemeriksaan
guna mendeteksi HPHK dari media pembawa baik hewan maupun
bahan asal hewan. Laboratorium yang tersedia di karantina
pelabuhan ada 2 bagian yaitu laboratorium virologi dan
bakteriologi. Laboratorium virologi untuk pemeriksaan Rose
Bengal Test (RBT) brucellosis dan laboratorium bakteriologi untuk
pemeriksaan Total Plate Count (TPC). Kedua bagian laboratorium
tersebut ditujukan untuk kepentingan yang berbeda yaitu
laboratorium virologi untuk deteksi HPHK pada hewan dan
bakteriologi untuk deteksi HPHK pada bahan asal hewan.
Metode identifikasi HPHK di karantina pelabuhan memang
sangat sedikit sekali karena hanya 2 jenis pemeriksaan
laboratorium yang dapat dilakukan. Namun alasan keberadaan
dan kondisi laboratorium yang terbatas cukup menjadi jawaban
atas keadaan tersebut. Peralatan yang mampu disediakan di
laboratorium hanya mampu untuk mendeteksi brucellosis dan
TPC. Bahkan selama kegiatan koasistensi di karantina pelabuhan,
mahasiswa hanya ikut terlibat dalam kegiatan pemeriksaan RBT
brucellosis karena tidak dilakukannya pemeriksaan TPC.
Hasil dari pemeriksaan RBT yang dilakukan, tidak
ditemukan sampel serum darah sapi yang positif sehingga hewanhewan tersebut dapat dibebaskan untuk proses pengiriman.
Brucellosis merupakan penyakit hewan yang termasuk dalam
HPHK golongan II dan menular ke manusia (zoonosis) sehingga
sangat penting untuk dicegah penyebarannya. Ditambah lagi
dengan beberapa daerah di pulau Timor yang masih merupakan
daerah endemik brucellosis menjadikan alasan untuk
dilakukannya pemeriksaan HPHK tersebut di laboratorium
karantina.
Uji RBT yang dilakukan biasanya dilakukan sebanyak 2 kali
untuk mendapatkan hasil yang akurat. Jika pada uji kedua tetap
positif maka dilanjutkan dengan uji Complemen Fixation Test (CFT)
untuk konfirmasi brucellosis. Namun karena uji CFT tidak dapat
dilakukan di laboratorium karantina maka akan dirujuk ke tempat

46

yang tersedia fasilitas pengujian CFT. Sambil menunggu hasil


pengujian CFT, dilakukan tindakan pengasingan dan pengamatan
pada hewan. Jika positif pada uji CFT, dilakukan tindakan
penolakan pada hewan yang bersangkutan. Di sisi lain, ketika hasil
uji RBT adalah negatif maka laboratorium menerbitkan Surat Hasil
Pengujian Laboratorium Karantina Hewan untuk diterbitkannya
sertifikat KH-12 sebagai tanda pembebasan.

Gambar. Uji RBT Brucellosis di labotatorium

Gambar. Contoh Surat Hasil Pengujian Laboratorium Karantina Hewan

47

2. Karantina Hewan Bandara


Karantina bandara merupakan wilayah kerja dari Balai
Karantina Pertanian Kelas 1 Kupang yang kantor pusatnya adalah
karantina hewan pelabuhan. Beberapa tindakan karantina yang
ditemukan di karantina hewan bandara adalah tindakan pemeriksaan
dan pembebasan. Pemeriksaan dilakukan terhadap kelengkapan
dokumen pengiriman/penerimaan hewan/bahan asal hewan dan
ketika dokumen dianggap lengkap maka dilakukan tindakan
pembebasan.
Satu-satunya kegiatan yang ditemui ketika mengikuti kegiatan
selama 2 hari di karantina hewan bandara adalah pemasukan Day Old
Chicks (DOC). Dokumen yang diperiksa adalah sertifikat kesehatan
hewan. Ketika sertifikat kesehatan hewan dapat ditunjukkan maka
DOC dibebaskan untuk dibawa oleh pemilik. Sebaliknya, ketika
sertifikat kesehatan hewan tidak dapat ditunjukkan maka akan
dilakukan penahanan untuk selanjutnya diberikan kesempatan kepada
pengguna jasa untuk melengkapi dokumen. Jika sampai batas waktu
yang ditentukan, dokumen tidak dapat dilengkapi maka dilakukan
penolakan.

Gambar. Sertfikat kesehatan hewan DOC

48

Gambar. Tindakan pemeriksaan

Gambar. Tindakan pembebasan

C. Dinas Peternakan
1. Kantor Dinas Peternakan
Beberapa kegiatan administratif yang dilakukan oleh dinas dan
memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah ijin usaha sarana
kesehatan ternak (termasuk depo obat hewan dan praktik dokter hewan)
dan pelayanan kesehatan hewan (pendataan penyakit dan

49

penanggulangan/pencegahan penyakit). Alur administrasi dari kedua


jenis kegiatan tersebut dijabarkan sebagai berikut:
1.1. Ijin usaha sarana kesehatan ternak
Pemohon yang ingin mengajukan ijin untuk mendirikan
usaha yang berkaitan dengan sarana kesehatan ternak dapat
melengkapi berkas yang disyaratkan yaitu surat permohonan,
fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), pas foto dan surat
persetujuan tetangga. Uraian kegiatan/alur yang akan dilalui
adalah sebagai berikut:
- Pemohon mengajukan permohonan kepada kepala Dinas.
- Kepala dinas mendisposisikan permohonan ke bidang
peternakan.
- Kepala bidang peternakan mendisposisikan ke seksi yang
menangani depo obat, toko obat, praktik dokter hewan,
tempat pemotongan hewan, rumah potong unggas, klinik
hewan dan laboratorium keswan (seksi Keswan dan
Karantina)
- Dilakukan identifikasi tempat usaha dan persyaratan
sesuai permohonan.
- Pemrosesan sertifikat/ijin sesuai permohonan oleh seksi
Keswan dan Karantina.
- Penyerahan sertifikat/ijin kepada pemohon.
- Penyelesaian administrasi sesuai Perda no. 16 tahun 2002
ke bendahara penerima/penyetor.
1.2. Pelayanan kesehatan hewan
Pemohon yang ingin mendapatkan pelayanan keswan
cukup memberikan laporan lisan, dengan alur administrasinya
sebagai berikut:
- Pemohon melapor ke kelurahan atau dapat langsung
melapor ke dinas.
- Jika melalui kelurahan maka kelurahan akan melapor ke
dinas.
- Pemohon yang langsung melapor ke dinas akan diarahkan
di bidang peternakan.

50

Pencatatan laporan kasus penyakit atau permintaan


pelayanan keswan oleh seksi Keswan dan Karantina.
Petugas melaksanakan pelayanan sesuai laporan kasus di
lapangan atau permintaan pelayanan.
Pemohon membayar biaya pelayanan sesuai Perda no. 17
tahun 2001 kepada seksi Keswan dan Karantina.

Merujuk pada kegiatan pelayanan kesehatan hewan yang menjadi


tugas dari dinas peternakan, maka petugas dinas menjalankannya dengan
melakukan kunjungan lapangan. Kunjungan dilakukan kebanyakan oleh
laporan langsung dari masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan
keswan. Permintaan masyarakat biasanya untuk mengobati
hewan/ternak yang sakit dan kadang juga untuk pencegahan terhadap
penyakit (vaksinasi). Satu-satunya kasus penyakit yang ditemukan selama
kegiatan koasistensi di dinas pada kunjungan lapangan adalah pada hewan
babi dengan kasus terduga/suspect hog cholera.
Kasus tersebut terjadi di daerah kelurahan naikoten I, kecamatan
Kota Raja. Populasi babi dalam kandang adalah 5 ekor dengan 2 ekor yang
mati, 1 sementara sakit dan 2 lainnya masih sehat. Gejala klinis yang
dialami adalah batuk, diare, muntah, lemas, sempoyongan (tidak bisa
berdiri) dan anoreksia. Oleh karena itu dilakukan pengobatan pada 2 ekor
babi yang sakit dengan dinjeksikan antibiotik oxytetrasiklin (Vet-Oxy)
dan enrofloksasin (Roxine Inj). Selain itu juga diinjeksikan multivitamin
(Injectamin).

51

Gambar. Babi yang terduga terinfeksi hog cholera

Berdasarkan hasil kunjungan lapangan dan laporan dari


masyarakat, dinas melakukan rekap data untuk mengetahui
epidemiologi/penyebaran penyakit hewan menular di kota Kupang.
Rekapan data selalu dikeluarkan setiap bulan dengan hasil rekapan data
epidemiologi terbaru yang dikeluarkan adalah bulan juni 2015. Data
epidemiologi yang dikeluarkan adalah kejadian penyakit berdasarkan
tempat (kecamatan) dan jenis penyakit. Kecamatan yang ada di kota
kupang yaitu kecamatan Oebobo, Kelapa Lima, Kota Lama, Kota Raja,
Maulafa dan Alak. Sedangkan jenis penyakit menular yang ditetapkan oleh
dinas untuk didata yaitu anaplasmos, anthrax, brucellosis, fasciolosis, hog
cholera, newcastle disease, pneumonia akut, malignant catarrhal fever,
rabies, surra, leptospirosis, septicaemia epizootica, tuberculosis, scabies,
thelaziasis dan orf. Hasil rekapan terlampir dan dapat dilihat di bagian
lampiran namun berikut disajikan data ringkas mengenai kejadian
penyakit hasil rekapan dinas terhitung 1 tahun sebelumnya sampai hasil
rekapan terbaru.

Juni 2014
- Tidak ada kejadian penyakit

52

Juli 2014
- Kec. Kelapa Lima: 1 kasus hog cholera, 2 kasus pneumonia
akut, 1 kasus scabies dan 1 kasus thelaziasis.
- Kec. Maulafa: 5 kasus pneumonia akut dan 7 kasus scabies.
- Kec. Alak: 1 kasus hog cholera.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.

Agustus 2014
- Kec. Kelapa Lima: 1 kasus hog cholera, 4 kasus SE dan 1
kasus thelaziasis.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.

September 2014
- Tidak ada kejadian penyakit.

Oktober 2014
- Tidak ada kejadian penyakit.

Nopember 2014
- Kec. Oebobo: 5 kasus hog cholera, 1 kasus ND dan 4 kasus
scabies.
- Kec. Kelapa Lima: 1 kasus ND dan 1 kasus pneumonia akut.
- Kec. Maulafa: 12 kasus scabies.
- Kec. Kota Lama: 1 kasus scabies.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.

Desember 2014
- Kec. Oebobo: 4 kasus hog cholera.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.
Januari 2015
- Tidak ada kejadian penyakit.

Februari 2015
- Kec. Alak: 49 kasus hog cholera.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.

53

Maret 2015
- Kec. Alak: 12 kasus hog cholera.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.

April 2015
- Kec. Kota Lama: 37 kasus hog cholera.
- Kec. Maulafa: 4 kasus scabies.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.

Mei 2015
- Tidak ada kejadian penyakit.

Juni 2015
- Kec. Kelapa Lima: 3 kasus hog cholera.
- Kec. Maulafa: 1 kasus ND dan 1 kasus pneumonia akut.
- Kec. Alak: 3 kasus hog cholera.
- Kecamatan lain tidak ada kejadian penyakit.

Dari penjabaran di atas, dapat diketahui bahwa 3 penyakit yang


sering terjadi di kota Kupang yaitu hog cholera, scabies dan pneumonia
akut. Oleh karena itu, di bawah ini disajikan grafik epidemiologi
/penyebaran ketiga penyakit tersebut berdarkan waktu dan tempat
kejadian.

Kejadian hog cholera berdasarkan tempat


70
60
50
40
30
20
10
0
Oebobo

Kelapa Lima

Maulafa

Kota Lama

Kota Raja

Alak

Grafik 1

54

Kejadian hog cholera berdasarkan waktu


60
50
40
30
20
10
0

Grafik 2

Kejadian scabies berdasarkan tempat


25
20
15
10
5
0
Oebobo

Kelapa Lima

Maulafa

Kota Lama

Kota Raja

Alak

Grafik 3

55

Kejadian scabies berdasarkan waktu


18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

Grafik 4

Kejadian pneumonia akut berdasarkan


tempat
7
6
5
4
3
2
1
0
Oebobo

Kelapa Lima

Maulafa

Kota Lama

Kota Raja

Alak

Grafik 5

56

Kejadian pneumonia akut berdasarkan waktu


8
7
6
5
4
3
2
1
0

Grafik 6

Dari grafik 1 dan 2 tentang hog cholera, dapat diambil kesimpulan


bahwa kejadian hog cholera paling banyak di kecamatan Alak dan Kota
Lama yang cenderung tinggi pada periode februari hingga april. Periode
tingginya kejadian hog cholera akhir musim penghujan ini menunjukkan
bahwa peralihan musim menjadi faktor yang berperan penting dalam hal
munculnya penyakit. Sanitasi kandang yang kurang baik serta pengaruh
suhu lingkungan yang tidak stabil menjadi penyebab hewan mengalami
stress sehingga mudah terserang hog cholera.
Dari grafik 3 dan 4 tentang scabies, dapat diambil kesimpulan
bahwa kejadian penyakit scabies paling tinggi di kecamatan Maulafa dan
waktu puncaknya adalah bulan nopember. Nopember yang merupakan
masa peralihan musim dari kemarau ke penghujan mungkin menjadi
faktor utama penyebab penyakit ini. Akibat keadaan lingkungan yang
menjadi lembab maka parasit bisa dengan gampang bertahan hidup di
lingkungan dan kemudian menginfestasi tubuh hewan jika berkontak
langsung.
Dari grafik 5 dan 6, dapat diketahui bahwa kejadian penyakit
pneumonia akut hanya terjadi di 2 kecamatan yaitu Maulafa dan Kelapa
Lima. Kejadiannya paling tinggi pada bulan juli. Seperti yang diketahui
bahwa bulan juli merupakan musim kemarau dengan intensitas tiupan
angin yang cukup kencang, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan

57

debu dan partikel-partikel kecil lainnya dapat terbawa angin dan terhirup
oleh hewan. Akhirnya kejadian tersebut dapat menyebabkan pneumonia
akut.
2. Rumah Potong Hewan (RPH)
2.1. Pemeriksaan antemortem dan postmortem
Hasil pemeriksaan terlampir pada bagian lampiran.
2.2. Penerapan kesejahteraan hewan (kesrawan)
Berdasarkan UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan, kesrawan adalah segala urusan yang
berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut
ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan
ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan orang yang
tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.
Kesejahteraan hewan berkaitan erat dengan kesehatan hewan dan
keamanan pangan (asal hewan), sehingga penerapannya dalam
kegiatan pemotongan di RPH dirasa sangat perlu. Penerapan
prinsip kesejahteraan hewan di RPH adalah dalam rangka
menghasilkan produk hewan yang aman, sehat, utuh dan halal
(ASUH). Secara umum, prinsipnya adalah penerapan kesrawan
adalah untuk kesejahteraan manusia juga. Lima prinsip kesrawan
adalah:
Bebas dari rasa haus dan lapar
Bebas dari rasa takut dan stress
Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit
Bebas mengekspesikan tingkah laku alami
Bebas dari ketidaknyamanan fisik dan suhu udara
Kesrawan di RPH dilakukan di tempat penerimaan hewan,
tempat penampungan/pengistirahatan, pada saat penggiringan
hewan, pada saat perobohan/pemingsanan hewan dan pada saat
penyembelihan hewan. Berikut perlakuan standar kesrawan di
RPH yang telah ditetapkan dan perbandingan/penilaiannya
terhadap penerapannya di RPH Oeba. Pemberian tanda () berarti
telah diterapkan, dan pemberian tanda () berarti belum
diterapkan.

58

a. Kesrawan di tempat penerimaan hewan


Pemeriksaan dokumen ()
- Kesesuaian isi dokumen.
- Kelengkapan dokumen (minimal surat kesehatan,
surat asal ternak dan surat jalan).
Alat angkut ()
- Alat angkut yang digunakan sesuai jenis dan ukuran
hewan.
- Hewan tidak berdesakdesakan,
- Kenyamanan dan keamanan hewan di dalam
angkutan.

Cara menurunkan hewan ()


- Menggunakan tangga penurunan hewan.
- Tidak menyakiti dan memperlakukan hewan dengan
kasar.
- Penanganan dan perlakuan khusus hewan cedera.

59

b. Kesrawan di tempat penampungan hewan


- Melindungi hewan dari panas dan hujan. ()

Ketersediaan pakan dan minum yang cukup. ()

60

Luas kandang yang cukup/pengikatan dengan tali


yang cukup panjangnya (tidak berdesak desakan).
()

Kebersihan tempat penampungan. ()

61

Terhindar dari bendabenda, perlakuan dan


konstruksi tempat yang dapat mencederai hewan.
()
Pencahayaan yang cukup. ()

c. Kesrawan pada penggiringan hewan (: tidak dilakukan


penggiringan melalui gangway)
Cara menggiring hewan
- Dihindari membuat hewan ketakutan agar tidak
terjadi cedera
- Dihindari adanya orang dan benda di depan hewan
selama penggiringan
- Tidak dibenarkan orang berdiri di atas pagar
pembatas

62

Mengupayakan hewan tidak berdesakan (digiring


satu per satu)
- Menggunakan strategi penggiringan hewan sesuai
karakter spesies (secara individu atau
berkelompok)
- Menggiring hewan pada posisi di samping paha
belakang
Fasilitas gangway/jalur penggiringan
- Lantai tidak licin, tidak berlubang dan tidak becek.
- Pagar pembatas terbuat dari bahan yang tidak
mudah berkarat dan tidak tajam.
- Sudut belokan gangway tidak patah (tidak memberi
kesan buntu).
- Tinggi pagar pembatas sesuai dengan tinggi hewan,
lebar gangway sesuai dengan besar hewan.
- Pencahayaan cukup dan perubahannya tidak
kontras.
- Konstruksi gangway harus dipertahankan bebas
dari benda-benda yang dapat mencederai hewan.
- Sepanjang gangway tidak dibenarkan adanya
pekerjaan manusia yang menimbulkan bunyibunyian yang dapat mengganggu hewan.
-

d. Kesrawan pada perobohan sebelum penyembelihan


Merobohkan secara manual dengan tali dan ring
- Teknik perobohan hewan secara tidak kasar
(dibanting, diinjak, ditarik ekor, ditarik kepala). ()
- Teknik pengikatan dan teknik penarikan. ()
Merobohkan dengan menggunakan restraining dan
konstruksi yang bervariasi ()
- Tanpa pemingsanan.
- Dengan pemingsanan.
e. Kesrawan pada penyembelihan
- Penyembelihan pada setiap ekor hewan dilakukan
segera setelah hewan dirobohkan/dipingsankan. (:

63

hewan kadang dirobohknan namun kadang tidak,


serta tidak dilakukan pemingsanan)
Penyembelihan harus dipastikan telah memutus 3
saluran (tenggorokan, kerongkongan dan pembuluh
darah) dengan sekali potong. ()
Penyembelihan harus menggunakan pisau yang
tajam, ukuran yang sesuai dan bersih. ()
Memastikan hewan telah mati sempurna sebelum
melakukan proses lebih lanjut. ()

Dalam praktiknya, yang teramati di RPH Oeba


banyak kegiatan yang melanggar kesrawan. Hanya sedikit
dari sekian banyak standar yang dapat terpenuhi sehingga
perbaikan manajemen perlu dilakukan agar penerapan
kesrawan dapat dengan terakomodasi. Penerapan kesrawan
tidak dapat dilakukan dengan baik oleh salah satu pihak saja
melainkan harus melibatkan berbagai pihak, oleh karena itu
perlu adanya kerjasama dan koordinasi yang baik antara
pemerintah, swasta dan semua pihak untuk penerapan
kesrawan yang lebih baik.
Pemahaman masyarakat di Indonesia terhadap
makna kesrawan belum secara utuh, hal ini terkait dengan
pemahaman moral, ideologi budaya dan etika di
masyarakat. Terkadang perlakuan yang tidak wajar
dilakukan oleh masyarakat karena kebiasaan masyarakat
yang tidak disadari atau karena ketidaktahuan, oleh karena
itu sosialisasi tentang pentingnya kesejahteraan hewan
kepada masyarakat harus terus dilakukan. Pelaksanaan
kesrawan dapat dilakukan secara bertahap dengan pola
pemberdayaan masyarakat melalui upaya peningkatan
kesadaran dan partisipasi masyarakat.
2.3. Kelayakan bangunan RPH dan prinsip pengolahan limbah
Dalam pengoperasian RPH, selain penerapan prinsip
kesrawan, kelayakan bangunan RPH dan prinsip pengolahan
limbah juga menjadi faktor penting dalam usaha penyediaan daging

64

yang ASUH bagi masyarakat. Kelayakan bangunan dimaksud adalah


yang berkenaan dengan desain bangunan RPH, wilayah bersih,
ruang pendingin, sistem transportasi. Sedangkan prinsip
pengolahan limbah adalah bagaimana mengolah limbah RPH setiap
hari yang begitu banyak agar tidak menimbulkan pencemaran
lingkungan. Namun di RPH Oeba tidak dilakukan pengolahan
limbah, sehingga hanya dilakukan penilaian terhadap kelayakan
bangunan bangunan RPH dengan patokan penilaian adalah standar
yang telah ditetapkan dalam Permentan RI No. 13 tahun 2010
tentang Persyaratan Rumah Potong Hewan Ruminansia dan Unit
Penanganan Daging (Meat Cutting Plant). Penilaian diberi tanda ()
jika sudah memenuhi standar dan () jika belum memenuhi
standar. Berikut hasil penilaian:
Kompleks RPH harus dipagar (), dan harus memiliki pintu
yang terpisah untuk masuknya hewan potong dengan keluarnya
karkas dan daging. ()
Bangunan dan tata letak dalam kompleks RPH paling kurang
meliputi:
- Bangunan utama; ()

Area penurunan hewan (unloading sapi) dan kandang


penampungan/kandang istirahat hewan; ()
Kandang penampungan khusus ternak ruminansia betina
produktif; ()
Kandang isolasi; ()

65

Ruang pelayuan berpendingin (chilling room); ()


Area pemuatan (loading) karkas/daging; ()
Kantor administrasi dan kantor Dokter Hewan; ()
Kantin dan mushola; ()
Ruang istirahat karyawan dan tempat penyimpanan barang
pribadi (locker)/ruang ganti pakaian; ()
- Kamar mandi dan WC; ()
- Fasilitas pemusnahan bangkai dan/atau produk yang tidak
dapat dimanfaatkan atau insinerator; ()
- Sarana penanganan limbah; ()
- Rumah jaga. ()
Bangunan utama RPH harus memenuhi persyaratan:
- Tata ruang didisain sedemikian rupa agar searah dengan
alur proses serta memiliki ruang yang cukup, sehingga
seluruh kegiatan pemotongan hewan dapat berjalan baik
dan higienis, dan besarnya ruangan disesuaikan dengan
kapasitas pemotongan; ()
- Adanya pemisahan ruangan yang jelas secara fisik antara
daerah bersih dan daerah kotor; ()
- Memiliki area dan fasilitas khusus untuk melaksanakan
pemeriksaan postmortem; ()
- Lampu penerangan harus mempunyai pelindung, mudah
dibersihkan dan mempunyai intensitas cahaya 540 luks
untuk area pemeriksaan post-mortem, dan 220 luks untuk
area pengerjaan proses pemotongan; ()
- Dinding bagian dalam berwarna terang dan paling kurang
setinggi 3 meter terbuat dari bahan kedap air, tidak mudah
korosif, tidak toksik, tahan terhadap benturan keras, mudah
dibersihkan dan didesinfeksi serta tidak mudah
mengelupas; ()
- Dinding bagian dalam harus rata dan tidak ada bagian yang
memungkinkan dipakai sebagai tempat untuk meletakkan
barang; ()
- Lantai terbuat dari bahan kedap air, tidak mudah korosif,
tidak licin, tidak toksik, mudah dibersihkan dan didesinfeksi
dan landai ke arah saluran pembuangan; ()
-

66

Permukaan lantai harus rata, tidak bergelombang, tidak ada


celah atau lubang, jika lantai terbuat dari ubin, maka jarak
antar ubin diatur sedekat mungkin dan celah antar ubin
harus ditutup dengan bahan kedap air; ()
Lubang ke arah saluran pembuangan pada permukaan lantai
dilengkapi dengan penyaring; ()
Sudut pertemuan antara dinding dan lantai harus berbentuk
lengkung dengan jari-jari sekitar 75 mm; ()
Sudut pertemuan antara dinding dan dinding harus
berbentuk lengkung dengan jari-jari sekitar 25 mm; ()
Di daerah pemotongan dan pengeluaran darah harus
didisain agar darah dapat tertampung; ()
Langit-langit didisain agar tidak terjadi akumulasi kotoran
dan kondensasi dalam ruangan, harus berwarna terang,
terbuat dari bahan yang kedap air, tidak mudah mengelupas,
kuat, mudah dibersihkan, tidak ada lubang atau celah
terbuka pada langit-langit; ()
Ventilasi pintu dan jendela harus dilengkapi dengan kawat
kasa untuk mencegah masuknya serangga atau dengan
menggunakan metode pencegahan serangga lainnya; ()
Konstruksi bangunan harus dirancang sedemikian rupa
sehingga mencegah tikus atau rodensia, serangga dan
burung masuk dan bersarang dalam bangunan; ()
Pertukaran udara dalam bangunan harus baik; ()
Kusen pintu dan jendela, serta bahan daun pintu dan jendela
tidak terbuat dari kayu, dibuat dari bahan yang tidak mudah
korosif, kedap air, tahan benturan keras, mudah dibersihkan
dan didesinfeksi dan bagian bawahnya harus dapat
menahan agar tikus/rodensia tidak dapat masuk; ()
Kusen pintu dan jendela bagian dalam harus rata dan tidak
ada bagian yang memungkinkan dipakai sebagai tempat
untuk meletakkan barang. ()

67

68

Area penurunan (unloading) ruminansia harus memenuhi


persyaratan sebagai berikut:
- Dilengkapi dengan fasilitas untuk menurunkan ternak
(unloading) dari atas kendaraan angkut ternak yang didisain
sedemikian rupa sehingga ternak tidak cedera akibat
melompat atau tergelincir; ()
- Ketinggian tempat penurunan/penaikan sapi harus
disesuaikan dengan ketinggian kendaraan angkut hewan;
()

69

Lantai sejak dari tempat penurunan hewan sampai kandang


penampungan harus tidak licin dan dapat meminimalisasi
terjadinya kecelakaan; ()
Harus memenuhi aspek kesejahteraan hewan. ()

Area pemuatan (loading) karkas dan/atau daging ke dalam


kendaraan angkut karkas dan/atau daging harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
- Dapat meminimalisasi terjadinya kontaminasi silang pada
karkas dan/atau daging; ()
- Ketinggian lantai harus disesuaikan dengan ketinggian
kendaraan angkut karkas dan/atau daging; ()
- Dilengkapi dengan fasilitas pengendalian serangga, seperti
pemasangan lem serangga; ()
- Memiliki fasilitas pencucian tangan. ()

70

Berdasarkan hasil penilaian di atas, disimpulkan bahwa


kualitas kelayakan bangunan RPH sangat tidak memenuhi standar.
Apalagi dengan tidak dilengkapinya RPH dengan ruang
pendingin/pelayuan dan fasilitas pengolahan limbah, membuat
kondisi RPH sangat memprihatinkan. Hal ini berimbas pada
jaminan daging yang dihasilkan melalu proses pemotongan,
tentunya tidak dapat memenuhi standar ASUH akibat kekurangan
banyak hal tersebut. Perbaikan perlu dilakukan dengan renovasi
bangunan RPH dan penerapan sistem transportasi serta
pengolahan limbah yang maksimal sehingga tujuan untuk

71

menghasilkan daging yang ASUH bagi masyarakat dapat tercapai


oleh RPH.
D. Karantina ikan
Sebagai bagian dari instansi karantina, karantina ikan berfungsi dalam
mengatur lalu-lintas perikanan agar mencegah terjadinya perpindahan Hama
dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK). Pembentukan instansi ini
dilatarbelakangi masih terdapatnya permasalahan dalam kegiatan ekspor
hasil perikanan yang menyangkut aspek persyaratan negara tujuan ekspor
dalam hal mutu, lemahnya pengawasan dan pengendalian mutu produk
perikanan tujuan ekspor yang berdampak masih terdapatnya penolakan
produk perikanan asal Indonesia oleh negara tujuan (BKIPM, 2011). Untuk
menjalankan tugas tersebut, maka ditetapkan tindakan karantina sebagai
bentuk operasional karantina ikan. Secara umum, tindakan karantina ikan
sama seperti karantina hewan, sebagaimana yang telah diatur pada UU No. 16
tahun 1992, namun ada sedikit penambahan pada tindakan pengambilan
sampel sehingga tindakan karantina ikan menjadi 9 tindakan. Berikut ini
tindakan-tindakan karantina ikan:
1) Pemeriksaan kelengkapan, keabsahan dan kebenaran dokumen
(pemeriksaan jenis, jumlah dan ukuran media pembawa).
2) Pengasingan di instalasi karantina ikan untuk kepentingan
pengamatan.
3) Pengamatan secara visual untuk mengetahui gejala klinis pada
media pembawa baik secara eksternal maupun internal.
4) Pengambilan sampel uji dari media pembawa untuk pemeriksaan
secara laboratoris.
5) Perlakuan dilakukan apabila hasil pemeriksaan angka 4)
ditemukan HPIK golongan II.
6) Dilakukan penahanan apabila persyaratan wajib huruf a), b), d)
dan e) tidak terpenuhi.
7) Penolakan dilakukan apabila persyaratan wajib huruf c) tidak
dipenuhi dan setelah penahanan selama 3 (tiga) hari, persyaratan
wajib huruf a), b), d) dan e) tidak dapat dipenuhi.
8) Pemusnahan dilakukan apabila setelah pemeriksaan angka 4)
ditemukan HPIK golongan I atau setelah diberi perlakuan angka 5),
media pembawa tidak bebas dari HPIK golongan II atau setelah 3

72

(tiga) hari dilakukan penolakan angka 7), media pembawa tidak


dikirim kembali ke negara asal.
9) Pelepasan dilakukan apabila setelah dilakukan pemeriksaan angka
1), dokumen lengkap, sah dan benar, dan setelah pemeriksaan
angka 4) media pembawa bebas dari HPIK.
Karantina ikan mewajibkan beberapa persyaratan di bawah ini bagi
pihak pengguna jasa karantina ikan:
a) Dilengkapi dengan sertifikat kesehatan ikan (Health
Certificate/ HC).
b) Melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan.
c) Dilengkapi surat izin pemasukan (Rekomendasi).
d) Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina
untuk keperluan tindakan karantina.
e) Dimasukkan ke Instalasi Karantina Ikan.
Pada kegiatan koasistensi di stasiun karantina ikan Kupang, hanya
ditemukan 2 tindakan karantina ikan, yaitu tindakan nomor 1 dan 4. Tindakan
pemeriksaan kelengkapan, keabsahan dan kebenaran dokumen dilakukan
ketika pengguna jasa ingin melakukan pengiriman ataupun saat penerimaan
komoditi perikanan. Khusus untuk komoditi masuk, ketika dokumen lengkap
maka langsung di bebaskan. Sedangkan untuk pengiriman/pengeluaran,
dokumen yang dinyatakan lengkap akan dilanjutkan dengan pengambilan
sampel uji dari media pembawa untuk pemeriksaan secara laboratoris.
Pemeriksaan laboratoris yang tersedia di karantina ikan adalah pemeriksaan
bakteriologi dan parasitologi.

Gambar. Tindakan pemeriksaan kelengkapan dokumen

73

Tata cara pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratoris


didahului dengan tindakan nekropsi. Kepentingan nekropsi untuk mencapai
organ dari ikan/produk perikanan sebagai lokasi pengambilan sampel. Untuk
uji bakteriologi, lokasi pengambilan sampel pada organ hepatopankreas.
Sedangkan pemeriksaan parasitologi, organ yang diambil adalah insang.

Gambar. Tindakan pengambilan sampel dan pemeriksaan laboratoris

Pemeriksaan yang diikuti oleh mahasiswa pada kegiatan di stasiun


karantina ikan Kupang adalah pemeriksaan parasitologi. Pemeriksaan
dilakukan pada beberapa sampel yang masuk yaitu ikan kerapu, lobster dan
kepiting. Selain itu, ada juga tambahan sampel yang dibawa oleh mahasiswa
sendiri yaitu ikan kembung untuk kepentingan pemeriksaan parasitologi juga.
Hasil pemeriksaan parasitologi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar. Hatschekia sp. (kiri), Lepeoptheirus sp. (kanan atas) dan Haliotrema sp. (kanan bawah)
pada ikan kerapu

74

Gambar. Octolasmis sp. (kiri) dan Octolasmis lowei (kanan) pada lobster

Gambar. Octolasmis angulata (kiri) dan Octolasmis cor (kanan) pada kepiting

Gambar. Anisakis sp. pada ikan kembung

Hasil pemeriksaan parasitologi seperti yang ditunjukkan oleh gambar


di atas masih dianggap normal karena jenis-jenis parasit tersebut tidak
termasuk dalam golongan HPIK parasit pada stasiun karantina ikan Kupang.

75

Jenis-jenis HPIK parasit pada stasiun karantina ikan Kupang adalah Argulus
sp., Trichodina sp. dan Dactylogyrus sp.. Oleh karena itu, sampel ikan/produk
perikanan yang telah dilakukan pemeriksaan parasit tersebut dapat
dibebaskan untuk dilalu-lintaskan.
E. Penyuluhan Kesmavet
Segala kegiatan koasistensi Kesmavet yang telah dilakukan baik di
laboratorium FKH maupun instansi-instansi adalah bentuk partisipasi dalam
upaya menjalankan tugas dan fungsi Kesmavet yaitu menjamin keamanan dan
kualitas produk-produk peternakan, serta mencegah terjadinya resiko bahaya
akibat penyakit hewan/zoonosis dalam rangka menjamin kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya,
Kesmavet memiliki ruang lingkup yang berguna untuk mengatur dan
membatasi tindakan Kesmavet yang dilakukan. Ruang lingkup tugas dang
fungsi Kesmavet adalah administrasi dan konsultasi, pencegahan penyakit
zoonotik, higiene makanan, riset dan penyidikan penyakit hewan dan
zoonosis, serta pendidikan kesmavet.
Keseluruhan ruang lingkup Kesmavet memiliki kepentingan masingmasing dan saling melengkapi demi terwujudnya tugas dan fungsi kesmavet,
namun item yang terakhir yaitu pendidikan Kesmavet mendapat perhatian
khusus dalam praktik Kesmavet selama ini. Pendidikan Kesmavet adalah
upaya pelaku-pelaku bidang Kesmavet (dokter hewan dan teknisi lainnya)
untuk mengkomunikasikan perihal segala kegiatan Kesmavet (termasuk yang
telah dilakukan dalam ruang lingkup Kesmavet yang lain) kepada masyarakat.
Tanpa pendidikan Kesmavet, semua usaha yang dilakukan tentunya akan siasia karena masyarakat sebagai tujuan utama tidak dapat tersentuh. Aplikasi
pendidikan Kesmavet dapat terlaksana dalam berbagai bentuk, seperti
melakukan penyuluhan/pengabdian langsung kepada masyarakat,
penyaluran informasi melalui media cetak atau elektronik, himbauan lewat
papan informasi publik, dan lain-lain.
Sebagai wujud dari aplikasi pendidikan Kesmavet tersebutlah, maka
mahasiswa melakukan penyuluhan langsung kepada masyarakat mengenai
isu Kesmavet. Rincian kegiatan penyuluhan tersebut adalah sebagai berikut:
Tempat
: RT 31, Desa Taklale, Kupang Timur
Hari/Tanggal
: Minggu, 16 Agustus 2015
Tema
: Penyakit Menular Strategis pada Ternak dalam
Kaitannya dengan Kesehatan Masyarakat Veteriner

76

Peserta
Moderator
Presentator

: 10 orang
: Prima Haba Ora, S.KH
: Robynson Y. Dimu, S.KH dan Ricky M.L. Sine, S.KH

Kegiatan penyuluhan ini berlangsung dengan baik karena antusiasme


masyrakat yang mengikuti cukup tinggi, terbukti dengan munculnya banyak
pertanyaan sehingga terjadi diskusi yang mencapai lebih dari 3 jam. Alasan
pemilihan tema tersebut di atas adalah karena pada peninjauan lapangan
didapat informasi bahwa masyarakat sekitar banyak memelihara ternak dan
sering terserang penyakit namun masyarakat tidak tahu bagaimana cara
menyikapinya. Ternak-ternak yang banyak dipelihara adalah babi, sapi dan
ayam. Untuk itu, maka mahasiswa memutuskan untuk membawakan materi
mengenai penyakit-penyakit zoonosis yang sering menyerang ketiga ternak
tersebut yaitu avian influenza, taeniasis/sistiserkosis, brucellosis, anthraks
dan salmonellosis. Diharapkan agar masyarakat mendapatkan pengetahuan
dalam rangka mencegah ternak yang dipelihara terserang penyakit dan juga
penularan ke manusia (peternaknya sendiri). Selain itu, mahasiswa juga
membawakan materi mengenai pengertian Kesmavet dan zoonosis yang
diharapkan agar masyarakat tidak hanya tahu mengenai kejadian penyakit
pada ternak, namun juga dapat tahu mengenai pentingnya pengendalian
penyakit demi dampak yang baik pada kesehatan masyarakat.

77

78

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan
Kalangan akademisi dan lembaga pendidikan berperan penting dalam
pengawasan keamanan pangan asal hewan yang beredar di pasar melalui
penelitian dan pengujian-pengujian laboratorium. Sedangkan Dinas
Peternakan, Karantina Hewan dan Karantina Ikan sebagai instansi yang
berhubungan langsung dengan teknis Kesmavet berperan dalam mencegah
penularan dan penyebaran penyakit zoonosis melalui hewan maupun bahan
asal hewan. Oleh karena itu, perlu adanya kerjasama serta kerja maksimal
dari berbagai pihak baik kalangan akademisi, Dinas Peternakan, Karantina
Hewan maupun Karantina Ikan dalam upaya mewujudnyatakan tugas dan
fungsi Kesmavet agar dampak yang dirasakan oleh masyarakat veteriner
berefek maksimal. Selain itu, dukungan masyarakat pun penting agar terjadi
hubungan timbal balik yang seimbang sehingga usaha untuk menjalankan
tugas dan fungsi Kesmavet oleh pihak berwenang tidak menjadi semakin
susah.

B.

Saran
Perlu adanya komunikasi yang lebih baik antara pihak kampus
dengan penyelenggara koasistensi di lapangan agar kegiatan koasistensi
mahasiswa di lapangan dapat dipahami sepenuhnya oleh pembimbing di
instansi terkait. Hal ini penting agar kegiatan mahasiswa di lapangan bisa
lebih terarah.

79

DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional. 2000, Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan
Batas Maksimum Residu Dalam Bahan Makanan Asal Hewan, SNI 01-63662000, Badan Standardisasi Nasional Indonesia, Jakarta.
Badan Standardisasi Nasional. 2008, Telur ayam konsumsi, SNI 3926:2008, Badan
Standardisasi Nasional Indonesia, Jakarta.
BKIPM. 2011, Sejarah Badan Karantina Ikan, Pengedalian Mutu dan Keamanan
Hasil
Perikanan,
diakses
pada
3
September
2015,
<http://bkipm.kkp.go.id/bkipmnew/profil>
de Haas, Y., Veerkamp, R.F., Barkema, H.W., Grohn, Y.T., and Schukken, Y.H. 2004,
Associations Between Pathogen Specific Cases of Clinical Mastitis and
Somatic Cell Count Patterns, Journal of Dairy Science, 87:95105.
Detha, A.I.R., Wuri, D.A. dan Kallau, N.H.G. 2015, Buku Panduan Koasistensi
Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner, FKH Undana, Kupang.
Forest, J.C., Aberle, E.D. Hedrick, H.B., Judge, M.D. and Markell, R.A. 1975, Principle
of Meat Science, W.H. Freman and Co, San Fransisco, USA.
Green, M.J., Green, L.E., Schukken, Y.H., Bradley, A.J., Peeler, E.J., Barkema, H.W., de
Haas, Y., Collis, V.J., and Medley, G.F. 2004, Somatic Cell Count Distributions
During Lactation Predict Clinical Mastitis, Journal of Dairy Science, 87:
12561264.
Hadiwiyoto, S. 1994, Teknik Uji Mutu Susu dan Hasil Olahannya (Teori dan
Praktek), Liberty, Yogyakarta.
Karantina Pertanian. 2014, Definisi IKH, diakses pada 2 September 2015,
<karantinapertanian.go.id/ikh/media.php>
Lawrie, R.A. 1995, Ilmu Daging Edisi Kelima. Penerjemah Aminuddin Parakkasi,
Universitas Indonesia, Jakarta.
Menteri Pertanian. 2010, Permentan RI No. 13 tahun 2010 tentang Persyaratan
Rumah Potong Hewan Ruminansia dan Unit Penanganan Daging (Meat Cutting
Plant), Kementan RI, Jakarta.

80

Nurwahyuningsih, V. 2010, Pemanfaatan Air Rebusan Ikan Tongkol (Euthynnus


affinis) sebagai Bahan Pembuatan Kerupuk, Skripsi, Insitut Pertanian Bogor.
World Health Organization. 1952, The Joint WHO/FAO Expert Group on Zoonoses,
WHO Technical Report Series, Geneva.
Prawesthirini, S., Siswanto, H.P., Estoepangestie A.T.S., Effendi M.H., Harijani, N.,
de Vries, G.C., Budiarto, E.K. dan Sabdoningrum. 2009, Analisa Kualitas Susu,
Daging dan Telur. Cetakan kelima, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga, Surabaya.
Presiden Republik Indonesia. 1967, Undang-Undang RI no. 6 tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, Republik
Indonesia, Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. 1992, Undang-Undang RI no. 16 tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, Republik Indonesia, Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. 2009, Undang-Undang RI no. 18 tahun 2009 tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan, Republik Indonesia, Jakarta.
Rahman, A.S., Fardiaz., Suliantari, W.P.R. dan Nurwitri, C.C. 1992, Teknologi
Pengolahan Susu. Depdikbud Dirjen PT. Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi IPB, Bogor.
Saleh, E. 2004, Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak, USU digital library,
Medan.
Saleh, E. 2004, Teknologi Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak, USU digital
library, Medan.
Soeparno. 2005, Ilmu dan Teknologi Daging Cetakan Keempat, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Sudarwanto, M. 1999, Usaha Peningkatan Produksi Susu Melalui Program
Pengendalian Mastitis Subklinik, Orasi Ilmiah, 22 Mei 1999.
Sudarwanto, M. dan Sudarnika, E. 2008, Hubungan antara pH Susu dengan
Jumlah Sel Somatik Sebagai Parameter Mastitis Subklinik, Media
Peternakan, 31: 107-113.

81

Susilo, S. 1979, Farmakope Indonesia Edisi II, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.
Wahju, J. 1988, Ilmu Nutrisi Unggas, UGM Press, Yogyakarta.
Yuwanta, T. 2004, Dasar Ternak Unggas, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

82