You are on page 1of 7

Di Indonesia sampai saat ini dilaporkan ada 80 spesies nyamuk Anopheles.

Dari jumlah tersebut


yang benar-benar sebagai vektor malaria berdasarkan distribusi geografis, pemastian peranan
sebagai vektor dan bionomi stadium dewasa dan pradewasa terdapat 24 spesies yaitu; An.
aconitus, An. balabacensis, An. barbirostris, An. kochi, An. leucosphyrus, An. maculatus, An.
aitkenii, An. subpictus, An. sundaicus, An. tessallatus, An. farauti, An. koliensis, An. punctulatus,
An. bancrofti, An. vagus, An. nigerrimus, An. sinensis, An. letifer, An. flavirostris, An. umbrosus,
An. beazai, An. roperi, An. minimus, An. annularis (Takken & Knols, 1990).
Klasifikasi Nyamuk Anopheles
Menurut Borror dan Delongs (1954); Reid (1968) klasifikasi nyamuk
Anopheles berdasarkan sistem taksonomi yaitu :

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Sub Class : Pterygota

Ordo : Diptera

Sub Ordo : Nematocera

Familia : Culicidae

Sub famili : Anophelinae

Genus : Anopheles

Perilaku (Bionomi) Nyamuk Anopheles sp.


Bionomi nyamuk Anopheles adalah hubungan kehidupan nyamuk Anopheles
sp. dengan lingkungannya baik lingkungan abiotik maupun biotik. Ruang
lingkup bionomi nyamuk Anopheles sp. antara lain :
Siklus hidup dan dinamika aktifitas kehidupan nyamuk Anopheles

sp.
1). Siklus Hidup Nyamuk Anopheles sp.
Semua nyamuk mengalami metamorfose sempurna (Holometabola) mulai
dari telur, menjadi jentik, berkembang menjadi pupa dan kemudian menjadi
nyamuk (Sigit & Hadi, 2006).Jentik dan pupa hidup di air sedangkan setelah
dewasa hidup di darat. Kelangsungan hidup nyamuk akan terputus apabila
tidak ada air (Depkes, 1999).

a). Telur diletakkan langsung di permukaan air satu persatu, ukuran


telur 0,5 mm, jumlah telur 100-300 butir, rata-rata 150 butir.
Frekuensi bertelur 2-3 hari sekali dan menetas menjadi jentik beberapa
saat setelah kena air atau 2-3 hari setelah berada di air (Depkes,
1999). Jumlah telur tergantung pada spesies, kualitas dan banyak
darah di hisap, biasanya bertelur pada malam hari (Warrel & Gilles,
2002). Telur yang baru keluar berwarna putih dan akan menjadi warna
hitam pada kondisi normal (Bates, 1970). Telur nyamuk Anopheles sp.
dapat mengapung karena dikedua sisinya terdapat semacam
pelampung (Russel et al. 1963).

b). Jentik (Larva) nyamuk Anopheles sp. bersifat akuatik, hidup di air
dan pertumbuhan mengalami empat tahap instar yaitu: Instar I + 1
hari, Instar II 1-2 hari, Instar III 2 hari dan Instar IV 2-3 hari dan tiap
instar didahului oleh proses pengelupasan kulit (ecdysis). Kecepatan
pertumbuhan meningkat dengan naiknya suhu dan tersedianya
makanan yang cukup (B2P2VRP, 2006; Depkes, 2007). Masingmasing
instar memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Umur rata-rata
pertumbuhan mulai jentik sampai menjadi kepompong berkisar antara
814 hari (Rao, 1981).

c). Kepompong (Pupa) merupakan stadium perkembangan istirahat,


berada di air, tidak makanan, pada stadium ini terjadi proses
pembentukan alat-alat tubuh nyamuk, seperti: alat kelamin, sayap dan
kaki, kebanyakan spesies cenderung terjadi pupasi pada waktu-waktu
tertentu seperti : pagi, siang, senja atau malam hari, pada umumnya
nyamuk jantan menetas lebih dahulu dari pada nyamuk betina
(Depkes, 1999; B2P2VRP, 2006). Pupa agak pasif, lebih banyak diam
tetapi mempunyai kemampuan berenang sangat cepat (Bates, 1970).
Dalam kondisi normal, metamorphosis dari pupa menjadi imago
Anopheles berkisar antara 24-48 jam (Rao, 1981; Depkes, 2007).

d). Nyamuk baru muncul dari pupa kurang lebih 15 menit setelah
bersentuhan dengan udara, tubuhnya akan mengeras dan terbang

untuk mencari tempat istirahat. Jumlah nyamuk jantan dan nyamuk


betina menetas pada umumnya hampir sama banyak (1:1), nyamuk
melakukan perkawinan biasanya terjadi pada waktu senja. Nyamuk
betina akan kawinan satu kali dalam hidupnya (biasanya 24-48 jam),
sebelum betina pergi untuk menghisap darah (Reid, 1968; Warrel &
Gilles, 2002; Depkes, 2007). Di alam nyamuk jantan umur 25 hari
relatif pendek (1 minggu) sedangkan nyamuk betina umumnya lebih
panjang, rata-rata 1-2 bulan. Nyamuk jantan menghisap cairan
tumbuh-tumbuhan (nectar) dan jarak terbangnya tidak jauh dari
tempat habitat. Nyamuk betina perlu menghisap darah untuk
pertumbuhan telurnya dan dapat terbang jauh mencapai 0,5-2 km
(Depkes, 2007). Jarak terbang nyamuk Anopheles, sebagian besar
ditentukan oleh lingkungan dan angin kencang dapat membawa
nyamuk Anopheles sp. sampai 30 km atau lebih (Warrel & Gilles,
2002).
Perilaku nyamuk Anopheles sp.
Perilaku nyamuk akan berubah secara alami apabila ada rangsangan atau
pengaruh dari luar, seperti terjadinya perubahan lingkungan baik oleh alam
maupun aktivitas manusia. Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi
seperti: musim, kelembaban udara, angin, suhu udara dan cahaya matahari.
Lingkungan kimia (kadar garam, pH) dan lingkungan biologik (tumbuhan
bakau, ganggang, vegetasi disekitar habitat dan musuh alami) (Warrel &
Gilles, 2002). Kemampuan hidup dari suatu spesies nyamuk dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu tersedia sumber darah, tempat berkembang biak dan
tempat istirahat (Kirnowardoyo, 1991).
1. Perilaku berkembang biak: Nyamuk Anopheles sp. betina mempunyai
kemampuan untuk memilih tempat berkembang biak yang sesuai. Ada
jenis nyamuk yang senang kena sinar matahari (An. sundaicus) dan
ada pula yang membutuhkan tempat yang teduh (An. umbrosus). Ada
yang berkembang biak di air payau, air tawar dan ada pula yang di air
asin (laut) (Depkes, 1999; Sigit & Hadi, 2006).
2. Perilaku mencari darah: Waktu mencari darah (menggigit) nyamuk
Anopheles sp. pada umumnya malam hari mulai senja hingga pagi.
Kebiasaan tempat menggigit nyamuk adalah eksofagik (diluar rumah)
dan ada endofagik (didalam rumah). Kebiasaan menggigit dikaitkan
pemilihan hospes, ada yang bersifat antropofilik (menghisap darah
manusia), ada yang bersifat zoofilik (menghisap darah hewan) dan ada
pula yang menyukai keduanya yang disebut indiscriminate bitter.
(Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002)

3. Perilaku istirahat: Nyamuk Anopheles sp. mempunyai dua cara


istirahat yaitu istirahat sebenarnya selama waktu menunggu proses
perkembangan telur dan istirahat sementara pada waktu sebelum dan
sesudah mencari darah. Nyamuk mempunyai perilaku istirahat
berbeda-beda, An. aconitus banyak beristirahat ditempat dekat tanah
sedangkanAn. sundaicus beristirahat ditempat-tempat yang lebih
tinggi (Depkes, 1999; Warrel dan Gilles, 2002).
Pada waktu malam hari nyamuk masuk kedalam rumah untuk menghisap
darah lalu keluar dan ada pula sebelum atau sesudah menghisap darah
hinggap di dinding untuk beristirahat terlebih dahulu (Depkes, 1999; Warrel
& Gilles, 2002).Nyamuk yang senang beristirahat di dalam rumah (endofilik)
dan di luar rumah (eksofilik).Nyamuk yang ada di dalam rumah beristirahat
seperti di gantungan baju, kelambu dan tembok, yang di luar rumah
beristirahat pada lubang-lubang tanah, rerumputan, semak-semak dan lainlain (Warrel & Gilles, 2002; Gandahusada & Ilahude, 2003; Sigit & Hadi,
2006).
Perilaku Jentik Anopheles sp.
Jentik nyamuk Anopheles sp. bersifat akuatik yakni hidup di air, umumnya
berada dipermukaan air dengan posisi mendatar, sejajar dengan permukaan
air dan spirakelnya selalu kontak dengan udara luar, sesekali mengadakan
gerakan masuk ke dalam air untuk menghindari musuh alami (predator) atau
adanya rangsangan gerakan di permukaan air (Bates, 1970; Warrel & Gilles,
2002 ).
Menurut Depkes (2007) pemilihan berbagai macam tempat genangan air
yang disenangi nyamuk dilakukan secara genetik oleh seleksi alam. Satu tipe
genangan air yang di sukai oleh satu jenis nyamuk, belum tentu disukai jenis
nyamuk yang lain. Jentik nyamuk berkumpul pada bagian-bagian dimana
dapat diperoleh makanan, terlindung dari arus air dan predator.Jentik
meninggalkan permukaan air untuk mencari makanan atau sebagai reaksi
untuk melarikan diri.
Berbagai jenis tanaman air merupakan indikator bagi jenis- jenis jentik
nyamuk tertentu.Ada atau tidaknya tanaman air pada genangan air dapat
memberikan petunujuk ada atau tidaknya jenis nyamuk tertentu.Contoh
klasik ialah bila pada laguna banyak ditemukan lumut perut ayam
(Hetermorpha sp.) dan lumut sutera (Enteromorpha sp.) kemungkinan
laguna tersebut ada jentik An. sundaicus.
Penyebaran jentik tidak merata, tempat-tempat perindukan yang kecil jentik
akan selalu berkumpul dipinggir atau sekitar benda-benda yang terapung di
air atau tanaman air. Flora dan fauna yang mikroskopis sebagai bahan
makanan jentik lebih banyak terdapat sekitar tanaman. Pada genangan air

yang besar jentik instar I dan II berkumpul pada tempat dimana telur-telur
diletakkan, sedang instar III dan IV bergerak beberapa meter dari tempat
penetasan dan berkumpul dibagian-bagian yang disenangi misalnya bagian
yang teduh atau terang. Waktu pertumbuhan dan perkembangan yang
diperlukan setiap instar tidak saja dipengruhi oleh musim dan jumlah
makanan yang tersedia, tetapi sangat tergantung dari masing-masing jenis
nyamuk Anopheles sp. Pada kondisi normal, waktu yang diperlukan untuk
perubahan dari instar I-IV berkisar antara 8-10 hari (Rao, 1981).
Lingkungan hidup nyamuk Anopheles sp.
Perubahan lingkungan merupakan fenomena kompleks terutama berkaitan
dengan hal-hal yang disebabkan oleh intervensi manusia seperti degradasi
lahan yang dipengaruhi oleh variabilitas iklim, lebih lagi di daerah kering dan
semikering sangat rentan terhadap perubahan iklim (Sukowati, 2004). Dalam
perkembang biakan nyamuk Anopheles sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor
lingkungan antara lain :
Lingkungan fisik
1). Pengaruh suhu udara
Nyamuk adalah binatang berdarah dingin oleh karena itu proses-proses
metabolisme dan siklus hidupannya tergantung pada suhu
lingkungan.Nyamuk tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri terhadap
perubahan-perubahan di luar tubuhnya.Suhu rata-rata optimum untuk
perkembangan nyamuk adalah 25-27oC. Nyamuk dapat bertahan hidup
dalam suhu rendah, tetapi proses metabolismenya menurun atau bahkan
terhenti bila suhu turun sampai di bawah suhu kritis dan pada suhu yang
sangat tinggi akan mengalami perubahan proses fisiologinya. Pertumbuhan
nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10C atau lebih dari
40oC. Toleransi terhadap suhu tergantung pada spesies, tetapi pada
umumnya tidak akan tahan lama bila suhu lingkungan naik 5-6C di atas
batas dimana spesies secara normal dapat beradaptasi. Kecepatan
perkembangan nyamuk tergantung dari kecepatan proses metabolisme yang
sebagian diatur oleh suhu. Oleh karena itu kejadiankejadian biologis
tertentu seperti lamanya masa pradewasa, kecepatan pencernaan darah
yang dihisap, pematangan dari indung telur, frekuensi mencari makanan
atau menggigit dan lamanya pertumbuhan parasit di dalam tubuh nyamuk
dipengaruhi oleh suhu (Depkes, 2002; Sukowati, 2004).
2). Curah hujan
Hujan dapat menambah tempat perkembangbiakan nyamuk (breeding place)
atau dapat pula menghilangkan tempat perkembangbiakan. Curah hujan
yang tinggi menyebabkan tempat perkembangbiakan yang berupa
genangan-genangan meluap dan akan menghanyutkan jentik. Bila musim
kemarau untuk daerah laguna-laguna yang berisi air payau akan semakin

terkonsentrasi untuk tempat berkembang biak nyamuk (Depkes, 1999;


Sukowati, 2004).
b). Lingkungan kimia
1. Kadar garam: Nyamuk ada yang suka berkembang biak di air tawar
seperti nyamuk An. aconitus, An. balabacensis, An. maculatus dan ada
juga yang suka berkembang biak di air payau seperti An. sundaicus
dan An. subpictus (Depkes, 1999). Kadar garam yang optimal untuk
perkembangbiakan nyamuk An. sundaicus adalah antara 5-12.
Kadar garam yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat
menyebabkan jentik mati. Namun ada penelitian menyatakan dalam
kondisi tertentu dapat hidup di air tawar (Sustriayu et al., 1986).
2. Derajat keasaman (pH): Derajat keasaman (pH) mempunyai
peranan penting dalam pengaturan respirasi dan fotosintesis. Dengan
bertambahnya kedalaman maka pH cendrung menurun, hal ini diduga
berhubungan dengan kandungan CO2. Boyd, (1990) membuat
klasifikasi pH air yaitu; pH 6,5-9 tingkat yang dibutuhkan oleh hewan
air untuk bereproduksi, pH 4-6,5 perkembangan hewan air lambat, pH
4-5 hewan air tidak bereproduksi, pH 4 merupakan titik kematian asam
dan pH 11 merupakan titik kematian basa. Russel et al. (1963)
menyatakan bahwa pH merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
penyebaran populasi jentik nyamuk.
Lingkungan biologik:
Lingkungan biologik dapat mempengaruhi populasi baik jentik maupun
nyamuk. Lingkungan biologik yang dimaksud seperti biota air baik tumbuhtumbuhan maupun hewan di dalam tempat-tempat perindukan, makanan
dan perlindungan jentik.Tempat perkembangbiakan nyamuk (breeding place)
bermacam-macam tergantung pada spesiesnya, ada yang digunung dan ada
di daerah pantai (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002).
Nyamuk An. sundaicus senang dengan tempat perkembangbiakan yang
berganggang atau lumut, sedangkan An. aconitus senang pada sawah yang
tanaman padinya mulai tumbuh, menua dan rimbun.Keberadaan hewan atau
predator juga berpengaruh terhadap perkembangan dan kepadatan jentik
misalnya adanya ikan pemakan jentik (Depkes, 2002).
Adanya tumbuh-tumbuhan sangat mempengaruhi kehidupan nyamuk antara
lain sebagai tempat meletakkan telur, tempat berlindung, tempat mencari
makan dan berlindung bagi jentik dan tempat hinggap istirahat nyamuk
betina selama menunggu siklus gonotropik. Selain itu adanya suatu jenis

tumbuhan atau sebagian jenis tumbuhan pada suatu tempat dapat dipakai
sebagai indikator memperkirakan adanya jenis- jenis nyamuk
tertentu.Tumbuhan air yang dapat diasosiasikan dengan keberadaan jentik
An. sundaicus adalah lumut sutera dari golongan Enteromorpha sp. Bates
(1970).
1. Tempat meletakkan telur: Di dalam memilih tempat untuk berkembang
biak, nyamuk akan meletakkan telurnya di tempat-tempat tertentu.
Ada nyamuk yang suka di tempat-tempat terbuka dan kena sinar
matahari langsung, seperti An. sundaicus serta ada pula nyamuk yang
suka di tempat-tempat yang teduh, terlindung dari sinar matahari,
seperti An. barbirostris. Dengan demikian tumbuhan juga
mempengaruhi nyamuk dalam pemilihan tempat untuk meletakkan
telurnya (Reid, 1968; Warrel & Gilles, 2002; Depkes, 2007).
2. Tempat berlindung dan mencari makan bagi jentik: Penyebaran jentik
nyamuk terutama jentik Anopheles sp. biasanya di sekitar tumbuhtumbuhan yang ada di air. Di tempat tersebut jentik terlindung dari
pengaruh gerakan permukaan air dan musuh-musuhnya. Tumbuhan
dan binatang-binatang kecil sebagai makanan jentik biasanya banyak
terdapat di sekitar tumbuhan air (Clements, 1963; Depkes, 2007).
Kepadatan jentik dipengaruhi oleh banyaknya mikroplanton dan detritus
hasil penguraian sampah organik pada laguna sebagai sumber
makanan.Keberadaan ganggang dan tumbuhan air yang membusuk
membantu perkembangan jentik nyamuk (Rao, 1981). - See more at:
http://staypublichealth.blogspot.com/2013/03/epidemiologianopheles.html#sthash.QIQ7chHV.dpuf