You are on page 1of 13

MAKALAH

TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA


PERTENGAHAN

Disusun Oleh :
Putri Ahadiyah

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES NGUDI WALUYO
UNGARAN
2016

KONSEP DASAR KELUARGA DENGAN TAHAP ANAK USIA DEWASA


1.

Definisi
Tahap perkembangan keluarga dengan anak dewasa awal dimulai saat

anak

pertama meninggalkan rumahnya. Lamanya taha ini bergantung pada jumlah anak dalam
keluarga atau jika anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.
Tujuan utama pada tahap ini adalah mengorganisasi kembali untuk tetap berperaan dalam
melepas anak untuk hidup mandiri. Keluarga mempersiapkan anaknya yang tertua untuk
membentuk keluarga sendiri dan tetap membantu anak terakhir untuk hidup mandiri
(Mubarak, 2011).
2.

Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga


Sebagaimana keluarga membantu anak tertua dalam melepaskan diri, orangtua

juga membantu anak mereka yang lebih kecil agar mandiri. Dan ketiga anak laki-laki atau
perempuan yang dilepas menikah, tugas keluarga adalah memperluas siklus keluarga
dengan memasukkan anggota keluarga yang baru lewat perkawinan dan menerima nilainilai dan gaya hidup dari pasangan itu sendiri.
Tahap VI Siklus Kehidupan Keluarga Inti yang melepaskan anak usia dewasa muda
dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga melepas anak dewasa muda

Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga
1. Memperluas siklus keluarga dengan
memasukkan anggota keluarga baru
yang

didapatkan

melalui

perkawinan anak-anak.
2. Melanjutkan untuk memperbaharui
dan

menyesuaikan

kembali

hubungan perkawinan.
3. Membantu orangtua lanjut usia dan

sakit-sakitan dari suami maupun


istri.
4. Membantu anak untuk mandiri di
masyarakat
5. Penataan kembali peran orang tua
dan kegiatan rumah tangga.
Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
3.

Perkembangan Sosial Fase Dewasa Awal


Valiant (dalam Papila,dkk, 1998) membagi fase dewasa menjadi tiga, yaitu masa
pembentukan, masa konsolidasi dan masa transisi. Masa pembentukan dimulai pada
usia 20 sampai 30 tahun dengan tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari
orang tua, membentuk keluarga dengan pernikahan, dan mengembangkan
persahabatan. Masa konsolidasi, usia 30 sampai 40 tahun merupakan masa
konsolidasi karier dan memperkuat ikatan perkawinan, sedangkan masa transisi
sekitar usia 40 tahun merupakan masa meninggalkan kesibukkan pekerjaan dan
melakukan evaluasi terhadap hal yang telah diperoleh.
Menurut teori perkembangan yang telah dikemukakan Friedman (1998) masa usia
menikah adalah usia dewasa awal yaitu antara 20 sampai 40 tahun. Hal ini dapat
diartikan sebagaimana fungsi perkembangan dewasa awal untuk memasuk dunia
pernikahan dan dapat membina bahtera rumah tangga. Hal ini sesuai dengan teori
yang dikemukakan oleh Huvigurst (1990) yang menyatakan bahwa tugas
perkembangan yang menjadi karakteristik masa dewasa awal mulai memilih
pasangan hidup dan mulai bekerja.
Valiant (1998) mengatakan bahwa masa dewasa awal ini merupakan masa
adaptasi dengan kehidupa, sekitar usia 20-30 tahun individu dewasa awal mulai
membangun apa yang ada pada dirinya, mencapai kemandirian, menikah,
mempunyai anka dan membangun persahabatan.
Salah satu tugas perkembangan seseorang yang telah memasuki masa dewasa
awal adalah memasuki dnia kerja dan karier. Dalam proses perjalanan dalam fase ini,
seseorang dituntut dapat menentukan jenjang karier yang tepatbagi dirinya. Seorang

individu dalam menjalani hidupnya ditengah fase ini diharapkan sudah memiliki
pekerjaan yang layak dan menjamin.
Ketika orang dewasasudah memasuki dunia kerja, biasanya orang dewasa
cenderung merasa tertekan oleh tuntunan pekerjaan yang mereka jalani. Mereka
biasanya kurang setia atau memiliki loyalitasterhadap perusahaan yang rendah dan
cenderung mencari pekerjaan lain yang dianggap lebih memuaskan dan lebih dapat
menjamin atas kelangsungan hidupnya.
Terdapat beberapa aspek-aspek kerja yang harus diperhatikan pada seseorang
yang telah memasuki dewasa awal, diantaranya adalah usia, peran jenis kelamin,
perilaku dan performance, dan bagaimana kecenderungan pekerjaan dalam keluarga.
Perkembangan fisik dewasa muda awal :
1. Dewasa Muda sebagai Masa Transisi
a. Transisi fisik dari pertumbuhan fisik, menurut Santrock (1999)
diketahui bahwa dewasa muda sedang mengalami peralihan dari
masa remaja untuk memasuki masa tua. Pada masa ini, seorang
individu tidak lagi disebut sebagai masa tanggung (akil balik),
tetapi sudah tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar
dewasa (maturity). la tidak lagi diperlakukan sebagai seorang anak
atau remaja, tetapi sebagaimana layaknya seperti orang dewasa
lain-nya. Penampilan fisiknya benar-benar matang sehingga siap
melakukan tugas-tugas seperti orang dewasa lainnya, misalnya
bekerja, menikah, dan mempunyai anak. la dapat bertindak secara
bertanggung jawab untuk dirinya ataupun orang lain (termasuk
keluarganya). Segala tindakannya sudah dapat di-kenakan aturanaturan hukum yang berlaku, artinya bila terjadi pelanggaran, akibat
dari tindakannya akan memperoleh sanksi hukum (misalnya denda,
dikenakan hukum pidana atau perdata}. Masa ini ditandai pula
dengan adanya perubahan fisik, misalnya tumbuh bulu-bulu halus,
perubahan suara, menstruasi, dan kemampuan reproduksi.
b. Transisi Intelektual menurut anggapan Piaget (dalam Grain, 1992;
Miller, 1993; Santrock, 1999; Papalia, Olds, & Feldman, 1998),

kapasitas kognitif dewasa muda tergolong masa operational


formal, bahkan

kadang-kadang

mencapai

masa post-operasi

formal (Turner & Helms, 1995). Taraf ini menyebabkan, dewasa


muda mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan
kapasitas berpikir abstrak, logis, dan rasional. Dari sisi intelektual,
sebagian besar dari mereka telah lulus dari SMU dan masuk ke
perguruan tinggi (uniiversitas/akademi). Kemudian, setelah lulus
tingkat universitas, mereka mengembangkan karier untuk meraih
puncak prestasi dalam pekerjaannya. Namun demikian, dengan
perubahan zaman yang makin maju, banyak di antara mereka yang
bekerja, sambil terns melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,
misalnya pascasarjana. Hal ini mereka lakukan sesuai tuntutan dan
kemajuan perkembangan zaman yang ditandai dengan masalahmasalah yang makin kompleks dalam pekerjaan di lingkungan
sosialnya.
c. Transisi Peran Sosial pada masa ini, mereka akan menindaklanjuti
hubungan dengan pacarnya (dating),untuk segera menikah agar
dapat membentuk dan memelihara kehidupan rumah tangga yang
baru, yakni terpisah dari kedua orang tuanya. Di dalam kehidupan
rumah tangga yang baru inilah, masing-masing pihak baik laki-laki
maupun wanita dewasa, memiliki peran ganda, yakni sebagai
individu yang bekerja di lembaga pekerjaan ataupun sebagai ayah
atau ibu bagi anak-anaknya. Seorang laki-laki sebagai kepala
rumah tangga, sedangkan seorang wanita sebagai ibu rumah
tangga, tanpa meninggalkan tugas karier tempat mereka bekerja.
Namun demikian,ntak sedikit seorang wanita mau meninggalkan
kariernya untuk menekuni tugas-tugas kehidupan sebagai ibu
rumah tangga, agar dapat mengurus dan mendidik anak-anaknya
dengan baik. Sebagai anggota masyarakat, mereka pun terlibat
dalam aktivitas-aktivitas sosial, misalnya dalam kegiatan pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK) dan pengurus RT/RW.

2. Aspek perkembangan fisik


a. Kekuatan dan Energi, selepas dari bangku pendidikan tinggi,
seorang dewasa muda berusaha menyalurkan seluruh potensinya
untuk mengembangkan diri melalui jalur karier. Kehidupan karier,
sering kali me-nyita perhatian dan energi bagi seorang individu.
Hal ini karena mereka sedang merintis dan membangun kehidupan
ekonomi agar benar-benar mandiri dari orang tua. Selain itu,
mereka yang menikah hams rnemikirkan kehidupan ekonomi
keluarga. Oleh karena itu, mereka memiliki energi yang tergolong
luar biasa, seolah-olah mempunyai kekuatan ekstra bila asyik
dengan pekerjaannya.
b. Ketekunan, untuk dapat mencapai kemapanan ekonomis seseorang
harus memiliki kemauan kerja keras yang disertai ketekunan.
Ketika menemukan posisi kerja yang sesuai dengan minat, bakat,
dan latar belakang pendidikannya, mereka umumnya akan tekun
mengerjakan

tanggung

jawab

pekerjaannya

dengan

baik,

Ketekunan merupakan salah satu kunci dari kesuksesan dalam


meraih suatu karier pekerjaan. Karier yang cemerlang akan
mempengaruhi kehidupan ekonomi keluarga yang baik pula;
sebaliknya bila karier yang suram (gagal), kehidupan ekonomi
seseorang pun suram. Namun, tak sediki seorang individu yang
belum cocok dengan pekerja. Dan dan penghasilan yang diperoleh,
tak segan-segan mereka segera pindah dan mencari pekerjaan lain
yang dianggap cocok. Hal ini biasanya dilakukan mereka yang
masih membujang atau belum menikah. Kalau mereka telah
menikah, umumnya akan menekuni bidang kariernya walaupun
hasil gajinya masih pas-pasan, dengan alasan sulimya mencari
jenis pekerjaan yang baru dan takut dibayangi kegagalan.
c. Motivasi, maksud dari motivasi di sini ialah dorongan yang berasal
dari kesadaran diri sendiri untuk dapat meraih keberhasilan dalam
suatu pekerjaan. Dengan kata lain, motivasi yang dimaksudkan

ialah motivasi internal. Orang yang merniliki motivasi Internal,


biasanya ditandai dengan usaha kerja keras tanpa dipengarahi
lingkungan eksternal, seseorang akan bekerja secara tekun sampai
benar-benar mencapai suatu tujuan yang diharapkan, tanpa putus
asa walaupuri memperoleh hambatan atau rintangan dari
lingkungan eksternal.
3. Kesehatan Dewasa Muda
a. Pengertian Kesehatan, organisasi bangsa-bangsa yang mengurusi
masalah kesehatan dunia (WHO), memberi definisi mengenai
kesehatan.

Menurut

WHO

yang

dimaksud

dengan

sehat(healthy) adalah kondisi sehat sejahtera baik secara fisik,


mental maupun sosial yang ditandai dengan tidak adanya
gangguan-gangguan atau simtom-simtom penyakit, seperti keluhan
sakit fisik, keluhan emosional (Papalia, Olds, dan Feldman, 1998;
Sarafino, 1994). Kondlsi kesehatan seseorang berhubungan erat
dengan beberapa kebiasaan perilaku individu yang bersangkutan.
Untuk mencapai kehidupan yang sehat, diperlukan kebiasaankebiasaan perilaku yang sehat pula. Ada beberapa perilaku sehat
yang dapat menopang kesehatan seseorang, di antaranya (1) makan
secara teratur (tiga kali: sarapan, makan siang, dan makan malam,
tidak termasuksnack); (2) perlu mengonsumsi makan-makanan
yang

sehat

(mengandung

gizi,

nutrisi,

protein,

vitamin,

karbohidrat, mineral, zat besi), misalnya empat sehat lima


sempuma; (3) melakukan aktivitas secara seimbang antara kegiatan
bekerja/belajar dengan kegiatan olahraga; (4) pola tidur yang sehat
dan normal selama 7-8 jam; (5) membiasakan diri untuk tidak
merokok; (6) membiasakan diri untuk tidak mengonsumsi narkoba
(narkotik, alkohol, dan obat-obatan); (7) tidak mengonsumsi
makanan

yang

mengandung

kolesterol

tinggi

{daging

sapi/kambing, fast-food/sea food (udang, cumi). Individu yang


secara tekun mengikuti kebiasaan-kebiasaan tersebut, umumn ya

akan memiliki taraf kondisi kesehatan yang baik daripada individu


yang tidak melakukannya.
b. Perilaku dan Status Kesehatan, status kesehatan seseorang sangat
berkaitan dengan seberapa jauh pola kebiasaan perilaku orang
tersebut Kebiasaan perilaku yang sehat akan memberi pengaruh
positif pada kesehatannya, sebaliknya kebiasaan yang salah
cenderung memberi dampak negatif. Akibatnya, individu mudah
terserang penyakit. Kasl & Cobb (dalam Sarafino, 1994)
mengemukakan tiga jenis upaya individu untuk mengatasi suatu
penyakit dan menipertahankan taraf kesehatan, yakni (1} health
behavior; (2) illness behavior; (3) sick-role behavior .
a) Health behavior adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan
individu

yang

diyakini

akan

dapat

membangun

kesehatannya dengan cara mencegah suatu penyakit atau


menanggulangi gangguan penyakitnya.
b) Illness behavior adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan
orang yang sakit, guna memperoleh informasi, nasihat atau
cara penyembuhannya agar dirinya sehat kembali.
c) Sick role behavior adalah aktivitas yang dilakukan individu
untuk proses penyembuhan dari rasa sakitnya.
4. Perkembangan Kognitif Dewasa Muda Awal
Masa perkembangan dewasa muda (young adulthood] ditandai
dengan keinginan mengaktualisasikan segala ide pemikiran yang
dimatangkan selama mengikuti pendidikan tinggi (universitas/akademi).
Mereka bersemangat untuk meraih tingkat kehidupan ekonomi yang tinggi
(mapan). Karena itu, mereka beriomba dan bersaing dengan orang lain
guna mem-buktikan kemampuannya. Segala daya upaya yang berorientasi
untuk mencapai keberhasilan akan selalu ditempuh dan diikuti sebab
dengan keberhasilan itu, ia akan meningkatkan harkat dan martabat hidup
di mata orang lain.

Ketika memasuki masa dewasa muda, biasanya individu telah


mencapai penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang matang.
Dengan modal itu, seorang individu akan siap untuk menerapkan keahlian
tersebut ke dalam dunia pekerjaan. Dengan demikian, individu akan
mampu

memecahkan

masalah

secara

sistematis

dan

mampu

mengembangkan daya inisiatif-kreatimya sehingga ia akan memperoleh


pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut,
akan semakin mematangkan kualitas mentalnya.
4.

Masalah Kesehatan
a. Masalah Fisiologis
Dewasa awal umumnya aktif dan mempunyai masalah kesehatan utama
minimum. Akan tetapi gaya hidup mereka dapat menempatkan mereka pada
resiko penyakit atau kecacatan selama masa dewasa tengah atau akhir. Dewasa
awal mungkin juga rentan secara genetik terhadap penyakit kronis tertentu seperti
diabetes mellitus dan hiperkolesterolemia keturunan ( Price dan Wilson, 1992).
Penyakit crohn, radang kronis pada usus halus lebih umum terjadi pada usia 15-35
tahun. Insiden infertalitas

juga meningkat pada masa sekarang yang

mempengaruhi 15-20% dewasa sehat lain, banyak klien infertile merupakan


dewasa awal (Bobak dan Jensen, 1993).
a) Faktor Risiko, Faktor risiko bagi kesehatan dewasa awal berasal dari
komunitas, gaya hidup dan riwayat keluarga. Faktor risiko ini mempunyai
kategori sebagai berikut ;

Kematian dan Cedera karena kekerasa, kekerasan adalah penyebab


terbesar

mortalitas

dan

morbilitas

pada

populasi

dewasa

awal. Kematian dan cedera dapat terjadi karena serangan fisik,


kecelakaan kendaraan bermotor atau kecelakaan lain dan usaha bunuh
diri. Pengkajian faktor yang mempredisposisi kekerasan yang
mengakibatkan cedera atau kematian, yaitu : kemiskinan, keretakan
keluarga, penganiayaan, pengabaian anak. Penting sekali bila
seseorang

perawat

melakukan

pengkajian

psikososial

secara

keseluruhan termasuk faktor seperti : pola perilaku, riwayat


penganiayaan fisik dan peyalahgunaan zat, pendidikan, riwayat
pekerjaan dan system pendukung sosial untuk mengetahui faktor risiko
terhadap kekerasan personal dan lingkungan.

Penyalahgunaan Zat, penyalahgunaan zat secara langsung maupun


tidak langsung berperan terhadap mortalitas dan morbilitas pada
dewasa awal. Intoksikasi pada dewasa awal dapat menyebabkan
cedera berat dalam kecelakaan kedaraan bermotor yang dapat
mengakibatkan kematian atau kecacatan permanen. Penyalahgunan
pada obat stimulan dan depresan yang (upper) dapat menekan
system kardiovaskuler dan persyarafan yang dapat meluas sehingga
menyebabkan kematian.
Penyalahgunaan zat tidak selalu dapat didiagosa, khususnya pada
tahap awal. Informasi yang penting mungkin diperoleh dengan
membuat pertanyaan yang spesifik tentang masalah medis di masa
lalu, perubahan masukan makanan, pola tidur atau masalah labilitas
emosi. Laporan penangkapan karena mengemudi saat intoksikasi,
penganiayaan istri dan anak atau perilaku yang melanggar peraturan
untuk memeriksa kemungkinan penyalahgunaan obat secara cermat
(Winger, Hofmam dan Woods, 1992).

Kehamilan

yang

tidak

diinginkan,

kehamilan

yang

tidak

direncanakan meskipun lebih umum terjadi pada masa remaja,


sebanyak 55% kemamilan terjadi pada wanita dewasa awal dan tengah
( Alan Guttmacher Institute). Kehamilan yang tidak direncanakan
dapat mempunyai efek fisik dan emosional jangka panjang pada masa
awal dewasa. Kehamilan yang tidak direncanakan adalah sumber
stress yang berkelanjutan. Sering kali dewasa awal yang mempunyai
tujuan

pendidikan,

karier

dan

mengutamakan

perkembangan

keluarganya. Gangguan pada tujuan tersebut dapat mempengaruhi


hubungan masa depan dan hubungan orang tua-anak nantinya.

10

Penyakit Menular Seksual (PMS), penyakit menular seksual yaitu


sifilis, klamidia, gonore, herpes genital dan AIDS. Penyakit sekual
menular mempunyai efek yang cepat seperti keluarnya rabas,
ketidaknyamanan dan infeksi. PMS juga memicu gangguan kronis
yang diakibatkan penyakit herpes genital, infertilitas yang diakibatkan
gonore atau bahkan kematian yang disebabkan AIDS. Penyakit ini
dapat terjadi pada orang yang aktif secara seksual dan diperkirakan
hampir dua pertiga kasus PMS terjadi pada individu berusia antara 1524 tahun (Killion,1994).

Faktor Lingkungan dan Pekerjaan, faktor lingkungan dan


pekerjaan yang umum yaitu : paparan terhadap partikel udara yang
dapat menyebabkan penyakit paru dan kanker. Penyakit paru yang
termasuk silikosis berasal dari inhalasi bedak atau debu silikon dan
emfisema karena kanker disebabkan paparan tentang pekarjaan dapat
menyerang paru, hati, otak, darah atau kulit. Pertanyaan tentang
paparan pekerjaan terhadap bahan-bahan berbahaya harus menjadi
bagian rutin pengkajian perawat.

b) Gaya hidup
Kebiasaan gaya hidup seperti merokok, stres, kurang large dan higiene
personal yang buruk meningkatkan risiko penyakit di masa depan.
Riwayat penyakit dalam keluarga seperti kardiovaskular, ginjal,
endokrin atau neoplastik meningkatkan risiko penyakit juga. Peran
perawat dalam meningkatkan kesehatan yaitu mengidentifikasi faktor
yang meningkatkan risiko masalah kesehatan pada dewasa awal.
Merokok adalah faktor risiko penyakit paru, jantung dan vaskular
yang diketahui dengan baik pada perokok dan orang yang menghisap
asap rokok. Inhalasi polutan rokok meningkatkan risiko kanker paruparu, emfisema dan bronkhitis kronis. Nikotin pada tembakau adalah
vasokontriktor yang bekerja pada arteri koroner, darah meningkatkan
risiko penyakit angina, infark miokard dan arteri koroner. Nikotin juga

11

menyebabkan penyempitan vasokonstriksi perifer dan memicu


masalah vaskular.
Stres lama meningkatkan wear and fear pada kapasitas adaptif tubuh.
Pola latihan dapat mempengaruhi status kesehatan. Latihan yang
dilakukan terus-menerus meningkatkan frekuensi nadi selama 15
sampai

20

menit

kali

seminggu

meningkatkan

fungsi

kardiopulmonal dengan menurunkan rata-rata tekanan darah dan


denyut jantung. Selain itu latihan menurunkan kecenderungan mudah
lelah insomnia, ketegangan dan iritabilitas. Perawat harus melakukan
pengkajian muskuloskletal secara menyeluruh, termasuk mobilitas
sendi dan tonus otot, dan pengkajian psikososial untuk meningkatkan
toleransi terhadap stres dalam menentukan efek-efek latihan.
Pada semua kelompok usia, kebiasaan higiene personal pada dewasa
awal dapat menjadi faktor risiko. Meminjamkan peralatan makan
dengan seseorang yang mempunyai penyakit yang mudah menular
meningkatkan risiko penyakit. Higiene gigi yang buruk meningkatkan
risiko penyakit periodontal.
Riwayat penyakit dalam keluarga menempatkan dewasa awal pada
risiko berkembangnya penyakit pada masa dewasa tengah atau dewasa
akhir. Contohnya, seorang pria muda yang ayah dan kakek dari
ayahnya yang mempunyai infark miokard (serangan jantung), pada
usia 50-an mempunyai risiko infark miokard di masa depan. Adanya
penyakit kronik tertentu dalam keluarga meningkatkan risiko bagi
anggota keluarga terhadap perkembangan penyakit itu. Risiko
penyakit keluarga jelas merupakan penyakit herediter. Kurangnya
kepatuhan untuk pemeriksaan skrining rutin dapat menempatkan klien
pada risiko penyakit berat karena kegagalan deteksi dini.
c) Infertilitas

Infertilitas adalah ketidakmampuan konsepsi involunter pada pria,


wanita atau pasangan. Masalah utama kesehatan meliputi masalah
komunikasi kaum dewasa muda dengan orangtua mereka ; masalah12

masalah transisi peran bagi suami istri, masalah orang yang


memberikan perawatan (bagi orangtua lanjut usia) dan munculnya
kondisi kesehatan tingkat kolesterol tinggi, obesitas dan tekanan darah
tinggi, dan masalah gaya hidup mendapatkan perhatian antara lain :
kebiasaan minum, merokok yang lama dan praktek diet semakin lebih
jelas.
5.

Peran Perwat dalam Keluarga dengan Tahap Perkembangan Anak Usia


Dewasa
Masalah utama kesehatan meliputi masalah komunikasi kaum dewasa muda
dengan orangtua mereka ; masalah-masalah transisi peran bagi suami istri, masalah
orang yang memberikan perawatan (bagi orangtua lanjut usia) dan munculnya
kondisi kesehatan tingkat kolesterol tinggi, obesitas dan tekanan darah tinggi.
Keluarga berencana bagi remaja dan dewasa muda tetap penting. Masalah-masalah
manupouse dikalangan wanita umum terjadi. Efek-efek yang dikaitkan dengan
kebiasaan minum, merokok yang lama dan praktek diet semakin lebih jelas. Terakhir,
perlunya strategi promosi kesehatan dan gaya hidup sehat menjadi lebih penting
bagi anggota keluarga yang dewasa (Friedman, 1998) :
a.

Memberikan pendidikan konseling pada keluarga

b.

Merawat orang tua lanjut usia dengan keluarga bermasalah lain

c.

Menkaji kebutuhan permasalahan keluarga dan berupaya menanggulanginya

13