You are on page 1of 25

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH

PSIKOSOSIAL: ANSIETAS

MAKALAH

Oleh
Kelompok 1B

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH


PSIKOSOSIAL: ANSIETAS

MAKALAH

diajukan unutk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik VIII


dengan dosen: Ns. Emy Wuri Wuryaningsih, M.Kep.

Oleh:
Dita Oktaviana
Raras Rahmatichasari
Retno Puji Astuti

NIM 112310101039
NIM 122310101011
NIM 122310101027

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2015

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Masalah Psikososial: Ansietas dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik IV-B.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1

Ns. Emy Wuri Wuryaningsih, M. Kep. selaku dosen pembimbing mata kuliah
kuliah Keperawatan Klinik VIII;

teman-teman sekelompok yang telah membantu;

semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.


Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi

kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
menambah pengetahuan pembaca.

Jember, Februari 2014


Penulis

iii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL...............................................................................................i
HALAMAN JUDUL.................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR................................................................................................ iii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iv
BAB 1. PENDAHULUAN......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Tujuan.............................................................................................................2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................3
2.1 Contoh Kasus................................................................................................ 3
2.2 Pengertian......................................................................................................3
2.3 Tanda dan Gejala Ansietas..........................................................................
2.4 Bagan Sistem Saraf Simpatis dan Parasimpatis........................................
2.5 Psikopatologi/ Psikodinamika (Pengkajian Stres Adpatasi Stuart).........4
2.6 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan.............................................12
2.7 Penatalaksanaan............................................................................................13
2.8 Implementasi................................................................................................
2.9 Evaluasi.........................................................................................................
BAB 3. PENUTUP..................................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan................................................................................................... 19
3.2 Saran.............................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 20

iv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Klien yang dirawat dirumah sakit dengan masalah fisik juga aan disertai masalah
psikososial seperti rasa kecemasan, takut akan kehilangan, dan juga akan mengalami
masalah distress spiritual. Timbulnya perasaan tersebut munculdisaat ketika keluarga
dan lingkungan merasa khawatir dengan keadaan klien ditambah dengan seringnya
waktu tim kesehatan seperti dokter, perawat, ahli terapi lain mengontrol dan
membicarakan keadaan klien saat diruangan. Pada umumnya masalah psikososial
tersebut menjadi hal pokok yang dirasakan klien dan keluarga disaat seperti kurangnya
informasi yang disampaikan oleh tim atau sumber-sumber informasi yang kurang.
Menurut Ermawati, dkk., (2009) dalam Pieter, Janiwarti & Saragih (2011),
ansietas

merupakan respon emosional dan penilaian individu yang subjektif yang

dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan belum diketahui secara khusus faktor
penyebabnya. Menurut Freud (1933) dalam Semiun (2006) menyatakan bahwa
kecemasan merupakan keadaan perasaan afektif yang tidak menyenangkan yang disertai
dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang.
Keadaan yang tidak menyenangkan itu sering kabur dan sulit menunjuk dengan tepat,
tetapi kecemasan itu sendiri selalu dirasakan. Jadi, kecemasan merupakan respon
emosional yang tidak menyenangkan disertai perasaan afektif dan sensasi fisik secara
subjektif dipengaruhi alam bawwah sadar.
Tindakan untuk masalah psikososial ini dapat diatasi dengna meningkatkan
kualitas pelayanan keperawatan. Salah satu aspek yang dapat dilakukan adalah asuhan
keperawatan psikososial yang membahas mengenaipenyakit terminal, penyakit kronis,
kehilangan, ansietas dan masalah kritis lainnya. Dengan demikian keterkaitan masalah
psikososial keyakindengan pelayanan kesehatan, dimana kebutuhan dasar manusia
diberikan pelayanan keseehatan tidak hanya berupa aspek biologis, tetapi aspek spiritual
agar tidak mengalami masalah psikososial seperti distress spiritual.

2
Masalah psikososial yang nantinya akan timbul pada kondisi-kondisi yang
disebutkan tadi akan menimbulkan masalah psikososial baru seperti aspek kehilangan.
Hal ini lebih banyak melibatkan emosi dan perasaan. Sehingga tim kesehatan
melakukan tindakan keperawataan membantu klien untuk memahami dan menerima
kehilangan dan masalah psikososial lain dalam konteks kultur mereka sehingga
kehidupan mereka berlanjut. Untuk itu asuhan yang dapat diberikan dalam mengatasi
masalah-masalahpsikosial tersebut untuk menjaga keseimbanga atau balance antara
stress dan mekanisme koping serta menghindari ketidakseimbangan kondisi tersebut.

1.2 Tujuan
1.2.1

Untuk mengetahui contoh kasus klien dengan ansietas

1.2.2

Untuk mengetahui pengertian ansietas

1.2.3

Untuk mengetahui tanda dan gejala ansietas

1.2.4

Untuk mengetahui bagan sistem saraf simpatis dan parasimpatis ansietas

1.2.5

Untuk mengetahui psikopatologi/ psikodinamika ansietas

1.2.6

Untuk mengetahui diagnosa medis dan diagnosa keperawatan ansietas

1.2.7

Untuk mengetahui penatalaksanaan keperawatan dan medis pada klien ansietas

1.2.8

Untuk mengetahui implementasi keperawatan pada klien ansietas

1.2.9

Untuk mengetahui evaluasi keperawatan pada klien ansietas

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Contoh Kasus


An. A seorang siswa SMA, ia seminggu lagi akan menghadapi ujian nasional.
An. A tampak gelisah saat di tanya tentang kesiapan menghadapi ujian nasional. Saat
ditanya oleh perawat, dia mengatakan kalau takut tidak lulus ujian. Tiap malam An. A
susah tidur karena selalu memikirkan ujian nasional. Ibu dari An. A mengatakan bahwa
anaknya seringkali melamun saat dirumah dan tampak tidak nafsu makan walaupun
sudah diberikan makanan kesukaannya.

2.2 Pengertian
Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik atai tidak diketahui oleh individu);
perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan
isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan
memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman (NANDA, 2012).
Menurut Stuart (2006) ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai
kecemasan. Teori tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Teori psikoanalitik, kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua
elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id meewakili dorongan insting dan impuls
primitive, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan
norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi mengahi tuntutan dari dua elemen
yang bertentangan tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa
ada bahaya.
b. Teori interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan
dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan
trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu.
Individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat.

4
c. Teori perilaku, kecemasan merupakan hasil dari frustasi, yaitu segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli teori
perilaku lain mengangga kecemasan sebagai suatu dorongan yang dipelajari
berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk menghindari kepedihan.
d. Teori keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan biasanya terjadi dalam
keluarga. Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan
depresi.
e. Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gamaaminobitirat (GABA), yang berperan penting dalam biologis yang berhubungan
dengan kecemasan.
Ansietas berbeda dengan rasa takut. Ketakutan suatu perasaan takut akan terjadi
sesuatu yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. Ini merupakan sinyal yang
menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya yang akan datang dan memperkuat
individu mengambil tindakan menghadapi ancaman. Ketakutan memiliki nilai yang
positif. Menurut Stuart dan Laraia (2006) aspek positif dari individu berkembang
dengan adanya konfrontasi, gerk maju perkembangan dan pengalaman mengatasi
kecemasan. Tetapi pada keadaan lanjut perasaan takut dapat mengganggu kehidupan
seseorang.
Menurut Asmadi (2008), tingkatan kecemasan dibagi menjadi 4, antara lain
sebagai berikut.
a. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari
dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan
kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel,
lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi
meningkat dan tingkah laku sesuai situasi. Kecemasan

ringan mempunyai

karakteristik:
1. Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari.
2. Kewaspadaan meningkat.
3. Persepsi terhadap lingkungan meningkat.

5
4. Dapat menjadi motivasi posotif untuk belajar dan menghasilkan kreatifitas.
5. Respon fisiologis : sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat
sedikit, gejala ringan pada lambung, muka berekrut, serta bibir bergetar.
6. Respon kognitif : mampu menerima rangsangan yang kompleks, konsentrasi
pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif, dan terangsang untuk
melakukan tindakan.
7. Respon perilaku dan emosi : tidak dapat duduk tenang, remor halus pada tangan,
dan suara kadang-kadang meninggi.
b. Kecemasan sedang
Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah
yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami
perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi
yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung
dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume
tinggi, lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal,
kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan
yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar,mudah lupa, marah
dan menangis. Kecemasan sedang mempunyai karakteristik seperti:
1. Respon biologis : sering nafas pendek, nadi ekstra sistol dan tekanan darah
meningkat, mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi, sakit kepala, sering
berkemih, dan letih.
2. Respon kognitif : memusatkan perhatian pada hal yang penting dna
mengesampingkan yang lain, lapang persepsi menyempit, dan rangsangan dari
luar tidak mampu diterima.
3. Respon perilaku dan emosi : gerakan tersentak-sentak, terlihat lebih tegas, bicara
banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan perasaan tidak aman.
c. Kecemasan berat
Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan
kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan
spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan
banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi
yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak

6
dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit,
tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk
menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung, disorientasi.
Kecemasan berat mempunyai karakteristik :
1. Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang
lain.
2. Respon fisiologis : nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat dan
sakit kepala,penglihatan kabur, serta tampak tegang.
3. Respon kognitif : tidak mampu berpikir berat lagidan membutuhkan banyak
pengarahan / tuntunan, serta lapang persepsi menyempit.
4. Respon perilaku dan emosi : perasaan terancam meningkat dan komunikasi
menjadi terganggu (verbalisasi cepat).
d. Panik
Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami
kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu
walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini
adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan
inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak,
menjerit, mengalami halusinasi dan delusi. Panik mempunyai karakteristik seperti:
1. Respons fisiologis : nafas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat,
hipotensi, serta rendahnya koordinasi motorik.
2. Respons kognitif : gangguan realitas, tidak dapat berfikir logis, persepsi
terhadap lingkungan mengalami distorsi, dan ketidakmampuan memahami
situasi.
3. Respons prilaku dan emosi : agitasi, mengamuk dan marah, ketakutan, berteriakteriak, kehilangan kendali atau kontrol diri (aktifitas motorik tidak menentu),
perasaan terancam serta dapat berbuat sesuatu yang membahayakan dii sendiri
dan atau orang lain.

2.3 Bagan Sistem Saraf Simpatis dan Parasimpatis

Otak memiliki reseptor khusus terhadap benzodiazepin, reseptor tersebut7


berfungsi membantu regulasi kecemasan. Regulasi tersebut berhubungan dengan
aktivitas neurotransmiter Gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol
aktivitas neuron di bagian otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan. Bila
GABA bersentuhan dengan sinaps dan berikatan dengan reseptor GABA pada membran
post-sinaps akan membuka saluran/pintu reseptor sehingga terjadi perpindahan ion.
Perubahan ini akan mengakibatkan eksitasi sel dan memperlambat aktivitas sel. Teori
ini menjelaskan bahwa individu yang sering mengalami kecemasan mempunyai
masalah dengan proses neurotransmiter ini. Mekanisme koping juga dapat terganggu
karena pengaruh toksik, defisiensi nutrisi, menurunnya suplai darah, perubahan hormon
dan sebab fisik lainnya. Kelelahan dapat meningkatkan iritabilitas dan perasaan cemas.

2.4 Tanda dan Gejala Ansietas


Menurut NANDA (2012), tanda dan gejala ansietas adalah sebagai berikut.
a. Perilaku
1. Penurunan produktivitas
2.
3.
4.
5.
6.

Gerakan yang irelevan


Gelisah
Melihat sepintas
Insomnia
Kontak mata yang buruk

7. Mengekspresikan kekhawatiran
karena perubahan dalam
peristiwa hidup
8. Agitasi
9. Mengintai
10. Tampak waspada

b. Afektif
1. Gelisah
2. Kesedihan yang mendalam
3. Distress
4. Ketakutan
5. Perasaan tidak adekuat
6. Berfokus pada diri sendiri
7. Peningkatan kewaspadaan
8. Iritabilitas
9. Gugup
10. Senang berlebihan

11. Rasa nyeri yang meningkatkan


ketidakberdayaan
12. Peningkatan rasa
ketidakberdayaan yang persisten
13. Bingung
14. Menyesal
15. Ragu atau tidak percaya diri
16. Khawatir

c. Fisiologis
1. Wajah tegang
2. Tremor tangan
3. Peningkatan keringat

4. Peningkatan ketegangan
5. Gemetar
6. Tremor

7. Suara bergetar
d. Simpatik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Anoreksia
Eksitasi kardiovaskuler
Diare
Mulut kering
Wajah merah
Jantung berdebar-debar
Peningkatan tekanan darah
Peningkatan denyut nadi

9. Peningkatan refleks
10. Peningkatan frekuensi
pernapasan
11. Pupil melebar
12. Kesulitan bernafas
13. Vasokontriksi superficial
14. Kedutan pada otot
15. Lemah

e. Parasimpatik
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nyeri abdomen
Penurunan tekanan darah
Penurunan denyut nadi
Diare
Vertigo
Letih

7. Mual
8. Gangguan tidur
9. Kesemutan pada ekstremitas
10. Sering berkemih
11. Anyang-anyangan
12. Dorongan segera berkemih

f. Kognitif
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyadari gejala fisiologis


Bloking pikiran
Konfusi
Penurunan lapang persepsi
Kesulitan konsentrasi
Penurunan kemampuan untuk

belajar
7. Penurunan kemampuan untuk
memecahkan masalah

8. Ketakutan terhadap konsekuensi


yang tidak spesifik
9. Lupa
10. Gangguan perhatian
11. Khawatir
12. Melamun
13. Cenderung menyalahkan orang
lain.

14.
15.

16.
17. 2.5 Psikopatologi/ Psikodinamika (Pengkajian Stres Adaptasi Stuart)
18.

Biologi :
-19. Trauma fisik/kepala
- Penyakit kronis
-20. Post stroke
21.

Psikologis:
Perasaan kehilangan
stigma

Sosial budaya :
Diskriminasi ras
Intimidasi lingkungan
Konflik

FAKTOR PRESDISPOSISI

22.
23.

- Biologi

seperti
24.
kelelahan fisik,
operasi
atau
25.
cedera.
26.

- Sosial kultur
seperti status
kasta, status
ekonomi.

Psikologi seperti dilema etik,


gangguan komunikasi
interpersonal, peristiwa
kematian.

27.
FAKTOR PRESIPITASI

28.
29.
30.
31.
Kognitif:
32.
- Gelisah
- Ekspresi
33.
khawatir
34.
- Waspada
35.

Afektif:
Distress
Ketakutan
Bingung
Tidak percaya diri

36.

Fisiologis:
- Tremor dan
berkeringat
dingin
- Wajah tegang

Simpatik dan
parasimpatik:
- Palpitasi
- Kesulitan
bernafas
- Gangguan tidur
- Nyeri abdomen

TANDA DAN GEJALA

37.
38.
39.
Personal
Abillity:
40.
- Latihan tarik
41.
nafas dalam
42.

Social Support:
- Dukungan keluarga
dan lingkungan
tidak memicu
timbulnya stressor

Material Assets:
- Status keuangan
klien yang
belum bekerja

Positive
beliefs:
Mempertahan
kan keyakin
berspiritual

43.
44.
45.
Kontruksif: melakukan
tarik nafas dalam

SUMBER KOPING

Destruktif: ketidakmampuan
mengontrol diri

46.
47.

10

48.

MEKANISME KOPING

49.
50.
51.
LANJUTAN MEKANISME KOPING:
Maladaptif respon

52.
53.
54.

Anxietas berat

55.

Ketakutan

Gangguan pola tidur

56.
57.
58. 2.6 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan
59. Diagnosa medis: koping individu tidak efektif
60. Diagnosa keperawatan:
1. Ansietas berat ditandai dengan perasaan gelisah menghadapi ujian nasional
2. Ketakutan ditandai dengan klien takut tidak lulus ujian
3. Gangguan pola tidur ditandai dengan klien mengalami susah tidur tiap malam
karena memikirkan ujian nasional
61.
62.
63. 2.7 Penatalaksanaan
64.

65. Diagnos

66. NOC

67. NIC

a
68. Diagnosa
medis:

73. Setelah

74.

dilakukan

Peningkatan koping

1. hargai

pemahaman

klien

69. koping

tindakan

tentang proses penyakit dan

individu tidak

keperawatan,

konsep diri

efektif

klien

akan 2. hargai

dan

diskusikan

70.

mampu

alternative respon terhadap

71. Pengertian:

menunjukkan

situasi

72. Ketidakmamp

koping individu 3. hargai sikap klien terhadap

uan

untuk

membentuk

efektif

dengan

kriteria hasil:

dari

stressor,

spiritual jika diminta

anggota 5. gunakan

pemilihan

keluarga

respon

membuat keputusan 6. sediakan

tidak

adekuat,

dalam

c. mengekspresikan

ketidakmamp

kebebasan emosional 7. dukung

dan

untuk d. mampu
menggunakan

sumber-

support social

sumber

yang

informasi

actual

tentang diagnosis, penangan

perasaan

menggunakan

pendekatan

tenang dan berikan jaminan

dan/atau
uan

dan

4. dukung penggunaan sumber11

fleksibilitas peran
b. melibatkan

peran

hubungan

penilaian yang a. Menunjukan


benar

perubahan

dan prognosis
penggunaan

mekanisme defensive yang


tepat
8. Bantu

yang

klien

untuk

mengidentifikasi

tersedia

positif

strategi

untuk

mengatasi

keterbatasan dan mengelola


gaya hidup dan perubahan
peran
9. Bantu klien beradaptasi dan
mengantisipasi

76.

77. Ansietas

klien
75. Diagnosa Keperawatan
81. Setelah
82. Anxiety Self-Control

berat

dilakukan

1. Jadi pendengar yang baik

ditandai

tindakan

dengan penuh perhatian.

dengan

keperawatan,

2. Bangun kepercayaan.

perasaan

cemas

3. Bantu

gelisah

dapat berkurang

mengidentifikasi

mengha

dengan

yang dapat menyebabkan

dapi

hasil:

ujian
nasional
78.

perubahan

klien
kriteria

a. mampu mengontrol
kecemasan
b. mampu

klien
situasi

ansietas.
4. Instruksikan
mengunakan

klien

untuk
teknik

relaksasi kaji pola verbal

79. Pengerti
an:

menggunakan teknik
relaksasi

80. Ansietas
adalah

untuk

mengurangi
kecemasan

dan non-verbal.
5. Identifikasi

12
level

ketika

ansietas berubah.
6. Kontrol stimulus yang dapat

perasaan c. memapu memantau

menyebabkan

tidak

sesuai kebutuhan klien.

intensitas kecemasan

nyaman d. mampu menurunkan


atau

rangsangan cemas

kekhaw
atiran

e. mampu

memonitor

fisik dari kecemasan

ansietas

7. Kaji tingkat perspektif klien,


pada situasi yang membuat
stress.
8. Berikan

informasi

yang

yang

benar berhubungan dengan

samar

diagnosis, pengobatan dan

disertai

perawatan prognosis.

respons

9. Ajarkan

teknik

relaksasi,

autonom

seperti tarik napas dalam.

(sumber

10. Kolaborasi pemberian obat

sering

Diazepam,

kali

Alprazolam, Propanolol dan

tidak

Amitriptilin.

spesifik
atai
tidak
diketahu
i

oleh

individu
);
perasaan
takut
yang
disebab
kan oleh
antisipas

Lorazepam,

i
terhadap
83.

bahaya.
84. Ketakut

88. Setelah

89. Peningkatan koping

an

dilakukan

ditandai

tindakan

dengan

keperawatan,

klien

klien

takut

mengendalikan

mendemonstrasikan

tidak

perasaan

yang dapat menurunkan atau

lulus

dengan

ujian

hasil:

85.

1. Kaji respons takut subjektif


dan objektif klien.
mampu
takut
kriteria

an:
87. Takut

ketakutan

adalah

menurunkan

ansietas

ketakutan

yang
disebab

positif
klien
perilaku

mengurangi takut
sumber

ketakutan

klien apabila memungkinkan


4. Diskusikan respons alternative

b. Menggunakan teknik
relaksasi

penguatan

apabila

3. Jauhkan

a. Menghindari sumber

86. Pengerti

2. Berikan

terhadap situasi.

untuk 5. Gunakan

c. Mengendalikan
respons ketakutan

kan oleh

pendekatan

tenang.
6. Dukung

klien

menyatakan

yang
13
dalam

perasaan,

persepsi, dan ketakutan secara


verbal.

sesuatu

7. Ajarkan

yang

teknik

relaksasi,

seperti tarik napas dalam.

dikenali
secara
sadar
dan
bahaya
90.
3

nyata.
91. Ganggu

94. Setelah

an pola

dilakukan

tidur

tindakan

ditandai

keperawatan,

95. Environment
management
1. Ciptakan lingkungan yang
aman untuk klien.

dengan

klien dapat tidur 2. Berikan tempat tidur dan

klien

dengan

mengala

hasil:

mi susah a. Jumlah

kriteria

lingkungan yang bersih dan


nyaman.

jam

tidur 3. Berikan posisi tidur yang

tidur

meningkat (7-8 jam

tiap

setiap hari)

membuat klien nyaman.


4. Control kebisingan.

malam

b. Kualitas tidur baik

5. Atur pencahayaan.

karena

c. Pola tidur baik

6. Batasi pengunjun.

memikir d. Klien merasa segar 7. Berikan satu ruangan jika


kan

ketika bangun tidur

ujian
nasional

e. Tidak ada gangguan


saat tidur

diindikasikan.
96.
97.SLEEP ENHACEMENT

92.

1. Observasi tanda-tanda vital.

93. Pengerti

2. batasi

an:

aktivitas

sebelum

tidur.

keadaan

3. kaji pola tidur klien.

dimana

4. identifikasi

kemungkinan

individu

efek obat terhadap pola tidur.

mengala

5. Monitor pola tidur dan jam

mi atau

tidur klien.

beresiko

6. Diskusikan

pada

mengala

kemungkinan

mi suatu

yang menyebabkan gangguan


14
pola tidur.

perubah
an

faktor

klien
lain

7. Monitor waktu pemberian

dalam

obat dan tindakan diluar jam

kuantita

tidur.

atau

8. Monitor

kenyamanan

kualitas

lingkungan,

pola

sebelum tidur.

istirahat
nya

9. Ajarkan
relaksasi.

cahaya,
klien

dll
tehnik

yang

10. Kolaborasi pemberian obat

menyeb

tidur

abkan
rasa
tidak
nyaman
atau
mengga
nggu
gaya
hidup
yang
diingink
an
98.
99.
100. 2.8 Implementasi
101. 102. Diagn
N

103. Implementasi

104. P

osa
105. Diagnosa
medis:
106. koping
individu tidak
efektif
107.

108. 24 februari
2015,
109. 07.30 wib

ar
1. Menghargai pemahaman klien tentang
proses penyakit dan konsep diri.
2. Menghargai dan diskusikan alternative
respon terhadap situasi
3. Menghargai

sikap

klien

terhadap

perubahan peran dan hubungan


4. Mendukung penggunaan sumber spiritual
jika diminta
5. Menggunakan pendekatan yang tenang
dan berikan jaminan
6. Menyediakan informasi actual tentang
diagnosis, penangan dan prognosis
7. Mendukung

penggunaan

mekanisme

af
110.

defensive yang tepat


8. Membantu klien untuk mengidentifikasi
strategi

positif

untuk

mengatasi

keterbatasan dan mengelola gaya hidup

15

dan perubahan peran


9. Membantu

klien

beradaptasi

dan

mengantisipasi perubahan klien


10. Mengkolaborasikan
Diazepam,
111.
1

112. 24
februari

Lorazepam,

obat

Alprazolam,

Propanolol dan Amitriptilin.


1. Menjadi pendengar yang baik dengan
penuh perhatian.

2015,

2. Membangun kepercayaan.

10.00

3. Membantu klien mengidentifikasi situasi

wib
113.

pemberian

yang dapat menyebabkan ansietas.


4. Menginstruksi klien untuk mengunakan
teknik relaksasi kaji pola verbal dan nonverbal.
5. Mengidentifikasi ketika level ansietas
berubah.
6. Mengontrol

stimulus

yang

dapat

menyebabkan ansietas sesuai kebutuhan


klien.
7. Mengkaji tingkat perspektif klien, pada
situasi yang membuat stress.
8. Memberikan
berhubungan

informasi
dengan

yang

benar

diagnosis,

pengobatan dan perawatan prognosis.


9. Mengajarkan teknik relaksasi, seperti tarik
napas dalam.
10. Mengkolaborasikan
Diazepam,

pemberian

Lorazepam,

Propanolol dan Amitriptilin.

obat

Alprazolam,

114.

115.
2

116. 24
februari

1. Mengkaji respons takut subjektif dan


objektif klien.

2015,

2. Memberikan penguatan positif apabila

14.00

klien mendemonstrasikan perilaku yang

wib

dapat menurunkan atau mengurangi takut.

117.

118.

3. Menjauhkan

sumber

ketakutan

16

klien

apabila memungkinkan.
4. Mendiskusikan

respons

alternative

terhadap situasi.
5. Menggunakan pendekatan yang tenang.
6. Mendukung

klien

dalam

menyatakan

perasaan, persepsi, dan ketakutan secara


verbal.
7. Mengajarkan teknik relaksasi, seperti tarik
119.
3

120. 24
februari
2015,
16.00
wib
121.

napas dalam.
122. Environment Management

125.

1. Menciptakan lingkungan yang aman untuk


klien.
2. Memberikan tempat tidur dan lingkungan
yang bersih dan nyaman.
3. Memberikan posisi tidur yang membuat
klien nyaman.
4. Mengkontrol kebisingan.
5. Mengatur pencahayaan.
6. Membatasi pengunjun.
7. Memberikan

satu

ruangan

jika

diindikasikan.
123.
124.

SLEEP ENHACEMENT

1. Mengobservasi tanda-tanda vital.


2. Membatasi aktivitas sebelum tidur.
3. Mengkaji pola tidur klien.
4. Mengidentifikasi kemungkinan efek obat

terhadap pola tidur.


5. Memonitor pola tidur dan jam tidur klien.
17

6. Mendiskusikan pada klien kemungkinan


faktor lain yang menyebabkan gangguan
pola tidur.
7. Memonitor waktu pemberian obat dan
tindakan diluar jam tidur.
8. Memonitor

kenyamanan

lingkungan,

cahaya, dll sebelum tidur.


9. Mengajarkan klien tehnik relaksasi.
10. Mengkolaborasikan pemberian obat tidur
126.
127.
128. 2.9 Evaluasi
129.

130. Diagnosa

131. Evaluasi

132. P

ar
133. Diagnosa medis:

134. koping individu tidak


efektif
135.
136. 24 februari 2015, 09.32
wib

137.

S: klien mengatakan saya

af
141.

mampu menerima hasil nilai


saya yang jelek
138.

O: ttv dalam batas normal,

klien berbincang dengan orang


tuanya
139. A:

intervensi

berhasil

sebagian
142. 143. 24 februari 2015,
1

11.05 wib
144.

140. P: intervensi dilanjutkan


145. S: klien mengatakan sus,
cemas saya mulai berkurang
setelah

melakukan

teknik

relaksasi napas dalam


146.

O: klien dapat melakukan

teknik relaksasi napas dalam di


depan perawat.

149.

147. A:

intervensi

berhasil

sebagian
150. 151. 24 februari 2015,
2

14.45 wib
152.

148. P: intervensi dilanjutkan


153. S: klien mengatakan sus,
saya

sudah

tidak

157.

takut

menghadapi nilai ujian saya


154.

18

O: ttv dalam batas normal,

klien tidak tampak gemetar


155. A: intervensi berhasil
158. 159. 24 februari 2015,
3

17.10 wib
160.

156. P: intervensi dihentikan


161. S: klien mengatakan sus,
saya sudah bisa tidur, tapi
masih terbangun di malam
hari
162.

O: klien tidur 4,5 jam di

malam hari, 1 jam di siang hari


163. A:

intervensi

berhasil

sebagian
164. P: intervensi dilanjutkan
166.
167.
168.
169.
170.
171.
172.
173.
174.
175.
176.
177.
178.
179.

165.

180.
181.
182.
183.
184.
185.
186.
187.
188.
189.
190. BAB 3. PENUTUP
191.
192.
1

Kesimpulan
193.

Kecemasan sebagai respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara

subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Dua faktor yang


mempengaruhi cemas faktor predisposisi (peristiwa traumatic, konflik emosional,
konsep diri terganggu, frustasi, gangguan fisik, riwayat gangguan kecemasan dalam
keluarga, medikasi) dan faktor presipitasi meliputi ancaman aktivitas fisik kehilangan
disimpulkan suatu pemisahan yang nyata mungkin secara bertahap atau mendadak yang
tidak terduga. Sehingga setalah dilihat dari tanda dan gejala dapat dilihat seberapa besar
mekanisme koping setiap individu tersebut dengan nursing diagnosis.
194.
195.
2

Saran
196.

Sebagai seorang perawat dalam menangani masalah psikososial seperti

yang dijelaskan diatas dengan lebih banyak keterampilan dalam berkomunikasi. Hal ini
bertujuan untuk meminimalkan terjadinya pemahaman yang salah dari klien dan
keluarga sehingga dapat tercipta pelayanan kesehatan yang berkualitas.
197.
198.
199.

200.
201.
202.
203.
204.
205.
206.
207.

20

208.
209.
210. DAFTAR PUSTAKA
211.
212.
213.
214.
215.
216.
217.
218.
219.
220.
221.
222.
223.
224.
225.
226.
227.
228.
229.

Asmadi. 2008. Tehnik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi


Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.
Bulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey. 2012.
Nursing Interventions Classification (NIC): Fifth Edition. Lowa: Mosby
Elsavier.
Ermawati, Dalani. 2009. Komunikasi Keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.
Jhonson, Marion. 2012. Lowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC):
Missoury: Mosby.
NANDA International. 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications
2012-2014. Jakarta : EGC.
Pieter, dkk. 2011. Pengantar Psikopatologi untuk Keperawatan. Jakarta:
Kencana.
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.
Stuart, Gail W. 2013. Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 10 th
Edition. Missouri: Elsevier Mosby.
Stuart, dkk. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta: EGC.