You are on page 1of 42

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium
tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh
badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot
rangka.
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman
clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan
diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot
masester dan otot rangka.Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin
kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara
proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu
nampak pada otot masester dan otot rangka
Clostiridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang seperti penabuh
genderang berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman ini mengeluarkan
toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang mula-mula akan
menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Timbulnya teteanus ini terutama
oleh clostiridium tetani yang didukung oleh adanya luka yang dalam dengan
perawatan yang salah. Selain diluar tubuh manusia, tersebar luas ditanah. Juga
terdapat di tempat yang kotor, besi berkarat samapai pada tusuk sate bekas. Basil ini
bila kondisinya baik (di dalam tubuh manusia) akan mengeluarkan toksin. Toksin ini
dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit, dan merupakan
tetanospamin, yaitu toksin yang neutropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan
spasme otot.
Tetanus terjadi diseluruh dunia dan endemik pada 90 negara yang sedang
berkembang, tetapi insidensinya sangat bervariasi. Bentuk yang paling sering adalah
tetanus neonatorum (umbilicus). Tetanus merupakan penyakit yang sering
ditemukan , dimana masih terjadi di masyarakat terutama masyarakat kelas menengah

ke bawah. Di RS sebagian besar pasien tetanus berusia lebih dari 3 tahun dan kurang
dari 1 minggu. Dari seringnya kasus tetanus serta kegawatan yang ditimbulkan, maka
sebagai seorang perawat dituntut untuk mampu mengenali tanda kegawatan dan
mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat.

1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada klien dengan
ganguan tetanus
2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu membuat pengkajian pada klien dengan gangguan
tetanus.
2. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa pada klien dengan gangguan
tetanus.
3. Mahasiswa mampu mengimplementasi pada klien dengan gangguan
tetanus.
4. Mahasiswa mampu mengevaluasi pada klien dengan gangguan tetanus.
1.3 Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa mengetahui penyebab penyakit tetanus dan juga
mengimplementasikan cara untuk mencegahnya.
2. Bagi Masyarakat
Agar masyarakat mengetahui bagaimana proses terjadinya penyakit
tetanus serta penyebarannya, dan masyarakat dapat mencegah
terjadinya tetanus dengan mencegah terjadinya luka dengan infeksi
piogenik.
3. Bagi insitusi

Agar makalah ini menjadi refrensi untuk dapat menambah wawasan


tentang bahayanya penyakit tetanus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Tetanus
Tetanus atau Lockjaw merupakan penyakit akut yang menyerang
susunan saraf pusat yang disebabkan oleh racun tetanospasmin yang
dihasilkan oleh Clostridium Tetani. Penyakit ini timbul jika kuman tetanus
masuk ke dalam tubuh melalui luka, gigitan serangga, infeksi gigi, infeksi
telinga, bekas suntikan dan pemotongan tali pusat. Dalam tubuh kuman ini
akan

berkembang

biak

dan

menghasilkan

eksotoksin

antara

lain

tetanospasmin yang secara umum menyebabkan kekakuan, spasme dari otot


bergaris.
Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin
yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang
periodik dan berat. Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik
spastik yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin
yang diproduksi oleh Clostridium tetani. Tetanus disebut juga dengan "Seven
day Disease ". Dan pada tahun 1890, diketemukan toksin seperti strichnine,
kemudian dikenal dengan tetanospasmin, yang diisolasi dari tanah anaerob
yang mengandung bakteri. lmunisasi dengan mengaktivasi derivat tersebut
menghasilkan pencegahan dari tetanus. (Nicalaier 1884, Behring dan Kitasato
1890 ).
Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka
pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada
infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum ).
2.2 Etiologi Tetanus
Kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium Tetani; berbentuk
batang yang langsing dengan ukuran panjang 25 um dan lebar 0,30,5 um,

termasuk gram positif dan bersifat anaerob. Clostridium Tetani dapat


dibedakan dari tipe lain berdasarkan flagella antigen.
Kuman tetanus ini membentuk spora yang berbentuk lonjong dengan
ujung yang butat, khas seperti batang korek api (drum stick) Sifat spora ini
tahan dalam air mendidih selama 4 jam, obat antiseptik tetapi mati dalam
autoclaf bila dipanaskan selama 1520 menit pada suhu 121C. Bila tidak
kena cahaya, maka spora dapat hidup di tanah berbulanbulan bahkan sampai
tahunan. Juga dapat merupakan flora usus normal dari kuda, sapi, babi,
domba, anjing, kucing, tikus, ayam dan manusia. Spora akan berubah menjadi
bentuk vegetatif dalam anaerob dan kemudian berkembang biak.
Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap panas dan beberapa antiseptik
Kuman tetanus tumbuh subur pads suhu 17C dalam media kaldu daging dan
media agar darah. Demikian pula dalam media bebas gula karena kuman
tetanus tidak dapat mengfermentasikan glukosa.
Kuman tetanus tidak invasif. tetapi kuman ini memproduksi 2 macam
eksotoksin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanospasmis merupakan
protein dengan berat molekul 150.000 Dalton, larut dalam air labil pada panas
dan cahaya, rusak dengan enzim proteolitik. tetapi stabil dalam bentuk murni
dan kering. Tetanospasmin disebut juga neurotoksin karena toksin ini melalui
beberapa jalan dapat mencapai susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala
berupa kekakuan (rigiditas), spasme otot dan kejangkejang. Tetanolisin
menyebabkan lisis dari selsel darah merah.
2.3 Klasifikasi Tetanus
1. Tetanus Lokal (lokalited Tetanus)
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten,
pada daerah tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator).
Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut
biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa progressif dan
biasanya menghilang secara bertahap. Lokal tetanus ini bisa berlanjut
menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang ringan dan jarang

menimbulkan kematian. Bisajuga lokal tetanus ini dijumpai sebagai


prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini
terutama dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin.
2. Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa
inkubasi berkisar 1 2 hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti
dilaporkan di India ), luka pada daerah muka dan kepala, termasuk adanya
benda asing dalam rongga hidung.
3. Generalized Tetanus
Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan
komplikasi yang tidak dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala
timbul secara diam-diam. Trismus merupakan gejala utama yang sering
dijumpai ( 50 %), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter,
bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya
kaku kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus
(Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus ( kekakuan otot
punggung), kejang dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot
pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia.
Bisa terjadi disuria dan retensi urine,kompressi frak tur dan pendarahan
didalam otot. Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi
begitupun bisa mencapai 40 C. Bila dijumpai hipertermi ataupun
hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan dijumpai takhikardia, penderita
biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya berdasarkan gejala
klinis.
4. Neotal Tetanus
Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk melalui tali
pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk
disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh

penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani, maupun


penggunaan obat-obatan Wltuk tali pusat yang telah terkontaminasi.
Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat
tradisional yang tidak steril,merupakan faktor yang utama dalam
terjadinya neonatal tetanus. Menurut penelitian E.Hamid.dkk, Bagian
Ilmu Kesehatan Anak RS Dr.Pringadi Medan, pada tahun 1981. ada 42
kasus dan tahun 1982 ada 40 kasus tetanus. Biasanya ditolong melalui
tenaga persalianan tradisional ( TBA =Traditional Birth Attedence ) 56
kasus ( 68,29 % ), tenaga bidan 20 kasus ( 24,39 % ) ,dan selebihnya
melalui dokter 6 kasus ( 7, 32 %) ). Berikut ini tabel. Yang
memperlihatkan instrument Untuk memotong tali pusat.
2.4 Patofisiologi
Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh manusia biasanya melalui
luka dalam bentuk spora. Penyakit akan muncul bila spora tumbuh menjadi
bentuk vegetatif yang menghasilkan tetanospasmin pada keadaan tekanan
oksigen rendah, nekrosis jaringan atau berkurangnya potensi oksigen.
Masa inkubasi dan beratnya penyakit terutama ditentukan oleh kondisi
luka. Beratnya penyakit terutama berhubungan dengan jumlah dan kecepatan
produksi toksin serta jumlah toksin yang mencapai susunan saraf pusat.
Faktor-faktor tersebut selain ditentukan oleh kondisi luka, mungkin juga
ditentukan oleh strain Clostridium tetani.
2.5 Penyebaran toksin
Toksin yang dikeluarkan oleh Clostridium tetani menyebar dengan
berbagai cara, sebagai berikut:
1. Masuk ke dalam otot

Toksin masuk ke dalam otot yang terletak dibawah atau sekitar luka,
kemudian ke otot-otot sekitarnya dan seterusnya secara ascenden melalui
sinap ke dalam susunan saraf pusat.
2. Penyebaran melalui sistem limfatik
Toksin yang berada dalam jaringan akan secara cepat masuk ke dalam nodus
limfatikus, selanjutnya melalui sistem limfatik masuk ke peredaran darah
sistemik.
3. Penyebaran ke dalam pembuluh darah.
Toksin masuk ke dalam pembuluh darah terutama melalui sistem limfatik,
namun dapat pula melalui sistem kapiler di sekitar luka. Penyebaran melalui
pembuluh darah merupakan cara yang penting sekalipun tidak menentukan
beratnya penyakit. Pada manusia sebagian besar toksin diabsorbsi ke dalam
pembuluh darah, sehingga memungkinkan untuk dinetralisasi atau ditahan dengan
pemberian antitoksin dengan dosis optimal yang diberikan secara intravena.
Toksin tidak masuk ke dalam susunan saraf pusat melalui peredaran darah karena
sulit untuk menembus sawar otak. Sesuatu hal yang sangat penting adalah toksin
bisa menyebar ke otot-otot lain bahkan ke organ lain melalui peredaran darah,
sehingga secara tidak langsung meningkatkan transport toksin ke dalam susunan
saraf pusat.
4. Toksin masuk ke susunan saraf pusat (SSP)
Toksin masuk kedalam SSP dengan penyebaran melalui serabut saraf, secara
retrograd toksin mencapai SSP melalui sistem saraf motorik, sensorik dan
autonom. Toksin yang mencapai kornu anterior medula spinalis atau nukleus
motorik batang otak kemudian bergabung dengan reseptor presinaptik dan saraf
inhibitor.
2.6 Manifestasi Klinis
Manifestsi klinis tetanus bervariasi dari kekakuan otot setempat, trismus
sampai kejang yang hebat. Masa timbulnya gejala awal tetanus sampai kejang
disebut awitan penyakit, yang berpengaruh terhadap prognostik.
Manifestasi klinis tetanus terdiri atas 4 macam yaitu:

a. Tetanus lokal
Tetanus lokal merupakan bentuk penyakit tetanus yang ringan dengan angka
kematian sekitar 1%. Gejalanya meliputi kekakuan dan spasme yang menetap
disertai rasa sakit pada otot disekitar atau proksimal luka. Tetanus lokal dapat
berkembang menjadi tetanus umum.
b. Tetanus sefal
Bentuk tetanus lokal yang mengenai wajah dengan masa inkubasi 1-2 hari,
yang disebabkan oleh luka pada daerah kepala atau otitis media kronis.
Gejalanya berupa trismus, disfagia, rhisus sardonikus dan disfungsi nervus
kranial. Tetanus sefal jarang terjadi, dapat berkembang menjadi tetanus umum
dan prognosisnya biasanya jelek.
c. Tetanus umum
Bentuk tetanus yang paling sering ditemukan. Gejala klinis dapat
berupa berupa trismus, iritable, kekakuan leher, susah menelan, kekakuan dada
dan perut (opisthotonus), fleksi-abduksi lengan serta ekstensi tungkai, rasa
sakit dan kecemasan yang hebat serta kejang umum yang dapat terjadi
dengan rangsangan ringan seperti sinar, suara dan sentuhan dengan kesadaran
yang tetap baik.
d. Tetanus neonatorum
Tetanus yang terjadi pada bayi baru lahir, disebabkan adanya infeksi tali
pusat,umumnya karena tehnik pemotongan tali pusat yang aseptik dan ibu
yang tidakmendapat imunisasi yang adekuat. Gejala yang sering timbul
adalahketidakmampuan untuk menetek, kelemahan, irritable diikuti oleh
kekakuan dan spasme. Posisi tubuh klasik : trismus, kekakuan pada otot
punggung menyebabkan opisthotonus yang berat dengan lordosis lumbal.
Bayi mempertahankan ekstremitas atas fleksi pada siku dengan tangan
mendekap dada, pergelangan tangan fleksi, jari mengepal, ekstremitas
bawah hiperekstensi dengan dorsofleksi pada pergelangan dan fleksi jari-jari
kaki. Kematian biasanya disebabkan henti nafas, hipoksia, pneumonia,
kolaps sirkulasi dan kegagalan jantung paru.

Derajat penyakit tetanus menurut modifikasi dari klasifikasi Abletts :


a. Derajat I (ringan)
Trismus ringan sampai sedang, kekakuan umum, spasme tidak ada,
disfagia tidak ada atau ringan, tidak ada gangguan respirasi.
b. Derajat II (sedang)
Trismus sedang dan kekakuan jelas, spasme hanya sebentar, takipneu dan
disfagia ringan
c. Derajat III (berat)
Trismus berat, otot spastis, spasme spontan, takipneu, apnoeic spell,
disfagia berat, takikardia dan peningkatan aktivitas sistem otonomi
d. Derajat IV (sangat berat)
Derajat III disertai gangguan otonomik yang berat meliputi sistem
kardiovaskuler, yaitu hipertensi berat dan takikardi atau hipotensi dan bradikardi,
hipertensi berat atau hipotensi berat. Hipotensi tidak berhubungan dengan sepsis,
hipovolemia atau penyebab iatrogenik. Bila pembagian derajat tetanus terdiri dari
ringan, sedang dan berat, maka derajat tetanus berat meliputi derajat III dan IV.
2.7 Komplikasi
Komplikasi tetanus biasanya terjadi akibat perawatan di rumah sakit yang
berlangsung lama. Pasien harus tiduran terus, dipasang kateter untuk membantu
buang air kecil, sehingga dapat terserang infeksi saluran kencing, pneumonia (infeksi
paru) dan luka decubitus (luka di punggung, ataupantat). Dapat terjadi Pneumia
Aspirasi (Infeksi Paru akibat tersedak) sekitar 50-70%. (suaramerdeka.com).
Komplikasi yang berat adalah kematian. Sebagian kematian tetanus terjadi pada
pasien di atas 60 tahun dan pasien yang tidak mendapatkan imunisasi.
2.8 Prognosis
Prognosis tetanus pada anak dipengaruhi oleh beberapa factor.Jika masa tunas
pendek ( kurang dari 7 hari );

usia yang sangatmuda ( neonatus), bila disertai

Frekuensi kejang yang tinggi, pengobatan terlambat, period of onset yang pendek
(jarak antara trismu dan timbulnya kejang), adanya komplikasi terutama spasme otot
pernapasan dan abstruksi jalan napas, kesemuanya itu prognosisnya buruk. Mortalitas

tetanus masihtinggi; di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta didpatkan angka
80 % untuk tetanus neonatorum dan 30 % untuk tetanus anak. (posyandu.com)
2.9 Penatalaksanaan
A. Umum
Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan
peredaran toksin, mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan sampai
pulih. Dan tujuan tersebut dapat diperinci sbb :
1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa: -membersihkan
luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan nekrotik),membuang
benda asing dalam luka serta kompres dengan H202 ,dalam

hal ini

penatalaksanaan, terhadap luka tersebut dilakukan 1 -2 jam setelah ATS


dan pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
2. Diet cukup kalori dan protein, bentuk
makanan

tergantung

kemampuan membuka mulut dan menelan. Hila ada trismus, makanan


dapat diberikan personde atau parenteral.
3. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan
terhadap penderita.
4. Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu.
5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
B. Obat-Obatan
1. Antibiotika
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM.
Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit /
KgBB/ 12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap
peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 3040 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam
dosis terbagi ( 4 dosis ).
Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis
200.000 unit /kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari. Antibiotika ini
hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, bukan untuk toksin

10

yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika


broad spektrum dapat dilakukan(1,8.10).
2. Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG)
dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh
diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary
aggregates of globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang
serius. Bila TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin,
yang berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya
adalah : 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1
fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan
dalam waktu 30-45 menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan
secara IM pada daerah pada sebelah luar.(1.8.9)
3.Tetanus Toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan
dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik
yang berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Anti kejang (antikonvulsan)
1. Fenobarbital (luminal): 3 x 100 mg/1.M. Untuk anak diberikan mulamula 60-100 mg/1.M lalu dilanjutkan 6x30 mg/hari (max. 200mg/hari).
2. Klorpromasin: 3x25 mg/1.M/hari. Untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg
BB.
3. Diazepam: 0,5-10 mg/kg BB/1.M/4 jam.
C. BAYI
1. Pemberian saluran nafas agar tidak tersumbat dan harus dalam keadaan
bersih.
2. Pakaian bayi dikendurkan/dibuka.
3. Mengatasi kejang dengan cara memasukkan tongspatel atau sendok yang
sudah dibungkus kedalam mulut bayi agar tidak tergigit giginya dan

11

untuk mencegah agar lidah tidak jatuh kebelakang menutupi saluran


pernafasan.
4. Ruangan dan lingkungan harus tenang
5. Bila tidak dalam keadaan kejang berikan ASI sedikit demi sedikit, ASI
dengan menggunakan pipet/diberikan personde (kalau bayi tidak mau
menyusui).
6. Perawatan tali pusat dengan teknik aseptic dan antiseptic.
7. Selanjutnya rujuk kerumah sakit, beri pengertian pada keluarga bahwa
anaknya harus dirujuk ke RS
2.9 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan tetanus meliputi:
1.

Darah
a. Glukosa darah: hipoglikemia merupakan predisposisi kejang.
b. BUN: peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan
indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.
c. Elektrolit (K, Na): ketidakseimbangan elektroit merupakan predisposisi
kejang kalium (normal 3,80-5,00 meq/dl).
Skull Ray: untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya

2.

lesi.
3.

EEG: teknik untuk menekan aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang
utuh untuk mengetahui focus aktifitas kejang, hasil biasanya normal.

2.10 Diagnosis Tetanus


Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien
sewaktu istirahat, berupa :
1. Gejala

klinik

Kejang

tetanic,

trismus,

dysphagia,

risus

sardonicus( sardonic smile ).


2. Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan.
3. Kultur: C. tetani (+).
4. Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria.

12

BAB III
WOC TERLAMPIR

13

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Askep Umum
3.1.1 Pengkajian
1. Identitas pasien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, tanggal
masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, rencana terapi
2. Keluhan utama. Keluhan utama yang sering menjadi alasan kien atau orang
tua membawa anaknya untuk meminta pertolongan kesehatan adalah panas
badan tinggi, kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.
3. Riwayat kesehatan.
a. Riwayat penyakit saat ini
Faktor riwayat penyakit sangat penting di ketahui karena untuk
mengetahui predisposisi penyebab sumber luka. Disini harus di tanya dengan
jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh, atau
bertambah buruk. Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk di
lakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang,
stimulus apa yang sering menimbulkan kejang, dan tindakan apa yang telah
di berikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran di
hubungkan dengan toksin tetanus yang mengimplamasi jaringan otak.
Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi. Sesuai perkembangan
penyakit, dapat terjadi letargi, tidak responsip, dan koma.
b. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah di alami klien yang memungkinkan
adanya hubungan atau

menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi

pernah kah klien mengalami tubuh terluka dan luka tusuk yang dalam
misalnya tertusuk paku, pecahan kaca, terkenaa kaleng, atau luka yang
menjadi kotor; karena terjatuh di tempat yang kotor dan terluka atau
kecelakaan dan timbul luka yang tertutup debu/kotoran juga luka bakar dan
patah tulang terbuka. Adakah porte dentree lainnya seperti luka gores yang
ringan kemudian menjadi bernanah dan gigi berlubang di koreng dengan
benda yang kotor.
14

c. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang di gunakan klien juga penting untuk
menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang di deritanya dan
perubahan peran klien dalam keluarga dan mesyarakat seerta respon atau
pengaruh dalam kehidupan sehari hari baik dalam keluarga atau masyarakat.
Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu timbul ketakutan akan
kecacatan, rasa cemas, rasa ketidak mampuan untuk melakukan aktifitas
secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra
tubuh). Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini
memberi dampak pada ststus ekonomi klien, karena biaya perawatan dan
pengobatan memerlukan dana yang tidak sedikit.
Pada pengkajian pada klien anak perlu di perhatikan dampak
hospitalisasi pada anak dan family center. Anak dengan tetanus sangat rentan
terhadap tindakan invasif yang sering dilakukan untuk mengurangi keluhan,
hal ini memberi dampak stress pada anak dan menyababkan anak kurang
kooperatif terhadap tindakan keperwatan dan medis.
Pengkajian psiko-sosial yang terbaik di laksanakan saat obsefasi anak
anak bermain atau selama berinteraksi dengan orang tua. Anak-anak sering
kali tidak mampu mengekspresikan perasaan mereka dan cenderum
memperlihatkan masalah mereka melalui tingkah laku.
4.1.2 Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamesis yang mengarah pada keluhan klien,
pemriksaaan fisik sangat berguna untuk mendukung dari pengkajian anamesis.
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan fokus
pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan di
hubungkan dengan keluhan keluhan dari klien.
Pada klien tetanus biasanya di dapatkan peningkatan suhu tubuh lebih
dari normal 38-40 0C. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses
implamasi dan toksin tetanus yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu
tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan penurunan perfusi jaringan
otak. Apabila disertai peninhkatan frekuensi pernafasan sering berhubungan
dengan peningkatan laju metabilisme umum. TD biasanya normal.

15

a.

B1 (Breathing)
Inspeksi apakah klien batuk, prodoksi sputum, sesak nafas,
penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan
yang sering didapatkan pada klien tetanus yang disertai adanya ketidak
efektifan bersihan jalan nafas. Palpasi thorak didapatkan taktil
premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi nafas tambahan
seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan

b.

kemampuan batuk yang meurun.


B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan syok hipovelemik
yang sering terjadi pada klien tetanus. TD biasnya normal, peningkatan

c.

heart rate, adanya anemis karena adanya hancurnya eritrosit.


B3 (brain)
Pengkajian B3 merupakan pemriksaan fokus dan lebih lengkap di
bandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
1. Tingkat kesadaran (GCS) : Kesadaran klien biasanya kompos
mentis. Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien tetanus
mengalami

penurunan

pada

tingkat

letargi,

stupor,

dan

semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka


penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran
klien dan bahan evaluasi untuk monitoring pemberian asuhan.
2. Fungsi serebri, Status mental: obsevasi penampilan klien dan
tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien dan observasi ekspresi
wajah dan aktifitas motorik yang pada klien tetanus tahap lanjut
biasanya status mental klien mengalami perubahan.
3. Pemeriksaan saraf kranial
1. Saraf I. Biasanya pada klien tetanus tidak ada kelainan dan
fungsi penciuman tidak ada kelainan.
2. Saraf II. Tes ketajaman pengelihatan pada kondisi normal
3. Saraf III,IV,VI. Dengan alasan yang tidak di ketahui, klien
tetanus mengeluh mengalami fotophobia atau sensitif yang
berlebihan terhadap cahaya. Respons kejang umum akibat
stimulus rangsang cahaya perlu di perhatikan perawat untuk

16

memberikan intervensi menurunkan stimulus

cahaya

tersebut.
4. Saraf V. Refleks masester menigkat. Mulut mencucu seperti
mulut ikan (ini adalah gejala khas pada tetanus).
5. Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah
simetris.
6. Saraf VIII. Tidak di temukan adanya tuli konduktif dan tuli
persepsi
7. Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik, kesukaran
membuka mulut (trismus).
8. Saraf XI. Di dapatkan kaku kuduk. Ketegangan otot rahang
dan leher (mendadak)
9. Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan
tidak ada pasikulasi. Indra pengecapan normal.
4. System motorik : Kekuatan otot menurun, control keseimbangan dan
kordinasi pada tetanus tahap lanjut mengalami perubahan.
5. Pemeriksaan reflek :Pemeriksaan reflek dalam, pengetukan pada tendon,
ligamentum, atau periusteum derajat reflek pada respon normal.
6. Gerakan involunter : Tidak ditemukan adanya tremor, Tic dan distonia.
Pada keadaan tertentu klien mengalami kejang umum, terutama pada anak
yang tetanus disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang
berhubungan sekunder akibat area fokal kortikal yang peka.
7. System sensori : Pemeriksaan sensorik pada tetanus biasanya di dapatkan
perasaan raba normal, perasaan nyeri normal. Perasaan suhu normal.
Tidak ada perasaan abnormal di permukaan tubuh. Perasaan proprioseftif
d.

normal dan perasaan diskriminatif normal.


B 4 (BLADER)
Penurunan volume haluaran urin berhubungan dengan penurunan perpusi dan
penurunan curah jantung ke ginjal. Adanya retensi urin karena kejang umum.
Pada klien yang sering kejang sebaiknya pengeluaran urine dengan

e.

menggunakan kateter.
B 5 (BOWEL )
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam
lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien tetanus menurun karena anoreksia dan

17

adanya kejang, kaku dinding perut (perut papan) merupakan tanda khas dari
f.

tetanus. Adanya spasme otot menyebabkan kesulitan BAB.


B 6 (BONE)
Adanya kejang umum sehingga mengganggu mobilitas klien dan menurunkan
aktivitas sehari-hari. Perlu dikaji apabila klien mengalami patah tulang
terbuka yang memungkinkan por de entre kuman Clostridium tetani ,
sehingga memerlukan perawatan luka yang optimal. Adanya kejang
memberikan resiko pada praktur pertibra pada bayi, ketegangan, dan spasme
otot pada abdomen.

4.1.3 Analisa Data


Data

Etiologi

Masalah Keperawatan

DS :

Invasi Kuman ke otot


Bersihan Jalan Napas tidak
Otot Pernapasan Terserang/
1. Klien mengatakan terasa
Efektif
spasme Laring
sakit dan pegal-pegal
Rangsangan air liur ++
serubuh tubuh
Kekakuan pada Mulut dan

2. Klien mengatakan tidak Lidah sulit menelan


Jalan napas tidak efektif
bisa atau sulit menelan
Bersihan jalan napas tidak
DO:
efektif
1. Sekresi pada mulut ++
2. Pernapasan spontan dan
ngorok
3. Pemeriksaan paru Rh -/-,
Wh -/4. RR 24x / menit
DS : DO :
1. Napas Pasien tidak teratur
DS:
1. Pasien mengeluh lemas
DO:

Invasi Kuman ke otot


Gangguan Pola Napas
Otot Pernapasan Terserang/
spasme Laring
Pola napas terganggu
Pembuluh

darah/jaringan Peningkatan

terinfeksi
Respon inflamasi tubuh
hipertermi

Suhu

(Hipertermia)

18

Tubuh

1. Muka

dan

berkeringat,

dada

suhu

akral

hangat
2. Suhu tubuh >36,5, nadi 96
x/ menit takikardia
DS :

Invasi Kuman ke otot


Pemenuhan Nutrisi Kurang
Otot pengunyah kaku
mengeluh
dari Kebutuhan Tubuh
Ketidak mampuan untuk

1. Pasien
mulutnya kaku

mengunyah makanan
2. Pasien mengeluh kesulitan Pemenuhan nutrisi kurang
untuk mengunyah
DO :
1. Pasien

kesulitan

untuk

mengunyah
2. Pasien

tidak

bisa

menghabiskan
makanannya
DS: DO:
1. Pasien

tampak

kejang-

Pasien Kejang
Pasien
tidak

Risiko Terjadi Cedera


mampu

mempertahankan

posisi

tubuhnya
Resiko jatuh/ cedera

kejang
2. Tonus otot tak terkendali
3. Terjadi peningkatan tonus
otot
DS :

Invasi Kuman ke otot


Defisit volume cairan cairan
Otot mengalami kekakuan
mengeluh
dan elektrolit
Menurunnya keinginan untuk

1. Pasien
mulutnya kaku

minum

2. Pasien mengeluh malas


untuk minum
DO :
1. Intake

cairan

pasien

kurang dari kebutuhan


19

DS :

Situasi

Kritis

penyakit Kurangnya

pengetahuan

1. Keluarga

mengatakan tetanus
klien dan keluarga
Keluarga kurang mendapat
tidak
tahu
harus
informasi tentang penyakit
bagaimana saat melihat
Kurang pengetahuan
pasien menderita
Menaknisme
koping

2. Keluarga

menanyakan inadekuat
cemas
tentang kondisi

terus
pasien
DO :

1. Keluarga

tampak

menangis dan bingung


2. Keluarga banyak bertanya
4.1.4 Diagnosa Keperawatan
1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan
sputum pada trakea dan spame otot pernafasan.
2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat
spasme otot-otot pernafasan.
3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efek toksin
(bakterimia)
4. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kekakuan otot pengunyah
5. Risiko terjadi cedera berhubungan dengan sering kejang
6. Defisit volume cairan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake
yang kurang dan oliguria
7. Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit tetanus dan
penanggulangannya berhbungan dengan kurangnya informasi.

4.1.5 Intervensi Keperawatan


1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan
sputum pada trakea dan spame otot pernafasan, ditandai dengan ronchi, sianosis,

20

dyspneu, batuk tidak efektif disertai dengan sputum dan atau lendir, hasil
pemeriksaan lab, Analisa Gas Darah abnormal (Asidosis Respiratorik)
Tujuan : Jalan nafas efektif
Kriteria Hasil: a. Klien tidak sesak, lendir atau sleam tidak ada
b. Pernafasan 16-18 kali/menit
c. Tidak ada pernafasan cuping hidung
d. Tidak ada tambahan otot pernafasan
e. Hasil pemeriksaan laboratorium darah Analisa Gas Darah dalam
batas

normal (pH= 7,35-7,45 ; PCO2 = 35-45 mmHg, PO2 = 80-

100 mmHg)
No
1

Intervensi
Rasional
Bebaskan jalan nafas dengan mengatur Secara anatomi
posisi kepala ekstensi

posisi

kepala

ekstensi

merupakan cara untuk meluruskan rongga


pernafasan sehingga proses respiransi tetap
berjalan

Pemeriksaan

fisik

dengan

lancar

dengan

menyingkirkan

pembuntuan jalan nafas.


cara Ronchi menunjukkan adanya

gangguan

auskultasi mendengarkan suara nafas pernafasan akibat atas cairan atau sekret
(adakah ronchi) tiap 2-4 jam sekali

yang

menutupi

sebagian

dari

saluran

pernafasan sehingga perlu dikeluarkan untuk


3

mengoptimalkan jalan nafas.


Bersihkan mulut dan saluran nafas dari Suction merupakan tindakan bantuan untuk
sekret dan lendir dengan melakukan mengeluarkan

suction
Oksigenasi

sehingga

mempermudah proses respirasi


Pemberian oksigen secara adequat dapat
mensuplai
oksigen,

sekret,

hipoksia.
Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam Dyspneu,

dan

memberikan

cadangan

mencegah

terjadinya

sehingga
sianosis

merupakan

tanda

terjadinya gangguan nafas disertai dengan


kerja

jantung

yang

menurun

timbul
21

takikardia dan capilary refill time yang


6

memanjang/lama.
Ketidakmampuan

Observasi timbulnya gagal nafas.

tubuh

dalam

proses

respirasi diperlukan intervensi yang kritis


dengan menggunakan alat bantu pernafasan
7

(mekanical ventilation)
Kolaborasi dalam pemberian obat Obat mukolitik dapat mengencerkan sekret
pengencer sekresi(mukolitik)

yang

kental

sehingga

mempermudah

pengeluaran dan memcegah kekentalan


2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat
spasme otot-otot pernafasan, yang ditandai dengan kejang rangsanng, kontraksi otototot pernafasan, adanya lendir dan sekret yang menumpuk.
Tujuan : Pola nafas teratur dan normal
Kriteria Hasil: a. Hipoksemia teratasi, mengalami perbaikan pemenuhan kebutuahn
oksigen
b. Tidak sesak, pernafasan normal 16-18 kali/menit
c. Tidak sianosis.

No
1

Intervensi
Monitor irama

pernafasan

Rasional
dan Indikasi adanya penyimpangan atau kelaianan

respirati rate

dari pernafasan dapat dilihat dari frekuensi,

Atur posisi luruskan jalan nafas.

jenis pernafasan,kemampuan dan irama nafas.


Jalan nafas yang longgar dan tidak ada
sumbatan proses respirasi dapat berjalan

Observasi tanda dan gejala sianosis

dengan lancar.
Sianosis merupakan

salah

satu

tanda

manifestasi ketidakadekuatan suply O2 pada


4

Oksigenasi

jaringan tubuh perifer


Pemberian oksigen secara adequat dapat
mensuplai

dan

memberikan

cadangan

22

oksigen,
5

sehingga

hipoksia
Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam Dyspneu,

mencegah

sianosis

terjadinya

merupakan

tanda

terjadinya gangguan nafas disertai dengan


kerja jantung yang menurun timbul takikardia
dan
6

Observasi timbulnya gagal nafas.

capilary

memanjang/lama.
Ketidakmampuan

refill

time

yang

tubuh

dalam

proses

respirasi diperlukan intervensi yang kritis


dengan menggunakan alat bantu pernafasan
7

(mekanical ventilation).
Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa Kompensasi tubuh terhadap gangguan proses
gas darah.

difusi dan perfusi jaringan dapat

3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin


(bakterimia) yang dditandai dengan suhu tubuh 38-40 oC, hiperhidrasi, sel darah
putih lebih dari 10.000 /mm3
Tujuan Suhu tubuh normal
Kriteria : Suhu tubuh 36-37oC, hasil lab sel darah putih (leukosit) antara 5.00010.000/mm3
NO Intervensi
1
Atur suhu lingkungan yang nyaman.

Rasional
Iklim lingkungan

dapat

mempengaruhi

kondisi dan suhu tubuh individu sebagai


suatu

proses

adaptasi

melalui

proses

evaporasi dan konveksi.


Identifikasi perkembangan gejala-gajala ke

Pantau suhu tubuh tiap 2 jam

arah syok exhaution


Berikan hidrasi atau minum ysng Cairan-cairan membantu menyegarkan badan

cukup adequat
dan merupakan kompresi badan dari dalam
Lakukan tindakan teknik aseptik dan Perawatan
lukan
mengeleminasi
antiseptik pada perawatan luka.

kemungkinan toksin yang masih berada

23

.
disekitar luka.
Berikan kompres dingin bila tidak Kompres dingin merupakan salah satu cara
terjadi ekternal rangsangan kejang.

Laksanakan

untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara

proses konduksi.
pengobatan Obat-obat antibakterial dapat mempunyai

program

antibiotik dan antipieretik

spektrum lluas untuk mengobati bakteeerria


gram positif atau bakteria gram negatif.
Antipieretik

bekerja

sebagai

proses

termoregulasi untuk mengantisipasi panas.


Kolaboratif dalam pemeriksaan lab Hasil pemeriksaan leukosit yang meningkat
leukosit.

lebih dari 10.000 /mm3 mengindikasikan


adanya infeksi dan atau untuk mengikuti
perkembangan

pengobatan

yang

diprogramkan
4. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan
otot pengunyah yang ditandai dengan intake kurang, makan dan minuman yang
masuk lewat mulut kembali lagi dapat melalui hidung dan berat badan menurun
ddiserta hasil pemeriksaan protein atau albumin kurang dari 3,5 mg%.
Tujuan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil: a. BB optimal
b. Intake adekuat
c. Hasil pemeriksaan albumin 3,5-5 mg %
No.
1

Intervensi
Rasional
Jelaskan faktor yang mempengaruhi Dampak dari
kesulitan

dalam

tetanus

adalah

adanya

makan

dan kekakuan dari otot pengunyah sehingga klien

pentingnya makanabagi tubuh

mengalami kesulitan menelan dan kadang


timbul refflek balik atau kesedak. Dengan
tingkat

pengetahuan

yang

adequat

diharapkan klien dapat berpartsipatif dan

24

Kolaboratif :

kooperatif dalam program diit.


Diit yang diberikan sesuai dengan keadaan

Pemberian diit TKTP cair, lunak atau klien dari tingkat membuka mulut dan proses
bubur kasar.

mengunyah.

Pemberian carian per IV line

Pemberian cairan perinfus diberikan pada

Pemasangan NGT bila perlu

klien dengan ketidakmampuan mengunyak


atau tidak bisa makan lewat mulut sehingga
kebutuhan nutrisi terpenuhi.
NGT dapat berfungsi sebagai masuknya
makanan juga untuk memberikan obat

5. Resiko terjadi cedera berhubungan dengan aktifitas kejang


Tujuan : Cedera tidak terjadi
Kriteria Hasil: a. Klien tidak ada cedera
b. Tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengaman
No Intervensi
Rasional
1
Identifikasi dan hindari faktor pencetus Menghindari kemungkinan terjadinya cedera
2

akibat dari stimulus kejang


Tempatkan pasien pada tempat tidur Menurunkan kemungkinan adanya trauma

pada pasien yang memakai pengaman jika terjadi kejang


Sediakan disamping tempat tidur tongue Antisipasi dini pertolongan kejang akan
spatel

mengurangi resiko yang dapat memperberat

Lindungi pasien pada saat kejang

kondisi klien
Mencegah terjadinya benturan/trauma yang

memungkinkan terjadinya cedera fisik


Catat penyebab mulai terjadinya kejang Pendokumentasian yang akurat, memudahkan pengontrolan dan identifikasi kejang
6. Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat

Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan yang dengan


Kriteria Hasil: Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik

25

No. Intervensi
1
Kaji intake dan out put setiap 24 jam

Rasional
Memberikan

informasi

tentang

status

cairan /volume sirkulasi dan kebutuhan


2

penggantian
Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan

mukosa, dan turgor kulit setiap 24 jam hidrasi seluler


Berikan dan pertahankan intake oral dan Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
parenteral sesuai indikasi ( infus 12
tts/m,

NGT

disesuaikan

40

cc/4

dengan

jam)

dan

perkembangan

kondisi pasien
Monitor berat

pengeluarannya
Pertahankan kepatenan NGT

jenis

urine

dan Mempertahankan

intake

kebutuhan tubuh
Penurunan keluaran
peningkatan

berat

nutrisi

urine
jenis

untuk

pekat
urine

dan

diduga

dehidrasi/ peningkatan kebutuhan cairan


.
7.

Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakitnya

berhubungan dengan keterbatasan informasi


Tujuan
: Pengetahuan klien dan keluarga tentang penanganan penyakitnya
dapat meningkat.
Kriteria Hasil :
a.
Klien dan keluarga dapat mengerti proses penyakit dan penanganannya
b.
klien dapat diajak kerja sama dalam program terapi
c.
klien dan keluarga dapat menyatakan melaksanakan penejlasan dna pendidikan
kesehatan yang diberikan.
No. INTERVENSI
RASIONAL
1
Identifikasi tingkat pengetahuan klien Tingkat pengetahuan
dan keluarga
2

Hindari

proteksi

terhadap

klien

modifikasi proses
yang
,

penting

untuk

pembelajaran orang

dewasa.
berlebihan Tidak memanipulasi klien sehingga ada

biarkan

klien proses kemandirian yang terbatas.

melakukan aktivitas sesuai dengan

26

kemampuannya.
ajarkan pada klein dan keluarga Kerja sama yang baik akanmembantu
tentang

peraawatan

yang

harus dalam proses penyembuhannnya.

dilakukan sema kejang.


Jelaskan pentingnya mempertahankan Status kesehatan yang baik membawa
status kesehatan yang optimal dengan damapak pertahanan tubuh baik sehingga
diit, istirahat, dan aktivitas yang dapat tidak timbul penyakit penyerta/penyulit.

menimbulkan kelelahan.
Jelasakan tentang efek samping obat Efek samping yang ditemukan secara dini
(gangguan
vomiting,

penglihatan,
kemerahan

pada

nausea, lebih aman dalam penaganannya.


kulit,

synkope dan konvusion)


Jaga kebersihan mulut dan gigi secara Kebersihan mulut dan gigi yang baik
teratur

merupakan dasar salah satu pencegahan


terjadinya infeksi berulang.

4.2 Asuhan Keperawatan Kasus


An. X dibawa ke RS. Sejahtera oleh kedua orang tuanya. An. X datang dengan
keluhan kesukaran membuka mulut sehingga sulit untuk makan, kemudian kejang
dengan tungkai eksistensi, lengan kaku dengan mengepal. Orang tuanya tampak
cemas dan menceritakan bahwa beberapa hari sebelumnya, badan anaknya kaku
setelah kakinya tertusuk paku disekolah. An. X belum pernah memperoleh vaksinasi
DPT sebelumnya.
RR: 30x/menit, TD: 125/80, N: 80x/menit, T: 38C.
3.3 Pengkajian
a. Identitas klien
Nama

: An. X

Jenis Kelamin

: Laki-laki

27

Umur

: 8 tahun

b. Keluhan Utama
Sukar membuka mulut sehingga sulit untuk makan disertai kejang dengan
tungkai eksistensi, lengan kaku dengan mengepal.
c. Riwayat kesehatan sekarang
An. X datang ke RS. Sejahtera dengan keluhan kejang dengan tungkai
eksistensi disertai mulut sukar membuka sehingga sulit untuk makan dan
lengan kaku dengan mengepal. Berdasarkan keterangan orangtua, beberapa
hari sebelum masuk RS An. X mengalami luka di telapak kaki kanan akibat
tertusuk paku di sekolah.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Orangtua mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu pasien mengalami luka
tusuk di telapak kaki bagian bawah karena tertusuk paku.
e. Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita tetanus
f. Keadaan Lingkungan
Sekolah An. X sedang dalam renovasi ruangan-ruangan
g. Observasi
a. Keadaan Umum
Suhu

: 380C

Nadi

: 80 x/menit

Tekanan Darah

: 125/80

RR

: 30 x/menit

b. Review of sistem (ROS)


B1 (Breathing) : Takipnea, RR = 30x/menit
B2 (Blood) : disritmia, febris
B3 (brain) : mulut tidak bisa dibuka, kejang disertai tangan ekssistensi
dan lengan kaku mengepal
B4 (Bladder) : B5 ( Bowel) : konstipasi akibat menurunnya gerak peristaltic usus

28

B6 (bone) : sulit menelan


4.4 Analisa Data
Data

Etiologi
Spasme otot masetter

Masalah Keperawatan

Kesukaran membuka mulut


DS: DO: Terjadi kekakuan pada
otot rahang sehingga sulit
untuk makan

(trismus, lockjaw)
Tidak bisa mengunyah

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh

Intake makanan berkurang


Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
Spasme otot laring & otototot pernafasan
Kemampuan batuk efektif

DS: Klien mengeluh sesak


DO:
-RR: 30x/menit

berkurang
Penumpukan sputum pada

efektif

-terjadi penumpukan sputum


pada trakea

Bersihan jalan nafas tidak

trakea
Sumbatan saluran nafas
Bersihan jalan nafas tidak

DS: -

efektif
Toksin Clostridium tetani

Risiko cidera

DO: Klien mengalami


29

Pengikatan dari toksin oleh


kejang dengan tungkai

cerebral ganglioside

eksistensi, lengan kaku

Kejang

dengan mengepal

DS: Orang tua menceritakan


bahwa mereka bingung apa
yang harus dilakukan pada
anaknya.
DO: Orang tua klien tampak
cemas dengan kondisi yang
dialami anaknya.

Risiko injuri
Anak mengalami ketegangan
otot dan kejang
Orang tua bingung dengan

Kurang pengetahuan klien

apa yang harus dilakukan

dan keluarga tentang penyakit

Kurang pengetahuan klien


dan keluarga tentang penyakit

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketegangan dan spasme otot masetter, kesukaran menelan dan membuka
mulut.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum
pada trakea.
3. Risiko cidera berhubungan dengan aktivitas kejang.
4. Kurang pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit berhubungan dengan
penatalaksanaan gangguan kejang.

4.4 Intervensi

30

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketegangan dan spasme otot masetter, kesukaran menelan dan membuka
mulut.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil:
a. BB optimal
b. Intake nutrisi adekuat
Intervensi
Jelaskan faktor

yang

Rasional
mempengaruhi Dampak dari tetanus adalah kekakuan

kesulitan makan dan pentingnya makanan otot rahang sehingga kelien kesultan
bagi tubuh

mengunyah

dan

menelan.

Dengan

pengetahuan terhadap pentingnya maka


diharapkan
Kolaboratif dengan ahli gizi dan dokter:

klien

kooperatif

dalam

program diit.
- Diit yang diberikan sesuai dengan

- pemilihan pemberian diit TKTP cair, keadaan dan kemampuan klien dalam
lunak atau kasar

membuka

mulut,

mengunyah

-pemberian cairan IV line

menelan

- Pemasangan NGT bila perlu

- infus atau NGT diberikan jika klien


tidak dapat makan melalui mulut

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum


pada trakea.
Tujuan : Jalan nafas dapat kembali efektif
Kriteria hasil :
a. Klien terbebas dari sesak nafas
b. Pernafasan normal 16-22 kali/menit
c. Tidak ada pernafasan cuping hidung
d. Tidak ada tambahan otot pernafasan
31

dan

Intervensi
Rasional
Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi Secara anatomi,
klien, misalnya ekstensi kepala.

posisi

kepala

ekstensi

merupakan cara untuk meluruskan rongga


pernapasan sehingga proses respirasi tetap

lancar.
Pantau pernafasan klien dengan auskultasi Adanya suara nafas tambahan menunjukkan
rutin

setiap

2-4

jam

sekali

untuk adanya gangguan pernafasan akibat adanya

memonitoring adanya suara nafas tambahan

sekret atau cairan yang menutupi saluran

Lakukan suction untuk membersihkan sekret

nafas.
Suction merupakan proses tindakan bantuan
untuk

Berikan klien terapi oksigenasi

mengeluarkan

sekret

agar

mempermudah respirasi.
Pemberian oksigen secara adekuat dapat
mensuplai darah dan memberikan cadangan
oksigen

sehingga

mencegah

terjadinya

hipoksia.
3. Risiko injuri berhubungan dengan aktivitas kejang.
Tujuan : klien terhindar dari cidera, diagnosa tidak menjadi masalah actual
Kriteria hasil :
a. Keamanan lingkungan mendukung
b. Faktor penyebab berkurang
c. mempertahankan aturan pengobatan
Intervensi
Rasional
Jauhkan benda-benda keras dari pasien Benda keras yang berada didekat pasien
terutama saat kejang terjadi

memicu terjadinya cidera terutama saat

kejang.
Catat kapan waktu atau keadaan yang Dengan mengetahui waktu terjadinya
memicu timbulnya kejang

kejang, kita dapat mencegah terjadinya

Atasi penyebab terjadinya cidera

cidera.
Jika cidera banyak terjadi karena kejang,

32

maka

dengan

mencegah

terjadinya

kejang, cidera akan dapat dengan mudah


dicegah
4. Kurang pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit berhubungan dengan
penatalaksanaan gangguan kejang.
Tujuan: klien dan keluarga memahami proses penyakit yang terjadi
Kriteria hasil:
a. Pemahaman terhadap penyakit bagi keluarga dan klien
Intervensi
Rasional
Kaji tingkat pengetahuan pasien dan Dengan mengetahui tingkat pengetahuan
keluarga

akan memudahkan tenaga medis dalam

intervensi.
Berikan pasien dan keluarga informasi Agar klien dan keluarga mengetahui
tentang penyakit dan penanganan yang proses penyakit yang sedang terjadi dan
benar

dapat

meminimalisir

terjadinya

komplikasi.
Diskusikan terapi yang akan digunakan Terapi yang diberikan kepada klien
dengan keluarga dan pasien

hendaknya menurut persetujuan klien dan


keluarga.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi semua tindakan yang telah anda berikan pada pasien. Jika
dengan tindakan yang diberikan pasien mengalami perubahan menjadi lebih
baik. Maka tindakan dapat dihentikan. Jika sebaliknya keadaan pasien
menjadi lebih buruk, kemungkinan besar tindakan harus mengalami
perubahan atau perbaikan
4.5 IMUNISASI
4.5.1 TT
Vaksinasi tetanus bertujuan untuk mencegah kerusakan saraf.
Tetanus (berasal dari bahasa yunani : -teinein = menegang) yang
disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini tersebar diseluruh

33

dunia, menyerang bayi, anak-anak, dan remaja, terutama yang tidak


memperoleh vaksinasi. Tetanus, terutama tetanus neonatarum, sampai saat
ini masih menjadi masalah kesehatan yang serius. Sebab, tetanus menjadi
penyebab 8%-69% dari kematian bayi baru lahir (menjadi penyebab
kematian utama terutama di negara-negara sedang berkembang, termasuk
di Indonesia). Pada tahun 2002, WHO melaporkan 198.000 kematian pada
anak berusia kurang dari 5 tahun disebabkan oleh penyakit tetanus.
a. Penyebab
Infeksi tetanus disebabkan oleh Clostridium tetani, basil berbentuk
batang panjang, tipis (2-5 m x 3-8 m), gram positif, bakteri berspora
bersifat anaerob murni. Dalam bentuk spora, kuman ini tersebar luas di
tanah, debu jalanan, kotoran hewan (kuda, ayam, babi, anjing), dan
juga tinja manusia.
b. Cara penularan
Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh manusia melalui
luka, misalnya luka tusuk, luka robek, luka tembak, luka bakar, luka
gigit, luka suntikan, infeksi telinga, rahim sesudah persalinan atau
keguguran, pemotongan tali pusat yang tidak steril (sebagai penyebab
utama Tetanus neonaratum). Bentuk spora yang menginfeksi luka
akan berubah menjadi bentuk negatif, yang kemudian mengeluarkan
dua macam racun, yaitu tetanolisin dan tetanospamin (merusak sel-sel
saraf).
c. Gejala Klinik
Dalam waktu 3 hari sampai 4 minggu setelah kuman masuk
melalui luka, racun Clostridium tetani akan merusak sistem saraf dan
segera memunculka gejala serta tanda-tanda tetanus, misalnya kejang
dan kekakuan otot rahang (lockjaw), postur badan kaku dan tidak
dapat ditekuk karena kekakuan otot leher dan punggung (opistotonus),
dinding perut mengeras seperti papan, gangguan menelan, dan muka
seperti menyeringai/tertawa (risus sardonicus). Pasien tetanus mudah
sekali mengalami kejang, terutama apabila mendapatkan rangsangan
seperti suara berisik, terkejut, sinar, dan sebagainya sehingga ia perlu
diisolasi dalam ruang tersendiri/ tetanus pada bayo baru lahir disebut
tetanus neonatorum, yang penularannya terjadi pada saat pemotongan
tali pusat yang dilakukan secara tidak steril. Tetanus neonatorumlebih

34

mudah terjadi bila bayi tidak mendapat imunisasi pasif atau bila pada
saat ibunya hamil tidak pernah mendapat imunisasi.
d. Pencegahan dan pengobatan
Pencegahan tetanus dilakukan melalui upaya sterilitas alat,
misalnya saat memotong tali pusat, pembersihan dan perawatan luka
dan segera mengobati luka infeksi. Tetapi, upaya pencegahan yang
paling efektif adalah melalui imunisasi pasif dan aktif. Pada penyakit
tetanus berat, resiko terjadinya kematian sangat tinggi. Obat antibiotik
dan imunisasi pasif atau antitetanus belum tentu mampu memperbaiki
keadaan penyakit. Cara yang palng efektif adalah mencegah sebelum
terkena tetanus melalui vaksinasi.
e. Imunisasi pasif
Imunisasi pasif diindikasikan pada seseorang yang mengalami
luka kotor, diperoleh dengan memberikan serum yang sudah
mengandung antitoksin heterolog (ATS) atau antitoksin homolog
(imunoglobulin antitetanus)
Tabel 1. Pemberian Vaksin Tetanus pada Orang yang Mengalami Luka
Vaksinasi
Sebelumnya
Tidak ada/tidak
pasti
1x DT atau DPT
2x DT atau DPT
3x DT atau DPT

Luka Bersih
Toksoid
ATS
Ya*
Tidak

Luka Kotor
Toksoid
ATS
Ya*
Ya

Ya*
Ya*
Tidak +

Ya*
Ya*
Tidak++

Tidak
Tidak
Tidak

Ya
Ya
Tidak

Keterangan :
*seri imunisasi yang harus dilengkapi
+ kecuali booster terakhir sudah 10 tahun yang lalu atau lebih
+ + kecuali booster terakhir sudah 5 tahun yang lalu atau lebih
DT vaksinasi difteri tetanus
DPT vaksinasi difteri pertusis tetanus
f. Imunisasi Aktif

35

Imunisasi aktif didapat dengan menyuntikkan toksoid tetanus


dengan tujuan merangsang ubuh membentuk antibodi. Vaksin tetanus
diberikan pada :
1. Bayi dan anak usia kurang dari 10 tahun
2. Ibu hamil
3. Semua orang dewasa
Vaksin tetanus memiliki berbagai kemasan seperti preparat
tunggal (TT), kombinasi dengan toksoid difteri dan atau pertusis (dT,
DT, dTwP, dtaP) dan kombinasi dengan komponen lain seperti Hib dan
hepatitis B.
Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari
vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). DPT diberikan satu seri terdiri
atas 5 suntikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan, dan
terakhir saat sebelum masuk sekolah (4-6 tahun). Bagi orang dewasa,
sebaiknya menerima booster dalam bentuk TT (tetanus toksoid) setiap
10 tahun.
Untuk mencegah tetanus neonatorum, wanita hamil dengan
persalinan berisiko paling tidak mendapatkan 2 kali dosis dosis vaksin
TT. Dosis TT kedua sebaiknya diberikan paling tidak 4 minggu setelah
pemberian dosis pertama, dan dosis kedua sebaiknya diberiakn paling
tidak 2 minggu sebelum persalinan. Untuk ibu hamil yang sebelumnya
pernah menerima TT x pada waktu calon pengantin atau pada
kehamilan sebelumnya, maka diberikan booster TT 1 kali saja.
Vaksin tetanus tidak boleh diberikan pada orang dengan riwayat
reaksi alergi berat (anafilaksis) pada pemberian sebelumnya, pada orang
yang alergi terhadap komponen vaksin, dan wanita hamil. Pemberian
vaksin DPT pada anak-anak harus ditunda jika anak mengalami demam
tinggi, memiliki kelainan saraf, atau mengalami gangguan pertumbuhan.
g. Efek samping/ KIPI
Efek samping pemberian vaksinasi tetanus biasanya bersifat
ringan, berupa rasa nyeri, warna kemerahan dan bengkak di tempat
penyuntikan, dan demam. Penggunaan kain lembap dingin di tepat yang
sakit dapat mengurangi rasa sakit. Parasetamol dapat diberikan untuk
mengurangi rasa sakit dan demam, serta minum air yang banyak. Segera
bawa ke dokter apabila dijumpai hal berikut ini :
1. Kejang- kejang dalam 3-7 hari setelah imunisasi

36

2. Kejang-kejang yang makin memburuk


3. Reaksi alergi
4. Kesulitan makan atau gangguan pada mulut, tenggorokan atau
muka
5. Panas badan > 40 derajad C
6. Pingsan dalam dua hari ppertama setelah imunisasi
7. Terus menangis lebih dari 3 jam di dua hari pertama setelah
imunisasi
Nama Vaksinasi
Sasaran
imunisasi
Macam Vaksin
Dosis

Jadwal
Pemberian

Cara pemberian
Efektifitas
Kontraindikasi
Efek samping

4.5.2

Tetanus
Bayi dan anak usia kurang dari 10 tahun, ibu hamil, dan semua orang
dewasa
Toxoid
Anak-anak 5 dosis
Dewasa yang sudah mendapat imunisasi lengkap cukup diberikan
booster
Ibu hamil 2 dosis
Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT
(difteri, pertusis, tetanus)
Usia 2 bulan
Usia 4 bulan
Usia 6 bulan
Usia 15-18 bulan
Usia 4-6 tahun
Bagi yang dewasa sebaiknya menerima booster dalam bentuk TT (tetanus
toksoid) setiap 10 tahun
Ibu hamil mendapatkan 2 dosis tetanus toxoid
Suntikan intra muskular/otot
90%
Ibu hamil
Alergi terhadap vaksin
Rasa nyeri, warna kemerahan dan bengkak di tempat penyuntikan, serta
demam, reaksi alergi berat (jarang)
DPT

1. Arti
Imunisasi DPT (diphtheria, pertussis, tetanus) merupakan
imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri,
pertussis, dan tetanus. Vaksin DPTini merupakam vaksin yang
mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunny,
namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid).
37

Pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap


pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ organtubuh
membut zat ini. Pada pemberian DPT dapat berefek samping ringan
ataupun berat. Efek ringan misalnya terjadi pembengkakan, nyeri pada
tempat penyuntikan, dan demam. Efek berat misalnya terjadi menangis
hebat, kesakitan kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi
kejang, ensefalopati, dan syok. Upaya pencegahan penyakit difteri,
pertussis, dan tetanus perlu dilakukan sejak dini melalui imunisasi karena
penyakit tersebut sangat cepat serta dapat meningkatkan kematian bayi
dan anak balita.
Hasil penelitian muchalastrining (2005) menunjukan bahwa
jumlah kasus difteri rawat jalan di Indonesia selama 3 tahun paling banyak
dari golongan usia 15 -44 tahun (37,42 %). Pasien pertussis yang dirawat
inap paling banyak dari kalangan bayi dan anak-anak merupakan golongan
usia yang rentan terhadap penyakit pertussis. Pasien tetanus yang dirawat
inap paling banyak golongan usia di atas 45 tahun (44,16%)
2. Tujuan imunisasi DPT
Imunisasi DPT bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap 3
penyakit penting yaitu difteri, tetanus dan pertusis.
3. Jadwal imunisasi DPT
Imunisasi DPT termasuk salah satu imunisasi dasar di Indonesia.
Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali. Diberikan pada anak mulai usia
lebih dari 6 minggu dengan interval 1-2 bulan untuk pemberian
selanjutnya. Pemberian imunisasi DPT pada anak usia kurang dari 6
minggu tidak dianjurkan karena respon terhadap pertusis tidak optimal.
4. Kapan diberikan imunisasi DPT ulangan (booster)?
Imunisasi DPT ulangan diberikan 1 kali pada usia 18 bulan. Dan
diulang lagi ketika usia 5 tahun
5. Pemberian imunisasi DPT
Imunisasi DPT diberikan dengan cara menyuntikkan vaksin DPT
ke otot anak. Biasanya penyuntikan dilakukan di otot paha.
6. Biaya imunisasi DPT

38

Karena termasuk imunisasi dasar yang diwajibkan maka biaya


imunisasi DPT digratiskan pemerintah. Anda dapat melakukan imunisasi
DPT anak anda di posyandu atau puskesmas terdekat.
7. Jenis vaksin DPT
Imunisasi DPT merupakan salah satu jenis vaksin combo.
Artinya, dalam satu vaksin mengandung beberapa jenis vaksin untuk
beberapa jenis penyakit. Saat ini terdapat 2 jenis vaksin DPT.
Yang pertama dengan kandungan seluruh sel kuman pertusis
(whole cell pertussis) disingkat dengan DTwP. Vaksin kombo inilah yang
tersedia di posyandu dan puskesmas.
Yang kedua , yang tidak mengandung kuman pertusis, tapi berisi
komponen spesifik toksin dari kuman pertusin, disebut sebagai aseluler
pertusis, disingkat DTaP. Keuntungan vaksin yang ini, angka kejadian
komplikasi yang ditimbulkan lebih sedikit dibanding vaksin yang whole
cell. Artinya, lebih sedikit bikin demam , bengkak,nyeri atau komplikasi
lainnya. Kerugiannya, harganya relatif mahal.
Biasanya dokter akan menanyakan, bu mau yang bikin panas atau
yang tidak panas? Maksud dokternya, vaksin yang bikin panas yang whole
cell, sedang yang tidak bikin panas yang aseluler.
8. Komplikasi imunisasi DPT
1. Reaksi lokal pada bekas tempat penyuntikan berupa
kemerahan,bengkak dan nyeri. Kejadian ini terjadi pada 42,9%
penerima imunisasi DPT.
2. Demam ringan. Hanya sekitar 2,2% yang mengalami demam
tinggi
3. Anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam
pasca suntikan
4. Kejang demam terjadi sebanyak 0,06%
5. Reaksi alergi dan ensefalopati sangat jarang
9. Kapan anak tidak boleh diberikan imunisasi DPT?

39

1. Bila anak pada pemberian imunisasi DPT sebelumnya,


menunjukkan reaksi alergi berat yang disebut anafilaksis.
2. Anak menderita gangguan otak yang disebut ensefalopati
( ditandai penurunan kesadaran dan kejang) pasca pemberian
imunisasi DPT sebelumnya.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Tetanus

adalah

penyakit

akut,

paralitik

yang

disebabkan

oleh

tetanospasmin, eurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus


adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot spasme tanpa disertai
gangguan kesadaran. Gambaran penyakit ini berupa : trismus (kaku pada
rahang sulit membuka rahang bawah), rhesus sardonicus (muka seperti
monyet meringis), kaku kuduk (leher kaku, tidak bisa untuk mengangguk),
opistotonus (badan kaku seperti busur), kaku perut, kejang, dan kemungkinan
adanya luka sebagai tempat masuknya kuman. Penyakit tetanus biasanya
timbul di daerah yang mudah terkontaminasi dengan tanah dan dengan
kebersihan dan perawatan luka yang buruk.
Pengobatannya dengan merawat pasien di ruang yang tenang, kemudian
diberikan Anti Tetanus Serum (ATS) sesuai berat badannya secara intravena
dan sisanya intramuscular. Kejang diatasi dengan pemberian anti kejang
(misal diazepam) secara intravena. Juga diberikan antibiotika. Perawatan
pasien ini mungkin melibatkan berbagai bidang kedokteran, misalnya
penyakit dalam, bedah, gigi, dan THT.
5.2 Saran

40

Jangan sepelekan atau meremehkan luka kecil di tubuh, terutama di


bagian kaki atau tangan yang mudah terkena kotoran seperti debu atau tanah.
Luka kecil ini bisa menjadi pemicu tetanus, penyakit yang sudah jarang terjadi
tapi cukup mematikan. Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh
infeksi bakteri. Bakteri ini akan memproduksi racun yang menyebabkan
kejang otot kronis. Tetanus ini sangat berbahaya tapi mudah diatasi jika Anda
teliti dan bertindak cepat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cahyono B, Suharjo J.B.2010. Vaksinasi, Cara Ampuh Cegah Penyakit
Infeksi.Yogyakarta: Kanisius
2. Doenges, ME. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta:
EGC
3. http://medicastore.com/penyakit/91/Tetanus.html di akses tanggal 20
September 2013
4. Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,
Penerjemah MonicaEster, EGC, Jakarta
5. Muttaqin, arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika
6. Retarwan,Kiking.2004.Tetanus.
http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking2.pdf.

diakses

pada tanggal 19 September 2013 pukul 11.00 WIB


7. Siti,2006, Buku Ilmu Penyakit Dalam, Penerbit Departemen Ilmu
Penyakit Dalam F.KUniversitas Indonesia.
8. Soeparman. 1990. Ilmu Penyakit Dalam. Universitas Indonesia
Press :Jakarta.
41

9. Stephen S. tetanus edited by.Behrman, dkk. Dalam Ilmu Kesehatan


Anak Nelson Hal.1004-07. Edisi 15-Jakarta : EGC, 2000
10. Sudoyo W. Aru, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, K. Simadibarata
Marellus, Setiati

42