You are on page 1of 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

ANAK DENGAN
DISSEMINATED
INTRAVASCULAR
COAGULATION (DIC)

OLEH KELOMPPOK 5
ADE SUMINTRA
MUHAMAD ZAINUL
S I T I FA T I M A H
SITI SUGIH H
R E N I R A E N I PA H

LATAR BELAKANG
Koagulasi intravascular diseminata (KID)
merupakan salah satu kedaruratan medis,karena
mengancam nyawa dan memerlukan penanganan
segera. Tetapi tidak semua KID digolongkan dalam
darurat medis,hanya KID fulminan atau akut
sedang KID derajat yang terendah atau
kompensasi bukan suatu keadaan darurat. Namun
perlu di waspadai bahwa KID derajat rendah dapat
berubah menjadi KID fulminan,sehingga
memerlukan pengobatan segera
Sindrom ini dipicu oleh berbagai penyakit seperti
sepsis, trauma multipel, luka bakar, dan
neoplasma. DIC dapat dijelaskan sebagai dua
proses koagulasi yang terkendali dengan tepat
yang menjadi terakselerasi dan tidak terkendali.

DEFINISI
koagulasi interavaskular desminata (KID)
Disseminated Intravascular Coagulation(DIC)
merupakan kelainan yang di tandai dengan
aktivasi koagulasi sistemik masif yang
disebabkan oleh berbagai kondisi klinis
Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
adalah suatu keadaan dimana bekuan- bekuan
darah kecil tersebar di seluruh aliran darah,
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh
darah kecil dan berkurangnya faktor pembekuan
yang diperlukan untuk mengendalikan
perdarahan.
DIC adalah penyakit dimana faktor pembekuan
dalam tubuh berkurang sehingga terbentuk
bekuan-bekuan darah yang tersebar di seluruh
pembuluh darah

ETIOLOGI
Beragam penyakit dapat menyebabkan
DIC, dan secara umum melalui salah satu
dari dua mekanisme berikut.
1.Respon inflamsi sitemik, menyebabkan
aktivasi jaringan sitokin dan selanjutnya
mengaktivasi proses koagulasi (cth: sepsis
atau trauma mayor)
2.Pelepasan atau paparan materi
prokoagulan ke dalam aliran darah ( cth:
pada kanker, injury otak atau kasus
obstetrik)
Pada situasi tertentu, dapat muncul kedua
manifestasi tersebut (cth: trauma mayor
atau pankretitis nekrotik).

PATOFISIOLOGI
aktivasi trombus
pembentukan fibrinogen fibrin dan
deposisi fibrin didalam mikrovaskularisasi
peningkatan agrenasi trombosit atau adhesi trombosit
pembentukan bekuan fibrin
obstruksi difus
pembuluh darah yang lebih kecil
disfungsi organ
progresif (yaitu isufisiensi renal, ARDS, Hipotensi, gagal
sirkulasi, dan nekrosis kulit) bersamaan dengan preistiwa
ini trombosit, protombin dan fibrinogen digunakan
defisiensi dari produk2 ini membahayakan koagulasi dan
meningkatkan resiko pendarahan.

LANJUTAN FATOFISIOLOGI
pembekuan darah yang berlebih pada tingkat
mikrovaskularisasi mengaktifkan sistem fibrinolitik
produksi produk degtadasi fibrin (FDP) yaitu produk
pecahan fibrin
efek koagulasi dari FDP dengan
fibrinogen dan trombin
gangguan pembentukan
bekuan fibrin dan penurunan fungsi trombosit
pendarahan
pendarahan hebat

MANIFESTASI KLINIS

pendarahan ( purpura,
ptekie, ekimosis)

pendarhan GI
( mematemesis melena,
feces menyerupai ter)

pendarahan GU
( hematuria, menoragia
pada perempuan)

pendarahan dan
perembesan pada lokasi
tusukan dan disekitar
kateter dan jalur invasif
pembentukan hematoma
dan pendarahan
pulmonal

akrosianosis
( sianosis pada
tangan dn kaki)

disfungsi multi organ

angina

malaise

fatiq dan kelemahan

sakit kepala mual dan


muntah

palpitasi dan vertigo

TES DIAGNOSTIK
DPL
Waktu protombin (PT) waktu
tromboplastin parsial (PTT)
Kadar fibrinogen
produksi degradasi/ pecahan fibrin
D dimer
waktu trombin
anti trombin III (AT III)

PENATALAKSAAN MEDIS
Hati - hati terhadap tanda tanda awal
gangguan perffusi jaringan pada pasien
dengan resiko tinggi DIC (Perubahan ringan
pada status mental, hipotensi, dipsnea,
takipnea, penurunan produksi urine )
mulai dengan pemberian infus heparin
banti faktor - faktor pembekuan yang
mengalami defisiensi
berikan vit k dan folat acid
berikan infus trombosit
neikan plasma beku segar ( fresh frozen
plasma)
berikan obat kriopresipitat
berikan transfusi darah

ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
a.Adanya faktorfaktor predisposisi:
-Septicemia
(penyebab paling
umum)
-Komplikasi
obstetric
-SPSD (sindrom
distress pernafasan
dewasa)
-Luka bakar
berat dan luas
-Neoplasia
-Gigitan ular
-Penyakit hepar
-Trauma
1.

Pemeriksaan fisik:
1)Perdarahan abnormal pada
semua system dan pada sisi
prosedur invatif
a)Kulit dan mukosa
membrane
b)Perembesan difusi darah
atau plasma
c)Purpura yang teraba
pada awalnya di dada dan
abdomen
d)Bula hemoragi
e)Hemoragi subkutan
f)Hematoma
g)Luka bakar karena
plester sianosis akral
( estrimitas berwarna agak
kebiruan, abu abu, atau
ungu gelap )
b.

6)Sistem

PEMERIKSAAN FISIK

saraf perifer

a)Perubahan tingkat
kesadaran
b)Gelisah

2)Sistem GI
a)Mual dan muntah
b)Nasogastrik dan feses
c) Nyeri hebat pada
abdomen
3)Sistem ginjal
a)Hematuria
b)Oliguria
4)Sistem pernafasan
a)Dispnea
b)Takipnea
c)Sputum mengandung
darah
5)Sistem
kardiovaskuler
a)Hipotensi meningkat
dan postural
b)Frekuensi jantung
meningkat

7)Sistem muskuloskeletal
a)Nyeri :
otot,sendi,punggung
8)Pada sisi prosedur invasif
: suntikan, IV, kateter
arteral dan selang
nasogastrik atau dada, dll.
9)Kerusakan perfusi
jaringan
e)Serebral : perubahan
pada sensorium, gelisah,
kacau mental, sakit kepala
f)Ginjal : penurunan
pengeluaran urin
g)Paru : dispnea dan
orthopnea
h)Kulit : akrosianosis
( ketidakteraturan bentuk
bercak sianosis pada
lengan perifer dan kaki )

DIAGNOSA KEPERAWATAN

A. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi


jaringan berhubungan dengan hemoragi
sekunder.
B. Nyeri berhubungan dengan trauma
jaringan
C. Defisit volume cairan yang berhubungan
dengan hemoragi perebesan darah dan
tepat fungsi kongesti jaringan
danperlambatan volume darah
bersirkulasi.
D. Resiko tinggi terhadap kerusakan
integritas kulit yang berhubungan dengan
keadaan syok, hemoragi, kongesti jaringan
dan penurunan perfusi jaringan.

INTERVENSI KEPERAWATAN

Click icon to add picture

R
E
T

IM

K
A

H
I
S
A