You are on page 1of 10

Nama : Fauziah Amin

NIM

: N111 14 336

Kelas : Farmakognosi Analitik A

ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT (BKO) PADA OBAT TRADISIONAL


Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No.HK.
00.05.4.1380 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik, jamu atau obat
tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan
mineral, sediaan sarian atau galenik, atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun
temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Sebagai salah satu contoh obat tradisional, jamu harus memenuhi beberapa persyaratan
yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 246/Menkes/Per/V/1990, obat tradisional atau jamu tidak dibenarkan mengandung
zat asing yang dapat membahayakan kesehatan pemakai, obat tradisional tidak boleh
mengandung bahan kimia hasil isolasi atau sintetik yang berkhasiat obat, obat tradisional tidak
boleh mengandung bahan kimia obat, baik yang tergolong obat keras maupun tidak. Walaupun
pemerintah telah menetapkan persyaratan untuk jamu, tetapi masih banyak orang melanggar
ketentuan tersebut.
Berdasarkan hasil pengawasan obat tradisional melalui sampling dan pengujian
laboratorium tahun 2006, Balai Besar POM telah menemukan sebanyak 93 (sembilan puluh tiga)
produk obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat. Berkenaan dengan hasil temuan
tersebut, Balai Besar POM telah memberikan peringatan keras kepada produsen dan sarana
distribusi, serta menarik dan memusnahkan obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia
obat (Balai POM, 2006).
Pada penelitian terdahulu telah dilakukan penelitian untuk identifikasi BKO dengan
menggunakan KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) (Mikami
et al., 2002; Moriyasu et al., 2001). Selain itu, pada penelitian terdahulu juga telah dilakukan

penelitian untuk penetapan kadar BKO dalam sediaan farmasetik dengan metode spektrofotometri
UV pada 292 nm (Mahmoudian, 2005). Kandungan kimia dalam makanan dan minuman itu
berbeda dengan kandungan kimia dalam jamu yang sebagian besar adalah alkaloid, flavonoid,
triterpenoid, saponin, dan lain-lain.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metode pemisahan di mana fase pengembang
bergerak berdasarkan daya kapiler melalui fase diam yang dilekatkan pada suatu lapisan tipis. KLT
mempunyai beberapa kelebihan dibanding KCKT, antara lain dapat digunakan untuk analisis
kualitatif, kuantitatif dan preparatif, mudah dan cepat dalam pelaksanaannya, lebih fleksibel dalam
pemilihan fase diam dan fase gerak, dapat digunakan untuk analisis beberapa sampel sekaligus,
dan jumlah fase gerak yang digunakan lebih sedikit (Fried & Sherma, 1994).
Berikut adalah beberapa zat kimia yang sering kali ditemukan dalam produk obat
tradisional / jamu ilegal beserta risiko dan efek yang tidak diinginkan dari penggunaan bahankimia
obat tanpa pengawasan dokter atau apoteker:
1. Sildenafil

Sitrat:

dapat

menyebabkan

sakit

kepala,

pusing, mual,

gangguan penglihatan, rinitis (radang hidung), bahkan kematian.


2. Fenilbutazon:
dapat
menyebabkan
mual,
muntah,
ruam

nyeri

kulit,

perut,

oedema,

pendarahanlambung, nyeri lambung, reaksi hipersensitivitas, hepatitis, dan gagal ginjal.


3. Asam Mefenamat: dapat menyebabkan mengantuk, diare, ruam kulit, dan kejang, serta di
kontraindikasikan bagi penderita tukak lambung/usus, asma, dan ginjal.
4. Prednison: dapat menyebabkan moon face (wajah bulat seperti bulan, tembem),gangguan
saluran cerna seperti mual dan tukak lambung, tulang keropos, dll.
5. Metampiron:
dapat
menyebabkan gangguan
saluran
cerna

seperti

mual,

pendarahanlambung, rasa terbakar, serta gangguan sistem saraf seperti tinitus (telinga
berdenging),dll.
6. Paracetamol: dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan gangguankerusakan
hati.

I.

ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT DALAM JAMU PEGAL LINU YANG DI JUAL DI SURAKARTA
MENGGUNAKAN METODE KLT DAN SPEKTROFOTOMETRI UV

Alat dan Bahan


Penelitian ini menggunakan alat sebagai berikut adalah: alat timbang merek AND max 210
g, min 1 mg e=1 mg d=0,01/0,1 mg, sonifikator merek Bradson 2510, spektrofotometri UV merek
UV mini 1240 Shimadzu. Bahanbahan yang digunakan adalah Jamu pegel linu yang di jual di
sekitar Surakarta, plat KLT, fenilbutazon, natrium diklofenak, toluene (p.a), etil asetat (p.a), asam
asetat glasial (p.a), aseton (p.a), ammonia (p.a), metanol (p.a), aquades, natrium hidroksida 0,1 N.
Ekstraksi sampel
Ditimbang sampel 400 mg kemudian dilarutkan dalam metanol sampai 10 mL dengan
disonifikasi selama 30 menit kemudian disaring.
Analisis kualitatif KLT
Analisis dilakukan menggunakan KLT dengan jarak pengembangan masing-masing 8 cm
dan fase gerak :
a. Natrium diklofenak: Larutan hasil ekstraksi dengan baku pembanding ditotolkan secara
terpisah.
Fase diam : Silika gel GF254
Eluen : 1. Toluen : etil asetat : asam asetat glasial (60:40:1)
2. Toluen : aseton (1:2)
3. Toluen : metanol : ammonia (20:5:1)
b. Fenil butazon: Larutan hasil ekstraksi dengan baku pembanding ditotolkan secara terpisah
Fase diam : Silika gel GF254
Eluen : 1. Sikloheksan : kloroform : metanol : asam asetat glasial (60:30:5:5)
2. Etil asetat : metanol : ammonia (85:10:5)
3. N heksan : etil asetat (8:2)
Penjenuhan : kertas saring
Penampak bercak : Cahaya ultraviolet 256 nm, terjadi pemadaman (BPOM, 2005).
Panjang Gelombang Maksimal
Dilakukan penentuan panjang gelombang maksimal untuk natrium diklofenak dan
fenilbutazon.
Pembuatan kurva baku

1. Natrium diklofenak
Stok larutan standar natrium diklofenak konsentrasi 0,1% menggunakan pelarut
metanol. Dari larutan stok standar, diencerkan hingga konsentrasi 5 g/mL; 7 g/mL; 9
g/mL; 11 g/mL; 13 g/mL; 15 g/mL; dan 17 g/mL. Larutan stok disimpan pada 2-8 C
dilindungi dari cahaya (Dhaneshwar & Bhusari, 2010).
2. Fenilbutazon
Stok larutan standar fenilbutazon konsentrasi 0,1% dibuat menggunakan pelarut
metanol. Dari larutan stok standar, diencerkan menggunakan Natrium hidroksida 0,1 N
hingga konsentrasi 3 g/mL; 5 g/mL; 7 g/mL; 9 g/mL; dan 11 g/mL. Larutan stok
disimpan pada -20 C (Jedziniak P., et al., 2005). Masing-masing standar dibuat seri
konsentrasi dari larutan standar yang kemudian dibaca dengan spektrofotometri UV pada
panjang gelombang maksimal.
Analisis jamu pegal linu
Analisis Kualitatif
1. Natrium diklofenak
Analisis kualitatif natrium diklofenak menggunakan metode KLT fase diam silika gel
GF254, Fase gerak menggunakan campuran toluene : etil asetat : asam asetat glasial
(60:40:1), toluen : aseton (1:2) dan toluen : metanol : ammonia (20:5:1).
2.Fenilbutazon
Analisis kualitatif fenilbutazon menggunakan metode KLT fase diam silika gel
GF254, fase gerak menggunakan campuran sikloheksan : kloroform : metanol (60:30:10),
etil asetat : metanol : ammonia (85:10:5) dan heksan : etil asetat (8:2).

Analisis kuantitatif
Hasil penotolan pada KLT yang mempunyai Rf sama dengan larutan standar natrium
diklofenak dilakukan penetapan kadar, ditimbang 400 mg sampel dilarutkan metanol 10 mL
kemudian disonikator selama 30 menit dan disaring, diambil 25 L ditambahkan metanol sampai 5
mL kemudian dibaca pada panjang gelombang maksimal 276 nm

Hasil penotolan pada KLT yang mempunyai Rf sama dengan larutan standar fenilbutazon
dilakukan penetapan kadar, ditimbang 400 mg sampel dilarutkan metanol 10 mL kemudian
disonikator selama 30 menit dan disaring, diambil 25 L ditambahkan Natrium hidroksida 5 mL
kemudian dibaca pada panjang gelombang maksimal 264 nm.
Analisis Data
Kadar dari sampel jamu diketahui berdasarkan persamaan kurva baku Y=bx+a, dengan Y
nilai absorbansi dan x adalah kadar terukur. Dari pembacaan sampel didapatkan absorbansi
sebagai y dan x adalah kadar terukur dengan kadar b/v yang kemudian dijadikan mg/tab.
Analisis kualitatif
Analisis bahan kimia obat natrium diklofenak dan fenilbutazon pada 10 jenis sampel jamu
tradisional pegal linu beredar di kota Surakarta. Analisis kualitatif menggunakan metode KLT
dengan 3 campuran fase gerak yang berbeda. Analisis kualitatif bertujuan untuk mengidentifikasi
adanya tambahan bahan kimia obat produk jamu pegal linu. Analisis kualitatif natrium diklofenak
dan fenilbutazon pada sediaan jamu merupakan uji identifikasi natrium diklofenak dan fenilbutazon
yang dimungkinkan terdapat dalam sediaan obat tradisional dapat dilakukan dengan metode KLT.
Sampel dapat memisah berdasarkan komponen-komponen senyawa dengan memilih fase gerak
yang sesuai. Pemisahan agar maksimal, Rf solute harus terletak antara 0,2-0,8 (Gandjar dan
Rohman, 2007).
Alasan pemilihan metode KLT adalah pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah
dibandingkan kromatografi kolom, peralatan yang digunakan lebih sederhana, banyak digunakan
untuk tujuan analisis dan KLT lebih fleksibel dalam pemilihan fase gerak.
Sampel yangdigunakan harus memiliki gugus yang dapat berfluorosensi di bawah sinar UV
pada panjanggelombang 254 nm sehingga saat dideteksi dibawah sinar UV bercak dapat terlihat
dan nilai Rfdapat dihitung.
Chamber/ bejana yang digunakan pada KLT harus dijenuhkan terlebih dahulumenggunakan
Vertas saring dan masing-masing pelarut. Cara menjenuhkan bejana ini adalahdengan melapisi
dinding bejana dengan kertas saring, lalu teteskan masing-masing pelarut dan biarkan
pelarut tersebut terserap sempurna oleh kertas saring. Tujuan dilakukannya penjenuhanini adalah

untuk menyamakan tekanan uap pelarut sehingga saat proses pemisahan, pelarut akannaik dalam
waktu yang bersamaan sehingga hasil yang didapat akan lebih akurat.

II. ANALISIS KANDUNGAN PARACETAMOL PADA JAMU SERBUK ASAM URAT NYERI
TULANG CAP GUNUNG KRAKATAU
Metode Analisis Identifikasi Parasetamol Dalam Jamu (MA PPOM No. 34/OT/93) yang
digunakan untuk pengujian rutin di Laboratorium Obat Tradisional PPOMN, verifikasi metode
dilakukan dengan menggunakan sampel yang telah diuji dan memberikan hasil negatif (tidak
mengandung parasetamol). Dilakukan uji spesifisitas dan penetapan batas deteksi secara
kromatografi lapis tipis (KLT), spektrofotometri UV dan kromatogafi cair kinerja tinggi (KCKT). Pada
uji spesifisitas ditambahkan baku pembanding lain yang mempunyai kemiripan sifat fisika, kimia
dan efek farmakologi dengan parasetamol.
Pada metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), fase diam Silika Gel 60 F254 (E.Merck) dan fase
gerak kloroform : aseton : amonium hidroksida 25% (8 : 2 : 0,1) dengan panjang gelombang 260
nm.. Untuk KCKT digunakan fase gerak aquabidest : metanol (1: 3).
Alat
a. KLT
Sinar UV, erlenmeyer, gelas ukur, pipet volume, chamber.
b. KCKT
HPLC Shimadzu Tipe LC-10 AD, ultra sonic branson, membran filter berukuran 0,45
m dan 0,5 m, gelas ukur 1000 mL dan 50 mL, pipet volume, labu ukur, neraca analitis,
pompa vacum, aluminium foil, kertas saring Whatman, corong, syringe injector.
c. Spektrofotometri
Spektrofotometer UV, neraca analitik , spatula, labu ukur, pipet volume, batang
pengaduk, corong gelas, beaker glass.

Bahan

a. KLT
Sampel, parasetamol murni, kloroform, aseton, amonium hidroksida 25%.
b. KCKT
Sampel, baku pembanding, metanol, aquabidest.
c. Spektrofotometri
Metanol, aquabidest

A. KLT
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Dibuat sampel pengenceran dan fase gerak.
3. Dijenukan chamber.
4. Ditotolkan smpel dan baku pembanding pada silika gel.
5. Dimasukkan dalam sinar UV.
6. Diamati.
B. KCKT
1. Pembuatan Larutan Fase Gerak Aquabidest : Metanol 3 : 1
a. Dibuat campuran aquabidest dan metanol (3:1).
b. Disaring dengan penyaring membran filter berukuran 0,5 m kemudian diawaudarakan
dengan disonikasi.
2. Pembuatan Larutan Baku
a. Ditimbang 10,1 mg baku pembanding paracetamol BPFI.
b. Dimasukkan ke dalam lbu ukur 100 mL.
c. Ditambah 50 mL fase gerak.

d. Disonikasi selama 10 menit.


e. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda.
f. Dihomogenkan.
g. Dipipet sebanyak 1 mL.
h. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL.
i. Ditambahkan 50 mL fase gerak.
j. Disonikasi selama 5 menit.
k. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda.
l. Dihomogenkan.
m. Disaring dengan membran filter berukuran 0,45 m.
3. Pembuatan Larutan Sampel
a. Dipipet 2 mL larutan sampel.
b. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL.
c. Ditambahkan 50 mL fase gerak.
d. Disonikasi selama 10 menit.
e. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda.
f. Dihomogenkan.
g. Dipipet sebnyak 2 mL.
h. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL.
i. Ditambahkan 50 mL fase gerak.
j. Disonikasi selama 5 menit.
k. Diencerkan dengan fase gerak sampai garis tanda.
l. Dihomogenkan.
m. Disaring dengan membran filter berukuran 0,45 m
4. Cara Penetapan

a. Dialirkan fase gerak dengan menggunakan pompa dengan laju alir 1,5 mL per menit ke
dalam kolom yang berisi fase diam oktadesilsilana.
b. Kemudian disuntikkan secara terpisah larutan baku dan larutan sampel paracetamol ke
dalam Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan volume penyuntikan masing-masing 2 L.
c. Pemisahan zat aktif terjadi emlalui mekanisme kromatografi.
d. Hasil pemisahan dibaca oleh detektor dengan panjang gelombang 243 nm.
e. Dicatat di recorder.
f. Dihitung luas area puncak utama masing-masing larutan baku dan larutan dan larutan
sampel.
C. Spektrofotometri
a. Membuat larutan standar (15 mg/L)
Pembuatan larutan standar didasarkan nilai E 1%1cm parasetamol dalam air
adalah 715 sehingga untuk memberi absorbansi 0,2-0,8dibutuhkan konsentrasi 0,015
sampai dengan0,054. Penimbangan minimal 10 mg sehingga untuk awalnya 15 mg
paracetamol standardilarutkan dalam 10 ml metanol, kemudian ditambahkan aquades
hingga 100 mlkemudian disaring. Lalu dipipet 1 ml di add 10 ml sehingga diperoleh
konsentrasi 15ppm. Kemudian dipipet kembali 1 ml di add 10 ml dan diperoleh konsentrasi
1,5 ppm.
b. Pembuatan kurva baku kadar
Baku standar paracetamol ditentukan dengan membuat kurva kalibrasi regresilinier
antara absorbansi larutan dengan konsentrasi paracetamol dengan kadar bertingkat.Dari
larutan dengan konsentrasi 1,5 ppm diambil 1 ml di add 10 ml dan diperoleh 0,15ppm
kemudian diambil 1 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,015 ppm, 2 ml add 10 mluntuk
konsentrasi 0,03, 3 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,045.Dari larutan konsentrasi 1,5 ppm
diambil 3 ml ad 25 ml diperoleh konsentrasi 0,18 ppm.Lalu dari larutan tersebut diambil 2
ml ad 10 ml dengan konsentrasi 0,036 ppm dan jugadiambil 3 ml ad 10 ml dengan

konsentrasi 0,054 ppm. Dari konsentrasi 0,054 ppmdiambil 5 ml ad 10 ml dengan


konsentrasi 0,027 ppm.
c. Menetapkan panjang gelombang maksimum
Dari larutan dengan konsentrasi 1,5 ppm diambil 1 ml di add 10 ml dan diperoleh
0,15ppm kemudian diambil 2 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,03 dan dibaca
absorbansinyapada panjang gelombang 190-380 nm .
d. Preparasi sampel
Serbuk dilarutkan dalam 10 ml methanol kemudian ditambah aquades sampai
diperoleh volume100 ml. Lalu dipipet 1 ml di add 10 ml sehingga diperoleh konsentrasi 15
ppm.Kemudian dipipet kembali 1 ml di add 10 ml dan diperoleh konsentrasi 1,5 ppm.
Darilarutan dengan konsentrasi 1,5 ppm diambil 1 ml di add 10 ml dan diperoleh 0,15
ppmkemudian diambil 2 ml add 10 ml untuk konsentrasi 0,03 ppm. Selanjutnya sampel
dibaca absorbansinya pada spektrofotometer dan dilakukan penghitungan kadar
parasetamol.