You are on page 1of 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keadaan kurang gizi pada bayi dan balita disebabkan karena
kebiasaan pola pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat,
ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan pada bayi serta adanya
kebiasaan yang merugikan kesehatan. Hal-hal ini secara langsung
menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak,
khususnya pada anak usia dibawah 2 tahun (Depkes RI, 2009)
Prevalensi sangat kurus pada anak balita secara nasional tahun 2013
masih

cukup

tinggi

yaitu

5.3%,

meskipun

terdapat

penurunandibandingkan tahun 2010 (6,0%) dan tahun 2007 (6,2%).


Prevalensi kurus sebesar 6.8%juga menunjukkan adanya penurunan dari
7,3% (tahun 2010) dan 7,4%(tahun 2007). Secara keseluruhan prevalensi
anak balita kurus dan sangat kurus menurun tetapi masih ditemukan
prevalensi balita kurus dan sangat kurus sebesar 12,1 % pada tahun
2013(Depkes, 2013). Berdasarkan hasil pemantauan status gizi balita
tahun 2012 di Jawa Tengah, Balita Gizi Buruk tahun 2012 berjumlah
1.131 (0.06%) menurun apabila dibandingkan tahun 2011 sejumlah 3.187
(0,10%) (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2012).
UNICEF(United Nation Childens Fund) dan WHO (World Health
Organization) membuat rekomendasi pada ibu untuk menyusui eksklusif
selama 6 bulan kepada bayi, sesudah usia6 bulan bayi baru dapat
diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan ibu tetap
memberikan ASI sampai 2anak berumur minimal 2 tahun. Pemerintah
Indonesiamelalui kementerian kesehatan juga merekomendasikan para
ibu untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayi (Depkes,
2013).Program perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan
mutu MP-ASI. Selama ini sudah dilakukan pemberian MP -ASI kepada
bayi dan anak dari keluarga miskin, secara umum terdapat dua jenis MP-

ASI yaitu hasil pengolahan pabrik dan yang diolah di rumah tangga
(Depkes, 2013).
Berdasarkan Survai Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)2012
yang mengumpulkan data tentang pemberian makanan pada bayi untuk
semua anak terakhir yang dilahirkan ibu dalamkurun waktu dua tahun
sebelum survey bahwa hanya 27 %bayi umur 4-5 bulan mendapat ASI
ekslusif (tanpa tambahan makanan atau minuman lain selain ASi)8 %bayi
pada umur yang sama diberi susu lain dan 8 %diberi air putih. Pemberian
ASI eksklusif kepada bayi berusia 4-5 bulan dalam SDKI 2012 lebih
tinggi dibandingkan dengan hasil SDKI 2007 (masing-masing 27 %dan
17 %).
Status gizi adalah salah satu indikator kesehatan yang penting dalam
penilaian statuskesehatan masyarakat untuk mencapai status gizi yang
baik tidak mudah, ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi status
gizi sepertiekonomi, pengetahuan orang tuadan sosial budaya (Almatsier,
2001).
Makanan pendamping ASI disesuaikan dengan perkembangan dan
pertumbuhan bayi menurut umur bayi apabila pemberian makanan
tambahan diberikan kurang dari 6 bulan mengakibatkan dampak negatif
terhadap kesehatan bayi seperti penurunan berat badan balita, bayi
menjadi mudah terkena penyakit pada saluran pencernaan seperti bayi
mudah diare bahkan dapat meningkatkan angka kematian bayi (Istiany,
2013). Tingkat pendidikan ibu menjadi salah satu indikator untuk
mengetahui tingkat pengetahuan gizi ibu, semakin tinggi tingkat
pendidikan ibu maka semakin mudah bagi ibu untuk memahami
informasi

giziyang

didapatkan

dibandingkan

dengan

ibu

yang

berpendidikan rendah (Notoadmojo, 2007).


Pengetahuan akan menentukan prilaku seseorang, secara rasional
seorang ibu yang memiliki pengetahuan tinggi tentu akan berfikir lebih
dalam bertindak, dia akan memperhatikan akibat yang akan diterima bila
dia bertindak sembarangan, dalam menjaga kesehatan bayinya terutama
dalam pemberian makanan pendamping ASI yang tepat seorang ibu

dituntut memiliki pengetahuan yang tinggi sehingga pemberian makanan


pendamping ASI terlalu dini dapat dicegah(Notoadmojo, 2007).
Pekerjaan yang berhubungan dengan pendapatan merupakan faktor
yang paling menentukan kualitas dan kuantitas makanan terdapat
hubungan yang erat antara pendapatan yang meningkat untukperbaikan
kesehatan dan masalahkeluarga yang berkaitan dengan keadaan gizi
(Suharjo, 2003).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatasmaka rumusan masalahnya sebagai
berikut: yaitu, apakah terdapat hubungan antara kondisi pasien yang
menderita Gizi kurang dengan pengaruh pengetahuan, lingkungan sosial
ekonomi ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara kondisi pasien yang menderita
gizi kurang dengan pengaruh dari lingkungan sosial dan ekonomi,
pelayanan kesehatan yang tersedia, dan lingkungan
2. Tujuan Khusus
Untuk mengdentifikasi pasien sesuai yang ditetapkan pada

Puskesmas.
Untuk mengidentifikasi kehidupan pasien dalam keluarga melalui

APGAR.
Untuk mengidentifikasi faktor sosial ekonomi pasien melalui

SCREEM.
Untuk mengidentifikasi faktor keturuna pasien melalui Genogram
Untuk mengindentifikasi faktor pelayanan kesehatan yang tersedia
Untuk mengidentifikasi perilaku pasien sebagai penderita gizi

kurang.
Untuk mengidentifikasi faktor lingkungan (fisik, sosial-ekonomi,

dsb.)
D. Manfaat
1. Manfaat bagi Pasien dan Keluarganya

Dapat meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dan

keluarganya
Dapat meningkatkan kebutuhan dan tuntutan kesehatan pada

pasien.
Dapat meningkatkan kepuasan pasien untuk mendapat pelayanan

semaksimal mungkin.
2. Manfaat bagi Pelayanan Kesehatan
Memudahkan pelayanan kesehatan dalam mewujudkan program

pelayanan dalam fokus layanan primer


Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang terintegrasi dengan

pendekatan secara komunitas.


3. Manfaat bagi Puskesmas
Meningkatkan mutu pelayanan puskesmas khususnya dalam fokus

terpadu pada pasien


Membantu Kinerja puskesmas dalam capaian program upaya
program pemberantasan penyakit menular khususnya Pada
penyakit gizi kurang.

BAB II
HASIL KUNJUNGAN
A. Identifikasi pasien
1. Identitas Pasien
Nama

:An. M.D

Umur

:2 tahun

Jenis kelamin

:Laki-laki

Pekerjaan

:Belum bekerja

Pendidikan

:Belum Sekolah

Agama

:Islam

Alamat

:Prasung Tambak RT.10 RW.04

Suku

:Jawa

Tanggal periksa :31 Maret 2016


2. Anamnesa
a. Keluhan Utama : Kurus
b. Riwayat Penyakit Sekarang : ibu pasien mengeluh pasien berat
badan naik sejak setelah pasien opname di RS H karena demam
tinggi dan diare saat itu pasien berumur 3 bulan, sampai sekarang
pasien rutin timbang berat badan di posyandu setiap 1 bulan sekali,
dan tiap 10 hari pasien kontrol ke puskesmas untuk di pantau
kenaikan berat badannya.
c. Riwayat Penyakit Dahulu:

Pernah MRS di RS H saat umur 3 bulan dikarenakan panas


tinggi disertai batuk

Riwayat Imunisasi

: lengkap

: sering gatal-gatal di sekitar tubuh

Riwayat alergi
pasien

d. Riwayat Obat
Pasien minum obat dari puskesmas jika terserang penyakit
seperti gatal, diare, dan pasien mendapat susu dan vitamin dari
puskesmas tiap 10 hari sekali
e. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga dengan penyakit serupa

Riwayat hipertensi

: Disangkal

Riwayat sakit gula

: Disangkal

f. Riwayat kehamilan ibu

: Disangkal

Ibu pasien hamil saat usia 42 tahun, melahirkan di RS dengan cara


SC akibat persalinan lama, BBL : 2500 gram
g. Riwayat Kebiasaan

Riwayat olah raga

: pasien termasuk anak yang

aktif
h. Riwayat Sosial Ekonomi
Penderita adalah anak ke pertama dari Tn H, dimana anak hasil
dari pernikahan kedua Ny S ibu pasien, ayah An D adalah seorang
kuli batu, setiap harinya digaji 80.000 jadi sebulan gaji ayah pasien
240.000,00. Gaji yang diperoleh digunakan untuk biaya sekolah
anak dan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,
sehingga ayah pasien dan keluarga harus sering mengirit.
Kondisi tempat tinggal pasien termasuk tidak sehat. Pasien
tinggal sekamar dengan ibu, ayah dan kakaknya, dengan
menggunakan tempat tidur berukuran 120 cm. Ventilasi di kamar
pasien tergolong kurang. Hanya ada satu jendela dibagian samping
dengan ukuran 1 meter x 0,5 meter. Terdapat 1 kamar mandi di

belakang ruang tamu, kondisi kamar mandi pasien kurang rapi.


Terdapat satu kamar lagi yang digunakan dapur oleh ibu pasien.
i. Riwayat Gizi.
Pasien sehari-hari rutin makan 3 kali sehari. Pasien biasanya
mengonsumsi makanan dengan porsi cukup dengan nasi, lauk pauk
seperti tahu, tempe, kerupuk dan sayuran seperti sayur bayam, sup
dan sayur lodeh. Lauk yang dimakan biasanya dengan cara
digoreng. Pasien jarang mengkonsumsi buah.
Gizi pasien termasuk sangat kurus, pasien teratur timbang ke
posyandu setiap 1 bulan sekali dan setiap 10 hari sekali pasien ke
puskesmas untuk kontrol dan mendapat susu dan vitamin
tambahan.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Tampak sakit ringan, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6),
status gizi sangat kurus.
b. Tanda Vital dan Status Gizi
Tanda Vital
Nadi :
84 x/menit, reguler, isi cukup, simetris
Pernafasan : 22 x/menit
Suhu :

36,5 oC

Tensi :

100/80 mmHg

Status gizi ( Kurva NCHS ) :


BB

8,3 kg

TB

73 cm

IMT =

BB

= 8,3 = 19,53

(TB)2 (0,73) 2
BMI 18,5 23,9

= Normal

BMI 25 26,9

= Gemuk (gizi lebih)

BMI 27

= Obesitas

Status gizi

gizi kurang

c. Kulit
Warna

: sawo matang, ikterik (-), sianosis (-)

Kepala

: Bentuk simetris, tidak ada luka, rambut tidak mudah

dicabut, atrofi m. temporalis(-), makula (-), papula (-), nodula


(-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-)
d. Mata
Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm),
reflek kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman), katarak (-/-),
radang/conjunctivitis/uveitis (-/-)
e. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung
(-), hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)
f. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-),
tepi lidah hiperemis (-), tremor (-)
g. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-),
cuping telinga dalam batas normal
h. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
i. Leher
JVP tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid
(-), pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-)
j. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
-Cor :I : ictus cordis tak tampak

P : ictus cordis tak kuat angkat


P : batas kiri atas

:SIC II 1 cm lateral LPSS

batas kanan atas

:SIC II LPSD

batas kiri bawah

:SIC V 1 cm lateral LMCS

batas kanan bawah :SIC IV LPSD


batas jantung kesan tidak melebar
A: BJ III intensitas normal, regular, bising (-)
-Pulmo

: (depan dan belakang)

I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri


P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
whezing (-/-)
k. Abdomen
I : dinding perut sejajar dengan dinding dada
P : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
P : timpani seluruh lapang perut
A : peristaltik (+) normal
l. Sistem Collumna Vertebralis
I : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P : nyeri tekan (-)
P : NKCV (-)
m. Ektremitas: palmar eritema(-/-) hiperemi pada jari (-)

akral hangat (+/+)


n. Sistem genetalia: dalam batas normal
o. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur

: dalam batas normal

Fungsi Vegetatif

: dalam batas normal

Fungsi Sensorik

: dalam batas normal

Fungsi motorik

p. Pemeriksaan Psikiatrik
Penampilan : sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran

: kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis

Afek

: appropriate

Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : bentuk :realistik

Insight

isi

:waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)

arus

:koheren

: baik

4. Diagnosis
Anak dengan gizi kurang
B. APGAR SCORE
1. ADAPTATION
Pasien belum dapat dilibatkan dalam memecahkan masalah dalam
keluarga berhubung usia pasien masih terlalu kecil untuk tahu masalah
di dalam keluarganya.
Orang tua pasien selalu memberikan motivasi dan dukungan pada
pasien terutama ketika pasien sakit dan harus mendapat pengobatan
teratur seperti setiap 10 hari harus pergi ke puskesmas untuk

memantau berat badan pasien. Akan tetapi sejauh ini penyakit pasien
tidak terlalu mengganggu orang tua pasien.
2. PARTNERSHIP
An. D adalah anak kedua dari Tn H, sehingga kesembuhan An. D
sangatlah penting untuk keluarga. Setiap masalah yang dihadapi oleh
keluarga pasien tidak selalu di diskusikan oleh orang tua pasien untuk
mencari penyelesaian dari masalah tersebut.
3. GROWTH
Walaupun An D sedang sakit tapi orang tua pasien mengaku tidak
terlalu mengganggu keaktifan pasien, pasien masih bisa aktif bermain
dengan sekelilingnya, pasien masih belajar untuk berbicara hanya beberapa
kata yang baru di katakan pasien seperti bapak.
4. AFFECTION
Hubungan kasih sayang antara pasien dan keluarganya terbilang cukup
baik, walau pun dalam keadaan sakit pasien tetap mendapat perhatian penuh
oleh keluarganya.
5. RESOLVE
An. D masih dapat sering menghabiskan waktu bersama keluarganya
terutama ibu pasien yang selalu mearawat pasien di rumah dan ke
puskesmas.
APGAR Tn. MT Terhadap Keluarga
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P

Sering Kadang Jarang/tida


/selalu -kadang k

Saya puas dengan cara keluarga saya


membahas dan membagi masalah dengan
saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya

menerima dan mendukung keinginan saya


untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan


saya membagi waktu bersama-sama

Total poin 9 fungsi keluarga dalam keadaan baik


APGAR Ny. S Terhadap Keluarga

Sering Kadang Jarang/tida


/selalu -kadang k

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke


keluarga saya bila saya menghadapi
masalah

Saya puas dengan cara keluarga saya


membahas dan membagi masalah dengan
saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya


menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya


mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan


saya membagi waktu bersama-sama

Total poin 10 keluarga dalam keadaaan baik


Total poin APGAR keseluruhan dari keluarga Tn.A adalah 19, sehingga
rata-rata APGAR dari keluarga adalah 9,5 yang menunjukkan hubungan
keluarga pasien dalam keadaan baik.

C. SCREEM

SUMBER

PATHOLOGY

KET

Sosial

Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga,


walaupun pasien masih balita belum mengerti baik dan
buruk, dan belum lancar dalam berbicara.

Cultural

Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini


dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam
keluarga maupun di lingkungan.Menggunakan bahasa
jawa, tata krama dan kesopanan santun

Religius

Pasien menganut Agama Islam, pasien dan keluarganya


mengaku taat dalam menjalankan Sholat .

Ekonomi

Ekonomi keluarga ini tergolong menengah kebawah, tapi


semua kebutuhan primer keluarga masih dapat dipenuhi
dengan mengirit sehingga kebutuhan nutrisi pasien kadang
belum terpenuhi

Edukasi

Tingkat pendidikan keluarga kurang,

Medical

Jika salah satu dari anggota keluarga sakit biasanya


mereka pergi kepuskesmas. Keluarga jarang pergi ke
praktek umum, akan tetapi sejauh ini hanya pasien saja
yang pernah berobat ke puskesmas, anggota keluarga lain
belum pernah sakit sampai harus ke puskesmas.

D. Genogram
Alamat lengakap : Desa Prasung Tambak RT 10/RW 04
Bentuk keluarga : Nuclear family
Diagram 1. Genogram Keluarga An. M.D
A

III

II

Keterangan :
A

: Ayah pasien

: Ibu pasien

: anak pertama beda ayah ikut dengan pamannya

Ii

: anak kedua beda ayah

III

: pasien

E. Faktor Pelayanan Kesehatan


Menurut ibu pasien, rumah pasien pernah mendapat penyuluhan
tentang gizi seimbang berupa makanan tambahan untuk balita, dan cara
konsumsi makanan yang baik
F. Perilaku pasien
1. Faktor Perilaku Keluarga
Yang dimaksud dengan sehat oleh keluarga ini adalah terhindar
dari penyakit. Keluarga ini sangat mengetahui bahwa kesehatan sangat
lah penting, dengan tubuh yang sehat mereka dapat melakukan
aktifitas dan pekerjaan secara optimal. Cara menjaga kesehatan
menurut keluarga ini adalah dengan makan-makanan yang sehat dan
bersih, istirahat yang cukup. Walau pun makanan keluarga ini
terbilang sederhana tapi keluarga ini berusaha memasak sendiri agar
tidak membeli makanan sembarangan. Tapi sayangnya keluarga ini
tinggal di daerah padat rumah, sehingga udara yang masuk kurang dan
atap rumah pasien yang terbuat dari asbes jika siang rumah menjadi
sangat panas dan gerah, terkadang ibu pasien membawa pasien ke
rumah tetangganya karena di rumah sangat panas.
Di rumah yang mereka tempati terdapat ruang tamu, satu kamar
tidur, satu ruangan untuk dapur, dan satu kamar mandi. Bila mereka
ingin mandi atau pun BAB mereka harus menggunakan air tandon
yang diambil dari sumur, jika musim panas mereka harus ikut mandi
di rumah tetangga karena air sumur surut.

2. Faktor Non Perilaku


Dilihat dari segi ekonomi keluarga ini termasuk menengah
kebawah, terlebih kondisi rumah yang kurang sehat. Dimana kamar
tidur yang sempit untuk ditempati empat orang, ventilasi yang kurang,
dan kamar mandi yang kurang bersih. Walau pun keluarga ini sangat
tau arti nya kesehatan tapi jika tidak didukung dengan fasilitas yang
memadai maka kesehatan itu sendiri mungkin tidak dapat tercapai
dengan sempurna.

G. Faktor Lingkungan Pasien


1. Gambaran Lingkungan
Pasien dan keluarga tinggal di sebuiah rumah yang memiliki ukuran
8 meter x 8 meter. Rumah ini memiliki ruang tamu, satu kamar tidur,
sebuah kamar mandi dan ruangan untuk dapur. Ventilasi disetiap kamar
sangat minim, hanya ada satu jendela yang berukuran 1 meter x 0,5
meter. Lantai tersusun dari lantai keramik dan atap rumah tersusun dari
asbes sehingga pada siang hari tersa sangat panas di dalam rumah.
Depan, belakang, samping kanan kiri rumah pasien adalah rumah
tetangga pasien, jika ingin ke rumah pasien kendaraan di taruh di depan
gang rumah pasien jaraknya kira-kira 1 meter. Jika ingin mandi pasien
bisanya menggunakan air tandon yang diambil dari sumur. Kebersihan
rumah pasien sangat kurang bersih.
2. Denah Rumah

DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN


(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada
dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
Faktor Genetik :
(-)

An. D GIZI
KURANG

Faktor
Lingkungan:

Sosial
Ekonomi
bawah.
Lingkungan
rumah yang
padat dan

Faktor Pelayanan
Kesehatan:

Faktor Perilaku:

Ibu belum
menerapkan
penuh tentang
MP-ASI dan
gizi seimbang

Edukasi kurang
mengenai gizi
seimbang

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pembahasan Permasalahan yang ditemukan
1. Masalah aktif :
a. Gizi kuang
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan
yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi,
transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat
yang tidak dipergunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta
menghasilkan energi. (Proverawati, 2009)
Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan
atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk
pertumbuhan,

aktivitas

berfikir

dan

semua

hal

yang

berhubungan dengan kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif


bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak terjadi
pada anak usia kurang dari 5 tahun. (Afriyanto, 2010)
Gangguan kesehatan yang disebabkan kekurangan dan
ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan asupan dan
protein. (Rahardjo, 2012)
Penyelesaian :
Penanggulangan masalah gizi kurang perlu dilakukan secara
terpadu antar departemen dan kelompok profesi, melalui upayaupaya peningkatan pengadaan pangan, penganekaragaman produksi
dan

konsumsi

pangan,

peningkatan

status

sosial

ekonomi,

pendidikan dan kesehatan masyarakat, serta peningkatan teknologi


hasil pertanian dan teknologi hasil pangan. Semua upaya ini
bertujuan untuk memperoleh perbaikan pola konsumsi pangan
masyarakat yang beraneka ragam dan seimbang dalam mutu gizi.
(Almatsier, 2009)
Upaya penanggulangan masalah gizi kurang antara lain :
a) Upaya pemenuhan persediaan pangan nasional

b) Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga


c) Peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan
d) Peningkatan upaya keamanan panganan dan gizi
e)

Peningkatan komuikasi, informasi dan edukasi dibidang


pangan dan gizi masyarakat

f)

Peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan


berbagai produk pangan yang bermutu

g) Pemberian makanan tambahan (PMT)


h) Peningkatan kesehatan lingkungan
2. Faktor resiko :
a. Edukasi kurang mengenai gizi seimbang
Gizi Seimbang adalah susunan makanan seharihari yang
mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai
dengan

kebutuhan

keanekaragaman

tubuh, dengan

atau

variasi

memerhatikan

makanan,

aktivitas

prinsip
fisik,

kebersihan, dan berat badan (BB) ideal (Koalisi Fortifikasi


Indonesia, 2011).
Bahan makanan yang dikonsumsi anak sejak usia dini
merupakan fondasipenting bagi kesehatan dan kesejahteraannya
di masa depan. Dengan kata lain,kualitas sumber daya manusia
(SDM) hanya akan optimal, jika gizi dan kesehatanpada
beberapa tahun kehidupannya di masa balita baik dan seimbang.
SDMberkualitas inilah yang akan mendukung keberhasilan
pembangunan nasional disuatu negeri.
Penyelesaian :
Menurut Koalisi Fortifikasi Indonesia dalam Wahyuningsih
2011, PGS memperhatikan 4 prinsip, yaitu:
a) Variasi makanan;
b) Pedoman pola hidup sehat;
c) Pentingnya pola hidup aktif dan olahraga;
d) Memantau berat badan ideal.
Prinsip Gizi Seimbang adalah kebutuhan jumlah gizi
disesuaikan dengan golongan usia, jenis kelamin, kesehatan,
serta aktivitas fisik. Tak hanya itu, perlu diperhatikan variasi

jenis makanan. Bahan makanan dalam konsep gizi seimbang


ternbagi atas tiga kelompok, yaitu:
a) Sumber energi/tenaga: Padi-padian, umbi-umbian, tepungtepungan, sagu, jagung, dan lain-lain.
b) Sumber zat Pengatur: Sayur dan buah-buahan
c) Sumber zat pembangun: Ikan, ayam, telur, daging, susu,
kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tempe, tahu,
oncom,susu kedelai (Candra, 2013)
b. Ibu belum menerapkan penuh tentang MP-ASI dan gizi
seimbang

Penyelesaian :
c. Sosial Ekonomi bawah.
Banyaknya anak balita yang kurang gizi dan gizi buruk di
sejumlah wilayah di tanah air disebabkan ketidaktahuan orang
tua akan pentingnya gizi seimbang bagi anak balita yang pada
umumnya disebabkan pendidikan orang tua yang rendah serta
faktor kemiskinan. Kurangnya asupan gizi bisa disebabkan oleh
terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya
tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial
ekonomi yaitu kemiskinan. Faktor karakteristik keluarga yang
menjadi pertimbangan dan dapat mempengaruhi hasil adalah
pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan ibu. (Rahardjo,
2012)
Penyelesaian :
Memberikan pengetahuan tentang bagaimana cara mendapatkan gizi
seimbang walaupun dengan pendapatan yang minim.
d. Lingkungan rumah yang padat dan kurang bersih
Masalah gizi timbul tidak hanya karena dipengaruhi oleh
ketidak seimbangan asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi
oleh penyakit infeksi. Masalah kesehatan lingkungan merupakan

determinan penting dalam bidang kesehatan. Kesehatan


lingkungan yang baik seperti penyediaan air bersih dan perilaku
hidup bersih dan sehat akan mengurangi resiko kejadian
penyakit infeksi. Sebaliknya,lingkungan yang buruk seperti air
minum tidak bersih, tidak ada saluran penampungan air limbah,
tidak menggunakan kloset yang baik dapat menyebabkan
penyebaran penyakit. Infeksi dapat20 menyebabkan kurangnya
nafsu makan sehingga menyebabkan asupan makanan menjadi
rendah dan akhirnya menyebabkan kurang gizi
Penyelesaian :
Memberikan edukasi mengenai kebersihan lingkungan yang
berpengaruh terhadap sumber penyakit, selalu membersihkan
lingkungan rumah setiap hari, menjaga kebersihan makanan,
penyimpanan samapi penyajian makanan.
B. Intervensi dalam bentuk Giant Charrt
Tabel Prioritas Jalan Keluar
No
1

Masalah
M

Efektivitas
I

Efesiensi
C

Hasil
P = MxIxV
C
26,7

20

ekonomi

7,2

Lingkungan rumah

20

Edukasi kurang
mengenai gizi
seimbang

Ibu

belum

menerapkan penuh
tentang

MP-ASI

dan gizi seimbang


3

Sosial
rendah

yang

padat

dan

kurang bersih

Keterangan :
P
: Prioritas jalan keluar
M
: Magnitude, besarnya masalah yang bisa diatasi apabila solusi ini
I
V
C

dilaksanakan (turunnya prevalensi dan besarnya masalah lain)


: Implementasi, kelanggengan selesainya masalah
: Vulnerability, sensitifnya dalam mengatasi masalah
: Cost, biaya yanga diperlukan

Rencana Kegiatan Pembuatan Edukasi kurang mengenai gizi seimbang


No.

Kegiatan

Sasaran

Target

Volume
Kegiatan

Pembentukan
Tim

Kader
puskesm
as

Terbentuk
kader

2
kali
seminggu

Penyusunan

Kader
dan
tenaga
puskesm
as

Terbentuk
rencana
program
edukasi

2
kali 1. melatih kader
seminggu
tentang edukasi
gizi seimbang
2. memberikan
materi
mengenai gizi
seimbang

Pelaksanaan

kader

Terlaksana
Sebulan 2 1. melakukan
program
kali
kunjungan ke
edukasi gizi
rumah-rumah
seimbang
2. mempromosika
kepada ibu
n lewat
dengan anak
posyandu dll
balita
3. melakukan
penimbangan
BB, TB pada

Rincian Kegiatan

Lokasi
Pelaksanaan

Tenaga
Pelaksanaan

Jadwal

puskesmas

Tenaga
puskesmas
khusunya
program gizi

Selasa dan
jumat

puskesmas

Kader
terpilih

1. Memilih kader

Posyandu,
kader
puskesmas,
rumah warga,
balai desa

yang Selasa dan


jumat

Minggu
pertama
dan ketiga

Kebutuhan
Pelaksanaan.
1. Konsumsi
2. Alat tulis
3. laptop
1.
2.
3.
4.

laptop
lcd
konsumsi
alat tulis

1. timbangan,
pengukur
tinggi badan
2. konsumsi
3. alat tulis
4. lcd
5. laptop
6. mix

balita
4. mengajarkan
cara mengelola
makanan yang
memenuhi gizi
seimbang
dengan
keuangan yang
minim
5. mengajarkan
cara
menyimpan
makanan yang
baik
4

Evaluasi

Kader

1.Penurunan
Sebulan
angka balita sekali
gizi kurang
2.Meningkatka
n
pengetahua
n
ibu
tentang gizi
seimbang
3.Ibu-ibu dapat
menerapka

1. Pengumpulan
laporan balita
dengan gizi
baik, kurang,
dan rendah
2. Mencari
kendala dalam
melaksanakan
program
edukasi

Puskesmas

Kader
dan Hari jumat
tenaga
mnggu ke
puskesmas
empat

1.
2.
3.
4.

Konsumsi
Lcd
Laptop
Alat tulis

n
dlm
kehidupan
sehari-hari

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1.

Segi Biologis :

An. D (8 tahun) menderita gizi kurang

Rumah dan lingkungan sekitar keluarga An. D tidak sehat.

2.

Segi Psikologis :

Hubungan antara anggota keluarga terjalin cukup akrab

Pengetahuan akan Gizi sudah cukup baik

Tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi susu dan vitamin yang


baik, mendukung untuk penyembuhan penyakit tersebut

Makanan yang kurang seimbang di karenakan keuangan yang


minim

3.

Segi Sosial :

4.

Tidak ada masalah dari segi sosial


Segi fisik :

Rumah dan lingkungan sekitar tampak kurang bersih.

B. Saran
1. Untuk masalah medis (Gizi kurang) dilakukan langkah-langkah :

Preventif : makan makanan bergizi seimbang sehari-hari, susu,


dan vitamin tambahan.

Promotif : edukasi penderita dan keluarga mengenai gizi dan


makanan penambah oleh petugas kesehatan atau dokter yang
menangani.

Kuratif

Rehabilitatif : mengembalikan kepercayaan diri keluarga pasien

: saat ini penderita memasuki pengobatan rawat jalan

sehingga pasien bisa sembuh.

2. Untuk masalah lingkungan tempat tinggal dan rumah yang tidak


sehat dilakukan langkah-langkah :
3. Promotif : edukasi penderita dan anggota keluarga untuk membuka
jendela tiap pagi, penggunaan genteng kaca, dan menjaga kebersihan
rumah dan lingkungan rumah. Lantai hendaknya dibersihkan.

DAFTAR PUSTAKA

Notoadmodjo, Soekidjo, 2007.


Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip
Dasar
. PT. Rineka Cipta, Jakarta. Diakses pada tanggal 14 Januari
2011.
http: //etd.eprints.ums.ac.id
departemen Kesehatan RI, 2013.
Standar Pemantauan Pertumbuhan Balita.
Jakarta. Diakses pada tanggal 14 Januari 2011. http:
//www.depkes.com
1. A.Aziz Alimul, Hidayat,. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk
Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.
2. A.Aziz Alimul, Hidayat,. 2011. Metode Penelitian Kebidanan dan
Teknik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika.
3. Afriyanto, (2010) Keperawatan Keluarga dengan Kurang Gizi
4. Ali Zaidin,. 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.
5. Arisman, MB,. 2007. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta. EGC
6. Atikah Proverawati,. 2009. Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan.
Yogyakarta : Nuha Medika.
7. Atikah Proverawati,. 2011. Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi
Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika.
8. Ayu Bulan Febry,. 2013. Ilmu Gizi untuk Praktisi Kesehatan.,
Yogyakarta : Graha Ilmu.
9. B. Sutomo,. 2010. Menu Sehat Alami untuk Batita dan Balita. Jakarta :
Demedia.
10. Bambang Swasto Sunuharjo,. 2009. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok.
Jakarta : Yayasan Ilmu Sosial.
11. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, (2009) Faktor faktor
yang
Mempengaruhi
Status
Gizi
Balita
http://.rajawana.com/artikel/kesehatan/334-2-faktor-faktor-yangmempengaruhi-status-gizi-balita. (Online) Diakses tgl 22 - 03 2013.
12. Depkes R.I (2007) Faktor - faktor yang Mempengarui Status Gizi,
Jakarta : Departemen Kesehatan.
13. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2012), Upah Minimum
Regional. Jombang. Disnakertrans.
14. Hanum Marimbi,. 2010. Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi
Dasar
Pada
Balita.,
Yogyakarta
:
Nuha
Medika.
http://www.dokteranak.net/arsip/keperawatan-keluarga-dengan-kuranggizi. (Online) Diakses tgl 13-05-2013.
15. Indah Nugraheni,. 2007. Siklus Akuntasi. Yogyakarta : Kanisius, edisi 6.

16. Kukuh Rahardjo,. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak
Prasekolah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
17. Mitayani,. 2010. Buku Saku Ilmu Gizi. Jakarta : Tim.
18. Nursalam,. 2011. Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
19. Profil Data Kesehatan RI,.2011. Prevalensi Status Gizi Balita
Berdasarkan Berat Badan per Umur (BB/U). Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.
20. Profil Dinas Kesehatan Jombang,. 2012. Status Gizi Balita Menurut
Jenis Kelamin. Dinas Kesehatan Jombang.
21. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur,. 2011. Status Gizi
Masyarakat. Dinas Kesehatan Jawa Timur.
22. Rahayu Widodo,. 2010. Pemberian Makanan, Suplemen dan Obat Pada
Anak. Jakarta : EGC.
23. Soediyono Reksoprayitno,. 2009. Ekonomi Makro. Badan Penerbit
Fakultas Ekonomi (BPFE) : UGM.
24. Soekidjo Notoatmodjo,. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta
: Rineka Cipta.
25. Sunita Almatsier,. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia.
26. Supariasa,. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC.
27. Syafrudin,. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC.
28. T. Gilarso,. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta :
Kanisius, edisi 5.
29. Waryana,. 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta : Pustaka Rihama.

You might also like