You are on page 1of 7

IX.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan pertama, yang bertujuan untuk mengetahui sifat
aluminium dan senyawanya. Langkah awal yang dilakukan sepotong kecil lempeng
aluminium berwarna perak dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 1
mL NaOH 1M (larutan tak berwarna) sehingga timbul gelembung gas pada
lempeng aluminium tersebut.

Timbulnya gelembung gas menunjukkan bahwa

aluminium bersifat reaktif terhadap NaOH sehingga menghasilkan gas H 2 yang


dibuktikan dengan adanya gelembung gas. Hal ini sesuai dengan persamaan reaksi
sebagai berikut:
2Al (s) + 2NaOH (aq) + 6H2O (l) 2NaAl(OH)4 (aq) + 3H2 (g)
Selanjutnya lempeng aluminium tersebut dicuci dengan menggunakan
aquades. Fungsi pencucian dengan aquades bertujuan untuk menghilangkan larutan
NaOH yang masih menempel pada lempeng aluminium agar tidak mempengaruhi
reaksi. Pada reaksi diatas terlihat bahwa unsur aluminium dapat membentuk
senyawa kompleks yaitu natrium tetrahidroksoaluminat yang jernih tak berwarna.
Kemampuan aluminium membentuk senyawa kompleks ini disebabkan oleh karena
muatan kation yang tinggi sehingga mampu mengakomodasi donasi pasangan
electron dari ligan. Hal ini diasosiasikan dengan relatif besarnya energi solvasi
(khususnya hidrasi dalam larutan air) yang berarti molekul air terikat (secara ikatan
koordinasi) cukup kuat pada kation hingga tidak mungkin dapat diabaikan sebagai
senyawa kompleks. Hal ini berbeda dengan kation dari logam-logam golongan IA
(alkali) dan IIA (alkali tanah) yang mempunyai energi hidrasi sangat lemah
sehingga dalam larutannya kurang tepat bila molekul air dipertimbangkan sebagai
ligan. Ion-ion aluminium membentuk garam-garam yang tak berwarna dengan
anion-anion yang tak berwarna.
Langkah selanjutnya yang dilakukan lempeng aluminium digosok-gosokkan
pada kapas yang telah dibasahi dengan larutan HgCl 2 (tak berwarna) sehingga
menghasilkan lempeng aluminium berwarna hitam. Hasil dari reaksi diatas adalah
logam Al menjadi lebih bersih dan mengkilat dengan meninggalkan noda
kecoklatan pada kapas kaca, dan setelah dikeringkan logam aluminium sangat
rapuh ini terbukti dengan adanya lempeng aluminium yang tergerus, lempeng
aluminium yang tergerus berwarna kecoklatan. Hal ini disebabkan karena Al

membentuk amalgam dengan Hg sehingga oksida yang menempel pada aluminium


menjadi tergerus. Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
2Al (s) + 3HgCl2 (aq) 2AlCl3 (aq) + 3Hg (aq)
Pada percobaan kedua, yang bertujuan untuk mengetahui sifat aluminium
dan senyawanya khususnya untuk mengetahui kereaktifan logam aluminium
terhadap larutan asam, basa, maupun garam. Langkah awal yang dilakukan yaitu
menyiapkan tiga tabung reaksi, pada tabung reaksi pertama dimasukkan 1 mL
larutan NaOH 0,1M (tak berwarna), pada tabung reaksi kedua dimasukkan 1 mL
larutan Na2S2O3 0,1M (tak berwarna) yang telah didihkan, dengan tujuannya adalah
apabila dalam keadaan dingin, maka tidak akan terlihat gelembung muncul dalam
larutan. Hal ini disebabkan karena aluminium tidak dapat langsung membentuk
ikatan dengan ion karbonat, dan pada tabung reaksi ketiga dimasukkan 1 mL
larutan HCl 0,1M (tak berwarna).
Selanjutnya pada masing-masing tabung reaksi dimasukkan sepotong kecil
lempeng aluminium berwarna perak. Pada tabung reaksi pertama larutan tetap tak
berwarna dan terdapat gelembung. Pada tabung reaksi kedua menghasilkan larutan
keruh dan terdapat gelembung gas (++). Sedangkan pada tabung reaksi ketiga
menghasilkan larutan keruh dan terdapat gelembung gas.
Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa sifat aluminium mudah
bereaksi dengan larutan asam, larutan basa, maupun larutan garam dengan tingkat
kereaktifan yang berbeda. Kereaktifan antara lempeng aluminium dengan larutan
asam, basa, maupun garam dibuktikan dengan keruhnya larutan dan timbulnya
gelembung gas. Gelembung gas yang dihasilkan merupakan gas hidrogen yang
dihasilkan pada masing-masing tabung reaksi. Persamaan reaksi yang terjadi pada
masing-masing tabung reaksi adalah sebagai berikut:

Tabung 1
2Al (s) + 2NaOH (aq) + 6H2O (l) 2NaAl(OH)4 (aq) + 3H2O (g)

Tabung 2
2Al (s) + 3Na2CO3 (aq) + 7H2O (l) 2NaAl(OH)4 (aq) + 3H2 (g) + CO2 (g)
Tabung 3
2Al (s) + 6HCl (aq) 2AlCl3 (aq) + 3H2 (g)

Dari percobaan ini dapat dilihat bahwa bahwa kelarutan dan kereaaktifan
logam aluminium dalam Na2CO3 panas > HCl > NaOH namun secara teoritis logam
aluminium cendering mudah larut pada NaOH > Na 2CO3 panas > HCl.
Ketidaksesuain antara hasil percobaan dengan teoritis akan kami bahas pada bagian
diskusi.
Pada percobaan ketiga, yang bertujuan untuk mengetahui sifat dari
senyawa aluminium. Langkah awal yang dilakukan yaitu larutan tawas (Al2(SO4)3
tak berwarna diuji dengan menggunakan kertas lakmus merah dan biru. Hasil yang
diperoleh yaitu kertas lakmus biru berubah menjadi merah dan kertas lakmus merah
tetap berwarna merah. Hal ini menunjukkan bahwa larutan Al2(SO4)3 sebagai salah
satu senyawaan aluminium bersifat asam. Karena lakmus biru aan berubah warna
menjadi merah adalam suasana asam dan lakmus merah akan tetap berwarna merah
jika dalam suasana asam, dan lakmus biru merupakan indikator asam. Hal ini
dikarenakan Al2(SO4)3 merupakan garam yang bersifat asam karena terbentuk dari
basa lemah dan asam kuat yaitu basa lemah Al(OH) 3 dan asam kuat H2SO4.
Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
2Al(OH)3 (aq) + 3H2SO4 (aq) Al2(SO4)3 (aq) + 6H2O (l)
Al2(SO4)3 (aq) + H2O (l) Al2(SO4)3 (aq) + H2O (l)
Pada percobaan keempat, yang bertujuan untuk mengetahui sifat dari
aluminium dan senyawanya. Langkah awal yang dilakukan yaitu memasukkan 1
mL larutan tawas (Al2(SO4)3 tak berwarna ke dalam tabung reaksi. Selanjutnya
menambahkan larutan NaOH 1 M yang jernih tidak berwarna tetes demi tetes
sampai semua endapan yang mula-mula terbentuk dapat larut kembali. Pada
penambahan 3 tetes NaOH sudah terbentuk endapan, yaitu endapan Al(OH) 3.
Reaksi dari kedua zat tersebut adalah :
Al2(SO4)3 (aq) + 6NaOH (aq) 2Al(OH)3 (s) + 3Na2SO4 (aq)
Endapan Al(OH)3 melarut saat penambahan NaOH berlebih tepatnya 27
tetes NaOH sehingga ion-ion tetrahidroksoaluminat terbentuk :
Al(OH)3 (s) + NaOH (aq) Na[Al(OH)4] (aq)

Setelah endapan larut dilakukan penambahan HCl 1M, pada penambahan 5


tetes HCl pekat kembali terdapat endapan. Reaksinya adalah
Na[Al(OH)4] (aq) + HCl (aq) Al(OH)3 (s) + 3H2O (aq) + NaCl (aq)
Dan larutan kembali jernih setelah penambahan 30 tetes HCl 1M. Reaksi
yang terjadi adalah:
Al(OH)3 (s) + 3HCl (aq) AlCl3 (aq) + 3H2O (l)
Dari percobaan tersebut, ternyata aluminium dapat bereaksi baik dengan
basa kuat (NaOH) membentuk aluminat maupun asam kuat (HCl) sehingga dapat
dikatakan bahwa aluminium bersifat amfoter.
Pada percobaan kelima, percobaan tidak dilakukan karena bahan yang
digunakan tidak tersedia dalam laboratorium.
X.

DISKUSI
Pada percobaan kedua yang bertujuan untuk mengetahui urutan kereaktifan
dan kelarutan logam aluminium terhadap larutan asam, basa, maupun garam. Dari
hasil percobaan yang kami lakukan dapat dilihat bahwa kelarutan dan kereaktifan
logam aluminium dalam Na2CO3 panas > HCl > NaOH, namun secara teoritis
logam aluminium cenderung mudah larut pada NaOH > Na 2CO3 panas > HCl.
Ketidaksesuain antara hasil percobaan dengan teoritis dimungkinkan karena
ketidaktelitian saat mengamati banyaknya gelembung yang terbentuk pada ketiga
tabung reaksi tersebut sehingga mempengaruhi hasil pengamatan.

XI.

KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang lakukan maka dapat disimpulkan beberapa
sifat dari logam aluminium dan senyawanya yaitu:
1.
2.
3.
4.

Logam aluminium bersifat reaktif.


Logam aluminium bertindak sebagai reduktor bila direaksikan dengan Hg.
Aluminium bersifat mudah larut dengan asam kuat.
Aluminium dalam senyawanya bersifat amfoter yaitu dapat bertindak sebagai

asam dan dapat bertindak sebagai basa.


5. Senyawa dari aluminium yaitu larutan tawas (Al2(SO4)3)yang biasa digunakan
untuk menjernihkan bersifat basa setelah diuji dengan kertas lakmus merah
dan biru.

XII.

TUGAS
1. Terangkan sifat amfoter aluminium berdasarkan percobaan yang anda lakukan !
Jawab :
Aluminium hidroksida merupakan zat amfoter dimana mampu melangsungkan
reaksi netralisasi baik dengan asam atau dengan basa(baik dengan ion hidrogen
maupun ion hidroksil). Misalnya dalam percobaan kami [Al2(SO4)3] bereaksi
dengan basa kuat yaitu NaOH, pada tetesaan 3 terbentuk endapan putih
Al(OH)3menurut reaksi :
Al(SO4)3 (aq) + 6 NaOH (aq) 2 Al(OH)3 (s) + 3 Na2SO4 (aq)
Setelah penambahan NaOH tetes demi tetes terus berlanjut hingga endapan
putih larut kembali, ditunjukkan dengan persamaan reaksi :
Al(OH)3 (s) + NaOH (aq) + HCl (aq) Na[Al(OH)4] (aq)
Hal ini menunjukkan bahwa aluminium dalam senyawanya yaitu Al(OH) 3
melangsungkan reaksi netralisasi dan menunjukkan sifat asamnya. Kemudian
larutan ini ditambah dengan HCl 0,1 M. Penambahan 5 tetes menyebabkan
terbentuk kembali endapan putih gelatin [Al(OH)3] :
Na[Al(OH)4] (aq) + HCl (aq) Al(OH)3 (s) + H2O (l) + NaCl (aq)
penambahan HCl dilanjutkan hingga endapan yang terbentuk larut kembali,
penambahan HCl dilanjutkan dan tidak terjadi lagi perubahan.
Al(OH)3 (s) + 3 HCl (aq) 2 AlCl3 (aq) + 3H2O (l)
Hal ini menunjukkan bahwa aluminium dalam senyawanya yaitu Al(OH) 3
melangsungkan reaksi netralisasi dan menunjukkan sifat basanya. Kemampuan
Al(OH)3 melakukan reaksi netralisasi atau dapat bersifat asam atau basa bila
direaksikan dengan basa kuat dan asam kuat merupakan alasan mengapa
Al(OH)3 disebut bersifat amfoter.

2. Tulislah persamaan reaksi yang terjadi pada percobaan-percobaan tersebut !


Jawab :
Percobaan 1
2Al (s) + 2 NaOH (aq) + 6 H2O (l) 2 NaAl(OH)4 (aq) + 3 H2 (g)

2 Al (s) + 3 HgCl2 (aq) 2 AlCl3 (aq) + 3 Hg (aq)


Percoban 2
Tabung 1
2Al (s) + 2 NaOH (aq) + 6 H2O (l) 2 NaAl(OH)4 (aq) + 3 H2 (g)
Tabung 2
2Al (s) + 3 Na2CO3 (aq) + 7 H2O (l) 2 NaAl(OH)4 (aq) + 3 H2 (g) + CO2 (g)
Tabung 3
2Al (s) + 6 HCl (aq) 2 AlCl3 (aq) + 3 H2 (g)
Percobaan 3
Al(SO4)3 (s) + H2O (l) Al2(SO4)3 (aq)
Percobaan 4
Al(SO4)3 (aq) + 6 NaOH (aq) 2 Al(OH)3 (s) + 3 Na2SO4 (aq)
Al(OH)3 (s) + NaOH (aq) + HCl (aq) Na[Al(OH)4] (aq)
Na[Al(OH)4] (aq) + HCl (aq) Al(OH)3 (s) + H2O (l) + NaCl (aq)
Al(OH)3 (s) + 3 HCl (aq) 2 AlCl3 (aq) + 3H2O (l)
Percobaan 5
Al2(SO4)3 (aq) + 3(NH4)2S (aq) + 6H2O (l) 2Al(OH)3 (s) + 3H2S (g) +
3(NH4)2SO4 (aq)
Al(OH)3 (s) + NaOH (aq) Na[Al(OH)4] (aq)
3. Jelaskan kegunaan aluminium !
Jawab :
Beberapa penggunaan aluminium antara lain :
Sektor industri otomotif, untuk membuat bak truk dan komponen kendaraan
bermotor.

Untuk membuat badan pesawat terbang.


Sektor pembangunan perumahan;untuk kusen pintu dan jendela.
Sektor industri makanan ,untuk kemasan berbagai jenis produk.
Sektor lain, misal untuk kabel listrik, perabotan rumah tangga dan barang

kerajinan.
Membuat termit, yaitu campuran serbuk aluminium dengan serbuk besi
(III) oksida, digunakan untuk mengelas baja ditempat, misalnya untuk
menyambung rel kereta api.

Beberapa senyawa Aluminium juga banyak penggunaannya, antara lain :

Tawas (K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O)

Tawas mempunyai rumus kimia KSO4.Al2.(SO4)3.24H2O. Tawas digunakan

untuk menjernihkan air pada pengolahan air minum.


Alumina (Al2O3)
Alumina dibedakan atas alfa-allumina dan gamma-allumina. Gammaalumina diperoleh dari pemanasan Al(OH)3 di bawah 4500C. Gammaalumina digunakan untuk pembuatan aluminium, untuk pasta gigi, dan
industri keramik serta industri gelas. Alfa-allumina diperoleh dari
pemanasan Al(OH)3 pada suhu diatas 1000C. Alfa-allumina terdapat
sebagai korundum di alam yang digunakan untuk amplas atau grinda. Batu
mulia, seperti rubi, safir, ametis, dan topaz merupakan alfa-allumina yang
mengandung senyawa unsur logam transisi yang memberi warna pada batu
tersebut.

XIII.

DAFTAR PUSTAKA
Amaria, dkk. 2015. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II UNSURUNSUR GOLONGAN UTAMA. Surabaya : Laboratorium Kimia Anorganik
FMIPA Universitas Negeri Surabaya.
Anonim.
2014.
Aluminium
dan

Senyawanya,

(http://smakita.net/aluminium-dan-senyawanya.html,

diakses

(Online).
pada

26

November 2015 pukul 23.08 WIB).


Lee, J.D. 1991. Concise Inorganic Chemistry Fourth Edition. London : Chapman
dan Hall.
Sugiyarto, Kristian H dan Suyanti, Retno D. 2008. Kimia Anorganik Logam.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Svehla, G. 1985. Vogel Buku Teks Analisis Kimia Anorganik Kualitatif Makro Dan
Mikro Bagian I. Terjemahkan oleh Setiono, L dan Hadyana, A Pudjaatmaka.
Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka.