You are on page 1of 8

Asuhan Keperawatan

Hipotiroid
I.

PENDAHULUAN
Kelenjar tiroid, yang terletak tepat dibawah laring sebelah kanan dan kiri
depan trakea, mensekresi tiroksin (T4), triiodotironi (T3), yang mempunyai efek nyata
pada kecepatan metabolisme tubuh. Kelenjar ini juga menyekresi kalsitonin, suatu
hormon yang penting untuk metabolisme kalsium. Tidak adanya sekresi tiroid sama
sekali biasanya menyebabkan laju metabolisme turun sekitar 40 persen di bawah
normal dan sekresi tiroksin yang berlebihan sekali dapat menyebabkan laju
metabolisme basal meningkat setinggi 60 sampai 100 persen di atas normal. Sekresi
tiroid terutama diatur oleh hormon perangsang tiroid yang disekresi oleh kelenjar
hipofisis anterior.
Hormon yang paling banyak disekresi oleh kelenjar tiroid adalah tiroksin.
Akan tetapi, juga disekresi triiodotironin dalam jumlah sedang. Fungsi kedua hormon
ini secara kualitatif sama, tetapi berbeda dalam kecepatan dan intensitas kerja.
Triiodotironin kira-kira empat kali kekuatan tiroksin, tetapi terdapat jauh lebih sedikit
dalam darah dan menetap jauh lebih singkat.
Untuk membentuk tiroksin dalam jumlah normal, dibutuhkan makan kira-kira
50 mg yodium setiap tahun, atau kira-kira 1 mg per minggu. Untuk mencagah
defisiensi yodium, garam meja yang biasa diiodisasi dengan satu bagian natrium
iodida untuk setiap 100.000 bagian natrium klorida.

II.

PENGERTIAN
Hipotiroid adalah satu keadaan penyakit disebabkan oleh kurang penghasilan
hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Hipotiroid adalah suatu keadaan dimana kelenjar
tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang
sangat berat disebut miksedema. Hipotiroidism terjadi akibat penurunan kadar
hormon tiroid dalam darah. Kelainan ini kadang-kadang disebut miksedema.

III.

ETIOLOGI
Hipotiroid

dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau

hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang
rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya
umpan balik negatif oleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila
Hipotiroid terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah disebabkan
oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena. tidak adanya umpan
balik negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroid yang disebabkan oleh malfungsi
hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.
Penyakit Hipotiroid :
1. Penyakit Hashimoto, juga disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat adanya
otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan
penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik
negatif yang minimal, Penyebab tiroiditis otoimun tidak diketahui, tetapi
tampaknya terdapat kecenderungan genetik untuk mengidap penyakit ini.
Penyebab yang paling sering ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto.Pada tiroiditis
Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan Hipotiroid terjadi beberapa
bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang masih berfungsi.
2. Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik
yodium radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan Hipotiroid .
3. Gondok endemik adalah Hipotiroid akibat defisiensi iodium dalam makanan.
Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok
karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha untuk
menyerap sernua iodium yang tersisa dalam. darah. Kadar HT yang rendah akan
disertai kadar TSH dan TRH yang

tinggi karena minimnya

umpan

balik.Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan, menyebabkan


pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (Hipotiroid goitrosa).
4. Kekurangan yodium jangka panjang merupakan penyebab tersering dari
Hipotiroid di negara terbelakang.
5. Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu, menyebabkan Hipotiroid . Namun,
terapi untuk kanker yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi,
pemberian obat penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan
jaringan tiroid. Semua pengobatan ini dapat menyebabkan Hipotiroid . Pajanan ke
radiasi, terutama masa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi

iodium juga dapat meningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid karena hal
tersebut merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid.
IV.

V.

HIPOTIROID
Hipotiroid dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan pada
pengobatan tirotoksitosis dengan RAI. Juga terjadi akibat infeksi kronis kelenjar tiroid
dan atropi yang bersifat idiopatik.
Prevalensi penderita Hipotiroid meningkat pada usia 30 sampai 60 tahun,
empat kali lipat angka kejadannya pada wanita dibandingkan proa. Hipotiroid
kongenital dijumpai satu orang pada empat ribu kelahiran hidup.
Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan
berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respons terhadap rangsangan
hormon TSH. Penurunan hormon sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan
laju metabolisme basal yang akan memepengaruhi semua sistem tubuh. Proses
metabolik yang dipengaruhi antara lain:
1. Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria)
2. Penurunan motilitas usus
3. Penurunan detak jantung
4. Gangguan fungsi neurologik
5. Penurunan produksi panas
Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana
akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi
mengalami atherosklerosis. Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial
seperti rongga pleura, cardiak dan abdominal sebagai tanda miksedema. Pembentukan
eritrosit yang tidak optimal sebgai dampak dari menurunnya hormon tiroid
memungkinkan klien mengalami anemi.

PATHWAYS

VI.

KLASIFIKASI
Lebih dari 95% penderita Hipotiroid

mengalami Hipotiroid

primer atau

tiroidal yang mengacu kepada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri. Apabila disfungsi
tiroid disebabkan oleh kegagalan kelenjar hipofisis, hipotalamus atau keduanya

disebut Hipotiroid sentral (Hipotiroid sekunder) atau pituitaria. Jika sepenuhnya


disebabkan oleh hipofisis disebut Hipotiroid tersier.
Tabel. Klasifikasi penyakit hipotiroidism
Jenis

Organ

Keterangan

Hipotiroid

kelenjar

Paling sering terjadi. Meliputi penyakit Hashimoto

primer

tiroid

tiroiditis (sejenis penyakit autoimmune) dan terapi


radioiodine(RAI)

untuk

merawat

penyakit

Hypotiroidis

kelenjar

hipertiroidisme.
Terjadi jika kelenjar hipofisis tidak menghasilkan

me sekunder

hipofisis

cukup

(pituitari)

merangsang

hormon

perangsang

kelenjar

tiroid

tiroid
untuk

(TSH)

untuk

menghasilkan

jumlah tiroksin yang cukup. Biasanya terjadi apabila


terdapat tumor di kelenjar hipofisis, radiasi atau
pembedahan yang menyebabkan kelenjar tiroid tidak
Hipotiroid

hipotalam

lagi dapat menghasilkan hormon yang cukup.


Terjadi ketika hipotalamus gagal menghasilkan TRH

tertier

us

yang

cukup.

Biasanya

disebut

juga

hypothalamic-pituitary-axis hypothyroidism.

VII.

TANDA DAN GEJALA


Hipotiroid ditandai dengan gejala-gejala:
1. Nafsu makan berkurang
2. Sembelit
3. Pertumbuhan tulang dan gigi yang lambat
4. Suara serak
5. Berbicara lambat
6. Kelopak mata turun
7. Wajah bengkak
8. Rambut tipis, kering, dan kasar
9. Kulit kering, kasar, bersisik, dan menebal
10. Denyut nadi lambat
11. Gerakan tubuh lamban
12. Lemah
13. Pusing
14. Capek
15. Pucat
16. Sakit pada sendi atau otot
17. Tidak tahan terhadap dingin
18. Depresi
19. Penurunan fungsi indera pengecapan dan penciuman
20. Alis mata rontok

disebut

21. Keringat berkurang


VIII.

GAMBARAN KLINIS
1. Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat
2. Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema),
dan penurunan curah jantung
3. Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan
kaki
4. Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu
makan dan penyerapan zat gizi dari saluran cema
5. Konstipasi
6. Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi
7. Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh

IX.

PERANGKAT DIAGNOSTIK
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH
akan dapat mendiagnosis kondisi dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat
atau kelenjar tiroid. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui fungsi tiroid
biasanya menunjukkan kadar T4 yang rendah dan kadar TSH yang tinggi.
Pemeriksaan fisik menunjukkan tertundanya pengenduran otot selama
pemeriksaan refleks. Penderita tampak pucat, kulitnya kuning, pinggiran alis matanya
rontok, rambut tipis dan rapuh, ekspresi wajahnya kasar, kuku rapuh, lengan dan
tungkainya membengkak serta fungsi mentalnya berkurang. Tanda-tanda vital
menunjukkan perlambatan denyut jantung, tekanan darah rendah dan suhu tubuh
rendah. Pemeriksaan rontgen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran jantung.

X.

KOMPLIKASI DAN PENATALAKSANAAN


Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang ditandai oleh

eksaserbasi (perburukan) semua gejala Hipotiroid termasuk hipotermi tanpa menggigil,


hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian
dapat terjadi apabila tidak diberikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam keadaan
darurat (misalnya koma miksedem), hormon tiroid bisa diberikan secara intravena.
Hipotiroid diobati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan
memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang banyak disukai adalah hormon tiroid
buatan T4. Bentuk yanglain adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid
hewan).

Pengobatan pada penderita usia lanjut dimulai dengan hormon tiroid dosis rendah,
karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Dosisnya
diturunkan secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus
diminum sepanjang hidup penderita.
Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai pengganti
hormon tiroid. Apabila penyebab hipotiroidism berkaitan dengan tumor susunan saraf
pusat, maka dapat diberikan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, Arthur C.

Fisiologi Manusia. 1995. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC.
Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. PATOFISIOLOGI

Konsep

Klinis

Proses-Proses Penyakit. Edisi 6, volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC.
Smeltzer, Suzanne C., Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.