You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Kita tidak dapat dipisahkan dari
senyawa kimia ini dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat air bagi kehidupan kita
antara lain untuk kebutuhan rumah tangga yaitu sebagai air minum dan MCK,
kebutuhan industri, air irigasi untuk pertanian sampai pembangkit listrik tenaga
air. Air di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3 - 1,4 milyar km3 dengan 97,5%
berupa air laut dan 1,75% berbentuk es serta 0,73% berada di daratan sebagai air
sungai, air danau, air tanah dan sebagainya. Kenyataannya, hanya air di daratan
seperti air sungai, air danau, air tanah yang telah dimanfaatkan secara besarbesarnya untuk kepentingan manusia. Di Indonesia, dari potensi air yang ada
(100%) yang menjadi aliran mantap dan yang termanfaatkan baru sebesar 28%
sedangkan sisanya 72% terbuang percuma (langsung ke laut).
Air merupakan sumberdaya alam yang terbaharui melalui daur hidrologi. Namun
keberadaan air sangat bervariasi tergantung lokasi dan musim. Ketersediaan air di
daerah tropis (dekat dengan katulistiwa) sangat besar dibandingkan dengan daerah
lain misalnya daerah gurun atau padang pasir. Ketersediaan air pada saat musim
basah (Oktober s/d April) lebih besar dibandingkan pada saat musim kering (April
s/d Oktober) dimana ketersediaan airnya sudah mulai berkurang. 2 Rekayasa
manusia untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya air adalah dengan
merubah distribusi air alami menjadi distribusi air secara buatan yaitu diantaranya
dengan membangun waduk.
Waduk merupakan suatu bangunan air yang digunakan untuk menampung debit
air berlebih pada saat musim basah supaya kemudian dapat dimanfaatkan pada
saat debit rendah saat musim kering (Sudjarwadi, 1987).
Pada pengelolaan sumberdaya air waduk sering dijumpai permasalahanpermasalahan yang menyangkut aspek perencanaan, operasi dan pemeliharaan
(Sudjarwadi, 1987). Salah satu persoalan utama yang terjadi dalam operasi waduk
untuk penyediaan air irigasi dan bidang lainnya adalah semakin langkanya

ketersediaan air (water scarcity) pada waktu-waktu tertentu. Pada sisi lain
permintaan air untuk berbagai kebutuhan cenderung semakin meningkat sebagai
akibat

peningkatan

jumlah

penduduk,

beragamnya

pemanfaatan

air,

berkembangnya pembangunan, serta kecenderungan menurunnya kualitas air


akibat pencemaran oleh berbagai kegiatan (Bustomi, 2003).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam studi analisa ini adalah :
1. Berapa ketersediaan air di waduk Cimeta Padalarang ?
2. Berapa kebutuhan air dan umur waduk Cimeta Padalarang mencukupi
kebutuhan irigasi, industri dan pemeliharaan/penggelontoran sungai ?
3. Apakah ketersediaan airnya saat ini masih mampu mencukupi untuk memenuhi
kebutuhan air irigasi, industri dan pemeliharaan/penggelontoran sungai ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan beberapa hal sebagai berikut ini :
Tujuan dan manfaat dari penyusunan studi ini adalah :
1. Untuk mengetahui umur dan ketersediaan air waduk Cimeta Padalarang;
2. Untuk mengetahui pengaruh sedimentasi terhadap umur waduk.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Waduk
Waduk adalah kolam besar tempat penyimpanan air persediaan untuk berbagai
kebutuhan. Waduk dapat terjadi secara alami maupun dibuat manusia. Waduk
buatan dibangun dengan cara membuat bendungan yang lalu dialiri air sampai
waduk tersebut penuh.
Menurut Jangkara (2000), waduk adalah wilayah yang digenangi badan
airsepanjang tahun serta dibentuk atau dibangun atas rekayasa manusia.
Waduk dibangun dengan cara membendung aliran sungai sehingga air sungai
tertahansementara dan menggenangi bagian daerah aliran sungai atau water
shed yang rendah. Waduk dapat dibangun di dataran rendah maupun dataran
tinggi. Beberapa waduk dapat dibangun disepanjang aliran sungai. Waduk yang
dibangundi dataran tinggi atau hulu sungai akan memiliki bentuk menjari, relatif
sempit danbertebing curam serta dalam. Waduk yang dibangun di dataran rendah
atau hilirsungai berbentuk bulat, relatif luas dan dangkal. Danau/waduk
mempunyai fungsi penting baik secara ekologis, ekonomis,estetika, wisata alam
maupun religi dan tradisi.
Waduk dapat terjadi secara alami maupun dibuat manusia. Waduk buatan
dibangun dengan cara membuat bendungan yang lalu dialiri air sampai waduk
tersebut penuh. Waduk menurut pengertian umum adalah tempat pada permukaan
tanah yang digunakan untuk menampung air saat terjadi kelebihan air / musim
penghujan sehingga air itu dapat dimanfaatkan pada musim kering. Sumber air
waduk terutama berasal dari aliran permukaan ditambah dengan air hujan
langsung.
Air danau/waduk dapat digunakan untuk berbagai pemanfaatan antara lain sumber
baku air minum air irigasi, pembangkit listrik, penggelontoran, perikanan dsb.
Ekosistem danau memiliki peran penting dalam menjamin kualitas dan kuantitas
ketersediaan air tawar. Danau juga sangat peka terhadap perubahan parameter
iklim. Variasi suhu dan curah hujan misalnya, dapat langsung berpengaruh pada

penguapan air, tinggi permukaan dari volume air, keseimbangan air dan
produktivitas biologis perairan danau.
2.2 Klasifikasi Waduk
Berdasarkan fungsinya, waduk diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu :
1. Waduk eka guna (single purpose)
Waduk eka guna adalah waduk yang dioperasikan untuk memenuhi satu
kebutuhan saja, misalnya untuk kebutuhan air irigasi, air baku atau PLTA.
Pengoperasian waduk eka guna lebih mudah dibandingkan dengan waduk multi
guna dikarenakan tidak adanya konflik kepentingan di dalam. Pada waduk eka
guna pengoperasian yang dilakukan hanya mempertimbangkan pemenuhan satu
kebutuhan.
2. Waduk multi guna (multi purpose)
Waduk multi guna adalah waduk yang berfungsi untuk memenuhi berbagai
kebutuhan, misalnya waduk untuk memenuhi kebutuhan air, irigasi, air baku dan
PLTA. Kombinasi dari berbagai kebutuhan ini dimaksudkan untuk dapat
mengoptimalkan fungsi waduk dan meningkatkan kelayakan pembangunan suatu
waduk.
2.3 Fungsi Waduk
Fungsi waduk secara prinsip ialah menampung air saat debit tinggi untuk di
gunakan saat debit rendah. Seperti kontruksi sipil lainnya, persoalan waduk
menyangkut aspek perencanaan operasi, dan pemeliharaan.
Pembangunan suatu waduk disesuaikan dengan kepentingan tertentu,masingmasing waduk memiliki fungsi dan manfaat tersendiri. Beberapa waduk dibangun
hanya untuk melayani satu atau dua macam kegunaan,namun ada juga waduk
yang memiliki banyak kegunaan sehingga disebut waduk serbaguna.
1. Manfaat ekologis
Menampung air, mencegah banjir dan menanggulangi kekeringan
Mengatur iklim mikro
Habitat berbagi jenis tumbuhan dan hewan
2. Manfaat ekonomis
Mengahsilkan berbagai jenis budidaya hewan maupun tumbuhan

Menampung air irigasi


Penghasil energi
Sarana transportasi, hiburan, rekreasi dan sport
3. Manfaat sosial budaya waduk
Dimanfaatkan untuk pengairan warga
2.4 Pengelolaan Sumberdaya Perairan Waduk Secara Terpadu
Perencanaan pengelolaan perairan waduk secara terpadu merupakan salah satu
alternatif bentuk pengelolaan yang diharapkan dapat dikembangkan dan
diterapkan di waduk tersebut agar tercapai pemanfaatan sumberdaya perairan
waduk secara optimum dan berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan
peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya.
Ilyas dan Budihardjo (1995), mengemukaan bahwa bagi suatu perencanaan
terpadu, sangat primer perlu dipahami akan proses dan interaksi alami yang
berlangsung, potensi yang tersedia, interaksi antara berbagai kepentingan, agar
tidak menimbulkan kompetisi dalam pemanfaatan, yang mengakibatkan pada
benturan yang menjurus pada tidak lestarinya sumberdaya dan menurunnya
kondisi sosial ekonomi, tiadak berlanjutnya pembangunan.
Menurut Krismono (1998), untuk menjaga kelestarian sumberdaya perairan dan
kesinambungan usaha perikanan, maka perlu diperhatikan dan dipelajari beberapa
hal, antara lain :
1. Jenis perairan, sehingga diketahui pola kelakuannya.
2. Letak tata ruang dari budidaya ikan diperairan waduk/danau karena pada
danau vulkanik/tektonik, tempat terjadinya umbalan biasanya tidak total.
3. Musim, berdasarkan pengalaman, kematian pada waktu-waktu tertentu
misalnya di perairan waduk pada saat awal musim hujan (pada air rendah),
sehingga pada saat tersebut harus mengurangi jumlah pemeliharaan ikan.
4. Daya dukung perairan umumnya pada saat air tinggi (Maret-Agustus) lebih
tinggi, sehingga jumlah pemeliharaan ikan dapat lebih tinggi.
Seperti kita ketahui bahwa perikanan merupakan fungsi sekunder dari
pembangunan waduk, oleh karena itu, pengelolaan waduk secara terpadu,

masyarakat yang tergusur dapat bekerja dalam kegiatan perikanan baik kegiatan di
waduk itu sendiri, maupun kegiatan perikanan di sekitar waduk, terutama daerah
yang mendapat sistem pengairan dari waduk tersebut. Pengembangan perikanan di
waduk dapat memberikan kontribusi yang optimal jika diterapkan suatu bentuk
atau pola pengelolaan perikanan yang rasional dan terpadu sesuai dengan fungsi
waduk yang bersifat serbaguna (Kartamihardja, 1993).
Pengelolaan sumberdaya perairan waduk secara terpadu yang bisa dilakukan di
luar sektor perikanan, antara lain :
1. Pengelolaan sumber tenaga listrik (kawasan berbahaya); kawasan ini
merupakan daerah tertutup untuk kepentingan umum. Pada kawasan ini pula
dibentuk untuk melindungi instalasi penting dan bendungan utama.
Arealnya biasanya ditentukan meliputi luasan dengan jarak 1 km dari titik
tengah bendungan dan batasnya berupa pelampung dengan warna
menyolok.
2. Pengelolaan kawasan wisata dan olah raga; kawasan ini dimanfaatkan untuk
rekreasi air (pariwisata) seperti perahu dayung, pemancingan, ski air, dan
lain-lain.
3. Pengelolaan kawasan yang dilindungi; kawasan ini juga merupakan kawasan
yang tertutup bagi kegiatan perikanan dan kegiatan lain yang dapat
mengganggu kelestarian populasi ikan. Kawasan ini dapat merupakan
daerah pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground)
sehngga memungkinkan perlindungan bagi induk-induk ikan untuk
berkembang biak dan mengasuh anaknya. Kawasan ini perlu ditinjau
ketepatannya secara berkala, sebab mungkin saja perubahan ekologis waduk
telah merubah pola kebiasaan hidup ikan.
Pengelolaan perairan waduk sebagai salah satu sumberdaya alam, untuk keperluan
lain di luar perikanan, diarahkan untuk menjaga keserasian antara kegiatankegiatan manusia dan pembinaan mutu lingkungannya. Sebagai modal dasar,
sumberdaya alam harus dimanfaatkan sepenuhnya tetapi dengan cara-cara yang
tidak merusak.

BAB III
STUDI KASUS
PENGOPERASIAN DAN UMUR GUNA WADUK
3.1 Pendahuluan

Kebutuhan air dimasa mendatang akan semakin meningkat seiring dengan


meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya pembangunan di segala
bidang. Kondisi ideal yang didambakan oleh setiap orang adalah tersedianya air
sepanjang waktu dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang memadai.
Oleh karena itu upaya-upaya yang ditujukan untuk melestarikan sumber daya air
demi meningkatkan ketersediaan air akan sangat berguna bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan sumberdaya air dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah
sungai merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional secara
menyeluruh untuk mencapai tujuan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
dan kemakmuran rakyat. Pengembangan wilayah sungai sebagai unsur
sumberdaya alam adalah merupakan salah satu kegiatan pembangunan untuk
mencapai tujuan tersebut. Manfaat yang paling optimal dapat dipandang dalam
berbagai aspek tergantung dari fungsi dan masalah dari waduk yang ditinjau.
Aspek yang ditinjau tersebut adalah aspek pemenuhan kebutuhan air di hilir
waduk yaitu:
1. Meminimalkan kekurangan air (minimalshortage)
2. Memaksimalkan penyaluran air (maximumrelease) atau memaksimalkan
keuntungan
Kebutuhan air tidak selamanya terpenuhi oleh sumberdaya air yang ada, oleh
karena itu diperlukan tampungan untuk menampung kelebihan air pada saat
kelebihan dan menyalurkan pada saat dibutuhkan. Salah satu bentuk tampungan
adalah waduk. Dengan adanya waduk diharapkan dapat mengubah pola aliran
sedemikian rupa sehingga lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Keterbatasan akan sumberdaya air yang ada menyebabkan perlunya pola operasi
waduk agar pemanfaatan air yang dilakukan bisa mendapatkan hasil yang lebih
maksimal, salah satunya adalah dengan metode simulasi dan optimasi program
linier. Dalam melestarikan waduk sebagai sarana pemanfaatan sumber air,
masalah berat yang dihadapi adalah masalah erosi dan sedimentasi yang
memenuhi seluruh tampungan waduk sehingga dikhawatirkan tidak akan

mencapai umur waduk yang direncanakan. Dengan menggunakan beberapa


formula serta batasan yang jelas dalam suatu daerah aliran sungai pada suatu
periode tertentu dan tak dapat dihindari waduk yang merupakan potensial besar
sebagai tempat sedimentasi. Besarnya sedimentasi dapat dihitung dengan
beberapa formula dan ini sangat memepengaruhi umur waduk.
3.2 Kajian Daerah Studi
Letak dan lokasi waduk Cimeta terletak pada sungai Cimeta. Secara
administrative lokasi pekerjaan kajian teknis kelayakan Pembangunan Waduk
Cimeta masuk wilayah dua Kecamatan yaitu Kecamatan Ngamprah dan
Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Adapun data teknis waduk disajikan
pada Tabel 1. Sungai Cimeta yang mempunyai hulu di Gunung Burangrang dan
bermuara di sungai Citarum dengan titik pertemuan di hilir jembatan Citarum
Rajamandala, mempunyai panjang 39,50. Masukan untuk waduk Cimeta ini
adalah untuk kurun waktu 25 Th yaitu mulai tahun 2005 sampai dengan tahun
2030.

3.3 Model Program Linier


Analisis sistem adalah suatu metode untuk mempelajari dan menganalisa berbagai
aspek dari suatu sistem. Analisa sistem sumber daya air bertujuan untuk
memodifikasikan bekalan air (water supply) yang tersedia secara alami. Dengan
menggunakan metode analisis sistem, diharapkan air yang tersedia secara alami
tersebut dan pengoperasiannya yang belum dilakukan secara optimal, dapat
menjadi bekalan air yang dapat diandalkan dan didistribusikan secara optimal.
Menurut Warren A. Hall dan John A.

Metode simulasi yang digunakan pada penulisan jurnal ini adalah dengan
menggunakan hukum keseimbangan air (water balance). Dengan keseimbangan
air di waduk adalah sebagai berikut:

Teknik optimasi adalah proses sistematik yang bergantung dari algoritma optimasi
untuk memperoleh hasil terbaik. Model optimasi juga disebut sebagai model
pengambilan keputusan, dimana pada dasarnya mempunyai sistematika kerja yang
membandingkan semua keputusan-keputusan yang dapat dilaksanakan dan pada
tahap akhir dapat dipilih satu alternatif yang terbaik.
Metode optimasi dilakukan dengan program linier yaitu bertujuan untuk
memaksimalkan keuntungan dan release dari kebutuhan air yang didapat dari hasil
proses simulasi, yaitu untuk kebutuhan air minum, irigasi dan industri. Teknik
optimasi program linier yang dilakukan pada studi ini dikombinasikan dengan
teknik simulasi, sehingga dapat dilakukan perbandingan hasil kedua metode
tersebut. Menurut Undang-undang no. 11 tahun 1974, prioritas penggunaan air
adalah untuk air minum, selanjutnya diikuti irigasi, industri, PLTA dan lain-lain.

3.4 Sedimentasi Mempengaruhi Umur Guna Waduk

Tujuan akhir dari semua waduk adalah diisinya dengan sedimen. Jika sedimen
inflow besar dibandingkan dengan kapasitas waduk, umur guna waduk mungkin
menjadi lebih singkat. Persediaan air waduk yang kecil pada sungai Solomon
dekar Osborne, Kansas, yang diisi dengan sedimen sepanjang tahun pertama
setelah selesai. Perencanaan waduk harus juga mempertimbangkan laju
kemungkinan sedimentasi untuk menentukan apakah umur guna waduk yang
diusulkan akan cukup terjamin pembangunan.
Pengetahuan kita mengenai sedimentasi waduk yang didasarkan pada survei untuk
menentukan akumulasi laju sedimen pada waduk yang telah ada pada beberapa
tahun. Survei ini mengidentifikasikan berat spesifik jatuhnya sedimen dan
persentase masuknya sedimen yang mana disimpan di waduk. Data ini perlu untuk
menginterpretasikan data aliran beban sedimen yang berkaitan sedimentasi
waduk. Data ini perlu untuk menginterupsikan data aliran beban sedimen yang
memperlihatkan berbagai umur simpanan dan karakter sedimen. Berat jenis kering
sampel sedimen dari waduk berkisar dari 40 lb/cu ft ke 110 lb/cu ft dengan ratarata berkisar 60 lb/cu ft untuk sedimen yang baru dan 80 lb/cu ft untuk sedimen
yang lama.
Persen masuknya sedimen yang ditahan pada waduk (Trap Efficiency) sebagai
fungsi rasio kapasitas waduk pada total inflow. Pada waduk yang kecil dengan
aliran yang besar yang melewati inflow yang begitu cepat sehingga butiranbutiran sedimen tidak jatuh tetapi debit aliran menurun. Disamping itu pada
waduk yang besar air yang ditampung untuk beberapa tahun dan membiarkan
hampir keseluruhan sedimen melayang berpindah. Trap Efficiency suatu waduk
menurun sesuai dengan umur kapasitas waduk yang semakin berkurang dengan
akumulasi sedimen. Oleh karena pengisian waduk secara penuh membutuhkan
waktu yang sangat panjang, tetapi sebenarnya umur guna waduk dapat diakhiri
jika kapasitasnya dipenuhi oleh sedimen yang cukup untuk mencegah waduk
beroperasi sesuai dengan tujuan yang dimaksud. Volume yangdipenuhi oleh
sedimen dapatjuga kemudian dihitung dengan menggunakan harga berat jenis
yang beralasan untuk sedimen yang tersimpan. Umur guna ini bisa dihitung

dengan menentukan jumlah waktu yang di perbolehkan untuk mengisi volume


tampungan kritis.
3.5 Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan
Air Pada pembangunan waduk Cimeta ini ada beberapa sumber inflow yang
memberikan sumbangan dalamketersediaan air. Sumber inflow tersebut untuk
memenuhi berbagai kebutuhan untuk 2 (dua) kecamatan di kabupaten Bandung
yaitu kecamatan Padalarang dan Waduk Cimeta merupakan waduk yang
direncanakan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan seperti air minum, irigasi,
industri, dan sport center. Sesuai dengan kebijakan pemerintah waduk Cimeta
prioritaskan pemanfaatannya adalah untuk air minum, apabila air minum telah
terpenuhi, maka kelebihannya akan dimanfaatkan untuk yang lain seperti irigasi,
industri dan sport center. Kebutuhan untuk air minum adalah 150 lt/KK/hr,
mengairi daerah irigasi maksimal 2191 Ha, untuk industri sebesar 60
liter/pekerja/hari.
Besarnya kebutuhan air total untuk tahun 2005 dan proyeksi jangka pendek,
menengah dan panjang sampai tahun 2030 dalam bentuk tabel kebutuhan air
untuk DMI (Domestik, Municipal, Industri) dan kebutuhan air untuk irigasi
selengkapnya disajikan pada Tabel 2 dan Gambar 5.

Berdasarkan perhitungan neraca air (water balance) diperoleh hasil bahwa pada
musim kemarau terjadi kelebihan dan memenuhi kebutuhan pada tahun-tahun
yang diprpyeksikan yaitu untuk saat sekatang (2005), jangka pendek (2010),
jangka menengah (2020) dan jangka panajng (2030). Dri hsil perhitungan tersebut
dapat disimpulkan bahwa DPS Cimeta diperlukan rekayasa bangunan air berupa
sarana penampungan air (waduk) yang bertujuan untuk perencanaan pengalikasian
air. Sehingga diarapkan pada tiap-tiap bulannya kebutuhan air dapat terpenuhi
dengan memperioritaskan kebutuhan yang paling mendesak. Kondisi saat ini Kota
Padalatang dan indutriny dangat membutuhkan suplai air baku tersebut.

Sedangkan Spot Centre dan Kota Ngamprah yang di rencanakan sebagai ibu
Kabupaten Bndung Barat, masih dalam tahap rencana.
Berdasarkan perbandingan supply dan demand pada setiap pemanfaatannya yang
dihasilkan dari program optimasi linier diatas menunjukkan bahwa supply yang
dihasilkan pada umumnya dapat memenuhi kebutuhan (demand) yang ada
terutama pada tahun normal dan tahun basah. Grafik diatas merupakan hasil
hitungan optimasi operasi Waduk Cimeta yang dilakukan dengan model optimasi
program linier .Hasil optimasi dengan program linier tersebut adalah pola operasi
dengan tujuan memaksimalkan release dan keuntungan. Supply tahun kering tidak
dapat memenuhi demand irigasi yang ada pada bulan April hingga Oktober.
Malahan pada bulan Juli, September dan Oktober pada tahun kering supply yang
dihasilkan waduk adalah nol. Sedangkan supply pada tahun normal tidak dapat
memenuhi demand irigasi pada bulan Juni hingga Agustus. Hal ini dilakukan
karena untuk mendapatkan maksimum keuntungan dimana harga air irigasi air
merupakan harga yang paling murah untuk pemanfaatannya dibandingkan dengan
harga air untuk kebutuhan lain.
Hasil eksekusi pemodelan pengoperasian waduk bulanan berdasarkan tahun
kering, normal dan basah didapatkan bahwa suplesi Waduk Cimeta ke Sungai
Citarum meningkat pada tahun-tahun yang diproyeksikan.

3.6 Umur Waduk


Dalam menghitung umur guna dan pengoperasian waduk Cimeta, kita harus
mengetahui perhitungan sedimen yang masuk ke waduk. Perhitungan sedimen
yang masuk waduk akan menentukan besarnya tampungan mati. Tampungan mati
ini perlu diperhatikan karena secara alami waduk akan terisi oleh sedimen yang
akan mempengaruhi volume efektif waduk yang bisa digunakan.
Setiap bendungan atau waduk pada akhirnya akan terisi oleh sedimen. Untuk
menentukan umur
ekonomis dari waduk, maka perlu dihitung seberapa banyak sedimen yang akan
terperangkap di dalam waduk selama waktu tersebut. Volume waduk yang di

cadangkan untuk menampung sedimen tersebut dinamakan sebagai tampungan


mati atau dead storage.
Metode yang digunakan untuk memperkirakan besarnya trap Effisiency secara
empiris yng didasarkan pada pengukuran endapan sedimen dibeberapa waduk
besar telah dikemukakan oleh Gunner Brune (1953), bahwa Trap Effisiency
tergantung pada perbandingan antar kapasitas tampungan waduk (C) dan inflow
(I) tahunan dari waduk yang bersangkutan. Effisiency tangkapan suatu waduk
akan berkurang sejalan dengan umurnya, karena kapasitas waduk akan dikurangi
oleh tumpukan sedimen.
3.7 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan dalam makalah ini,
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Perhitungan debit dilakukan dengan menggunakan metode Rasional dan NRECA.
Untuk perhitungan simulasi dan optimasi digunakan debit rata-rata dari metode
Rasional karena metode ini memiliki simpangan yang relatif kecil dari kondisi
aktual. Akan tetapi debit yang dihasilkan dengan metode NRECA memiliki
simpangan yang cukup besar dan menjauh dari debit pengamatan. Sumber inflow
di sepanjang Sungai Cimeta berasal dari DPS Waduk Cimeta, subDPS anak sungai
dan dari kawasan lokal inflow. Oleh karena subDPS anak sungai lebih besar
daripada luas kawasan inflow, maka menghasilkan debit subDPS. yang lebih besar
daripada debit lokal inflow. Kebutuhan air irigasi dari tahun 2005 sampai 2030
tidak terjadi perubahan , hal tersebut terjadi karena diasumsikan bahwa tidak
terjadinya perubahan terhadap daerah irigasi di sekitar Sungai Cimeta. Sedangkan
kebutuhan air DMI (Domestik, Municipal, Industri) mengalami peningkatan,
karena adanya peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan kawasan industri
dan komersil. Volume tampungan waduk mengalami peningkatan sampai tahun
2030. Peningkatan volume tampungan waduk tersebut disebabkan karena terjadi
peningkatan kebutuhan air sampai tahun 2030.
Dari hasil perhitungan optimasi dengan program linier didapatkan bahwa Waduk
Cimeta hanya mencapai optimum pada tahun 2010 karena release yang dihasilkan

belum mampu memenuhi kebutuhan air minum, irigasi dan industri pada tahun
2020 dan 2030. Sistem pengoperasian Waduk Cimeta yang dimodelkan dengan
menggunakan optimasi program linier belum dapat dijadikan alternatif untuk
menentukan pola operasi dan pemanfaatan air Waduk Cimeta secara optimal. Hal
ini disebabkan karena masih adanya demand yang belum terpenuhi oleh release
yang dihasilkan Waduk Cimeta pada tahun-tahun yang diproyeksikan.
Dalam UU SDA No.7 Thn 2004 bahwa tidak boleh terjadi memprioritaskan pada
suatu kebutuhan tertentu dengan meminimalkan dan mengabaikan kebutuhan
yang lain untuk mendapatkan benefit (keuntungan) maksimum.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Keimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil yaitu:
1. Kebutuhan air tidak selamanya terpenuhi oleh sumberdaya air yang ada, oleh
karena itu diperlukan tampungan untuk menampung kelebihan air pada saat
kelebihan dan menyalurkan pada saat dibutuhkan, salah satu bentuk tampungan

adalah waduk.
2. Dari hasil perhitungan optimasi dengan program linier didapatkan bahwa
Waduk Cimeta hanya mencapai optimum pada tahun 2010 karena release yang
dihasilkan belum mampu memenuhi kebutuhan air minum, irigasi dan industri
pada tahun 2020 dan 2030.
3. Dalam UU SDA No.7 Thn 2004 bahwa tidak boleh terjadi memprioritaskan
pada suatu kebutuhan tertentu dengan meminimalkan dan mengabaikan
kebutuhan yang lain untuk mendapatkan benefit (keuntungan) maksimum.
4.2 Saran
1. Pelepasan air untuk irigasi disesuaikan dengan jadwal dan banyaknya debit.
Selain itu juga disarankan harus mengikuti rencana kebutuhan air irigasi untuk
masa tanam yang berlaku dan harus memperhatikan taraf muka air waduk.
2. Dengan mempertimbangkan bahwa waktu pengisian yang dikaitkan dengan
umur waduk lebih pendek jika dibandingkan terhadap umur rencana waduk
maka perlu dilakukan berbagai cara untuk mengurangi tumpukan sedimen
misalnya; sarana untuk mengalirkan sedimen keluar waduk sebelum terjadi
pengendapan dan membangun cek dam untuk mencegah sedimen agar tidak
masuk ke waduk.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.e-jurnal.com/2013/12/pengertian-waduk.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Waduk
www.academia.edu/9329630/Makalah_pkn
www.academia.edu/10912340/Makalah_bab_1_1