You are on page 1of 4

Arti dari gestur bervariasi sesuai dengan kebudayaan.

Ekspresi wajah juga


mempunyai arti yang berbeda dalam setiap kebudayaan. Ekspresi wajah memang
mengandung beberapa aksen nonverbal yang memberikan petunjuk tentang budaya
seseorang (Marsh et al., 2003). Jadi tidak mengherankan bahwa data dari 182 studi
menunjukkan sedikit peningkatan akurasi ketika orang menilai emosi dari budaya
mereka sendiri (Elfenbein & Ambady 2002, 2003a, b). Namun, tanda-tanda emosi
umumnya lintas budaya. Bahkan emosi display rules (seperti mengekspresikan emosi
lebih ke rekan anggota kelompok daripada orang luar) budaya dunia silang
(Matsumoto et al., 2008).
Dalam kedokteran gigi mengetahui arti ekspresi wajah pasien merupakan hal
yang amat penting. Pada saat kita hendak melakukan tindakan seorang dokter gigi
harus mampu melakukan komunikasi intrapersonal dengan pasien, tidak hanya
komunikasi secara verbal namun juga nonverbal melalui gestur dan mimic wajah
pasien. Komunikasi intrapersonal tidak hanya sebatas untuk mengetahui apa keluhan
pasien dan penjabaran perencanaan tindakan perawatan yang akan diberikan kepada
pasien. Melalui komunikasi intrapersonal dokter gigi juga dapat mempelajari dan
mengenal sifat dan karakteristik pasien melalui ekspresi wajah yang ditampakkan saat
komunikasi berlangsung. Mengenal sifat dan karakteristik pasien melalui ekspresi
wajah merupakan hal yang penting bagi seorang dokter sebagai gambaran rencana
pendekatan dokter-pasien seperti apa yang dapat diterapkan pada pasien tersebut.
Ekspresi wajah anak-anak, juga terlihat universal bahkan jika mereka adalah
anak-anak buta yang belum pernah melihat wajah (Eibl -Eibesfeldt, 1971). Orang
buta sejak lahir secara spontan menunjukkan ekspresi wajah umum yang terkait

dengan emosi seperti sukacita, sedih, takut, dan marah (Galati et al., 1997). Di
seluruh dunia, anak-anak menangis ketika tertekan, menggelengkan kepala mereka
ketika menantang, dan tersenyum ketika mereka senang.
Dokter gigi harus mampu melakukan pendekatan yang tepat pada saat
menangani pasien, khususnya pasien anak yang memiliki tingkat emosi yang masih
rendah. Mengenal ekspresi wajah anak merupakan hal yang penting pada saat kita
hendak melakukan pendekatan dokter-pasien dan juga mengenali tingkat kecemasan
anak dimana tingkat kecemasan gigi tertinggi berada pada pasien anak.
Kecemasan gigi menurut Klingberg and Broberg adalah suatu keadaan tentang
keprihatinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi sehubungan dengan
perawatan gigi atau aspek tertentu dari perawatan gigi. Kecemasan dapat dilihat saat
pasien menghindari kunjungan ke dokter gigi. Atau tidak mau diperiksa dengan
dokter gigi dengan menggunakan instrument pada sat pemeriksaannya. Ketakutan dan
kecemasan anak pada usia sekolah lebih terpusat pada hal yang nyata melalui tingkah
laku seperti ekspresi marah.
Gracety Shabrina, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Padjajaran pernah melakukan penelitian skripsi di Baduy mengenai kesehatan gigi
dan mulut. Mayoritas penduduk disana tidak mengetahui cara sikat gigi yang benar.
Adat istiadat penduduk setempat melarang warganya untuk menyikat gigi dengan alat
sikat gigi. Pada saat Grace melakukan pemeriksaan oral hygine penduduk setempat
menolak dengan ekspresi wajah yang cemas karena instrument yang digunakan
bertentangan dengan adat istiadat yang diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa
ekspresi wajah memiliki arti berbeda dalam setiap budaya.
Penemuan bahwa otot-otot wajah berbicara bahasa universal tidak membuat
terkejut perintis peneliti emosi Charles Darwin (1809-1882). Ia berspekulasi bahwa
pada zaman prasejarah, sebelum nenek moyang kita berkomunikasi dengan kata-kata,
kemampuan mereka untuk menyampaikan ancaman, salam, dan pengajuan dengan

ekspresi wajah membantu mereka bertahan hidup. Ia percaya bahwa, semua manusia
mengekspresikan emosi dasar dengan ekspresi wajah yang sama. Mencibir, misalnya,
mempertahankan unsur binatang memamerkan giginya membentak. Ekspresi emosi
dapat meningkatkan kelangsungan hidup kita dengan cara lain juga. Kejutan
menaikkan alis dan melebarkan mata, memungkinkan kita untuk menerima informasi
lebih lanjut. Bau menjijikkan merangsang hidung, menutup dari bau busuk.

Meskipun budaya berbagi bahasa wajah universal untuk emosi dasar, mereka
berbeda dalam seberapa banyak emosi yang mereka mengekspresikan. Peristiwa yang
menyangkut psikologis tidak hanya berhubungan dengan emosi tetapi juga fenomena
biologis, kognitif, dan social budaya.
Ekspresi wajah kita mempengaruhi perasaan kita. Kita dapat mengontrol
emosi dengan melalui pergerakan keluar (through outward movement) dari
berbagai emosi yang ingin kita rasakan. Ekspresi tidak hanya menyampaikan emosi,
tetapi juga memperkuat dan mengaturnya. Pada bukunya tahun 1872, The Expression
of Emotion in Man and Animas, Darwin berpendapat bahwa ekspresi bebas
mengeluarkan tanda emosi yang memperkuatnya. dia yang melakukan sikap
kekerasan akan meningkatkan kemarahannya.

Dengan adanya emosi,

kita dapat menerima facial feedback effect.

Dua pembelajaran baru membuktikan daya dari facial feedback. Pada suatu
saat, Tifanny dan teman temannya (2006) menggunakan pensil pada bibir untuk
menimbulkan kebahagiaan saat orang melihat gambar dari wajah. Jika mereka telah
melihat wajah warna hitam bukan warna putih, mereka nantinya dengan implicite
Attitude test, menunjukkan prasangka melawan ras hitam. Perasaan baik telah
tersebar melalui hubungan. Studi lain menggunakan injeksi botox untuk
menyamarkan frowning muscle dari 10 pasien depresi (finzi & wesserman,2006). 2
bulan setelah perawatan, 9 dari 10 nonfrowning patient tidak lagi depresi.