You are on page 1of 69

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat,
baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya
sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat,
vitamin B12, sampai kelainan hemolitik. Anemia dapat diketahui dengan
pemeriksaan fisik maupun dengan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik
penderita tampak pucat, lemah, dan secara laboratorik didapatkan penurunan
kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari harga normal.
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum
dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau
kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang
melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hat ini dapat akibat defek sel darah
merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan
destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik
atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil
samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Seliap
kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan
peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal <_ I mg/dl, kadar diatas 1,5
mg/dl mengakibatkan ikterik pads sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi,
(pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia).

Apabila

konsentrasi

plasmanya

melebihi

kapasitas

haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat


semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin
(hemoglobinuria).

Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh


penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak
mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar:
1. Hitung retikulosit dalam sirkulasi darah
2. Derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara
pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi dan ada tidaknya
hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan
anemia
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mengetahui definisi anemia
2. Mahasiswa mengetahui etiologi anemia
3. Mahasiswa mengetahui patofisiologi anemia
4. Mahasiswa mengetahui klasifikasi anemia
5. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan medis anemia
6. Mahasiswa mengetahui komplikasi anemia
7. Mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan anemia

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Anemia adalah sindroma klinis yang ditandai oleh adanya penurunan
hematokrit, hemoglobin dan jumlah eritrosit dalam darah.
Harga Normal Kadar Hemoglobin
Umbilikus

:17,0 + 3,0 g/dl

5-10 tahun

: 11,0 + 1,5 g/dl

Dewasa :
Pria

: 13,6 17,5 g/dl

Wanita

: 11,5 15,5 g/dl


Kadar hemoglobin kurang dari batas minimal dikatakan anemia

sedangkan yang melebihi batas maksimal dikatakan polisitemia.


2.2 Etiologi
Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang
diperlukan untuk sintesis eritrosit yaitu besi, vitamin B12 dan asam folat.Anemia
juga dapat diakibatkan dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan
genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
1.

Perdarahan hebat

2.

Akut (mendadak)

3.

Kecelakaan

4.

Pembedahan

5.

Persalinan

6.

Pecah pembuluh darah

7.

Penyakit Kronik (menahun)

8.

Perdarahan hidung

9.

Wasir (hemoroid)

10.

Ulkus peptikum

11.

Kanker atau polip disaluran pencernaan

12.

Tumor ginjal atau kandung kemih

13.

Perdarahan menstruasi yang sangat banyak

14.

Berkurangnya pembentukan sel darah merah

15.

Kekurangan zat besi

16.

Kekurangan vitamin B12

17.

Kekurangan asam folat

18.

Kekurangan vitamin C

19.

Penyakit kronik

20.

Meningkatnya penghancuran sel darah merah

21.

Pembesaran limpa

22.

Kerusakan mekanik pada sel darah merah

23.

Reaksi autoimun terhadap sel darah merah

24.

Hemoglobinuria nokturnal paroksismal

25.

Sferositosis herediter dan elliptositosis herediter

26.

Kekurangan G6PD

27.

Penyakit sel sabit

28.

Penyakit hemoglobin C dan penyakit hemoglobin E

2.3 Gejala/Tanda
Perlu dipertanyakan bawasannya anemia bukanlah merupakan
penyakit tertentu dalam arti disease entity akan tetapi hanyalah merupakan
sindoma klinik yang ditimbulkan akibat sesuatu proses patologis klinik yang
ditimbulkan akibat sesuatu proses patologis dalam tubuh yang merupakan
underlying disease (penyakit dasar). Jadi dalam menerangkan gejala-gejala
anemia tentunya tidak lepas dari gejala-gejala dasarnya. Dasar fisiologis dari
timbulnya gejala-gejala dari anemia adalah sebagai berikut : salah satu fungsi
eritrosit adalah sebagai alat transport oksigen, dengan adanya hemoglobin
didalamnya. Apabila eritrosit kurang berarti kadar hemoglobin pun berkurang
dan akhirnya timbullah anoksia dari jaringan target organ.
Gejala-gejala yang timbul adalah akibat dari anoksia jaringan tersebut
atau reaksi kompensasi dari target organ terhadap anoksia. Pada umumnya
gejala dari anemia akan timbul apabila kadar hemoglobin lebih kecil atau sama

dengan 7,0 g/dl. Organ demi organ gejala-gejala dari anemia adalah sebagai
berikut:
1. Gejala dari sistem kardiorespirasi
Gejala yang paling menonjol dari penderita anemia adalah berasal dari
organ ini.Dengan adanya anoksia maka timbullah kompensasi dari jantung
guna memenuhi kebutuhan oksigen tersebut dan terjadilah palpitasi, thaki
kardia, serta denyutan prekardial yang pada dasarnya adalah manifestasi
dari denyut jantung yang bertambah cepat. Berat ringannya manifestasi
anemia dari organ ini tergantung dari hal-hal sebagai berikut :
a. Derajat dari anemianya Gejala baru timbul apabila kadar Hb kurang
dari 7,0 g/dl. Makin berat anemianya gejala makin bertambah berat
pula.
b. Cepatnya timbul anemia makin cepat makin berat pula gejala dari
organ ini. Hal ini dapat diterangkan oleh karena pada anemia yang
timbulnya sangat cepat, tubuh/organ tidak sempat beradaptasi.
Sedangkan pada anemia yang kronis tombul adaptasi dari organ-organ
Nampak lebih ringan.
c. Ada dan tidaknya penyakit jantung sebelumnya, pada orang normal
respon yang terjadi akibat anemia adalah cepat lelah atau sesak napas
pada waktu bekerja. Akibat aliran darah yang cepat pada anemia bisa
timbul sistolik murmur pada semua ostia dari jantung. Bila pada
penderita tersebut terdapat penyakit jantung maka gejala-gejala akan
nampak lebih berat dan tidak jarang terjadi kegagalan faal jantung
akibat anemia yang dikenal dengan anemia heart failure
2. Gejala dari sitem saraf
Akibat dari anoksia pad organ ini dapat timbul sakit kepala, pusing-pusing,
badan terasa ringan, perasaan dingin, telingan berdenging, mata
berkunang-kunang, kelemahan otot, lekas capai dan iritabel.
3. Gejala dari sistem saluran pencernaan makanan
Akibat anoksia dapat timbul tidak suka makan, muntah-muntah, flatulensi,
perasaan tidak enak pada perut bagian atas, obstipasi, dan diare.

4. Gejala dari sitem urogenital


Akibat

anoksia

dapat

timbul

gangguan

haid,

kadang-kadang

hipermenorrhoe dan libido berkurang


5. Pada jaringan epitel
Akibat anoksia Nampak pucat dan mudah dilihat pada kelopak mata,
mulut dan kuku, elastisitas kulit berkurang, rambut tipis
2.4 Patofisiologis
Anemia timbul apabila pemecahan atau pengeluaran eritrosit lebih
besar daripada pembentukan atau pembentukannya sendiri yang menurun. Oleh
karena anemia dapat terjadi melalui mekanisme sebagai berikut :
1. Pendarahan ( pengeluaran eritrosit yang berlebih)
2. Pemecahan eritrosit yang berlebihan ( hemolisis)
3. Pembentukan eritrosit yang berkurang
Pendarahan
Pada penderita yang mengalami pendarahan baik yang akut ataupun
yang kronis walaupun pembentukan eritrosit dalam batas normal, namun
oleh karena pengeluaran eritrosit berlebihan, maka jumlah eritrosit yang
beredar dalam sirkulasipun menjadi berkurang, dan terjadilah anemia.
Pencegahan Eritrosit yang berlebihan
Anemia dalam golongan ini lebih dikenal sebagai anemia hemolitik.
Berbagai macam keadaan yang dapat menjadi penyebab dari anemia
hemolitik adalah sebagai berikut :
A. Eritrosit yang berasal dari luar eritrosit (esktrakorpuskuler) :
1. Reaksi antigen-antibodi
2. Obat-obatan dan bahan kimia
3. Rudapaksa pada eritrosit
4. Pemecahan oleh limpa yang berlebihan (hipersplenisme)
5. Keracunan logam

B. Faktor yang berasal dari dalm eritrosit sendiri (intrakorpuskuler),


keadaan ini bisa terjadi pada :
1. Herediter (bawaan), misalnya kelainan bawaan dari membrane
eritrosit, kekurangan enzim pembentukan eritrosit dan sebagainya
Pembentukan Eritrosit yang berlebihan
Apabila oleh karena sesuatu sebab pembentukan eritrosit yang
berkurang, maka jumlah eritrosit yang berada dalam sirkulasi darah pun
berkurang dan timbul anemia.
Anemia dalam golongan ini dapat terjadi akibat beberapa keadaan sebagai
berikut:
1. Kekurangan bahan baku yang diperlukan untuk pembentukan eritrosit
yaitu misalnya kekurangan zat besi, vitamin B12, asam folat, protein
dan vitamin C.
2. Kekurangan eritroblas (eritrosit yang paling muda)
3. Inflitrasi sel-sel ganas kedalam sumsum tulang yang mendesak sistem
eritroid, misalnya yang terjadi pada penderita leukemia, multripel
myeloma, limfoma maligna, mielofibbosis myeloid metaplasma dan
sebagainya
4. Anemia jenis sideroblastik (kelainan bawaan yang menyangkut sel
eritrosit)
5. Beberapa penyakit yang berasal dari kelejar buntu misalnya : penyakit
gondok, enyakit anak ginjal serta penyakit kelenjar pituitaria
6. Penyakit ginjal yang kronis
7. Penyakit hati
8. Penyakit kronis yang lain baik yang infeksi maupun yang non infeksi
2.5 Penatalaksanaan
Tindakan umum :
Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti
darah yang hilang.
1. Transpalasi sel darah merah.

2. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi.


3. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
4. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan
oksigen
5. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.
6. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium ditemui :
1. Jumlah Hb lebih rendah dari normal ( 12 14 g/dl )
2. Kadar Ht menurun ( normal 37% 41%)
3. Peningkatan bilirubin total ( pada anemia hemolitik )
4. Terlihat retikulositosis dan sferositosis pada apusan darah tepi
5. Terdapat pansitopenia, sumsum tulang kosong diganti lemak (pada anemia
aplastik)

BAB III
TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah kegiatan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber
untuk mengevaluasi & mengidentifikasi status kesehatan klien.
Pengkajian ada 2 hal yaitu :
a. Pengkajian Dasar
Pengkajian dasar adalah kumpulan data yang berisikan status kesehatan
klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan keperawatannya
terhadap dirinya sendiri dan hasil konsultan dari medis atau profesi
kesehatan lainnya
b. Pengkajian Fokus
Pengkajian fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon
klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang
mencakup tindakan yang dilaksanakan kepada klien.
3.1.1

Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang

dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah serta


kebutuhan keperawatan dan kesehatan klien
Pengumpulan informasi merupakan tahap awal dalam proses
keperawatan. Dari informasi yang terkumpul didapatkan data dasar tentang
masalah-masalah yang dihadapi klien. Selanjutnya data dasar tersebut
digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, serta tindakan
keperawatan untuk mengatasi masalah klien.
Pengumpulan data dimulai sejak klien masuk rumah sakit (initial
assissment),

selama

klien

dirawat

secara

terus-menerus

(ongoing

assessment), serta pengkajian ulang untuk menambah atau melengkapi data


(re-assessment).

Kerateristik Data :

1. Lengkap
Seluruh data diperlukan untuk mengidentifikasi masalah
keperawatan klien. Data yang terkumpul harus lengkap guna membantu
mengatasi masalah klien yang adekuat. Misalnya klien tidak mau
makan, kaji secara mendalamn kenapa klien tidak mau makan (tidak
cocok makanannya, kondisi fisiknya menolak untuk makan/patologis).
2. Akurat dan nyata
Untuk menhindari masalah kesalahan, maka perawat harus
berfikir secara akurat dan nyata untuk membuktikan benat tidaknya apa
yang telah di dengar, dilihat, diamati dan di ukur melalui
pemeriksaanada tidaknya validasi terhadap semua data yang sekiranya
meragukan. Perawat tidak boleh langsung membuat kesimpulan tentang
suatu kondisi klien. Misalnya : klien tidak mau makan kerena depresi
berat. Diperlukan penyelidikan lanjutan untuk menerapkan kondisi
klien. Dokumentasikan apa adanyasesuai yang ditemukan pada
saatpengkajian.
3. Relevan
Pencatatan dat komprehensif biasanya memerlukan banyak sekali data
yang harus dikumpulkan, sehingga menyita waktu perawat untuk
mengidentifikasi.
4. Informasi yang diperlukan
Segala sesuatu tentang klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial dan
spiritual. Kemampuan dalam mengayasi masalah dalam kehidupan
sehari-hari. Masalah kesehatan dan keperawatan yang menggangu
kemampuan klien.
Jenis Data :
1. Data Objektif

10

Merupakan data yang diperoleh memulai suatu pengukuran


dan pemeriksaan dengan menggunakan standart yang berlaku. Seperti
warna kulit, tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, dll. Data-data tersebut
melalui senses : sight, smell, hearing, touch dan taste.
2. Data Subjektif
Merupakan data yang diperoleh dari keluhan-keluhan yang
disampaikan oleh klien. Misalnya rasa nyeri, pusing, mual, ketakutan,
kecemasan dll.
Secar umum sumber data yang dapat digunakan dalam pengumpulan
data adalah :
-

Klien sendiri sebagai sumber data utama (primer)

Orang terdekat

Catatan klien

Riwayat penyakit (pemeriksaan fisik dan catatan perkembangan)

Konsultasi

Hasil pemeriksaan diagnostic

Catatan medis dan anggota kesehatan lainnya

Kepustakaan

Cara Pengumpulan Data :


1. Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab yang berkaitan dengan masalah yang
dihadapi oleh klien (anamnesa). Tujuan dari wawancara untuk
memperoleh data tentang masalah kesehatan serta untuk menjalin
hubungan antara perawat dan klien. Semua interaksi perawat dengan
klien adalah berdasarkan komunikasi.
Tahapan wawancara :
a. Persiapan
Sebelum melakukan wawancara dengan klien, perawat harus
melakukan persiapan dengan membaca status klien.
b. Perkenalan

11

Perawat mengawali dengan memperkenalkan diri seperti


nama, status, tujuan wawancara. Perawat harus memberikan
informasi kepada klien mengenai data yang terkumpul.
c. Kerja
d. Terminasi
Perawat mempersiapkan untuk penutupan kesimpulan.
2. Observasi
Observasi adalah untuk mengamati perilaku dan keadaan klien untuk
memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatn klien.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik klien untuk
menentukan masalah kesehatan klien. Pemeriksaan fisik dapat
dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah :
a. Inspeksi
Pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh
yang diperiksa melalui pengamatan. Hasilnya seperti : mata kuning
(icterik), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis)
b. Palpasi
Pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui perabaan terhadap
bagian-bagian tubuh yang mengalami kelainan. Misalnya ada
tumor, oedema, krepitasi (patah/retak tulang)
c. Perkusi
Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mengetuk bagian tubuh
menggunakan tangan atau alat bantu seperti reflek hammer untuk
mengetahui reflek seseorang.juga dilakukan pemeriksaan fisik lain
yang berkaitan dengan pemeriksaan fisik. Misalnya : batas-batas
jantung, batas hepar-paru (mengetahui perkembangan paru)
d. Auskultasi

12

Pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh pendengaran. Biasanya


menggunakan alat yang disebut stetoskope. Hal yang perlu
didengarkan bunyi jantung.

IDENTITAS KLIEN
Nama

No. Reg

Umur

: ..Tahun

Tgl. MRS :

Jenis Kelamin

: L/P

Diagnosis medis :

Suku/Bangsa

: .

Tgl Pengkajian:(Jam)

Agama

: .

Pekerjaan

: .

Pendidikan

: .

Alamat

: .

I.

RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)


Keluhan utama :
Singkat dan jelas, 2 atau 3 kata yang merupakan keluhan yang
membuat pasien meminta bantuan kesehatan.Jika pengkajian dilakukan setelah
beberapa hari pasien Anemia maka keluhan utama diisi dengan keluhan yang
dirasakan saat pengkajian. Misalnya: keluhan utama pada pasien dengan
anemia : lemah, letih, pusing
1.1. Riwayat Penyakit Sekarang
Provokatif Qualitas Regio Skala Time ( analisis gejala keluhan utama
yang meliputi awitan, waktu, durasi, karakteristik, tingkat keparahan, lokasi,
faktor pencetus, gejala yang berhubungan dengan keluhan utama, dan faktor
yang menurunkan keparahan).

13

Merupakan penjelasan dari permulaan klien merasakan keluhan sampai di


bawa ke pelayanan kesehatan. Jika pengkajian dilakukan beberapa hari setelah
pasien rawat inap, maka riwayat penyakit sekarang ditulis dari permulaan
pasien merasakan keluhan sampai kita melakukan pengkajian.
Upaya yang telah dilakukan :
Upaya pasien yang dilakukan untuk mengatasi masalah sebelum dilakukan
pengkajian.
Terapi/operasi yang pernah dilakukan :
Pengobatan/ operasi yang pernah di dapatkan berhubungan dengan kasus
sekarang sebelum Rawat inap di pelayanan kesehatan.
1.2. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Pasien di rawat di rumah sakit dengan diagnose medis yang pertama
anemia asam murat dan pasien tidak mempunyai penyakit kronik menular
1.3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan pada pasien apakah sebelumnya ada yang menderita anemia
pada keluarga.
1.4. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Lingkungan yang telah terpejan oleh anemia
PEMERIKSAAN FISIK
1.5. Status Pasien :
Suhu : C (SUHU. axial, rectal, oral)
Nadi : . x/menit ( NADI. teratur, tidak teratur, kuat, lemah)
TD : ../..mmHg (lengan kiri, lengan kanan, berbaring, duduk)
RR : .x/menit (regular/ irregular)
TB : cm

BB : . Kg ( cara menghitung berat badan ideal : TB -100 ( 10%

dari hasil).
1.6. PEMERIKSAAN PER SISTEM
A. Sistem Pernapasan

14

Karakteristik batuk (batuk produktif dan non produktif, serangan batuk kuat
dan hebat), karakteristik bentuk (dada simetris), Kerateristik frekuensi (25
x/menit, irama teratur, suara napas ronkhi tidak ada weezing).
Area Dada :
Inspeksi

: pola nafas, penggunaan otot Bantu pernafasan, rytme dan

kedalaman

inspirasi,

inspirasi ekspirasi

pergerakan

dada

simetris/tidak,

waktu

(rasio inspirasi : ekspirasi/ normalnya 1:2),

perbedaan kesimetrisan

intercosta kiri dan kanan, kesimetrisan

supraklavikula, bentuk dada (barrel chest, pigeon chest, funnelchest, normal,


dada cembung atau cekung), trauma dada, pembengkakan, penyebaran warna
kulit, cikatrik.
Palpasi

: nyeri tekan, kelainan pada dinding thorax, bengkak

(konsistensi, suhu, denyutan, dapat di gerakkan / tidak), kulit terasa panas,


krepitasi, vocal fremitus melemah / mengeras kanan dan kiri sama atau tidak.
Perkusi

: pada daerah anterior posterior ( resonansi diatas

seluruh permukaan paru, pekak di intercoste V kanan, intercoste II-V kiri,


tympani di intercoste VI kanan).
Auskultasi

: suara nafas trakeal, bronkial, bronkovesikuler, vesikuler

(sesuai dengan lokasi), ronkhi, wheezing, stridor, pleural friction rub,


crakcles.
B. Cardiovaskuler Dan Limfe
Anamnesa

: nyeri dada (PQRST), sesak saat istirahat/beraktivitas, tidur


dengan berapabantal, mudah lelah, diaphoresis, perubahan
berat badan, pusing (sesuai dengan etiologi), tension headache.

Wajah
Inspeksi

: sembab, pucat, oedem periorbital, sianosis, pembuluh darah


mata pecah,konjungtiva pucat/tidak.

Leher
Inspeksi

: bendungan vena jugularis

Palpas

: Arteri carotis communis (frekuensi, kekuatan, irama), nilai


JVP untukmelihat fungsi atrium dan ventrikel kanan.

15

Dada
Inspeksi

:Pulsasi

dada,ictus

cordis,bentuk

dada

sinistra

cembung/cekung.
Palpasi

:letak ictus kordis ( ICS 5, 1 cm medial dari garis midklavikula


sinistraapabila tidak dapat diinspeksi, pergeseran ke arah
lateral menunjukkanpembesaran

Perkusi

:batas jantung dengan adanya bunyi redup, apakah terjadi


pelebaranataupengecilan

Auskultasi

: bunyi jantung normal ( BJ 1 dan BJ 2) atau ada kelainan


bunyi jantung(gallop, murmur, friction rub, BJ3(fibrasi
pengisian ventrikel), BJ4(tahanan pengisian ventrikel setelah
kontraksi atrium, terdengar antara BJ 1 dan BJ 2)).

Ekstrimitas Atas
Inspeksi

: sianosis, clubbing finger, perfusi (merah, pucat

Palpasi

: CRT, suhu akral, perfusi (hangat, dingin, kering, basah)

Ekstrimitas Bawah
Inspeksi
Palpasi

: Varises, sianosis, clubbing finger, oedem


: CRT, pulsasi arteri (iliaka, femoralis, dorsalis pedis), suhu
akral, pitting oedem

C. Persyarafan
Anamnesis : nyeri kepala berputar-putar, nyeri kepala sebelah, hilang
keseimbangan, mual muntah(tergantung etiologi), perubahan berbicara,
tremor, parastesia, anasthesia, parese, paralisis, koordinasi antar anggota
badan, reaksi terhadap suara.
Tingkat kesadaran (Kuantitas) :
GCS (Glasgow Coma Scale), yang dinilai yaitu :
-

Eye/membuka mata (E) :


4 = dapat membuka mata spontan
3 = membuka mata dengan dipanggil/atas perintah

16

2 = membuka mata bila dirangsang nyeri


1 = selalu tertutup walaupun dirangsang nyeri
-

Motorik (M) :
6 = dapat bergerak sesuai perintah
5 = dapat bereaksi menyingkirkan rangsangan nyeri/reaksi setempat
4 = bereaksi fleksi siku pada rangsangan nyeri/menghindar
3 = dengan rangsangan nyeri dapat bereaksi fleksi pada pergelangan tangan
atau

jari

atau

fleksi

spastic

pada

tungkai

atau

abduksi

lengan

atas/fleksiabnormal
2 = respon ekstensi
1 = tidak bereaksi
- Verbal/bicara (V) :
5 = orientasi baik : orang, tempat, waktu
4 = jawaban kacau
3 = kata-kata tak berarti
2= suara tidak komprehensif
1 = tidak ada suara
Tingkat kesadaran berdasarkan AVPU (Alert Verbal Pain Unrespon) :
Alert : respon spontan
Verbal : berespon setelah dipanggil
Pain : berespon setelah diberi rangsangan nyeri
Unrespon : tidak berespon dengan rangsangan apapun
(Penilaian berdasarkan respon yang ditunjukkan oleh pasien saat itu)
D. Perkemihan-Eliminasi Urine
Anamnesa
Nyeri saat miksi / disuria (PQRST), menggigil /panas tubuh, saat BAK
mengejan, inkontinensia urine (ketidakmampuan seseorang untuk menahan
urin yang keluar dari buli-buli baik disadari maupun tidak disadari), poliuria
(banyak kencing > 1500 cc/24 jam), anuria (jumlah urin < 200 ml/24 jam),
oliguri (jumlah urin 600 ml/24 jam), skrotum membesar, karakteristik urin

17

(jumlah, warna, bau), gatal, nafas berbau amoniak/ureum, nokturi (sering


kencing pada malam hari). Urgensi (rasa sangat ingin kencing sehingga terasa
sakit), hesitansi (sulit untuk memulai kencing, sehingga untuk memulai
kencing kadang-kadang harus mengejan), terminal dribbling ( masih
didapatkannya tetesan-tetesan urin pada akhir miksi), intermitensi ( terputusputusnya pancaran urin pada saat miksi), residual urine (masih terasa ada sisa
urine yang belum tuntas setelah miksi), retensi urine (ketidakmampuan bulibuli untuk mengeluarkan urin yang telah melampaui batas kapasitas
maksimalnya), polakisuri (frekuensi kencing yang lebih sering dari biasanya),
disuria (perasaan nyeri saat kencing), enuresis/ ngompol ( keluarnya urin
secara tidak dasadari pada saat tidur), chiluria ( urin yang berwarna putih
seperti cairan limfe)
Genetalia eksterna :
Laki-Laki :
Penis
Inspeksi

:Mikropenis, makropenis, hipospadia, epispedia, stenosis


meatus uretra eksterna, fistel uretrocutan, ulkus, tumor penis,
warna kemerahan,kebersihan, adanya luka atau trauma

Palpasi

: nyeri tekan

Scrotum
Inspeksi

:pembesaran,

transiluminasi/

penerawangan

(untuk

membedakan massa padat dan massa kistus yang terdapat pada


isi scrotum dengan cara penerawangan dilakukan pada tempat
yang gelap dan menyinari scrotum dengan cahaya terang, jika
isi scrotum tampak menerawang berarti berisi cairan dan
dikatakan transiluminasi positif atau deafanoskopi positif),
hipoplasi kulit (sering dijumpai pada kriptorkismus),luka
/trauma, tanda infeksi, kebersihan.
Palpasi

: nyeri tekan, penurunan testis

18

Perempuan :
Genetalia eksterna
Inspeksi

:odema, kemerahan, tandatanda infeksi, pengeluaran per


vagina (cairan), varises, kondiloma, kebersihan, bartolinitis,
luka/trauma.

Palpasi

: benjolan, nyeri tekan.

Kandung kemih:
Inspeksi

: adanya massa/ benjolan, jaringan parut bekas irisan atau


operasa di suprasimfisis, pembesaran kandung kemih dan
keteganganya, sistostomi

Palpasi

: adanya nyeri tekan, tahanan lunak diatas simpisis pubis,


teraba massa

Ginjal :
Inspeksi

: pembesaran daerah pinggang (karena hidronefrosis atau


tumor di daerah retroperitoneum).

Palpasi

: dengan cara ( memakai dua tangan, tangan kiri diletakkan


disudut kostevertebra untuk mengangkat ginjal ke atas
sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari depan), adanya
nyeri tekan abdomen kuadran I dan II diatas umbilikus, suhu
kulit, massa

Perkusi

: nyeri ketok (dengan cara memberikan ketokan pada sudut


kostavertebra, yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir
dengan tulang vertebra)

E. Sistem Pencernaan
Anamnesa
Nafsu makan, pola makan klien, porsi makan dan jumlah minum per hari,
alergi terhadap makan, keluhan mual muntah, nyeri tenggorokan, telan,
melakukan diet, disfagia, riwayat penggunaan pencahar. Jika ada keluhan
nyeri

perut

dijelaskan

secara

PQRST. Gangguan

defekasi

(diare,

19

konstipasi/obstipasi), nyeri BAB, pola BAB, karakteristik feses meliputi


bentuk/konsistensi, bau, warna, darah, lendir dalam feses, flatus, hemorroid,
perubahan BB,
Mulut:
Inspeksi : mukosa bibir, labio/palatoschiziz, gigi (jumlah, karies, plak,
kebersihan,

gingitivis),

Gusi

(berdarah,

lesi/bengkak,

edema), mukosa mulut (stomatitis, nodul/benjolan, kebersihan).


Produksi saliva, pembesaran kelenjar parotis
Palpasi : nyeri tekan pada rongga mulut, massa
Lidah
Inspeksi

:Posisi,

warna

dan

bentuk,

simetris,

kebersihan,

warna,

gerakan,tremor, lesi
Palpasi : Nodul, oedema, nyeri tekan
Faring - Esofagus :
Inspeksi : hiperemi, warna dan bentuk palatum. Tonsil (bentuk, warna dan
ukuran)
Palpasi : pembesaran kelenjar
Abdomen (dibagi menjadi 4 kuadran)
Inspeksi: pembesaran abnormal (asites, distensi abdomen), spider navy,
tampak vena porta hepatika, bekas luka, luka (colostomy, CAPD, hernia),
umbilikus (kebersihan, menonjol,)
Auskultasi

: peristaltik usus

Perkusi

: tymphani, hipertympani, batas batas hepar, nyeri

Palpasi:
Kuadran I:
Hepar hepatomegali, nyeri tekan, shifting dullness
Kuadran II:
Gaster nyeri tekan abdomen, distensi abdomen

20

Lien splenomegali
Kuadran III:
Massa (skibala, tumor), nyeri tekan
Kuadran IV:
Nyeri tekan pada titik Mc Burney
F. Sistem Muskuloskeletal & Integumen
Anamnese

: Adakah nyeri, kelemahan extremitas, Cara berjalan, Bentuk

tulang belakang (lordosis:keadaan tulang belakang condong ke arah depan,


kiposis: keadaan tulang condong ke arah belakang, skoliosis: keadaan tulang
condong ke arah samping)
Warna kulit
Hiperpigmentasi, hipopigmentasi (dikaji dengan pemeriksaan sensasi
panas/nyeri), icterus, kering, mengelupas, bersisik (di sela-sela jari
kaki/tangan)
Kekuatan otot :
Keterangan:
0: Tidak ada kontraksi
1: Kontaksi (gerakan minimal)
2: Gerakan aktif namun tidak dapat melawan gravitasi
3: Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi
4: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan
ringan
5: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan
penuh
Fraktur
Look : Deformitas,Bengkak (Swelling), pemendekan (Shortening), luka
terbuka

21

Feel :Nyeri, pulsasi (nadi bagian distal), Perfusi (normal : hangat, kering,
merah), krepitasi tulang.
Move : kekakuan (Stiffness), Kontraktur sendi.
Luka :
Inspeksi : adanya tanda radang, warna (merah/vaskularisasi baik,
kuning/peradangan, hitam/nekrosis), karakteristik (kedalaman, luas, jenis
cairan yang kluar)
Palpasi : warna cairan yang keluar (luka jahitan), suhu (panas,dingin)
G. Sistem Endokrin dan Eksokrin
Anamnesa :
Menanyakan bagaimana riwayat nutrisi dan eleminasi
polifagia,

polidipsia),

lemah,

kejang/kram,

adanya

(3P : Poliuria,
disfungsi

gonad

(kemampuan ereksi, dispareunia, pruritus), pandangan kabur, perubahan berat


badan dan tinggi badan, kesulitan menelan, berkeringat, tremor, hot flushes
(panas pada wajah)
Riwayat KB : Ditanyakan apakah klien pernah ikut KB, metode apa yang
digunakan,

kapan menggunakannya, alasan mengikuti KB, alasan

berhenti, side efek.


Kepala :
Inspeksi

: distribusi rambut, ketebalan, kerontokan ( hirsutisme),


alopesia (botak), moon face

Leher
Inspeksi

: bentuk, pembesaran kelenjar thyroid, perubahan warna

Palpasi

: pembesaran kelenjar (thyroid, parathyroid), nyeri tekan, suhu

Payudara
Inspeksi

: pembesaran mamae (pada laki-laki)

Genetalia :
Inspeksi

Rambut

pubis(

distribusi,

ketebalan,

kerontokan),

kebersihan, pengeluaran (darah, cairan, lendir).

22

Palpasi

adakah

benjolan,

kegagalan

penurunan

testis

(kriptokismus),
Ekstremitas bawah
Palpasi : edema non pitting
H. Sistem Reproduksi
Anamnesa :
1. Menanyakan bagaimana riwayat haid yang meliputi: menarche, cyclus
haid, lama haid, banyaknya darah & sifatnya (cair, bergumpal), flour
albus (warna, bau, jumlah), disminore. Menorhagia, metrorhagia. keluhan
waktu coitus (nyeri, pengeluaran darah)
2. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas, Keluarga berencana
a.

Untuk riwayat kehamilan ditanyakan, sudah pernah hamil,


berapa kali hamil, pernah keguguran atau tidak, adakah penyulit
kehamilan. jarak kehamilannya anak ke-1 dan ke-2 dst.

b. Untuk riwayat persalinan ditanyakan jenis persalinannya bagaimana,


spontan atau dengan bantuan alat, SC
Payudara
Inspeksi

: bentuk, kebersihan, warna areola, bentuk papilla mamae, adanya


massa, kulit seperti kulit jeruk, adanya luka, kesimetrisan
payudara

Palpasi : ada /tidak benjolan abnormal, pengeluaran( cairan, darah ), nyeri


tekan,
Axilla :
Inspeksi

: tampak /tidak adanya benjolan abnormal,

Palpasi

: teraba/ tidak benjolan abnormal

Abdomen:
Inspeksi

: pembesaran abdomen , luka post SC, strie ( albican, livide).

Palpasi

: pembesaran (kontur, ukuran), adakah massa.

Genetalia :

23

Inspeksi : Rambut pubis, kebersihan,odema, varices, benjolan, pengeluaran


(darah, cairan, lendir), adakah tanda-tanda infeksi.
Palpasi

: adakah benjolan/ massa dan nyeri tekan.

Laki-laki :
Anamnesa :
keluhan waktu coitus (kemampuan ereksi ,rasa nyeri, ejakulasi dini),
Genetalia :
Inspeksi : bentuk, rambut pubis, kebersihan,odema, varices, benjolan,
pengeluaran (darah, cairan, lendir), turunnya testis, luka/keadaan luka.
priapismus
Palpasi: adakah benjolan,

I. Persepsi sensori :
Anamnesa : tanyakan pada klien :
Apakah ada nyeri yang dirasakan pada mata, Keluhan penurunan tajam
penglihatan, Keluhan mata berkunang-kunang, kabur, penglihatan ganda
( diplopia )., Keluhan mata berair, gatal, kering, adanya benda asing dalam
mata
Tinnitus (berdenging), penurunan pendengaran, terasa penuh pada telinga,
nyeri.
Rasa sengau pada hidung
Mata
Inspeksi :
Kesimetrisan mata, bentuk mata, lesi Papelbra ( ukuran, bentuk, warna, cairan
yang keluar ), Bulu mata (pnyebaran, posisi masuk :Enteropion, keluar
:ksteropion), produksi air mata.
Kornea : Normal berkilau, transparan
Iris dan pupil :warna iris dan ukuran, uji reflek cahaya pada pupil
Lensa : Normal jernih dan transparan, pada org tua kdg ada cincin putih
seputar iris (Arkus senilis)

24

Sclera ; warna ( putih, ikterik)


Palpasi:
Teraba lunak/ keras, nyeri dan pembengkakan kelopak mata, palpasi kantong
lakrimal, pemeriksaan TIO
D. Penciuman (Hidung) :

Palpasi; Sinus (maksilaris, frontalis, etmoidalis, sfenoidalis), Palpasi fossa


kanina ( nyeri/ tidak),Pembengkakan, Deformitas

Perkusi : pada regio frontalis sinus frontalis dan fossa kanina kita lakukan
apabila palpasi pada keduanya menimbulkan reaksi hebat

J. POLA KONSEP DIRI


CitraTubuh :
Adalah bagaimana sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan
tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran,
bentuk dan fungsi penampilan tubuh saat ini dan masa lalu.
Ideal Diri :
Bagaimana klien mempersepsi ia harus berperilaku sesuai dengan standar
perilaku.Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi.
HargaDiri :
Bagaimana penilaian klien terhadap hasil pencaian yang dicapai dengan
menganalisis sejauh mana perilaku yang sesuai dengan ideal diri. Jika
individu selau sukses maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika
mengalami kegagalan cenderung harga dirinya rendah. Harga diri
diperoleh dari diri sendiri dan orang lain.
Peran Diri :
bagaimana pola, perilaku nilai yang diharapkan klien berdasarkan
fungsinya di dalam masyarakat.
Identitas Diri

25

Bagaimana kesadaran akan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi


dan penilaian yang merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri
sebagai suatu kesatuan yang utuh.
K. POLA PERSEPSI TATA LAKSANA HIDUP SEHAT
1. Bagaimana kebiasaan klien dalam tata cara hidup sehat (pola makan
termasuk Makan buah dan sayur setiap hari, Melakukan aktivitas fisik
setiap

hari, Tidak

merokok/ tidak konsumsi minuman/makanan

beralkohol/ napza , menggunakan air bersih, Mencuci tangan dengan air


bersih dan sabun, Menggunakan jamban sehat).
2. Pemanfaatan sarana dan prasarana kesehatan yang terdekat dalam
mengatasi permasalahan kesehatan ( PKM, Tenaga kesehatan, dukun,
alternatif, ramuan obat obatan herbal, membeli obat obat bebas di toko
obat/ apotek ).
3. Kebiasaan sehari-hari : mandi, keramas, sikat gigi, memotong kuku, ganti
pakaian dll yang berhubungan dengan pola hidup sehat.
L. POLA NILAI DAN KEPERCAYAAN/ SPIRITUAL
Konsep klien tentang kepercayaan/ keyakinan terhadap Tuhan YME,
sumber kekuatan/ harapan saat sakit. Bagaimana cara yang klien lakukan
dalam melaksanakan pendekatan terhadap Tuhan YME saat sakit. Bagaimana
cara klien melaksanakan kegiatan keagamaannya/ kepercayaannya saat sakit
di Rumah Sakit.
Bagaimana budaya untuk mencari pengobatan saat sakit yang berhubungan
dengan nilai kepercayaan dan keagamaan yang dianut. Bagaimana
kepercayaan/ keyakinan klien terhadap situasi sakit dan penyebab sakitnya,
serta cara penanganannya/ penanggulangannya .

M. POLA MEKANISME KOPING

26

Mengkaji bagaimana individu dalam mengahapi persepsi diri yang tidak


menyenangkan terhadap diri klien sendiri atau dalam menghadapi masalah /
penyakit yang sedang di alaminya.
Strategi koping : strategi koping apa yang digunakan klien bila menghadapi
masalah.
N. HUBUNGAN PERAN
Bagaimana peran klien dalam masyarakat saat sebelum sakit dan bagaimana
setelah sakit , apakah perannya terganggu ataukah ada yang menggantikan
perannya saat klien sakit.
O. POLA ISTIRAHAT TIDUR
Apa kebiasaan yang dilakukan klien sebelum tidur, berapa lama klien tidur
pada siang hari dan malam hari, kebiasaan klien tidur siang pukul berapa dan
tidur malam berapa lama.
Aktivitas klien sehari
P. POLA PSIKOSOSIAL
Meliputi reaksi psikologi atau Verbal & Non verbal klien:
Mengamati ekspresi muka, apakah menunjukkankemarahan, kesedihan,
kesakitan, apa gelisah, melamun, takut, bingung, pendiam, agresif, banyak
bicara, bicara lambat atau menangis, ada perasaan bersalah dan hanya
berespon bila ditanya.
Bagaimana respon psikologis yang digunakan : tmenurunkan ketegagangan ,
Menarik diri, kecemasan, HDR.
Bagaimana Interaksi klien dengan orang lain.Siapa hubungan klien yang palin
dekat / paling
Bagaimana dukungan keluarga, kelompok dan masyarakat pada klien saat
sakit.
Bagaimana interaksi klien dengan perawat, klien di dekatnya dan dokter.

27

3.2. Diagnosa Keperawatan


1. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umun
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Konstipasi / diare berhubungan dengan penurunan masukan diet,
erubahan proses pencernaan, efek samping terapi obat
Tujuan Diagnoss Keperawatan
Tujuan diagnose keperawatan adalah :
-

Untuk mengidentifikasi masalah dimana adanya respon klien


terhadap status kesehatan

Untuk

mengidentifikasi

factor-faktor

yang

menunjang

atau

menyebabkan suatu masalah (etiologis)


-

Untuk mengidentifikasi kemampuan klien untuk mencegah atau


menyelesaikan masalah

3. Kompenen Diagnosa Keperawatan


Rumusan diagnose keperawatan mengandung 3 kompenen utama, yaitu :
a. Problem (P/Masalah)
Merupakan gambaran keadaan klien diman tindakan keperawatan
dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan
dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi
Tujuan : menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan
klien

secar

jelas.

Diagnosis

keperawatan

disusun

dengan

menggunakan standart yang telah diseakati (NANDA, Doengoes,


Carpenito, Gordon dll) supaya perawat dapat berkomunikasi dengan
istilah di mengerti, meningkatkan kerja sama perawat dalam
mendefinisikan diagnosis dari data pengkajian dan intervensi
keperawatan,

sehingga

dapat

meningkatkan

mutu

asuhan

keperawatan.
b. Etiologi (E/Penyebab)
Keadan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan
yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan Penyebab

28

meliputi : perilaku lingkungan, interaksi antara perilaku dan


lingkungan.
c. Sign dan Synptom (S/Tanda dan gejala)
Merupakan cirri, tanda atau gejala yang diperlukan untuk
merumuskan diagnosis keperawatan.
3.3. Intervensi (Perencanaan)
1. Pengertian Intervensi
Menurut Kozier et al (1995) Perencanaan adalah sesuatu yang telah
dipertimbangkan secara mendalam, tahap yang sistematis dari proses
keperawatan meliputi kegiatan pembuatan keputusan dan pemecahan
masalah.
Dalam perencanaan keperawatan perawat menetapkannya berdasarkan
hasil pengumpulan data dan rumusan diagnose keperawatan untuk
mencegah dan menurunkan masalah klien.

NIC
INTERVENSI
Intoleransi
aktivitas
kelemahan umum
Keseimbangan

nutrisi

kebutuhan untuk mencerna

b.d

AKTIVITAS
1. Kolaborasi dengan tim tenaga medis
2. Anjurkan pasien istirahat

1. Setela

selama

3. Berikan lingkungan tenang


menin
dari 1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan 1. Menin
yang disukai
2. Kolaborasi

dengan

ahli

gizi

untuk

menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang


dibutuhkan pasien
3. Anjurkan

pasien

untuk

meningkatkan

protein dan vitamin C


4. Ajarkan

pasien

bagaimana

membuat

catatan makanan harian


Berikan informasi tentang kebutuhan
pasien

29

Konstipasi / diare berhubungan

1. Auskultas bunyi usus

dengan penurunan masukan

2. Hindari makanan yang membentuk gas

diet, perubahan proses

3. Posisikan pasien untuk memaksimalkan 2. Memb

pencernaan, efek samping


terapi obat.

1. Bunyi

ventilasi
4. Konsul

pada d

atau fa
dengan

ahli

gizi

untuk

memberikan diet seimbang

identif

3. Menur

abdom

4. Memb
feses

memp

3.4 Implementasi
1. Pengertian Implementasi
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik.Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan
disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien
mencapai tujuan yang diharapkan.
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan
yang

telah

ditetapkan,yang

mencakup

peningkatan

kesehatan,

pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.


IMPLEMENTASI
Intoleransi
aktivitas
kelemahan umum

b.d

AKTIVITAS
4. Kolaborasi dengan tim tenaga medis

2. Setel

R/ Pemberian terapi

selam

5. Anjurkan pasien istirahat

meni

R/ Pasien susah tidur


6. Berikan lingkungan tenang
R/
Keseimbangan

nutrisi

kebutuhan untuk mencerna

Pasien

msih

pusing

dengan

lingkungan tenang
dari 5. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan 2. Men
yang disukai
R/ Tidak suka makanan yang berserat

30

6. Berikan

makanan

sedikit

dengan

frekuensi sering
R/ klien mual dan muntah
7. Ajarkan pasien bagaimana membuat
catatan makanan harian
R/klien jarang makan karna nafsu
Konstipasi / diare berhubungan
dengan penurunan masukan diet,
perubahan proses pencernaan.

makan yang menurun


5. Auskultas bunyi usus

5. Buny

R/ bising usus tidak terdengar


6. Konsul

dengan

ahli

gizi

memberikan diet seimbang

pada

untuk 6. Mem
atau

di ide

7. Menu

abdom

8. Mem

konsi

memb

hidra
3.5 Evaluasi
Penulis dapat mengevaluasi keadaan pasien dan tindakan
keperawatan selanjutnya setelah dilakukan implementasi. Evaluasi terdiri dari
subjektif, berdasarkan apa yang dikatakan oleh pasien, objektif, berdasarkan
pengamatan terhadap keadaan pasien.
Data yang diperoleh :
1. Terhindar dari resiko perfusi perifer
2. Bebas dari nyeri
3. Terpenuhinya akivitas sehari-hari
4. Terpenuhinyta kebutuhan nutrisi
5. Menunjukkan penurunan kecemasan
6. Memahami penyakit dan tujuan perawatannya
7. Mematuhi semua aturan medis

31

BAB IV
KASUS ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 PENGKAJIAN
IDENTITAS KLIEN
Nama

: Ny.adelle

Umur

: 48 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Suku/Bangsa

: Jawa / Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Pendidikan

: SMA

Alamat

: Ds. Sumberagung

No. Reg

: 12015

Tgl. MRS

: 28 Maret 2016 (12.15)

Diagnosis medis

: Anemia

Tgl Pengkajian

: 28 maret 2016 (12.30)

32

PENANGGUNG JAWAB
Nama

: Beny

Umur

: 53 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Karyawan Swasta

Hubungan dengan pasien : Suami


Alamat

: Ds. Sumberagung

4.1.1. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)


Keluhan utama :
Pasien mengeluhkan lemah letih dan pusing

4.1.1.1 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RSU pada tanggal 28 maret 2016 pada pukul 12.15
dengan keluhan lemah, lemas, berkeringat dan pusing. Sebelumnya pasien
sudah di bawah ke puskesmas tapi sarankan untuk MRS.

4.1.1.2 Riwayat Kesehatan Terdahulu


Pasien mengatakan pernah menderita penyakit anemia dan 2x dirawat di rsi
st aisyah sekitar 3 bulan yang lalu dengan diagnosa medis yang pertama
anemia+ asam urat yang kedua diagnosa medis anemia+febris Pasien
mengatakan tidak mempunyai penyakit kronik dan menular.

4.1.1.3 Riwayat Kesehatan Keluarga


Di dalam keluarga tidak ada yang menderita sakit sperti yang diderita
pasien tetapi pasien mengatakn bapak klien menderita penyakit sesak nafas.
Genogram

33

34

4.1.1.3 Riwayat Kesehatan Lingkungan


Pasen tinggal bersama suami dan anaknya. Pasien mengatakan lingkungan
rumahnya bersih karena pasien tidak suka dengan lingkungan yang kotor
jadi pasien sering melakukan aktivitas yang cukup banyak.

4.1.2

PEMERIKSAAN FISIK

4.1.2.1 Tanda-tanda Vital, TB dan BB :


S : 36C
N : 100x/menit
TD : 100/60mmHg
RR : 25 x/menit
TB : 157cm
BB : 47 Kg
IMT : 18,35 kg/m2
4.1.3 PEMERIKSAAN PER SISTEM
A. Sistem Pernapasan
Klien mengeluh sesak ringan dan batuk tidak produktif. Bentuk dada
simetris, pengembangan dada simetris , Frekuensi 25 x/menit, Irama
pernafasan teratur , Suara napas ronchi, tidak ada wheezing, Tidak
menggunakan alat bantu napas. Roles juga tidak ada, tidak ada Hemaptoe.
B. Cardiovaskuler Dan Limfe
Nyeri dada ringan, mudah lelah, perubahan berat badan, pusing. Irama
jantung regular , S1/s2 tunggal, Suara jantung : normal,CRT: 3 dtik,
Akral pucat, Sirkulasi perifer yaitu nadi 100x/mnt, denyut kuat, TD 100/60
mmHg.
C. Persyarafan
Tingkat kesadaran yaitu cosposmentis, Glasgow Coma Scale (GCS) yaitu
15(Motorik 6, Verbal 5, Mata 4), Klien mengeluh pusing berputar, Pupil
isokor, Sclera ikterus, Conjungtiva anemis, Gangguan pandangan : reflek
cahaya +/+, Klien mengeluh susah tidur, ketidak mampuan berkonsentrasi.

35

D. Perkemihan-Eliminasi Urine
Tidak ada retensi urine, inkontenesia juga tidak ada, BAK normal 3-4 x/24
jam, Bau amoniak, Warna kuning jernih,
Kandung kemih tidak
membesar maupun nyeri tekan, Tidak menggunakan alat bantu kateter,
tidak ada sakit pinggang, tidak ada penyakit kelamin.
E. Sistem Pencernaan
Keadaan mulut yaitu gigi bersih, tidak ada caries gigi, ,tidak ada
stomatitis, lidah bersih, saliva normal,tidak ada peradangan paada gusi.
Adanya muntah setiap habis makan, muntah berupa 8 makanan yang
dimakan dan kadang-kadang hanya air, adanya mual, nafsu makan tidak
ada, Mukosa bibir kering, Adanya splenomegali, Tidak ada masalah
dengan tenggorokan, Peristaltic normal, , peristaltik usus 15 x/menit ,
Klien mengatakan belum BAB terakhir tanggal 24-03-2016, Gangguan
konntipasi, Intake cairan : oral : + 350 cc/hari. Parental 1500 cc/hari, Tidak
terpasanng NGT.
F. Sistem Muskuloskeletal & Integumen
Pergerakan sendi terbatas, Kekkuatan otot
5
5
5
5
klien mengatakan badannya merasa lemah,letih setelah aktivitas, kelainan
tulang belakang : kifosis, kulit pucat , turgor kulit kurang elastic, kuku
rambut rapuh .

G. Sistem Endokrin dan Eksokrin


Tidak ada pembesaran keelenjar thyroid dan kelenjar getah bening.

H. Sistem Reproduksi
Adanya amenore, Menurunnya fungsi seksual, Impotent.
I. Persepsi sensori :
Sistem Penglihatan :Posisi mata simetris, Pupil isokor, Sclera ikterus,
Conjungtiva anemis, cahaya kelopak mata normal, pergerakan bola
matanormal. Kornea jernih, tidak ada strabismus, fungsi penglihatan baik,
tidak ada tanda-tanda peradangan, tidak memakai kaca mata, tidak
memakai lensa kontak, reaksi terhadap cahaya kanan dan kiri positif,

36

tampak warna hitam pada kelopak mata bawah sekitar mata, mata tampak
sayu, tidak ada hematoma.
Sistem Pendengaran : Daun telinga simetris dan tidak sakit bila
digerakkan, tidak bengkak.Tidak ada serumen dan juga nanah, tidak ada
lesi, tidak ada tinitus, tidak ada perasaan penuh di telinga, fungsi
pendengaran baik, pada pemeriksaan garputala hasil positif kanan dan kiri,
tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
Sistem wicara : Tidak ada kesulitan dan gangguan dalam berbicara, tidak
memakai ETT dan Trakeostomi.
Sistem penciuman : bentuk simetris, septum terletak di tengah, tidak ada
secret, tidak terdapat sinusitis, tidak ada polip, tidak ada epitaksis, fungsi
penciuman baik.
J. POLA PERSEPSI TATA LAKSANA HIDUP SEHAT
Sebelum sakit :

Pasien dapat melakukan segala aktivitas sendiri

Pasien makan biasa sehari 3 kali (pagi, siang, malam) tidak


teratur jamnya, terkadang makan cuma 2 kali bahkansering 1
kali makan, lauk sering seadanya, minum 5-6 gelas perhari air
putih dan the manis/susu sehari 1 kali.

Saat ini :

Pasien untuk keperluan mandi, berpakaian, eliminasi, makan


pasien memerlukan bantuan orang lain, sedang untuk mobilisasi
ditempat tidur bisa sendiri.

Makan pada awal sakit selama 2 hari tidak mau makan karena
perutnya mual dan muntah jika diberi makanan, tapi setelah hari
ke 2 itu pasien sudah mulai makan dan makanan yang
disajikanpun bergizi tapi sering tidak dihabiskan, makan Cuma 5
sendok serta terlihat makan sate kambing.

K. POLA KONSEP DIRI


Sebelum sakit : Harga diri tinggi, disiplin dan mandiri

37

Saat ini

: Harga diri tinggi berusaha untuk mandiri, tapi pasien


mengalami kesulitan jadi dibantu oleh keluarganya.

L. POLA NILAI DAN KEPERCAYAAN/ SPIRITUAL


Sebelum sakit : pasien rajin beribadah
Selama sakit : pasien masih rajin beribadah walaupun kesulitan dalam
bergerak leluasa jadi di bantu oleh keluarganya.

M. POLA MEKANISME KOPING


Sebelum sakit : Pasien tidak ada masalah dalam beraktivitas
Saat ini

: Masalah utama yang dirasakan selama sakit yaitu merasa

capek, badan merasa lemas, kepala pusing, nafsu makan menurun, berat
badan menurun, perut mual, sering muntah

N. HUBUNGAN PERAN
Sebelum sakit : Pasien dapat berhubungan/berkomunikasi dengan
siapapun, baik keluarga maupun teman.
Saat ini

: Pasien dalam berhubungan/berkomunikasi tetap baik

dengan siapapun, Cuma pasien tidak bias lebih berleluasa seperti dulu.

O. POLA ISTIRAHAT TIDUR


Sebelum sakit : Pasien tidur siang 1 jam, tidur pada malam hari 5-6
jam. Kebiasaan tidur pasien tidak mempengaruhi kehidupannya, karena
tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan untuk pemenuhan kebutuhan
tidur.
Saat ini
: Pasien tidur siang 2-3 jam, tidur pada malam hari 6-8
jam. Karena kondisi pasien yang lemah maka pasien tidurnya agak sedikit
terganggu dan tidak nyenyak.

P. POLA PSIKOSOSIAL
Persepsi klien terhadap sakit yang diderita adalah cobaan dari tuhan
Ekspresi klien terhadap penyakit yang diderita gelisah / cemas
Reaksi saat interaksi sangat kooperatif

38

Pemeriksaan penunjang
Hemoglobin

7,9 dl/l

Leukosit

6300

Segmen

27%

Limfosit

61 %

Monosit

12 %

LED

63/115 mm/jam

Hematocrit

23,6 %

Trombosit

130,80

SGOT

14 miu/l

SGPT

27 miu/l

HBS Ag

negative

Anti hiv

Non reaktif

39

4.2. DIAGNOSA
ANALISA DATA

Nama Pasien : Ny. Adelle

TGL
28-32016

DATA

No RM

: 12015

Dx. Medis

: Anemia

ETIOLOGI

DS:klien mengeluh
Kelemahan umum
badannya mual, tidak
nafsu makan
lemas,lesu,pusing setelah
aktivitas.
Do:
Ku lemah
Kebutuhan cairan
kurang
Pergerakan sendi
terbatas
TTV
S : 36,5 C
N : 100x/mnt
T : 100/60 mmHg
RR : 25 x/mnt
H : 7,9

MASALAH
Intoleransi aktivitas

28-3-

DS = Klien mengatakan Intake kurang akibat Ketidakseimbangan

2016

merasa berat

HB turun

badannya menurun.

Nutrisi kurang dari


Kebutuhan tubuh

DO = BB turun sebelum
sakit = 49 kg
Saat sakit = 47 kg.

28-3-

- Mual muntah 3-4 kali


DS = klien mengatakan penurunan masukan

konstipasi

40

2016

perutnya
(perut)

nyeri diet, perubahan


proses pencernaan,

DO= pada saat palpasi efek samping terapi


terdapat
obat.
splenomegali
Adanya konstipasi

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


TANGGAL
28-3-2016

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

DIAGNOSA
00092

Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum.

00002

Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan


tubuh.

00011

Konstipasi / diare berhubungan dengan penurunan


masukan diet, perubahan proses pencernaan, efek
samping terapi obat.

DAFTAR PRIORITAS
DIAGNOSA KEPERAWATAN
41

TANGGAL
28-3-2016

NO

PRIORITAS

DIAGNOSA

DIAGNOSA KEPERAWATAN

00092

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan


umum.

00002

Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan


tubuh sehunbungan dengan Intake kurang akibat HB
turun.
Konstipasi / diare berhubungan dengan penurunan

00011

masukan diet, perubahan proses pencernaan, efek


samping terapi obat.

42

4.3 INTERVENSI
RENCANA KEPERAWATAN

Nama Pasien

TANGGAL

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

28-3-2016

Intoleransi aktivitas
b.d kelemahan
umum

: Ny. Adelle

No RM

: 12015

Dx. Medis

: Anemia

RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN

KRITERIA

INTERVENSI

RASIONAL

HASIL
Setelah
diberikan
asuhan
keperawatan
selama 2x 24
jam
diharapkan

-KU baik
-akral hangat
-sclera normal
-conjungtiva
normal
- turgor kulit
elastis

1. observasi kehilangan/
gangguan keseimbangan gaya
jalan dan kelemahan otot
2. observasi TTV sebelum dan
sesudah aktivitas
3. berikan lingkungan tenang
batasi pengunjung dan kurangi
suara bising, pertahankan tirah

1. menunjukkan perubahan
neurology karena defisiensi
vitamin B12 mempengaruhi
keamanan pasien/ resiko
cidera
2. manifestasi kardio
pulmonal dr upaya jantung

45

klien
meningkatkan
ambulan atau
aktivitas

28-3-2016

Ketidak
seimbangan
nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh.

Kebutuhan
nutrisi sesuai
dengan
kebutuhan
tubuh

baring bila di indikasikan


4. anjurkan klien istirahat bila
terjadi kelelahan dan
kelemahan,anjurkan pasien
melakukan aktivitas
semampunya
5. kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian terapi infuse
dan memberikan transfuse
darah.

Keadaan

- Kaji riwayat nutrisi, termasuk - Mengidentifikasi


makan yang disukai

umum
membaik
dapat

yang diberikan

Observasi

dan

defisiensi, memudahkan

intervensi

catat

masukkan makanan pasien

menghabiskan
porsi makan

dan paru untuk membawa


jumlah oksigen adekuat ke
jaringan.
3. meningkatkan istirahat
untuk menurunkan kebutuhan
oksigen tubuh dan
menurunkan regangan
jantung dan paru.
4. meningkatkan aktivitas
secara bertahap sampai
normal dan memperbaiki
tonus otot.
5.mengganti cairan dan
elektrolit secara adekuat.

Timbang berat badan

Mengawasi masukkan
kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi

46

Mengalami
peningkatan
BB

setiap hari.
-

makanan

Berikan makan sedikit -

Mengawasi penurunan

dengan frekuensi sering dan

berat badan atau

atau makan diantara waktu

efektivitas intervensi

makan

nutrisi

Observasi
kejadian

dan

catat -

mual/muntah,

Menurunkan kelemahan,
meningkatkan

flatus dan dan gejala lain

pemasukkan dan

yang berhubungan

mencegah distensi gaster

Berikan

dan

Bantu -

Gejala GI dapat

hygiene mulut yang baik ;

menunjukkan efek anemia

sebelum

(hipoksia) pada organ.

dan

sesudah

makan, gunakan sikat gigi


halus

untuk

yang

lembut.

pencuci

mulut

penyikatan
Berikan
yang

di

encerkan bila mukosa oral


luka.

Meningkatkan nafsu
makan dan pemasukkan
oral. Menurunkan
pertumbuhan bakteri,
meminimalkan

47

Kolaborasi pada ahli gizi

kemungkinan infeksi.

untuk rencana diet.


-

Teknik perawatan mulut


khusus mungkin

Kolaborasi ; pantau hasil

diperlukan bila jaringan

pemeriksaan laboraturium
-

rapuh/luka/perdarahan dan

Kolaborasi; berikan obat


sesuai indikasi

nyeri berat.
-

Membantu dalam
rencana diet untuk
memenuhi kebutuhan
individual

Meningkatakan
efektivitas program
pengobatan, termasuk
sumber diet nutrisi yang
dibutuhkan.

Kebutuhan penggantian
tergantung pada tipe
anemia dan atau adanyan
48

masukkan oral yang buruk


dan defisiensi yang
diidentifikasi.

28-3-2016

Konstipasi / diare
berhubungan
dengan penurunan

Membuat
kembali pola
normal dari
fungsi usus

Menunjukakan 1. obserfasi warna feses ,

1. membantu

perubahan

konsistensi, frekuensi, dan

mengidentifikasi penyebab

prilaku pola

jumlah.

atau faktor pemberat dan

masukan diet,

hidup yang

2. auskultasi bunyi usus

perubahan proses

diperlukan

3. hindari makanan yang

pencernaan, efek

sebagai

samping terapi

penyebab atau

obat.

faktor

2500 3000 ml/ hari dalam

pemberat

toleransi jantung.

membentuk gas
4. dorong pemasukan cairan

5. konsul dengan ahli gizi


untuk memberikan diet
seimbang dfenag tinggi
serat dan bulk

intervensi pemberat
2. Bunyi usus secara umum
meningkat pada diaredan
menurun pada konstipasi

3. menurunkan distres gastrik


dan distensi abdomen
4. membantu dalam
memperbaiki konsistensi

49

feses bila kontipasi akan


membantu mempertahankan
setatus hidrasi pada diare
5. serat menahan enzim
pencernaan dan mengabsorsi
air dalam aliranya sepanjang
traktus intestinal dan denga
demikian menghasilkan bulk
yang bekerja sebagai
perangsang untuk defikasi

4.4 IMPLEMENTASI / TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Pasien :Ny .Adele

50

No RM

: 12015

Dx. Medis

: Anemia

EVALUASI/
N
O

Dx.KEP

TGL/JA
M

IMPLEMENTASI

RESPON

TTD

KLIEN
1.

Intoleransi

28-03-

aktivitas b.d

2016 /

kelemahan

19.00

umum

1. meobservasi
kehilangan/
gangguan
keseimbangan gaya
jalan dan kelemahan
otot.
R/klien berusaha
tetapi tidak mampu
menyeimbangkan
saat berjalan.
2. meobservasi TTV
sebelum dan sesudah
aktivitas.
-sebelum aktivitas
T:100/60 mmHG

DS : klien
mengatakan
badannya masih
lemas,kepala
pusing.
DO :
Ku lemah
Kurang
minum/cairan
Pergerakan
sendi masih
terbatas
Hannya
berbaring
ditempat tdur

52

S: 36,5 c N : 82/mnt
Rr: 25x/mnt
3. memberikan
lingkungan tenang
batasi pengunjung
dan kurangi suara
bising, pertahankan
tirah baring bila di
indikasikan.
R/klien masih pusing
dengan lingkungan
tenang.
4. menganjurkan
klien istirahat bila
terjadi kelelahan dan
kelemahan,anjurkan
pasien melakukan
aktivitas
semampunya.
R/ klien susah tidur
5. berkolaborasi
dengan tim medis
dalam pemberian
terapi infuse dan
memberikan

TTV
S: 36,2 c N :
89x/mnt
T : 90/60mmHg
RR: 23x/mnt
A : masalah
belum teratasi
P : lanjutkan
intervensi.

53

transfuse darah.
Infuse ps 20 tpm
Tranfusi darah
5

Ketidak

28-03-

seimbangan

2016 /

nutrisi, termasuk

mengatakan

nutrisi :

19.00

makan

merasa berat

kurang dari
kebutuhan
tubuh.

Kaji

riwayat

DS = Klien

yang

disukai

badannya
menurun.

R/ klien tidak suka


makanan

yang DO = BB turun

berserat
-

sebelum sakit =

Observasi dan
catat

masukkan

makanan pasien
R/klien
makan

49 kg Saat sakit
= 47 kg.
-

Mual muntah
3-4 kali

jarang
karna

nafsu makan yang


menurun
-

Timbang berat
54

badan setiap hari.


R/ berat badan klien
menurun dari 49
ke 47
-

Berikan makan
sedikit

dengan

frekuensi

sering

dan atau makan


diantara

waktu

makan
R/ klien mual dan
muntah
-

Observasi dan
catat

kejadian

mual/muntah,
flatus

dan

dan

gejala lain yang

55

berhubungan
R/ klien muntah 3-4
kali ini bertambah
jika

klien

melakukan
aktivitas lebih
-

Berikan dan
Bantu

hygiene

mulut yang baik ;


sebelum

dan

sesudah

makan,

gunakan

sikat

gigi halus untuk


penyikatan yang
lembut.

Berikan

pencuci

mulut

yang di encerkan
bila mukosa oral

56

luka.
R/

pasien

selalu

mejaga
kebersihan
-

Kolaborasi
pada

ahli

untuk

gizi

rencana

diet.
-

Kolaborasi ;

pantau

hasil

pemeriksaan
laboraturium
-

Kolaborasi;
berikan

obat

sesuai indikasi

57

Konstipasi /

28-03-

1. obserfasi

diare

2016 /

warna feses ,

berhubunga

19.00

konsistensi,

n dengan

frekuensi, dan

penurunan

jumlah.

masukan

R/ fases klien

diet,

agak hitam ,

perubahan

padat, dan

proses

sedikit

pencernaan,
efek
samping
terapi obat.

2. auskultasi

DS

=
klien
mengataka
n perutnya
nyeri
(perut)

DO= pada saat


palpasi
terdapat
splenomeg
ali
Adanya
konstipasi

bunyi usus
R/ bising usus tidak
terdengar
3. hindari
makanan
yang
membentuk
gas

58

R/ klien jarang
makan
4. dorong
pemasukan
cairan 2500
3000 ml/ hari
dalam
toleransi
jantung.
R/klien tidak bisa
BAB
5. konsul
dengan ahli
gizi untuk
memberikan
diet seimbang
dfenag tinggi
serat dan bulk

59

CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Pasien : Ny. Adele


No RM

:12015

Dx. Medis

: Anemia

PERKEMBANGAN
NO

TGL/JAM

Dx.KEP
(S O A P I E R)

1.

29-3-2016
(20.00)

Intoleransi aktivitas
b.d kelemahan
umum

S : klien mengatakan susah tidur


O: - ku lemah
Klien tampak gelisah
Klien bisa duduk
Ttv
T : 110/80 mmHg

60

S : 36,5 c N : 85x/mnt
Rr : 23x/mnt

A : Masalah belum teratasi


P : intervensi diagnosa keperawatan
pertama dilanjutkan : mengkaji
keseimbangan jalan, TTV dan kelemahan
otot

2.

S : Klien mengatakan belummau makan.Ketidak seimbangan Klien mengatakan perut terasa mual, jika
makan akan muntah
nutrisi : kurang dari
Klien mengatakan badannyaterasa lemah
kebutuhan tubuh.
O : Klien tampak lemah, klien hanya
menghabiskan dari porsi yang disajikan.
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi diagnosa kedua dilanjutkan :
mengkaji masukan nurtrisi klien,anjurkan
klien untuk makan sedikit tapi
sering,menimbang BB tiap hari.

61

Konstipasi / diare
berhubungan
3.

S : klien mengatakan perutnya nyeri


(perut)

dengan penurunan

O: pada saat palpasi terdapat


splenomegali , Adanya konstipasi

masukan diet,

A : Masalah belum teratasi

perubahan proses
pencernaan, efek
samping terapi obat.

1. P : Lanjutkan intervensi diagnosa


keperawatan : observasi fases,
auskultasi bunyi usus dorong
pemasukan cairan, konsul dengan

1.

30-3-2016
(20.00)

Intoleransi aktivitas
b.d kelemahan
umum

ahli gizi
S : klien mengatakn susah tidur da lemas
O : ku cukup
Klien hannya duduk dan tak mau
istirahat
Ttv
T : 110/85 mmHg
N : 80x/mnt s : 36 c
Rr : 23x/mnt
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi 1,2,3

62

S : Klien mengatakan sudahmau makan.


O : Klien menghabiskan dari porsi
Ketidak seimbangan
makan yangdisajikan.
nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh.
2.

A : Masalah teratasi sebagian


P : Intervensi diagnosa keperawatan kedua
dilanjutkan : kaji masukan nutrisi klien.

Konstipasi / diare
berhubungan
dengan penurunan
masukan diet,
3.

perubahan proses

S : klien mengatakan perutnya tidak nyeri


(perut), dapat BAB sedikit demi sedikit.

pencernaan, efek

O: Adanya konstipasi

samping terapi obat.

A : Masalah belum teratasi

63

1.

31-03-2016
(20.00)

Intoleransi aktivitas
b.d kelemahan
umum

Lanjutkan intervensi diagnosa


keperawatan : observasi fases dan
dorong pemasukan cairan

S : klien mengatakan sudah tidak pusing ,


badan tidak lemas.
O:
-ku cukup
- klien duduk dilantai
-ttv

64

-t : 120/80 mmHg n: 80x/mnt


S : 36 c rr : 20x/mnt
A : Masalah teratasi
P : Intervensi diagnose keperawatan kedua
dihentikan

S : Klien mengatakan sudah mau makan


O : Klien menghabiskan porsi makanan
yang disajikan
2.

Ketidak seimbangan A : Masalah teratasi


nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh.

P : Intervensi diagnose keperawatan kedua


dihentikan

S : klien mengatakan perutnya tidak nyeri


65

3.

Konstipasi / diare

(perut), dapat BAB dengan lancar

berhubungan
dengan penurunan

O: Tidak ada konstipasi ataupun


splenomegali

masukan diet,

A : Masalah teratasi

perubahan proses
pencernaan, efek

P : Intervensi diagnose keperawatan kedua


dihentikan

samping terapi obat.

66

4.5 EVALUASI KEPERAWATAN


Nama Pasien : Ny.Adele
No RM

: 12015

Dx. Medis

: Anemia

PERKEMBANGAN
NO

TGL/JAM

Dx.KEP
(S O A P I E R)

1.

31-03-2016
(20.00)

Intoleransi aktivitas
b.d kelemahan
umum

S : klien mengatakan sudah tidak pusing ,


badan tidak lemas.
O:
-ku cukup
- klien duduk dilantai
-ttv
-t : 120/80 mmHg n: 80x/mnt
S : 36 c rr : 20x/mnt
A : Masalah teratasi
P : Intervensi diagnose keperawatan kedua
dihentikan

67

S : Klien mengatakan sudah mau makan


O : Klien menghabiskan porsi makanan
yang disajikan
2.

Ketidak seimbangan A : Masalah teratasi


nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh.

Konstipasi / diare
berhubungan
3.

P : Intervensi diagnose keperawatan kedua


dihentikan

S : klien mengatakan perutnya tidak nyeri


(perut), dapat BAB dengan lancar

masukan diet,

O: Tidak ada konstipasi ataupun


splenomegali

perubahan proses

A : Masalah teratasi

dengan penurunan

pencernaan, efek

P : Intervensi diagnose keperawatan kedua


samping terapi obat. dihentikan
68

69

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya
nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah.
Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu
penyakit atau gangguan fungsi tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui anemnesis yang seksama,
pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau
keduanya. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari
berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam
perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Anemia harus
didiagnosis sedini mungkin karena anemia merupakan tanda yang mendasar dari beberapa penyakit. Penanganan pada Anemia harus

70

dilakukan dengan tepat. Mempelajari dan membuat askep adalah tugas seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien.
4.2. Saran
Kesehatan adalah harta yang paling penting dalam kehidupan kita, maka dari itu selayaknya kita menjaga kesehatan dari
kerusakan dan penyakit. Dengan cara pola hidup yang sehat dapat mencegah penyakit anemia, hidup terasa lebih nyaman dan indah
dengan melakukan pencegahan terhadap penyakit anemia daripada kita sudah terkena dampaknya.

DAFTAR PUSTAKA
Tjokroprawiro Askandar, dkk, Buku Ajar Penyakit Dalam.Universitas Airlangga, Surabaya
http://www.docstoc.com/docs/6600656/Askep-Anemia [diakses 31 Maret 2016].
http://asuhan-keperawatan-patriani.blogspot.com/2008/07/askep-anemia.html
[diakses 31 Maret 2016].
http://www.Asuhan Keperawatan Klien Dengan Anemia ~ Contoh Makalah.htm (diakses

31 Maret 2016)

http://www.ASKEP ANEMIA/ASKEP KEPERAWATAN askep anemia.htm (diakses 31 Maret 2016)

71

http://www.ASKEP ANEMIA/Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anemia _ My Blogs.htm (diakses 31 Maret 2016)
http://www .ASKEP ANEMIA/KEPERAWTAN (NURSING) ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA.htm (diakses 31 Maret 2016)

72