You are on page 1of 17

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI

HARI/TGL: SENIN, 11 APRIL 2016


ACARA

NAMA : AIDUL FAUZI A.

: FILUM ARTHROPODA

NIM

: D611 15 506

KETERANGAN:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Test
Mata
Galbella
Chepalon
Thorax
Pygidium
Axis
Pleura
Mulut

No. Sampel

: 01

No. Peraga

: 170

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Trilobita

Ordo

: Asaphida

Family

: Homotelusidae

Genus

: Homotelus

Spesies

: Homotelus brumidensis ESKER

Proses pemfosilan

: Mineralisasi

Bentuk

: Plate

Komposisi kimia

: Kalsium karbonat (CaCO3)

Umur

: Ordovisium Tengah ( 500-435 juta tahun yang lalu)

Keterangan

Fosil ini termasuk dalam filum arthropoda, kelas trilobita, ordo asaphida,
famili Homotelusidae, genus Homotelus, spesies Homotelus brumidensis ESKER.
Proses pada saat organisme ini akan menjadi fosil dimulai dari organisme
tersebut mati dan terhindar dari bakteri pembusuk, seperti yang kita ketahui syarat-

syarat yang paling mendasar suatu organisme dapat menjadi fosil karena memiliki
bagian tubuh yang keras. Bagian-bagian tubuh yang keras itu kemudian mengalami
transportasi bersama dengan material-material sedimen pada suatu cekungan. Pada
proses ini mineral-mineral yang tidak resisten akan tergantikan dengan mineralmineral yang lebih resisten terhadap pelapukan. Pada cekungan tadi akan terisi oleh
material sedimen dan bahkan bagian-bagian tubuh organisme lain sampai daerah
cekungan tersebut terisi penuh dan mengalami kompaksi. Pada saat terkompaksi,
pori-pori antar material sedimen mengecil serta air yang terkandung di antara
material-material keluar. Kemudian terjadi proses sedimentasi dimana materialmaterial sedimen terikat oleh unsur-unsur atau mineral yang mengisi pori-pori antar
butir sedimen. Kemudian terjadi proses mineralisasi yaitu pergantian seluruh
mineral penyusun organisme oleh mineral yang baru. Setelah itu terjadi proses
litifikasi atau proses pembatuan.
Munculnya fosil di permukaan dikarenakan adanya tenaga endogen yaitu
tenaga yang berasal dari dalam bumi salah satunya adalah pengangkatan atau uplift
sehingga fosil terangkat ke permukaan. Selanjutnya fosil tersebut akan mengalami
proses-proses eksogen yaitu proses yang berasal dari luar bumi berupa erosi yang
mengakibatkan terkikisnya material-material sedimen sehingga fosil tersingkap di
permukaan.
Bentuk fosil ini adalah plate yaitu menyerupai bentuk piringan. Adapun
bagian-bagian tubuh yang masih dapat dikenali dari fosil ini yaitu test adalah
kenampakan keseluruhan tubuh fosil, mata adalah bagian tubuh fosil yang dulunya
digunakan untuk melihat, glabella adalah bagian fosil yang terletak diantara mata,
chepalon merupakan bagian bagian kepala pada tubuh fosil, thorax merupakan
bagian tubuh fosil, pygidium merupakan bagian ekor dari tubuh fosil, axis
merupakan ruas-ruas yang ada pada punggung fosil, pleura merupakan ruas-ruas

yang tegak lurus dengan axis, dan terakhir mulut adalah tempat keluar masuknya
makanan pada saat fosil hidup.
Setelah ditetesi larutan HCl, terjadi reaksi pada fosil. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa komposisi mineralnya adalah Kalsium Karbonat (CaCO3)
mengindekasi lingkungan pengendapannya di laut dangkal. Fosil ini berumur
Ordovisium Tengah atau sekitar 500-435 juta tahun yang lalu.
Kegunaan dari fosil ini adalah sebagai patokan dalam menentukan umur
relative

batuan

dan

menentukan

lokasi

maupun

keadaan

lingkungan

pengendapannya.

ASISTEN

PRAKTIKAN

SUDIRMAN

AIDUL FAUZI AMRI

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
HARI/TGL: SENIN, 11 APRIL 2016
ACARA

NAMA : AIDUL FAUZI A.

: FILUM ARTHROPODA

NIM

: D611 15 506

KETERANGAN:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Test
Mata
Galbella
Chepalon
Thorax
Pygidium
Axis
Pleura
Mulut

No. Sampel

: 02

No. Peraga

: 443

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Trilobita

Ordo

: Harpetida

Family

: Harpesidae

Genus

: Harpes

Spesies

: Harpes macrocephalus GOLDF

Proses pemfosilan

: Mineralisasi (Cast)

Bentuk

: Plate

Komposisi kimia

: Silika (SiO2)

Umur

: Devon Tengah ( 370-360 juta tahun yang lalu)

Keterangan

Fosil ini termasuk dalam filum arthropoda, kelas trilobita, ordo harpesidae,
famili Harpesidae, genus Harpes, spesies Harpes macrocephalus GOLDF.

Proses pada saat organisme ini akan menjadi fosil dimulai dari organisme
tersebut mati dan terhindar dari bakteri pembusuk, seperti yang kita ketahui syaratsyarat yang paling mendasar suatu organisme dapat menjadi fosil karena memiliki
bagian tubuh yang keras. Bagian-bagian tubuh yang keras itu kemudian mengalami
transportasi bersama dengan material-material sedimen pada suatu cekungan. Pada
proses ini mineral-mineral yang tidak resisten akan tergantikan dengan mineralmineral yang lebih resisten terhadap pelapukan. Pada cekungan tadi akan terisi oleh
material sedimen dan bahkan bagian-bagian tubuh organisme lain sampai daerah
cekungan tersebut terisi penuh dan mengalami kompaksi. Pada saat terkompaksi,
pori-pori antar material sedimen mengecil serta air yang terkandung di antara
material-material keluar. Kemudian terjadi proses sedimentasi dimana materialmaterial sedimen terikat oleh unsur-unsur atau mineral yang mengisi pori-pori antar
butir sedimen. Kemudian terjadi proses mineralisasi (cast) yaitu jika diantara
rongga dan tapak tuangan terisi oleh suatu mineral-mineral dari luar, sedangkan
fosilnya sendiri (cangkang) telah lenyap. Setelah itu terjadi proses litifikasi atau
proses pembatuan.
Munculnya fosil di permukaan dikarenakan adanya tenaga endogen yaitu
tenaga yang berasal dari dalam bumi salah satunya adalah pengangkatan atau uplift
sehingga fosil terangkat ke permukaan. Selanjutnya fosil tersebut akan mengalami
proses-proses eksogen yaitu proses yang berasal dari luar bumi berupa erosi yang
mengakibatkan terkikisnya material-material sedimen sehingga fosil tersingkap di
permukaan.
Bentuk fosil ini adalah plate yaitu menyerupai bentuk piringan. Adapun
bagian-bagian tubuh yang masih dapat dikenali dari fosil ini yaitu test adalah
kenampakan keseluruhan tubuh fosil, mata adalah bagian tubuh fosil yang dulunya
digunakan untuk melihat, glabella adalah bagian fosil yang terletak diantara mata,

chepalon merupakan bagian bagian kepala pada tubuh fosil, thorax merupakan
bagian tubuh fosil, pygidium merupakan bagian ekor dari tubuh fosil, axis
merupakan ruas-ruas yang ada pada punggung fosil, pleura merupakan ruas-ruas
yang tegak lurus dengan axis, dan terakhir mulut adalah tempat keluar masuknya
makanan pada saat fosil hidup.
Setelah ditetesi larutan HCl, tidak terjadi reaksi pada fosil. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa komposisi mineralnya adalah Silika (SiO2) mengindekasi
lingkungan pengendapannya di laut dangkal. Fosil ini berumur Devon Tengah atau
sekitar 370-360 juta tahun yang lalu.
Kegunaan dari fosil ini adalah sebagai patokan dalam menentukan umur
relative

batuan

dan

menentukan

lokasi

maupun

keadaan

lingkungan

pengendapannya.

ASISTEN

PRAKTIKAN

SUDIRMAN

AIDUL FAUZI AMRI

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
HARI/TGL: SENIN, 11 APRIL 2016
ACARA

NAMA : AIDUL FAUZI A.

: FILUM ARTHROPODA

NIM

: D611 15 506

KETERANGAN:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Test
Galbella
Chepalon
Thorax
Pygidium
Axis
Pleura
Mulut

No. Sampel

: 03

No. Peraga

: 1578

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Trilobita

Ordo

: Euechinoidea

Family

: Hemicidarisidae

Genus

: Hemicidaris

Spesies

: Hemicidaris crenularis

Proses pemfosilan

: Mineralisasi (Cast)

Bentuk

: Plate

Komposisi kimia

: Silika (SiO2)

Umur

: Jura Atas ( 160-141 juta tahun yang lalu)

Keterangan

Fosil ini termasuk dalam filum arthropoda, kelas trilobita, ordo


euechinoidea, famili Hemicidarisidae, genus Hemicidaris, spesies Hemicidaris
crenularis.

Proses pada saat organisme ini akan menjadi fosil dimulai dari organisme
tersebut mati dan terhindar dari bakteri pembusuk, seperti yang kita ketahui syaratsyarat yang paling mendasar suatu organisme dapat menjadi fosil karena memiliki
bagian tubuh yang keras. Bagian-bagian tubuh yang keras itu kemudian mengalami
transportasi bersama dengan material-material sedimen pada suatu cekungan. Pada
proses ini mineral-mineral yang tidak resisten akan tergantikan dengan mineralmineral yang lebih resisten terhadap pelapukan. Pada cekungan tadi akan terisi oleh
material sedimen dan bahkan bagian-bagian tubuh organisme lain sampai daerah
cekungan tersebut terisi penuh dan mengalami kompaksi. Pada saat terkompaksi,
pori-pori antar material sedimen mengecil serta air yang terkandung di antara
material-material keluar. Kemudian terjadi proses sedimentasi dimana materialmaterial sedimen terikat oleh unsur-unsur atau mineral yang mengisi pori-pori antar
butir sedimen. Kemudian terjadi proses mineralisasi yaitu jika diantara rongga dan
tapak tuangan terisi oleh suatu mineral-mineral dari luar, sedangkan fosilnya
sendiri (cangkang) telah lenyap. Setelah itu terjadi proses litifikasi atau proses
pembatuan.
Munculnya fosil di permukaan dikarenakan adanya tenaga endogen yaitu
tenaga yang berasal dari dalam bumi salah satunya adalah pengangkatan atau uplift
sehingga fosil terangkat ke permukaan. Selanjutnya fosil tersebut akan mengalami
proses-proses eksogen yaitu proses yang berasal dari luar bumi berupa erosi yang
mengakibatkan terkikisnya material-material sedimen sehingga fosil tersingkap di
permukaan.
Bentuk fosil ini adalah plate yaitu menyerupai bentuk piringan. Adapun
bagian-bagian tubuh yang masih dapat dikenali dari fosil ini yaitu test adalah
kenampakan keseluruhan tubuh fosil, glabella adalah bagian fosil yang terletak
diantara mata, chepalon merupakan bagian bagian kepala pada tubuh fosil, thorax

merupakan bagian tubuh fosil, pygidium merupakan bagian ekor dari tubuh fosil,
axis merupakan ruas-ruas yang ada pada punggung fosil, pleura merupakan ruasruas yang tegak lurus dengan axis, dan terakhir mulut adalah tempat keluar
masuknya makanan pada saat fosil hidup.
Setelah ditetesi larutan HCl, tidak terjadi reaksi pada fosil. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa komposisi mineralnya adalah Silika (SiO2) mengindekasi
lingkungan pengendapannya di laut dangkal. Fosil ini berumur Jura Atas atau
sekitar 160-141 juta tahun yang lalu.
Kegunaan dari fosil ini adalah sebagai patokan dalam menentukan umur
relative

batuan

dan

menentukan

lokasi

maupun

keadaan

lingkungan

pengendapannya.

ASISTEN

PRAKTIKAN

SUDIRMAN

AIDUL FAUZI AMRI

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
HARI/TGL: SENIN, 11 APRIL 2016
ACARA

NAMA : AIDUL FAUZI A.

: FILUM ARTHROPODA

NIM

: D611 15 506

KETERANGAN:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Test
Mata
Galbella
Chepalon
Thorax
Pygidium
Axis
Pleura
Mulut

No. Sampel

: 04

No. Peraga

: 325

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Trilobita

Ordo

: Phacopida

Family

: Microspiriferidae

Genus

: Microspirifer

Spesies

: Microspirifer mucronatus

Proses pemfosilan

: Mineralisasi

Bentuk

: Globular

Komposisi kimia

: Silika (SiO2)

Umur

: Devon Tengah ( 370-360 juta tahun yang lalu)

Keterangan

Fosil ini termasuk dalam filum arthropoda, kelas trilobita, ordo phacopida,
famili Microspiriferidae, genus Microspirifer, spesies Microspirifer mucronatus.
Proses pada saat organisme ini akan menjadi fosil dimulai dari organisme
tersebut mati dan terhindar dari bakteri pembusuk, seperti yang kita ketahui syarat-

syarat yang paling mendasar suatu organisme dapat menjadi fosil karena memiliki
bagian tubuh yang keras. Bagian-bagian tubuh yang keras itu kemudian mengalami
transportasi bersama dengan material-material sedimen pada suatu cekungan. Pada
proses ini mineral-mineral yang tidak resisten akan tergantikan dengan mineralmineral yang lebih resisten terhadap pelapukan. Pada cekungan tadi akan terisi oleh
material sedimen dan bahkan bagian-bagian tubuh organisme lain sampai daerah
cekungan tersebut terisi penuh dan mengalami kompaksi. Pada saat terkompaksi,
pori-pori antar material sedimen mengecil serta air yang terkandung di antara
material-material keluar. Kemudian terjadi proses sedimentasi dimana materialmaterial sedimen terikat oleh unsur-unsur atau mineral yang mengisi pori-pori antar
butir sedimen. Kemudian terjadi proses mineralisasi yaitu pergantian seluruh
mineral penyusun organisme oleh mineral yang baru. Setelah itu terjadi proses
litifikasi atau proses pembatuan.
Munculnya fosil di permukaan dikarenakan adanya tenaga endogen yaitu
tenaga yang berasal dari dalam bumi salah satunya adalah pengangkatan atau uplift
sehingga fosil terangkat ke permukaan. Selanjutnya fosil tersebut akan mengalami
proses-proses eksogen yaitu proses yang berasal dari luar bumi berupa erosi yang
mengakibatkan terkikisnya material-material sedimen sehingga fosil tersingkap di
permukaan.
Bentuk fosil ini adalah globular yaitu menyerupai bentuk bola. Adapun
bagian-bagian tubuh yang masih dapat dikenali dari fosil ini yaitu test adalah
kenampakan keseluruhan tubuh fosil, mata adalah bagian tubuh fosil yang dulunya
digunakan untuk melihat, glabella adalah bagian fosil yang terletak diantara mata,
chepalon merupakan bagian bagian kepala pada tubuh fosil, thorax merupakan
bagian tubuh fosil, pygidium merupakan bagian ekor dari tubuh fosil, axis
merupakan ruas-ruas yang ada pada punggung fosil, pleura merupakan ruas-ruas

yang tegak lurus dengan axis, dan terakhir mulut adalah tempat keluar masuknya
makanan pada saat fosil hidup.
Setelah ditetesi larutan HCl, tidak terjadi reaksi pada fosil. Jadi, dapat
disimpulkan komposisi mineralnya adalah Silika (SiO2) mengindekasi lingkungan
pengendapannya di laut dalam. Fosil ini berumur Devon Tengah atau sekitar 370360 juta tahun yang lalu.
Kegunaan dari fosil ini adalah sebagai patokan dalam menentukan umur
relative

batuan

dan

menentukan

lokasi

maupun

keadaan

lingkungan

pengendapannya.

ASISTEN

PRAKTIKAN

SUDIRMAN

AIDUL FAUZI AMRI

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
HARI/TGL: SENIN, 11 APRIL 2016
ACARA

NAMA : AIDUL FAUZI A.

: FILUM ARTHROPODA

NIM

: D611 15 506

KETERANGAN:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Test
Mata
Galbella
Chepalon
Thorax
Pygidium
Axis
Pleura
Mulut

No. Sampel

: 05

No. Peraga

: 81

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Trilobita

Ordo

: Asaphida

Family

: Decurtellanidae

Genus

: Decurtella

Spesies

: Ashapus expanses (WAHLENBERG)

Proses pemfosilan

: Mineralisasi (Cast)

Bentuk

: Globular

Komposisi kimia

: Silika (SiO2)

Umur

: Kapur Atas ( 100-65 juta tahun yang lalu)

Keterangan

Fosil ini termasuk dalam filum arthropoda, kelas trilobita, ordo


decurtellanidae, famili Ashapusidae, genus Ashapus, spesies Ashapus expanses
(WAHLENBERG).

Proses pada saat organisme ini akan menjadi fosil dimulai dari organisme
tersebut mati dan terhindar dari bakteri pembusuk, seperti yang kita ketahui syaratsyarat yang paling mendasar suatu organisme dapat menjadi fosil karena memiliki
bagian tubuh yang keras. Bagian-bagian tubuh yang keras itu kemudian mengalami
transportasi bersama dengan material-material sedimen pada suatu cekungan. Pada
proses ini mineral-mineral yang tidak resisten akan tergantikan dengan mineralmineral yang lebih resisten terhadap pelapukan. Pada cekungan tadi akan terisi oleh
material sedimen dan bahkan bagian-bagian tubuh organisme lain sampai daerah
cekungan tersebut terisi penuh dan mengalami kompaksi. Pada saat terkompaksi,
pori-pori antar material sedimen mengecil serta air yang terkandung di antara
material-material keluar. Kemudian terjadi proses sedimentasi dimana materialmaterial sedimen terikat oleh unsur-unsur atau mineral yang mengisi pori-pori antar
butir sedimen. Kemudian terjadi proses mineralisasi yaitu pergantian seluruh
mineral penyusun organisme oleh mineral yang baru. Setelah itu terjadi proses
litifikasi atau proses pembatuan.
Munculnya fosil di permukaan dikarenakan adanya tenaga endogen yaitu
tenaga yang berasal dari dalam bumi salah satunya adalah pengangkatan atau uplift
sehingga fosil terangkat ke permukaan. Selanjutnya fosil tersebut akan mengalami
proses-proses eksogen yaitu proses yang berasal dari luar bumi berupa erosi yang
mengakibatkan terkikisnya material-material sedimen sehingga fosil tersingkap di
permukaan.
Bentuk fosil ini adalah globular yaitu menyerupai bentuk bola. Adapun
bagian-bagian tubuh yang masih dapat dikenali dari fosil ini yaitu test adalah
kenampakan keseluruhan tubuh fosil, mata adalah bagian tubuh fosil yang dulunya
digunakan untuk melihat, glabella adalah bagian fosil yang terletak diantara mata,
chepalon merupakan bagian bagian kepala pada tubuh fosil, thorax merupakan

bagian tubuh fosil, pygidium merupakan bagian ekor dari tubuh fosil, axis
merupakan ruas-ruas yang ada pada punggung fosil, pleura merupakan ruas-ruas
yang tegak lurus dengan axis, dan terakhir mulut adalah tempat keluar masuknya
makanan pada saat fosil hidup.
Setelah ditetesi larutan HCl, tidak terjadi reaksi pada fosil. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa komposisi mineralnya adalah Silika (SiO2) mengindekasi
lingkungan pengendapannya di laut dalam. Fosil ini berumur Kapur Atas atau 10065 juta tahun yang lalu.
Kegunaan dari fosil ini adalah sebagai patokan dalam menentukan umur
relative

batuan

dan

menentukan

lokasi

maupun

keadaan

lingkungan

pengendapannya.

ASISTEN

SUDIRMAN

PRAKTIKAN

AIDUL FAUZI AMRI