You are on page 1of 17

Subunit 1

Pendekatan Inkuiri dalam Pembelajaran IPS


Menurut pandangan konstruktivisme, dalam proses pembelajaran guru harus
memfasilitasi peserta didik untuk membangun sendiri konsep-konsep baru
berdasar konsep lama yang telah dimiliki. Pembangunan konsep baru itu
tidak terjadi di ruang hampa, melainkan dalam konteks sosial, di mana
mereka dapat berinteraksi dengan orang lain untuk merestrukturisasi ideidenya. Dengan demikian konsep lama yang sudah sesuai dengan konsep
ilmiah sangat penting artinya bagi penanaman konsep-konsep baru yang
akan dilakukan dalam pembelajaran.Inkuiri-dicavery-problem solving adalah
istilah-istilah yang sesungguhnya mengandung arti yang sejiwa, yaitu istilah
yang menunjukkan kegiatan atau cara belajar yang bersifat mencari secara
logis, kritis, analitis menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan. Selanjutnya
Sund menyatakan bahwa discovery adalah proses mental di mana siswa
mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip.Proses mental
tersebut,
misalnya,
mengamati,
mengklasifikasi,
membuat
dugaan,menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan.Sedangkan
inkuiri dibentuk meliputi discovery, dengan perkataan lain inkuiri adalah
perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses
inkuiri mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya.
Misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan
eksperimen, mengumpulkan dan mengalisis data, dan menarik kesimpulan.
Pendekatan inkuiri ( inquiry ), sebenarnya sudah dikenal sejak lama, dan
sudah digunakan dalam proses pembelajaran. Hanya penggunaannya relatif
masih jarang, dan bahkan sering diabaikan. Pada umumnya guru-guru IPS
lebih banyak menggunakan metode yang bersifat instructor centered ,
dimana guru sebagaipenentu utama jalannya proses pembelajaran,
sedangkan siswa sebagai pihak penerima belaka. Menurut Syah ( Nursid
Sumaatmadja.2003), penguasaan guru tentang metode mengajar masih
dibawah standar. Kenyataan ini diperkuat oleh penelitian Balitbang
Depdikbud yang menyatakan bahwa kemampuan membaca siswa kelas VI
SD di Indonesia masih rendah, salah satu penyebabnya adalah kegagalan
dalam proses belajar.
Bagaimana perasaan Anda sebagai guru SD seandainya hal itu sampai
sekarang masih berjalan? Apakah tidak tergugah untuk melakukan
perbaikian kualitas proses pembelajaran?
Pengajaran IPS yang bermaterikan masalah-masalah sosial, memerlukan
penerapan/ penggunaan pendekatan/ metode yang mampu melibatkan
siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang

memenuhi tuntutan tersebut adalah inkuiri, yaitu suatu pendekatan yang


bersifat student centered .
Hal yang terpenting dalam inkuiri adalah siswa mencari sesuatu sampai
tingkatanyakin (belief-percaya). Tingkatan ini dicapai melalui dukungan
fakta, analisis,interpretasi, dan pembuktiannya. Bahkan lebih dari itu dalam
inkuiri akan dicapai tingkat pencarian alternative pemecahan masalah
tersebut. Dengan inkuiri siswa akan dilibatkan melakukan penyelidikan
terhadap faktor-faktor yang belum pernah dilakukan, dan ini akan memberi
motivasi yang tinggi.
Pada inkuiri, proses adalah merupakan produk dari belajar, dan di dalam
proses tersebut kurang diperhatikan terhadap kebenaran jawaban, sebab
kesimpulan yang mereka buat adalah kesimpulan tentatif dalam arti dengan
data yang digunakan pada saat itu.
Pendekatan inkuiri memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
mengembangkan potensi intelektualnya dalam jalinan kegiatan yang
disusunnya sendiri untuk menemukan sesuatu. Siswa didorong untuk
bertindak aktif mencari jawaban atas masalah-masalah yang dihadapinya
dan menarik kesimpulan sendiri melalui proses berpikir ilmiah yang kritis,
logis, dan sistematis. Siswa tidak lagi bersifat dan bersikap pasif, menerima
dan menghafal pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Melakukan inkuiri berarti melibatkan diri dalam tanya jawab, mencari
informasi,dan melakukan penyelidikan. Oleh karena itu strategi inkuiri dalam
proses pembelajaran, adalah strategi yang melibatkan siswa dalam tanya
jawab, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Dalam pelaksanaan
siswa bertanggung- jawab untuk memberi ide atau pemikiran dan
pertanyaan
untuk
eksplorasi,mengajukan
hipotesis
untuk
diuji,
mengumpulkan dan mengorganisasi data yang dipakai untuk menguji
hipotesa, dan sampai pada pengambilan kesimpulan yang masih tentatif.
Berdasar kadar inkuirinya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

free inqury

Siswa memiliki kebebasan penuh dalam menetapkan tujuan, isi, dan cara
belajar. Fungsi guru hanya mengawasi pelaksanaannya
modified free inquiry
Siswa tidak lagi bebas sepenuhnya, karena dalam beberapa hal siswa
mendapatkan pengarahan dan pengawasan guru
guided inquiry

Kebebasan siswa semakin berkurang, dengan kata lain peran guru semakin
besar
A. Peranan Guru dalam Pendekatan Inkuiri
Pada prinsipnya inkuiri adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa,
maka peranan guru adalah sebagai pembimbing, stimulator, dan fasilitator.
Guru harus membimbing dan membantu siswa untuk mengidentifikasi
pertanyaan,dan masalah- masalah, membantu siswa dalam menemukan
sumber informasi yang tepat, dan membimbing siswa melakukan
penyelidikan.
Guru menciptakan suasana yang menjamin kebebasan untuk melakukan
eksplorasi, mendorong siswa untuk berani memecahkan buah pikirannya
sendiri dengan berbagai cara. Dalam hal ini guru dapat menempuh caracara:
bersikap
terbuka
dalam
menerima
pendapat,
bersedia
menerima,memeriksa/menimbang semua usaha yang diajukan siswa,
dengan ringan hati memberikan kunci-kunci pemecahan masalah, memberi
kesempatan kepada siswa untuk berbuat kreatif dan mandiri, mendorong
siswa untuk berani bertukar pendapat, menganalisis pendapat dan tafsiran
yang berbeda-beda.
Di dalam pembelajaran inkuiri guru berperan sebagai fasilitator:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

menyiapkan tugas, masalah/problem yang akan dipecahkan oleh siswa


memberikan klarifikasi-klarifikasi
menyiapkan setting kelas
menyiapkan alat-alat dan fasilitas belajar yang diperlukan
memberikan kesempatan pelaksanaan
sebagi sumber informasi, jika diperlukan oleh siswa
membantu siswa agar dapat secara mandiri merumuskan kesimpulan
danimplikasi-implikasinya.

Guru sebagai stimulator, berusaha menstimulir siswanya untuk berpikir aktif,


dengan cara mengajukan pertanyaan, meminta siswa untuk mengaplikasikan
prinsip-prinsip ke dalam berbagai situasi, mendorong siswa untuk mengolah
data dan informasi. Selain itu guru juga harus menghadapkan siswa pada
masalah, kontradiksi, implikasi, asumsi tentang nilai dan pertentangan nilai.
Kemudian guru mengklarifikasi respon siswa dan menyarankan alternatif
penafsiran terhadap data.
Guru tidak menekankan kebenaran jawaban, tetapi membantu siswa
menemukan dan mengklasifikasi jawaban yang tepat. Oleh karena itu guru
dituntut memiliki keterampilan bertanya sehingga dapat meningkatkan
berpikir kritis dan memecahkan masalah. Menurut Kosasi (1978:46) , untuk

melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, guru dituntut


memiliki ciri-ciri guru inkuiri antara lain:
a. memiliki kemampuan sebagai perencana ( planer ), baik rencana program
pengajaran, pelaksanaan, maupun evaluasi.
b. memiliki kemampuan untuk melaksanakan rencana tersebut dengan
sebaik-baiknya menurut keputusan proses pembelajaran serta tujuan
instruksionalnya.
c. memiliki kemampuan sebagai penanya yang baik
d. guru mempunyai kemampuan sebagai manajere. memiliki kemampuan
sebagai pemberi hadiah, dapat berupa pujian sebagai cara untuk
memotivasi belajar
e. memiliki kemampuan sebagai penguji kebenaran dari pada suatu system
nilai.
B. Peranan Siswa dalam Pembelajaran Inkuiri di SD
Dalam inkuiri siswa sebagai pengambil inisiatif atau prakarsa dalam
menentukan sesuatu. Siswa aktif menggunakan cara belajar mereka sendiri,
dengan demikian mereka diharapkan mempunyai keberanian untuk
mengajukan pertanyaan, merespon masalah, dan berpikir untuk
memecahkan masalah atau menemukan jawabannya melalui penyelidikan.
Siswa bebas melakukan eksplorasi dan diberi kesempatan untuk melakukan
pemilihan alternatif pemecahannya. Oleh karena proses penemuan itu
dialami oleh siswa sendiri maka diharapkan dalam perkembangan ilmu
pengetahuan yang sangat cepat dewasa ini, siswa dalam mendekati masalah
atau situasi baru dengan berpikir secara ilmiah pula. Dengan melalui inkuiri,
siswa akan belajar bagaimana belajar.
Melalui pembelajaran inkuiri, siswa dapat dikondisikan aktif belajar, ikut
menentukan tujuan, isi, dan cara belajar, misalnya siswa aktif mencari dan
menemukan informasi, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Bahan
pelajaran lebih banyak bersifat pemikiran dan penerapan prinsip dan
generalisasi agar dapat mengembangkan dinamika dan kreativitas siswa.
Dalam hal ini guruhanya sebagai fasilitator dan motivator. Ditinjau dari segi
siswa, dengan inkuiri terjadi proses mental yang tinggi, sebab dengan
aktivitas ini siswa mengasimilasi konsep dan prinsip, melakukan self learning
activities, dan melatih tanggung jawab sendiri (B. Suryobroto.1986 :44).
Dengan demikian pendekatan inkuiri sebenarnya sangat bermanfaat bagi
siswa. Manfaat tersebut (Mukminan. 2000 :68), antara lain:
1. Mengembangkan keterampilan siswa untuk mampu memecahkan
permasalahan serta mengambil keputusan secara obyektif dan mandiri,
2. Mengembangkan kemampuan berpikir siswa atau meningkatkan potensi
intelektualnya,

3. Membina pengembangan sikap penasaran (rasa ingin tahu) dan cara


berpikir obyektif, mandiri, kritis, logis, dan analitis baik secara individu
maupun kelompok, dan
4. Meningkatkan kemampuan untuk melacak kembali (heuristik) dari
discovery, di mana discovery akan merupakan cara berpikir dan cara
hidup dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan sehari-hari.
C. Pemanfaatan Sumber Belajar
Seperti halnya metode yang lain, inkuiri juga membutuhkan sumber belajar.
Masalahnya bukan sumber belajarnya apa, melainkan bagaimana sumber
belajar tersebut dapat dimanfaatkan/digunakan dalam proses pembelajaran.
Inkuiri memerlukan data untuk membuat penafsiran, sumber pengajaran
tersebut digunakan untuk membuka tabir pertanyaan yang berupa hipotesis.
Sebenarnya banyak sekali sumber belajar yang luput dari pengamatan kita
atau kita mengetahui sumber-sumber belajar tersebut akan tetapi tidak
termanfatkan. Hal ini disebabkan karena sumber-sumber belajar tersebut
tidak terjangkau oleh kemampuan guru, sebagian lagi disebabkan karena
guru tidak mempunyai pengetahuan atau keterampilan teknis untuk
memanfaatkan sumber belajar tersebut.
Sumber-sumber belajar yang
pembelajaran inkuiri adalah :

dapat

dimanfaatkan

oleh

guru

dalam

1. Gambar . Sangat bermanfaat untuk membantu siswa untuk memperoleh


pemahaman tentang suatu konsep atau informasi, misalnya gambar
binatang, alat transportasi, peristiwa-peristiwa penting, dan bermacammacam bentuk pakaian.
2. Model. Anda dapat memanfaatkan boneka dari berbagai suku bangsa
dengan pakaian adatnya masing-masing. Boneka yang berpasangan tersebut
sangat efektif untuk menjelaskan betapa kayanya ragam budaya kita. Selain
itu dapat juga digunakan model alat transportasi tradisional, misalnya
delman, sepeda, gerobag.
3. Peta dinding. Dapat digunakan untuk menggali informasi tentang konsep
ruang, konsep jarak, perbedaan ketinggian, pola hidup masyarakat dari
berbagai daerah yang berbeda.
4. Barang-barang bekas. Dapat digunakan untuk menggali informasi tentang
pencemaran, pemanfaatan bahan bekas untuk mencukupi kebutuhan hidup.
5. Slide dan film. Dapat dimanfaatkan untuk menggali informasi tentang
suatu peristiwa, permukaan bumi, masalah-masalah sosial, peninggalan
kuno, perkembangan suatu wilayah/kota.

6.Bahan cetak (buku-buku teks, dukumen, arsip). Buku teks masih tetap
digunakan, mengingat luasnya persoalan yang berkembang selama kegiatan
inkuiri
Untuk memanfaatkan sumber
diperhatikan, antara lain:

belajar

ada

beberapa

hal

yang

perlu

1. Guru harus menyadari akan pentingnya sumber belajar. Guru harus


mengupayakan agar para siswa dapat belajar efektif dan menyenangkan.
Siswa dalam kegiatan belajar tidak hanya mendengarkan tetapi terlibat
secara fisik, mental maupun emosionalnya. Oleh karena itu diharapkan hasil
belajarnya akan bermanfaat dan bermakna untuk diterapkan/ digunakan
dalam situasi yang berbeda. Sebagai guru haruskreatif dan selalu mengikuti
perkembangan. Guru harus secara terus menerus memberi rangsangan
kepada siswa untuk selalu mencari informasi, memecahkan masalahmasalah yang cukup menantang, akan tetapi yang oleh mereka dapat
dicapai.
2. Guru harus mengetahui tempat-tempat dan letak sumber belajar yang
dapat dimanfaatkan dan bagaimana prosedur memperolehnya. Untuk
sumber belajar yang ada di dalam sekolah, prosedur pemakaian dan
pemanfaatannya sesuai dengan peraturan yang berlaku di sekolah. Sumber
belajar di luar sekolah diperlukan cara-cara dan prosedur sesuai dengan
lembaga atau instansi tempat sumber belajar berada. Sumber belajar yang
bersifat alamiah tidak memerlukan persyaratan khusus. Meskipun demikian
unsur-unsur keselamatan dan efisiensi penggunaan sumber belajar patut
diperhitungkan.
3. Guru harus memiliki keterampilan untuk mengoperasikan sumber belajar.
Guru sebaiknya berlatih membaca informasi atau petunjuk-petunjuk
pengoperasian sehingga tidak tergantung pada orang lain.
Sumber belajar sangat bermanfaat dalam pembelajaran, jika si pemakai
dapat menggunakannya secara tepat. Adapun manfaat sumber belajar
antara lain:
1. Dapat membantu siswa dalam memahami suatu konsep.
2. Dapat mengakrabkan siswa maupun guru dengan lingkungan sekitar.
3. Memungkinkan
guru
merancang
dan
melaksanakan
program
pembelajaran dengan lebih baik.
4. Mendorong penerapan pendekatan pembelajaran secara aktif.
5. Memungkinkan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan.
6. Adanya
kerja
sama
antar
guru
dapat
menumbuhkan
kebersamaan,selanjutnya dapat meningkatkan semangat kerja guru.

7. Memungkinkan
anak
yang
cepat
belajar
untuk
melakukan
pengayaan,sebaliknya
bagi
anak
yang
lambat
dimungkinkan
menggunakan sumber belajar untuk memperbaiki hasil belajarnya.
D. Bilamanakah Metode/Pendekatan Inkuiri Digunakan?
Meskipun inkuiri dipandang sebagai pendekatan pembelajaran yang efektif
dalam pengajaran IPS, tetapi penggunaannya hendaknya disesuaikan
dengan sifat dan tujuan yang hendak dicapai. Artinya tidak semua
pengajaran IPS harus di inkuirikan. Pendekatan inkuiri akan efektif jika
pengajaran itu bertujuan mengembangkan kognitif, sebaliknya pendekatan
ini kurang cocok jika pengajaran itu bermaksud menyampaikan informasi.
Pengertian kognitif yang dibangun melalui pendekatan inkuiri akan tertanam
secara mantap dalam pikiran dan proses pencapaiannya itu sendiri akan
meninggalkan kesan yang amat berharga bagi pelakunya. Dengan latihan
yang secara teratur, diharapkan pengalaman itu akan menjadi keterampilan
yang selanjutnya akan menimbulkan sikap percaya pada diri sendiri setiap
kali menghadapi kenyataan atau masalah yang sulit.
Nilai instrinsik penggunaaan pendekatan inkuiri adalah orang menjadi
tabah, dalam menghadapi suatu masalah, karena ia tahu mencari jalan
keluar dengan cara yang sudah biasa ia lakukan. Setiap kali ia menghadapi
situasi yang sulit ia akan segera berusaha meneliti, menganalisis data yang
bersangkutan dan kemudian menyusun cara mengatasi /memecahkan
masalah.
Namun demikian jangan menganggap bahwa proses pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan inkuiri pasti bermakna bagi siswa. Sebaliknya
pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah hasilnya tidak
maksimal dan tidak bermakna bagi siswa. Harus diingat bahwa masingmasing materi mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.
Agar pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri
bermakna,ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain.

dapat

1. Memerlukan kondisi kelas yang khusus, misalnya guru percaya bahwa


siswa-siswanya dapat belajar dan bertindak berdasar kepercayaan pada
dirisendiri, suasana bebas artinya siswa dapat berkiprah dengan masalah
yang dihadapi, serta dapat menentukan sikap dan pendapatnya sendiri
walaupun mungkin salah menurut gurunya.
2. Memerlukan motivasi tinggi. Siswa memerlukan tantangan yang
memerlukan pemikiran, menimbulkan keinginan untuk tahu, perlu diadakan
study trip untuk memperoleh informasi dan pengalaman.Selain itu harus

disediakan bacaan yang menarik, serta sumber yang cukup luas yang
mewakili berbagai pandangan dan pendapat.
3. Pendekatan inkuiri
pelaksanaannya dibantu
simulasi,dan studi kasus.

tidak berdiri
oleh metode

sendiri, tetapi keberhasilan


lain, misalnya role playing,

E. Penerapan Metode Inkuiri


Menurut Bruce Joyce dan Marssha Weil (Sunaryo.1989:99-100), ada 5 tahap
pelaksanaan inkuiri yang berangkat dari fakta sampai terjadinya suatu teori.
Tahap pertama, guru memberi permasalahan dan menjelaskan prosedur
pelaksanaan inkuiri kepada siswa. Guru harus menjelaskan tentang tujuan
dan proses pelaksanaan inkuiri dengan yes and no questions Artinya
pertanyaan hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga jawabannya
hanya ya dantidak. Maksudnya adalah agar siswa berpikir lebih teliti,
dengan demikian menghindarkan siswa dari beban pemikiran, karena
adanya pertanyaan-pertanyaan yang terbuka (open-ended) dari guru.
Pelaksanaan inkuiri dapat dimulai dengan masalah, ide, atau pikiran yang
sederhana, utamanya adalah siswa mendapat pengalaman proses berpikir
secara inkuiri.
Tahap kedua, adalah verifikasi, yaitu siswa mengumpulkan data atau
informasi tentang peristiwa/masalah yang telah mereka lihat atau alami,
dengan mengajukan pertanyaan sedemikian rupa sehingga guru hanya
menjawab ya atau tidak.
Tahap ketiga , adalah melakukan eksperimentasi, siswa mengajukan factor
atau unsur baru ke dalam permasalahan agar dapat melihat apakah
peristiwa itu dapat terjadi secara berbeda. Eksperimen mempunyai dua
fungsi yaitu eksplorasi dan menguji langsung. Eksplorasi adalah merubah
sesuatu untuk melihat apa yang akan terjadi dan tidak perlu bimbingan teori
atau hipotesis. Sedangkan menguji langsung, terjadi bila siswa melakukan uji
coba teori atau hipotesis. Proses merubah hipotesis kedalam eksperimentasi
itu tidak mudah dan perlu latihan atau praktik. Selanjutnya guru harus
memperdalam proses inkuiri siswa dengan memperluas jenis-jenis informasi
yang diperoleh. Dalam proses verifikasi siswa dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang: benda (objects), sifat(properties), kondisi
(conditions), dan peristiwa (events). Pertanyaan tentang benda,
dimaksudkan untuk menentukan sifat alami atau identitas benda.
Contoh: Apakah kepadatan penduduk di kota itu karena urbanisasi?

Pertanyaan tentang sifat berusaha untuk memverifikasi perilaku sesuatu


benda di bawah suatu kondisi tertentu sebagai suatu cara menambah
informasi baru untuk membantu menyusun teori.
Contoh: Apakah banyak sedikitnya barang akan menentukan harga?
Pertanyaan tentang kondisi berhubungan dengan keadaan benda atau
system yang ada pada saat itu.
Contoh: Apakah pembuangan limbah
pencemaran air di lingkungan sekitar?

industri

dapat

menyebabkan

Pertanyaan tentang peristiwa dimaksudkan untuk memverifikasi kejadian


atau keadaan dari suatu peristiwa.
Contoh:
Apakah
kemajuan
kesejahteraan bagi manusia?

teknologi

mengakibatkan

peningkatan

Tahap keempat, guru meminta siswa untuk mengorganisir data dan


menyusun suatu penjelasan. Artinya data tersebut setelah diorganisir
kemudian dideskripsikan sehingga menjadi suatu paparan hasil temuannya
Tahap kelima, siswa diminta untuk menganalisis proses inkuiri. Dalam hal ini
siswa boleh mengevaluasi tentang pertanyaan yang diajukan guru apakah
efektif atau tidak, mungkin ada informasi penting tetapi siswa tidak tahu
cara memperolehnya sehingga data/ informasi tersebut tidak ditemukan.
Analisis dari siswa ini penting karena menjadi dasar pelakasanaan inkuiri
berikutnya, artinya guru harus memperbaiki kekurangan-kekurangan atau
kesalahan yang telah dilakukan.
Berikut ini secara garis besar dapat dilihat sistematika model inkuiri
1) Tahap satu : - menghadapkan pada permasalahan- menjelaskan prosedur
inkuiri- menyampaikan permasalahan yang kontradiksi
2) Tahap kedua : - pengumpulan data dan verifikasi- memverifikasi benda,
keadaan, sifat, dan peristiwa
3) Tahap ketiga : - pengumpulan data eksperimentasi- mengisolasi variable
yang relevan- menyusun dan menguji hipotesis- hubungan sebab akibat
4) Tahap keempat : - mengorganisir, formulasi, dan penjelasan- menyusun
deskripsi atau penjelasan
5) Tahap kelima : - Analisis proses inkuiri- Analisis strategi inkuiri dan
mengembangkan proses inkuiri agar lebih efektif
Latihan
1. 1.Istilah inquiry-discovery-problem solving, sebenarnya mempunyai arti
yang sejiwa. Apa maksud dari pernyataan tersebut? Cobalah Anda
jelaskan!

2. Kegiatan apakah yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran dengan


pendekatan inkuiri? Jelaskanlah!
3. Sumber belajar merupakan salah satu komponen penting dalam proses
pembelajaran, terutama pembelajaran dengan pendekatan inkuiri.
Mengapa demikian? Cobalah Anda jelaskan!
4. Bilamanakah pendekatan inkuiri dapat diterapkan dalam mata pelajaran
IPS diSD? Jelaskankanlah!
5. Cobalah Anda jelaskan tahap-tahap inkuiri menurut Bruce Joyce dan
Marssha Weil!
Rambu-rambu Jawaban
1. Inkuiri-dicavery-problem solving, adalah istilah-istilah yang sesungguhnya
mengandung arti yang sejiwa, artinya ketiganya menunjukkan kegiatan atau
cara belajar yang bersifat mencari secara logis, kritis, analitis menuju suatu
kesimpulan yang meyakinkan.
Lebih jelasnya baca pendapat Sund pada bacaan unit 6
2. Kegiatan siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, yaitu
mencari sesuatu sampai tingkatan yakin (belief-percaya). Tingkatan ini
dicapai melalui dukungan fakta, analisis, interpretasi, dan pembuktiannya.
Lebih jelasnya baca peran siswa dalam pembelajaran inkuiri dalam unit 6.1
di atas.
3. Sumber belajar merupakan salah satu komponen penting dalam proses
pembelajaran, terutama pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Karena:
a. dapat membantu siswa dalam memahami suatu konsep
b. dapat mengakrabkan siswa maupun guru dengan lingkungan sekitar
c. memungkinkan
guru
merancang
dan
melaksanakan
program
pembelajarandengan lebih baik
d. mendorong penerapan pendekatan pembelajaran secara aktif
e. memungkinkan
anak
yang
cepat
belajar
untuk
melakukan
pengayaan,sebaliknya
bagi
anak
yang
lambat
dimungkinkan
menggunakan sumber belajar untuk memperbaiki hasil belajarnya.
4. Pendekatan inkuiri dapat diterapkan dalam mata pelajaran IPS di SD.
penggunaannya hendaknya disesuaikan dengan sifat dan tujuan yang
hendak dicapai. Artinya tidak semua pengajaran IPS harus di inkuirikan.
Bahan /materi IPS, masing-masing mempunyai karakteristik sehingga tidak
semua materi dapat di inkuirikan. Maka Anda sebagai guru harus terampil
memilih bahan yang cocok untuk diinkuirikan.
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda baca pada pembahasan tentang bilamana
inkuiri harus dilaksanakan.

5. Tahap-tahap atau langkah-langkah kegiatan inkuiri menurut Bruce Joyce


danMarssha Weil, antara laian :
Tahap satu : - menghadapkan pada permasalahan
Tahap kedua : - pengumpulan data dan verifikasi
Tahap ketiga : - Pengumpulan data eksperimentasi
Tahap keempat : - mengorganisir, formulasi, dan penjelasan
Tahap kelima : - analisis proses inkuiri
Penjelasan lebih lanjut baca tentang tahap-tahap pelaksanaan inkuiri
padasub unit 6.1.
Subunit 2
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
A. Masalah dan Hakikat Pemecahannya
Berpikir itu kebanyakan melibatkan pemecahan masalah. Hal itu tidak berarti
bahwa berpikir itu hanya terbatas pada pemecahan masalah saja. Masalah
itu merupakan sesuatu hal yang mengandung keragu-raguan, ketidakpastian, atau kesulitan yang harus dipecahkan, dikuasai, dan dijinakkan (Moh
Umar & Max H Waney.1980:2).
Contohnya: penyakit flu burung, pencemaran (udara, air, tanah), banjir yang
melanda Jakarta, pertambahan penduduk alami di Indonesia yang sangat
tinggi.
Berkaitan dengan masalah, Johnson & Johnson (Moh Umar & Max H
Waney.1980), mengatakan ada ketidak-cocokkan atau perbedaan antara
keadaan yang nyata dengan keadaan yang dikehendaki. Dapat dikatakan
bahwa masalah/problem adalah suatu keadaan yang negatif yang tidak
sesuai dengan keadaan yang diharapkan.
Secara umum masalah sosial dapat diartikan sebagai suatu situasi yang
mempengaruhi banyak orang dan yang oleh mereka/ orang lain dianggap
sebagai sumber kesulitan (difficulties), ketidak-puasan(unhappiness), dan
yang memungkinkan untuk ditanggulangi.
Jadi masalah sosial merupakan situasi yang pada kennyataannya tidak
sesuai dengan yang dikehendaki. Lebih jelasnya bahwa dengan adanya
suatu masalah, menuntut adanya suatu pemecahannya.
Dalam proses pembelajaran, siswa dihadapkan pada permasalahan,
terutama masalah yang benar-benar terjadi di masyarakat, mengenai diri
siswa,masalah-masalah aktual yang sangat menarik untuk dibicarakan.

Keadaan seperti itu akan menyeret siswa kepada proses berpikir tentang
bagaimana cara pemecahannya. Jadi yang ditekankan dalam problem
solving adalah terpecahkannya suatu masalah secara rasional, logis, dan
benar.
Menurut sifatnya masalah itu beraneka ragam macamnya: statisdinamis,besar-kecil, dan sederhana-kompleks. Dengan demikian strategi
pemecahannya juga bermacam-macam, ada yang diperoleh dengan cara
intuitif, coba-coba, tradisional, berdasar pengalaman masa lampau, dan
sebagainya.
Secara umum ada tiga cara pemecahan masalah, yaitu:
1.Pemecahan masalah secara otoritatif , yaitu pemecahan oleh penguasa
yang berwenang (pejabat, guru). Dalam hal ini sifat siswa pasif, karena
segalanya (isi, tujuan, dan cara belajar) yang menentukan adalah guru.
2. Pemecahan secara ilmiah, yaitu pemecahan yang menggunakan beberapa
metode, misalnya inkuiri, discovery, problem solving, dan sebagainya.
3. Pemecahan secara metafisik, yaitu pemecahan yang menggunakan caracara yang tidak rasional, misalnya secara gaib.
Dari ketiga cara pemecahan masalah di atas, yang paling rasional dan sesuai
dengan dunia pendidikan adalah pemecahan secara ilmiah. Menurut
Mukminan (2000:2), pengetahuan atau yang sering disebut ilmu itu dapat
dikatakan ilmiah, apabila:
1. Mempunyai obyek, artinya apabila akan mencari kebenaran maka ilmu itu
harus sesuai dengan obyeknya. Bukan lagi gunanya yang dipentingkan,
melainkan kebenarannya, sebab tujuan ilmu yang utama adalah untuk
mencapai kebenaran.
2. Mempunyai metode, artinya untuk mencari kebenaran itu menggunakan
metode ilmiah.
3. Bersifat universal, artinya bersifat umum dilihat dari segi waktu
dantempat
4. Mempunyai sistem, artinya susunan hal-hal yang ada sebagai
keseluruhan itu mempunyai hubungan antara yang satu dengan yang
lain.
Landasan pemecahan masalah adalah berpikir kritis, cara berpikir kritis ini
melalui suatu proses sebagai berikut:
1. Menyadari adanya suatu masalah.
2. Mencari petunjuk untuk pemecahannya:
a. Pikirkan kemungkinan-kemungkinan pemecahannya (hipotesis) dan
pendekatannya

b. Ujilah kemungkinan-kemungkinan tersebut berdasar kriteria-kriteria


tertentu
3. Pergunakanlah suatu pemecahan yang cocok dengan kriteria dan
tanggalkan kemungkinan pemecahan lainnya.
Dalam memecahkan
pendekatan, yaitu:

suatu

masalah

dapat

ditempuh

dengan

dua

1. Menciptakan lingkungan yang merangsang sehingga siswa memperoleh


motivasi yang kuat untuk menjawab permasalahan dan kemudian
menemukan jawaban yang memadai dibawah bimbingan guru yang
kompeten.
2. Menghadapkan siswa kepada masalah-masalah untuk kemudian mencari
pemecahannya.
Kedua pendekatan tersebut sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Hanya perbedaannya jika pendekatan pertama didasarkan pada situasi
nyata, sedangkan pendekatan kedua didasarkan pada satu situasi buatan
atau direncanakan.
Metode pemecahan masalah didasarkan pada kesadaran terhadap
kenyataan,bahwa
mengajar
bukanlah
sekedar
berpidato
dan
mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Tetapi mengajar
adalah untuk meneliti dengan seksama, mencari, menyelidiki, memikirkan,
mengalisis, dan sampai menemukan.
Metode ini lebih menekankan pemikiran induktif dari pada deduktif.
Dikatakan induktif, apabila dalam proses pembelajaran, guru dalam
menjelaskan berangkat dari data menuju ke pembuatan generalisasi.
Sedangkan deduktif, apabila dalam menjelaskan guru memulai dari
generalisasi menuju ke data yang mendukungnya (Sunaryo. 1989:127 ).
Di dalam induktif, siswa dihadapkan pada masalah-masalah atau
ditempatkan pada situasi buatan yang ingin diketahuinya. Siswa mulai
berpikir, mengumpulkan data dan mengaturnya ke dalam kelompokkelompok yang diperlukan. Berangkat dari langkah-langkah tersebut,
dibentuklah konsep-konsep, pemikiran lebih lanjut terus dikembangkan
untuk sampai pada satu generalisasi.
B. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pemecahan Masalah
Kelebihan Metode Pemecahan Masalah
1. Siswa memiliki keterampilan memecahkan masalah. Hal ini merupakan
bekal dalam menghadapi dan memecahkan masalah baik di dalam
kehidupan keluarga, masyarakat, maupun di tempat kerjanya kelak.

2. Merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara


kreatif,rasional, logis, dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya
siswa banyak menggunakan mentalnya dengan menyoroti permasalahan
dari berbagai segi dan pendekatan dalam rangka mencari pemecahannya.
3. Pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususnya
dunia kerja. Karena siswa telah terbiasa memecahkan masalah dengan
langkah-langkah metode pemecahan masalah, maka mereka menjadi
terbiasa pula untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan dalam
kehidupan yang semakin kompleks.
4. Menimbulkan keberanian pada diri siswa untuk mengemukakan pendapat
dan ide-idenya.
Kelemahan Metode Pemecahan Masalah
1. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan
tingkat berpikir siswa itu tidak mudah. Oleh karena guru dituntut untuk
memiliki kemampuan dan keterampilan memilih suatu masalah yang sesuai
dengan
tingkat
umur,
kemampuan,
dan
latar
belakang
pengetahuan/pengalaman siswa.
2. Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima
informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir untuk
memecahkan permasalahan secara individu maupun kelompok yang kadangkadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan tantangan atau
bahkan kesulitan tersendiri bagi siswa.
3. Proses pembelajaran memerlukan waktu yang lama sehingga terpaksa
mengambil waktu mata pelajaran yang lain.
4. Kurang sistematis apabila metode ini diterapkan untuk menyampaikan
bahan baru.
5. Metode ini kurang tepat jika digunakan bagi siswa yang belum dewasa.
C. Penerapan Metode Pemecahan Masalah
Menurut Johnson dan Jhonson (Husein Achmad, dkk.1981 ) pemecahan
masalah sebagai metode mengajar IPS mempunyai langkah-langkah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
5.
6.

definisi masalah,
diagnose masalah (luasnya masalah dan apa penyebabnya),
merumuskan alternatif dan rencana pemecahannya,
penerapan dan penetapan strategi pemecahan masalah yang dipilih, dan
evaluasi keberhasilan strategi yang dicapai.

1. Definisi Masalah
Guru hendaknya mengarahkan siswanya untuk memberikan batasanbatasan terhadap pengertian-pengertian yang terkandung di dalam masalah.
Untuk perumusan masalah dianjurkan menggunakan langkah-langkah
sebagai berikut.
a. Semua pernyataan ditampung/ditulis di papan tulis. Kemukakan sebanyak
dan sekonkrit mungkin dengan mengemukakan orang,tempat, sumber, dan
jangan mempersoalkan ketepatannya.
b. Rumuskan kembali setiap pernyataan tersebut sehingga mendapatkan
gambaran yang ideal dan aktual. Keluarkan definisi-definisi yang tidak
memiliki sumber-sumber yang cukup untuk dipecahkan secara kelompok.
Pilihlah satu definisi yang oleh kelompok dianggap paling tepat. Masalah
yang dipilih harus bersifat penting (important ), dapat dipecahkan (soluble),
dan mendesak (urgent ).
2. Diagnose masalah (luasnya masalah dan apa penyebabnya)
Dalam langkah yang kedua ini kita akan mengupas tentang penyebab
timbulnya masalah dan akibat lebih lanjut apabila masalah tersebut tidak
diatasi. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui sifat dan besarnya
kekuatan-kekuatan pendorong menuju kearah situasi yang ideal dan
kekuatan-kekuatan yang menghambat atau menentang arah tersebut.
3. Merumuskan alternatif dan rencana pemecahannya
Pada tahap ini adalah merumuskan sebanyak-banyaknya alternatif
pemecahan masalah. Setelah itu mencari faktor-faktor pendukung danfaktor
penghambatnya. Oleh karena itu kelompok harus kreatif, berpikir divergen,
memahami pertentangan ide, dan mempunyai daya temu yang tinggi.
4. Penerapan dan penetapan suatu strategi
Setelah berbagai alternatif pemecahan masalah diperoleh, maka pada
tahapini kelompok memutuskan:
a.memilih alternatif yang sesuai dengan masalah,
b. memilih alternatif yang mempunyai banyak factor pendukung dan sedikit
factor penghambatnya, dan
c. meninjau keuntungan atau efek samping terhadap setiap alternatif bila
diterapkan.
5. Evaluasi keberhasilan strategi yang dicapai.

Alternatif-alternatif yang mempunyai alasan rasional, logis, praktis, serta


tepat bila diterapkan, diangkat menjadi keputusan atau cara untuk
mengatasi masalah yang dihadapi.
Hasil akhir dari evaluasi harus dapat menunjukkan:
masalah apa yang sudah dipecahkan;
seberapa jauh pemecahannya;
masalah apa yang belum terpecahkan; dan
masalah baru apa yang timbul sebagai akibat pemecahan ini. Dalam
penerapannya, metode pemecahan masalah ini dilaksanakan secara
kelompok, guru berfungsi sebagai pengarah dan motifator, sedangkan
semua pendapat digali dari siswa. Semua pendapat ditampung, kemudian
diseleksi dengan mencari alasan-alasan yang rasional, logis, dan tepat.
Apabila ada sesuatu yang tidak dapat digali dari siswa, barulah guru
memberikan informasi. Pelaksanaan metode pemecahan masalah ini akan
berhasil dengan baik apabila siswa telah menguasai bahan dan telah
menguasai langkah-langkahnya tahap demi tahap. Berdasar hasil penelitian
bahwa anak didik melaksanakan problem solving pada permulaan kelas tiga
( Cheppy HC,tt:100 ). Sesuai dengan perkembangan anak usia SD yang
masih dalam tingkatan operasional konkrit, mempunyai rasa ingin tahu yang
besar, ini merupakan kunci pokok dalam belajarnya. Selanjutnya Cheppy
mengatakan bahwa pada tingkatan usia tersebut siswa sebenarnya sudah
dapat mengumpulkan data, mengembangkan konsep,menemukan, dan
menilai generalisasi dalam lapangan ekonomi dan geografi. Hanya saja siswa
tidak selalu mengikuti pola-pola atau langkah-langkah metode pemecahan
masalah.
Latihan
1. Secara umum ada 3 cara pemecahan masalah. Cobalah Anda sebutkan
dan jelaskan masing-masing!
2. Pengetahuan atau ilmu itu dapat dikatakan ilmiah apabila
memenuhipersayatan-persyaratan
tertentu.
Jelaskanlah
persyaratan
tersebut!
3. Cobalah Anda jelaskan perbedaan tentang pembelajaran secara induktif
danpembelajaran secara deduktif
4.Metode pemecahan masalah mempunyai kelebihan dan kelemahan.
CobalahAnda jelaskan!
5. Bagaimanakah langkah-langkah kerja
sistematik danbenar? Cobalah Anda jelaskan!

pemecahan

masalah

yang

Rambu-rambu Jawaban
1. Pemecahan masalah ada tiga cara antara lain: pemecahan masalah
secaraotoritatif, pemecahan masalah secara ilmiah, dan pemecahan
masalah secarametafisik.
Lebih jelasnya bacalah kembali uraian di sub unit 6.2 tentang cara
pemecahan masalah.
2. Ciri pengetahuan ilmiah, antara lain :
a.mempunyai obyek,.
b.mempunyai metode,
c. bersifat universal,
d.mempunyai sistem,
Penjelasan
selanjutnya
dapat
bacalah
pengetahuanilmiah pada sub unit 6.2.

kembali

tentang

ciri-ciri

3.Perbedaan tentang pembelajaran secara


secaradeduktif.

induktif dan pembelajaran

Untuk lebih jelasnya bacalah tentang masalah dan hakikat pemecahannya


pada sub unit 6.2.
4.Metode pemecahan masalah mempunyai kelebihan dan kelemahan.
5.Kelebihannya: untuk menjawab pertanyaan ini Anda dapat meninjau
dariaspek siswa, guru, waktu.
Lebih jelasnya Anda dapat baca tentang kelebihan dan kelemahan metode
pemecahan masalah pada sub unit 6.2
6.Langkah-langkah kerja pemecahan yang sistematik dan benar:
a.Definisi masalah
b.Diagnose masalah (luasnya masalah dan apa penyebabnya)
c. Merumuskan alternatif dan rencana pemecahannya
d. Penerapan dan penetapan strategi pemecahan masalah yang dipilihe.