You are on page 1of 5

IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TERHADAP

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN MASYARAKAT DESA


(Studi Kasus pada Desa Poopo Barat Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan)
Oleh:
Gayatri Utami Olimpia Atalanta/145030100111023/Matakuliah Kinerja Organisasi Sektor Publik
Pengantar
Kelahiran Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa ini menggantikan
peraturan tentang desa yang tertuang UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa. Peraturan perundangan tersebut merupakan political will
dari pemerintah yang diharapkan akan membawa perubahan-perubahan penting yang ditujukan
untuk meningkatkan pelayanan masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan dan keberdayaan
masyarakat desa.
Kebijakan-kebijakan tata kelola desa yang dimuat dalam UU desa yang baru ini dianggap
sebagai kebijakan yang membawa harapan baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat desa. Beberapa kebijakan tersebut, diantaranya adalah alokasi anggaran yang besar
kepada desa yang dimaksudkan untuk meningkatkan anggaran desa dalam pembangunan,
pelayanan, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat desa. Selain itu juga melalui UU desa ini
peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) semakin diperbesar dengan adanya fungsi
pengawasan sebagai kontrol pelaksanaan pemerintahan desa demi menjamin penyelenggaraan
pemerintahan desa yang bersih, efektif dan efisien bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat
desa.
Desa merupakan unit komunitas otonom terendah dimana pemerintahan desa sebagai
garda terdepan yang langsung berhubungan dengan masyarakat sehingga intervensi yang
dilakukan desa akan dapat berdampak secara langsung dan lebih signifikan kepada masyarakat
demi kemajuan bangsa dan negara. Hal yang membuat semakin pentingya peranan desa dalam
upaya pembangunan dan pelayanan demi peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah secara
kuantitas jumlah desa lebih banyak dari kelurahan yakni mencapai 72.944 dibanding kelurahan
sebanyak 8.309. Serta ditinjau dari persentase kemiskinan sampai dengan bulan Maret 2013
Page | 1

daerah perdesaan lebih besar yakni terdapat penduduk miskin sebanyak 14,32% dibanding di
daerah perkotaan sebanyak 8,39% (BPS, 2013). Dengan data diatas, desentralisasi diperlukan
sebagai pengoptimalan potensi yang dimiliki oleh masing-masing desa. Oleh karena itu,
beberapa urusan diserahkan dari pusat ke daerah, yang biasanya dinamakan dengan otonomi
daerah.
Secara substansif Undang-Undang Desa ini menyiratkan adanya upaya pemberdayaan
aparatur pemerintah desa dan juga masyarakat desa. Pelaksanaan otonomisasi desa yang
bercirikan pelayanan yang baik adalah dapat memberikan kepuasan bagi masyarakat yang
memerlukan karena cepat, mudah, tepat dan dengan biaya yang terjangkau, oleh karena itu
pelaksanaan di lapangan harus didukung oleh faktor-faktor yang terlibat dalam implementasi
kebijakan tentang Desa tersebut.
Teori Implementasi
Makna implementasi menurut Daniel A. Mazmanian dan Paul Sabatier (1979)
sebagaimana dikutip dalam buku Solihin Abdul Wahab (2008: 65), mengatakan bahwa
Implementasi adalah memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan
berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan yakni
kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman
kebijaksanaan Negara yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun
untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.
Edward III (dalam Subarsono, 2011: 90-92) berpandangan bahwa implementasi
kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yaitu:
a) Komunikasi, yaitu keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar
implementor mengetahui apa yang harus dilakukan, dimana yang menjadi tujuan dan
sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target
group), sehingga akan mengurangi distorsi implementasi.
b) Sumberdaya, meskipun isi kebijakan telah dikomunikasikan secara jelas dan
konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan,
maka implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud
sumber daya manusia, misalnya kompetensi implementor dan sumber daya finansial.

Page | 2

c) Disposisi, adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor, seperti
komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang
baik, maka implementor tersebut dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti
apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap
atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi
kebijakan juga menjadi tidak efektif.
d) Struktur Birokrasi, Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan
kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan.
Aspek dari struktur organisasi adalah Standard Operating Procedure (SOP) dan
fragmentasi. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan
pengawasan dan menimbulkan red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan
kompleks, yang menjadikan aktivitas organisasi tidak fleksibel.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Khusus Kualitas Pelayanan)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 1 bahwa Desa adalah desa dan
desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak
asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Pada pasal 18 bahwa desa memiliki kewenangan yaitu meliputi
kewenangan di bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa,
pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa berdasarkan prakarsa
masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat desa. Pada pasal 67 dijelaskan bahwa desa berhak:
(a) mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan hak asal usul, adat istiadar, dan
nilai sosial budaya masyarakat dea; (b) menetapkan dan mengelola kelembagaan desa, dan; (c)
mendapatkan sumber pendapatan.
Studi Kasus
Berdasarkan hasil penelitian dari Rolando Tamawiwi ditemukan permasalahan di bidang
pelayanan publik yang sudah dilaksanakan baik di tingkat nasional maupun
sampai pada skala pemerintahan desa, permasalahan itu antara lain:
Pertama, Produktivitas pemerintah desa belum cukup baik hal ini dilihat dari
Page | 3

aspek sikap mental dan perilaku aparat desa dalam pengurusan surat-surat
keterangan terhadap masyarakat, masih terdapat pelayanan yang pilih kasih
serta pejabat sering tidak ada di tempat saat masyarakat membutuhkan
pelayanan.
Kedua, Kualitas Layanan dari aspek kesederhanaan pelayanan sudah
cukup baik ini dibuktikan melalui keterangan dari masyarakat yang
mengatakan proses pelayanan administrasi kependudukan yang diberikan
pemerintah desa sudah sesuai dengan ketentuan yang ada, dari aspek
kecakapan dan kehandalan aparatur desa sudah baik pula, keterampilan dan
pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat, dimana dalam
proses pembuatan surat-surat keterangan aparat desa mengetahui segala
jenis persyaratan yang dibutuhkan, dari aspek keramahan juga pemerintah
desa sudah menunjukan sikap yang ramah dan bersahabat dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ketiga, Akuntabilitas pelayanan dilihat dari kebijakan pemerintah desa
dalam penerapan standar pelayanan dibidang administrasi kependudukan
yang masih belum cukup baik, hal ini dilihat dari aturan dan norma serta
etika pelayanan yang berkembang dalam masyarakat di antaranya meliputi
transparansi pelayanan yang masih kurang jelas,laporan-laporan
pertanggungjawaban belum diterima masyarakat, prinsip keadilan yang
belum terealisasi keseluruh masyarakat jaminan penegakan hukum, hak
asasi manusia, dan orientasi pelayanan yang desa, perlu dikembangkan lagi
terhadap masyarakat.
Analisis
Kualitas layanan dari aparatur pemerintah desa Poopo Barat dalam
memberikan pelayanan administrasi kependudukan, dilihat dari aspek
kesedehanaan, kecakapan dan kehandalan petugas, keramahan, dan
ekonomis sudah cukup baik, akan tetapi jika dilihat dari aspek kejelasan dan
kepastian pelayanan belum cukup baik, hal ini dikarenakan belum ada
Page | 4

kejelasan dan kepastian pelayanan mengenai waktu selesai dari proses


pengurusan surat-surat keterangan yang diurus oleh masyarakat. Selain itu,
kebijakan pemerintah desa dalam penerapan standar pelayanan dibidang
administrasi kependudukan masih belum cukup baik,hal ini dilihat dari
aturan dan norma serta etika pelayanan yang berkembang dalam
masyarakat di antaranya meliputi transparansi pelayanan yang masih
kurang jelas, prinsip keadilan yang belum terealisasi ke seluruh masyarakat
desa, jaminan penegakan hukum, hak asasi manusia, dan orentasi pelayanan
yang perlu dikembangkan terhadap masyarakat.
Permasalahan ini dapat diatasi dengan adanya peningkatan
produktivitas oleh pemerintah Desa Poopo Barat dalam hal sikap mental dan
perilaku perangkat desa, juga semangat kerja yang harus lebih ditingkatkan
untuk mengoptimalkan proses pelayanan administrasi kependudukan seperti
pengurusan surat-surat keterangan seperti keterangan mutasi penduduk,
keterangan kelahiran dan keterangan kematian. Dari segi kualitas layanan
kiranya pemerintah desa bisa lebih meningkatan lagi aspek kesedehanaan,
kecakapan dan kehandalan petugas, keramahan, dan ekonomis, agar
tatacara pelayanan bisa lebih mudah, lancar, tepat, tidak berbelit-belit dan
mudah dipahami oleh masyarakat, dan untuk aspek kejelasan dan kepastian
waktuagar bisa lebih diperhatikan lagi untukhasil kerja yang lebih baik dan
sesuai dengan apa yang diinginkan masyarakat. Akuntabilitas atau
pertanggungjawaban etika pelayanan pemerintah desa Poopo Barat perlu
ditingkatkan lagi, dalam hal transparansi pelayanan kepada masyarakat,
prinsip keadilan yang perlu disamaratakan, serta jaminan penegakan hukum,
hak asasi manusia, dan orentasi pelayanan yang perlu dikembangkan lagi
terhadap seluruh masyarakat.

Page | 5