You are on page 1of 6

3. Nyamuk Anopheles sp.

a. Klasifikasi Anopheles sp.


Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diptera

Family

: Culicidae

Sub Family

: Anophelini

Genus

: Anopheles

Spesies

: Anopheles sp. (Borror dkk, 1992).

b. Morfologi Anopheles sp.


Nyamuk Anopheles dapat diamati mulai dari stadium telur kemudian larva dan
pupa serta stadium dewasanya. Berikut ini merupakan penjelasannya:
a. Telur

Gambar 1.1 Telur Nyamuk Anopheles


Sumber: http://www.slideshare.net/riski_albughari/morfologi-daur-hidup-perilakunyamuk (2014)

Nyamuk Anopheles meletakkan telur di permukaan air, satu-satu atau saling


berletakkan pada ujungnya. Telur berukuran dengan panjang 6 mm dan lebar 1,25 mm
memanjang dan simetris bilateral, warna telur coklat atau gelap, dengan sisi ada
pelampung (Munif, 2010).
b. Larva
Bentuk larva vermiform yaitu badan memanjang menyerupai cacing. Larva
memiliki khitin (Quadrilateral plate) dengan dua spirakel yang masing-masing
dikelilingi oleh lima sirip menyerupai daun untuk respirasi. Bulu-bulu kecil yang
terdapat didekat spirakel membentuk sepasang pectin (Munif, 2010).

Larva memiliki rambut-rambut kaku yang membentuk sepasang berkas pada


setiap segmen toraks (palmate bristles) terutama pada segmen abdomen, terdiri dari
tangkai pendek tempat rambut-rambut berdiri menyebar (Munif, 2010).

Gambar 1.2 Larva Nyamuk Anopheles


Sumber:http://www.slideshare.net/AriniUtami/identifikasi-nyamuk (2013)

c. Pupa
Stadium pupa berwarna gelap hitam, karena adanya sisik pada bagian
integermen dan pupa bernafas dengan terompet pernafasan. Morfologi pupa terdiri
dari terompet pernafasan, calon mata, calon tungkai, calon sayap abdomen dan
pendayung (Munif, 2010).

Gambar 1.3 Pupa Nyamuk Anopheles


Sumber:http://medent.usyd.edu.au/arbovirus/mosquit/photos/larvaephotographs2.htm

d. Nyamuk Dewasa
Morfologi bentuk dewasa mempunyai sepasang sayap, badan beruas-ruas, tiga
pasang kaki, tubuh nyamuk terdiri dari kepala, dada dan badan. Probosis sama
panjangnya dengan palpi. Nyamuk dewasa anopheles berukuran 0,4-1,3 cm dengan
tubuh tampak rapuh namun mempunyai struktur dan fungsi tubuh yang diperkuat oleh
rangka exo dan endoskeleton yang kokoh untuk melindungi alat-alat dalam yang
lembut. Organ dan sistem yang lengkap untuk kehidupannya seperti pada manusia
yaitu ada otot, respirasi, sirkulasi, ekskresi, syaraf, pencernaan, indra dan alat
reproduksi (ovary) alat-alat dalam sangat lembut (Munif, 2010).
Nyamuk dewasa berbeda dari ordo Diptera lainnya karena nyamuk memiliki
probosis yang panjang dan sisik pada bagian tepi dan vena sayapnya. Tubuh nyamuk
terdiri atas tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut. Nyamuk memiliki sepasang

antena berbentuk filiform berbentuk panjang dan langsing serta terdiri atas 15
segmen. Antena dapat digunakan sebagai kunci untuk membedakan kelamin pada
nyamuk dewasa. Antena nyamuk jantan lebih lebat daripada nyamuk betina (Lestari,
2010).

Gambar 1.4 Morfologi nyamuk anopheles sp.


Sumber : Anonymous, 2011

Pada nyamuk betina, probosis dipakai sebagai alat untuk menghisap darah,
sedangkan pada nyamuk jantan untuk menghisap bahan-bahan cair seperti cairan
tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan juga keringat. Di kiri kanan probosis terdapat
palpus yang terdiri dari 5 ruas dan sepasang antenna yang terdiri dari 15 ruas. Antena
pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada nyamuk betina jarang (pilose)
(Gandahusada dkk, 2000).

Gambar 1.5 Kepala Nyamuk Anopheles Jantan dan Betina


Sumber:http://www.slideshare.net/AriniUtami/identifikasi-nyamuk (2013)

Sebagian besar torax yang tampak (mesonotum), diliputi bulu halus. Bulu ini
berwarna putih/kuning dan membentuk gambaran yang khas untuk masing-masing
spesies. Posterior dari mesonotum terdapat skutelum yang pada anophelini bentuknya
melengkung (rounded) dan pada culicini membentuk 3 lengkung (trilobus). Sayap
nyamuk panjang dan langsing, mempunyai vena yang permukannya ditumbuhi sisiksisik sayap (wing scales) yang letaknya mengikuti vena. Pada pinggir sayap terdapat
sederetan rambut yang disebut fringe. Abdomen berbentuk silinder yang terdiri atas

10 ruas. 2 ruas yang terakhir berubah menjadi alat kelamin. Nyamuk mempunyai 3
pasang kaki (hexapoda) yang melekat pada toraks dan tiap kaki terdiri dari 1 ruas
femur, 1 ruas tibia dan 5 ruas tarsus (Gandahusada dkk, 2000).
c. Vektor Malaria
Nyamuk Anopheles adalah vektor siklik satu-satunya dari malaria manusia.
Dari sekitar 400 spesies Anopheles, hanya sekitar 70 spesies yang menjadi vektor
malaria. Tiap spesies mempunyai sifat dan perilaku yang berbeda-beda. Berikut
beberapa contoh yang banyak ditemukan di beberapa pulau di Indonesia : (Setiyani,
2014)
1. Di Jawa dan Bali :
a. Anopheles sundaicus: tempat perindukan di rawa, sepanjang pantai berair asin
atau air tawar campur air asin terutama yang banyak mengandung alga.Termasuk
night biter (pukul 20-24), tempat istirahat di luar dan dalam rumah,mampu
terbang 5 km dari perindukan.
b. Anopheles aconitus: tempat perindukan di sawah, saluran irigasi dan anak sungai
di pedalaman, terlebih air yang mengandung jerami busuk. Termasuk day biter
dan tempat istirahatnya di rumah, kandang atau semak.
2. Di Irian Jaya :
a. Anopheles farauti: menyukai air tawar dan air payau. Tempat perindukan di tepi
sungai, rawa, genangan hujan, kolam. Termasuk night biter mengisap darah
malam hari dan dini hari. Beristirahat di luar dan di dalam rumah.
b. Anopheles punctulatus: tempat perindukan di genangan air, tepi sungai. Termasuk
night biter.
3. Di Kalimantan :
a. Anopheles balabacensis: tidak memilih tempat perindukan seperti, air di tanah
bekas injakan kaki, kolam, sungai kecil.
4. Di Sumatera :
a. Anopheles barbirostris: di tempat berair yang banyak ditumbuhi tanaman, baik
sekitar rumah maupun sawah. Termasuk day biter. Di dalam tubuh nyamuk
Anopheles betina, dapat hidup lebih dari satu spesies Plasmodium secara
bersamaan sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi campuran (mixed
infection).
Gambar Nyamuk Anopheles sp. dan bagian-bagiannya:
Anten

Probosi
Mata

Palpu
s

Occipu
t
Mesonatu
m

Saya
p
Femur

Skutelu
Haltere

Tibi
a
Tarsu
s

Sumber :

Abdom
en
Serku
s

Albughary, Riski. 2014. Morfologi, Daur Hidup, Perilaku Nyamuk. Diakses dari
http://www.slideshare.net/riski_albughari/morfologi-daur-hidup-perilaku-nyamuk
pada tanggal 20 Mei 2016 pukul 13.21
Anonymous, 2011. Gangguan Kesehatan akibat Nyamuk. Diakses dari
http://www.kesehatanlingkungan.org/book/ehbch%2008mosquitoes.pdf pada tanggal
19 Mei 2016 pukul 19.19
Borror, Donald J. Triplehorn, Charles A., and Norman F. 1992. Pengenalan Pelajaran
Serangga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dogget, Stephen L. 1999. Mosquito Larvae/Pupa. Diakses dari
http://medent.usyd.edu.au/arbovirus/mosquit/photos/larvaephotographs2.htm pada
tanggal 20 Mei 2016 pukul 14.04
Gandahusada, Srisasi., Herry D. Ilahude dan Wita Pribadi. 2000. Parasitologi Kedokteran.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Lestrai, Bekti Dyah., Zulfaidah P. Gama dan Brian Rahardi. 2011. Identifikasi Nyamuk di
Kelurahan Sawojajar Kota Malang. Diakses dari
http://biologi.ub.ac.id/files/2010/12/BSS2010ZPGBR.pdf pada tanggal 19 Mei 2016
pukul 19.02
Munif, Amrul & Moch. Imron TA. 2010. Panduan Pengantar Nyamuk Vektor Malaria.
Jakarta: CV Sagung Seto.
Setiyani, NRW. 2014. Diakses dari http://eprints.undip.ac.id/44857/3/BAB_2.pdf pada

tanggal 20 Mei 2016 pukul 01.30


Utami, Arini. 2013. Identifikasi Nyamuk. Diakses dari
http://www.slideshare.net/AriniUtami/identifikasi-nyamuk pada tanggal 20 Mei 2016
pukul 13.49