You are on page 1of 92

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini
sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan
dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka
kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada
masa neonates. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai
perubahan biokimia dan faali. Dengan terpisahnya bayi

dari ibu, maka terjadilah

1.
Peredaran darah
paru untuk bernafas

(pertukaran oksigen

2.
Saluran cerna

3.
Ginjal berfungsi
lagi oleh tubuh untuk

mempertahankan

4.
Hati berfungsi
yang tidak diperlukan

badan

Sistem imunologik berfungsi untuk mencegah infeksi

Sistem kardiovaskular serta endokrin bayi menyesuaikan diri dengan perubahan fungsi

organ tersebut diatas.

Penyesuaian pokok yang dilakukan bayi neonatal yaitu:

Perubahan suhu, dimana ketika di dalam rahim suhu berkisar 100 F namun suhu di luar
0

berkisar 60 -70 F.
Bernafas, jika tali pusar diputus maka bayi mulai harus bernafas sendiri.

Mengisap dan menelan, bayi sudah tidak dapat lagi mendapat makanan melalui tali pusar
tetapi memperoleh makan dengan cara mengisap dan menelan.

Pembuangan, ketika bayi dilahirkan barulah alat-alat pembuangan itu berfungsi.

Ciri-ciri bayi Neonatal yaitu:

Masa bayi Neonatal merupakan periode yang tersingkat dari semua periode perkembangan.
Masa ini hanya dimulai dari kelahiran sampai tali pusar lepas dari pusarnya.

Masa bayi Neonatal merupakan masa terjadinya penyesuaian yang radikal. Masa ini dimana
suatu peralihan dari lingkungan dalam ke lingkungan luar.

3.
Masa Neonatal
Ketika periode prenatal

sedang berkembang

4.
Masa bayi
perkembangan selanjutnya.

Perkembangan
dilahirkan.
5.
Masa bayi Neonatal
ini berbahaya karena

sulitnya menyesuaikan

Ikterus
atau jaringan lain akibat
penimbunan bilirubin
penting penyakit hati

atau kelainan fungsi hati, saluran empedu dan penyakit darah. Bila kadar bilirubin darah
melebihi 2 mg %, maka ikterus akan terlihat. Namun pada neonatus ikterus masih belum
terlihat meskipun kadar bilirubin darah sudah melampaui 5 mg %. Ikterus terjadi karena

peninggian kadar bilirubin indirect (unconjugated) dan kadar bilirubin direct

(conjugated). Bilirubin indirect akan mudah melewati darah otak apabila bayi terdapat
keadaan berat badan lahir rendah, hipoksia dan hipoglikemia (Markum H, 2005).

Ikterus neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana terdapat warna kuning pada kulit,
konjungtiva dan mukosa akibat penumpukan bilirubin, sedangkan

hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah
terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan
(Mansjoer, 2000). Berdasarkan dua pengertian di atas, dengan demikian ikterus adalah
menguningnya sklera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau
akumulasi bilirubin yang meningkat.

Macam Macam Ikterus

Macam macam ikterus menurut Ngastiyah (2005) adalah sebagai berikut:

Ikterus Fisiologis

Ikterus
faktor fisiologis yang
merupakan gejala
Ikterus fisiologis diantara
sebagai berikut:

a.
Timbul pada

b.
Kadar bilirubin
neonatus cukup bulan dan

12,5 mg%

c.
Kecepatan
perhari.
d.
Ikterus

Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik.

Ikterus Patologi

Ikterus patologi adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah
mencapai nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus jika tidak
ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis.
Adapun ikterus patologis menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut:

Ikterus patologi

Ikterus patologi menurut Ngastiyah ( 2005)

Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama

Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg%
pada neonatus kurang bulan

Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari

Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama

Kadar bilirubin direct melebihi 1 mg%

Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik

Ikterus patologi

Ikterus yang

karakteristik

1)
Ikterus

2)
Peningkatan

hiperbilirubinemia dengan

24 jam
3)
Konsentrasi
neonatus < bulan dan 12,5

% pada

4)
Ikterus
darah, defisiensi enzim

G6PD dan sepsis)

Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia,
sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas
darah.

Pembentukan

Lahir

Hemoglobin

Hem

Globin

Besi

Bilirubin

Plasma Protein

Hati Glukoronil

Transfer

Bilirubin tidak terkonjugasi + asam Glukoronat

Glukoronat bilirubin terkonjugasi

Sumber : Whaley, wong mosby. Hal 370, dikutip

C. Etiologi dan Faktor

1. Etiologi Ikterus

Peningkatan

setiap bayi baru lahir,

karena hemolisis

merah lebih banyak dan

berumur lebih

Fungsi hepar yang belum sempurna (jumlah dan fungsi enzim glukuronil transferase, ligand
dalam protein belum adekuat)

Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih befungsinya enzim beta glukuronidase di


usus dan belum ada nutrien

2. Faktor Resiko Ikterus

Peningkatan kadar bilirubin yang berlebih (ikterus nonfisiologis) menurut (Moeslichan, 2004)
dapat dipengaruhi oleh faktor faktor di bawah ini:

Hemolisis akibat inkontabilitas ABO atau isoimunisasi Rhesus, defisiensi G6PD,


sferositosis herediter dan pengaruh obat

Infeksi, septikemia, sepsis, meningitis, Infeksi saluran kemih, infeksi intra uterin

Polisitemia

Trauma lahir, sefalhematom

Asidosis

Hipoksia/asfiksia

Faktor resiko untuk timbulnya ikterus neonatorum menurut (Moeslichan, 2004)


adalah sebagai berikut:

a) Faktor maternal

(1)
Ras atau
, Yunani)
(2)
Komplikasi
Rh)

Penggunaan

ASI

Faktor Perinatal

Trauma

Infeksi (bakteri, virus, protozoa)

Faktor Neonatus

Prematuritas

Faktor genetik

Obat (Streptomisin, kloramfenikol, benzylalkohol, sulfisoxazol)

Rendahnya asupan ASI

Hipoglikemia

Hipoalbuminemia

D. Penyebab Ikterus

Penyebab ikterus menurut Markum (2005) ikterus terbagi atas :

1. Ikterus pra hepatik

Terjadi akibat produksi bilirubin yang mengikat yang terjadi pada hemolisis sel

darah merah.

2. Ikterus pasca hepatik (obstruktif)

Adanya bendungan dalam saluran empedu (kolistasis) yang mengakibatkan

peninggian konjugasi bilirubin yang larut dalam air yang terbagi menjadi:

a. Intrahepatik:

ductuskoleductus

Ekstrahepatik:

Ikterus hepatoseluler

Kerusakan sel terganggu.

Penyebab Ikterus

24 jam pertama

Ikterus yang

lain:

Inkomtabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain

Infeksi intra uterin (oleh virus, toksoplasma, lues dan kadang bakteri)

Kadang oleh defisiensi G-6- PO

24 jam sampai < 72 jam

Ikterus yang timbul 24 72 jam setelah lahir dengan penyebab anatara lain:

Biasanya ikterus fisiologis

Masih ada kemungkinan inkompatibitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini
diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat, misalnya melebihi 5 mg%/24 jam

Polisitemia

Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan sub oiponeurosis, perdarahan hepar sub kapsuler
dan lain-lain)

Dehidrasis asidosis

3. Lebih dari 72 jam

Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertama dengan

penyebab antara

Biasanya

Dehidrasi

Defisiensi

Pengaruh obat

F. Tanda dan Gejala

Tanda

Tanda dan gejala yang timbul dari ikterus menurut Surasmi (2003) yaitu:

Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar

Letargi (lemas)

Kejang

Tidak mau menghisap

Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental

f. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot,

kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot

epistotonus,

Perut membuncit

Pembesaran pada hati

Feses berwarna seperti dempul

Tampak ikterus: sklera, kuku, kulit dan membran mukosa. Joundice pada 24 jam pertama
yang disebabkan oleh penyakit hemolitik waktu lahir, sepsis, atau ibu dengan
diabetik/infeksi.

Muntah, anoreksia, fatigue, warna urin gelap, warna tinja gelap.

2. Gejala

Gejala menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan

menjadi:

a. Gejala akut :
kernikterus pada neonatus
adalah letargi,

b. Gejala kronik
meliputi hipertonus dan
opistonus
sisa berupa paralysis
serebral dengan
sebagian otot mata dan

displasia

Bila
penunjang sebagai
berikut :

Pemeriksaan golongan darah ibu pada saat kehamilan dan bayi pada saat kelahiran

Bila ibu mempunyai golongan darah O dianjurkan untuk menyimpan darah tali pusat pada
setiap persalinan untuk pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan

Kadar bilirubin serum total diperlukan bila ditemukan ikterus pada 24 jam pertama
kelahiran.

G. Komplikasi

Komplikasi yang mungkin timbul dari ikterus neonatorum terjadi kernikterus, yaitu
kerusakan pada otak akibat perlengketan bilirubin indirect pada otak terutama pada korpus
striatum, thalamus, nucleus subtalamus hipokampus, nucleus merah didasar ventrikel IV
(Ngastiyah, 2005).

Kern Ikterus adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirect pada otak.
Kern Ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup bulan
dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg %) dan disertai penyakit hemolitik berat dan
pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern ikterus secara klinis secara kronik
(Markum, 2005).

H. Penatalaksanaan

Pengobatan
yang mungkin dan
memastikan kondisi
(fisiologis) ataukah
sudah patologis.
bilirubin indirect
dalam darah tidak
neurotoksisitas, dianjurkan

dilakukan transfuse tukar dan atau fototerapi. Resiko cidera susunan saraf pusat akibat
bilirubin harus diimbangi dengan resiko pengobatan masing-masing bayi. Kriteria yang harus
dipergunakan untuk memulai fototerapi. Oleh karena fototerapi membutuhkan waktu 12-24

jam, sebelum memperlihatkan panjang yang dapat diukur, maka tindakan ini harus dimulai
pada kadar bilirubin, kurang dari kadar yang diberikan. Penggunaan fototerapi sesuai dengan
anjuran dokter biasanya diberikan pada neonates dengan kadar bilirubin tidak lebih dari 10
mg%.

1. Penatalaksanaan umum

Penatalaksanaan ikterus secara umum menurut Surasmi (2003) antara lain

yaitu:

a. Memeriksa golongan darah ibu, (Rh, ABO) dan lain lain pada waktu hamil

b. Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang

dapat menimbulkan ikterus, infeksi dan dehidrasi

Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan
bayi baru lahir imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat

Pengobatan terhadap faktor penyebab bila diketahui

Penatalaksanaan berdasarkan waktu timbulnya ikterus

Ikterus
timbulnya gejala dan
diatasi dengan

a. Ikterus yang
dilakukan:
1)
Kadar

2)

Darah tepi

3)
Golongan

4)
Pemeriksaan
darah atau biopsi

hepar bila

Ikterus yang timbul 24 72 jam setelah lahir: Pemeriksaan yang perlu diperhatikan:

Bila keadaan bayi baik dan peningkatan tidak cepat dapat dilakukan pemeriksaan darah
tepi

Periksa kadar bilirubin berkala

Pemeriksaan penyaring enzim G-6-PD dan pemeriksaan lainnya.

c. Ikterus
yang
timbul
sesudah
72 jam pertama sampai minggu pertama
Ikterus
yang
timbul
pada
akhir minggu pertama dan selanjutnya
Pemeriksaan yang dilakukan :

Pemeriksaan bilirubin direct dan indirect berkala

Pemeriksaan darah tepi

Pemeriksaan penyaring G-6-PD

Biarkan darah, biopsi hepar bila ada indikasi

Ragam Terapi

Jika setelah tiga-empat hari kelebihan bilirubin masih terjadi, maka bayi harus

segera mendapatkan
disesuaikan dengan

kadar kelebihan

a) Terapi Sinar

Terapi
setidaknya sampai kadar
bilirubin
. Dengan fototerapi,
bilirubin
mudah larut dalam air
tanpa harus
juga berupaya menjaga
kadar bilirubin
menimbulkan risiko yang

lebih fatal. Sinar yang digunakan pada fototerapi berasal dari sejenis lampu neon dengan
panjang gelombang tertentu. Lampu yang digunakan sekitar 12 buah dan disusun secara
paralel. Di bagian bawah lampu ada sebuah kaca yang disebut flexy glass yang berfungsi
meningkatkan energi sinar sehingga intensitasnya lebih efektif.

Sinar yang muncul dari lampu tersebut kemudian diarahkan pada tubuh bayi. Seluruh
pakaiannya dilepas, kecuali mata dan alat kelamin harus ditutup dengan menggunakan
kain kasa. Tujuannya untuk mencegah efek cahaya

berlebihan dari lampu-lampu tersebut. Seperti diketahui, pertumbuhan mata bayi


belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan merusak bagian retinanya, begitu pula
alat kelaminnya, agar kelak tak terjadi risiko terhadap organ reproduksi itu, seperti
kemandulan.

Pada saat dilakukan fototerapi, posisi tubuh bayi akan diubah-ubah, telentang lalu
telungkup agar penyinaran berlangsung merata. Dokter akan terus mengontrol apakah
kadar bilirubinnya sudah kembali normal atau belum. Jika sudah turun dan berada di
bawah ambang batas bahaya, maka terapi bisa dihentikan. Rata-rata dalam jangka
waktu dua hari si bayi sudah boleh dibawa pulang.

Meski
dampak fototerapi. Ada
kecenderungan
mengalami dehidrasi
karena malas
bilirubin justru akan
meningkatkan
usus. Hasilnya gerakan
peristaltik
tak semua bayi akan
mengalaminya,
pasti, untuk menghindari
terjadinya
ASI pada si kecil
(www.revell-indonesia.com).

b) Terapi Transfusi

Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus
meningkat hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan terapi
transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan sel
saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang harus diwaspadai karena anak bisa
mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya keterbelakangan mental,
cerebral palsy, gangguan motorik dan bicara, serta

gangguan penglihatan dan pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah teracuni

akan dibuang dan ditukar dengan darah lain. Proses tukar darah akan dilakukan

bertahap.

Bila dengan sekali tukar darah, kadar bilirubin sudah menunjukkan angka

yang menggembirakan, maka terapi transfusi bisa berhenti. Tapi bila masih tinggi

maka perlu dilakukan proses tranfusi kembali. Efek samping yang bisa muncul

adalah masuknya kuman penyakit yang bersumber dari darah yang dimasukkan ke

dalam tubuh bayi. Meski begitu, terapi ini terbilang efektif untuk menurunkan

kadar bilirubin yang tinggi.

c)
Terapi Obat

Terapi
obat Phenobarbital

atau luminal

di sel-sel hati sehingga

bilirubin yang
Ada juga obat-obatan

yang
untuk mengurangi

timbunan
hati. Biasanya terapi

ini dilakukan
. Jika sudah tampak

perbaikan
bahkan dihentikan. Efek

sampingnya adalah mengantuk. Akibatnya, bayi jadi banyak tidur dan kurang

minum ASI sehingga dikhawatirkan terjadi kekurangan kadar gula dalam darah

yang justru memicu peningkatan bilirubin. Oleh karena itu, terapi obat-obatan

bukan menjadi pilihan utama untuk menangani hiperbilirubin karena biasanya

dengan fototerapi si kecil sudah bisa ditangani (www.revell-indonesia.com).


d)

Menyusui Bayi dengan ASI

Bilirubin juga dapat pecah jika bayi banyak mengeluarkan feses dan urin. Untuk itu bayi
harus mendapatkan cukup ASI. Seperti diketahui, ASI memiliki

zat-zat terbaik bagi bayi yang dapat memperlancar buang air besar dan kecilnya.

e) Terapi Sinar Matahari

Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan. Biasanya dianjurkan setelah
bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya, bayi dijemur selama setengah jam dengan posisi
yang berbeda-beda. Seperempat jam dalam keadaan telentang, misalnya, seperempat jam
kemudian telungkup. Lakukan antara jam 7.00 sampai 9.00. Inilah waktu dimana sinar surya
efektif

mengurangi

ultraviolet belum cukup


efektif,

terlalu tinggi sehingga


akan merusak

melihat
langsung ke
matahari

situasi
di sekeliling,
keadaan udara

Penilaian Ikterus

Ikterus dimulai

membagi tubuh bayi baru

lahir dalam lima bagian bawah sampai tumit, tumit-pergelangan kaki dan bahu pergelangan
tangan dan kaki serta tangan termasuk telapak kaki dan telapak tangan. Cara pemeriksaannya
ialah dengan menekan jari telunjuk di tempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung,
tulang dada, lutut dan lain-lain. Kemudian penilaian kadar bilirubin dari tiap-tiap nomor
disesuaikan dengan angka rata-rata di dalam gambar di bawah ini.

Penilaian ikterus dan derajat ikterus dengan cara Kramer yaitu membagi derajat ikterus bayi
baru lahir dalam 5 bagian yang dimulai cara:

Derajat I

Apabila terdapat warna kuning dari kepala sampai leher.

Derajat II Apabila terdapat warna kuning dari kepala, badan sampai dengan umbilicus.

Derajat III Apabila terdapat warna kuning dari kepala, badan, paha sampai dengan lutut.

Derajat IV Apabila terdapat warna kuning dari kepala, badan, ekstremitas sampai dengan
pergelangan tangan dan kaki.

Derajat V Apabila terdapat warna kuning dari kepala, badan, semua ekstremitas sampai
dengan ujung jari.

kadar
Derajat

rata-rata

Prematur
Ikterus

(gr/dl)

1
Kepala sampai

2
Kepala, badan

9,4

Kepala, badan,

11,4

Kepala, badan

4
pergelangan

13,3

Kepala, badan semua ekstremitas sampai

5
dengan ujung jari
-

Sumber : Rachmat F boedjang, Penatalaksanaan Icterus Neonatal, Icterus pada Neonatus, FKUI, tahun 1984,
hlm. 81-82, dikutip dari Sri Agung Lestari, 2009

Tabel 2.1

Beberapa hal yang diperhatikan untuk terapi sinar antara lain:

Diusahakan bagian tubuh bayi yang terkena sinar dapat seluas mungkin dengan membuka
pakaian bayi.

Kedua mata dan kemaluan harus ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya
agar tidak membahayakan retina mata dan sel reproduksi bayi.

Bayi diletakkan 8 inci di bawah sinar lampu. Jarak ini dianggap jarak yang terbaik untuk
mendapatkan energi yang optimal.

Posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap 18 jam agar bagian tubuh bayi yang terkena
cahaya dapat menyeluruh.

Suhu bayi diukur secara berkala setiap 4 6 jam.

Kadar bilirubin bayi diukur sekurang-kurangnya tiap 24 jam.

Hemoglobin harus diperiksa secara berkala terutama pada bayi dengan hemolisis.

Perhatikan kecukupan cairan tubuh bayi. Bila perlu konsumsi cairan bayi dinaikkan.

J. Faktor Faktor 1. Faktor ibu

a. Tingkat

Pengetahuan
atau kepandaian yang
dimiliki oleh
latihan atau melalui proses
belajar. Proses
memiliki kemampuan

membaca,
memiliki kemampuan
memecahkan
beradaptasi, kreatif dan

inovatif, kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk mencapai hasil belajar yang lebih
baik. Pengetahuan merupakan kemampuan kognitif yang paling rendah namun sangat
penting, karena dapat membentuk perilaku seseorang. (Noto Admojo, S 2005)

Ketika seseorang mendapatkan pengetahuan baru, orang tersebut diharapkan mampu


menyebutkan informasi itu kembali menginterpretasikannnya dengan benar dan dapat
mengaplikasikannya, ia juga diharapkan dapat melakukan analisa, sintesa dan eveluasi.
Dengan demikian diharapkan semakin tinggi kemampuan

kognitif paru ibu terhadap terjadinya ikterus patologis maupun fisiologis pada bayi
baru lahir, dianjurkan semakin banyak pula perubahan perilaku positif dalam
memberikan ASI sedini mungkin.

b. Usia

Perkembangan organ-organ reproduksi pada ibu yang masih muda belum optimal,
juga kematangan jiwa dan emosi yang kurang dan menurut Depkes usia yang baik
untuk hamil adalah 20-35 tahun. Bayi - bayi yang berasal dari ibu yang berusia muda
mempunyai angka kematian yang lebih tinggi, kejadian prematuritas dan BBLR yang
lebih tinggi dibandingkan dengan bayi-bayi dari ibu

yang lebih
biasanya disertai dengan
kelainan
epilepsi, Retardasi
mental, dan
ini jika berhasil hidup
akan menimbulkan
bayi tersebut akan
mengaalami
terhambat/tidak
optimal,
termasuk cacat
psikososial yang
kurang
memadai/

c. Tingkat

Pendidikan merupakan alat yang dapat mengubah nilai dan norma keluarga. Melalui
pendidikan, seseorang dapat menerima lebih banyak informasi dan memperluas
cakrawala berfikir sehingga mudah mengembangkan diri dalam mengambil keputusan
dan bertindak. Ibu yang berpendidikan rendah sulit untuk menerima motivasi. Ibu
yang berpendidikan rendah biasanya kurang menyadari pentingnya perawatan pra
kelahiran, punya keterbatasan dalam memperoleh pelayanan antenatal yang adekuat,
keterbatasan mengkonsumsi makanan yang bergizi selama hamil yang pada akhirnya
akan mempengaruhi kondisi ibu dan

janin yang dikandungnya. Dari penelitian (Sri Agung, 2009) Menunjukan bahwa
sebagian besar responden yang memiliki tingkat pengetahuan perawatan bayi tinggi
sekitar 73,3%, dan 70% bayi yang tidak mengalami ikterus.

d. Riwayat Kesehatan Ibu Pada Saat Hamil.

Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk


mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu menghadapi
persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan
reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998). Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah
kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin semenjak

ia merasa

antenatal. Pada
setiap kunjungan
dan menganalisis data
mengenai
fisik untuk mendapatkan
diagnosis
masalah
atau komplikasi
(Saifuduin,

Kunjungan
ibu
hamil dengan
pemberi

dan kesejahteraan bayi


serta kesempatan
informasi bagi ibu

dan petugas kesehatan (Henderson, 2006). Menurut Depkes RI (1994) tujuan ANC
adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan
dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.

Hampir semua ibu hamil pasti menginginkan kehamilannya berjalan lancar,


persalinan berjalan normal, dan melahirkan bayi sehat. Untuk mewujudkan keinginan
tersebut tak pelak lagi dibutuhkan pemeriksaan kehamilan yang teratur.

Sebenarnya bukan hanya untuk ibu, pemeriksaan kehamilan pun bermanfaat untuk
kesejahteraan janin. "Untuk ibu, misalnya, pemeriksaan berguna untuk mendeteksi

dengan melihat pasien


.

menstruasi, tanggal kehamilan. Misalnya, makan berkurang atau sebelumnya jika itu
bukan

dini jika ada komplikasi kehamilan, sehingga dapat segera mengobatinya;


mempertahankan dan meningkatkan kesehatan selama kehamilan; mempersiapkan
mental dan fisik dalam menghadapi persalinan; mengetahui berbagai masalah yang
berkaitan dengan kehamilannya, juga bila kehamilannya dikategorikan dalam risiko
tinggi, sehingga dapat segera ditentukan pertolongan persalinan yang aman kelak."
Sementara untuk bayi, pemeriksaan itu bisa meningkatkan kesehatan janin dan
mencegah janin lahir prematur, berat bayi lahir rendah, lahir mati, ataupun mengalami
kematian saat baru lahir. Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah:

1) Anamnesa

menstruasi mual-bertambah kehamilan

2) Pemeriksaan

pucat,

3) Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan drah terdiri dari: HB, gula darah, sampai golongan darah guna mengetahui
ada atau tidaknya ketidaksesuaian golongan darah dan rhesus.

Faktor bayi

a. Inkompatibilitas Rhesus

Kira-kira 85% orang kulit putih mempunyai rhesus positif dan 15% rhesus negatif.
Hemolisis biasanya terjadi bila ibu mempunyai rhesus negatif dan janin

rhesus positif. Bila sel darah janin masuk ke peredaran darah ibu, maka ibu akan
dirangsang oleh antigen Rh sehingga membentuk antibodi terhadap Rh. Zat antibodi
Rh ini dapat melalui plasenta dan masuk ke dalam peredaran darah janin dan
selanjutnya menyebabkan penghancuran sel darah merah janin (hemolisis). Hemolisis
ini terjadi dalam kandungan dan akibatnya ialah pembentukan sel darah merah
dilakukan oleh tubuh bayi secara berlebihan, sehingga akan didapatkan sel darah
merah berarti yang banyak. Oleh karena itu pula keadaan ini disebut erotroblastosis
fetalis. Pengaruh kelainan ini biasanya tidak terlihat pada anak pertama, akan tetapi
menjadi makin nyata pada anak yang dilahirkan selanjutnya.

Bila
mendapat transfusi
darah
yang
dengan janin
yang
mempunyai
rhesus ini akan
terlihat pada

Bayi
hidrops fetalis yang
hanya dapat
berat, asites, anemia
dan

mempunyai
plasenta
yang
besar,
bayi
berwarna
kuning
emas.

Eritroblastosis fetalis pada saat lahir tampak normal, tetapi beberapa jam kemudian
timbul ikterus yang makin lama makin berat (hiperbilirubinemia) yang dapat
mengakibatkan kernikterus, hepatosplenomegali dan pada pemeriksaan darah tepi
akan didapat anemia, retikulositolis, jumlah normoblas dan eritroblas lebih banyak
daripada biasa, banyak sel darah (seri granulosit) muda. Kadar bilirubin direct dan
indirect meninggi, juga terdapat bilirubin dalam urin dan tinja. (Hasan Rusepno,
Alatas Husen, 2005).

b. Inkompatibilitas ABO

Menurut statistik kira-kira 20% dari seluruh kehamilan terlihat dalam ketidakselarasan
golongan darah ABO dari 75% dari jumlah ini terdiri dari ibu golongan darah O dan
janin golongan darah A atau B. Walaupun demikian hanya pada sebagian kecil tampak
pengaruh hemolisis pada bayi baru lahir. Hal ini disebabkan oleh karena isoaglutonin
anti A dan anti-B yang terdapat dalam serum ibu. Sebagian besar berbentuk19-S,
yaitu gamaglobulin-M yang tidak dapat melalui plasenta (merupakan makroglobulin) dan disebut isoaglutinin natura. Hanya sebagian kecil dari ibu yang
mempunyai golongan darah O, mempunyai antibodi 7-S, yaitu gamaglobulin g
(Isoglutinin imun) yang tinggi dan dapat

melalui

bayi. (Hasan Rusepno,


Alatas Husen,

Pada

golongan O, rhesus (-) atau


resus yang

terhadap ibu dan bayi


yang mempunyai

Biasanya menggunakan
eritrosit

tidak ada antibodi A


dan anti B

com/2009/02/html).

Masa Gestasi

Definisi masa gestasi

Masa gestasi adalah masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran,
dihitung dari hari pertama haid terakhir (menstrual age of pregnancy) (http://PerpusAkmr.Blog.Co.Uk).

2) Jenis-jenis masa gestasi

Jenis masa gestasi menurut WHO (1979) dikelompokan menjadi tiga

yaitu:

Kehamilan cukup bulan (term / aterm) : masa gestasi 37-42 minggu ( 259

294 hari).

Kehamilan kurang bulan (preterm) : masa gestasi kurang dari 37 minggu (259 hari).

Kehamilan lewat waktu (postterm) : masa gestasi lebih dari 42 minggu (294 hari).

Berat Badan Bayi Lahir

Definisi berat badan lahir

Berat badan berasal dari kata berat dan badan, menurut kamus besar

Bahasa
besar ukurannya atau
hasil ukur,
ukur dari tubuh bayi
saat di

2) Pembagian

tahun 1961 berat badan


bayi lahir

a) Berat

gram

Berat

Berat badan > 4000 gram

e. Bayi Prematur

Bayi prematur adalah bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang
saat kelahiran disebut bayi prematur. Walaupun kecil, bayi prematur sesuai masa
kehamilan tetapi perkembangan intrauterine yang belum sempurna dapat
menimbulkan komplikasi pada saat postnatal. Bayi baru lahir mempunyai berat 2500
gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu

disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75%
dari neonates yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.

Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan bayi lahir
normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem,
membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit.

Masalah yang umum terjadi diantaranya disstres syndrome (RDS), hiperbilirubinemia,


hypoglikemia, edema paru. Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung berat
badannya, umur kehamilan, dan penyakit atau abnormalitas kesakitan dan kematian
neonates (www

Jenis persalinan

Definisi

(1997) adalah berbagai


macam
pengeluaran hasil konsepsi
(janin dan
hidup di luar kandungan
melalui
tanpa bantuan (kekuatan

sendiri) (Mochtar, 1998). Berdasarkan pengertian di atas jenis persalinan adalah


berbagai macam proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri).

2) Pengelompokan persalinan dengan tindakan

Persalinan dengan tindakan adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat


atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea. Persalinan dengan tindakan terdiri
dari :

a) Persalinan spontan

Adalah persalinan normal tanpa memerlukan tindakan dan komplikasi bagi

bayi baru lahir.

Persalinan tidak spontan

Persalinan tidak spontan adalah persalinan yang memerlukan bantuan atau tindakan
yang terdiri dari persalinan anjuran dan buatan.

Asfiksia

Definisi asfiksia

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur
setelah lahir. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat

mengakibatkan
Asfiksia juga dapat
mempengaruhi
2005).
2) Pengelompokan

Tingkat
yaitu:
a)
Asfiksia

Pada
kurang dari 100 kali

per
reflek iritabilitas tidak

ada.

b)
MildAPGAR 4 6

Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100

x/menit, tonus otot kurang baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.

Vigorous baby (asfiksia ringan) : skor APGAR 7 9

Dalam hal ini bayi dianggap sehat tetapi masih memerlukan pembersihan lendir pada
saluran pernapasan (http://trisnoners.blogspot.com/archive.html).

Bayi Sehat : skor APGAR 10

Dalam hal ini dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa
(http://trisnoners.blogspot.com/archive.html).

h. Asupan ASI

ASI merupakan gizi bayi terbaik, sumber makanan utama dan paling sempurna bagi
bayi usia 0-6 bulan. ASI eksklusif menurut WHO (World Health Organization) adalah
pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk,
ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan
bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu mencerna
makanan selain ASI. Setelah masa ini, bayi

mesti
dikenalkan
Contohnya bubur
susu,
bubur
saring,
pencernaan,
enzim
pencernaan,
siap untuk menerima
makanan lain

Sekitar 70% kebutuhan


gizi bayi

pendamping ASI. Agar bayi


memiliki
aneka bahan makanan
bergizi, maka

Standar kebutuhan gizi bayi adalah sebagai berikut :

Kalori: 100-120 per kilogram berat badan.

Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya: 8 x 100 /120 = 800/960 kkal

Protein: 1,5-2 gram per kilogram berat badan

Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya 8 x 1,5/2 = 12/16 : 4 = 3/4 gram

3) Karbohidrat: 50-60 persen dari total kebutuhan kalori sehari

Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 50%-nya = 400 : 4 = 100 gram

Lemak: 20 persen dari total kalori

Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 20%-nya = 160 : 40 = 40 gram

Terpapar sinar matahari

Sinar matahari pagi memiliki spektrum sinar biru yang bermanfaat mengurangi kadar
bilirubin dalam darah. Kegunaan sinar matahari pagi Berikutnya adalah
menghangatkan tubuh bayi sekaligus membantu mengeluarkan lendir dari
tenggorokannya. Alhasil, suara ngrok-ngrok napas bayi, terutama yang

berbakat
dijemur dalam posisi
telentang,
ditepuk-tepuk dengan
lembut.

Sinar
vitamin D dalam tubuh.
Vitamin ini
agar mudah terserap ke
dalam aliran
tulang. Paparan yang
dibutuhkan

pagi
hari. Terapi ini
dilakukan
hingga 9
selama sekitar

setengah jam dengan dilakukan variasi posisi (telentang dan tengkurap maupun

miring). Perhatikan Waktu Untuk mendapatkan manfaat yang


maksimal dan
menghindari
bayi
dari
dampak
yang
tidak
diinginkan

(www.catri.blogsome.com).

j. Penilaian Awal

Biasanya untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan menit kelima
setelah kelahirannya menggunakan sistem APGAR. Nilai APGAR akan membantu
dalam, menentukan tingkat keserisan dari depresi bayi baru lahir yang terjadi serta
langkah segera yang akan diambil. Hal yang perlu dinilai anatara lain

warna kulit bayi, frekuensi jantung reaksi terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan
pernapasan bayi, masing-masing diberi tanda 0, 1 atau 2. Sesuai dengan kondisi bayi.
(www.perfspot.com)

Klasifikasi klinik:

1. Nilai 7-10 : bayi normal

Nilai 4-6 : bayi dengan asfiksia ringan dan sedang

Nilai 1-3 : bayi dengan asfiksia berat

Tanda-tanda
0
1

2
A:Apperience

Seluruh
tubuh
(warna kulit)
Pucat-biru
Tubuh merah
merah

P: Puls

100,detak
(frekuensi jantung)

kuat
G : Grimace(reaksi

terhadap

rangsangan)

A: Activity (tonus

otot)

ekstremitas

aktif
R:Respiration

(pernapasan)

kuat

Hubungan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

1. Masa Gestasi

a. Definisi masa gestasi

Masa gestasi adalah masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran, dihitung
dari hari pertama haid terakhir (menstrual age of pregnancy) (Perpus-Akmr.Blog.Co.Uk).

b. Jenis-jenis masa gestasi

Jenis masa gestasi menurut WHO (1979) dikelompokan menjadi tiga

yaitu:

Kehamilan cukup bulan (term / aterm) : masa gestasi 37-42 minggu ( 259 294 hari).

Kehamilan kurang bulan (preterm) : masa gestasi kurang dari 37 minggu (259 hari).

Kehamilan lewat waktu (postterm) : masa gestasi lebih dari 42 minggu (294 hari).

Masa gestasi

Masa
hidup bayi. Makin
rendah masa
dilahirkan, makin tinggi
morbiditas
belum berfungsi seperti
bayi matur,
kesulitan untuk hidup di
luar uterus
kurang pertumbuhan
alat alat
terjadi komplikasi
dan makin

sebagian besar kematian

perinatal terjadi pada bayi bayi prematur. Bersangkutan dengan kurang


sempurnanya alat alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka
mudah timbul beberapa kelainan sebagai berikut :

Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia (Prawirohardjo, 2005), hal


ini dapat terjadi karena belum maturnya fungsi hepar. Kurangnya enzim glukorinil
transferase sehingga konjugasi bilirubin indirect menjadi bilirubin direct belum
sempurna dan kadar albumin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin dari
jaringan ke hepar kurang. Kadar bilirubin

normal pada bayi prematur 10 mg/dl. Hiperbilirubinemia pada bayi prematur bila tidak
segera diatasi dapat menjadi kren ikterus yang akan menimbulkan gejala sisa yang
permanen (Surasmi, 2003).

Gangguan Imunologik

Daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar Ig G gamma
globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup membentuk anti bodi dan daya tahan
fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik.

Perdarahan Intraventrikuler

Lebih
intraventrikuler. Hal ini
disebabkan
apnea, asfiksia berat
dan
mengalami hipoksia,
hipertensi,
dan dapat menimbulkan
bahaya

Berat Badan

Definisi berat

Berat badan berasal dari kata berat dan badan, menurut kamus besar Bahasa Indonesia
(1997) berat mengandung pengertian besar ukurannya atau hasil ukur, sedangkan berat
badan bayi lahir adalah hasil ukur dari tubuh bayi saat di timbang.

Pembagian berat badan lahir

Pembagian berat badan lahir menurut WHO tahun 1961 berat badan bayi lahir
dikelompokan menjadi tiga yaitu:

Berat badan bayi kurang dari atau sama dengan 2500 gram

Berat badan bayi antara 2500 - 4000 gram

Berat badan > 4000 gram

Berat badan lahir berhubungan dengan kejadian ikterus neonatorum

Berat badan lahir yang kurang dari normal dapat mengakibatkan berbagai kelainan yang
timbul dari dirinya., salah satunya bayi akan rentan terhadap infeksi yang nantinya dapat
menimbulkan ikterus neonatorum. Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi
dengan berat lahir <2500gram) mengalami ikterus pada minggu pertama hidupnya. Data
epidemiologi yang ada menunjukkan bahwa lebih dari 50% bayi baru lahir menderita
ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya
(Moslichan, 2004).

Jenis persalinan

Definisi jenis

Jenis
(1997) adalah
berbagai
macam cara
pengeluaran hasil
konsepsi
(janin dan
hidup di luar kandungan
melalui jalan
tanpa bantuan (kekuatan
sendiri)
jenis persalinan adalah

berbagai macam proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri).

Pengelompokan persalinan

Persalinan spontan

Adalah persalinan normal tanpa memerlukan tindakan dan komplikasi bagi bayi baru
lahir.

Persalinan tidak spontan

Persalinan tidak spontan terdiri dari persalinan anjuran dan buatan, persalinan tidak
spontan.

Persalinan dengan tindakan adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau
melalui dinding perut dengan operasi caesarea, forsep dan vakum ekstraksi. Persalinan
dengan tindakan terdiri dari:

Sectio Caesarea

Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas 500
gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (Prawirohardjo, 2005).

Cunam

Forseps
dengan tarikan pada
kepala
untuk membantu atau

c) Ekstraksi

Ekstarksi
yang bertujuan untuk

tenaga mengedan ibu dan

ekstraksi

c. Jenis persalinan

neonatorum

Terjadinya persalinan dengan tindakan dapat menyebabkan terjadinya asfiksia dan cidera
pada bayi, yang dapat menimbulkan infeksi dan dapat berakibat kelainan pada bayi,
salah satunya ikterus neonatorum. Hal tersebut dapat menyebabkan kematian bayi pada
jangka pendek dan keterbelakangan mental untuk jangka panjang.

Asfiksia

a. Definisi asfiksia

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur
setelah lahir. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan
otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya
(Prawirohardjo, 2005).

Pengelompokan asfiksia

Tingkat asfiksia neonatorum dibagi dalam 4 tingkatan yaitu:

Asfiksia berat : skor APGAR 0 3.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 kali per menit,
tonus otot buruk, sianosis berat dan pucat reflek iritabilitas tidak ada.

2) Mild-

Pada

lebih dari 100 x/menit,

tonus ada.

3) Vigorous

Dalam

46

masih memerlukan
pembersihan
pernapasan
(http://trisnonersblogspot.com/archive.html).

Bayi Sehat : skor APGAR 10

Dalam hal ini dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa
(http://trisnoners.blogspot.com/archive.html).

Asfiksia berhubungan dengan kejadian ikterus neonatorum

Asfiksia disebabkan adanya gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen


selama kehamilan atau persalinan, akan terjadi asfiksia. Keadaan ini akan
mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan

kematian. Kerusakan dan gangguan ini dapat reversible atau tidak tergantung dari berat dan
lamanya asfiksia. Disamping perubahan klinis juga terjadi gangguan metabolisme dan
keseimbangan asam basa pada neonatus. Pada tingkat awal menimbukan asidosis respiratorik,
bila gangguan berlanjut terjadi metabolisme anaerob yang berupa glikolisis glikogen tubuh,
sehingga glikogen tubuh pada hati berkurang dan akan mengakibatkan neonatus mengalami
ikterus. Bila kekurangan glikogen terjadi di otak, kerusakan sel otak dapat menyebabkan
kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

L. Penelitian Terkait

Dimana
baru lahir adakalanya
merupakan kejadian
penyakit tertentu dapat
terjadi pada 25%
kehamilan yang cukup),
dan presentasinya

Ikterus berarti
dalam aliran darah

yang menyebabkan pigmentasi kuning pada plasma darah yang menimbulkan perubahan
warna pada jaringan yang memperoleh banyak aliran darah tersebut. Jaringan permukaan
yang kaya elastin sklera.

Dari hasil penulusuran literatur yang dilakukan, ditemukan hasil penelitian yang terkait
dengan penelitian ini, yang dilakukan oleh Sri Agung Lestari(2009) dengan judul Hubungan
Antara Tingkat Pengetahuan Tentang Perawatan Bayi Dengan Kejadian Ikterus. Menunjukan
bahwa sebagian besar responden yang memiliki tingkat pengetahuan perawatan bayi tinggi
sekitar 73,3%, dan 70% bayi yang tidak mengalami

ikterus. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia, pendidikan, dan pekerjaan
dengan perawatan bayi ikterus.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Avysia Tri Marga Wulan (2009), yang berjudul
Hubungan antara insiden ikterus neonatorum dengan asfiksia ditemukan sekitar 50-60%
kematian janin disebabkan oleh masalah asfiksia. Sedangkan penyebab kematian tertinggi
neonatus pada minggu pertama kelahiran adalah asfiksia lahir dan prematuritas berat.
Asfiksia pada bayi baru lahir menjadi penyebab kematian 19% dari 5 juta kematian bayi baru
lahir setiap tahun. Angka kejadian Asfiksia neonatorum

sebanyak 11,72%.

Dari hasil
judul Kejadian
Hiperbilirubinemia
dimana angka
kejadian ikterus
fisiologis maupun ikterus
patologis yang
juga memegang peranan
penting dalm terjadinya

M. Kerangka Teori

Kerangka

berdasarkan kajian
berbagai aspek, baik
secara teoritis maupun empiris yang menumbuhkan gagasan dan

mendasari usulan penelitian (http//ardhana12.wordpress.com).

Ikterus neonatorum adalah menguningnya sklera, kulit, atau jaringan lain akibat
penimbunan bilirubin dalam tubuh. Keadaan ini merupakan tanda penting penyakit hati atau
kelainan fungsi hati, saluran empedu dan penyakit darah. Bila kadar bilirubin darah melebihi
2 mg %, maka ikterus akan terlihat. Namun pada neonatus ikterus masih belum terlihat
meskipun kadar bilirubin darah sudah melampaui 5 mg %. Ikterus terjadi karena peninggian
kadar bilirubin indirect (unconjugated) dan kadar

bilirubin direct (conjugated). Bilirubin indirect akan mudah melewati darah otak apabila
bayi terdapat keadaan berat badan lahir rendah, hipoksia dan hipoglikemia (Markum H,
2005).

Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Ikterus, terdiri dari: tingkat
pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau kepandaian yang dimiliki oleh
seseorang yang diperoleh dari pengalaman latihan atau melalui proses belajar. Proses
belajar seseorang tidak hanya dituntut memiliki kemampuan membaca, menulis dan
berhitung. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan memecahkan masalah, mengambil
keputusan, kemampuan beradaptasi, kreatif dan inovatif,

kemampuan tersebut
belajar yang lebih
baik.(Noto Admojo,

Dengan
kognitif paru ibu
terhadap terjadinya
baru lahir, dianjurkan
semakin banyak pula
ASI sedini mungkin.
Usia adalah
yang masih muda belum
optimal, juga
Depkes usia yang
baik untuk hamil
dari ibu yang berusia

muda mempunyai angka kematian yang lebih tinggi, kejadian prematuritas dan BBLR
yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi-bayi dari ibu yang lebih tua, hal ini dapat
juga menyebabkan terjadinya ikterus(Hartono, 2001). Tingkat pendidikan dari penelitian
(Sri Agung, 2009) Menunjukan bahwa sebagian besar responden yang memiliki tingkat
pengetahuan perawatan bayi tinggi sekitar 73,3%, dan 70% bayi yang tidak mengalami
ikterus. Ibu yang berpendidikan rendah sulit untuk menerima motivasi. Ibu yang
berpendidikan rendah biasanya kurang menyadari pentingnya perawatan pra kelahiran,
punya keterbatasan dalam memperoleh pelayanan antenatal yang

adekuat, keterbatasan mengkonsumsi makanan yang bergizi selama hamil yang pada
akhirnya akan mempengaruhi kondisi ibu dan janin yang dikandungnya.

Riwayat Kesehatan Ibu Pada Saat Hamil Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah
pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil.
Sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan
kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998). Kunjungan Antenatal
Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan tahu dokter sedini mungkin semenjak
ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap
kunjungan antenatal (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data

mengenai kondisi
untuk mendapatkan
diagnosis kehamilan
komplikasi (Saifuduin,
2002).

Inkompatibilitas
ibu mempunyai rhesus
negatif dan janin
peredaran darah ibu, maka
ibu akan dirangsang
antibodi terhadap Rh. Zat
antibodi Rh ini
peredaran darah janin dan
selanjutnya menyebabkan
(hemolisis). Hemolisis ini

terjadi dalam kandungan dan akibatnya ialah pembentukan sel darah merah dilakukan
oleh tubuh bayi secara berlebihan, sehingga akan didapatkan sel darah merah berarti
yang banyak. Oleh karena itu pula keadaan ini disebut erotroblastosis fetalis.
Eritroblastosis fetalis pada saat lahir tampak normal, tetapi beberapa jam kemudian
timbul ikterus yang makin lama makin berat (hiperbilirubinemia) yang dapat
mengakibatkan kernikterus, hepatosplenomegali dan pada pemeriksaan darah tepi akan
didapat anemia, retikulositolis, jumlah normoblas dan eritroblas lebih banyak daripada
biasa, banyak sel darah (seri granulosit) muda. Kadar bilirubin direct dan indirect

meninggi, juga terdapat bilirubin dalam urin dan tinja. (Hasan Rusepno, Alatas Husen,
2005).

Inkompatibilitas ABO menurut statistik kira-kira 20% dari seluruh kehamilan terlihat
dalam ketidakselarasan golongan darah ABO dari 75% dari jumlah ini terdiri dari ibu
golongan darah O dan janin golongan darah A atau B. Walaupun demikian hanya pada
sebagian kecil tampak pengaruh hemolisis pada bayi baru lahir. Hal ini disebabkan

oleh karena isoaglutonin anti A dan anti-B yang terdapat dalam serum ibu.
(http://bidan2009.blogspot. com/2009/02/html). Masa Gestasi adalah masa sejak

terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran, dihitung dari hari pertama haid

terakhir (menstrual
Co.Uk).

Jenis-jenis
(1979) dikelompokan
menjadi tiga yaitu:
gestasi 37-42 minggu (
259 294 hari),
kurang dari 37 minggu
(259 hari), Kehamilan
dari 42 minggu (294
hari).

Berat Badan
kata berat dan badan,
menurut kamus

pengertian besar

ukurannya atau hasil ukur, sedangkan berat badan bayi lahir adalah Hasil ukur dari tubuh
bayi saat di timbang. Pembagian berat badan lahir menurut WHO tahun 1961 berat
badan bayi lahir dikelompokan menjadi tiga yaitu: Berat badan bayi kurang dari atau
sama dengan 2500 gram, berat badan bayi antara 2500 - 4000 gram, berat badan >
4000 gram. Bayi Prematur adalah bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu
atau kurang saat kelahiran disebut bayi prematur. Walaupun kecil, bayi prematur sesuai
masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterine yang belum sempurna dapat
menimbulkan komplikasi pada saat postnatal. Bayi baru lahir mempunyai berat 2500

gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil
masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonates yang
mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur. Prematuritas menimbulkan
imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk
melakukan koping terhadap masalah penyakit. Masalah yang umum terjadi diantaranya
disstres syndrome (RDS), hiperbilirubinemia, hypoglikemia, edema paru. (www.
Perfspot.com).

Jenis persalinan Jenis menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1997) adalah berbagai
macam cara. Sedangkan persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi

(janin dan uri) yang


kandungan melalui jalan
lahir atau jalan lain
sendiri) (Mochtar,
1998). Berdasarkan
berbagai macam proses
pengeluaran hasil
persalinan dengan tindakan
terdiri dari: persalinan
memerlukan tindakan dan
komplikasi bagi
adalah persalinan yang
memerlukan bantuan
anjuran dan buatan.
Asfiksia
secara spontan dan

teratur setelah lahir. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan
kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital
lainnya (Prawirohardjo, 2005).

Faktor yang berhubungan

Usia ibu

Tingkat pendidikan

Tingkat Pengetahuan ibu tentang perawatan


bayi ikterus
IKTERUS

Riwayat kesehatan ibu

Masa gestasi

Jenis persalinan

Inkomtabilitas Rhesus

Inkomtabilitas ABO

Berat badan lahir

Asfiksia

Prematur

APGAR Score

Asupan ASI

Terpapar sinar matahari

Gambar 1. Kerangka Teori