You are on page 1of 2

SPO

NEBULIZER DAN FISIOTERAPI DADA


PADA PASIEN PEDIATRIC
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG

Prosedur Tetap

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2.17 / 2 / 08

00

1/2

Tanggal Terbit

Ditetapkan tgl
Direktur

dr.

Pengertian

Anafilaksis adalah reaksi alergi berat dengan onset yang cepat dan
dapat menyebabkan kematian.
Penyebab reaksi anafilaksis :
1. Obat (antibiotik, bahan anestetikum)
2. Makanan (kacang tanah, ikan, kerang, susu, telur, dll)
3. Bahan biologis (insulin, ekstrak allergen, antiserum, produk
darah, enzim)
4. Gigitan serangga
Manifestasi klinis dan diagnosis
Anafilaksis harus dicurigai bila terdapat 1 dari 3 kriteria dibawah
ini :1. Onset akut (dalam menit sampai beberapa jam)dengan
keterlibatan kulit, mukosa , atau keduanya, ( misalnya urticaria
generalisata / kemerahan seluruh badan, edema
bibir/lidah/uvula ) dan disertai salah satu kriteria ini :
a. Gejala saluran napas (sesak, mengi, stridor, stridor)
b. Tekanan darah turun atau gejala yang berhubungan
(hipotoni, sinkop)
2. Dua atau lebih dari gejala dibawah ini yang timbul cepat ( menit
beberapa jam) setelah pajanan zat yang diduga allergen :
a. Keterlibatan kulit atau mukosa
b. Gejala saluran napas
c. Tekanan darah turun / gejala yang berhubungan
d. Gejala gastrointestinal persisten (nyeri abdomen, muntah)
3. Tekanan darah turun setelah pajanan terhadap allergen yang
sudah diketahui sebelumnya.

Tujuan

1. Mengenal tanda2 anafilaksis


2. Menghindari kematian akibat reaksi alergi

Kebijakan

1. Semua alat dan bahan untuk mengatasi anafilaksis tersedia


di UGD
2. Epinephrin selalu tersedia pada saat memberikan
penyuntikan obat pada pasien rawat jalan maupun rawat
inap.
3. Bila ada reaksi anafilaksis, setelah pemberian adrenalin
ditempat, pasien segera dipindahkan ke UGD, untuk
mendapat tatalaksana anafilaksis yang diperlukan.

Prosedur

Persiapan alat
1. Oksigen, nasal kanul, sungkup oksigen
2. Abocath, cairan infus Ringer Lactat, infus set
3. Obat2an : adrenalin, difenhidramin, metil prednisolon atau
hidrokortison, inhalasi 2agonis
4. Alat2 resusitasi : ambubag, laringoskop, pipa endotrakeal

SPO
NEBULIZER DAN FISIOTERAPI DADA
PADA PASIEN PEDIATRIC
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2.17 / 2 / 08

00

2/2

Tatalaksana
1. Perawatan umum
Bila mungkin hentikan pajanan antigen.
Lakukan penilaian terhadap jalan napas (harus dijamin
terbuka) , pernapasan, sirkulasi (nadi dan tensi dipantau)
Pasien dibaringkan dengan tungkai ditinggikan.
Oksigen diberikan dengan sungkup / kanul hidung dan
pantau kadar oksigen
2. Epinephrin
Epinephrin 1:1000, dosis 0,01 ml/kg maksimal 0,3 ml
perkali, intramuskular di mid-anterolateral paha. Dapat
diulangi jarak 5-15 menit dengan dosis sama . sampai 2-3 X
3. Cairan
Hipotensi persisten perlu diatasi dengan perbaikan cairan
intravascular dengan infus kristaloid (Ringer Lactat,) 20-30
ml/kg dalam 1 jam pertama. Dapat diulang kembali ,
maksimal 60 ml/kg.
4. Antihistamin
Difenhidramin 1-2 mg/kg maksimal 50 mg intramuscular /
intravena. Bila intravena harus diberikan via infus selama 510 menit untuk menghindari hipotensi.
5. Bronkodilator
Inhalasi 2agonis untuk mengatasi bronkokonstriksi
6. Kortikosteroid
Bila diberikan segera setelah kegawatan teratasi dapat
mencegah anafilaksis bifasik. Metilprednisolon dosis 1-2
mg/kg diberikan secara intravena , tiap 4-6 jam
7. Vasopressor
Bila hipotensi berlanjut perlu diberikan dopamine atau
epinephrin. Pada syok yang lama , bisa diberkan adrenalin
1 : 10000 intravena perlahan ( mulai 0,1 mg/kg/menit smpai
1 mg/kg/menit). Pertimbangkan merujuk
8. Observasi
Pasien yang anafilaksisnya sudah teratasi harus dipantau
untuk mengawasi kemungkinan anafilaksis bifasik
Unit Terkait
Referensi

UGD, Poliklinik, Ruang rawat inap


Departemen IKA, FKUI. Pedoman Pelayanan Medis . 2015