You are on page 1of 47

Analisis Situasi

Dalam analisis situasi, kita berurusan dengan informasi yang


mencerminkan masalah-masalah yang adalah di lapangan.
Masalah yang kerap terjadi di sini adalah orang terbiasa dengan
informasi rutin untuk pelaporan. Mereka biasa memahami maksud
dari data selain berkaitan dengan target kegiatan. Data terbiasa
dipakai untuk mengukur hasil. Padahal data bisa digunakan untuk
memahami lebih jauh tentang apa yang tidak beres dengan
program. Data tentang proses dalam program itu tidak tersedia
sehingga seorang menjadi tumpul. Mahasiswa memasukkan
informasi yang mereka miliki ke dalam tabel. Jika tidak ada data,
mahasiswa diminta memasukkan indikator yang biasa mencerminkan kegiatan atau hasil dari elemen program kesehatan.
Yang penting adalah mahasiswa bisa memilah-milah mana yang
harus ia masukkan ke dalam kolom status kesehatan, pelayanan
kesehatan, dan masyarakat.
Fasilitator menelaah semua data yang tersedia untuk menilai
kegunaannya dalam menganalisis dan menguraikan masalah
kesehatan, termasuk menyangkut kelengkapan dan relevansinya.
Ia harus menjelaskan cara membuat analisis situasi dan indikatorindikator yang dapat digunakan, dan meminta peserta mendiskusikan data tambahan baik secara kualitatif dan kuantitatif
untuk menyempurnakan penetapan masalah.
Tabel ini harus bisa memberikan informasi tentang dalam hal apa
suatu daerah bermasalah. Ia membantu kita mengidentifikasi
masalah-masalah dan me-netapkan agenda. Ia juga membantu
kita memahami mana sektor kesehatan dan mana yang bukan.
Ada banyak cara menampilkan informasi dalam tabel analisis
situasi. Yang dicontohkan dan dianjurkan modul ini adalah yang
bersifat prediktif.
Tabel di bawah ini adalah contohnya. Di situ terlihat jelas, untuk
masing-masing kondisi, dicantumkan indikator untuk tahun pada
saat program dibuat dan keadaan yang ingin dicapat pada
beberapa tahun berikutnya. Tidak ada kepastian berapa tahun
yang akan kita gunakan untuk membuat target dari kegiatan kita.

Ini sama sekali tergantung pada siklus perencanaan. Jika kita


bekerja untuk bupati yang berganti tiap 5 tahun, maka barangkali
lebih tepat kita mencantumkan jangka harapan 5 tahun. Tetapi
dapat pula terjadi dikaitkan dengan masa kerja kepala dinas atau
apa saja yang membuat kita ingin mengerjakan sesuatu karena
ingin mencapai keadaan tertentu dalam waktu tertentu.
Contoh Tabel yang Membedakan Indikator Dua Daerah

Kita bisa menggunakan beberapa pola lain yang mungkin lebih


cocok dengan kondisi otonomi daerah. Beberapa tabel berikut ini
merupakan contoh. Satu tabel menekankan betapa penting arti
sebuah indikator agar ia menjadi agenda dalam perencanaan.
Bukan men-cantumkan tahun akan datang, tabel ini
membandingkan keadaan saat ini dengan keadaan di masa
lampau. Jika keadaan di masa sekarang menjadi lebih buruk
dibanding yang lalu, maka keadaan itu pantas dicatat sebagai
masalah yang penting.
Pengisian Kolom Tabel
Hubungan antar kolum dari tabel analisis situasi dapat dilihat
seperti gambar di bawah ini. Untuk mudahnya kita bisa
menuliskan status kesehatan dengan apa saja yang dianggap
outcome yang dianggap masalah kesehatan pribadi. Apakah
outcome ini berkaitan langsung dengan sistem kesehatan atau
tidak, untuk sementara tidak usah dihiraukan. Gunakan akal
sehat ketika menuliskan sesuatu itu sebagai masalah kesehatan.
Sebagai contoh, gizi buruk bisa kerap dimasukkan sebagai status
kesehatan. Meskipun memang ada yang bisa dikerjakan oleh
petugas kesehatan berkenaan dengan gizi buruk, tetapi itu bisa
lebih tepat sebagai kelompok penyulit. Ia penyulit karena gizi
buruk mencerminkan masalah-masalah distribusi makanan dan

kemampuan keluarga mensuplai makanan yang memadai kepada


anak. Itu sudah menjadi urusan kementerian sosial dan
kementerian pangan.
Sedangkan sistem pelayanan, berisi apa saja yang menjadi
pekerjaan dinas kesehatan dan perangkatnya di daerah, termasuk
rumahsakit dan puskesmas. Tidak usah terlalu khawatir dengan
penggunaan istilah pelayanan kesehatan. Kolom di tengah itu bisa
juga berisi sistem pemeliharaan kesehatan. Dalam sistem
pelayanan ini, kita bisa memasukkan SDM kesehatan (input)
strategi pelayanan (proses) dan bentuk-bentuk pelayanan yang
sampai di masyarakat (output). Alasan kita menggunakan
pelayanan kesehatan" sebagai judul adalah karena banyak hal
yang sesungguhnya berpengaruh terhadap proses penyembuhan
kesehatan yang masuk dalam katagori sistem sosial ekonomi.
Contoh Pengisian Tabel
Perhatikan, setelah kolom indikator terdapat dua kolom tahun.
Kolom ini untuk mempelajari seperti apa keinginan di masa
mendatang akan kita capai. Jadi yang membuat mereka bergairah
mengatasi masalah adalah target yang ingin dicapai. Tetapi jika
yang menjadi alasan mereka berbuat adalah besarnya masalah,
dua kolom ini bisa dibuat untuk menggambarkan masalah. Ia bisa
dibuat untuk memperlihatkan perbedaan keadaan di kabupaten
dan di propinsi. Contoh di atas menjelaskan jurang antara kondidi
si Melaboh dan Rata-rata di Propinsi Aceh. Pilihan ini tergantung
apakah kita tergerak dengan melibat posisi daerah kita
dibandingkan keadaan level propinsi.Tetapi masalah yang penting
bisa ditekankan dari besar penurunan atau kenaikan pada kurun
waktu tertentu. Dengan membandingkan isi kolom indikator, kita
bisa menekankan hal mana yang menjadi tekanan dalam analisis
situasi itu. Tabel itu bisa juga berisi indikator suatu masalah
berdasarkan kecamatan. Ini terutama dibuat untuk menempatkan
kecamatan mana yang harus menjadi perhatian bidang
kesehatan.
Indikator

Indikator yang umum adalah angka insidensi, prevalensi, ratio,


dan rate yang biasanya diukur per 1000 hingga 100000
penduduk. Angka-angka kejadian penyakit dan kematian per
jumlah penduduk itu pada masa lalu berguna untuk
memperkirakan kejadian di tingkat nasional atau provinsial.
Kadang-kadang angka-angka dari bawah dibuat agar terdapat
angka nasional. Analisis biasanya dibuat pada level internasional.
Bagi pemerintah pusat, angka-angka itu menjadi dasar
pengembangan peren-canaan dan pem-biayaan program
penyakit.
Dalam konteks desentralisasi saat ini, angka-angka tentu saja
bisa dijadikan pegangan bagi bupati untuk mengeluarkan dana
untuk program kesehatan. Tetapi perlu diingat bahwa angkaangka itu perlu dibuat pada level yang mempunyai arti bagi
satuan politik di masyarakat. Jika kita memahami angka-angka itu
berdasarkan kabupaten atau kota saja, maka kita tidak bisa
memontret di mana sebenarnya masalah itu terjadi. Jika kita bisa
membuat angka-angka itu per kecamatan, maka hal itu akan
lebih berarti bagi kepentingan pencegahan pada tingkat
kecamatan. Lagi pula, bila camat tertentu memahami bahwa
angka suatu penyakit atau kondisi tertentu buruk di daerahnya,
itu akan membawa dampak pada tanggung jawab politik mereka
sebagai pejabat tertinggi di kecamatan itu.
Diagram: Indikator Kecamatan vs Desa

Versi Umum
Angka kematian ibu kabupaten.
Insidensi malaria kabupaten.
Versi Khusus
Jumlah desa yang masih memiliki kematian karena proses
persalinan.
Jumlah kecamatan yang masih memiliki kema-tian karena
proses persalinan.
Persentase sekolah yang bebas tuberkulois
Haruskah kita menggunakan angka-angka kepen-dudukan? Dalam
praktik, tidak semua angka-angka mudah dipahami pembuat
keputusan di kabupaten. Kadang-kadang bahkan angka-angka itu
menjadi tidak berarti karena dianggap sudah biasa. Bahkan
kadang angka-angka itu mudah salah dibuat karena penduduk
yang menjadi dasar pembagi angka itu tidak jelas besar dan spesifikasinya. Sebagai respon terhadap keadaan seperti itu, tidak

salah jika kita mencantumkan angka absolut. Kematian ibu 3


orang per tahun sesungguhnya sudah cukup mengatakan ada
masalah serius di suatu kecamatan atau kabupaten. Demikian
pula, satu kematian karena DHF pun sudah cukup menunjukkan
masalah lingkungan yang berisiko tinggi bagi penularan lebih
banyak. Jadi angka-angka absolut kerap kali lebih berarti apa lagi
kejadian itu menjadi perhatian masyarakat di suatu kecamatan
atau kabupaten.
Keuntungan indikator kecamatan atau kelurahan? Indikator bisa
dikaitkan dengan kepentingan stakeholder. Tidak semua
kecamatan dan desa memiliki masalah kematian. Jika kecamatan
atau desa yang memiliki kematian ditemukan, maka pemecahan
masalah akan berbeda jika tidak diketahui.
Desa dengan Kematian Ibu
Anggaplah semua bundaran itu adalah desa. Jika kita tidak
mengetahui desa mana yang memiliki kematian, maka sumber
digunakan untuk semua desa, biasanya berupa pembagian rata
untuk semua desa. Tetapi jika 3 desa diketahui memiliki kematian
ibu, maka sumber-sumber akan digunakan untuk 3 desa tersebut
dan masalah yang berkaitan dengan kematian dapat diatasi.
Penyebutan 3 desa yang bermasalah itu memberikan efek politik
yang membuat kepala desa sadar masalah itu berada di wilayah
mereka. Mereka akan lebih besar bergerak mengatasi masalah
dibandingkan jika mereka tidak mengetahui masalah itu berada di
tempat mereka. Karena ada masalah di tiga desa itu, camat bisa
memanggil lurah-lurah yang bersangkutan dan meminta
keterlibatan mereka dalam pengatasan masalah itu. Keterlibatan
lurah dan camat dalam pengatasan kematian di masa mendatang
akan jauh berbeda jika masalah itu hanya menjadi perhatian pada
dinas kabupaten yang mengundang puskesmas yang
bertanggung jawab atas wilayah kematian.
Jika Tidak Ada Informasi?
Informasi akurat mungkin tidak tersedia. Tetapi selalu ada
informasi lain yang mendekati dan berfungsi sebagai pengganti.
Ini dapat berupa: (1) kondisi sebagi akibat dari item informasi

yang ingin diungkapkan, (2) kondisi pendahulu dari item itu, atau
(3) informasi kualitatif yang terkait dengan unit analisis. Jika tidak
memiliki informasi tentang jumlah penduduk dan yang
mengalami kematian atau penyakit, maka kita bisa menggunakan
informasi tingkat di atasnya. Kita sudah biasa memiliki
rumahtangga sebagai unit analisis. sebagai contoh, persentase
keluarga yang memiliki air bersih. Tetapi kita juga bisa membuat
indikator, persentase desa yang memiliki keluarga dengan air
bersih 75%. Asumsi indikator itu, jika suatu desa memiliki
keluarga dengan air bersih 75% maka itu dianggap sesuai dengan
target yang dicanangkan oleh pemerintah.
Konsep Pendukung> Analisis Situasi
Analisis Masalah
Fasilitator membahas masalah dan menjelaskan cara membuat
diagram masalah. Ia juga meminta peserta menuliskan masalah
yang akan diatasi dalam kartu indeks, dan menempelkan kartu
indeks tersebut di tengah papan tulis atau flipchart. Memberi
instruksi kepada peserta untuk menulis-kan variabel-variabel
tidak langsung yang dianggap dapat menyebabkan masalah tadi
pada kartu indeks. Variabel tidak langsung merupakan variabel
proses yang nantinya akan diintervensi. Variabel tidak langsung
terdiri atas variabel medis seperti komplikasi, ketrampilan,
ketersediaan obat, dan variabel nonmedis seperti pengetahuan,
sikap, perilaku masayarakat, pendidikan, atau geografi. Ambil
contoh tentang kematian balita karena diare. Tugas fasilitator
adalah menekankan bahwa kematian balita bukan karena balita
tersebut sakit diare atau karena campak, melainkan karena
rujukan yang terlambat atau pemberian oralit yang tidak tepat.
Sehingga intervensi yang akan dilakukan adalah mengatasi
rujukan atau pemberian atau pun penyediaan oralit, dan bukan
terhadap diare atau campak.
Kemudian fasilitator memberikan instruksi untuk menentukan lagi
variabel yang menyebabkan keadaan pada nomor 3 dan
menempelkan pada papan tulis. Proses ini dilakukan secara terus

menerus, sehingga diperoleh suatu diagram yang


memperlihatkan berbagai variabel yang mempengaruhi
terjadinya masalah yang di-tugaskan. Cara lain untuk
mendapatkan variabel-variabel tersebut adalah dengan
menggunakan hasil Audit Maternal Perinatal yang dilaporkan di
kabupaten. Akan tetapi perlu diingat bahwa APM tidak selalu
menggambarkan kemungkinan penyebab maternal dan perinatal
yang ada. Sedangkan diagram seharusnya menggambarkan
kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas. Fasilitator memberi
instruksi kepada peserta untuk membahas lagi diagram tersebut,
dan perhatikan apakah hubungan antar variabel ini memperlihatkan hubungan yang logis. Hubungan logis dapat
dibuktikan dengan selalu me-nanyakan "mengapa variabel ini
terjadi"
Masalah dan Diagram Masalah
Point penting:
Tekanan pada membuat sistem dari kelemahan-kelemahan
dalam sistem
Sasaran tembak dari program
Belajar tentang operasionalitas dari kondisi yang menjadi
sasaran tembah.
Memahami sistem kesehatan dalam bentuk yang
operasional.
Melatih logika dalam mengkaitkan satu kondisi dengan yang
lain.
Penting menekankan perbedaan diagram ini dengan pohon
masalah.
Apa Masalah? Masalah dapat dirumuskan sebagai sesuatu yang
menjadi perhatian dengan alasan tertentu. Biasanya kondisi yang
menjadi perhatian itu berupa kenyataan yang tidak diharapkan,
yang dianggap membawa kerugian atau gangguan pada

seseorang atau sekelompok orang. Jika ditanya tentang masalah,


kita akan ber-hubungan dengan jawaban tentang siapa yang
mengalami kerugian, bentuk dan besar kerugiannya, serta besar
jurang antara kenyataan dan harapan.
Masalah Konseptual. Dua contoh berikut ini kerap dijumpai dalam
diagram: keterlambatan rujukan atau kekurangan tenaga
kesehatan. Kedua contoh itu bersifat abstrak, tidak dalam bentuk
sesuatu yang terukur tetapi menjadi gagasan dalam pemikiran.
Masalah konseptual diperlukan sebagai alat untuk membahas halhal yang bersifat umum, tetapi selalu membutuhkan operasionalisasi. Masalah konseptual tidak bisa menjadi sasaran
tembak dalam pemecahan masalah. Kita mudah me-mecahkan
masalah dengan menjawab: percepat rujukan atau cukupi tenaga
kesehatan. Kita tidak bisa segera mengetahui apa yang harus
dilakukan. Masih banyak alternatif dalam mempercepat rujukan.
Demikian pula, mencukupi tenaga kesehatan bisa dengan
berbagai cara.
Masalah Operasional. Jika suatu itu operasional, maka ia berkaitan
dengan sesuatu yang bisa diamati dan konkrit. Ia menjadi sesuatu
yang dapat diukur dengan cara atau alat. Lebih bagus lagi jika
cara itu bisa dipakai oleh masyarakat luas. Operasional biasa
berkaitan dengan data yang memungkinkan kita menyimpulkan
sesuatu. Sebagai contoh, daftar kunjungan pasien di puskesmas
me-mungkinkan kita mengukur jumlah kunjungan per hari atau
per unit kerja. Buku catatan pasien puskesmas lebih jauh
memungkinkan kita melakukan observasi ciri-ciri status sosial dan
ekonomi pasien yang berkunjung di puskesmas. Disamping yang
bersifat kuantitatif seperti di muka ini, masalah operasional dapat
bersifat kualitatif. Ia semata-mata dapat berupa bidan tinggal
jauh dari desa tempat ia bekerja. Desa yang jauh dari puskesmas
itu tidak memiliki kader yang aktif . Transportasi umum tidak
melewati jalur puskesmas atau rumahsakit.
Apa manfaat membuat diagram masalah? Diagram masalah
berlaku sebagai sebuah peta yang terdiri dari sasaran-sasaran
tembak yang jika hal itu dipecahkan akan membawa pengaruh
pada masalah utama kita. Jika kita memahami masalah, kita akan
mengetahui kondisi-kondisi yang menjadi asal-muasal dan rute

hubungan dari yang paling jauh hingga paling dekat dengan


masalah. Ada beberapa strategi menggunakan diagram masalah
sebagai peta. Kita bisa mempelajari kondisi-kondisi mana yang
menjadi sasaran tembak sektor kesehatan dan non-sektor
kesehatan. Dalam sektor kesehatan sendiri kita bisa memahami
kondisi-kondisi mana yang terkait dengan dinas kesehatan,
rumahsakit, atau puskesmas. Kita kerap membuat sasaran
tembak terlalu jauh dari bidang kesehatan sendiri, padahal
pembuat program itu bekerja di dinas kesehatan. Pembuatan
diagram ini akan mempertajam apakah kelemahan-kelemahan
dalam manajemen dinas kesehatan kita jadikan sebagai sasaran
tembak dan tindakan yang dicari solusinya.
Jika diagram masalah itu dibuat bagus maka ia berciri-ciri:
Tekanan pada membuat sistem dari kelemahan-kelemahan
dalam sistem
Sasaran tembak dari program
Belajar tentang operasionalitas dari kondisi yang menjadi
sasaran tembah.
Memahami sistem kesehatan dalam bentuk yang
operasional.
Melatih logika dalam mengkaitkan satu kondisi dengan yang
lain.
Penting menekankan perbedaan diagram ini dengan pohon
masalah.
Diagram Masalah sebagai Peta
Peta yang dibuat dapat dikerangka dalam satu sektor atau pun
multiple sektor. Itu tergantung pada siapa yang turut
menyusunnya. Jika penyusun adalah konseptor dan tidak
mengetahui kondisi lapangan dan program, maka diagram itu
bisa bersifat impian. Ketika penyusunnya adalah pihak-pihak di
rumahsakit, mereka dapat memusatkan diri pada identifikasi

kelemahan di rumahsakit. Petugas puskesmas pun demikian.


Mereka bisa mencari kelemahan-kelemahan yang ada pada
puskesmas. Hasil yang bagus dapat dilakukan jika pelaksana dan
perencana program terlibat dalam pembuatan DTPS.
Diagram bisa dibuat luas maupun sempit. Banyak variabel bisa
mencerminkan kepedulian banyak pihak dalam isu kesehatan dan
bisa menggambarkan keterkaitan antara stakeholder di daerah
maupun nasional. Jika ringkas, ia bisa menjadi pegangan bagi
seorang perencana atau pengelola program tertentu. Pengalaman
mengajarkan bahwa peserta kadang pergi jauh ke isu-isu bukankesehatan, seperti mengangkat persoalan jarak dan transportasi.
Sudah barang tentu hal seperti itu harus masuk bidang
kimpraswil dan karena itu harus di-sosialisasikan terlebih dulu
kepada bidang itu baru kemudian memasukkan dalam
perencanaan .
Jika kita mempelajari sistem kesehatan secara normatif, maka
kita akan biasa berurusan dengan hal-hal yang sepatutnya ada
dalam sistem. Jika tidak demikian, kita kerap melihat ciri-ciri yang
lebih baik dari negara lain dan membandingkan dengan kondisi di
negeri kita. Hal itu sudah barang tentu suatu cara yang membuat
kita belajar tentang kita. Kebalikan dari penyusunan komponen
sistem yang ideal, diagram masalah sesungguhnya dapat dipakai
untuk mempelajari sistem kesehatan dilihat dari kelemahankelemahan. Dengan cara itu kita belajar untuk memecahkan
masalah dan belajar dari apa yang melatarbelakangi persoalan di
kita.
Apa yang harus diisi dalam diagram masalah? Isilah kotak dengan
sesuatu yang betul-betul menjadi masalah. Jika suatu keadaan
telah berfungsi, maka masalah tidak layak dimasukkan dalam
diagram. Jadi isi diagram itu harus konkrit. Hati-hati menuliskan
sesuatu yang terlalu konseptual. Bagaimana kita mengetahui
bahwa sesuatu itu konseptual ditentukan dengan bertanya
tentang dapatkah kita menjadikan ia sebagai target tembakan.
Peserta bisa mengisi kotak-kotak dalam diagram dengan apa
yang menjadi pengetahuan sebelumnya dapat dimasukkan ke
dalam kotak masalah. Kegiatan ini tergantung pada bagaimana
kita akhirnya mampu menelorkan aksi yang relevan dengan

perbaikan status kesehatan. Apa yang mudah bagi peserta dalam


memahami persoalan di lapangan harus didulukan. Kita cuma
perlu menyusun strategi yang berbeda jika masalah dalam
diagram berbeda-beda.
Tidak semua masalah yang kita masukkan dalam kotak perlu
didukung data kuantitatif. Kita bisa berorientasi pada penyakit
yang tersering. Tetapi kita harus menyadari tentang keterbatasan
dari informasi penyakit yang tersedia di puskesmas. Sebagai
contoh, kasus narkoba dan HIV mungkin tidak terekam di
puskesmas karena kelompok penderita ini tidak berkunjung ke
sana. Karena itu, masalah yang diangkat sebagai agenda tidak
harus berkaitan dengan penyakit, tetapi dapat berupa gap antara
puskesmas dan masyarakat. Gap kebutuhan yang terjadi pada
sekelompok orang sakit di masyarakat tetapi pelayanan tidak ada
atau apa saja yang menurut anda yang bisa anda kerjakan tetapi
orang tidak mau melaksanakan atau apa yang menjadi kebutuhan
orang tetapi anda tidak bisa laksanakan. Apa saja yang menjadi
potensi dikaitkan dengan pelayanan yang bisa kita berikan. Jadi,
kita dapat menulis suatu masalah karena ada bukti laporan
tentang kejadiannya. Tetapi kita pun bisa mengangkat suatu
masalah meskipun ber-dasarkan satu kejadian yang tidak
didukung dengan data lengkap. Dari keadaan terakhir ini, kita
bisa memunculkan masalah yang selama ini tidak terlaporkan
dalam sistem informasi yang ada. Ia tetap bisa menjadi agenda
yang penting bagi perencanaan.
Tabel Penerapan Tiga Komponen Analisis Situasi pada
Sistem Kesehatan

Tabel Penerapan Tiga Komponen Analisis Sistem pada


Kajian Kesehatan

Dulu kita mencari faktor risiko yang lebih banyak pada level
individu (ciri-ciri orang) atau kondisi-kondisi sosial dan lingkungan
yang lebih proksimal. Sekarang kita mencari kondisi-kondisi (ciri
masyarakat) yang terkait dalam proses pembentukan penyakit,
yang lebih distal. Dari beberapa faktor risiko yang teridentifikasi,
mahasiswa harus mencari satu yang dianggap masuk akal
ditindaklanjuti dalam POA. Untuk itu, dari faktor risiko yang dipilih
itu, mahasiswa mencari bentuk-bentuk kebijakan, program, atau
strategi yang selama ini pernah dilakukan baik di daerah itu, di
daerah lain, maupun di negara lain (literatur riview). Bentukbentuk aksi ini dibahas sebagai opsi-opsi yang terbuka untuk
dilaksana-kan di masyarakat. Namun demikian, opsi-opsi ini harus
dianalisis kesesuaiannya dengan kondisi lokal puskesmas. Atas
dasar pertimbangan sumber yang ada di puskesmas dan
masyarakat, mahasiswa mengusulkan satu opsi untuk dijadikan
POA. Yang penting di sini adalah mahasiswa selalu mendokumentasi fakta yang dapat ia gunakan sebagai bukti agar aksi
yang diusulkan itu masuk akal untuk kondisi lokal.
Masalah dalam Sistem Kesehatan
Petugas kesehatan kerap membuat diagram masalah dengan cara
menyalahkan pihak lain. Yang paling sering adalah kita
menyalahkan masyarakat lambat merujuk atau pengetahuan
masyarakat masih rendah. Atau, peserta kerap mengisi kotak
masalah dengan diagnosis seperti atonia uteri. Sudah barang
tentu hal itu tidak salah karena salah satu penyebab kematian
jika dilihat dari diagnosis kedokteran adalah atonia uteri. Pada
tahap itu biarkan peserta menye-lesaikan diagram kecuali ia
menyadari kemudian. Pada waktu presentasi kelompok, peserta
bisa belajar. Meski demikian, kita membuat diagram untuk

mempelajari apa-apa yang tidak beres dengan sistem kesehatan


yang membuat pasien mati. Atonia uteri bisa terkait dengan apa
yang bisa kita lakukan terhadap hal itu atau hal-hal yang tidak
dilakukan dalam pelayanan sebelumnya sehingga kejadian
atononia uteri tidak diantisipasi. Karena itu, yang sebaiknya kita
tulis dalam kotak masalah adalah kondisi-kondisi dari pelayanan
kesehatan yang berhubungan dengan ketidakmampuan kita
mengatasi atonia uteri. Ini bisa mencakup apakah di sana
terdapat public heath nurse, ante natal care, atau buku
perawatan kehamilan tidak mencantum tentang atonia uteri, atau
ketersedian suntikan tertentu dalam pengelolaan atonia uteri.
Terkait dengan hal di atas, masalah dalam health care system
berbeda dengan masalah pada medical care. Health care system
adalah fungsi-fungsi non-medis yang memungkinkan medical care
dapat disampaikan ke penderita. Komponen dari health care
termasuk kepe-milikan asuransi kesehatan, ketersediaan
ambulan, ketersediaan obat atau alat melaksanakan intervensi
kedokteran, atau pengaturan kerja. Medical care sendiri
mencakup apa yang dilakukan oleh dokter. Medical care lebih
sempit dari health care. Ia mengacu pada apa yang dilakukan
oleh dokter terhadap kebutuhan medik pasien. Dalam konteks ini,
pelayanan kedokteran biasanya menjadi paling pokok. Yang
penting pada kedokteran adalah keputusan dokter untuk
melakukan tindakan apa yang tepat. Health care system bisa
terkait dengan ketersediaan fasilitas dan alat, biaya, dan tenaga
kesehatan lain yang memungkinkan pekerjaan seorang dokter
dapat di-laksanakan.
Mengapa diagram saya kelihatan tidak fokus?
Alasannya adalah saudara memotret sesuatu yang saudara tidak
hadapi sehari-hari. Jika saudara berusaha menggambarkan
sesuatu dari berbagai kacamata atau kacamata yang tidak pasti
maka akan sulit mana yang harus dimasukkan dalam diagram.
Semua terasa penting sedangkan peserta tidak menguasai
tentang hal-hal itu. Jangan segan meminta peserta agar tidak
ragu menulis apa yang ia ketahui dari sudut pandang
pengalamannya. Pada tahap awal, isi dari kotak dalam diagram
bisa bersifat konseptual dan juga operasional. Keduanya bisa

muncul dalam satu tabel. Jika itu terjadi kita harus mendorong
peserta untuk menggiringkan isi dari kotak-kotak itu ke dalam
kondisi yang menjadi sasaran tembak. Jumlah kotak dalam
diagram tidak perlu banyak. Yang penting adalah rincian dari
masalahnya.
Konsep Pendukung> Analisis Masalah
Penetapan Masalah
Diagram masalah menyajikan banyak kondisi yang dianggap
penting untuk diatasi atau dipecahkan. Di setiap pemecahan
masalah selalu terjadi keterbatasan sumber. Karena itu biasanya
perencana memilih masalah-masalah yang lebih prioritas. Dalam
pemilihan prioritas ini sudah barang tentu idealnya adalah
mencari titik-titik kritis dari komponen diagram yang jika kita
lakukan intervensi akan berdampak paling besar. Titik kritis dapat
dinilai setelah kita memetakan banyak masalah dan
membandingkan manfaat dari jika kita menintervensi satu kotak
daripada kotak yang lain. Pengangkatan salah satu atau beberapa
masalah sebagai sesuatu yang akan dipecahkan dapat ditentukan
beberapa keadaan.
Jika banyak uang atau dalam situasi dana tersedia, semua hal
bisa diangkat sebagai masalah yang akan dipecahkan. Jika dana
terbatas, masalah harus dipilih berdasarkan prioritas. Jadi jelas
bahwa pertimbangan dalam membuat prioritas biasanya adalah
jumlah dana yang tersedia. Apa yang bisa dikerjakan oleh
sejumlah dana yang tersedia itu. Masalah-masalah yang akan
memakan biaya besar otomatis akan tersingkir sebagai titik yang
akan diintervensi. Biasanya juga, masalah-masalah yang bersifat
input seperti dana kurang, tidak ada tenaga, atau tidak ada alat,
juga bisa tidak mendapat prioritas karena pengadaannya
membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Yang kemudian
kerap dipakai sebagai prioritas adalah apa yang bisa dilakukan
oleh kondisi yang ada dan oleh tenaga yang ada. Penyuluhan
kemudian menjadi bagian yang dianggap gampang. Cara
konservatif di atas ini tentu saja menjadi berbeda jika tujuan

pembuatan proposal sendiri adalah untuk meminta dana kepada


donor yang kaya. Untuk itu, penyusun program tidak perlu ragu
memilih masalah dengan konsekuensi biaya yang besar. Yang
penting di sini adalah kemampuan penyusun untuk
berargumentasi kepentingan dari masalah itu diatasi.
Setiap peserta sebaiknya mengambil posisi sebagai orang yang
mewakili tempat atau lembaga ia bekerja. karena mereka berada
di tempat itu terkadang mereka bisa mengetahui beberapa
bagian dari masalah. Tetapi dapat juga terjadi, peserta tidak peka
terhadap masalah di tempat kerja mereka karena sudah terbiasa
dengannya. Dalam hal ini, kerja kelompok dapat berguna karena
ia memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkomentar
tentang kondisi di tempat orang lain. Kemampuan peserta lain
mengungkapkan masalah yang ada di pelupuk mata kita ini kerap
disebut sebagai blind spot kita. Untuk mengatasi itu, kerja
kelompok mengharuskan kita melibatkan berbagai pihak yang
saling memberikan kritik satu sama lain.
Gambar Pola Pengembangan Gagasan Solusi

Menguraikan Masalah

Apa yang penting dalam menguraikan masalah. Cerita tentang


dimensi atau komponen dari sebuah masalah berguna ketika kita
mempertimbangkan gagasan intervensi dan pelaksanaan dari
pemecahan masalah. Menguraikan masalah membantu pembaca
proposal ini agar mereka tertarik untuk memecahkan masalah
dan setuju me-ngeluarkan dana. Strategi yang dilakukan adalah
bercerita tentang konsekuensi dari keadaan jika masalah itu tidak
dipecahkan. Akibat langsung dari masalah yang tidak diatasi
dapat dicontohkan sebagai berikut. Jika ada satu penderita
tuberkulosis yang tidak diobati, maka keluarga dan masyarakat di
sekitarnya akan tertular dan karena itu akan menjadi beban baru
bagi masyarakat. Demikian juga, jika ada satu kasus tuberkulosis,
kita dapat menceritakan berapa jumlah orang yang akan
mengalami penurunan produksi karena tertular penyakit.
Meskipun dianggap sebagai masalah tersendiri, kondisi-kondisi
yang terkait kerap diuraikan juga sebagai bagian dari masalah.
Uraian masalah dapat juga mencakup siapa memiliki masalah
dengan program yang ada, di mana lokasi masalah, dan kapan
biasanya terjadi masalah.
Contoh Diagram Masalah dengan Gagasan Solusinya

Konsep Pendukung> Penetapan Masalah

Gagasan Penyelesaian Masalah


Setelah kita menemukan masalah yang kita anggap paling
relevan bagi posisi saudara, kita harus mencari strategi untuk
mengurangi masalah itu. Masalah yang saudara ambil diletakkan
dalam kotak output dari diagram di bawah ini. Ingat diagram ini
berbasis pada prinsip analisis sistem: input-proses-output. Mulai
dari output, kemudian cari strategi yang mungkin dilakukan untuk
membuat output yang diharapkan itu. Gagasan penyelesaian
suatu masalah dapat berupa kegiatan-kegiatan. Tentu saja bisa
banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Yang penting di sini adalah
kegiatan-kegiatan itu harus disusun dalam suatu program yang
dapat dibedakan dari program yang lama. Sebagai contoh, aculah
satu akar masalah sebagai salah satu alternatif program.
Anggaplah kotak masalah itu sebagai hasil dari program lama.
Pelajari kelemahan dari program itu. Ajukan program baru yang
mengatasi kelemahan program lama.
Gambar di samping ini semata ilustrasi untuk meng-gambarkan
bagaimana kita memahami masalah yang hendak dipecahkan
dan mencari tahu gagasan solusi. Harus dipahami bahwa jika
tidak ada masalah dengan strategi saat ini, maka kita tidak ada
keperluan untuk mencari strategi 2 dan strategi 3. Surat
keterangan miskin sudah lama menjadi cara kita memberikan
keringanan pelayanan di unit pelayanan kesehatan jika penduduk
yang membutuhkan berasal dari kelompok miskin. Cara ini
dianggap bagus tetapi tidak mampu mengurangi persentasi
keluarga miskin yang tidak mendapat pelayanan. Karena itu
kemudian kita me-ngajukan gagasan lain agar akses penduduk
miskin itu lebih besar, maka gagasan lain adalah subsidi kartu
sehat dan premi asuransi kesehatan. Ketiga cara itu dianggap
dapat berpengaruh pada akses.
Contoh di samping ini tentang kematian karena tuberkulosis.
Komplikasi tuberkulosis yang tidak tertangani di rumahsakit
dianggap disebabkan oleh karena pe-nanganan cara gabungan.
Nama untuk cara lama ini mengacu pada pelayanan tuberkulosis
yang menjadi satu dengan pelayanan lain (bergabung). Cara ini
memang lebih efisien karena satu orang bisa menangani berbagai

kondisi. Jika terjadi komplikasi kasus tuberkulosis, petugas umum


tadi tidak khusus dan mampu menangani masalah komplikasi.
Pertimbangan dalam Gagasan Solusi
Banyak mahasiswa tidak mengetahui dari mana mencari gagasan
solusi. Cari kelemahan dari cara yang sekarang berlangsung. Buat
program yang mengatasi kelemahan dalam program yang sedang
berlangsung. Program baru dapat menggantikan atau melengkapi
program saat ini.Dana puskesmas jangan dianggap sebagai
sumber karena ia biasanya terbatas dan telah digunakan untuk
kegiatan lain. Dana luar bisa menjadi pertim-bangan. Tenaga
puskesmas yang tidak bekerja pada jam kerja bisa menjadi
sumber yang selalu dipertimbangkan dalam membuat program.
Identifikasi sumber yang ada di daerah saudara dan kelola
mereka dalam suatu program. Pertimbangkan peran mereka
dalam program yang baru. Promosi kesehatan selalu diperlukan di
mana-mana. Guru-guru menggambar di SD, SMP, dan SMA
merupakan sumber yang bagus jika mereka bisa diajak untuk
mengajar murid mereka membuat poster sehingga hasilnya bisa
menjadi alat belajar bagi murid maupun bagi masyarakat luas.

Tabel Pembuatan Prioritas Pertimbangan Menurut


Kegiatan

Contoh Pengisian Tabel Prioritas

Konsep Pendukung > Gagasan Penyelesaian Masalah


Pilihan-pilihan Strategis Pencapaian Solusi
Fasilitator meminta peserta mengidentifikasi cara-cara yang
masuk akal sesuai dengan kondisi lokal untuk mencapai tujuan
pemecahan masalah. Peserta juga diminta untuk
memperhitungkan sumber-sumber yang diperlukan untuk
melaksanakan strategi tersebut, biaya yang diperlukan,
pertimbangan dampak terhadap mutu layanan, serta dukungan
politik dan organisasi terhadap kelancaran kegiatan.
Membuat Prioritas
Jika sumber-sumber tersedia, maka kita bisa melakukan apa saja.
Tetapi kondisi seperti itu sangat jarang terjadi. Kabupaten dan
kota di Indonesia mencerminkan keterbatasan. Jika pun tidak
terbatas, berbagai pihak yang memperebutkan sejumlah dana
yang ada itu membuat sumber selalu terbatas. Keterbatasan lain
dan penting sehingga kita membuat prioritas adalah ketersediaan
orang yang mampu untuk mengelola program. Kita mudah
menginginkan sebuah program. Tetapi jika kita tidak memiliki
orang yang mampu menge-lolanya, program tidak bisa terjadi.
Prioritas kerap sekali ditentukan oleh siapa yang mampu
melakukan sesuatu. Jadi kekuatan dari kita adalah menjadi
prioritas melaksanakan program.

Unsur Pertimbangan Prioritas dan Pemberian Angka Bobot

Cara Menetapkan Prioritas:


1 Langkah pertama adalah membuat tabel dengan jalur dan
kolom sesuai dengan kebutuhan. Dalam contoh ini adalah 4 kali 6.
Jenis kegiatan dibuat di lajur ke bawah dan penilaian memanjang
pada baris pertama.

Contoh Pengisian Tabel Prioritas dengan Pembobotan

2 Membuat cara penilaian dengan angka untuk masing-masing


pertimbangan prioritas. Lihat tabel halaman 81.
3 Peserta diminta memberi nilai dari masing-masing kegiatan
yang diusulkan. Jika banyak pihak memberikan penilaian, maka
nilai rata-rata dari masing-masing pemberi nilai menjadi hasil
akhir, seperti lazimnya orang menjadi juri perlombaan. Cara
seperti ini pun tidak lepas dari subjektivitas, karena pihak-pihak
yang banyak itu bisa terjadi berasal dari anggota masyarakat
yang setuju atau tidak setuju. Jadi meski sudah disusun dengan
angka, penilaian masih membawa subjektivitas tertentu.
4 Memberi bobot pertimbangan. Bobot adalah nilai yang
membandingkan arti satu pertimbangan terhadap pertimbangan
lain. Ia merupakan nilai perbandingan kepentingan dari unsurunsur yang dinilai. Angka pembobotan bisa disepakati oleh
stakeholder, bersifat dinamis, dan bergantung konteksnya. Yang
biasa menentukan bobot ini adalah orang ahli dalam bidang
kesehatan. Namun demikian, hal itu tidak mutlak. Anggaplah
status program lama atau baru berbobot 1. Maka kita harus
membuat penilaian apakah kegiatan-kegiatan lain sama bobotnya
dengan per-timbangan status kebaruan program. Jika misalnya
biaya hemat lebih penting daripada kebaruan, maka bobot biaya
hemat diberi lebih besar daripada kebaruan. Dalam hal ini, kita
memberikan bobot biaya hemat adalah 1,5 kali dari bobot

kebaruan. Angka pembobotan bisa di-sepakati oleh stakeholder,


bersifat dinamis, dan bergantung kon-teksnya. Yang biasa
menentukan bobot ini adalah orang ahli dalam bidang kesehatan.
Namun demikian, hal itu tidak mutlak. Yang penting adalah
pembobotan dapat me-rupakan usulan dari anggota DPR, staf
Bappeda, Bupati, atau siapa pun yang terlibat dalam sebuah
program. Pertimbangan-pertimbangan yang di-sarankan oleh
pemberi dana kadang-kadang memiliki bobot yang lebih penting
daripada yang disarankan oleh pihak lain.
Contoh Tabel Pertimbangan

5 Buat tabel baru dengan mengalikan nilai asli terhadap angka


pembobotan.
Perhatikan bahwa perubahan dalam nilai pem-bobotan
mempengaruhi angka total yang diperoleh masing-masing
kegiatan. Angka prioritas tergantung pada (a) jumlah variabel
yang dipertimbangkan, (b) pemberian bobot dari pertimbanganpertimbangan itu, dan (c) definisi ope-rasional.
Konsep Pendukung> Pilihan-pilihan Strategis Pencapaian Solusi
Rencana Pelaksanaan
Tugas Fasilitator adalah memberi instruksi kepada peserta untuk
menelaah gagasan intervensi dan uraian solusi yang dipilih untuk
mengidentifikasi kegiatan spesifik yang diperlukan untuk tiap
elemen solusi yang di-rencanakan. Ia juga harus meminta peserta
membuat daftar kegiatan-kegiatan spesifik yang akan harus
dilaksanakan untuk tiap perubahan atau perkembangan. Peserta
harus menentukan staf mana di daerah yang harus membantu
proyek (anggota tim dan orang lain yang tidak hadir), dan yang
akan bertanggung jawab untuk tiap-tiap kegiatan (sebutkan
nama). Rencana jadwal waktu pelaksanaan seluruh kegiatan
dalam 12 bulan yang akan datang dan rincian kegiatan kegiatan
harus dibuat. Jika perlu uraian naratif singkat, yang menyatakan
bagaimana tim kabupaten akan terus bekerjasama selama waktu
pelaksanaan dapat ditambahkan..
Rencana kegiatan yang sudah biasa dilakukan oleh perencana
adalah yang sangat umum. Biasanya perencana sudah
mengetahui apa yang bakal terjadi: banyak sekali improvisasi
dalam pengaturan kegiatan. Bahkan rencana kegiatan lebih
merupakan kegiatan generik agar ada sesuatu yang bisa dilihat.
Sebagai contoh, mereka membuat bagian persiapan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Di dalam masing-masing bagian itu

tinggal ada beberapa pertemuan yang mencerminkan penggunaan uang. .


Dalam latihan ini, kami telah menganjurkan kegiatan-kegiatan
dibangun atas dasar logika kronologis yang mencerminkan
kesatuan program dalam waktu satu tahun. Kebutuhan akan
diagram kegiatan ini adalah agar orang udah mendapat
gambaran tentang apa yang akan dikerjakan dalam program ini.
Ia dapat berisa kegiatan-kegiatan atau pun produk-produk dari
kegiatan, atau kedua-duanya.
Ketika kita menyusun rencana pelakansanaan kita seolah
berhadapan dengan sebuah program yang akan dilaksanakan.
Sebuah program terdisi dari rangkaian kegiatan-kegiatan yang
menjadi kebutuhan pengguna. Sebuah program biasanya
menekankan kegiatan strategis yang menentukan keberhasilan
program itu. Sebuah rumusan program adalah bagus jika ia
menjelaskan komponen program yang berbeda dari komponen
program sebelumnya. Agar menarik dan aktual, program kita
kemudian harus dikemas dalam nama yang dapat membedakan
dari program lama..
Pola Pokok Kegiatan

Rencana Kegiatan
Dalam menyusun kegiatan, peserta harus memas-tikan kegiatan
strategis yang membedakan program saudara dari program yang
ada. Jika tidak ada contoh dari situasi yang di dekat mereka,
peserta diminta mempelajar program-program sejenis yang ada
di Indonesia maupun di luar negeri. Mereka diminta untuk
melakukan analisis tentang faktor-faktor kegagalan dan

keberhasilan dari program di tempat lain dan alat-alat bantu dan


dukungan keorganisasian dari program di tempat lain. Peserta
diminta memetakan waktu 1 tahun untuk mengisinya dengan
kegiatan-kegiatan. Beberapa pertemuan dan kegiatan wajib dapat
berupa hal-hal berikut.
Kronologi Komponen Kegiatan
Pengalaman dengan peserta yang berasal dari dinas kesehatan,
mereka membuat kegiatan-kegiatan itu dalam dalam kategori
persiapan, pelaksananaan dan evaluasi. Sudah barang tentu
keadaan seperti itu tidak masalah. Hanya kebiasaan seperti itu
bisa mengurangi ketegasan terhadap kegiatan-kegiatan yang
dibuat.
Yang lebih penting dari kategori itu adalah perlunya kita
menentukan lama waktu kita ingin memperoleh hasil dari
program kita. Untuk bisa membuat meren-canakan kegiatankegiatan, sebaiknya peserta diajarkan membuat diagram
kronologis yang bermulai dari produk akhir kegiatan. Mereka
kemudian diminta untuk mengisi kegiatan-kegiatan yang
membuat suatu kegiatan di belakangnya bisa terjadi. Peserta dan
fasilitator akan mudah menilai dan menganalisis apakah suatu
kegiatan akan mungkin berhadil jika memahami kegiatankegiatan lain yang mendorong ke arah itu. Peserta dapat
mengubah sebuah kegiatan dengan kegiatan lain karena faktor
waktu, meskipun kemudian bisa mempengaruhi anggaran.
Penyusunan kegiatan dapat juga mempergunakan kartu-kartu
kecil yang telah dipersiapkan oleh panitia. Peserta diminta untuk
menulis apa saja saja yang perlu mereka lakukan untuk mencapai
sasaran tertentu. Kartu-kartu itu dikumpulkan dan disusun dalam
urutan yang masuk akal sehingga terlihat rangkaian yang "masuk
akal". Lebih baik peserta dibiarkan memasukan semua kartu
sampai ada dari mereka menemukan ada kartu yang berisi
kegiatan yang hampir sama, kartu yang dirasakan tidak perlu,
kegiatan yang dianggap tidak perlu, kegiatan yang terlalu
abstrak, atau kegiatan yang tidak memiliki produk yang jelas. Jika
sudah jelas, peserta dengan mudah dapat memasukkan dalam
kategori sub-kegiatan.

Rincian Kegiatan
Terdiri dari pembayangan rincian kegiatan, perkiraan waktu,
orang yang diminta untuk menye-lesaikan kegiatan itu, sumber
yang terkait, dan biaya. Kegiatan harus dibuat rinci agar dapat
menggambarkan keseluruhan kegiatan dan dapat dipakai untuk
mendeteksi kemajuan kegiatan. Kegiatan yang rinci memudahkan
penempatan waktu dalam kerangka waktu yang kita miliki. Setiap
kegiatan harus dipertimbangkan sebagai suatu jaringan kegiatan.
Oleh karena itu, letak satu kegiatan dalam kerangka waktu akan
menentukan keberhasilan misi pokok dari suatu perencanaan.
Nama Kegiatan. Merumuskan secara singkat payung besar dari
rincian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Biasanya
merupakan tujuan akhir dari suatu misi perencanaan.
Hasil Kegiatan. Setiap kegiatan memiliki harapan hasil yang
khusus. Perencana harus mengetahui persis maksud dari setiap
langkah yang diambil. Sebagai contoh, untuk kegiatan yang akan
dilakukan adalah pertemuan awal dengan camat, bupati dan
unsur LSM, hasil yang diharapkan berupa dokumentasi
persetujuan dan catatan tentang alasan-alasan mereka dalam hal
menghendaki atau tidak menghendaki sebuah program.
Waktu. Tidak mungkin membuat kegiatan tanpa melihat
kerangka waktu. Setiap perencanaan mem-butuhkan kalender
umum yang menjadi pertimbangan dasar apakah suatu waktu
tertentu bisa dipakai untuk melakukan suatu kegiatan. Diary dari
seorang perencana harus menjadi pegangan pokok. Kadangkadang kita bahkan harus melakukan kontak dengan pihak-pihak
lain agar waktu kegiatan dapat disepakati.
Pelaksana Kegiatan. Orang yang diminta untuk menyelesaikan
tugas adalah orang yang bisa diandalkan untuk menyelesaikan
tugas itu. Ia bukan sekadar petugas yang seharusnya melakukan
hal itu dalam organisasi. Staf dalam birokrasi biasanya telah
memiliki tugas tertentu, tetapi terserah pengelola program
apakah hendak menggunakan mereka atau tidak, tergantung
pada penilaian kinerja orang itu. Kadang-kadang, mengambil
pekerja khusus yang full-timer untuk menyelesaikan suatu tugas

lebih menguntungkan karena kita mengetahui persis berapa


waktu yang dibutuhkan dan biaya yang terlibat. Sebagai contoh,
kita menyewa seseorang dalam waktu 5 hari untuk membantu
penyusunan dan penyelesaian draf proposal. Kita lebih bisa
mengharapkan sesuatu terjadi dalam 5 hari dengan biaya Rp. 250
ribu, dibandingkan bila mengandalkan petugas yang paruh-waktu
tetapi tidak ada kepastian kapan hal itu bisa terjadi.
Anggaran
Meskipun dalam buku kerja tidak disebutkan tentang anggaran.
Kita memasukkan anggaran dalam kolom terakhir dari kegiatan.
Karena hal itu penting bagi calon pemberi dana maupun kita
sendiri yang akan melak-sanakan program, anggaran justru
sangat krusial. Pemerintah atau donor asing bisa setuju sesuatu
karena dananya dianggap reasonable. Untuk hal itulah maka
rincian anggaran merupakan pekerjaan yang membutuh-kan
ketelitian. Jika kita tidak bisa membayangkan kegiatan-kegiatan
yang akan dilaksanakan maka sangat sulit anggaran bisa
diperhitungkan.
Karena sumber-sumber sangat menentukan kualitas dan
kelancaran kerja maka ia harus diperhitungkan dalam kegiatan.
Bila hal itu dirasakan pokok maka ia bisa dimasukkan ke dalam
anggaran. Apakah nanti disetujui atau tidak, pengajuan item
anggaran perlu juga diketahui kira-kira peraturan pemberi dana.
Dalam ketidakpastian, masukkan saja item-item yang dibutuhkan.
Bila tidak disetujui akan ada pencoretan dari pihak pendana.
Komponen Anggaran. Rencana anggaran dibagi dalam
beberapa bagian: honorarium, transportasi dan akomodasi, alat
dan fasilitas kerja, dan lain-lain. Semua biaya yang berkaitan
dengan penggajian terletak pada honorarium. Penggajian dapat
dibuat atas dasar kerja per jam, kerja per hari, atau kerja per
bulan, tergantung pada kondisi umum pada lingkungan kerja.
Standar harga untuk masing-masing pola terdapat pada
peraturan Bappenas. Bila tidak ada standar yang dipakai,
gunakan saja perhitungan yang kita buat atas akal sehat.
Demikian pula tentang apakah lumpsum dimasukkan dalam suatu
kegiatan atau tidak sangat tergantung penilaian kita terhadap

kepentingan kegiatan dan siapa yang menjadi sasaran pemberian


lumpsum.
Sebagai salah satu patokan, bila kita meminta seorang dokter
bekerja untuk kita dalam waktu tiga hari, maka kita harus bisa
memperkirakan berapa besar penghasilan dokter itu dalam waktu
tiga hari dalam keadaan normal. Misalnya bila ia berpraktek
dokter sehari 30 pasien dan per pasien 25.000, maka paling
sedikit kita memperkirakan honorarium sebesar Rp 2.250.000
(30X3X Rp 25.000). Perhitungan ini ditambahkan dalam seksi
catatan dalam Rencana Anggaran. Penting diingat bahwa setiap
besaran biaya adalah terukur dan mencerminkan kenyataan yang
sesungguhnya.
Honorarium. Gaji dan honorarium selalu ada dalam program.
Terutama jika kita menggunakan staf fulltime atau part time yang
khusus diambil dari luar pegawai negeri. Patokan harga dari
masing-masing pekerja biasanya telah tersedia di sistem pegawai
negeri, biasanya itu dilakukan dengan cara Bappenas. Tetapi yang
penting dalam penerapan harga itu, kita harus membuat sesuai
dengan kelaziman di tempat saudara bekerja. Jika sesuai
kelaziman, kita telah berbuat adil. Adil karena biasanya adalah
demikian. Jika pun ada keinginan untuk berbeda dari biasanya,
hal itu menuntut pertimbangan bagaimana hal itu masih bisa
diterima. Terutama akan terjadi kerisauan ketika program itu
diajukan kepada pihak asing. Standard mana yang dipakai? Yang
lokal atau yang internasional. Jika yang internasional, maka
tidaklah ada persoalan jika kita menggunakan standar per diem
internasional. Itu sangat tergantung persetujuan atau standar
yang berlaku dengan agen internasional. Dalam bidang gaji,
honororiaum atau fee paling tidak bermasalah di antara item
yang lain. Jadi sama jika seorang dengan pendidikan dan lama
kerja tertentu, ada gaji yang sudah baku. Lama kerja disesuaikan
dengan program yang direncanakan. Berikut contoh gaji.
Berkaitan dengan transportasi dan akomodasi, alat dan fasilitas
kerja, serta hal lain-lain, semua harga disesuaikan dengan
kenyataan. Kejujuran adalah utama dalam setiap proposal
perencanaan. Siapa pun tidak ingin ditipu dan karena itu
sangatlah etik jika dalam penyusunan perencanaan biaya

program kita membuat sesuatu yang sesuai dengan keadaan


yang sesung-guhnya. Yang kerap menjadi masalah adalah ada
beberapa mata anggaran yang sesungguhnya kita keluarkan
tetapi item-item itu tidak diijinkan dalam baku penyetuju dana.
Dalam hal ini, sebaiknya kita mengakomodasi hal itu dalam fee
manajemen. Yang sulit jika fee manajemen pun tidak
diperbolehkan masuk dalam mata anggaran. Jika demikian, yang
dilakukan adalah selalu bertanya pada pihak yang bakal
menyetujui dana program. Jangan ragu membuat catatan-catatan
jika mata anggaran ada kemungkinan ditolak. Asumsi harga
satuan harus dibuat agar orang tidak bertanya-tanya tentang
dasar perhitungan biaya dalam peren-canaan saudara.
Konsep Pendukung> Rencana Pelaksanaan
Penentuan Sasaran
Mengapa penentuan sasaran itu penting. Sasaran kegiatan
bertindak sebagai titik yang ingin kita capai. Sasaran itu juga bisa
menjadi patokan kesepakatan yang diinginkan oleh pihak-pihak
dalam organisasi dan lebih jauh oleh masyarakat. Jika sasaran ini
dapat ditetapkan bersama, ia bisa menjadi motivasi kerja.Namun
demikian, penentuan sasaran dapat memperhitungkan beberapa
hal. Suatu daerah paling penting memper-hitungkan keadaan
daerah itu pada saat perencanaan dibuat. Perubahan bukan
ditafsirkan semata-mata karena keinginan dan semangat belaka.
Pendapat tentang bahwa sesuatu tidak akan terlepas dari konteks
sejarahnya. Artinya kondisi saat ini menentukan perubahan
seperti apa yang bisa diharapkan suatu daerah terhadap masa
depan mereka.
Selain itu, sasaran program nasional lazim diacu sebagai sasaran
daerah. Hal itu tergantung pada kondisi daerah juga. Agar
sasaran lebih mudah dipahami oleh pejabat dan masyarakat,
perencana bisa menggunakan angka sasaran dari daerah
tetangga mereka. Perban-dingan dengan tetangga lebih mudah
diukur dan terkonteks dalam pemikiran geografis yang mudah
dipahami. Yang lebih strategis, daerah bisa mengguna-kan

keadaan saat ini dari daerah yang menjadi acuan atau model
yang menjadi bechmark sebagai cita-cita pembangunan daerah.
Jika masalah itu kompleks, maka sasaran itu ditentukan lebih ke
arah proses daripada outcome. Kita tidak perlu khawatir
membuat kenaikan angka dalam indikator autcome, tetapi
indikator input dan proses bisa meningkat lebih tinggi.
Sesungguhnya justru perbaikan dalam input dan proses lebih
utama sebagai indikator sasaran daripada yang outcome.
Fasilator perlu meminta peserta menelaah apakah pertimbanganpertimbangan seperti itu relevan dan mau dipakai bagi penentuan
sasaran program mereka. Mintalah peserta mempelajari lagi
diagram masalah, tabel analisis sitasi, dan gagasan intervensi
agar mereka bisa memilih indikator yang masuk akal yang dapat
mengukur hasil intervensi.
Dalam penentuan sasaran kita bisa juga menekan-kan pada
indikator sosial dan ekonomi yang kita anggap penting untuk
membantu pencapaian target pada outcome dan sistem
peayanan. Hal ini bahkan diperlukan untuk menekankan kondisi
pendukung yang berada di luar bidang kesehatan dan menjadi
tanggung jawab Bupati atau Walikota untuk mendorong
perubahan di sektor di luar kesehatan. Mendorong kepala daerah
melakukan hal ini membantu arti keberhasilan sebuah program di
dinas kesehatan bagi penduduknya.
Pendekatan alternative menentukan target
Dalam konteks biaya yang terbatas, target bisa diturunkan pada
tingkat administrasi yang lebih rendah. Kta selalu bisa membuat
target tingkat kabupaten atau kota. Jika kita mengambil
kecamatan sebagai ukuran targenya maka hal itu akan lebih
menggairahkan masyarakat untuk mencapaiknya. Sebagai
contoh, persentase kecamatan atau kelurahan yang memiliki
target tertentu bisa dipakai.Pertimbangan tingkat keberhasilan
program di keca-matan atau kelurahan bisa juga digunakan.
Dalam waktu setahun, kita bisa menekankan kelurahan-kelurahan
yang tidak terlalu buruk untuk bisa mencapai target nasional. Kita
bisa mempertimbangkan kelurahan dengan kinerja lebih buruk
untuk menjadi target peruabahan pada tahun-tahun berikutnya.
Dengan cara ini, kita mengerjakan sesuatu yang ringan terlebih

dulu karena memper-timbangkan kapasitas daerah dan tingkat


dukungan yang memungkinkan keberhasilan terjadi. Penentuan
target seperti ini dapat memberikan arti psikologis yang bagus
bagi pejabat maupun masyarakat.
12 of 2 comments
sabirjelekSabir Jelek, Mentor at FFG Winalite Indonesia
hy jga
1 year ago
JukuKalotoroJuku Kalotoro, Nurse at UPT Dinas Kesehatan
Galesong Utara
hai
1 year ago Reply

Subscribe to commentsPost Comment


Analisis data dasar puskesmas
Analisis data dasar puskesmas
Presentation Transcript
ANALISIS DATA DASAR PUSKESMAS
VISI & MISI MEMBUAT RAKYAT SEHAT Menuju MASYARAKAT
MANDIRI UNTUK HIDUP SEHAT 17 SASARAN
PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH PROGRAM
PEMBANGUNAN BID KESEHATAN NILAI STRATEGI
KEBIJAKAN BERPIHAK KEPADA RAKYAT BERTINDAK CEPAT
DAN TEPAT KERJASAMA TIM INTEGRITAS TINGGI
TRANSPARANT & AKUNTABEL

MENGGERAKKAN DAN MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT UTK


HDP SEHAT
MENINGKATKAN AKSES YANKES YG BERKUALITAS
MENINGKATKAN SISTEM SURVEYLANCE, MONITORING DAN
INFORMASI
MENINGKATKAN PEMBIAYAAN KESEHATAN
INTENSIFIKASI PENYELENGGARAAN PROGRAM-PROGRAM
PRIORITAS
MENGGERAKKAN MASYARAKAT UNTUK HIDUP SEHAT
MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK POTENSIAL
PENINGKATAN PROFESIONALISME PETUGAS KESEHATAN
PENINGKATAN PEMBIAYAAN KESEHATAN
GRAND STRATEGI Meningkatkan Akses Masyarakat
Terhadap Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas
Menggerakkan Dan Memberdayakan Masyarakat Untuk
Hidup Sehat Meningkatkan Sistem Surveillance,
Monitoring & Inf. Kesehatan Meningkatkan Pembiayaan
Kesehatan
? PENYELENGGARAAN PUSKESMAS SESUAI DENGAN PERAN
DAN FUNGSINYA FISIK BANGUNAN PUSKESMAS TENAGA
TEKNIS & TENAGA ADMN PERALATAN & BAHAN VAKSIN
DAN OBAT-OBATAN PANDUAN PENYELENGGARAAN
PUSKESMAS & PANDUAN TEKNIS PELAKSANAAN PROGRAM
PUSKESMAS BIAYA OPERASIONAL MANAJEMEN PUSKESMAS
LAPORAN PENYELENGGARAAN PUSKESMAS SARANA DAN
PRASARANA PENUNJANG ? ? ? PRA-SYARAT
PENYELENGGARAAN PUSKESMAS 1 2 3 4 5 6
INDIKATOR PUSKESMAS
INDIKATOR KINERJA PUSKESMAS

MENGGAMBARKAN KEMAMPUAN PUSKESMAS DALAM


MELAKSANAKAN KEGIATAN PROGRAM SESUAI DENGAN
TARGET
INDIKATOR PROGRAM PUSKESMAS
MENGGAMBARKAN DAMPAK KEGIATAN TERHADAP
SASARAN PROGRAM
INDIKATOR WILAYAH SEHAT
MENGGAMBARKAN STATUS KESEHATAN WILAYAH KERJA
PUSKESMAS
DATA PUSKESMAS
DATA DASAR
KARAKTERISTIK WILAYAH
MENGGAMBARKAN TINGKAT KESULITAN
KARAKTERISTIK PUSKESMAS
MENGGAMBARKAN POTENSI SUMBER DAYA
DATA SASARAN
INDIVIDU
KELOMPOK
INSTITUSI
DATA PROGRAM
TARGET
KEGIATAN
HASIL KEGIATAN

INDIKATOR
INSTRUMENT DALAM SISTEM INFORMASI PUSKESMAS
SP2TP
PROSES PEREKAMAN / DOKUMENTASI KEGIATAN DAN
HASIL KEGIATAN YANG DI LAKSANAKAN OLEH PELAKSANA
PROGRAM DI PUSKESMAS.
DIBUAT BERDASARKAN JUKLAK DAN JUKNIS KEGIATAN
PROGRAM
MERUPAKAN BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI MANAJEMEN
KINERJA
PELAKSANAANNYA MELEKAT PADA MASING-MASING
KEGIATAN PROGRAM
SIMPUS
SISTEM YANG MENGINTEGRASIKAN SELURUH PENCATATAN
DAN PELAPORAN DI PUSKESMAS.
MENGOLAH DAN MENGANALISIS DATA HASIL PENCATATAN
KEGIATAN DAN CAKUPAN KEGIATAN
MERUPAKAN BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI MANAJEMEN
PUSKESMAS
PENGELOLAANNYA MELEKAT PADA MANAJEMEN
PENYELENGGARAAN PUSKESMAS
TATANAN SP2TP PELAKSANA KEGIATAN KOORDINATOR /
WASSOR PELAPORAN KEGIATAN PENCATATAN VALIDASI
DATA PETUGAS SIMPUS PENGOLAHAN DATA HASIL
PENGHITUNGAN HASIL PENGUKURAN HASIL PENGAMATAN
VARIABEL TERPILIH PENDUKUNG INDIKATOR KEABSAHAN
KETEPATAN KEBENARAN CLEANING SHORTING TABULATING
DATA PUSKESMAS

PENGORGANISASIAN SIMPUS INFORMASI PUSKESMAS


PIMPINAN TIM ANALISIS PENANGGUNG JAWAB PROGRAM
PENANGGUNG JAWAB PROGRAM PELAKSANA KEGIATAN
PENANGGUNG JAWAB PROGRAM PENANGGUNG JAWAB
PROGRAM PENANGGUNG JAWAB PROGRAM PELAKSANA
KEGIATAN PENGELOLA DATA / PETUGAS SIMPUS
PENANGGUNG JAWAB PROGRAM
TATANAN SIKDA DATA DASAR DATA PROGRAM DATA
DETEKSI DINI SIMPUS KARAKTERISTIK WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KARAKTERISTIK PUSKESMAS DATA SASARAN
PROGRAM JENIS KEGIATAN TARGET CAKUPAN JENIS DAN
LOKASI TINGKAT KEGAWATAN RINGKAT KEKHALAYAKAN
INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS SISTEM INFORMASI
KESEHATAN KABUPATEN / KOTA SIRS SIK LAINNYA
INFORMASI PUSKESMAS
TINGKAT KESULITAN WILAYAH KERJA
JANGKAUAN PELAYANAN
KOMPOSISI DEMOGRAFI
LETAK STRATEGI
KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA
KELAYAKAN PUSKESMAS
BESARAN SASARAN
BEBAN KERJA
PROGRAM
BEBAN TUGAS
KEGIATAN
KINERJA PUSKESMAS

Profil PUSKESMAS
TINGKAT KESULITAN WILAYAH KERJA
LETAK STRATEGI
KOMPOSISI DEMOGRAFI
BESARAN SASARAN
BEBAN KERJA
KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PROGRAM
BEBAN TUGAS
KINERJA PUSKESMAS
PENDATAAN
METODE PENGUMPULAN DATA
SENSUS MELALUI PENDEKATAN SELF ASSESMENT
SAMPEL
TOTAL CAVERAGE
PENGUMPUL DATA
TENAGA PUSKESMAS
PEIODE PENGUMPULAN DATA
TAHUNAN
UNIT ANALISIS
PUSKESMAS
VALIDASI

PENGELOLA DATA DAN INFORMASI KABUPATEN / KOTA


PENGOLAHAN
PENGELOLA DATA DAN INFORMASI KABUPATEN / KOTA
ANALISIS
TIM ANALISIS PROGRAM KABUPATEN / KOTA
INSTRUMENT PENDATAAN PUSKESMAS
FORMULIR ISIAN DATA DASAR PUSKESMAS
APLIKASI DATA ENTRY
GPS
DIGITAL CAMERA
Luaran HASIL PENDATAAN PUSKESMAS
Variabel DATA DASAR PUSKESMAS
KARAKTERISTIK WILAYAH KERJA PUSKESMAS
LETAK ADMINISTRATIF
LETAK GEOGRAFIS
DEMOGRAFIS
KARAKTRISTIK PUSKESMAS
SARANA DAN PRASARANA PUSKESMAS
TENAGA
PERALATAN
BAHAN DAN OBAT-OBATAN

SUMBER PEMBIAYAAN
VITAL STATISTIK
KELAHIRAN
KEMATIAN
KAWIN / CERAI
PERPINDAHAN
VARIABEL
LUARAN
RATIO PUSKESMAS PERKOTAAN
RATIO PUSKESMAS BIASA DAN PUSKESMAS
METROPOLITAN
LUARAN
PROPORSI
KONDISI WILKER PUSKESMAS
LUARAN
PROPORSI
KONDISI WILKER PUSKESMAS
Manfaat :
Terkait dengan pengembangan program dan model
pelayanan puskesmas
Letak Administrasi Ibu Kota kec. Ibu Kota Kab. Ibu Kota
Prop. Kota Metro. 4 5 6 7 Letak Geografis Kepulauan
Pantai Rawa pantai Dataran Rendah Berbukit Pegunungan

8 9 10 11 12 13 Letak Strategis Terpencil Tertinggal


Transmigras I Kepulauan Perbtsan Negara 14 15 16 17 18
VARIABEL
LUARAN
Prosentase kondisi bangunan puskesmas dan sarana
pendukungnya
Manfaat :
Terkait rencana perbaikan, peningkatan dan
pembangunan puskesmas
Kondisi Bangunan Puskesmas Kondisi Bangunan
Perawatan Baik Rusak Ringan Rusak Berat Rusak Total
Baik Rusak Ringan Rusak Berat Rusak Total 3 4 5 6 7 8 9
10 Kondisi Puskesmas Keliling R-4 Kondisi Puskesmas
Keliling Perairan Baik Rusak Ringan Rusak Berat Rusak
Total Baik Rusak Ringan Rusak Berat Rusak Total 11 12 13
14 15 16 17 18
VARIABEL
LUARAN
Ratio jumlah tenaga menurut jenisnya terhadap jumlah
puskesmas
Ratio jumlah tenaga menurut jenisnya terhadap jumlah
penduduk di wilker puskesmas
Manfaat :
Perencanaan ketenagaan dalam rangka percepatan
pencapaian sasaran program kesmas
Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Dokter Dokter Gigi
Sarjana Kesmas Bidan Ahli Gizi Sanit. Penyl. Kes. Perawat
Apt. Analis/ Laborat Jumlah 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis

dan Jumlah Tenaga non Kesehatan Adm. Umum Keuangan


Pekarya Pesuruh Sopir Jumlah 14 15 16 17 18 19
MODEL ANALISIS
DATA DASAR PUSKESMAS
TAHUN 2006
LANGKAH AWAL DALAM MEMBUAT ANALISIS DATA DASAR
PUSKESMAS
LAKUKAN PENGOLAHAN DATA
BUAT FORMULA NILAI
TENTUKAN BOBOT
TENTUKAN STRATA
ANALISIS TINGKAT KESULITAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS
Wilayah kerja puskesmas :
Daerah pemukiman
Persawahan
Hutan
Rawa-rawa
Pantai
Industri
Pariwisata
Lautan dll
Pemukiman di Wilayah kerja puskesmas :

Dataran rendah
Daerah berbukit
Daerah pegunungan
Daerah rawa-rawa
Daerah Pantai
Kepulauan
Formula penilaian : Kepulauan Pantai Rawa-rawa Dataran
Rendah Berbukit Pegunungan Jumlah Jumlah Jumlah
Jumlah Jumlah Jumlah Desa Jiwa KK Desa Jiwa KK Desa Jiwa
KK Desa Jiwa KK Desa Jiwa KK Desa Jiwa KK 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 - - - - - - - - - 227
828,319 233,423 - - - 44 142,110 45,090
PEMBOBOTAN :
BOBOT TINGKAT KESULITAN :
KEPULAUAN : 40
RAWA-RAWA : 20
PEGUNUNGAN : 15
PANTAI : 10
BERBUKIT : 10
DATARAN RENDAH : 5
JUMLAH : 100
Bobot ditentukan sesuai dengan argumentasi /
berdasarkan kriteria yang telah ada
PERHITUNGAN BOBOT TERTIMBANG :

Hasil penilaian x Bobot = bobot tertimbang


PENENTUAN STRATA :
DITENTUKAN BERDASARKAN BOBOT TERTIMBANG DENGAN
BATASAN NILAI TERTENTU :
PUSKESMAS DENGAN KESULITAN :
STRATA I APABILA BOBOT TERIMBANG = > 50
PUSKESMAS DENGAN TINGKAT KESULITAN SANGAT TINGGI
STRATA II APABILA BOBOT TERIMBANG = 20 50
PUSKESMAS DENGAN TINGKAT KESULITAN TINGGI
STRATA III APABILA BOBOT TERIMBANG = 10 20
PUSKESMAS DENGAN TINGKAT KESULITAN SEDANG
STRATA IV APABILA BOBOT TERIMBANG = < 10
PUSKESMAS DENGAN TINGKAT KESULITAN BIASA
Contoh: Tabel Perhitungan Nilai tingkat kesulitan wilayah
kerja berdasarkan distribusi pemukiman penduduk
Distribusi Penduduk Kepulauan Pantai Rawa-rawa Dataran
Rendah Berbukit Pegunungan Jumlah Jumlah Jumlah
Jumlah Jumlah Jumlah Desa Jiwa KK Desa Jiwa KK Desa Jiwa
KK Desa Jiwa KK Desa Jiwa KK Desa Jiwa KK 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 No Kondisi wilker
Desa KK Penduduk FORMULA Nilai 1 Kepulauan 3 900
4.800 4.800 : 26.920 X 100% 18 % 2 Rawa-rawa 2 350
1.950 1.950 : 26.920 X 100% 7.24 % 3 Pantai 2 450 2.345
2.345: 26.920 X 100% 8.65 % 4 Pegunungan 1 250 1.050
1.050 : 26.920 X 100% 3.9 % 5 Berbukit 3 800 4.175
4.175 : 26.920 X 100% 15.51 % 6 Dataran rendah 6 2.100
12.600 12600 : 26.920 X 100% 46.75 % 7 Jumlah 17 4.750
26.920 100 %

KESIMPULAN : Wilayah kerja Puskesmas X dengan jumlah


penduduk 26.920 jiwa tersebar di daerah kepulauan,
rawa-rawa, pantai, daerah berbukit dan pegunungan
dengan distribusi spt pada tabel di atas. Berdasarkan
bobot tingkat kesulitannya, Puskesmas X memiliki nilai
tertimbang 14.05 sehingga Puskesmas X masuk pada
strata III dengan tingkat kesulitan sedang. Tabel :
Perhitungan Nilai tertimbang tingkat kesulitan wilayah
kerja berdasarkan bobot tingkat kesulitan kondisi
pemukiman penduduk No Kondisi wilker Desa KK
Penduduk Nilai BOBOT TERTIMBANG 1 Kepulauan 3 900
4.800 18 % 40 7.2 2 Rawa-rawa 2 350 1.950 7.24 % 20
1.45 3 Pantai 2 450 2.345 8.65 % 10 0.86 4 Pegunungan 1
250 1.050 3.9 % 15 0.57 5 Berbukit 3 800 4.175 15.51 %
10 1.6 6 Dataran rendah 6 2.100 12.600 46.75 % 5 2.37 7
Jumlah 17 4.750 26.920 100 % 14.05
Contoh : LANGKAH AWAL DALAM MEMBUAT ANALISIS
BIAYA OPERASIONAL PUSKESMAS
LAKUKAN PENGOLAHAN DATA
BUAT FORMULA NILAI
TENTUKAN BOBOT
TENTUKAN STRATA
ANALISIS BIAYA OPERASIONAL WILAYAH KERJA
PUSKESMAS
PEMBOBOTAN BIAYA OPERASIONAL MENURUT BESARNYA
BIAYA TRANSPORTASI UMUM DI WILKER PUSKESMAS:
BOBOT BIAYA OPERASIONAL PUSKESMAS :
> Rp. 500.000 : 50 (BIAYA SANGAT TINGGI)
Rp. 300 500 rb : 25 (BIAYA TINGGI)
Rp. 100 300 rb : 15 (BIAYA SEDANG )

< Rp. 100 rb : 10 ( BIAYA BIASA )


JUMLAH : 100
Biaya termasuk biaya pengganti transport dan uang
makan
Bobot ditentukan sesuai dengan argumentasi /
berdasarkan kriteria yang telah ada
Rumus
PERHITUNGAN BOBOT TERTIMBANG :
Hasil penilaian x Bobot = bobot tertimbang
PENENTUAN STRATA :
DITENTUKAN BERDASARKAN BOBOT TERTIMBANG DENGAN
BATASAN NILAI TERTENTU :
PUSKESMAS DENGAN KESULITAN :
STRATA I APABILA BOBOT TERIMBANG = > 50
PUSKESMAS DENGAN BIAYA SANGAT TINGGI
STRATA II APABILA BOBOT TERIMBANG = 20 50
PUSKESMAS DENGAN BIAYA TINGGI
STRATA III APABILA BOBOT TERIMBANG = 10 20
PUSKESMAS DENGAN BIAYA SEDANG
STRATA IV APABILA BOBOT TERIMBANG = < 10
PUSKESMAS DENGAN BIAYA BIASA
TABEL PENILAIAN TINGKAT KESELITAN WILAYAH KERJA
MENURUT BIAYA TRANSPORTASI UMUM YANG ADA Baris
ketujuh adalah jumlah hasil penilaian yang nilainya

konstan yaitu 100 % No Kondisi wilker Desa KK Penduduk


FORMULA Nilai 1 > Rp. 500.000 3 900 4.800 3/17 X 100%
17,67 % 2 Rp. 300 500 rb 0 0 0 0 0 3 Rp. 200 300 rb 3
1.050 2.345 3/17 X 100% 17,67 % 4 Rp. 100 200 rb 4
1.350 1.050 4/17 X 100% 23,53 % 5 Rp. 50 100 rb 3 950
4.175 3/17 X 100% 17,67 % 6 < Rp. 50.000 rb 4 1 . 5 00
12.600 4/17 X 100% 23,53 % 7 Jumlah 17 4.750 26.920 100
%
HASIL PENILAIAN DAN PEMBOBOTAN BIAYA OPERASIONAL
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS X = 13.83 ARTINYA BIAYA
OPERASIONAL PUSKESMAS X MASUK DALAM STRATA BIAYA
SEDANG TABEL PERHITUNGAN NILAI TERTIMBANG No Biaya
transport Desa KK Penduduk Nilai BOBOT TERTIMBANG 1 >
Rp. 500.000 3 900 4.800 17,67 % 50 8.83 2 Rp. 300 500
rb 0 0 0 0 25 0 3 Rp. 100 300 rb 3 1.050 2.345 17,67 % 15
2.65 4 < Rp. 10 0 rb 4 1.350 1.050 23,53 % 10 2.35 7
Jumlah 17 4.750 26.920 100 % 13.83
DISTRIBUSI RATA-RATA JML PENDUDUK PER PUSKESMAS 7
803.1715863.0712353.6019893.88669
4.6027301.9629523.3227716.801613
9.0619276.1914230.9920651.613986
6.9741364.4416147.7920309.753840
5.6412780.6412864.5214713.051064
5.4115589.2732011.0116631.763047
5.2016613.7516663.4221665.005157
0.1928031.6226633.91PAPUAKALTIMK
ALBARRIAUKALTENGNADSUMSELIRJABA
RSUMUTJAMBIJATIMSULTENGJABARSUL
SALKALSELJATENGSUMBARNTTNTBSULT
RALAMPUNGMALUTMALUKUSULBARSULU
T B A B E L G O R T A L B A N T E N D I IY K E P R I B E N G K
ULUDKI26642.25Indoprov_poly.shp647
0-2000020000-3000030000-400004000
0-70000JMLAHPENDUDUKPERPUSKESMA
S
NEWSRATA-RATALUASWILAYAHKERJAPU
SKESMAS1313.281047.58997.17585.92

242.18570.421414.40162.76472.8532
3.92206.2150.2039.03127.3938.23193
.45188.50157.10231.18378.80270.761
408.23151.61183.82160.58107.16221.
19349.4550.95179.642.1649.5426.78P
APUAKALTIMKALBARRIAUKALTENGNADS
UMSELIRJABARSUMUTJAMBIJATIMSULTE
NGJABARSULSALKALSELJATENGSUMBAR
NTTNTBSULTRALAMPUNGMALUTMALUKU
SULBARSULUTBABELGORTALBALIBANTE
NKEPRIDKIBENGKULUDIY90009001800
MilesIndoprov_poly.shp0-110110-240
240-380380-590590-1410
Terima Kasih Sekian Kurang dan lebihnya mohon
dimaafkan