You are on page 1of 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diare masih menjadi masalah kesehatan dunia sampai saat ini terutama di
negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka
kesakitan dan kematian akibat diare. World Health Organization (WHO)
memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta
diantaranya meninggal, sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun
(Parashar et al., 2003). WHO (2007) juga mencatat bahwa diare menyebabkan
dua juta anak di dunia meninggal setiap tahun. Meskipun di negara maju sudah
terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat, akan tetapi kasus diare
masih tetap tinggi dan masih menjadi masalah.
Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat utama. Hal ini terlihat dengan masih tingginya angka kesakitan akibat
penyakit diare. Berdasarkan pola penyebab kematian pada semua umur, diare
merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan
berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab kematian peringkat
ketiga setelah Tuberkulosis dan Pneumonia. Selain itu, diare juga merupakan
penyebab kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) yaitu (31,4%). dan anak balita
usia (1-5 tahun) yaitu (25,2%) (Kemenkes RI, 2009).
Berdasarkan Kemenkes RI (2007) diketahui prevalensi diare nasional adalah
9,0% dengan prevalensi tertinggi di Provinsi NAD (18,9%). Jumlah kasus diare di
Propinsi Aceh tahun 2007 seluruhnya adalah 86.945 dan pada tahun 2008
seluruhnya adalah 77.290. Data penyakit diare di Kota Banda aceh dan Aceh
Besar pada tahun 2007 seluruhnya ada 4.770 kasus diare, dengan umur <1 tahun
adalah sebanyak 578 kasus, umur 1-4 tahun sebanyak 1.337 kasus, sedangkan
pada umur >5 tahun adalah 2.855 kasus. Sedangkan pada tahun 2008 seluruhnya
sudah mencapai 6.011. Kasus diare dengan umur <1 tahun adalah sebanyak 528
kasus, umur 1-4 tahun sebanyak 1.619 kasus, sedangkan umur >5 tahun adalah
3.864 kasus. Di Kota Banda Aceh jumlah pasien diare pada anak sebanyak 5.875
orang (Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, 2010).

Prevalensi diare dalam Riskerdas 2007, diare tersebar di semua kelompok


umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu
16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan
hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan (Kementerian
kesehatan RI. 2011. Buletin jendela data dan informasi kesehatan, volume II).
Banyak faktor yang mempengaruhi diare akut antara lain penyakit
penyerta yang diderita anak, usia anak, tidak mendapat Air Susu Ibu (ASI), status
dehidrasi dan higiene (Putra, 2008; Arianto, 2008; Palupi et al, 2009).
Dikarenakan banyaknya penderita diare akut tersebut, maka diperlukan data untuk
menunjang langkah-langkah penanganan serta pencegahan juga edukasi yang
tepat pada penderita diare akut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian
ini adalah untuk mengetahui Prevalensi Diare Pada Balita Usia 0-5 Tahun di
Puskesmas Langsa Timur Kota Tahun 2014.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui Prevalensi Diare
Pada Balita Usia 0-5 Tahun di Puskesmas Langsa Timur Tahun 2014.
1.3.2.

Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Prevalensi Diare Pada Balita Usia 0-5 Tahun di
Puskesmas Langsa Timur Tahun 2014 berdasarkan usia.
2. Untuk mengetahui Prevalensi Diare Pada Balita Usia 0-5 Tahun di
Puskesmas Langsa Timur Tahun 2014 berdasarkan jenis kelamin.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritik
Mini proyek ini dilakukan untuk memperoleh pengalaman belajar di
lapangan melalui studi kasus dan untuk meningkatkan pengetahuan di bidang
promosi kesehatan.

1.4.2 Manfaat Aplikatif


Bahan evaluasi dikawasan Puskesmas Langsa Timur untuk tahun 2014 dan
bagi para

peneliti diharapkan mini projek ini bisa menjadi salah satu

sumber referensi untuk

penelitian

selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diare Akut
2.1.1 Definisi
Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan
dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (tiga kali atau
lebih) dalam sehari (Kemenkes RI, 2011). Menurut Pusponegoro et al. (2004),
diare akut didefinisikan sebagai buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam
dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 1 minggu.
Diare akut pada anak didefenisikan sebagai perubahan kebiasaan buang air
besar yang normal yakni peningkatan frekuensi (>10mL/kgbb/hari pada bayi dan
anak) dan/atau penurunan konsistensi feses (>3 kali dalam sehari) (Manoppo,
2010).
2.1.2 Etiologi
Diare akut dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut (Mansjoer
et al. 2000) :
1. Infeksi : virus, bakteri, dan parasit.
a. Golongan

virus:

Rotavirus,

Adenovirus,

Virus

Norwalk,

Astrovirus,

Calicivirus, Coronavirus, Minirotavirus.


b. Golongan bakteri: Shigella spp., Salmonella spp., Escherecia coli, Vibrio
cholera, Vibrio parahaemoliticus, Aeromonas hidrophilia, Bacillus cereus,
Campylobacter

jejuni,

Clostridium

difficile,

Clostridium

perfringens,

Staphylococcus aureus, Yersinia enterocolitica.


c. Golongan parasit, protozoa: Entamoeba histolytica, Giardia lamblia,
Balantidium coli ; cacing perut: Ascariasis, Trichuris truchiura, Strongiloides
stercoralis
2. Malabsorpsi: karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak terutama trigliserida
rantai panjang, atau protein seperti beta-laktoglobulin.
3. Makanan: makanan basi, makanan beracun. Diare karena keracunan makanan
terjadi akibat dua hal yaitu makanan mengandung zat kimia beracun atau

makanan mengandung mikroorganisme yang mengeluarkan toksin, antara lain


Clostridium perfringens, Staphylococcus.
4. Alergi terhadap makanan : terutama disebabkan oleh Cows Milk Protein
Sensitive Enteropathy (CMPSE), dan juga dapat disebabkan oleh makanan
lainnya.
5. Imunodefisiensi, diare akibat imunodefisiensi ini sering terjadi pada penderita
AIDS.
6. Psikologis: rasa takut dan cemas.
2.1.3 Patogenesis diare
Menurut Guandalini et al. (2004), diare terjadi karena adanya gangguan
proses absorpsi dan sekresi cairan serta elektrolit di dalam saluran cerna. Pada
keadaan normal, usus halus akan mengabsorpsi Na+,Cl-, HCO3-. Timbulnya
penurunan dalam absorpsi dan peningkatan sekresi mengakibatkan cairan
berlebihan melebihi kapasitas kolon dalam mengabsorpsi. (Riedel dan Gishan,
1996) juga menambah bahwa mekanisme tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor
mukosa maupun faktor intra luminal saluran cerna. Faktor mukosa dapat berupa
perubahan dinamik mukosa yaitu adanya peningkatan cell turnover dan fungsi
usus yang belum matang dapat menimbulkan gangguan absorpsi - sekresi dalam
saluran cerna. Penurunan area permukaan mukosa karena atrofi vilus, jejas pada
brush border serta pemotongan usus dapat menurunkan absorpsi. Selain itu,
gangguan pada sistem pencernaan (enzim spesifik) atau transport berupa
defisiensi enzim disakaridase dan enterokinase serta kerusakan pada ion transport
(Na+ /H+, Cl- /HCO3-) juga menimbulkan gangguan absorpsi. Faktor - faktor dalam
intraluminal sendiri juga ikut berpengaruh, seperti peningkatan osmolaritas akibat
malabsorpsi (defisiensi sakaridase) dan bacterial overgrowth. Insufisiensi
pankreatik eksokrin, defisiensi garam empedu dan parasit adalah faktor intra
luminal lain penyebab penurunan absorpsi. Sedangkan peningkatan sekresi
disebabkan oleh toksin bakteri (toksin cholera, E. coli) mediator inflamasi, asam
empedu dihidroksi, asam lemak hidroksi dan obat-obatan.
Penyebab tersering diare pada anak adalah disebabkan oleh rotavirus.
Virus ini menyebabkan 40-60% dari kasus diare pada bayi dan anak. Setelah
terpapar dengan agen tertentu, virus akan masuk ke dalam tubuh bersama dengan
makanan dan minuman. Kemudian virus itu akan sampai ke sel-sel epitel usus
5

halus dan akan menyebabkan infeksi dan merusakkan sel-sel epitel tersebut. Selsel epitel yang rusak akan digantikan oleh sel enterosit baru yang berbentuk
kuboid atau sel epitel gepeng yang belum matang sehingga fungsi sel-sel ini
masih belum bagus. Hal ini menyebabkan vili-vili usus halus mengalami atrofi
dan tidak dapat menyerap cairan dan makanan dengan baik. Cairan dan makanan
tadi akan terkumpul di usus halus dan akan meningkatkan tekanan osmotik usus.
Hal ini menyebabkan banyak cairan ditarik ke dalam lumen usus dan akan
menyebabkan terjadinya hiperperistaltik usus. Cairan dan makanan yang tidak
diserap tadi akan didorong keluar melalui anus dan terjadilah diare (Kliegman et
al., 2006).
2.1.4 Gejala klinis
Mula-mula pasien cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan
berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai
lendir atau darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena
bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering
defekasi dan tinja makin lama makin asam karena makin banyak asam laktat yang
berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi dari usus selama diare. Gejala muntah
dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung turut
meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila
pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai
tampak yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar
menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak
kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi
ringan, ringan-sedang dan berat. Bila berdasarkan tonisitas plasma dibagi menjadi
hipotonik, isotonik, dan hipertonik. Pasien diare yang dirawat biasanya sudah
dalam keadaan dehidrasi berat dengan rata-rata kehilangan cairan 12,5%. Pada
dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan
hipovolemik dengan gejala denyut jantung menjadi cepat, nadi cepat dan kecil,
tekanan darah menurun, pasien sangat lemah, kesadaran menurun (apatis,
somnolen, kadang sampai stupor) (WHO, 2007).

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2011) derajat dehidrasi pada anak


dinilai berdasarkan gejala dan tanda klinis yang ditemukan seperti terlihat pada
tabel 2.1 berikut ini :
Tabel 2.1 Penilaian Derajat Dehidrasi
No
Penilaian
A
B
C
Bila terdapat 2 tanda atau lebih
1 Keadaan umum Baik, sadar
Gelisah, rewel
Lesu, lunglai atau
Mata

Normal

Cekung

tidak sadar

Rasa haus

Minum biasa,

Haus, ingin

Sangat cekung dan

tidak haus

minum banyak

kering
Malas minum atau

Turgor kulit

Kembali cepat Kembali lambat

tidak bisa minum


Kembali sangat

Derajat

Tanpa

Dehidrasi

lambat
Dehidrasi berat

dehidrasi
Rencana

dehidrasi
Rencana

ringan / sedang
Rencana terapi

Rencana terapi C

pengobatan
terapi A
B
Sumber : Kementerian Kesehatan RI (2011)
2.1.5 Pemeriksaan penunjang
Menurut Mansjoer et al. (2000) pemeriksaan penunjang pada diare akut
meliputi:
1. Pemeriksaan tinja : makroskopik dan mikroskopik, pH dan kadar gula jika
diduga ada intoleransi gula (sugar intolerance), biakan kuman untuk mencari
kuman penyebab dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika.
2. Pemeriksaan darah : darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrolit
(terutama Na, K, Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang).
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal
4. Duodenal intubation, untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif
dan kualitatif.

2.1.6 Penatalaksanaan

Kementerian

Kesehatan

RI

(2011)

menyebutkan

bahwa

prinsip

penatatalaksanaan diare terdiri atas lima langkah yang lebih dikenal dengan
LINTAS DIARE ( Lima Langkah Tuntaskan Diare) yaitu :
1. Rehidrasi menggunakan oralit osmoralitas rendah
Oralit adalah campuran garam elektrolit yang terdiri atas Natrium Klorida
(NaCl) Kalium Klorida (KCL), sitrat dan glukosa. Manfaat oralit untuk mencegah
dan mengobati dehidrasi sebagai pengganti cairan dan elektrolit yang terbuang
saat diare. Sejak tahun 2004, WHO dan UNICEF merekomendasikan oralit
dengan osmoralitas rendah. Berdasarkan penelitian, oralit dengan osmoralitas
diberikan kepada penderita diare karena akan mengurangi volume tinja hingga 25
%, mengurangi mual muntah hingga 30 % dan mengurangi secara bermakna
pemberian cairan melalui intravena sampai 33 %.
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
Zinc baik dan aman untuk pengobatan diare. Berdasarkan hasil penelitian
Departement of Child and Adolescent Health and Depelopment, World Health
Organization manfaat zinc yaitu : lebih cepat sembuh hingga 20 %, mengurangi
resiko diare lebih dari 7 hari hingga 20 %, mengurangi jumlah tinja, mengurangi
resiko diare berikutnya 2-3 bulan ke depan, mengobati serta mencegah diare
berdarah, dan menurunkan pemakaian antibiotik irasional.
3. Teruskan pemberian ASI dan makanan
Memberikan makanan kepada balita selama diare akan membantu anak
tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang
menderita diare jika tidak diberikan asupan makanan yang sesuai umur akan
menyebabkan anak kurang gizi. Bila anak kurang gizi akan meningkatkan resiko
terkena diare kembali, oleh karena itu perlu diperhatikan : (1) berikan ASI lebih
sering dan lebih lama (bayi 0-24 bulan), (2) berikan makanan sesuai umur lebih
sering, sedikit-sedikit, lebih bervariasi, lebih lembut sejak bayi berusia 6 bulan,
(3) petugas kesehatan memberikan edukasi kepada ibu agar kembali menyusui

ekslusif, karena ASI memiliki antibodi yang penting untuk meningkatkan


kekebalan tubuh bayi, (4) setelah diare berhenti pemberian makanan ekstra
diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.
4. Antibiotik selektif
Jangan berikan antibiotik kecuali atas indikasi misalnya pada diare
berdarah dan kolera, pemberian antibiotik yang tidak tepat akan memperpanjang
lamanya diare karena akan mengganggu flora usus.
5. Edukasi kepada orang tua atau pengasuh.
Nasihat atau edukasi diberikan kepada orang tua atau pengasuh bagaimana
memberikan pengobatan dan pemberian makanan dirumah, dan segera kembali ke
petugas kesehatan atau puskesmas bila terdapat tanda bahaya yang berupa
demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus
dan diare makin sering.
2.1.7 Pencegahan
Menurut Kementrian kesehatan RI (2011), diare dapat dicegah dengan
beberapa cara sebagai berikut:
1. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai 2 tahun
2. Memberikan makanan pendamping ASI sesuai umur
3. Memberikan minum air yang sudah direbus dan menggunakan air bersih yang
cukup
4. Mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air
besar
5. Buang air besar di jamban
6. Membuang tinja bayi dengan benar
7. Memberikan imunisasi campak

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Lama Rawatan Pasien Diare


Faktor - faktor yang mempengaruhi lama rawatan pasien diare pada anak
adalah sebagai berikut :

2.2.1 Usia
Survei diare tahun 1990 di Kecamatan Beringin Kabupaten Semarang
mendapatkan kejadian tertinggi pada golongan umur 6 24 bulan (Karuniawati,
2010). Sementara itu hasil penelitian Palupi et al. (2009), prevalensi diare
tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan. Tingginya kejadian pada
kelompok umur ini disebabkan kekebalan alami pada anak dibawah umur 24
bulan belum terbentuk, sehingga kemungkinan terjadinya infeksi lebih besar. Hal
ini dapat terjadi karena penyapihan atau pemberian makanan tambahan yang
dimulai ketika umur anak kurang dari 24 bulan, sehingga anak-anak sudah
terpapar pada pengganti air susu ibu dan makanan tambahan yang kemungkinan
pengolahannya kurang higienis.
Pengaruh usia tampak jelas pada manifestasi diare. Komplikasi lebih
banyak terjadi pada umur di bawah 2 bulan secara bermakna dan makin muda usia
bayi makin lama durasi diarenya. Penelitian di Surabaya menunjukkan bahwa
diare persisten terjadi pada 2,73% penderita diare akut, dan terbanyak terjadi pada
usia 0-2 bulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa umur merupakan salah satu
faktor determinan yang terkait dengan durasi diare. Kerusakan mukosa usus yang
menimbulkan diare dapat terjadi karena gangguan integritas mukosa usus yang
banyak dipengaruhi dan dipertahankan oleh sistem imunologik intestinal serta
regenerasi epitel usus yang pada masa bayi muda masih terbatas kemampuannya
(Karuniawati, 2010).
Purnamasari (2011) menambahkan bahwa ada beberapa perbedaan antara
saluran pencernaan bayi dengan saluran cerna dewasa, dimana sistem pertahanan
saluran cerna pada bayi masih belum matang, sekresi asam lambung belum
sempurna saat lahir dan membutuhkan waktu hingga beberapa bulan untuk dapat
mencapai kadar bakteriosidal dimana pH < 4. Begitu pula dengan barier mukosa
berkembang sesuai dengan bertambahnya usia. Ada perbedaan ikatan mikrovilus
terhadap bakteri atau toksinnya serta komposisi mukus intestinal pada bayi dan
dewasa. Perbedaan jumlah flora normal terjadi karena saluran pencernaan pada
awalnya steril dan flora normal saluran cerna berkembang beberapa bulan awal
kehidupan. Pada neonatus, produksi beberapa enzim pencernaan belum
berkembang sempurna, misalnya produksi lipase oleh pankreas.
10

2.2.2 Tidak mendapat Air Susu Ibu (ASI)


Air Susu Ibu (ASI) selain mengandung gizi yang cukup lengkap,
mengandung imun untuk kekebalan tubuh bayi. Keunggulan lainnya, ASI
disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat terserap.
Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang diberikan secara dini
pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi. Pada akhirnya, bayi sulit
buang air besar. Apabila pembuatan susu formula tidak steril, bayi pun rawan
diare. Kandungan gizinya pun tidak sama dengan kandungan gizi pada ASI.
Keadaan ini juga membawa pengaruh buruk terhadap kejadian diare pada anak
(Arianto, 2008).
Purnamasari (2011) menambahkan bahwa bayi yang diberi ASI lebih
terlindungi terhadap penyakit infeksi terutama diare. Hal ini dikarenakan adanya
faktor peningkatan pertumbuhan sel usus sehingga vilus dinding usus cepat
mengalami penyembuhan setelah rusak karena diare. ASI mengandung antibodi
terutama imunoglobulin yang dapat melumpuhkan bakteri pathogen E.coli dan
berbagai virus dalam saluran pencernaan. ASI, terutama kolostrum sangat kaya
akan secrete imunoglobulin A (SIgA). ASI juga mengandung lactoferin dan
lysozim, yaitu suatu protein dan enzim yang merupakan komponen zat kekebalan
dalam saluran pencernaan.
2.2.3

Dehidrasi
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air lebih banyak dari pada pemasukan

air. Faktor yang mempengaruhi kejadian dehidrasi lebih sering dijumpai pada
kelompok pasien dengan status gizi kurus sekali dan kurus karena terjadinya atrofi
vilus usus halus yang akan mengakibatkan gangguan penyerapan cairan pada usus
yang akhirnya dapat memperberat dehidrasi. Selain itu, pada anak dengan gizi
buruk terjadi juga atrofi mukosa kolon yang permukaannya berubah menjadi datar
kemudian diinfiltrasi sel plasma dan keadaan kolon seperti ini akan
memperlihatkan gangguan fungsi berupa menurunnya kapasitas reabsorbsi air dan
elektrolit. Semakin berat dehidrasi, maka makin buruk pula kondisi pasien diare
(Palupi et al., 2009).
11

2.2.4

Higiene
Higiene lingkungan (air bersih yang dimasak, botol susu, atau alat lain
yang steril) merupakan hal penting yang perlu diperhatikan untuk menghindari
kontaminasi makanan oleh kuman, sehingga dapat dicegah berulangnya infeksi
atau diare dan lama penyembuhannya. Higiene yang buruk dapat berakibat
masuknya bakteri secara berlebihan kedalam usus, sehingga dapat mengalahkan
pertahanan tubuh normal (Palupi et al., 2009).
2.2.5

Penyakit penyerta
Putra (2008) menyebutkan bahwa anak yang menderita diare bisa saja

disertai dengan penyakit lain, sehingga dalam menangani diarenya juga perlu
diperhatikan penyakit penyerta yang ada. Beberapa penyakit penyerta yang sering
terjadi bersamaan dengan diare antara lain : infeksi saluran nafas, infeksi saluran
kemih, infeksi susunan saraf pusat, infeksi sistemik lain (campak, sepsis), kurang
gizi, penyakit jantung dan penyakit ginjal. Meilyana et al. (2010) dalam
penelitiannya yang menemukan bahwa penyakit penyerta merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi lama rawatan pasien anak.
2.2.6

Status gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh akibat konsumsi makanan dan pengunaan

zat-zat gizi (Almatsir, 2004). Menurut pendapat lain status gizi yaitu ekspresi dari
keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu

atau perwujudan dari

nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Contoh: Gizi kurang merupakan keadaan
tidak seimbangnya konsumsi makanan dalam tubuh seseorang (Supariasa et al.,
2002).
Menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering
disebut reference. Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia adalah
World Health Organization National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS).
Berdasarkan baku WHO-NCHS status gizi diklasifikasikan menjadi 4 (empat)
tingkatan yaitu:

12

1. Gizi Lebih (over weight), termasuk kegemukan dan obesitas: Yaitu jumlah
asupan (intake) zat gizi lebih banyak dari jumlah gizi yang dibutuhkan.
2. Gizi Baik (well nourished): Yaitu jumlah asupan (intake) zat gizi seimbang
dengan jumlah gizi yang dibutuhkan.
3. Gizi Kurang (under weight): Yaitu jumlah asupan (intake) zat gizi lebih kecil
dari jumlah gizi yang dibutuhkan, yaitu mencakup kekurangan kalori dan
protein (KKP).
4. Gizi Buruk: Yaitu jumlah asupan (intake) zat gizi lebih kecil dari jumlah gizi
yang

dibutuhkan,

termasuk

marasmus,

kwashiorkor

dan

marasmus-

kwashiorkor.
Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko
untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik bagi seseorang
akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam
proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian
konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif (Achadi,
2007).
Status gizi mempengaruhi lama rawatan pasien diare akut pada anak.
Pasien yang termasuk dalam kelompok status gizi kurus sekali dan kurus memiliki
rerata lama diare lebih lama dibandingkan dengan pasien yang berstatus gizi
normal dan gemuk. Makin buruk status gizi pasien, makin lama pula diare yang
diderita pasien (Palupi et al., 2009). Sinthamurniwaty (2006) menambahkan,
semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering dan berat diare yang diderita.
Diduga bahwa mukosa penderita malnutrisi sangat peka terhadap infeksi karena
daya tahan tubuh yang kurang.
Serangan diare pada penderita malnutrisi terjadi lebih sering dan lebih
lama. Semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering dan berat diare yang
dideritanya. Traktus gastrointestinal sangat rentan terhadap malnutrisi. Malnutrisi
mengakibatkan kerusakan barier mukosa sehingga meningkatkan kerentanan
terhadap infeksi. Malnutrisi juga mengganggu produksi dan maturasi dari
enterosit baru sehingga merubah morfologi intestinal (Brewster, 2000).
Menurut Harianto (2004), status gizi buruk yang sudah terjadi sebelumnya
membuat keadaan menjadi kurang menguntungkan, seperti jumlah masukan

13

makanan yang kurang serta gangguan keseimbangan elektrolit. Buruknya keadaan


gizi seorang anak akan mempengaruhi lamanya diare dan komplikasi yang
mungkin diderita. Anak dengan status kurang kalori protein akan mengalami
gangguan keseimbangan elektrolit mempercepat proses diare.
Malnutrisi terjadi melalui beberapa mekanisme, meliputi penekanan faktor
imunitas, perubahan struktur mukosa usus serta defisiensi mikronutrien seng dan
vitamin A. Seng berperanan dalam imunitas tubuh melalui peranannya dalam
proses limphoproliferatif maupun efek antioksidan. Serta berperan pula dalam
pertumbuhan sel terutama dalam pembelahan sel yang berkaitan dengan perbaikan
jaringan

rusak

maupun

penyembuhan

luka.

Adanya

defisiensi

seng

memperpanjang mekanisme penyembuhan luka pada saluran cerna menyebabkan


abnormalitas morfologi mukosa, sehingga fungsi absorpsi nutrisi dalam lumen
usus terganggu dan meningkatkan permeabilitas usus terhadap makanan atau
antigen mikroba. Defisiensi vitamin A pada malnutrisi akan mengganggu respon
imun terhadap infeksi saluran cerna. Hal ini dikarenakan terganggunya respon
antibodi dan cell mediated. Di sisi lain, keadaan malnutrisi menyebabkan
perubahan struktur mukosa berupa atrofi vili, aktivitas enzim disakaridase
terganggu, gangguan absorpsi monosakarida, motilitas usus abnormal dan
perubahan flora usus (Purnamasari, 2011).
1. Penilaian Status Gizi
Keadaan gizi merupakan bagian dari pertumbuhan anak pada pemeriksaan
di lapangan dipakai cara penilaian yang disepakakati bersama untuk keseragaman
baik dalam caranya maupun baku patokan yang menjadi bahan pertimbangan.
Sedangkan dalam klinik atau dalam menangani suatu kasus tidak cukup hanya
berdasarkan antropometri saja, tetapi diperlukan anamnesa yang baik,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya. Sehingga kita dapat
mendeteksi secara dini kelainan gangguan pertumbuhan, selanjutnya mencari
penyebab dan mengusahakan pemulihannya (Soetjiningsih, 2004).
Supariasa et al. (2002) menyatakan bahwa penilaian status gizi dapat
dilakukan dengan cara langsung dan cara tidak langsung:
a. Penilaian satus gizi secara langsung

14

Penilaian ini terdiri dari: antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.


1) Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat

gizi.

Antropometri

secara

umum

digunakan

untuk

melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat


pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan
jumlah air dalam tubuh.
2) Klinis
Pemeriksaan klinis merupakan metode yang sangat penting untuk menilai
status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang
terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. Hal ini dapat dilihat pada
jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, mukosa oral atau pada organ-organ
yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Penggunaan metode
ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survey ini
dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari
kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk
mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik
yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
3) Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang
diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh.
Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah, urin, tinja dan juga beberapa
jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk peringatan
bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.
Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penetuan kimia faal dapat lebih
banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
4) Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan
struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti

15

kejadian buta senja epidemic (epidemic of night blindnes), cara yang digunakan
adalah tes adaptasi gelap.
b. Penilaian satus gizi secara langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu survei
konsumsi pangan, statistik vital, dan faktor ekologi.
1) Survei konsumsi pangan
Survei konsumsi pangan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang
konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini
dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.
2) Statistik vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis
data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka
kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang
berhubungan dengan gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari
indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
3) Faktor Ekologi
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi
sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya.
Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti
iklim, tanah, irigasi dan lain lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat
penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar
untuk melakukan program intervensi gizi.
2. Antropometri Gizi
Menurut Supariasa et al. (2002), Antropometri berasal dari kata antropos
dan metros. Antropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri
adalah ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat
umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi

16

badan, lingkar lengan atas, dan tebal lemak dibawah kulit. Antropometri sangat
umum di gunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan
antar asupan protein dan energi yang biasanya gangguan ini terlihat dari pola
pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah
cairan dalam tubuh.
Beberapa keunggulan antropometri gizi meliputi:
a. Prosedur sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam sampel yang besar.
b. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga
yang sudah dilatih dalam waktu singkat.
c. Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah
setempat. Untuk Skin Fold Caliper, alat yang digunakan untuk mengukur tebal
lemak dibawah kulit merupakan alat antropometri yang mahal dan harus
diimpor dari luar negeri.
d. Metode yang tepat dan akurat karena dapat dibakukan.
e. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau.
f. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan gizi buruk
karena sudah ada ambang batas yang jelas.
g. Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
h. Dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.
Disamping keunggulan metode penentuan status secara antropometri,
terdapat pula beberapa kelemahan yang meliputi:
a. Tidak sensitif: Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu
singkat. Disamping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu
seperti Zink dan Fe.
b. Faktor diluar gizi (penyakit, genetik, dan penuruna penggunaan energi) dapat
menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.
c. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi,
akurasi, dan validitas pengukuran antropometri.
3. Jenis Parameter Antropometri Gizi

17

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan


mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran dari tubuh manusia,
antara lain umur, berat badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada,
lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit (Supariasa et al., 2002).
4.

Indeks Antropometri Gizi


Menurut Supariasa et al. (2002), di Indonesia jenis antropometri yang

banyak digunakan baik dalam program maupun penelitian adalah berat badan dan
tinggi badan yang menjadi objek pengukuran antropometri bagi anak-anak balita.
Untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks yang
terkait dengan variabel lain, seperti :
a. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran
massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang
mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan
atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah
parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana
keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat
gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur.
Sebaliknya

dalam

keadaan

yang

abnormal,

terdapat

kemungkinan

perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari
keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat
badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi.
Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U lebih
menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutritional status).
Menurut

standar

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

nomor.

1995/MENKES/SK/2010 maka indikator BB/U dikelompokkan atas gizi lebih


jika nilai Z score > + 2 SD, gizi baik jika nilai Z score diantara - 2 SD s/d + 2 SD,
gizi kurang jika nilai Z score diantara > - 3SD s/d < - 2 SD dan gizi buruk jika
nilai Z score < - 3 SD (Menkes RI, 2011).
Kelebihan Indeks BB/U
1) Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum

18

2) Baik untuk status gizi akut atau kronis


3) Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil
4) Dapat mendeteksi kegemukan
5) Berat badan dapat berfluktuasi.
Kelemahan Indeks BB/U (Supariasa et al., 2002) :
1) Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan tradisional, umur sering sulit di
taksir secara tepat karena pencatatan umur yang belum baik
2) Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak di bawah usia lima
tahun
3) Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau
gerakan anak pada saat penimbangan
4) Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat edema
maupun asites
5) Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya
setempat.
b. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan
pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan
pertambahan umur. Pertumbuhan tingi badan tidak seperti berat badan, relatif
kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu pendek. Pengaruh
defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif
lama. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka indeks ini menggambarkan status
gizi masa lalu.
Menurut

standar

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

nomor.

1995/MENKES/SK/2010 maka indikator TB/U dikelompokkan atas tinggi jika


nilai Z score > + 2 SD, normal jika nilai Z score diantara - 2 SD s/d + 2 SD,
pendek jika nilai Z score diantara > - 3SD s/d < - 2 SD dan sangat pendek jika
nilai Z score < - 3 SD (Kepmenkes RI, 2011).
Keuntungan menggunakan indeks TB/U yaitu Baik untuk menilai status
gizi masa lampau dan ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah
dibawa, sedangkan kelemahan Indeks TB/U adalah tinggi badan tidak cepat naik
dan pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga

19

diperlukan dua orang untuk melakukannya serta ketepatan umur sulit didapat
(Supariasa et al., 2002).
c. Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam
keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan
berat badan dengan kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang
baik untuk menilai status gizi saat kini.
Menurut

standar

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

nomor.

1995/MENKES/SK/2010 maka indikator BB/TB dikelompokkan atas gizi gemuk


jika nilai Z score > + 2 SD, gizi normal jika nilai Z score diantara - 2 SD s/d + 2
SD, gizi kurus jika nilai Z score diantara > - 3SD s/d < - 2 SD dan gizi sangat
kurus jika nilai Z score < - 3 SD (Menkes RI, 2011).
Keuntungan Indeks BB/TB :
1) Tidak memerlukan data umur
2) Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal dan kurus).
Kelemahan Indeks BB/TB :
1) Tidak dapat memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek, cukup tinggi
badan atau kelebihan tinggi badan menurut umurnya, karena faktor umur tidak
dipertimbangkan
2) Dalam praktek sering mengalami kesulitan dalam melakukan pengukuran
tinggi badan kelompok balita
3) Membutuhkan dua orang dalam melakukan pengukuran
4) Sering terjadi kesalahan dalam pembacan hasil pengukuran
5) Membutuhkan dua macam alat ukur
6) Pengukuran relayif lama (Supariasa et al., 2002).
Menurut Kemenkes RI (2011) kategori dan ambang batas status gizi anak
adalah sebagaimana terdapat pada tabel 2.2 yaitu :
Tabel 2.2 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
Kategori status
Ambang Batas
Indeks
(Z-Score)
gizi
Berat Badan Menurut Umur
Gizi buruk
< -3 SD
(BB/U)
Gizi kurang
-3 SD sampai dengan <-2 SD
Anak Umur 0-60 bulan
Gizi baik
-2 SD sampai dengan 2 SD

20

Gizi Lebih
Panjang badan menurut umur Sangat pendek
Pendek
(PB/U) atau
Tinggi badan menurut umur Normal
Tinggi
(TB/U)
Anak umur 0-60 bulan
Berat badan menurut panjang Sangat kurus
Kurus
badan (BB/PB) atau
Berat badan menurut tinggi Normal
Gemuk
badan (BB/TB)
Anak umur 0-60 bulan
Indeks massa tubuh menurut Sangat kurus
Kurus
Umur (IMT/U)
Normal
Anak umur 0-60 bulan
Gemuk
Indeks massa tubuh menurut Sangat kurus
Kurus
Umur (IMT/U)
Normal
Anak umur 5-18 tahun
Gemuk
Obesitas
Sumber : Menkes RI, 2011

>2 SD
< -3 SD
-3 SD sampai dengan <-2 SD
-2 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD
< -3 SD
-3 SD sampai dengan <-2 SD
-2 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD
< -3 SD
-3 SD sampai dengan <-2 SD
-2 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD
< -3 SD
-3 SD sampai dengan <-2 SD
-2 SD sampai dengan 1 SD
>1 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian


Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan retrospektif yaitu untuk
mengetahui Prevalensi Diare Pada Balita Usia 0-5 Tahun di Puskesmas Langsa
Timur Tahun 2014 dengan menggunakan data sekunder dari medical record
Puskesmas Langsa Timur Kota Langsa Tahun 2014.
21

3.2 Lokasi dan Waktu Project


3.2.1.Lokasi Penelitian
Lokasi yang dipilih sebagai tempat penelitian tentang Prevalensi Diare
Pada Balita Usia 0-5 Tahun adalah di Puskesmas Langsa Timur.
3.2.2.Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan September s/d Desember 2014.
3.3 Polulasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu
penelitian (Saryono, 2008). Populasi adalah subjek yang memenuhi kriteria yang
telah ditetapkan (Nursalam, 2009). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah balita (0-5 tahun) yang datang berkunjung ke Puskesmas Langsa Timur
Tahun 2014.
3.3.2 Sampel
Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang mewakili suatu
populasi (Saryono, 2008). Sampel adalah bagian dari

populasi yang

diteliti (Nursalam, 2009).


Dalam penelitian ini untuk mengambil sampel digunakan cara Acedental
Sampling yaitu sampel di ambil secara acak dari seluruh balita yang datang ke
Puskesmas Langsa Timur Tahun 2014.

3.4 Alur Project


Alur kerja dari project ini digambarkan seperti Gambar 3.1 di bawah ini :

POPULASI PROJECT

22

SAMPEL PROJECT

DATA BALITA YANG


TERKENA DIARE
DARI TAHUN 2014

PENGOLAHAN DATA

PELAPORAN HASIL

Gambar 3.1 Alur penelitian

3.5 Metode Pengumpulan data


Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data sekunder. Data
sekunder dikumpulkan dengan mempelajari dokumentasi puskesmas yaitu laporan
jumlah kunjungan balita penderita Diare di Puskesmas Langsa Timur tahun 2014.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Komunitas Umum
Puskesmas Langsa Timur merupakan puskesmas yang berdomilisi di
kecamatan Langsa Timur Kota Langsa dengan jumlah penduduk 14.512 jiwa,
dengan jumlah penduduk laki-laki 7.451 jiwa dan perempuan 7.061 jiwa. Jumlah
penduduk ini tersebar dalam 16 desa.
Tabel 4.1. Karakteristik kunjungan pasien berdasarkan umur Tahun 2014.
23

No

Umur (tahun)

Jumlah

Persentase (%)

01

388

2.97

14

1653

12.68

59

1337

10.25

10 14

739

5.66

15 19

604

4.63

20 44

3480

26.69

45 54

1547

11.86

55 59

1200

9.20

60 69

1358

10.42

10

70

730

5.60

13036

100

Total

30.00%
25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%

Gambar 4.1: Grafik karakteristik kunjungan pasien berdasarkan umur Tahun 2014

24

Tabel 4.2 Karakteristik kunjungan pasien menurut 10 penyakit terbanyak dari


Tahun 2014
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Penyakit
ISPA
Reumatik
Gastritis
Hipertensi
Common Cold
Dermatitis
Diare
Hipotensi
Diabetes Mellitus
Asma Bronkial
Penyakit Lain
Total

Jumlah
2453
1280
1242
1069
989
711
544
483
478
262
3525
13036

Persentase
18.82%
9.82 %
9.53 %
8.20 %
7.59 %
5.45 %
4.17 %
3.71 %
3.67 %
2.01 %
27.04 %
100 %

Puskesmas Langsa Timur melayani pasien umum, pasien ASKES,


JAMKESMAS maupun JKA di mana semuanya mendapatkan pengobatan secara
gratis.
Tabel 4.3 Karakteristik Kunjungan Pasien Berdasarkan Jaminan Kesehatan dan
jenis kelamin Tahun 2014
N
Bulan
O
1 Januari
2 Februari
3
Maret
4
April
5
Mei
6
Juni
7
Juli
8 Agustus

Askes
Lk
Pr
Total
140 197 337
137 210 347
169 212 381
130 190 320
127 203 330
136 174 310
138 148 286
111 148 259
102 148
Total
2570
95
2
Lk: Laki-laki, Pr: Perempuan

Lk
1575
586
593
485
456
390
409
498

JKA
Pr
969
818
779
708
623
420
535
451

Total
2544
1404
1372
1193
1079
1477
1167
949

4992

5303

10295

Jamkesmas
Lk
LPr Total
1272 1641 2913
708 1539 2247
714 1268 1982
687 1129 1816
574 1010 1584
498 835 1333
603 1092 1695
544 984 1528
1509
5600 9498
8

4.2 Data Geografis

25

Puskesmas Langsa Timur merupakan salah satu Puskesmas dengan rawat


inap dijajaran Dinas Kesehatan kota Langsa. Adapun luas wilayah kerja
Puskesmas Langsa Timur adalah89 km2, yang terdiri dari 16 desa, yaitu :
1. Alur Pinang
2. Alur Merbau
3. Bukit Meutuah
4. Bukit Medang Ara
5. Bukit Pulo
6. Bukit Rata
7. Cinta Raja
8. Matang Cengai
9. Matang Stui
10. Matang Panyang
11. Senebok Antara
12. Sungai Leung
13. Sukarejo
14. Simpang Wie
15. Alur Pinang Timur
16. Kappa
4.3 Data Demografi
Puskesmas Kembang Tanjung terletak di Kecamatan Langsa Timur Kota
Langsa. Wilayah kerja puskesmas meliputi 16 Desa yang tersebar dalam
kecamatan Langsa Timur.
Adapun batas-batas wilayahnya adalah :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukarejo.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan alur Pinang Barat.
c. Sebelah timur berbatasan dengan Alur Pinang Barat.
d. Sebelah barat berbatasan dengan Alur Pinang Barat.
Puskesmas Langsa Timur memiliki luas wilayah 89 km2 danluas bangunan 768
m2 serta telah mengalami renovasi sebanyak satu kali pada tahun 2010.
Sarana yang dimiliki oleh Puskesmas adalah :
a. Bangunan Puskesmas 1 (satu) unit, meliputi ruang kepala puskesmas,
ruang administrasi,ruang program,ruang perawatan dan ruang penunjang
b. Puskesmas Pembantu (Pustu) 2 unit
26

c. Polindes 13 unit
d. Rumah dinas paramedis 3 unit
Jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas kembang tanjung, yaitu
14.512 jiwa yang.
4.4 Sumber daya Kesehatan yang ada
4.4.1 Tenaga Kesehatan
Puskesmas Kembang Tanjung memiliki tenaga kesehatan sebanyak 159
orang, yang terdiri dari:
Tabel 4.4 Jenis Pegawai Kesehatan Puskesmas Langsa Timur Tahun 2011
No.

Jenis Pegawai

Jumlah

1.

PNS

73 orang

2.

PTT

15 orang

Honor

8 orang

Bakti

6 orang
Total

159 orang

4.4.2 Fasilitas Penunjang


Puskesmas Kembang Tanjung memiliki fasilitas penunjang dalam mendukung
tugas-tugas operasional dan agar jangkauan pelayanan puskesmas lebih luas dan
merata hingga dapat mencakup ke seluruh wilayah kerjanya. Adapun fasilitas
penunjang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Satu unit Pustu (Puskesmas pembantu), yaitu:
a. Pustu Alur Merbau
b. Pustu Alur Pinang
2. Dua unit Pusling (Puskesmas keliling) dengan kendaraan roda empat
(Ambulance) yang kegiatannya:
a. Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui Posyandu.

27

b. Melakukan penyuluhan kesehatan.


c. Melakukan rujukan medik bagi kasus gawat darurat
d. Melakukan penyelidikan terhadap KLB (Kejadian Luar Biasa).
e. Melakukan konsultasi dan koordinasi ke Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.
3. Enam belas unit kendaraan roda dua, enam unit berada di Puskesmas dan dua
unit berada di Pustu yang kegiatannya untuk:
a. Sarana operasional program surveillance.
b. Sarana transportasi administrasi Puskesmas .
c. Sarana transportasi petugas dari Pustu ke Puskesmas atau sebaliknya.
d. Sarana operasional pendataan peserta Jamkesmas/Askes/JKA.
e. Sarana operasional dalam memonitor status gizi bayi dan balita yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Langsa Timur.
4.5 Sarana pelayanan Kesehatan yang ada
Adapun 18 kegiatan pokok yang dijalankan oleh Puskesmas Langsa Timur
adalah sebagai berikut:
1. Upaya Kesehatan wajib puskesmas, meliputi :
a. Promosi Kesehatan masyarakat
b. Kesehatan Lingkungan
c. KIA dan KB
d. Usaha peningkatan gizi
e. Pemberantasan penyakit menular
f. Upaya pengobatan
2. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas :
a. Upaya kesehatan sekolah
b. Perawatan kesehatan masyarakat
c. Upaya kesehatan kerja
d. Upaya kesehatan gigi dan mulut
e. Kesehatan jiwa
f. Kesehatan mata
g. Kesehatan dan usia lanjut
h. Pembinaan pengobatan tradisional
i. Peran serta masyarakat
3. Upaya pelayanan penunjang
28

a. Laboratorium sederhana
b. Pencegahan infeksi
c. SP2TP
4.6 Hasil Penelitian
Setelah penelitian dilakukan, ditemukan 544 penderita Diare di Puskesmas
Langsa Timur Kota Langsa pada Tahun 2014. Data yang telah dikumpulkan,
diolah dan dianalisa berdasarkan laporan hasil medical record Puskesmas Langsa
Timur Tahun 2014 yaitu sebagai berikut :
4.6.1 Prevalensi Diare pada balita usia 0-5 tahun di Puskesmas Langsa Timur
2014
Jumlah kunjungan pasien balita dengan diagnosa Diare pada Tahun 2014
yaitu sebesar 4,17% atau 544 balita dari total seluruh pasien di Puskesmas
Langsa Timur sebanyak 13036. Lihat di table 4.1.

Balita dengan
diagnosa Diare
Total pasien tahun
2014

Tabel 4.1. Persentase balita dengan diagnose Diare pada Tahun 2014
4.6.2. Prevalensi Diare pada balita usia 0-5 tahun di Puskesmas Langsa
Timur 2014 berdasarkan usia

Tabel 4.2. Penderita Diare tahun 2014 berdasarkan usia


No.
1
2

Kategori
Usia 0 - <2 tahun
Usia 2- 5 tahun
Total

Frekuensi

Persentase

356
188
544

(%)
65,40 %
34,60 %
100,00 %
29

Total kunjungan pasien balita dengan diagnosa Diare tertinggi pada


rentang usia 0 - <2 tahun yaitu sebanyak 356 balita dari total kunjungan
pasien Diare pada usia balita Tahun 2014 atau sebesar 65,40%. (Lihat
ditabel 4.2.1).

0 - <2 tahun
2 - 5 tahun

Tabel 4.2.1 Persentase kunjungan balita dengan diagnose Diare


berdasarkan usia
4.6.3. Prevalensi Diare pada balita usia 0-5 tahun di Puskesmas Langsa
Timur 2014 berdasarkan jenis kelamin

T Tabel 4.2. Penderita Diare tahun 2014 berdasarkan jenis kelamin


No.

Kategori

1
2

Laki-laki
Perempuan
Total

Frekuensi

Persentase

279
265
544

(%)
51.29 %
48.71 %
100,00 %

Total kunjungan pasien balita dengan diagnosa Diare tertinggi pada jenis
kelamin perempuan yaitu sebanyak 279 balita dari total kunjungan pasien
Diare pada usia balita Tahun 2014 atau sebesar 21.29%. (Lihat ditabel
4.2.2).
30

52%
51%
50%
49%
48%
47%
perempuan
laki-laki

Tabel 4.2.2 Persentase kunjungan balita dengan diagnosa Diare


berdasarkan jenis kelamin

4.7 Pembahasan
4.7.1 Berdasarkan Usia
Dari penelitian yang dilakukan tentang Prevalensi Diare pada Balita Usia
0-5 Tahun di Puskesmas Langsa Timur Tahun 2014 diperoleh sebanyak 544 balita
penderita diare.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa
penderita diare pada balita usia 0-5 tahun di Puskesmas Langsa Timur Tahun 2014
mayoritas terjadi pada usia 0 - <2 tahun yaitu sebanyak 356 orang (65.40%) dan
minoritas tejadi pada usia 2 5 tahun yaitu sebanyak 188 orang (34.60%).
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Yusuf (2011), bahwa sebagian besar
penderita diare akut berusia 1 bulan - < 2 tahun yaitu 76 balita (73,1%). Hasil ini
juga sejalan dengan hasil yang didapatkan oleh Sinthamurniwaty (2006) dalam
peneliriannya di Kabupaten Semarang, dimana kasus diare pada balita terbanyak
31

ditemukan pada rentang umur 11 20 bulan ( 54 % ) serta Palupi et al. (2009),


dimana prevalensi diare tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan.
Tingginya kejadian pada kelompok umur tersebut karena kekebalan alami
pada anak dibawah umur 24 bulan belum terbentuk, sehingga kemungkinan
terjadinya infeksi lebih besar. Hal ini dapat terjadi karena penyapihan atau
pemberian makanan tambahan yang dimulai ketika umur anak kurang dari 24
bulan, sehingga anak-anak sudah terpapar pada pengganti air susu ibu dan
makanan tambahan yang kemungkinan pengolahannya kurang higienis (Palupi et
al., 2009).
4.7.2 Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa
penderita diare pada balita usia 0-5 tahun di Puskesmas Langsa Timur Tahun 2014
mayoritas terjadi pada balita jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 279 orang
(51.29%) dan minoritas tejadi pada balita jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak
265 orang (48,71%).
Hal ini sesuai dengan Riskerdas 2007 yang mengatakan bahwa angka
kejadian penyakit diare tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan,
karena memiliki resiko yang sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada
perempuan (Kementerian kesehatan RI. 2011. Buletin jendela data dan informasi
kesehatan, volume II).

32

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pelaksanaan mini projek dapat disimpulkan bahwa :
1. Jumlah kunjungan pasien balita dengan diagnosa Diare pada Tahun 2014
yaitu sebesar 4,17% atau 544 balita dari total seluruh pasien di Puskesmas
Langsa Timur sebanyak 130362.
2. Total kunjungan pasien balita dengan diagnosa Diare tertinggi pada

rentang usia 0 - <2 tahun yaitu sebanyak 356 balita dari total kunjungan
pasien Diare pada usia balita Tahun 2014 atau sebesar 65,40%.
3. Total kunjungan pasien balita dengan diagnosa Diare tertinggi pada jenis

kelamin perempuan yaitu sebanyak 279 balita dari total kunjungan pasien
Diare pada usia balita Tahun 2014 atau sebesar 21.29%
5.2 Saran
1. Diharapkan

kepada

peneliti

untuk

dapat

menambah

wawasan,

pengetahuan dan kemampuannya sendiri serta dapat mengembangkannya


dengan memberikan ilmu yang telah didapat selama meneliti kepada
masyarakat luas yang membutuhkannya.
2. Diharapkan bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga kesehatan dan
memperhatikan kebersihan lingkungan serta pola makan yang sehat
sebagai upaya pencegahan dari penyakit diare.
3. Diharapkan bagi tenaga kesehatan agar waspada terhadap kehadiran
manifestasi klinis dan laboratoris penyakit diare, serta dapat melakukan
tindakan yang tepat apabila menjumpai kasus diare termasuk dalam
menetapkan kasus yang membutuhkan dirujuk ke sentra kesehatan yang
lebih lengkap fasilitasnya.

33

4. Diharapkan bagi orang tua penderita diare agar dapat saling bekerja sama
dengan tenaga kesehatan dan berobat secara teratur untuk lebih
berhasilnya dalam pelaksanaan terapi.
5. Diharapkan kepada pihak Puskesmas Langsa Timur agar dapat
melengkapi data pasien dalam melakukan rekam medik (medical record)
agar semua data pasien dapat diketahui secara lengkap.

34