You are on page 1of 27

HUKUM OHM

Oleh:
Mr X
ABSTRAK

Telah dilakukan praktikum percobaan tentang hokum ohm. Percobaan tentang


hokum ini bertujuan untuk membuktikan hokum ohm, menginterprestasikan
grafiktegangan dan arus, serta menentukan besar hambatan suatu penghantar. Dari
hasil percobaan diperoleh data sebagai berikut.

Pada percobaan hokum ohm ini terdapat suatu rangkaian listrik yang akan
diberikan hambatan dengan tegangan yang akan menghasilkan suatu arus listri. Pada
percobaan hokum ohm ini dilakukan dengan menggunakan hambatan yang berbeda-
beda yaitu 47Ω, 100Ω, 470Ω. Dan untuk mencari suatu arus listrik terlebih dahulu
kita merangkai dan meletakkan suatu hambatan tersebut dengan bantuan baterai
sebesar 3V, kemudian setelah hambatan tersebut diletakkan dalam suatu rangkaian
tersebut maka kita mengatur arus yang masuk pada multimeter atau volt meter dalam
Potensionermeter. Disini juga terdapat scalar untuk menghidupkan suatu arus
tersebut.

Untuk melakukan percobaan tiap-tiap hambatan dilakukan percobaan diulang


sebanyak 3 kali. Masing-masing hambatan menghasilkan suatu kuat arus dan
tegangan yang berbeda-beda. Dalam percobaan, dengan hambatan sebesar 47Ω
setelah diatur dalam potensiometer dapat menghasilkan suatu kuat arus sebesar
0,055A dengan tegangan nya sebesar 25,85V yang diperoleh dari suatu arus dikalikan
dengan hambatannya. Dalam percobaan kedua dengan hambatan yang berbeda yaitu
100Ω dengan kuat arus yang sama menghasilkan suatu tegangan sebesar 5,5V.
kemudian untuk percobaan yang ketiga dengan hambatan sebesar 470Ω dengan kuat
arus yang sama menghasilkan suatu tegangan sebesar 25,85V.

Setelah percobaan yan pertama telah dilakukan maka kita melakukan


percobaan yang kedua dengan menggunakan kuat arus yang berbeda. Dengan
menggunakan hambatan yang 47Ω setelah diatur dengan potensiometer dapat
menghasilkan suatu kuat arus sebesar 0,036A dengan tegangan 1,692V. Dalam
percobaan yang kedua dengan kuat arus yang sama tetapi menggunakan hambatan
100Ω dapat menghasilkan suatu tegangan sebesar 3,6V. kemudian untuk percobaan
yang ketiga juga menggunakan hambatan yang berbeda yaitu 470Ω tetapi masih
menggunkan kuat arus yang kedua yaitu 0,036 sehingga menghasilkan suatu tegangan
sebesar 16,92V.

Untuk percobaan yang terakhir yaitu percobaan yang ketiga disini


menggunakan hambatan yaitu 47Ω dengan mengatur potensiometer dapat
menghasilkan kuat arus sebesar 0,045A dengan tegangannya yaitu 2,115V. Dalam
percobaan yang kedua dengan kuat arus yang sama tetapi dengan hambatan yang
berbeda yaitu 100Ω dapat menhhasilkan suatu tegangan 4,5V. Yang terakhir dalam
percobaan kuat arus ini menggunakan hambatan 470Ω dengan tegangannya yaitu
21,15V.

Setelah percobaan hokum ohm terhadap kuar arus telah dilakukan disini akan
dilakukan suatu percobaan yang sama tetapi disini dengan hambatan yang tetap.
Untuk melakukan percobaan sama seperti kuat arus. Setelah hambatan diletakkan
pada rangkaian tersebut maka percobaan dimulai dan diulang sebanyak tiga kali.
Untuk hambatan 47Ω dan setelah potensiometer telah diatur maka dapatlah tagangan
sebesar 2,73V dan kuat arusnya sebesar 0,058A. Dan untuk percobaan yang kedua
dengan hambatan yang sama dengan menggunakan potensometer didapat tegangan
sebesar 2,73V dengan kuat arus sebesar 0,058A. untuk percobaan yang ketiga dengan
hambatan yang sama pula yaitu 47Ω menghasilkan tegangan dan kuat arus yang besar
masing tersebit yaitu 3,1V dan 0,065A.

Setelah hambatan yang pertama selesai dilakukan percobaan yang kedua


disini akan diganti hambatannya yaitu 100Ω dengan menggunakan potensiometer
yang telah diatur dapat menghasilkan tegangan sebesar 3,3V dan kuat arusnya 0,33.A
Dilakukan percobaan yang kedua dengan hambatan yang sama dan menggunkan
potensiometer yang telah diatur menghasilkan tegangan 2,9V dengan kuat arus
0,29A. Untuk percobaan yang ketiga ini dengan hambatan yang masih sama
menghasilkan tegangan 3,1V dengan kuat arus 0,31A.

Percobaan yang terakhir untuk hambatan yang cukup besar yaitu 470Ω dan
masih menggunakan potensiometer untuk mengatur arus yang masuk setelah diatur
sehingga menghasilkan tegangan sebesar 3,3V dan kuat arus 0,007A. Setelah itu
percobaan yang kedua dengan hambatan yang sama dihasilkan tegangan sebesar 3,1
dengan kuat arus 0,0065A. Yang terakhir percobaan yang dengan hambatan 470Ω
menghasilkan tegangan 2,9V dan kuat arusnya yaitu 0,006A.

Setelah percobaan tentang hokum ohm yang dilakukan pada kuat arus yang tetap dan
dengan hambatan yang tetap dapat disimpulkan melalui data yang diperoleh bahwa
ketelitian dalam menghitung dan menentukan atau mengatur suatu alat potensiometer
sangan diperlukan karena alat tersebut salah satu langkah setelah hambatan
diletakkan pada suatu rangkaian aruys tersebut. Dalam kuar arus semakin besar
hambatan mempengaruhi besarnya suatu tegangan, walaupun dalam percobaan
tersebut ada yang menghasilkan tegangan yang besarnya sama. Namun dini arus yang
masuk dalm potensiometer juga dapat berpengaruh besarnya kuat arus dalam
rangkaiain tersebut.

Dalam hambatan tetap disini semaakin besar tegangan yang diperoleh maka
semakin besar juga kuar arus yang dihasilkan meski dalam percobaan ditemikan
dimana saat kuat arus tersebut mengalami kesamaan besar misalkan disini dalam
percobaan yang pertama dengan yang kedua dengan hambatan 47Ω disini sama-sama
menghasilkan kuat arus yang yaitu sebesar 0,058A. Namun dalam hambatan yang
berbeda-beda disini dalam tegangan yang dihasilkan semakin banyak dilakukan
percobaan semakin turun suatu besar tegangan tersebut di sini di karenakan catu daya
atau bisa baterai mulai mengalami penurunan besar tegangan tersebut. Semakin lama
dipakai maka semakin lemah kekuatan baterai tersebut sehingga di sini baterai sangat
berpengaruh berjalannya suatu rangkaiai arus tersebut.

Pada setiap percobaan tidak selamanya sempurna atau dapat dikatakan data-
data yng diperoleh semuanya benar tetapi dalam melakukan percobaan pasti ada
kesalahan relative pada tiap-tiap percobaan. Pada percobaan hokum ohm, terdapat
kesalahan relative pada kuat arus tetap sebesar 14,9 %. Dan percobaan ini juga
menghasilkan besar nya kuat arus dari I1,I2,I3 yaitu sebesar 0,045A (45 x 10-3A).
Terjadinya kesalahan relative disini disebabkan kuarangnya ketelitian dalam
melakukan percobaan.

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................

ABSTRAK...............................................................................................

DAFTAR ISI............................................................................................

I. PENDAHULUAN................................................................................
A. Latar Belakang..................................................................
B. Tujuan percobaan..............................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................

III. PROSEDUR PERCOBAAN.............................................................


A. ALat dan Bahan................................................................
B. Prosedur percobaan...........................................................

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN............................


A. Data Pengamatan...............................................................
B. Pembahasan.......................................................................

V. KESIMPULAN...................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hukum ohm semulanya terdiri atas dua bagian. Bagian pertama tidak lain
ialah definisi hambatan yakni V = IR. Sering hubungan ini dinamai hukum ohm.
Akan tetapi Ohm juga menyatakan bahwa R adalah suatu kostanta yang tidak
tergantung pada V maupun I. bagian kedua ini hukum tidak terlalu benar seluruhnya.
Hubungan V=IR dapat diterapkan pada resistor apa saja di mana V adalah beda
potensial antara kedua ujung hambatan dan I adalah arus yang mengalir di dalamnya,
sedangkan R adalah hambatan atau resistansi resistor tersebut.

Hokum ohm berbunyi “kuat arus yang mengalir dalam suatu penghantar
(hambatan) besarnya sebanding dengan beda potensial (tegangan) antara ujung-
ujung penghantar tersebut”. Pernyataan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut
yaitu I∞V.

Dan dalam kehidupan sehari-hari kuat arus diperlukan seperti kuat arus listrik.
Sebagai contoh jika menghubungkan kawat ke baterai 6 V, aliran arus akan dua kali
lipat dibandingkan jika dihubungkan ke 3 V. Pada hokum ohm disini
menghubungkan antara kuar arus, tegangan dan hambatan.Untuk membuktikannya
diperlukan sebuah percobaan.

Disini misalkan diambil sebuah contoh arus listrik dengan aliran air di sungai
atau pipa yang dipengaruhi oleh gravitasi. Jika pipa atau sungai hamper rata,
kecepatan alir akan kecil. Tetapi jika satu ujung lebih tinggi dari yang lainnya,
kecepatan aliran – atau arus – akan lebih besar. Makin besar perbedaan ketinggian
makin besar arus. Bahwa potensial listrik analog, pada kasus gravitasi dengan
ketinggian terbing, dan hal itu berlaku pada kasus ini untuk ketinggian dari mana
fluida mengalir. Sama seperti penambahan ketinggian menyebabkan aliran air yang
lebih besar, demikian pula beda potensial listrik yang lebih besar atau tegangan
menyebabkan aliran arus listrik menjadi lebih besar.

Tepatnya berapa besar aliran arus pada kawat tidak hanya tergantung pada
tegangan tetapi juga pada hambatan yang diberikan kawat terhadap aliran electron.
Dinding-dinding pipa atau tepian sungai dan batu-batu di tengahnya, memberikan
hambatan terhadap aliran arus. Dengan cara yang sama electron-elektron diperlambat
karena adanya interaksi dengan atom-atom kawat. Makin tinggi hambatan ini makin
kecil arus untuk suatu tegangan V. sehingga arus berbading terbalik dengan
hambatan.

Pengukuran hambatan dengan amperemeter dan voltmeter

Arus listrik pada rangkaian diukur dengan memasang amperemeter (berhambatan


rendah) secara seri di dalamnya. Beda potensial diukur dengan menghubungkan
voltmeter (berhambatan tinggi) pada kedua ujung resistor yang sedang dicari jadi
dihubungkan secara parallel. Hambatan ressostor dihitung sebagai hasilbagi
penunjukan voltmeter dengan apa yang terbaca pada ampereneter,sesuai hukum ohm
R=V/I. (jikalau nilai resistansi diinginkan dengan tepat, hambatan voltmeter dan
amperemeter harus ikut diperhitungkan dalam rangkaian).

A. Tujuan Percobaan
Adapun ada tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1 Membuktikan hokum ohm
2 Menginterprestasikan grafik tegangan dan arus
3 Menentukan besar hambatan suatu penghantar
II TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Ohm

Pada dasarnya sebuah rangkaian listrik terjadi ketika sebuah penghantar


mampu dialiri electron bebas secara terus menerus. Aliran yang terus-menerus ini
yang disebut dengan arus, dan sering juga disebut dengan aliran, sama halnya dengan
air yang mengalir pada sebuah pipa.

Tenaga (the force) yang mendorong electron agar bisa mengalir dalam sebauh
rangkaian dinamakan tegangan. Tegangan adalah sebenarnya nilai dari potensial
energi antara dua titik. Ketika kita berbicara mengenai jumlah tegangan pada sebuah
rangkaian, maka kita akan ditujukan pada berapa besar energi potensial yang ada
untuk menggerakkan electron pada titik satu dengan titik yang lainnya. Tanpa kedua
titik tersebut istilah dari tegangan tersebut tidak ada artinya.

Elektron bebas cenderung bergerak melewati konduktor dengan beberapa


derajat pergesekan, atau bergerak berlawanan. Gerak berlawanan ini yang biasanya
disebut dengan hambatan. Besarnya arus didalam rangkaian adalah jumlah dari energi
yang ada untuk mendorong electron, dan juga jumlah dari hambatan dalam sebuah
rangkaian untuk menghambat lajunya arus. Sama halnya dengan tegangan hambatan
ada jumlah relative antara dua titik. Dalam hal ini, banyaknya tegangan dan hambatan
sering digunakan untuk menyatakan antara atau melewati titik pada suatu titik.

Untuk menemukan arti dari ketetapan dari persamaan dalam rangkaian ini,
kita perlu menentukan sebuah nilai layaknya kita menentukan nilai masa, isi, panjang
dan bentuk lain dari persamaan fisika. Standard yang digunakan pada persamaan
tersebut adalah arus listrik, tegangan ,dan hambatan.
Symbol yang digunakan adalah standar alphabet yang digunakan pada persamaan
aljabar. Standar ini digunakan pada disiplin ilmu fisika dan teknik, dan dikenali
secara internasional. Setiap unit ukuran ini dinamakan berdasarkan nama penemu
listrik. Amp dari orang perancis Andre M. Ampere, volt dari seorang Italia
Alessandro Volta, dan ohm dari orang german Georg Simon ohm.

Simbol matematika dari setiap satuan sebagai berikut “R” untuk resistance
(Hambatan), V untuk voltage (tegangan), dan I untuk intensity (arus), standard
symbol yang lain dari tegangan adalah E atau Electromotive force. Simbol V dan E
dapat dipertukarkan untuk beberapa hal, walaupun beberapa tulisan menggunakan E
untuk menandakan sebuah tegangan yang mengalir pada sebuah sumber ( seperti
baterai dan generator) dan V bersifat lebih umum.

Salah satu dasar dalam perhitungan elektro, yang sering dibahas mengenai
satuan couloumb, dimana ini adalah besarnya energi yang setara dengan electron
pada keadaan tidak stabil. Satu couloumb setara dengan 6.250.000.000.000.000.000.
electron. Symbolnya ditandai dengan Q dengan satuan couloumb. Ini yang
menyebabkan electron mengalir, satu ampere sama dengan 1 couloumb dari electron
melewati satu titik pada satu detik. Pada kasus ini, besarnya energi listrik yang
bergerak melewati conductor (penghantar).

Sebelum kita mendefinisikan apa itu volt, kita harus mengetahui bagaimana
mengukur sebuah satuan yang kita ketahui sebagai energi potensial. Satuan energi
secara umum adalah joule dimana sama dengan besarnya work (usaha) yang
ditimbulkan dari gaya sebesar 1 newton yang digunakan untuk bergerak sejauh 1
meter (dalam satu arah). Dalam british unit, ini sama halnya dengan kurang dari ¾
pound dari gaya yang dikeluarkan sejauh 1 foot. Masukkan ini dalam suatu
persamaan, sama halnya dengan I joule energi yang digunakan untuk mengangkat
berat ¾ pound setinggi 1 kaki dari tanah, atau menjatuhkan sesuatu dengan jarak 1
kaki menggunakan parallel pulling dengan ¾ pound. Maka kesimplannya, 1 volt
sama dengan 1 joule energi potensial per 1 couloumb. Maka 9 volt baterai akan
melepaskan energi sebesar 9 joule dalam setiap couloum dari electron yang bergerak
pada sebuah rangkian.

Satuan dan symbol dari satuan elektro ini menjadi sangat penting diketahui
ketika kita mengeksplorasi hubungan antara mereka dalam sebuah rangkaian.

Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir
melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang
diterapkan kepadanya.Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm
apabila nilai resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda
potensial yang dikenakan kepadanya.Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku
untuk semua jenis penghantar, namun istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan
sejarah.

Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:

dimanaI adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere, V adalah
tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt, dan R adalah nilai
hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm.
Hubungan antara arus listrik, tegangan listrik, dan harrabatan listrik dalam
suatu rangkaian dinyatakan dalam hukum Ohm. Nama Ohm diambil dari
seorang ahli fisika dan matematika Jerman, George Simon Ohm (1787 - 1854)
seorang fisikawan dari Jerman pada tahun dan dipublikasikan pada sebuah paper
yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada tahun
1827 yang membuat teori ini. Ketika Ohm membuat percobaan tentang listrik, ia
menemukan:
a. Bila hambatan tetap, arus dalam setiap rangkaian adalah berbanding langsung
dengan tegangan. Bila tegangan bertambah, maka aruspun bertambah. Dan bila
tegangan berkurang maka aruspun berkurang.
b. Bila tegangan tetap, maka arus dalam rangkaian menjadi berbanding terbalik
terhadap rangkaian itu. Bila hambatan bertambah, maka arus berkurang dan
bila hambatan berkurang maka arus bertambah.
1 1A 2A 0,5V
10 v r = 10Ω 20 v r = 10Ω 5v r = 10Ω
Gambar. 2-21

Dalam hambatan yang tetap, arus dan tegangan berbeda-beda.


Satuan dari hambatan listrik adalah Ohm ((simbul S2 dibaca = Omega).
Hukum Ohm dapat dinyatakan dalam bentuk rumus, dasar rumusnya dinyatakan
sebagai berikut:
E E
R= atau E=IxR atau I =
I R
R = menunjukan banyaknya hambatan listrik
I = menunjukan banyaknya aliran arus listrik
E = menunjukan banyaknya tegangan listrik di dalam rangkaian tertutup.
- Satuan dari hambatan adalah satu Ohm (1Ω)
- Satuan dari aliran arus adalah satu ampere (I A).
- Satuan dari tegangan listrik adalah satu Volt (1 V)

Sifat arus

Di dalam logam, arus seluruhnya dibawa oleh elektron, sedangkan ion positif
yang berat berada tetap pada kedudukan yang biasanya dalam struktur kristal. Hanya
elektron valensi (elektron yang terluar) saja yang bebas berperan serta dalam proses
penghantaran; elektron yang lain terikat kuat pada ionnya. Dalam keadaan tunak,
elektron dicatu ke dalam logam dari salah satu ujungnya dan dikeluarkan dari ujung
yang lain, sehingga menghasilkan arus, tetapi logam itu secara keseluruhan netral
dipandang dari segi listrik-statik.
Tegangan Listrik
Tegangan listrik (kadang disebut sebagai Voltase) adalah perbedaan potensi
listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik, dinyatakan dalam satuan volt. Besaran
ini mengukur energi potensial sebuah medan listrik untuk menyebabkan aliran listrik
dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan potensi listrik satu
tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi atau ekstra
tinggi. V= I .R

Satuan SI untuk Tegangan adalah volt (V).

Tegangan listrik dapat dimisalkan dengan tekanan air di dalam menara m. Di


atas menara itu, air disimpan dalam bak air. Makin tinggi letak bak air itu makin
besar pula tekanannya. Jika keran dibuka air mulai bergerak di dalam pipa.
Kecepatan mengalirnya berhubungan erat dengan tekanan air tersebut.

Hambatan listrik

Hambatan ialah gesekan atau rintangan yang diberikan suatu bahan terhadap
suatu aliran arus. Dengan adanya gesekan atau rintangan ini, menyebabkan gerak
elektron berkurang. Hambatan-hambatan ini yang menghalang't gerak elektron
disebut resistansi. Jadi resistansi adalah hambatan listrik, makin besar resistansi
sebuah penghantar, semakin kecil arus listrik yang megalirnya. Sedangkan alat
resistansi disebut resistor at4u tahanan (ditulis dengan notasi huruf R). Akibat
adanya gesekan atau rintangan (resistansi) pada aliran elektron, maka sejumlah
energi listrik berubah menjadi energi panas.
Resistor (Hambatan) dapat pula berupa lampu atau elemen pemanas. Tetapi
kawat yang panjangpun dapat memberikan hambatan tertentu .

Kuat arus dan Tegangan

Kuat arua (I) dapat didefinisikan “ jumlah muatan yang mengalir


melalui suatu penampang persatuan waktu”. Dari definisi di atas kuat arus
dapat dirumuskan sebagai berikut:

I = dq per dt = qper t

Keterangan

dq = jumlah muatan ( coulomb= C )


dt = selisih waktu ( detik )
I = kuat arus ( ampere=A)

Satuan kuat arus adalah coulomb/detik atau ampere.


(Aspirasi Cerdas Fisika kelas X semester 2, hal 85-86)

Hukum Ohm: Hambatan dan Resistor

Untuk menghasilkan arus listrik pada rangkaian, dibutuhkan beda potensial.


Satu cara untuk menghasilkan beda potensial ialah dengan baterai. Georg simon
Ohm (1787-1854) menentukan dengan eksperimen bahwa arus pada kawat logam
sebanding dengan beda potensial V yang diberikan ke ujung ujungnya: I- V.

Sebagai contoh, jika kita menghubungkan kawat ke baterai 6 V, aliran arus


akan dua kali lipat dibandingkan jika dihubungkan ke baterai 3 V.
Akan sangat membantu jika kita bandingkan arus listrik dengan aliran di sungai
atau pipa yang dipengaruhi oleh gravitasi. Jika pipa (atau hampir rata,
kecepatan alir akan kecil. Tetapi jika satu ujung lebih dari yang lainnya,
kecepatan aliran atau arus akan lebih besar.

Makin besar perbedaan ketinggian, makin besar arus. Kita lihat pada Bab 17
bahwa potensial listrik analog, pada kasus gravitasi, dengan ketinggian tebing; hal itu
berlaku pada kasus ini untuk ketinggian dari mana fluida mengalir. Sama
seperti penambahan ketinggian menyebabkan aliran air yang besar, demikian pula
beda potensial listrik yang lebih besar, atau tegangan, menyebabkan aliran arus
listrik menjadi lebih besar.

Tepatnya berapa besar aliran arus pada kawat tidak hanva bergantung
pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang diberikan kawat terhadap
aliran elektron. Dinding-dinding pipa, atau tepian sungai dan batu-batu di
tengahnya, memberikan hambatan terhadap aliran arus. Dengan cara yang
sama, elektron-elektron diperlambat karena adanya interaksi dengan atom atom
kawat makin tinggi hambatan ini, makin kecil arus untuk suatu tegangan V.
Kita kemudian mendefinisikan hambatan sehingga arus berbanding terbalik
dengan hambatan. Ketika kita gabungkan hal ini dakesebandingan di atas,
V
kita dapatkan I = di mana R adalah hambatan kawat atau suatu alat lainnva,
R
V adalah beda potensial yang melintasi alat tersebut, dan I adalah arus yang
mengalir padanya. Hubungan ini (Persamaan 18-2) sering dituliskan V = I R, dan
dikenal sebagai hukum Ohm. Banyak fisikawan yang akan mengatakan bahwa
ini bukan merupakan hukum, tetapi lebih berupa definisi hambatan. Jika kita
ingin menyebut sesuatu sebagai hukum Ohm hal tersebut akan berupa
pernyataan bahwa arus vang melalui konduktor logam, sebanding dengan
tegangan yang diberikan, I V. Sehingga, R konstan, tidak bergantung pada V,
untuk konduktor logam. Tetap hubungan ini tidak berlaku umum untuk bahan
dan alat lain seperti dioda, tabung hampa udara, transistor, dan sebagainya.
Dengan demikian "hukum Ohm" bukan merupakan hukum dasar, tetapi lebih
berupa deskripsi mengenai kelas bahan (konduktor logam) tertentu . Kebiasaan -
menyebut hukum Ohm demikian melekat sehingga kita tidak akan
mempermasalahkan penggunaannya, selama kita tetap ingat batasannya Bahan
atau alat yang tidak mengikuti hukum Ohm dikatakan nonohmik.. Definisi
hambatan R = V/I uga dapat dalam hal ini, R tidak akan yang diberikan.
Satuan untuk hambatan disebut ohm dan disingkat Q (huruf besar Yunani untuk
omega). Karena R = V/I, kita lihat bahwa 1,0 Ω ekivaler. dengan 1,0 V / A.
(Giancoli.Fisika Edisi kedelapan jilid 2.Hal 67-68)

Sehingga Rumus hokum I Ohm : V A-VB = I.R atau V AB = I.R atau sering ditulis
V = I.R

Keterangan

V = beda potensial listrik antara 2 titik dalam Volt(V)


I = kuat aeus listrik dalam ampere (A)
R = tahanan listrik penghantar dalam ohm (Ω)

Amperemeter dan Voltmeter

Arus yang mengalir pada suatu konduktor diukur engan menghubungkan


alat pengukur arus yang disebut amperemeter/galvanometer. Sifat alat ini,
anatara lain :
a. Dipakai untuk mengatur kuat arus
b. Mempunyai hambatan yang sangat kecil
c. Dipasang seri dengan alat yang akan diukur

Untuk mengukur kuat arus yang sangat besar, yang melebihi batas
ukurnya dipasang tahanan Shunt secara parallel dengan amperemeter. Alat
amperemeter dengan tahanan Shunt disebut Ammeter.

Voltmeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur beda potensial. Sifat
voltmeter:
a. Dipakai untuk mengukur beda potensial
b. Mempunyai tahanan dalam yang sangat besar
c. Dipasang parallel dengan alat kawat yang hendak diukur potensialnya

Daya Listrik

Energi listrik berguna untuk kita karena dapat dengan mudah diubah menjadi
energi bentuk lain. Motor, merubah energi listrik menjadi kerja mekanik. Isolator
pada alat-alat lain seperti pemanas listrik, kompor, pemanggang, dan pengering rambut,
energi listrik diubah menjadi energi panas pada hambatan kawat yang dikenal
dengan nama "elemen pemanas". Dan pada banyak bola lampu biasa, filamen kawat
yang kecil menjadi sedemikian panas sehingga bersinar, lampu hanya beberapa persen
energi yang diubah menjadi cahaya tampak, dan sisanya, lebih dari 90 persen,
menjadi energi panas. Filamen bola lampu dan elemen pemanas pada alat-alat
rumah tangga memiliki hambatan yang biasanya berkisar antara beberapa ohm
sampai beberapa ratus ohm.

Energi listrik diubah menjadi energi panas atau cahaya pada alat-alat seperti itu
karena anus biasanya agak besar, dan ada banyak tumbukan antara elektron yang
bergerak dan atom pada kawat. Pada setiap tumbukan, sebagian energi elektron
ditransfer ke atom yang ditumbuknya. Sebagai akibatnya, energi kinetik atom
bertambah dan dengan demikian temperatur elemen kawat bertambah. Energi panas yang
bertambah ini (energi dalam) dapat ditransfer sebagai kalor dengan konduksi dan
konveksi ke udara pada pemanas atau ke makanan pada wajan, dengan radiasi ke
roti pada pemanggang, atau diradiasikan sebagai cahaya.

PROSEDUR PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


Alat dan bahan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Catu Daya atau Baterai

2. Voltmeter atau Multitester


3. Amperemeter
4. Resistor atau hambatan
5. Lampu
6. Kabel Penghubung
7. Papan rangkaian
8. Jembatan penghubung
9. Potensiometer
10. Skalar

B. Prosedur Percobaan

Kuat arus

1. Mendengarkan intruksi dari dosen


2. Menyiapkan alat dan bahan
3. Memasang rangkain Listrik dan memberitahukan kepada assisten supaya
memeriksa sebelum rangkaian tersebut dihubungkan dengan sumber tegangan
4. Setelah memeriksa lalu mengatur skalar dalam posisi terhubung ( On )
5. Mengatur potensio pada catu daya sehingga Amperemeter menunjukkan pada
angka terentu ( I1 ), kemudian mencatat petunjuk pada Amperemeter dan
Voltmeter serta besarnya resistor yang digunakan
6. Mengulangi langkah 2-3 dengan mengganti resistor
7. Dengan mengubah nilai arus menjadi (I2) lakukan langkah 2-4
8. Mengulangi hingga 3 variasi arus

Hambatan tetap

Setelah percobaan Kuat arus selesai kemudian melakukan percobaan untuk


hambatan tetap dengan prosedur percobaan sebagai berikut:
1. Mendengarkan intruksi dari Assisten dosen
2. Menyiapkan kembali alat dan bahan
3. Memasang rangkain listrikny dan memberitahukan kepada assisten dosen
supaya diperiksa sebelum rangkaian tersebut dihubungkan dengan sumber
tegangan
4. Setelah memeriksa lalu mengatur skalar dalam posisi terhubung (On)
5. Mengatur ujung Voltmeter pada hambatan dengannilai tertentu (R1) dan
mencatat besarnya arusdan tegangan
6. Pada resistor yang sama mengulangi untuk Voltase yang berbeda-beda
7. Mengulangi langkah 2-4 dengan mengganti vresistor (R2)
8. Mengulangi hingga 5 variasi hambatan
IV. HASIL PENGAMATAN

A. Data pengamatan

KUAT ARUS TETAP

NO I1= I2= I3= 0,045 Α


0,055 Α 0,036 Α
R V R V R V
1 47 Ω 25,85 V 47 Ω 1,69 V 47 Ω 2,12 V
2 100 Ω 5,5 V 100 Ω 3,6 V 100 Ω 4,5 V
3 470 Ω 25,85 V 470 Ω 16,92 V 470 Ω 21,15 V

B. Pembahasan

1. Untuk mencari I1 dengan cara:

I1 =

I1 = x 100mA
= 0,55A x 0,1 A
= 0,055 A

 Dengan rumus V = I.R dapat diperoleh

 Pada R= 47 Ω , I1= 0,055 A maka

V = I.R

= 0,055 A . 47 Ω

= 25,85 V
 Untuk R= 100 Ω, I1= 0,055 maka,

V =IR

= 0,055 A . 100 Ω
= 5,5 V
 Untuk R = 470 Ω, I1= 0,055 Α maka,
V = I. R

= 0,055 A . 470 Ω

= 25,85 V

2. Untuk mencarai I2 dengan cara:

I2 =

I2 =
= 0,36 x 0,1 A
= 0,036 A

 Dengan rumus V = I.R dapat diperoleh

 Pada R= 47 Ω, I2= 0,036 A

V=I.R

= 0,036 A . 47 Ω

= 1,69 V

 Untuk R = 100 Ω, I2= 0,036 A

V=I.R

= 0,036 A . !00 Ω

= 3,6 V

 Untuk R= 470 Ω, I2= 0,036 A

V = I.R

= 0,036 A . 470 Ω
= 16,92 V

3. Untuk mencarai I3 dengan cara:

I3 =

I3 =
= 0,45A x 0,1 A
= 0,045A

 Dengan rumus V = I.R dapat diperoleh

 Pada R= 47 Ω, I2= 0,045 A

V=I.R

= 0,045 A . 470 Ω

= 2,11 V

 Untuk R = 100 Ω, I2= 0,045 A

V=I.R

= 0,045 A . !00 Ω

= 4,5 V

 Untuk R= 470 Ω, I2= 0,045 A

V = I.R

= 0,045 A . 470 Ω

= 21,15 V

Kesalahan Relative

Ī=
=

= A

= 0,045 A

=
= 0,003025 + 0,001296 + 0,002025
= (3025 x
= 6346 x A

ΔI =

= 6,721 x

KR = x 100%
=

= 14,9 %

NT =

= atau

HAMBATAN TETAP

NO R1= 47 R2= R3= 470Ω


Ω 100Ω
I V I V I V
1 0,058A 2,73 V 0,33A 3,3 V 0,007A 3,3 V
2 0,058A 2,73 V 0.29A 2,9 V 0,0065A 3,1 V
3 0,065A 3,1V 0,31A 3,1 V 0,006A 2,9 V

 Untuk mencari V dapat menggunakan

V=

 Pada R= 47Ω

• Percobaan pertama
V=

= 2,73V
• Untuk I =

= 0,058A

• Percobaan kedua

V=

= 2,73V

• Untuk I =

=
=0,058A
• Pada percobaan ketiga

V=

= 3,1V

• Untuk I =

=
= 0,065A

 Pada R2= 100Ω

• Percobaan pertama

V=

= 3,3 V
• Untuk I=

=
= 0,33A
• Percobaan kedua

V=

= 2,9V

• Untuk I =

=
= 0,29A
• Percobaan ketiga

V=

= 3,1V

• Untuk I =

=
= 0,31A

 Pada R3 = 470Ω

• Pada percobaan pertama

V=

= 3,3V

• Untuk I=

=
= 0,007A
• Pada percobaan kedua

V=

= 3,1V

• Untyuk I =

=
= 0,0065A
• Pada percobaan ketiga

V=

= 2,9V

• Untuk I =

=
= 0,006A
V. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:

1. Bahwa hukum ohm telah dibuktikan dengan alasan bahwa Sebuah benda
penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak
bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan
kepadanya.Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis
penghantar, namun istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan sejarah.

Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan V=IR

2. Dari data yang telah diperoleh dari percobaan dapat digambarkan grafik yang
menghubungkan antara kuat arus dan tegangan.

3. Dari percobaan yang telah dilakukan besar hambatan suatu penghantar yang
diperoleh dengan menggunakan alat multitester dan hambatan yang diperoleh
semakin besar maka tegangannyapun besar.
4. Pada percobaan kedua disini arus yang masuk mengalami penurunan
dan jika arus yang masuk kecil tegangannya pun menurun.
5. Dalam penurunan ini diakibatkan penurunan daya pada baterai dan
ketelitian dalam pengamatan.
DAFTAR PUTAKA

R. Reitz, John, Frederick J Milford, Robert W Christy. 1993, Dasar Teoti Listrik

Magnet, Bandung, ITB

Giancoli, C.Douglas, 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Robertson, B. John._____Tekhhnik Listrik Praktis._____: Yrama Wiidya.

Bueche, J,Frederick, 1989. Seri Buku Schaum Teori dan Soal-soal Fisika edisi

Kedelapan._____: Erlangga.

Soetarmo. 2004. Aspirasi Cerdas Fisika Kelas X Semester 2. Surakarta: Widya Duta.

www.google.com
LAMPIRAN

TUGAS

1. Buatlah grafik hubungan antara kuat arus(sebagai absis) dan tegangan


(sebagai ordinat) dari data yang telah anda buat.
2. Tentukan besarnya hambatan berdasarkan grafik yang telah anda buat.
3. Tentukan nilai hambatan berdasarkan hokum ohm.
4. Bandingkan nilai hambatan hasil perhitungan dari grafik, berdasarkan Hukum
Ohm dan pengukuran langsung. Lakukan pembahasan dan ambil kesimpulan

JAWAB

1. Data hubungan antara kuat arus dan tegangan

No Hambatan(R) Arus (I) Tegangan (V)


10A 4V
1 47Ω 20A 8V
25A 14V
10A 9V
2 100Ω 20A 3V
25A 5V
2. Besarnya hambatan dari grafik adalah

Rt = R1 + R 2
= 47Ω + 100Ω
= 147Ω

3. Nilai hambatan sesuai dengan hokum ohm

V=IxR

V
R=
I
Jika V = 4V dan I = 10A data ini sesua dengan gafik yang diperoleh
V
Maka , R=
I

4V
=
10 A
= 0,4 Ω

4. Dari data yang diperoleh perbandingan antara nilai hambatan grafik dengan
hokum adalah dari grafik terdapat 147Ω sedangkan dari hokum ohm 0,4Ω.
Disini terjadi perbedaan karena pada grafik telah ditentukan hambatannya,
sedangkan pada hokum ohm di sini kami mengambil data dari arus dan
tegangan dari data grafik sehingga dapat dicari hambatannya ( R ).