You are on page 1of 37

MOTOR LISTRIK

DASAR TEKNIK TENAGA LISTRIK

OLEH :
PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang
mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Motor listrik pertama kali
diciptakan pada tahun 1889 oleh Thomas Alpha Edison, seorang inventor
Amerika. Motor listrik buatan Edison tersebut memiliki kekuatan 300 tenaga
kuda.
Energi mekanik yang dihasilkan oleh motor listrik ini digunakan
untuk, misalnya, memutar impeller pompa, fan atau blower, menggerakkan
kompresor, menggangkat bahan, dll. Motor listrik digunakan juga di rumah
(mixer, box listrik, fan angin) dan di industri. Motor listrik kadangkala disebut
”Kuda Kerja”nya industri sebab diperkirakan bahwa motor-motor
menggunakan sekitar 70% beban listrik total industri.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, permasalahan yang timbul dan akan
dibahas pada paper ini adalah :
1. Bagaimana prinsip kerja dari setiap jenis motor listrik?
2. Bagaimana peluang efisiensi energi menggunakan motor listrik?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan paper ini adalah untuk mengetahui
bagaimana prinsip kerja dari setiap jenis motor listrik tersebut dan bagaimana
peluang efisiensi energi menggunakan motor listrik.

PUTU RUSDI ARIAWAN


1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1. Manfaat bagi Mahasiswa
Untuk memenuhi salah satu syarat dalam pemberian nilai UAS pada mata
kuliah Dasar Teknik Tenaga Listrik di Jurusan Teknik Elektro Universitas
Udayana Semester III tahun 2007.

2. Manfaat bagi Universitas Udayana


Dari hasil penulisan ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pembelajaran dan pertimbangan di dalam mencari sumber informasi dan
dapat menambah isi dari perpustakaan jurusan maupun fakultas.

1.5 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah dalam pembahasan paper ini adalah prinsip
kerja dari setiap jenis motor listrik serta peluang efisiensi energinya.

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan yang digunakan dalam paper ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN : membahas tentang latar belakang permasalahan,
rumusan masalah, tujuan pembuatan paper, manfaat pembuatan paper, batasan
masalah dan sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA : membahas tentang jenis-jenis motor listrik
beserta karakteristik dari setiap jenis motor listrik tersebut.
BAB III METODELOGI PENULISAN : membahas tentang metodelogi
penulisan yang digunakan dalam penulisan paper ini.
BAB IV PEMBAHASAN : membahas tentang cara kerja dari setiap jenis
motor listrik serta peluang efisiensi energinya.
BAB V PENUTUP : membahas tentang kesimpulan dan saran yang dapat
diambil dari pembahasan sebelumnya.

PUTU RUSDI ARIAWAN


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Motor Listrik


Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang
mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini
digunakan untuk, misalnya, memutar impeller pompa, fan atau blower,
menggerakan kompresor, mengangkat bahan, dll. Motor listrik digunakan
juga di rumah (mixer, bor listrik, fan angin) dan di industri. Motor listrik
kadangkala disebut “kuda kerja” nya industri sebab diperkirakan bahwa
motor-motor menggunakan sekitar 70% beban listrik total di industri.

2.2 Jenis-jenis Motor Listrik


Motor listrik dapat dikategorikan berdasarkan pasokan input,
konstruksi, dan mekanisme operainya. Berikut adalah klasifikasi jenis utama
motor listrik.

MOTOR LISTRIK

Motor Arus Bolak-Balik Motor Arus Searah


(AC) (DC)

Sinkron Induksi Separately Self


Excited Excited

Satu Fasa Tiga Fasa Seri Campuran Shunt

Gambar 2.1 Klasifikasi Jenis Utama Motor Listrik

PUTU RUSDI ARIAWAN


2.2.1 Motor AC
Motor arus bolak-balik menggunakan arus listrik yang membalikkan
arahnya secara teratur pada rentang waktu tertentu. Motor listrik memiliki dua
buah bagian dasar listrik yaitu stator dan rotor. Stator merupakan komponen
listrik statis. Rotor merupakan komponen listrik berputar untuk memutar as
motor. Keuntungan utama motor DC terhadap motor AC adalah bahwa
kecepatan motor AC lebih sulit dikendalikan. Untuk mengatasi kerugian ini,
motor AC dapat dilengkapi dengan penggerak frekwensi variabel untuk
meningkatkan kendali kecepatan sekaligus menurunkan dayanya. Motor
induksi merupakan motor yang paling populer di industri karena
kehandalannya dan lebih mudah perawatannya. Motor induksi AC cukup
murah (harganya setengah atau kurang dari harga sebuah motor DC) dan juga
memberikan rasio daya terhadap berat yang cukup tinggi (sekitar dua kali
motor DC).

1) Motor Sinkron
Motor sinkron adalah motor AC, bekerja pada kecepatan tetap pada
sistim frekwensi tertentu. Motor ini memerlukan arus searah (DC) untuk
pembangkitan daya dan memiliki torque awal yang rendah, dan oleh karena
itu motor sinkron cocok untuk penggunaan awal dengan beban rendah, seperti
kompresor udara, perubahan frekwensi dan generator motor. Motor sinkron
mampu untuk memperbaiki faktor daya sistim, sehingga sering digunakan
pada sistem yang menggunakan banyak listrik.

Gambar 2.2 Motor Sinkron

PUTU RUSDI ARIAWAN


Komponen utama motor sinkron adalah :
 Rotor. Perbedaan utama antara motor sinkron dengan motor induksi
adalah bahwa rotor mesin sinkron berjalan pada kecepatan yang sama
dengan perputaran medan magnet. Hal ini memungkinkan sebab medan
magnit rotor tidak lagi terinduksi. Rotor memiliki magnet permanen atau
arus DC-excited, yang dipaksa untuk mengunci pada posisi tertentu bila
dihadapkan dengan medan magnet lainnya.
 Stator. Stator menghasilkan medan magnet berputar yang sebanding
dengan frekwensi yang dipasok.
Motor ini berputar pada kecepatan sinkron, yang diberikan oleh
persamaan berikut :
Ns = 120 f / P
Dimana:
f = frekwensi dari pasokan frekwensi
P= jumlah kutub

2) Motor Induksi
Motor induksi merupakan motor yang paling umum digunakan pada
berbagai peralatan industri. Popularitasnya karena rancangannya yang
sederhana, murah dan mudah didapat, dan dapat langsung disambungkan ke
sumber daya AC.
Motor induksi memiliki dua komponen listrik utama :
 Rotor. Motor induksi menggunakan dua jenis rotor:
- Rotor kandang tupai terdiri dari batang penghantar tebal yang dilekatkan
dalam petak-petak slots paralel. Batang-batang tersebut diberi hubungan
pendek pada kedua ujungnya dengan alat cincin hubungan pendek.
- Lingkaran rotor yang memiliki gulungan tiga fase, lapisan ganda dan
terdistribusi. Dibuat melingkar sebanyak kutub stator. Tiga fase digulungi
kawat pada bagian dalamnya dan ujung yang lainnya dihubungkan ke
cincin kecil yang dipasang pada batang as dengan sikat yang menempel
padanya.

PUTU RUSDI ARIAWAN


 Stator. Stator dibuat dari sejumlah stampings dengan slots untuk
membawa gulungan tiga fase. Gulungan ini dilingkarkan untuk sejumlah
kutub yang tertentu. Gulungan diberi spasi geometri sebesar 120 derajat.

Gambar 2.3 Motor Induksi

Motor induksi dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu :


 Motor induksi satu fase. Motor ini hanya memiliki satu gulungan stator,
beroperasi dengan pasokan daya satu fase, memiliki sebuah rotor kandang
tupai, dan memerlukan sebuah alat untuk menghidupkan motornya. Sejauh
ini motor ini merupakan jenis motor yang paling umum digunakan dalam
peralatan rumah tangga, seperti fan angin, mesin cuci dan pengering
pakaian, dan untuk penggunaan hingga 3 sampai 4 Hp.
 Motor induksi tiga fase. Medan magnet yang berputar dihasilkan oleh
pasokan tiga fase yang seimbang. Motor tersebut memiliki kemampuan
daya yang tinggi, dapat memiliki kandang tupai atau gulungan rotor
(walaupun 90% memiliki rotor kandang tupai); dan penyalaan sendiri.
Diperkirakan bahwa sekitar 70% motor di industri menggunakan jenis ini,
sebagai contoh, pompa, kompresor, belt conveyor, jaringan listrik , dan
grinder. Tersedia dalam ukuran 1/3 hingga ratusan Hp.

PUTU RUSDI ARIAWAN


2.2.2 Motor DC
Motor arus searah, sebagaimana namanya, menggunakan arus
langsung yang tidak langsung/direct-unidirectional. Motor DC digunakan
pada penggunaan khusus dimana diperlukan penyalaan torque yang tinggi
atau percepatan yang tetap untuk kisaran kecepatan yang luas.
Sebuah motor DC yang memiliki tiga komponen utama:
 Kutub medan. Secara sederhada digambarkan bahwa interaksi dua kutub
magnet akan menyebabkan perputaran pada motor DC. Motor DC
memiliki kutub medan yang stasioner dan dinamo yang menggerakan
bearing pada ruang diantara kutub medan. Motor DC sederhana memiliki
dua kutub medan: kutub utara dan kutub selatan. Garis magnetik energi
membesar melintasi bukaan diantara kutub-kutub dari utara ke selatan.
Untuk motor yang lebih besar atau lebih komplek terdapat satu atau lebih
elektromagnet. Elektromagnet menerima listrik dari sumber daya dari
luar sebagai penyedia struktur medan.
 Dinamo. Bila arus masuk menuju dinamo, maka arus ini akan menjadi
elektromagnet. Dinamo yang berbentuk silinder, dihubungkan ke as
penggerak untuk menggerakan beban. Untuk kasus motor DC yang kecil,
dinamo berputar dalam medan magnet yang dibentuk oleh kutub-kutub,
sampai kutub utara dan selatan magnet berganti lokasi. Jika hal ini
terjadi, arusnya berbalik untuk merubah kutub-kutub utara dan selatan
dinamo.
 Commutator. Komponen ini terutama ditemukan dalam motor DC.
Kegunaannya adalah untuk membalikan arah arus listrik dalam dinamo.
Commutator juga membantu dalam transmisi arus antara dinamo dan
sumber daya.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 2.4 Motor DC

Keuntungan utama motor DC adalah sebagai pengendali kecepatan,


yang tidak mempengaruhi kualitas pasokan daya. Motor ini dapat
dikendalikan dengan mengatur:
 Tegangan dinamo – meningkatkan tegangan dinamo akan meningkatkan
kecepatan
 Arus medan – menurunkan arus medan akan meningkatkan kecepatan.
Motor DC tersedia dalam banyak ukuran, namun penggunaannya pada
umumnya dibatasi untuk beberapa penggunaan berkecepatan rendah,
penggunaan daya rendah hingga sedang seperti peralatan mesin dan rolling
mills, sebab sering terjadi masalah dengan perubahan arah arus listrik mekanis
pada ukuran yang lebih besar. Juga, motor tersebut dibatasi hanya untuk
penggunaan di area yang bersih dan tidak berbahaya sebab resiko percikan api
pada sikatnya. Motor DC juga relatif mahal dibanding motor AC.
Hubungan antara kecepatan, flux medan dan tegangan dinamo ditunjukkan
dalam persamaan berikut:
Gaya elektromagnetik: E = KΦN
Torque: T = KΦIa
Dimana:
E =gaya elektromagnetik yang dikembangkan pada terminal dinamo (volt)
Φ = flux medan yang berbanding lurus dengan arus medan

PUTU RUSDI ARIAWAN


N = kecepatan dalam RPM (putaran per menit)
T = torque electromagnetik
Ia = arus dinamo
K = konstanta persamaan

Motor DC bisa diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu :


1) Motor DC Sumber Daya Terpisah (Separately Excited)
Jika arus medan dipasok dari sumber terpisah maka disebut motor DC
sumber daya terpisah separately excited.
2) Motor DC Sumber Daya Sendiri (Self Excited)
Motor DC Sumber Daya Sendiri ini dapat dibagi lagi menjadi 3 bagian
yaitu : Motor DC Seri, Campuran dan Shunt.

a) Motor DC Seri
Dalam motor seri, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan
secara seri dengan gulungan dinamo (A) seperti ditunjukkan dalam gambar 5.
Oleh karena itu, arus medan sama dengan arus dinamo.
Berikut tentang kecepatan motor seri :
 Kecepatan dibatasi pada 5000 RPM
 Harus dihindarkan menjalankan motor seri tanpa ada beban sebab motor
akan mempercepat tanpa terkendali.
Motor-motor seri cocok untuk penggunaan yang memerlukan torque
penyalaan awal yang tinggi, seperti derek dan alat pengangkat hoist. Berikut
adalah gambar rangkaian dan kurva karakteristik dari motor DC seri.

b) Motor DC Campuran
Motor Campuran DC merupakan gabungan motor seri dan shunt. Pada
motor kompon, gulungan medan (medan shunt) dihubungkan secara paralel
dan seri dengan gulungan dinamo seperti yang ditunjukkan dalam gambar 6.
Sehingga, motor kompon memiliki torque penyalaan awal yang bagus dan
kecepatan yang stabil. Makin tinggi persentase penggabungan (yakni

PUTU RUSDI ARIAWAN


persentase gulungan medan yang dihubungkan secara seri), makin tinggi pula
torque penyalaan awal yang dapat ditangani oleh motor ini. Contoh,
penggabungan 40-50% menjadikan motor ini cocok untuk alat pengangkat
hoist dan derek, sedangkan motor kompon yang standar (12%) tidak cocok.

c) Motor DC Shunt
Pada motor shunt, gulungan medan (medan shunt) disambungkan
secara paralel dengan gulungan dinamo seperti diperlihatkan dalam gambar 4.
Oleh karena itu total arus dalam jalur merupakan penjumlahan arus medan
dan arus dinamo.
Berikut tentang kecepatan motor shunt :
 Kecepatan pada prakteknya konstan tidak tergantung pada beban (hingga
torque tertentu setelah kecepatannya berkurang, lihat Gambar 4) dan oleh
karena itu cocok untuk penggunaan komersial dengan beban awal yang
rendah, seperti peralatan mesin.
 Kecepatan dapat dikendalikan dengan cara memasang tahanan dalam
susunan seri dengan dinamo (kecepatan berkurang) atau dengan
memasang tahanan pada arus medan (kecepatan bertambah).

2.3 Karakteristik dari Jenis Motor Listrik


2.3.1 Karakteristik Motor AC

PUTU RUSDI ARIAWAN


2.3.2 Karakteristik Motor DC
1) Motor DC Seri
Pada motor DC seri terdapat hubungan berbanding terbalik antara
torsi dengan kecepatan pada motor. Semakin besar torsi pada motor maka
kecepatan dari motor tersebut semakin kecil.

Gambar 2.5 Karakteristik Motor DC Seri

Gambar 2.6 Rangkaian Motor DC Seri

2) Motor DC Campuran
Pada motor DC campuran terdapat hubungan berbanding terbalik
antara torsi dengan kecepatan pada motor. Semakin besar torsi pada motor
maka kecepatan dari motor tersebut semakin kecil.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 2.7 Karakteristik Motor DC Campuran

Gambar 2.8 Rangkaian Motor DC Campuran

3) Motor DC Shunt
`Pada motor DC shunt terdapat hubungan berbanding terbalik antara
torsi dengan kecepatan pada motor. Semakin besar torsi pada motor maka
kecepatan dari motor tersebut semakin kecil.

Gambar 2.9 Karakteristik Motor DC Shunt

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 2.10 Rangkaian Motor DC Shunt

PUTU RUSDI ARIAWAN


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Mekanisme Kerja Motor Listrik


Mekanisme kerja untuk seluruh jenis motor secara umum sama :
 Arus listrik dalam medan magnet akan memberikan gaya.
 Jika kawat yang membawa arus dibengkokkan menjadi sebuah
lingkaran/loop, maka kedua sisi loop, yaitu pada sudut kanan medan
magnet, akan mendapatkan gaya pada arah yang berlawanan.
 Pasangan gaya menghasilkan tenaga putar/ torque untuk memutar
kumparan.
 Motor-motor memiliki beberapa loop pada dinamonya untuk memberikan
tenaga putaran yang lebih seragam dan medan magnetnya dihasilkan oleh
susunan elektromagnetik yang disebut kumparan medan.
Dalam memahami sebuah motor, penting untuk mengerti apa yang
dimaksud dengan beban motor. Beban mengacu kepada keluaran tenaga putar/
torque sesuai dengan kecepatan yang diperlukan. Beban umumnya dapat
dikategorikan kedalam tiga kelompok:
 Beban torque konstan adalah beban dimana permintaan keluaran
energinya bervariasi dengan kecepatan operasinya namun torque nya tidak
bervariasi. Contoh beban dengan torque konstan adalah conveyors, rotary
kilns, dan pompa displacement konstan.
 Beban dengan variabel torque adalah beban dengan torque yang
bervariasi dengan kecepatan operasi. Contoh beban dengan variabel
torque adalah pompa sentrifugal dan fan (torque bervariasi sebagai
kwadrat kecepatan).
 Beban dengan energi konstan adalah beban dengan permintaan torque
yang berubah dan berbanding terbalik dengan kecepatan. Contoh untuk
beban dengan daya konstan adalah peralatan-peralatan mesin.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 4.1 Prinsip Dasar dari Kerja Motor Listrik

4.2 Motor Sinkron


Motor sinkron adalah motor AC, bekerja pada kecepatan tetap pada
sistim frekwensi tertentu. Motor ini memerlukan arus searah (DC) untuk
pembangkitan daya dan memiliki torque awal yang rendah, dan oleh karena
itu motor sinkron cocok untuk penggunaan awal dengan beban rendah.

4.2.1 Prinsip Kerja Motor Sinkron

A
Us

3

Ss

Gambar 4.2 Motor Sinkron dengan supply 3 fase

Pada saat kutub utara stator Us dan kutub selatan stator Ss berada pada
titik A dan B, kutub-kutub Us dan Ur, Ss dan Sr akan saling tolak menolak

PUTU RUSDI ARIAWAN


satu dengan yang lain, akibatnya rotor akan bergerak berlawanan kearah
putaran stator .
Gaya tarik antara kutub rotor dengan kutub stator berputar silih berganti
dengan cepat sekali dan arena kenyataannya rotor itu berat akibatnya rotor itu
berat akibatnya rotor itu hanya bergetar saja (tidak berputar). Supaya rotor itu
dapat berputar maka rotor tersebut diputar dahulu mendekati putaran
sinkronnya, kemudian baru statornya dihubungkan dengan jala-jala. Jadi
motor sinkron tidak dapat berputar dengan sendirinya.
Rotor berputar terlebih dahulu mendekati putaran sinkron, selanjutnya
arus searah DC (arus medan) dialirkan ke rotor melalui cincin sehingga
menghasilkan medan magnit Br yang konstan. Satu set tegangan 3 phase
dipasangkan pada stator sehingga dihasilkan arus 3 phase dipasangkan pada
stator sehingga dihasilkan arus 3 phase yang mengalir dalam kumparan-
kumparan jangkar

Br
Bs

Wsyn

Gambar 4.3 Motor Sinkron 3 fase dengan supply 3 fase

Seperti telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya satu set arus 3


phase dalam kumparan jangkar, menghasilkan medan putar Bs karena itu
sekarang terdapat dua medan magnet dalam mesin da medan rotor akan selalu

PUTU RUSDI ARIAWAN


berusaha untuk berimpit dengan medan stator, sebagaimana batang magnet
yang berusaha untuk berimpitan bila didekatkan satu sama lain. Karena
medan magnet stator berputar ,maka medan magnet rotor( dan rotor itu
sendiri) terus menerus berusaha mengikutinya. Prinsip dasar dari kerja motor
sinkron adalah bahwa ratar ”mengejar” medan magnet putar stator
mengelilingi satu lingkaran, dan tidak pernah berhenti mengejarnya.

4.2.2 Menjalankan Motor Sinkron


Motor sinkron tidak dapat berputar dengan sendirinya. Ada tiga macam
cara untuk menjalankan motor sinkron yaitu:
1. Mengurangi kecepatan dari medan magnet stator pada suatu harga yang
cukup rendah, sehingga rotor dapat mempercepat dan mengunci medan
magnet stator selama setengah cycle dari perputaran medan magnet. Ini
dapat dilakukan dengan mengurangi frequency dari daya yang dipakai.
2. Menggerakkan penggerak mula dari luar untuk mempercepat motor
sinkron sampai kecepatan sinkron. Misalnya dengan mengkopel motor
sinkron dengan mesin DC. Setelah motor berjalan normal, mesin DC
tersebut akan berfungsi sebagai generator DC yang selanjutnya merupakan
beban dari motor sinkron.
3. Menggunakan kumparan peredam(domper winding) dilakukan dengan cara
memasang penghantar-penghantar pada rotor dari motor sinkron yang satu
dengan yang lainnya dihubung singkat dan ditempatkan pada tiap-tiap
sepatu kutub. Prinsip kerjanya sekarang persis seperti pada motor induksi
dimana bila lilitan statornya dihubungkan dengan sumber tiga fase maka
rotor akan berputar setelah motor berputar normal penghantar-penghantar
tersebut tidak berfungsi lagi.

4.3 Motor Induksi

Motor induksi banyak digunakan oleh dunia industri karena memiliki


beberapa keuntungan. Keuntungan yang dapat diperoleh dalam pengendalian

PUTU RUSDI ARIAWAN


motor–motor induksi yaitu, struktur motor induksi lebih ringan (20% hingga
40%) dibandingkan motor arus searah (DC) untuk daya yang sama, harga
satuan relatif lebih murah, dan perawatan motor induksi lebih hemat.

4.3.1 Prinsip Kerja Motor Induksi


Ada beberapa prinsip kerja motor induksi:
1. Apabila sumber tegangan tiga fasa dipasang pada kumparan stator akan
timbul medan putar dengan kecepatas ns = 120 f/p
2. Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor.
3. Akibatnya pada kumparan rotor tegangan induksi (ggl) sebesar:
E2s = 4,44 fsn2m (untuk satu fasa)
E2s adalah tegangan induksi pada saat rotor berputar
4. Karena kumparan rotor merupakan rangkaian tertutup, maka ggl(E) akan
menghasilkan arus (I)
5. Adanya arus (I) akan menghasilkan gaya (F) pada rotor
6. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor yang cukup besar
untuk memikul kopel beban, rotor akan berputar searah dengan medan
putar stator.
7. Seperti yang telah dijelaskan pada (3) tegangan induksi timbul karena
terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh medan putar stator. Artinya
agar tegangan terinduksi diperlukan adanya perbedaan relatif antara
kecepatan medan putar stator (ns) dengan kecepatan medan putar rotor (nr)
8. Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut slip(S) dinyatakan dengan :
S = ( ns – nr )/ns x 100%
9. Bila nr=ns , tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak akan mengalir
pada kumparan jangkar rotor, dengan demikian tidak dihasilkan kopel.
Kopel motor ditimbulkan apabila nr lebih kecil dari ns
10. Dilihat dari cara kerjanya,motor induksi disebut juga sebagai motor tak
serempak atau asinkron.

PUTU RUSDI ARIAWAN


4.3.2 Pengereman Pada Motor Induksi
Pengereman pada motor induksi, secara umum masih menggunakan
metoda yang sederhana, dengan cara pengereman mekanik dimana torsi
pengereman dihasilkan oleh peralatan pengereman yang berupa sepatu rem
dan drum yang terpasang pada poros rotor. Pada pengereman ini energi putar
dari rotor dikurangi dengan cara menekan poros rotor menggunakan sepatu
rem. Pengereman secara mekanik membutuhkan jadwal pemeliharaan teratur
karena terdapat rugi – rugi mekanis seperti gesekan yang menimbulkan panas
dan menghasilkan debu akibat gesekan.
Pengereman untuk menghentikan putaran motor induksi dapat
dirancang secara dinamik, yaitu menggunakan sistem pengereman yang
dilakukan dengan membuat medan magnetik motor stasioner. Keadaan
tersebut dilaksanakan dengan menginjeksikan arus DC pada kumparan stator
motor induksi tiga fasa setelah hubungan kumparan stator dilepaskan dari
sumber tegangan suplai AC. Metode pengereman dinamik (dynamic braking)
memiliki keuntungan antara lain kemudahan pengaturan kecepatan
pengereman terhadap motor induksi tiga fasa
Dalam melaksanakan pengujian pengereman diamik digunakan
dinamometer DC generator-motor rus searah) sebagai beban motor
induksi.Dinamometer DC dalam percobaan berfungsi untuk mengubah energi
mekanik menjadi energi listrik.
Pengereman secara elektrik, torsi pengereman dihasilkan berdasarkan
nilai arus injeksi yang diberikan pada belitan stator. Pada pengereman secara
elektrik energi putaran rotor diubah menjadi energi elektrik yang kemudian
dikembalikan ke suplai daya, atau dengan memberikan suatu medan magnet
stasioner pada stator sehingga putaran rotor akan berkurang dengan
sendirinya, pengereman secara elektrik lebih halus dan tidak ada hentakan
yang terjadi. Pengereman secara elektrik tidak dapat menghasilkan torsi untuk
menahan beban dalam keadaan sudah berhenti dan membutuhkan sumber
energi listrik untuk mengoperasikannya.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Pengereman dinamik digunakan untuk menghentikan putaran rotor
motor induksi. Tegangan pada stator diubah dari sumber tegangan AC
menjadi tegangan DC dalam waktu yang sangat singkat. Torsi yang dihasilkan
dari pengereman tergantung pada besar arus DC yang diinjeksikan pada
belitan stator. Pada gambar 2.1. menunjukkan bentuk rangkaian pengereman
dengan injeksi arus searah pada motor induksi tiga fasa.

Gambar 4.2 Pengereman dinamis dengan injeksi arus searah


pada motor induksi tiga fasa.

4.4 Motor DC
Motor arus searah adalah suatu mesin yang berfungsi mengubah tenaga
listrik arus searah menjadi tenaga mekanik atau tenaga gerak. Dimana tenaga
mekanik tersebut berupa putaran dari pada motor.
Pada motor dc dan generator dc tak ada perbedaan konstruksi. Pada
prinsipnya motor dc bisa dipakai sebagai generator dc. Sebaliknya generator dc
dapat dipai sebagai motor dc.
4.4.1 Prinsip Kerja Motor DC
Ringkasan prinsip kerja motor arus searah adalah:
1. Adanya garis-garis gaya medan (fluks) yang dihasilkan oleh kutub-kutub
magnet yang berada di stator
2. Penghantar yang dialiri arus pada jangkar, menyebabkan timbulnya medan
magnet

PUTU RUSDI ARIAWAN


3. interaksi antara medan yang dihasilkan oleh stator dan medan magnit pada
penghantar akan menyebabkan suatu gaya. Gaya tersebut menghansiolkan
torsi yang akan memutar jangkar . besarnya gaya yang dihasilkan adalah:
F = B I L newton
Dimana;
B : kecepatan fluks(weber)
I : arus yang mengalir dalam penghantar(ampere)
L : panjang penghantar (meter)

4.4.2 Mengatur Arah Putaran Motor DC


Dalam aplikasinya seringkali sebuah motor digunakan untuk arah yang searah
dengan jarum jam maupun sebaliknya. Untuk mengubah putaran dari sebuah motor
dapat dilakukan dengan mengubah arah arus yang mengalir melalui motor tersebut.
Secara sederhana seperti yang ada pada gambar 4.3, hal ini dapat dilakukan hanya
dengan mengubah polaritas tegangan motor.

Gambar 4.3 Dasar pengaturan arah putar motor

Agar pengubahan polaritas tegangan motor dapat dilakukan dengan


mudah, maka hal ini dilakukan dengan menggunakan dua buah saklar seperti pada
gambar 4.4 di mana kedua saklar tersebut harus berada pada posisi yang saling
berlawanan. Apabila S1 berada di posisi kiri (terhubung dengan positif) maka S2
harus berada di posisi kanan (terhubung dengan negatif) dan demikian pula
sebaliknya dengan perubahan yang serempak.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 4.4 Pengaturan arah dengan menggunakan saklar

Untuk aplikasi pengaturan arah dengan menggunakan mikrokontroler,


maka posisi dari saklar dapat digantikan dengan transistor seperti yang ada pada
gambar 4.5. Gambar tersebut adalah merupakan rangkaian pengatur arah putaran
motor DC dengan arus maksimum 5A dan tegangan kerja 20 Volt (V+).

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 4.5 Skema pengatur arah putaran motor DC 20V
dengan arus maksimum 5A.

Proses kendali dalam hal ini ditentukan oleh logika dari DRV0 dan DRV1,
di mana agar motor tersebut bekerja, maka kondisi DRV0 dan DRV1 harus saling
berbeda logika. Motor akan berhenti apabila keduanya berlogika 0. Kondisi logika
1 pada DRV0 dan DRV1 secara bersamaan tidak diperbolehkan, karena hal ini
akan mengakibatkan semua transistor berada pada kondisi aktif dan sistem akan
terhubung singkat. Gambar tersebut pada dasarnya terdiri dari 4 buah transistor,
namun karena arus dari motor yang dikendalikan cukup besar, maka setiap
transistor dibentuk dengan konfigurasi darlington di mana setiap transistor terdiri
dari 2 buah transistor yaitu 2N3055 dan C9013 untuk NPN dan MJ2955 dan
C9012 untuk PNP. Dengan konfigurasi darlington, maka HFE (penguatan) dari
transistor tersebut adalah sebesar hasil kali dari HFE keduanya, sedangkan
tegangan VBE adalah 0,7V x 2 = 1,4V

PUTU RUSDI ARIAWAN


Gambar 4.6 Konfigurasi Darlington NPN

Pada saat DRV0 berlogika 0 dan DRV1 berlogika 1, maka transistor Q1 dan Q2
yang membentuk konfigurasi transistor darlington akan non aktif sedangkan Q3
dan Q4 aktif. Kaki sebelah kanan dari motor akan terhubung ke ground (negatif),
demikian pula dengan basis transistor darlington yang dibentuk oleh Q7 dan Q8.
Basis dari transistor tersebut akan terhubung ke ground melalui R3 sehingga
transistor darlington inipun aktif dan mengalirkan tegangan positif ke bagian kiri
dari motor (gambar 4.5). Logika 0 pada kaki DRV0 membuat transistor darlington
yang dibentuk oleh Q1 dan Q2 non aktif sehingga bagian kiri dari motor atau
kolektor dari transistor ini tidak terhubung ke ground. Arus tidak mengalir dari
basis transistor darlington yang dibentuk oleh Q5 dan Q6 ke ground sehingga
transistor inipun tidak aktif. Sebaliknya bila kondisi logika dari DRV0 dan DRV1
dibalik, maka Q1-Q2 dan Q5-Q6 aktif sedangkan Q3-Q4 dan Q7-Q8 tidak aktif
motor akan mendapat polaritas tegangan yang terbalik pula. Skema pada gambar
4.5 merupakan skema pengendali motor dengan kapasitas maksimum 5A. Proses
perhitungan dari gambar 4.5 diperoleh sebagai berikut:

Arus motor maksimum (ICmax) = 5A


HFE 2N3055 dan HFE MJ2955 = 20
HFE C9013 dan HFE C9012 = 60
HFE darlington = 1200
VBE = 1,4V

PUTU RUSDI ARIAWAN


V+ = 20Volt.
VOH DRV0 = VOH DRV1 = 4,5 Volt

Arus basis (Ib) = ICmax/HFE darlington


= 5/1200
= 4,16 mA

Nilai R1 dan R2 adalah sama


R1 = (VOH DRV0 – VBE)/Ib
= (4,5V – 1,4V)/4,16 mA
= 745 ohm
atau untuk amannya digunakan nilai yang sedikit lebih besar yaitu 1K Nilai R3
dan R4 adalah sama
R3 = (V+ - VBE)/Ib
= (20 – 1,4)/4,16mA
= 4,47K
atau untuk amannya digunakan nilai yang sedikit lebih besar yaitu 4,7K Untuk
antar muka dengan AT8951, di mana setiap I/O kecuali Port 0 pada mode I/O
biasa telah memiliki R pull up internal maka penggunaan R1 dan R2 dapat
ditiadakan sehingga I/O AT8951 dapat langsung terhubung ke DRV0 dan DRV1.
Skema tersebut juga dapat digunakan untuk tegangan kerja (V+) selain 20 Volt
dengan merubah nilai R3.

4.4.3 Pengereman Motor DC


Suatu motor listrik dapat berhenti dengan adanya gesekan yang
terjadi,tetapi tentu saja memerlukan waktu yang lama.
Untuk dapat menghentikan mesin listrik dalam waktu yang relatif singkat
dilakukan pengereman . dalam motor arus searah dikenal 3 cara pengereman
yaitu:

PUTU RUSDI ARIAWAN


1. Pengereman dinamis
Penghentian terminal dilakukan dengan cara tekanan terminal Vt dilepas
diganti dengan suatu tahanan R, kemudian motor akan berubah fungsi dari
motor menjadi generator, sehingga tegangan yang dihasilkan akan diubah
menjadi panas. Tahanan R diubah-ubah sampai menjadi kecil dan pada
saat tahanan R habis motor akan berhenti.
2. Pengereman regeneratif
pada pengereman regeneratif energi yang tersimpan pada putaran
dikembalikan pada sistem jala-jala. Cara ini biasanya dipakai pada kereta
api listrik, ketika kereta api berjalan menurun, kecepatan motor laju sekali
sehingga Ez >Vt. Karena Ea > Vt , Ia menjadi negatif (mengalir ke jala-
jala). Jadi motor akan bekerja menjadi generator yang bekerja paralel
terhadap jala-jala. Pada saat daya dikembalikan ke jala-jala, kecepatan
menurun dan proses pengereman berlangsung.
3. Pengereman mendadak
pengereman mendadak adalah pengereman suatu motor dalam waktu yang
sangat singkat dan tiba-tiba yaitu dengan cara membalikkan polaritas
motor.

4.5 PELUANG EFISIENSI ENERGI


4.5.1 Mengganti motor standar dengan motor yang energinya efisien
Motor yang berefisiensi tinggi dirancang khusus untuk meningkatkan
efisiensi energi dibanding dengan motor standar. Perbaikan desain difokuskan
pada penurunan kehilangan mendasar dari motor termasuk penggunaan baja
silikon dengan tingkat kehilangan yang rendah, inti yang lebih panjang (untuk
meningkatkan bahan aktif), kawat yang lebih tebal (untuk menurunkan tahanan),
laminasi yang lebih tipis, celah udara antara stator dan rotor yang lebih tipis,
batang baja pada rotor sebagai pengganti alumunium, bearing yang lebih bagus
dan fan yang lebih kecil, dll. Motor dengan energi yang efisien mencakup kisaran
kecepatan dan beban penuh yang luas. Efisiensinya 3% hingga 7% lebih tinggi
dibanding dengan motor standar sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 4.7.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Tabel 4.1 menggambarkan peluang perbaikan yang sering digunakan pada
perancangan motor yang efisien energinya.

Gambar 4.7 Perbandingan antara motor yang berefisiensi tinggi


dengan motor standar
(Biro Standar Indian)

Sebagai hasil dari modifikasi untuk meningkatkan kinerja, biaya untuk


motor yang energinya efisien lebih besar daripada biaya untuk motor standar.
Biaya yang lebih tinggi seringkali akan terbayar kembali dengan cepat melalui
penurunan biaya operasi, terutama pada penggunaan baru atau pada penggantian
motor yang masa pakainya sudah habis. Akan tetapi untuk penggantian motor
yang ada yang belum habis masa pakainya dengan motor yang efisien energinya,
tidak selalu layak secara finansial, oleh karena itu direkomedasikan
untukmengganti dengan motor yang efisien energinya hanya jika motor-motor
tersebut sudah rusak.
Tabel 4.1 Area Perbaikan Efisiensi yang digunakan pada Motor yang Efisien
Energinya. (BEE India, 2004)
Area Kehilangan Energi Peningkatan Efisiensi
1. Besi  Digunakan gauge yang lebih tipis sebab
kehilangan inti baja yang lebih rendah
menurunkan kehilangan arus eddy.
 Inti lebih panjang yang dirancang menggunakan
baja akan mengurangi kehilangan karena masa
jenis flux operasi yang lebih rendah.

PUTU RUSDI ARIAWAN


2. Stator I2R  Menggunakan lebih banyak tembaga dan
konduktor yang lebih besar meningkatkan luas
lintang penggulungan stator. Hal ini akan
menurunkan tahanan (R) dari penggulungan dan
mengurangi kehilangan karena aliran arus (I).
3. Rotor I2R  Penggunaan batang konduktor rotor yang lebih
besar meningkatkan potongan lintang, dengan
demikian merendahkan tahanan konduktor (R)
dan kehilangan yang diakibatkan oleh aliran arus
(I)
4. Gesekan & Pegulungan  Menggunakan rancangan fan dengan kehilangan yang
rendah menurunkan kehilangan yang diakibatkan
oleh pergerakan udara
5. Kehilangan beban yang  Menggunakan rancangan yang sudah dioptimalkan
menyimpang dan prosedur pengendalian kualitas yang ketat akan
meminimalkan kehilangan beban yang menyimpang.

4.5.2 Menurunkan pembebanan yang kurang (dan menghindari motor


yang ukurannya berlebih/ terlalu besar)

Sebagaimana dijelaskan dalam bab 3, beban yang kurang akan


meningkatkan kehilangan motor dan menurunkan efisiensi motor dan faktor daya.
Beban yang kurang mungkin merupakan penyebab yang paling umum
ketidakefisiensian dengan alasan-alasan:
 Pembuat peralatan cenderung menggunakan faktor keamanan yang besar
bila memilih motor.
 Peralatan kadangkala digunakan dibawah kemampuan yang semestinya.
Sebagai contoh, pembuat peralatan mesin memberikan nilai motor untuk
kapasitas alat dengan beban penuh. Dalam prakteknya, pengguna sangat
jarang membutuhkan kapasitas penuh ini, sehingga mengakibatkan hampir
selamanya operasi dilakukan dibawah nilai beban.
 Dipilih motor yang besar agar mampu mencapai keluaran pada tingkat yang
dikehendaki, bahkan jika tegangan masuk rendah dalam keadaan tidak
normal.
 Dipilih motor yang besar untuk penggunaan yang memerlukan torque
penyalaan awal yang tinggi akan tetapi lebih baik bila digunakan motor
yang lebih kecil yang dirancang dengan torque tinggi.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Ukuran motor harus dipilih berdasarkan pada evaluasi beban dengan hati-
hati. Namun bila mengganti motor yang ukurannya berlebih dengan motor yang
lebih kecil, juga penting untuk mempertimbangkan potensi pencapaian efisiensi.
Motor yang besar memiliki efisiensi yang lebih tinggi daripada motor yang lebih
kecil. Oleh karena itu, penggantian motor yang beroperasi pada kapasitas 60 –
70% atau lebih tinggi biasanya tidak direkomendasikan. Dengan kata lain tidak
ada aturan yang ketat yang memerintahkan pemilihan motor dan potensi
penghematan perlu dievaluasi dengan dasar kasus per kasus. Contoh, jika motor
yang lebih kecil merupakan motor yang efisien energinya sedangkan motor yang
ada tidak, maka efisiensi dapat meningkat.
Untuk motor yang beroperasi konstan pada beban dibawah 40% dari nilai
kapasitasnya, pengukuran yang murah dan efektif dapat dioperasikan dalam mode
bintang. Perubahan dari operasi standar delta ke operasi bintang meliputi
penyusunan kembali pemasangan kawat masukan daya tiga fase pada kotak
terminal.
Mengoperasikan dalam mode bintang akan menurunkan tegangan dengan
faktor ‘√3’. Motor diturunkan ukuran listriknya dengan operasi mode bintang,
namun karakteristik kinerjanya sebagai fungsi beban tidak berubah. Jadi, motor
dalam mode bintang memiliki efisiensi dan faktor daya yang lebih tinggi bila
beroperasi pada beban penuh daripada beroperasi pada beban sebagian dalam
mode delta.
Bagaimanapun, operasi motor pada mode bintang memungkinkan hanya
untuk penggunaan dimana permintaan torque ke kecepatannya lebih rendah pada
beban yang berkurang. Disamping itu, perubahan ke mode bintang harus
dihindarkan jika motor disambungkan ke fasilitas produksi dengan keluaran yang
berhubungan dengan kecepatan motor (karena kecepatan motor berkurang pada
mode bintang). Untuk penggunaan untuk kebutuhan torque awal yang tinggi dan
torque yang berjalan rendah, tersedia starter Delta-Bintang yang dapat membantu
mengatasi torque awal yang tinggi.

PUTU RUSDI ARIAWAN


4.5.3 Ukuran motor untuk beban yang bervariasi
Motor industri seringkali beroperasi pada kondisi beban yang bervariasi
karena permintaan proses. Praktek yang umum dilakukan dalam situasi seperti ini
adalah memilih motor berdasarkan beban antisipasi tertinggi. Namun hal ini
membuat motor lebih mahal padahal motor hanya akan beroperasi pada kapasitas
penuh untuk jangka waktu yang pendek, dan beresiko motor bekerja pada beban
rendah.
Alternatfnya adalah memilih motor berdasarkan kurva lama waktu
pembebanan untuk penggunaan khusus. Hal ini berarti bahwa nilai motor yang
dipilih sedikit lebih rendah daripada beban antisipasi tertinggi dan sekali-kali
terjadi beban berlebih untuk jangka waktu yang pendek. Hal ini memungkinkan,
karena motor memang dirancang dengan faktor layanan (biasanya 15% diatas
nilai beban) untuk menjamin bahwa motor yang bekerja diatas nilai beban sekali-
sekali tidak akan menyebabkan kerusakan yang berarti.
Resiko terbesar adalah pemanasan berlebih pada motor, yang berpengaruh
merugikan pada umur motor dan efisiensi dan meningkatkan biaya operasi.
Kriteria dalam memilih motor adalah bahwa kenaikan suhu rata-rata diatas siklus
operasi aktual harus tidak lebih besar dari kenaikan suhu pada operasi beban
penuh yang berkesinambungan (100%). Pemanasan berlebih dapat terjadi dengan:
 Perubahan beban yang ekstrim, seperti seringnya jalan/berhenti, atau
tingginya beban awal.
 Beban berlebih yang sering dan/atau dalam jangka waktu yang lama
 Terbatasnya kemampuan motor dalam mendinginkan, contoh pada lokasi
yang tinggi, dalam lingkungan yang panas atau jika motor tertutupi atau
kotor.

4.5.4 Memperbaiki kualitas daya


Kinerja motor dipengaruhi oleh kualitas daya yang masuk, yang
ditentukan oleh tegangandan frekuensi aktual dibandingkan dengan nilai dasar.
Fluktuasi dalam tegangan dan frekuensi yang lebih besar daripada nilai yang
diterima memiliki dampak yang merugikan pada kinerja motor.

PUTU RUSDI ARIAWAN


Ketidakseimbangan tegangan bahkan dapat lebih merugikan terhadap
kinerja motor dan terjadi apabila tegangan tiga fase dari motor tiga fase tidak
sama. Hal ini biasanya disebabkan oleh perbedaan pasokan tegangan untuk setiap
fase pada tiga fase. Dapat juga diakibatkan dari penggunaan kabel dengan ukuran
yang berbeda pada sistim distribusinya. Contoh dari pengaruh ketidakseimbangan
tegangan pada kinerja motor ditunjukkan dalam Tabel 7.
 Tegangan masing-masing fase pada sistim tiga fase besarannya harus sama,
simetris, dan dipisahkan oleh sudut 120°. Keseimbangan fase harus 1%
untuk menghindarkan penurunan daya motor dan gagalnya garansi pabrik
pembuatnya. Beberapa faktor dapat mempengaruhi kesetimbangan
tegangan: beban fase tunggal pada setiap satu fase, ukuran kabel yang
berbeda, atau kegagalan pada sirkuit. Ketidakseimbangan sistim
meningkatkan kehilangan pada sistim distribusi dan menurunkan efisiensi
motor.
Tabel 4.2 Pengaruh Ketidakseimbangan Tegangan dalam Motor Induksi (BEE
India, 2004)
Contoh 1 Contoh 2 Contoh 3
Persentase ketidakseimbangan dalam 0,30 2,30 5,40
tegangan*
Ketidakseimbangan arus (%) 0,4 17,7 40,0
Kenaikan suhu (oC) 0 30 40
* Persen ketidakseimbangan tegangan = (penyimpangan maksimum dari tegangan
tengah/ tegangan tengah) x 100
Ketidakseimbangan tegangan dapat diminimalisir dengan:
 Menyeimbangkan setiap beban fase tunggal diantara seluruh tiga fase
 Memisahkan setiap beban fase tunggal yang mengganggu keseimbangan
beban dn umpankan dari jalur/trafo terpisah

4.5.5 Penggulungan Ulang


Penggulungan ulang untuk motor yang terbakar sudah umum dilakukan
oleh industri. Jumlah motor yang sudah digulung ulang di beberapa industri lebih
dari 50% dari jumlah total motor. Pegulungan ulang motor yang dilakukan dengan

PUTU RUSDI ARIAWAN


hati-hati kadangkala dapat menghasilkan motor dengan efisiensi yang sama
dengan sebelumnya. Pegulungan ulang dapat mempengaruhi sejumlah faktor yang
berkontribusi terhadap memburuknya efisiensi motor: desain slot dan gulungan,
bahan gulungan, kinerja pengisolasi, dan suhu operasi. Sebagai contoh, bila panas
diterapkan pada pita gulungan lama maka pengisolasi diantara laminasinya dapat
rusak, sehingga meningkatkan kehilangan arus eddy. Perubahan dalam celah
udara dapat mempengaruhi faktor daya dan keluaran torque.
Walau begitu, jika dilakukan dengan benar, efisiensi motor dapat terjaga
setelah dilakukan pegulungan ulang, dan dalam beberapa kasus, efisiensi bahkan
dapat ditingkatkan dengan cara mengubah desain pegulungan. Dengan
menggunakan kawat yang memiliki penampang lintang yang lebih besar, ukuran
slot yang diperbolehkan, akan mengurangi kehilangan stator sehingga akan
meningkatkan efisiensi. Walau demikian, direkomendasikan untuk menjaga
desain motor orisinil selama pegulungan ulang, kecuali jika ada alasan yang
berhubungan dengan beban spesifik untuk mendesain ulang.
Dampak dari pegulungan ulang pada efisiensi motor dan faktor daya dapat
dikaji dengan mudah jika kehilangan motor tanpa beban diketahui pada sebelum
dan sesudah pegulungan ulang. Informasi kehilangan tanpa beban dan kecepatan
tanpa beban dapat ditemukan pada dokumentasi motor yang diperoleh pada saat
pembelian. Indikator keberhasilan pegulungan ulang adalah perbandingan arus
dan tahanan stator tanpa beban per fase motor yang digulung ulang dengan arus
dan tahanan stator orisinil tanpa beban pada tegangan yang sama.
Paad saat menggulung ulang motor perlu mempertimbangkan hal-hal
berikut:
 Gunakan perusahaan yang bersertifikasi ISO 9000 atau anggota dari
Assosasi Layanan Peralatan Listrik.
 Ukuran motor kurang dari 40 HP dan usianya lebih dari 15 tahun (terutama
motor yang sebelumnya sudah digulung ulang) sering memiliki efisiensi
yang lebih rendah daripada model yang tersedia saat ini yang efisien
energinya. Biasanya yang terbaik adalah menggantinya. Hampir selalu
terbaik mengganti motor biasa dengan beban dibawah 15 HP.

PUTU RUSDI ARIAWAN


 Jika biaya pegulungan ulang melebihi 50% hingga 65% dari harga motor
baru yang efisien energinya, lebih baik membeli motor yang baru, karena
meningkatnya kehandalan dan efisiensi akan dengan cepat menutupi
pembayaran harga motor.

4.5.6 Meningkatkan perawatan


Hampir semua inti motor dibuat dari baja silikon atau baja gulung dingin
yang dihilangkan karbonnya, sifat-sifat listriknya tidak berubah dengan usia.
Walau begitu, perawatan yang buruk dapat memperburuk efisiensi motor karena
umur motor dan operasi yang tidak handal. Sebagai contoh, pelumasan yang tidak
benar dapat menyebabkan meningkatnya gesekan pada motor dan penggerak
transmisi peralatan. Kehilangan resistansi pada motor, yang meningkat dengan
kenaikan suhu.
Kondisi ambien dapat juga memiliki pengaruh yang merusak pada kinerja
motor. Sebagai contoh, suhu ekstrim, kadar debu yang tinggi, atmosfir yang
korosif, dan kelembaban dapat merusak sifat-sifat bahan isolasi; tekanan mekanis
karena siklus pembebanan dapat mengakibatkan kesalahan penggabungan.
Perawatan yang tepat diperlukan untuk menjaga kinerja motor. Sebuah
daftar periksa praktekperawatan yang baik akan meliputi:
 Pemeriksaan motor secara teratur untuk pemakaian bearings dan rumahnya
(untuk mengurangi kehilangan karena gesekan) dan untuk kotoran/debu
pada saluran ventilasi motor (untuk menjamin pendinginan motor)
 Pemeriksaan kondisi beban untuk meyakinkan bahwa motor tidak
kelebihan atau kekurangan beban. Perubahan pada beban motor dari
pengujian terakhir mengindikasikan suatu perubahan pada beban yang
digerakkan, penyebabnya yang harus diketahui.
 Pemberian pelumas secara teratur. Fihak pembuat biasanya memberi
rekomendasi untuk cara dan waktu pelumasan motor. Pelumasan yang tidak
cukup dapat menimbulkan masalah, seperti yang telah diterangkan diatas.
Pelumasan yang berlebihan dapat juga menimbulkan masalah, misalnya
minyak atau gemuk yang berlebihan dari bearing motor dapat masuk ke

PUTU RUSDI ARIAWAN


motor dan menjenuhkan bahan isolasi motor, menyebabkan kegagalan dini
atau mengakibatkan resiko kebakaran.
 Pemeriksaan secara berkala untuk sambungan motor yang benar dan
peralatan yang digerakkan. Sambungan yang tidak benar dapat
mengakibatkan sumbu as dan bearings lebih cepat aus, mengakibatkan
kerusakan terhadap motor dan peralatan yang digerakkan.
 Dipastikan bahwa kawat pemasok dan ukuran kotak terminal dan
pemasangannya benar. Sambungan-sambungan pada motor dan starter
harus diperiksa untuk meyakinkan kebersihan dan kekencangnya.
 Penyediaan ventilasi yang cukup dan menjaga agar saluran pendingin motor
bersih untuk membantu penghilangan panas untuk mengurangi kehilangan
yang berlebihan. Umur isolasi pada motor akan lebih lama: untuk setiap
kenaikan suhu operasi motor 10oC diatas suhu puncak yang
direkomendasikan, waktu pegulungan ulang akan lebih cepat, diperkirakan
separuhnya.

PUTU RUSDI ARIAWAN


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa :
1. Motor Listrik terdiri dari Motor Sinkron, Motor Induksi, Motor

PUTU RUSDI ARIAWAN


BIODATA PENULIS

Nama : Putu Rusdi Ariawan

TTL : Denpasar. 19 April 1990

Agama : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana

Email : turusdi.info@gmail.com

www.facebook.com/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN