You are on page 1of 33

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan rentang sehat–sakit maka status kesehatan seseorang dapat

dibagi dalam : keadaan optimal sehat atau kurang sehat, sakit ringan atau sakit

berat sampai meninggal dunia. Apabila individu berada dalam area sehat maka

dilakukan upaya pencegahan primer (Primary Prevention) dan perlindungan

khusus (Specific Protection) agar terhindar dari penyakit. Apabila individu dalam

area sakit maka dilakukan upaya pencegahan sekunder dan tertier, yaitu dengan

diagnosis dini dan pengobatan yang tepat, pencegahan perburukan penyakit dan

rehabilitasi ( Ali, 2002 : 33 ).

Perawat memiliki salah satu peran yaitu sebagai peran pelaksana, peran

ini dikenal sebagai istilah Care Giver. Peran perawat dalam memberikan asuhan

keperawatan secara langsung atau tidak langsung kepada klien sebagai individu,

keluarga dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan pemecahan

masalah yang disebut proses keperawatan. Dalam melaksanakan peran ini

perawat bertindak sebagai comferter, protector dan advocat, communicator serta

rehabilitator (Gaffar, 1999 : 24).

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan

penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua

umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki

berusia 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, 2008 : 307).


2

Manifestasi klinis yang di temukan pada apendisitis adalah nyeri pada

abdomen kuadran kanan bawah, biasanya disertai dengan demam ringan, mual,

muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri lokal bila dilakukan tekanan, nyeri

tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepas) (Brunner dan

Suddarth, 2002 : 1098-1099).

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri

adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.

Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa

pemeriksaan diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan

menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun (Brunner dan

Suddarth, 2002 : 212).

Tekhnik relaksasi merupakan metode yang dapat dilakukan terutama pada

pasien yang mengalami nyeri, merupakan latihan pernafasan yang menurunkan

konsumsi oksigen, frekuensi pernafasan, frekuensi jantung dan ketegangan otot

yang menghentikan siklus nyeri, ansietas dan ketegangan otot Mc. Caffery

(1989) dalam (http: //Puskesmas-oke. Blogspot.com/2008).

Penelitian Tunner dan Jansen (1993), Almatsier dkk (1992) dalam

Brunner dan Suddarth, (2002 : 233), menyimpulkan bahwa relaksasi otot skletal

dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang dapat

menunjang nyeri hal ini dibuktikan pada penderita nyeri punggung bahwa tehnik

relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien pasca operasi, pasien
3

ditempatkan pada posisi semifowler, posisi in mengurangi ketegangan pada

insisi organ abdomen yang membantu mengurangi nyeri (Brunner dan Suddarth,

2002 : 1100).

Penelitian Lorenzi, (1991) Miller & Perry,(1990) dalam Brunner dan

Suddarth, (2002 : 234), telah menunjukkan bahwa tekhnik relaksasi dapat

menurunkan nyeri pasca operasi, hal ini terjadi karena relatif kecilnya peran otot-

otot skletal dalam nyeri pasca operasi atau kebutuhan pasien untuk melakukan

tekhnik relaksasi agar efektif.

Berdasarkan data Register di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari

Sulawesi Tenggara jumlah pasien yang mendapat tindakan apendiktomi adalah

Tahun 2008 berjumlah 1037.

Berdasarkan hasil survey sementara di Rumah Sakit Griya Husada Bakti

Kendari Sulawesi Tenggara, umumnya perawat tidak melakukan tekhnik

relaksasi pada pasien yang mengalami nyeri khususnya pasien post operasi

karena perawat hanya melaksanakan instruksi dokter berupa pemberian analgetik.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan

penelitian dengan judul “Hubungan Tekhnik Relaksasi Dengan Perubahan

Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Op Apendiktomi di Rumah Sakit Griya

Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara”.

B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah pada

penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan tekhnik relaksasi dengan


4

perubahan intensitas nyeri pada pasien post op apendiktomi di Rumah Sakit

Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara ?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum.

Mengetahui hubungan tekhnik relaksasi dengan perubahan intensitas

nyeri pada pasien post op apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada Bakti

Kendari Sulawesi Tenggara

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi intensitas nyeri pada pasien post op

apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi

Tenggara

b. Mengidentifikasi perubahan intensitas nyeri pada pasien post

op apendiktomi setelah tekhnik relaksasi di Rumah Sakit Griya Husada

Bakti Kendari Sulawesi Tenggara

c. Mengidentifikasi hubungan tekhnik relaksasi dengan

perubahan intensitas nyeri pada pasien post op apendiktomi di Rumah

Sakit Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :

1. Bahan masukan bagi masyarakat dalam menambah pengetahuan masyarakat

tentang pentingnya tekhnik relaksasi terhadap perubahan intensitas nyeri

khususnya pada pasien post op apendiktomi.


5

2. Bahan masukan kepada pihak Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari

Sulawesi Tenggara, dalam upaya penanganan pasien post op apendiktomi.

3. Bahan acuan bagi peneliti – peneliti selanjutnya, khususnya Institusi Poltekes

Depkes Kendari tentang hubungan tekhnik relaksasi dengan perubahan

intensitas nyeri pada pasien post op apendiktomi di Rumah Sakit Griya

Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara.

4. Penelitian ini merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam

menambah ilmu pengetahuan tentang penelitian dan mengaplikasikannya di

masyarakat.
6

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Umum Relaksasi

1. Pengertian

a. Tekhnik relaksasi adalah suatu tekhnik merilekskan ketegangan otot yang

dapat menunjang nyeri (Brunner dan Suddarth, 2002 : 233)

b. Tekhnik relaksasi merupakan metode yang dapat dilakukan terutama pada

pasien yang mengalami nyeri kronis, merupakan latihan pernafasan yang

menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi pernafasan, frekuensi jantung

dan ketegangan otot yang menghentikan siklus nyeri, ansietas dan

ketegangan otot Mc. Caffery (1989) dalam (http: //Puskesmas-oke.

Blogspot.com/2008).

2. Tujuan

Tekhnik relaksasi merupakan tindakan pereda nyeri non invasif,

teknik relaksasi yang teratur dapat bermanfaat untuk mengurangi keletihan

dan ketegangan otot yang dapat meningkatkan kualitas nyeri (Brunner dan

Suddarth, 2002 : 234)

3. Indikasi

a. Tekhnik relaksasi dapat dilakukan pada pasien yang mengalami stress

psikologis (Brunner dan Suddarth, 2002 : 136).

b. Teknik relaksasi efektif dilakukan pada pasien-pasien yang mengalami

nyeri kronis ataupun pasca operasi (Brunner dan Suddarth, 2002 : 233).
7

4. Tehnik

Tehnik relaksasi sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan

frekuensi lambat, berirama. Ambil posisi senyaman mungkin pasien dapat

memejamkan matanya dan bernafas dengan perlahan lahan dan nyaman,

irama yang konstan dapat dipertahankan dengan menghitung dalam hati dan

lambat bersama setiap inhalasi (“Hirup perlahan-lahan, dua, tiga) dan

ekshalasi (Hembuskan perlahan-lahan, dua, tiga). Pada saat perawat

mengajarkan tekhnik ini, akan sangat membantu bila menghitung bersama

dengan pasien pada awalnya (Brunner dan Suddarth, 2002 : 234).

B. Tinjauan Umum Nyeri

1. Definisi nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.

Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan

kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan

dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat

mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit

manapun (Brunner dan Suddarth, 2002 : 212).

2. Klasifikasi

Menurut Brunner dan Suddarth, (2002 : 213), nyeri dapat diklasifikasikan

sebagai berikut :
8

a. Nyeri akut

Nyeri akut biasanya awitannya tiba – tiba dan umumnya berkaitan

dengan cedera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan

atau cedera telah terjadi. Hal ini menarik perhatian pada kenyataan

bahwa nyeri ini benar terjadi dan mengajarkan kepada kita untuk

menghindari situasi serupa yang secara potensial menimbulkan nyeri. Jika

kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada penyakit sistematik, nyeri akut

biasanya menurun sejalan dengan terjadi penyembuhan; nyeri ini

umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan biasanya kurang dari satu

bulan. Untuk tujuan definisi, nyeri akut dapat dijelaskan sebagai nyeri

yang berlangsung dari beberapa detik hingga enam bulan.

b. Nyeri kronik

Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap

sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung di luar waktu

penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan

penyebab atau cedera spesifik. Nyeri kronis dapat tidak mempunyai

awitan yang ditetapkan dengan tetap dan sering sulit untuk diobati karena

biasanya nyeri ini tidak memberikan respons terhadap pengobatan yang

diarahkan pada penyebabnya. Meski nyeri akut dapat menjadi signal yang

sangat penting bahwa sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, nyeri

kronis biasanya menjadi masalah dengan sendirinya.


9

3. Mekanisme Neurofisiologik nyeri

Struktur spesifik dalam sistem syaraf terlibat dalam mengubah

stimulus menjadi sensasi nyeri. Sistem yang terlibat dalam transmisi dan

persepsi nyeri disebut sebagai sistem noniseptik. Sensivitas dari komponen

sistem noniseptik dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor dan berbeda

diantara individu. Tidak semua orang yang terpajan terhadap stimulus yang

sama mengalami intensitas nyeri yang sama. Sensasi yang sangat nyeri bagi

seseorang mungkin hampir tidak terasa bagi orang lain. Lebih jauh lagi, suatu

stimulus dapat mengakibatkan nyeri pada suatu waktu tetapi tidak pada waktu

lain. Sebagai contoh, nyeri akibat artritis kronis dan nyeri pascaoperatif

sering terasa lebih parah pada malam hari (Brunner dan Suddarth, 2002 :

215).

Salah satu neuromodulator nyeri adalah endorfin (morfin endogen),

merupakan substansi sejenis morfin yang disuplai oleh tubuh yang terdapat

pada otak, spinal dan traktus gastrointestinal yang memberi efek analgesik,

pada saat neuron nyeri perifer mengirimkan sinyal ke sinaps, terjadi sinapsis

antara nyeri perifer dan neuron yang menuju ke otak tempat seharusnya untuk

substansi nyeri, pada saat tersebut endorfin akan memblokir lepasnya

substansi nyeri tersebut (Tamsuri Anas, 2007 : 11-13).


10

4. Faktor – faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan sensivitas

Nyeri.

Menurut Brunner dan Suddarth, (2002 : 219) faktor-faktor yang

mempengaruhi respon nyeri adalah :

a. Pengalaman masa lalu dengan nyeri

Adalah menarik untuk berharap dimana individu yang mempunyai

pengalaman yang multiple dan berkepanjangan dengan nyeri akan lebih

sedikit gelisah dan lebih toleran terhadap nyeri dibanding dengan orang

yang hanya mengalami sedikit nyeri. Bagi kebanyakan orang,

bagaimanapun, hal ini tidak selalu benar. Sering kali, lebih

berpengalaman individu dengan nyeri yang dialami, makin takut individu

tersebut terhadap peristiwa yang menyakitkan yang akan diakibatkan.

Individu ini akan lebih sedikit mentoleransi nyeri; akibatnya, ia ingin

nyerinya segera reda dan sebelum nyeri tersebut menjadi lebih parah.

Reaksi ini hampir pasti terjadi jika individu menerima peredaan nyeri

yang tidak adekuat di masa lalu. Individu dengan pengalaman nyeri

berulang dapat mengetahui ketakutan peningkatan nyeri dan

pengobatannya yang tidak adekuat. Sekali individu mengalami nyeri

berat, individu tersebut hanya mengetahui seberapa berat nyeri itu dapat

terjadi. Sebaliknya, individu yang tidak pernah mengalami nyeri hebat

tidak mempunyai rasa takut terhadap nyeri itu.


11

Cara seseorang berespons terhadap nyeri adalah akibat dari

banyak kejadian nyeri selama rentang kehidupannya. Bagi beberapa

orang, nyeri masa lalu dapat saja menetap dan tidak terselesaikan, seperti

pada nyeri berkepanjangan atau kronis dan persisten. Individu yang

mengalami nyeri selama berbulan – bulan atau bertahun – tahun dapat

menjadi mudah marah, menarik diri, dan depresi.

Efek yang tidak diinginkan yang diakibatkan dari pengalaman

sebelumnya dapat menunjukkan pentingnya perawat untuk waspada

terhadap pengalaman masa lalu pasien dengan nyeri. Jika nyerinya

teratasi dengan cepat dan dengan adekuat, individu mungkin lebih sedikit

ketakutan terhadap nyeri di masa mendatang dan mampu mentoleransi

lebih baik.

b. Ansietas dan Nyeri

Meskipun umum diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan

nyeri, mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaan. Riset tidak

memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan nyeri

juga tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praoperatif

menurunkan nyeri saat pasca operatif. Namun ansietas yang relevan atau

berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap

nyeri. Sebagai contoh, pasien yang telah mendapatkan pengobatan kanker

payudara 2 tahun yang lalu dan sekarang mengalami nyeri pinggang dan

merasa takut bahwa nyeri tersebut merupakan indikasi dari metastasis.


12

Dalam kasus ini ansietas dapat meningkatkan peningkatan nyeri. Ansietas

yang tidak berhubungan dengan nyeri dapat mendistraksi pasien dan

secara aktual dapat menurunkan persepsi nyeri. Sebagai contoh, seorang

ibu yang dirawat dengan komplikasi akibat kolisistektomi dan cemas

tentang anak – anaknya dapat menyerap lebih sedikit nyeri ketika ansietas

mengenai anak – anaknya meningkat.

c. Budaya Nyeri

Budaya dan etniksitas mempunyai pengaruh pada bagaimana

seseorang berespon terhadap nyeri (bagaimana nyeri diuraikan atau

seseorang berperilaku dalam berespons terhadap nyeri). Namun, budaya

etnik mempengaruhi persepsi nyeri (Zatzick dan Dimsdale, 1990).

d. Usia dan Nyeri

Pengaruh usia pada persepsi nyeri dan toleransi nyeri tidak

diketahui secara luas. Pengkajian nyeri pada lansia mungkin sulit karena

perubahan fisiologis dan psikologis yang menyertai proses penuaan. Cara

lansia berespons terhadap nyeri dapat berbeda dengan cara berespons

orang berusia lebih muda. Atau nyeri pada lansia mungkin dialihkan jauh

dari tempat cedera atau penyakit. Persepsi nyeri pada lansia mungkin

berkurang sebagai akibat dari perubahan patologis berkaitan dengan

beberapa penyakit (misal, diabetes), tetapi pada individu lansia yang sehat

persepsi nyeri mungkin tidak berubah. Karena individu lansia mempunyai

metabolisme yang lebih lambat dan rasio lemak tubuh terhadap massa
13

otot lebih besar dibanding individu berusia lebih muda, analgesik dosis

kecil mungkin cukup untuk menghilangkan nyeri. Bila diberikan

kesempatan untuk menggunakan sendiri analgesik pascaoperatif, lansia

menunjukkan keberhasilan peredaan nyeri dengan dosis opioid yang lebih

kecil

e. Efek Plasebo

Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespons terhadap

pengobatan atau tindakan lain karena suatu harapan bahwa pengobatan

atau tindakan tersebut akan memberikan hasil bukan karena tindakan atau

pengobatan tersebut benar – benar bekerja. Menerima pengobatan atau

tindakan saja sudah memberikan efek positif.

Efek plasebo timbul dari produksi alamiah (endogen) endorfin

dalam sistem kontrol desenden. Efek ini merupakan respons fisiologis

sejati yang dapat diputar-balik oleh nalokson, suatu antagonis narkotik.

5. Pengukuran Skala Nyeri.

Skala nyeri dapat diukur dengan menggunakan cara sebagai berikut :

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Keterangan :

0 : Tidak Ada nyeri

1.3 : Nyeri ringan

4-6 : Nyeri sedang


14

7-10 : Nyeri berat (Wasis, 2008 : 197)

a. Nyeri ringan umumnya memiliki gejala yang tidak dapat

terdeteksi

b. Nyeri sedang atau moderat memiliki karakteristik :

1) Peningkatan frekuensi pernafasan

2) Peningkatan tekanan darah

3) Peningkatan kekuatan otot

4) Dilatasi pupil

c. Nyeri berat memiliki karakteristik :

1) Muka pucat

2) Otot mengeras

3) Penurunan frekuensi nafas dan tekanan darah

4) Kelelahan dan keletihan

Karakteristik nyeri :

10 Sangat dan tidak dapat dikontrol oleh klien.

Nilai 9, 8, 7 Sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol oleh klien dengan

aktifitas yang bisa dilakukan.

Nilai 6 Nyeri seperti terbakar atau ditusuk-tusuk

Nilai 5 Nyeri seperti tertekan atau bergerak.

Nilai 4 Nyeri seperti kram atau kaku.

Nilai 3 Nyeri seperti perih atau mules.

Nilai 2 Nyeri seperti meliiti atau terpukul.


15

Nilai 1 Nyeri seperti gatal, tersetrum atau nyut-nyutan

Nilai 0 Tidak ada nyeri.

(Sumber: Saduran dari Fundamental Of Nursing, Sudiharto, Asuhan

Keperawatan pada Pasien Nyeri, 1996 ; 23) dalam (http/Keperawatan M.

Adil Sipahutar.blogspot.com. Tingkatan nyeri Kamis, 22 November

2007)

C. Tinjauan Umum Apendisitis

1. Pengertian

a. Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan

penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai

semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering

menyerang laki-laki berusia 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, 2008 : 307).

b. Apendisitis adalah peradangan pada verformisis apendiks (Danis Difa,

2003 : 51).

2. Penyebab

a. Apendisitis terjadi akibat apendiks terlipat atau tersumbat kemungkinan

oleh fekalit (masa keras dari feses), tumor atau benda asing, dapat juga

terjadi akibat infeksi virus, bakteri atau jamur (Brunner dan Suddarth,

2002 : 1097).

b. Apendiks biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh

hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis

akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma (Mansjoer, 2008 : 307).


16

3. Klasifikasi

Klasifikasi apendisitis terbagi kedalam 3 jenis yaitu :

a. Apendisitis akut terbagi atas : apendisitis akut fokalis atau segmentalis

yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal, apendisitis purulenta

difusi yaitu apendisitis dimana terdapat tumpukan nanah

b. Apendisitis kronis dibagi atas apendisitis kronis fokalis atau parsial yaitu

setelah sembuh akan timbul striktur lokal, apendisitis kronis obliteritiva

yaitu apendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.

c. Apendisitis perporata : perforasi apendiks yang akan mengakibatkan

peritonitis yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat dengan

menyebar ke seluruh area, perut menjadi tegang, nyeri tekan dan lepas

(http:// Ilmu keperawatanstikesfalatehancom.blogspot.com02/2009).

4. Patofisiologi

Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan

nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa

jam terlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen, akhirnya apendiks

yang terinflamasi berisi pus (Brunner dan Suddarth, 2002 : 1097).

Apendiks biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks

oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis

akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma, obstuksi tersebut

menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan, makin


17

lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks

memiliki keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan

intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe

yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri dan ulserasi mukosa, pada

saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri

epigastrium (Mansjoer, 2008 : 307).

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal

tersebut akan mengakibatkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri

akan menembus dinding apendiks, peradangan yang timbul akan meluas dan

mengenai peritonium setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan

bawah, keadaan ini disebut dengan apendisiti supuratif akut, bila kemudian

aliran darah arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang

diikuti dengan gangren, stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa,

bila dinding tersebut telah rapuh dan pecah disebut apendisitis perforasi

(Mansjoer, 2008 : 307).

5. Manifestasi klinis

Manifestasi klinis yang di temukan pada apendisitis adalah nyeri pada

kuadran bawah, biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah dan

hilangnya nafsu makan. Nyeri lokal bila dilakukan tekanan, nyeri tekan lepas

(hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepas) mungkin dijumpai.

Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare

tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila apendiks
18

melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah

lumbal, bila ujungnya ada pada pelviks tanda-tanda ini hanya dapat diketahui

hanya pada pemeriksaan rektal, nyeri pada defekasi menunjukkan ujung

apendiks berada dekat rektum, nyeri pada saat berkemih menunjukkan ujung

apendiks berada dekat kandung kemih atau ureter, dapat terjadi kekakuan

pada bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi (Brunner dan Suddarth,

2002 : 1098-1099).

Pada kasus apendisitis akut gejala yang permulaan adalah nyeri atau

perasaan tidak enak sekitar umbilkus, diikuti oleh anoreksia, neusia dan

muntah gejala-gejala ini berlangsung 1 atau 2 hari dan dalam beberapa jam

bergeser ke kuadran kanan bawah (Sylvia dan Wilson,1995 : 401).

Gejala perkembangan klasik dari gejala anoreksia (hampir semua

mengalami), nyeri peumbilikal konstan derajat sedang dengan pergeseran 4-

6 jam menjadi nyeri tajam pada kuadran kanan bawah selanjutnya dapat

terjadi muntah yang diikuti dengan konstipasi atau diare terutama pada anak-

anak (Schwartz, 2000 : 437).

6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan apendisitis adalah dengan tindakan pembedahan.

Antibiotik dan cairan intravena diberikan sampai pembedahan dilakukan,

analgesik dapat diberikan pada setelah diagnosa ditegakkan (Brunner dan

Suddarth, 2002 : 1099).


19

7. Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan laboratorium terjadi peningkatan leukosit 10.000-

20.000/ml dengan peningkatan jumlah notrofil. Pemeriksaan urine juga perlu

dilakukan untuk membedakannya dengan kelainan pada ginjal dan saluran

kemih, pada kasus akut tidak dibolehkan melakukan barium enema,

sedangkan pada apendisitis kronis tindakan ini dibenarkan, pemeriksaan USG

dilakukan bila terjadi infiltrat apendikularis (Mansjoer, 2008 : 308).

8. Komplikasi

Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat

berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden perforasi 10% sampai

32%, insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia, perforasi secara umum

terjadi 24 jam setelah awitan nyeri, gejala mencakup demam dengan suhu

37,70C atau lebih tinggi, penampilan toksik, nyeri atau nyeri tekan abdomen

yang kontinyu (Brunner dan Suddarth, 2002 : 1099).

Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri, spasme otot

dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonitis umu atau terjadi

abses yang terlokalisasi, ileus, demam, malaise dan leukositosis semakin

jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan abses sejak

pasien pertama kali datang, diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti. Bila

terjadi abses apendiks akan teraba massa di kuadran kanan bawah yang
20

cenderung menggelembung ke arah rektum atau vagina (Mansjoer, 2008 :

309).

D. Tinjauan Umum Apendiktomi

1. Pengertian

Apendiktomi adalah eksisi pada apendiks yang mengalami

peradangan atau apendiks vermiforsis (Danis Difa, 2003 : 51).

2. Tekhnik apendiktomi

Menurut Mansjoer (2008:310) bahwa tekhnik apendiktomi dapat

dilakukan melalui :

a. Insisi menurut Mc Burney (grid incision atau muscle splittig incision).

Sayatan dilakukan pada garis tegak lurus pada garis yang

menghubungkan spina iliaka anterior superior (SIAS) dengan umbilikus

pada batas sepertiga lateral (titik Mc. Burney). Sayatan ini mengenai

kutis, subkutis, dan fasia. Otot-otot dinding perut dibelah secara tumpul

menurut arah serabutnya. Selain itu akan tampak peritonium parietal

(mengkilat dan berwarna biru keabu-abuan) yang disayat secukupnya

untuk meluksasi sekum. Sekum dikenali dari ukurannya yang besar,

mengkilat, lebih kelabu/putih, mempunyai haustrae dan taenia koli,

sedangkan ileum lebih kecil, lebih merah dan tidak mempunyai haustrae

atau taenia koli. Basis apendiks dicari pada pertemuan ketiga taenia koli,

tekhnik inilah yang paling sering dikerjakan karena keuntungannya tidak

terjadi benjolan dan tidak mungkin terjadi herniasi, trauma operasi


21

minimum pada alat-alat tubuh, dan masa istrahat pasca bedah yang lebih

pendek karena penyembuhan lebih cepat. Kerugaiannya adalah lapangan

operasi terbatas, sulit diperluas dan waktu operasi lebih lama, lapangan

operasi dapat diperluas dengan memotong otot secara tajam.

b. Insisi menurut Roux (Muscle Cutting Incision). Lokasi dan arah sayatan

sama dengan Mc. Burney hanya sayatannya langsung menembus otot

dinding perut tanpa melihat arah serabut sampai tampak peritonium.

Keuntungannya adalah : lapangan operasi lebih luas, mudah diperluas,

sederhana dan mudah, sedangkan kerugiannya adalah diagnosis yang

harus tepat sehingga lokasi dapat dipastikan, lebih banyak memotong

saraf dan pembuluh darah sehingga perdarahan lebih banyak, masa

istrahat pasca bedah lebih lama karena adanya benjolan yang

mengganggu pasien, nyeri pasca operasi lebih sering terjadi, kadang-

kadang ada hematoma yang terinfeksi dan masa penyembuhan lebih lama.

c. Insisi pararektal, dilakukan sayatan pada garis batas lateral M. rektus

abdominalis dekstra secara vertikal dari kranial ke kaudal sepanjang 10

cm. keuntungannya adalah tekhnik ini dapat dipakai pada kasus-kasus

apendiks yang belum pasti dan kalau perlu sayatan dapat diperpanjang

dengan mudah, sedangkan kerugiannya : sayatan ini tidak langsung

mengarah ke apendiks atau sekum, kemungkinan memotong saraf dan

pembuluh darah lebih besar dan untuk menutup luka operasi dibutuhkan

jahitan penunjang.
22

E. Hubungan Teknik relaksasi dengan Perubahan Intensitas Nyeri pada

Pasien Post OP

Penelitian Tunner dan Jansen (1993), Almatsier dkk (1992) dalam

Brunner dan Suddarth, (2002 : 233), menyimpulkan bahwa relaksasi otot skletal

dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang dapat

menunjang nyeri hal ini dibuktikan pada penderita nyeri punggung bahwa tehnik

relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri.

Pada pasca operasi. Pasien ditempatkan pada posisi senyaman mungkin,

posisi in mengurangi ketegangan pada insisi organ abdomen yang membantu

mengurangi nyeri (Brunner dan Suddarth, 2002 : 1100).

Penelitian Lorenzi, (1991) Miller & Perry,(1990) dalam Brunner dan

Suddarth, (2002 : 234), telah menunjukkan bahwa tekhnik relaksasi dapat

menunjukkan menurunkan nyeri pasca operasi dengan efektif, hal ini terjadi

karena relatif kecilnya peran otot-otot skletal dalam nyeri pasca operasi atau

kebutuhan pasien untuk melakukan tekhnik relaksasi agar efektif.


23

BAB III

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

A. Dasar Pemikiran

Apendiktomi adalah eksisi pada apendiks yang mengalami peradangan

atau apendiks vermiforsis

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri

adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.

Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa

pemeriksaan diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan

menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun (Brunner dan

Suddarth, 2002 : 212).

Teknik relaksasi efektif dilakukan pada pasien-pasien yang mengalami

nyeri kronis ataupun pasca operasi, Tekhnik relaksasi merupakan metode yang

dapat dilakukan terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis, merupakan

latihan pernafasan yang menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi pernafasan,

frekuensi jantung dan ketegangan otot yang menghentikan siklus nyeri, ansietas

dan ketegangan otot


24

B. Kerangka Pemikiran

V. Bebas V. Terikat
Tekhnik Perubahan Intensitas
relaksasi Nyeri pada Post Op App

C. Variabel Pemikiran

1. Variabel Independen (bebas)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau dianggap

menentukan variabel terikat (Saryono, 2008:36), adapun varibel bebas dalam

penelitian ini adalah Tekhnik relaksasi

2. Variabel Dependen (terikat)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas

(Saryono, 2008:36), adapun varibel terikat dalam penelitian ini adalah

Perubahan Intensitas nyeri pada Post Op App.

D. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif

Pasien Post operasi apendiktomi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

pasien yang telah menjalani tindakan apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada

Bakti Kendari Sulawesi Tenggara.


25

1. Teknik relaksasi yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah tehnik relaksasi sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi

lambat, berirama. Ambil posisi senyaman mungkin, Pasien dapat

memejamkan matanya dan bernafas dengan perlahan lahan dan nyaman,

irama yang konstan dapat dipertahankan dengan menghitung dalam hati dan

lambat bersama setiap inhalasi (“Hirup perlahan-lahan, dua, tiga) dan

ekshalasi (Hembuskan perlahan-lahan, dua, tiga). Pada saat perawat

mengajarkan tekhnik ini, akan sangat membantu bila menghitung bersama

dengan pasien pada awalnya. Dengan kriteria obyektif :

a. Pra-intervensi yaitu sebelum intervensi

relaksasi di lakukan

b. Pasca-intervensi yaitu sesudah intervensi

relaksasi di lakukan (intervensi relaksasi dilakukan sebanyak 3 kali

(Tamsuri Anas,2007 : 79)).

2. Skala nyeri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kategori nyeri

yang dialami pasien pasca operasi apendiktomi yang dinilai sebelum dan

susudah intervensi relaksasi, dengan menggunakan skala pengukuran :

Skala nyeri yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Dengan penjabaran intensitas nyeri :

a. 0 : Tidak ada nyeri


26

b. 1-3 : Nyeri ringan

c. 4-6 : Nyeri sedang

d. 7-9 : Nyeri berat (Wasis, 2008 : 197)

Dengan kriteria obyektif :

b. Terjadi perubahan intensitas nyeri : bila setelah teknik relaksasi

1) Intensitas nyeri berat menjadi nyeri sedang, ringan atau tidak

ada nyeri

2) Intensitas nyeri sedang menjadi nyeri ringan atau tidak ada

nyeri

3) Intensitas nyeri ringan menjadi tidak ada nyeri

c. Tidak terjadi perubahan intensitas nyeri : bila setelah teknik relaksasi

intensitas nyeri klien sama dengan sebelum tekhnik relaksasi

E. Hipotesis Penelitian

1. Hipotesis Nol (H0)

Tidak ada hubungan tekhnik relaksasi dengan perubahan intensitas

nyeri pada pasien post op apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada Bakti

Kendari Sulawesi Tenggara.

2. Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada hubungan tekhnik relaksasi dengan perubahan intensitas nyeri

pada pasien post op apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari

Sulawesi Tenggara.
27

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional

desain penelitian adalah pra eksperimen (One group pre and posttest design)

yaitu yaitu penelitian yang menggunakan satu kelompok subyek, pengukuran di

lakukan sebelum dan setelah perlakuan (Saryono,2008:55), yaitu hubungan

tekhnik relaksasi dengan perubahan intensitas nyeri dan kemudian menganalisis

hubungan tekhnik relaksasi dengan perubahan intensitas nyeri pada pasien post

op apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara.

O> (X) > O

B. Waktu Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 minggu setelah ujian

Poposal dan perbaikan.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Sakit Griya Husada Bakti

Kendari Sulawesi Tenggara.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan yang menjadi obyek penelitian

(Notoatmodjo, 2002:79).
28

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang telah

menjalani tindakan apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari

Sulawesi Tenggara dengan rata-rata kunjungan perbulan pada Tahun 2008

adalah 1037 penderita dengan rata-rata kunjungan perbulan 86 kasus.

2. Sampel

a. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan yang diteliti

yang dianggap mewakili seluruh populasi dengan cara-cara tehnik

tertentu (Notoatmodjo, 2002:79). Sampel dalam penelitian ini adalah

pasien yang telah menjalani tindakan apendiktomi hari pertama selama

penelitian berlangsung

b. Teknik

Sampel dalam penelitian ini diambil dengan tekhnik pengambilan

sampel yaitu Accidental Sampling, yaitu dengan mengambil sampel

Pasien yang telah menjalani tindakan apendiktomi selama penelitian

berlangsung di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi

Tenggara.

c. Jumlah sampel

Jumlah sampel dalam penelitian ini diambil sebanyak 25% dari total

populasi yaitu : 50% X 86 = 43 penderita. Hal ini didasarkan pada

pendapat Saryono (2008 : 66) bahwa bila populasi kurang dari 100
29

sebaiknya sampel 50% dari total populasi dan apabila populasi lebih dari

100 maka sampel diambil 25-30% dari total populasi.

d. Kriteria sampel

1) Kriteria inklusi sampel :

a) Pasien yang telah menjalani

tindakan apendiktomi hari pertama selama penelitian

berlangsung di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari

Sulawesi Tenggara

b) Belum mendapatkan terapi

analgetik dan tekhnik relaksasi

c) Bersedia menjadi sampel

2) Kriteria ekslusi sampel :

a) Pasien yang belum menjalani

tindakan apendiktomi selama penelitian berlangsung di Rumah

Sakit Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara

b) Pasien yang menjalani

tindakan apendiktomi hari ke dua dan seterusnya selama

penelitian berlangsung di Rumah Sakit Griya Husada Bakti

Kendari Sulawesi Tenggara

c) Telah mendapatkan terapi

analgetik dan tekhnik relaksasi

d) Tidak bersedia menjadi sampel


30

D. Tekhnik Pengambilan Data

1. Data Primer

Data primer diperoleh langsung dari responden dengan cara

penggunaan lembar observasi yang telah disusun yang mengacu pada kriteria

obyektif yaitu perubahan intensitas nyeri pada pasien post Op App.

2. Data Sekunder

Data sekunder terdiri dari gambaran umum lokasi penelitian, dan data

pasien yang telah menjalani tindakan apendiktomi dan gambaran umum

lokasi penelitian.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar

observasi untuk mengetahui perubahan intensitas nyeri pada pasien post Op App

di Rumah Sakit Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara sebelum dan

sesudah intervensi relaksasi dilakukan.

F. Pengolahan dan Analisis Data

1. Tekhnik Pengolahan Data

a. Koding
31

Pertama-tama menberi kode dikanan lembar observasi. Pengisian

berdasarkan pelaksanaan setiap indikator yang diamati pada responden

tersebut.

b. Editing

Editing dilakukan untuk meneliti setiap item penilaian. Editing meliputi

kelengkapan pengisian, kesalahan pengisian dan konsistensi dari setiap

pelaksanaan indikator yang diteliti. Hal ini dilakukan dilapangan.

c. Skoring

Skoring yaitu memberi skor data yang telah dikumpulkan, bila tidak ada

nyeri (skor 0), nyeri ringan (skor 1-3), nyeri sedang (skor 4-6), nyeri berat

(skor 7-9), nyeri sangat berat (skor 10),

d. Tabulasi Data

Tabulasi data merupakan kelanjutan dari pengkodean pada proses

pengolahan dalam hal ini setiap data tersebut dikoding kemudian

ditabulasi agar lebih mempermudah penyajian data dalam bentuk

distribusi frekuensi.

2. Teknik Analisa Data

a. Analisa Univariat

Analisa univariat untuk menganalisis secara deskriptif atau

persentase atau gambaran variabel-variabel penelitian dengan rumus :


32

f
fr = X 100 %
n

Keterangan :

fr = Persentase hasil yang dicapai (frekuensi relative)

f = frekuensi kategori variabel yang diamati

n = Jumlah sampel penelitian

100% = Konstanta (Nazir, 2005 : 381)

b. Analisis Bivariat

Analisis data dengan menggunakan uji statistik Non parametrik Chi

Square dengan tingkat kepercayaan 95% atau alfa (α) 0.05 dan dianalisis

menggunakan bantuan komputer melalui program SPSS.

Jika nilai χ2 < χtab atau p>0.05 maka hipotesis penelitian (Ho)

diterima dan Ha ditolak atau tidak ada hubungan tekhnik relaksasi dengan

perubahan intensitas nyeri pada pasien post op apendiktomi di Rumah

Sakit Griya Husada Bakti Kendari Sulawesi Tenggara. Dan Jika nilai χ2 >

χtab atau p<0.05 maka hipotesis penelitian (Ho) ditolak dan Ha diterima

atau ada hubungan tekhnik relaksasi dengan perubahan intensitas nyeri

pada pasien post op apendiktomi di Rumah Sakit Griya Husada Bakti

Kendari Sulawesi Tenggara.

G. Penyajian data

Data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan diuraikan dalam bentuk

narasi untuk selanjutnya dilakukan pembahasan.


33

dengan formulasi sebagai berikut :

cn ×rn
ft = (Wasis, 2008 : 211)
n

Keterangan :

ft = frekuensi teoritis

cn= jumlah baris ke-i

rn= jumlah baris ke-j

n = total sampel

( fo − ft )2
k
X = ∑
2
(Wasis, 2008 : 211)
i =1 ft

Keterangan :

X2 = Chi Square

fo = Frekuensi observasi

ft = Frekuensi teoritis.